Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang dibuatnya tulisan ini, rumusan
masalah, tujuan, sasaran dan sistematika penulisan.
1.1. Latar Belakang
Kawasan Agropolitan Ciwidey memiliki potensi untuk dapat bersaing dalam pasar
nasional dan internasional, kawasan tersebut merupakan salah satu dari 8 kawasan
agropolitan di Indonesia yang ditetapkan untuk membantu perkembangan ekonomi negara
melalui pemberdayaan masyarakat lokal yang berperan dalam agribisnis agar mampu
meningkatkan produksi lokal, produktivitas komoditi pertanian serta produk-produk
olahan pertanian yang dilakukan dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang
efisien dan menguntungkan serta berwawasan lingkungan. Akan tetapi, dalam
pembangunan Kawasan Agropolitan Ciwidey mengalami kendala sehingga tidak
tercapainya tujuan dalam penyusunan masterplan pembangunan ekonomi daerah Kawasan
Agropolitan Ciwidey.
Ciwidey berlokasi di bagian selatan Kabupaten Bandung. Masyarakat di Kawasan
Ciwidey memiliki kemampuan untuk mengelola berbagai macam kebun mulai dari
stroberi hingga komoditas kopi, kawasan yang masih memiliki banyak lahan beririgasi
teknis dan lahan basah saat ini menjadi salah satu tempat yang baik untuk pertanian di
Kabupaten Bandung. Akan tetapi kondisi saat ini, Kawasan Ciwidey terkendala dalam
mengoptimalkan potensinya karena manajemen kawasan yang tidak fokus terhadap
keunggulan kawasan, sehingga banyak produk yang dihasilkan di kawasan Ciwidey
namun tidak terjual di pasar, adapun yang terjual tetapi tidak membantu mensejahterakan
masyarakat lokal (meningkatkan PAD). Persoalan manajemen yang muncul pada kawasan
ini adalah ketidakmampuan masayarakat lokal dalam mengelola komoditasnya sendiri
(mulai dari penanaman sampai ke penjualan komoditas ke market) sehingga banyak
swasta yang memiliki hak miliki terhadap agribisnis di Kawasan Ciwidey.
1|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

One Village One Product (OVOP) merupakan suatu pendekatan pembangunan daerah
yang bertujuan untuk memajukan ekonomi daerah tersebut. Konsep OVOP berasal
dari Oita, Jepang dan diadopsi oleh berbagai negara di dunia. Konsep ini
menggarisbawahi pengembangan sektor daerah yang memiliki kendala untuk
berkembang namun berpotensi dalam memajukan ekonomi lokal, dengan memberi
fokus terhadap perkembangan sektor tertentu maka kinerja perkembangan yang
dilakukan terhadap sektor tersebut akan lebih efektif dan efisien dalam konteks
manajemen pembangunan sehingga dapat mencapai potensi yang ditargetkan untuk
membantu perkembangan ekonomi daerah, optimalisasi dalam konsep OVOP pelu
direalisasikan karena pihak (pemerintah, swasta dan masyarakat) yang terlibat dalam
keberjalanan konsep akan memberi manfaat serta menginginkan manfaat dalam
keterlibatannya, khususnya pada pihak masyarakat dan komunitas yang menjadi
obeyek utama dalam keberjalanan konsep. Optimalisasi dapat terjadi ketika parameter
kendala dan keuntungan dalam ekonomi daerah dapat mencapai titik optimal yaitu
mencapai hasil yang maksimal dalam parameter kendala.
Manajemen administrasi pembangunan merupakan salah satu faktor penunjang
dalam proses pembangunan sampai pelaksanaan pembangunan. Manajemen
administrasi pembangunan sangat penting untuk dilakukan dalam mewujudkan
pembangunan. Oleh sebab itu dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk menganalisis
perwujudan optimalisasi Kawasan Agropolitan Ciwidey melalui pengembangan One
Village One Product (OVOP).
1.2. Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang

yang telah diuraikan di atas, didapat suatu

rumusan masalah sebagai berikut :


Bagaimana perwujudan optimalisasi Kawasan Agropolitan Ciwidey melalui

manajemen administrasi pembangunan?


Bagaimana koordinasi antara pihak pemerintah, swasta dan masyarakat dalam

penerapan konsep OVOP?


Bagaimana penerapan good governance dalam perwujudan optimalisasi
Kawasan Agropolitan Ciwidey melalui konsep OVOP?

1.3. Tujuan dan Sasaran


Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah untuk menganalisis penerapan
optimalisasi Kawasan Agropolitan Ciwidey Melalui Pengembangan One Village One Product
2|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

(OVOP) melalui manajemen administrasi pembangunan. Adapaun sasaran-sasaran yang ingin


dicapai antara lain :

Mengetahui perwujudan optimalisasi Kawasan Agropolitan Ciwidey melalui


konsep, teori-teori dan pendekatan manajemen administrasi pembangunan.

Mengetahui sistem koordinasi antara pihak pemerintah, swasta dan masyarakat


dalam penerapan konsep OVOP

Mengetahui keadaan good governance yang dapat diciptakan melalui


penerapan OVOP

1.4. Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan laporan praktikum ini adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan, penulis akan menguraikan tentang hal yang menjadi latar
belakang dalam tulisan ini, rumusan masalah, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai,
dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini, penulis akan memaparkan teori-teori mengenai manajemen
administrasi pembangunan yang mencakup manajemen sektor publik, manajemen
strategis publik, manajemen konflik dan manajemen pertumbuhan serta teori terkait
penelitian yang diambil dari salah satu hasil penelitian yang sudah ada.
Bab III Gambaran Umum Wilayah
Pada bab ini, penulis akan memaparkan gamabaran umum terkait wilayah yang
dibahas pada tulisan ini.
Bab IV Analisis
Pada bab ini, penulis akan membahas terkait persoalan pada Kawasan Agropolitan
Ciwidey dan analisis terkait pembangunan Kawasan Agropolitan melalui OVOP dari
sisi manajemen administrasi pembangunan.
Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi
Pada bab ini, penulis membuat kesimpulan dari hasil analisis dan rekomendasi
terhadap pembangunan Kawasan Agropolitan melalui OVOP dari sisi manajemen
administrasi pembangunan.
3|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

4|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

BAB II
KAJIAN TEORI
Pada bab ini akan menjelaskan mengenai teori yang terkait dengan pembahasan hasil
penelitian dan teori yang digunakan untuk analisis.
2.1. Manajemen Sektor Publik
2.1.1. Definisi Manajemen
Pengertian manajemen berbeda dengan administrasi. Administrasi berarti mengikuti
instruksi dan manajemen berarti pencapaian hasil. Menurut Allison ada tiga fungsi
manajemen umum, yaitu strategi, mengelola komponen internal dan mengelola komponen
eksternal. Fungsi ini akan dijelaskan sebagai berikut.
2.1.2. Fungsi manajemen umum
A. STRATEGI
1. Menetapkan tujuan dan prioritas bagi organisasi (atas dasar meramal lingkungan
eksternal dan kapasitas organisasi).
2. Merumuskan rencana operasional untuk mencapai tujuan tersebut.
B. MENGELOLA KOMPONEN INTERNAL
1. Mengorganisasikan dan menyusun staff: dalam mengorganisasikan, manajer
membentuk struktur (unit dan jabatan yang diberi wewenang dan tanggung jawab) dan
prosedur untuk mengkoordinasikan kegiatan dan mengambil tindakan. Dalam
menyusun staf, ia mencoba menyesuaikan orang yang tepat dengan pekerjaan utama.
2. Mengarahkan pegawai dan sistem manajemen kepegawaian: kapasitas organisasi
terletak pada anggotanya, serta keahlian dan pengetahuan mereka. Sistem manajemen
kepegawaian merekrut, menyeleksi, mensosialisasikan, melatih, memberi imbalan,
memberi hukuman, dan mengeluarkan modal manusia organisasi, yang merupakan
kapasitas organisasi untuk bertindak untuk mencapai tujuannya dan untuk merespon
arahan khusus dari manajemen.
3. Mengontrol kinerja: berbagai sistem informasi manajemen termasuk anggaran
modal dan operasional, akuntansi, laporan, dan sistem statistik, penilaian kinerja, dan
evaluasi produk membantu manajemen dalam membuat keputusan dan dalam
mengukur kemajuan kearah tujuan.

C. MENGELOLA KONSTITUENSI EKSTERNAL


5|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

1. Berhubungan dengan unit eksternal organisasi berkaitan dengan beberapa


wewenang/otoritas umum: manajer harus berhubungan dengan manajer dari unit lain
dalam organisasi yang lebih besar di atas, di samping, dan di bawah untuk
mencapai tujuan unit mereka.
2. Berhubungan dengan organisasi independen: badan-badan dari cabang lain atau
tingkat-tingkat pemerintahan, kelompok kepentingan, dan usaha swasta yang dapat
mempengaruhi kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya.
3. Berhubungan dengan pers dan publik yang tindakannya atau persetujuannya atau
kepatuhannya diperlukan.
Fungsi utama pertama adalah strategi. Ini mencakup masa depan organisasi,
menetapkan tujuan dan prioritas, serta membuat rencana untuk mencapai tujuan dan prioritas
tersebut. Hal umum bagi badan-badan untuk mengembangkan tujuan dan prioritas ketimbang
mengasumsikan bahwa kebijakan berasal dari politisi. Politisi sekarang menuntut bahwa
badan-badan dan pegawai negeri di bawah kontrol nominal mereka ikut terlibat dalam
masalah-masalah strategi.
Fungsi utama kedua adalah mengelola komponen internal. Ini mencakup penyusunan
staf, membentuk struktur dan sistem untuk membantu mencapai tujuan yang diidentifikasikan
oleh strategi.
Fungsi ketiga melihat organisasi dalam konteks eksternalnya dan tugas mengelola
konstituensi eksternal. Ada fokus eksternal yang lebih besar dalam manajemen publik baru
melalui strategi dan mengelola konstituensi eksternal, daripada dalam kasus dengan model
tradisional administrasi publik. Anonimitas layanan publik telah menurun, dan diterima
dengan baik. Pegawai negeri sekarang lebih bebas berbicara di depan publik, untuk muncul
dalam forum profesional, untuk menulis artikel di koran, dan secara umum menjadi figur
publik yang layak.

2.1.3. Definisi Manajemen Sektor Publik


Menurut Overman (dalam Keban,2002004), manajemen publik adalah suatu studi
interdisipliner dari aspek-aspek umum organisasi , dan merupakan gabungan antara fungsi
manajemen seperti planning, organizing, dan controlling di satu sisi, dengan sumber daya
manusia, keuangan, fisik, informasi dan politik di sisi lain. Secara spesifik, manajemen
6|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

publik memfokuskan pada bagaimana organisasi publik mengimplementasikan kebijakan


publik. (Ott, Hyde, dan Shafritzs, 1990).
Manajemen publik dan kebijakan publik merupakan bidang administrasi publik yang
tumpang tindih. Kebijakan publik sama dengan sistem otak dan syaraf, sedangkan
manajemen publik = sistem jantung dan sirkulasi dalam tubuh manusia. Manajemen publik
yaitu proses menggerakan SDM dan non-manusia sesuai perintah kebijakan publik. (Ott,
Hyde, dan Shafritz dalam Keban, 2004)
Perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan merupakan perangkat utama yang
dilakukan oleh manajer publik dalam rangka menyelenggarakan pelayanan pemerintah/publik
Fungsi Manajemen sektor Publik
1.

Fungsi Manajemen Kebijakan


Manajer publik yaitu implementor kebijakan publik. Fungsi manajemen kebijakan :

a)

Perencanaan implementasi : penentuan atau usulan program/proyek dlm tahun

b)

anggaran tertentu
Memberikan pikiran/saran kepada analis kebijakan dan berpartisipasi dlm penentuan

alternatif diusulkan menjadi program proyek


c) Mengkoordinasi pelaksanaan program/proyek
d) Memonitor dan mengevaluasi implementasi program/proyek
2. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
Faktor yg diperhatikan :
a)

Jumlah, jenis, kualitas, tuntutan pekerjaan yg ada, Distribusi, beban kerja tiap unit,

Utilisasi, tergantung komitmen yg dimiliki.


b) Manajemen SDM instansi pemerintah :
Jumlah, jenis dimanipulasi (gejala Parkinson). Penempatan dan distribusi tidak
jelas, like and dislike, kepentingan politik
c)

Pemanfaatan (utilisasi) kurang optimal


Perlu Strategi, tehnik, pendekatan Manajemen SDM yg dapat meningkatkan kinerja
SDM instansi pemerintah.

3.

Fungsi Manajemen Keuangan


Tugas utama : Mencari dana, merencanakan dan mengalokasikan sesuai kebutuhan,

memanfaatkan secara optimal, dan mengendalikan sesuai rencana.


4.

Fungsi Manajemen Informasi

7|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

Pentingnya informasi, semua keputusan pimpinan (perencanaan, anggaran, pembuatan


keputusan, pengembangan organisasi, kontrol dan koordinasi) membutuhkan data dan
informasi. Jumlah dan kualitas informasi = kekuatan utk bekerja sama dengan pihak luar
termasuk penguasaan pasar. Pelayanan publik yg baik ditentukan kualitas manajemen
informasi. Manajemen Informasi instansi pemerintah : Unit pengolahan informasi tidak
dianggap penting, Tidak terintegrasi dengan unit-unit lain. Pembaharuan sistem manajemen
informasi : Siapa membutuhkan data apa unit/pimpinan/pihak luar. Dalam bentuk/format
seperti apa ; jenis dan variasi data; klasifikasi; Kapan dipersiapkan ; kapan siap digunakan
Kualitas SDM ; kemampuan pengelolaan data.
5.

Fungsi Manajemen Hubungan Luar


Hubungan luar (masyarakat, NGO, bisnis,dsb) kurang diperhatikan dikarenakan

sentralisasi yg

berlebihan, orientasi ke pemerintah pusat/atasan (sebagai customer). Tujuan :

Network yg sehat dan kepuasan semua stakeholders (masyarakat,LSM, swasta)


2.2. Good Governance dalam Manajemen Sektor Publik
Secara umum, Good Governance adalah pemerintahan yang baik. Governance itu
sendiri adalah bentuk interaksi antara negara dan masyarakat sipil (Leftwich, 1994; Rhodes ,
1997). Dalam versi World Bank, Good Governance adalah suatu penyelegaraan manajemen
pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan
pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik
secara politik maupun secara administratif menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan
legal dan politican framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha. Sedangkan Good Governance
menurut UNDP adalah hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara Negara, sektor swasta
dan masyarakat, dalam prinsip-prinsip; partisipasi, supremasi hukum, transparansi, cepat
tanggap, membangun konsesus, kesetaraan, efektif dan efisien, bertanggungjawab serta visi
stratejik.
Seperti telah disebutkan, manajemen sektor publik adalah manajemen atau
pengelolaan POAC sebagai proses berkelanjutan yang melibatkan usaha-usaha untuk
memadukan organisasi dengan perubahan lingkungannya dengan cara paling menguntungkan,
terutama bagi publik.
Sesuai dengan masing-masing kriteria, maka untuk mewujudkan good governance
dalam manajemen sektor publik, perlu dibangun kerjasama yang baik antar stakeholder, baik
pemerintah, masyarakat dan sektor swasta dalam mewujudkan sistem manajemen. Dengan
8|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

demikian perlu pula pendefinisian masing-masing tanggung jawab serta peran stakeholder
dari masing-masing tahapan P-O-A-C.
Kolaboratif dan Partisipatif dalam Manajemen Sektor Publik
Dalam penyelenggaraan pembangunan terdapat pergeseran tipe peran pemerintah.
Pada tabel di bawah ini terlihat dalam paradigma baru peran pemerintah sangatlah rendah
karena penanganan pembangunan lebih ke arah desentralistik dan kawasan pembangunan
diarahkan ke kawasan ekosistem dan fungsional. Sehingga menimbulkan pembangunan yang
kolaboratif (Pemerintah dan swasta, pemerintah dan masyarakat, masyarakat dan swasta, antar
pemerintah daerah) dan partisipatif.
INDIKATOR

PARADIGMA LAMA

PARADIGMA BARU

Dasar Dinamika
Manajemen

Digerakkan oleh Aturan dan Petunjuk


Pelaksanaan (Rule Driven)

Di dorong oleh niat untuk memenuhi


kebutuhan masyarakat (Need Driven)

Sumber Inisiatif

Gagasan Para Pakar dan Perencana


Pembangunan

Issue dan Peluang Pembangunan

Makna Desentralisasi

Distribusi Kekuasaan dan Sumber


Daya

Mendekatkan pengambilan keputusan


ke Sumber Issue

Penanganan
Pembangunan

Sentralistik

Desentralistik

Wawasan Pembangunan

Sektoral dan teritorial

Kawasan ekosistem dan fungsional


(Ekoregion)

Perencanaan
Pembangunan

Dilandasi oleh hanya Pertimbangan


Tekno-ekonomi

Dilandasi Pertimbangan Teknoekonomi, sosio-kultural dan politik

Pengambilan Keputusan

Monolitik-Deterministik berdasarkan
Analisis Rasional

Pluralistik Intraktif dipengaruhi aspek


Psiko-sosial

Dalam pelaksanaan kolaboratif atau kerjasama, terdapat dimensi kunci dalam


kerjasama antar pihak untuk pengembangan kelembagaan yang ditunjukan pada tabel berikut
ini.
Dimensi

Dimensi

Dimensi

Perencanaan

Pelaksanaan

Keberlanjutan

9|Manajemen Administrasi dan Pembangunan

Pembagian
manfaat,
keuntungan, biaya, dan
risiko

Perencanaan dan pembuatan


keputusan

11

Peningkatan kapasitas

Tipe/jenis pelayanan

Aspek hukum/legal

12

Proses pelaksanaan

Bentuk penyampaian

Organisasi dan personel

Teknologi

Pembiayaan

Pelibatan masyarakat

10

Pengadaan

Dalam pelaksanaan partisipatif mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68


Tahun 2010 tentang bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang yaitu
sebagai berikut :
Peran masyarakat dalam penataan ruang dilakukan pada tahap:
A. perencanaan tata ruang;
B. pemanfaatan ruang; dan
C. pengendalian pemanfaatan ruang.
Tata cara peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang dilaksanakan dengan cara:
A. menyampaikan masukan mengenai arah pengembangan, potensi dan masalah,
rumusan konsepsi/rancangan rencana tata ruang melalui media komunikasi dan/atau
forum pertemuan; dan
B. kerja sama dalam perencanaan tata ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
Bentuk peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang berupa:
A. masukan mengenai:
1. persiapan penyusunan rencana tata ruang;
2. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan;
3. pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah atau kawasan;
4. perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan/atau
10 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

5. penetapan rencana tata ruang.


B. kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur masyarakat
dalam perencanaan tata ruang. (Bentuk-bentuk kerja sama antara lain kerja sama
dalam penelitian dan pengembangan, penyelenggaraan forum konsultasi, serta
penyebarluasan informasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam kerja sama, masyarakat antara lain dapat memberikan bantuan teknik dan/atau
keahlian.)
Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang dapat berupa:
A. masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang;
B. kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur masyarakat
dalam pemanfaatan ruang; (Kerja sama masyarakat dengan Pemerintah/pemerintah
daerah antara lain dapat berbentuk public private participation, privatisasi, ruilslag,
dan turn key. Dalam kerja sama, masyarakat antara lain dapat memberikan bantuan
eknik dan/atau keahlian.)
C. kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata
ruang yang telah ditetapkan;
D. peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang darat,
ruang laut, ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan
lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
E. kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta memelihara dan
meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam; dan
F. kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
Bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang dapat berupa:
A. masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan
disinsentif serta pengenaan sanksi;
B. keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang yang
telah ditetapkan;
11 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

C. pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal menemukan
dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar
rencana tata ruang yang telah ditetapkan; dan pengajuan keberatan terhadap keputusan
pejabat yang berwenang terhadap pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan
rencana tata ruang.
2.3. Manajemen Strategis Publik
Manajemen strategis menurut Digman (1989) adalah proses berkelanjutan yang
melibatkan usaha-usaha untuk memadukan organisasi dengan perubahan lingkungannya
dengan cara paling menguntungkan. Sri Wahyudi (1996:15) mengartikan manajemen strategis
sebagai seni dan ilmu dari pembuatan formulasi penerapan (implementing) dan evaluasi
(evaluating). Keputusan strategis antar fungsi memungkinkan sebuah organisasi mencapai
tujuan di masa datang. Tujuan dan sasaran dari manajemen stategis adalah sebagai berikut :

Meningkatkan kualitas organisasi


Meningkatkan efisiensi dan penggunaan sumber daya
Meningkatkan kualitas dan pemantauan kinerja
Meningkatkan kualitas pelaporan

Manajemen strategis sektor publik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Memiliki perhatian pada jangka panjang dan pengintegrasian tujuan dan sasaran dalam
hierarki yang jelas

Kebutuhan akan disiplin dan komitmen dalam implementasinya

Adaptasi yang dilakukan bukan adaptasi total, melainkan adaptasi terhadap perubahan
internal

Menurut Bryson, ada delapan langkah untuk memfasilitasi proses perumusan strategi:
1
2
3
4
5
6
7
8

Memulai dan menyetujui proses perencanaan strategik


Identifikasi apa yang menjadi mandat organisasi
Klarifikasi misi dan nilai-nilai organisasi
Menilai lingkungan eksternal (peluang dan ancaman)
Menilai lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan)
Identifikasi isu strategik yang sedang dihadapi organisasi
Perumusan strategi untuk me-manage isu-isu
Menetapkan visi organisasi untuk masa depan

12 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

2.4. Manajemen Konflik


Manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau
pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau
tidak mungkin (Ross , 1993) . Proses manajemen konflik perencanaan kota merupakan
bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model manajemen
konflik perencanaan kota secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai
model yang representatif dan ideal. (Minnery ,1980). Manajemen konflik menyediakan
alternatif outcome solusi secara non-zero sum game.
Terdapat empat kategori utama kerangka struktur konflik perencanaan kota, yaitu
konflik perencanaan kota terkait lingkungan, konflik (of) perencanaan kota, konflik (in)
perencanaan kota, dan konflik (through) perencanaan kota. Dengan mengikuti tipologi lokasi
konflik yang mempengaruhi perencanaan kota maka muncul hal sebagai berikut:
1) Konflik perencanaan kota terkait sekitar lingkungan (konflik diluar (over) perencanaan
kota). Ada beberapa kategori:
a. Dimensi manusia dalam konflik. Perencanaan kota adalah aktivitas manusia
yang dibawa keluar oleh manusia dalam pencarian tujuan manusia. Seorang
individu yang membawa keluar aktifitasnya dengan subjek konflik yang sama
seorang individu terhadap individu lainnya. Dan mereka mengerti secara
langsung konsep tentang hubungan antara konflik dan kebiasaan manusia
terhadap manusia lainnya.
b. Perencanaan kota dalam konteks sosial. Konflik sosial khususnya yang terkait
dengan berbagai macam tipe kelas sosial, hal ini penuh dengan pertimbangan
yang luas dalam literatur perencanaan kota. Konflik perencanaan kota
umumnya hampir sama dengan konflik kelas sosial. Nilai sosial dan nilai
konflik, berbeda tiap kelompok sosial, berkelanjutan menjadi aspek
fundamental dalam aktifitas perencanaan kota.
c. Perencanaan kota dalam konteks bangsa-negara (nation-state). Dalam hal ini
telah jelas bahwa terdapat perbedaan dalam pendekatan yang berbeda
perencanaan kota di tiap negara. Perbedaan ini menjadi hal yang diutamakan,
kombinasi dalam definisi khusunya dengan batas nasional. Walaupun
pembatasan ini sangat penting diantara satu bangsa-negara, hal ini memiliki
hubungan penting. Hubungan diantara bangsa-negara menjadi perhatian utama
dalam teori konflik, dan keberhasilan sumber teori dan ide.
2) Konflik yang terkait dengan elemen pembagian perencanaan kota (konflik (in) di
perencanaan kota)
13 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

Konflik diluar sumber daya kota dan wilayah dan khususnya sumber daya berupa
lahan. Sumber daya sebagai dasar konflik, aspek yang diutamakan dalam perencanaan
kota. Banyak teknik pemecahan konflik yang digunakan oleh perencana kota yang
bermaksud mengaplikasikan hal ini berupa sumber daya yang menarik untuk perencana
kota. Menyertakan ketidaknyataan sebagai sebuah informasi, lokasi, pergerakan, dan
jumlah sebagai hal yang sebaiknya dijadikan pertimbangan fisik sumber daya. Di lokasi
dengan sumber daya yang tak nyata, ketersediaan teknik manajemen konflik sedikit
berperan.
3) Konflik yang terkait metode, prosedur, atau pembagian perencanaan kota. (conflict of
urban planning). Terdapat dua kategori utama yaitu:
a. Pertama, bentuk metode yang tidak menggunakan kemungkinan kejadian
konflik itu terjadi, khusunya yaitu tujuan konflik yang diakui. Kedua,
merancang konflik berhubungan dengan tingkat kelalaian yang lebih tinggi
dari pemisahan/ pemindahan. Keluaran yang kreatif sebagai suatu konsep yang
antesis atau berlawanan terhadap konflik sebagai suatu elemen estesis, seperti
ketidaksesuaian dan pengaturan, pemesanan dan tidak memesan, keselarasan
dan persedisihan.
b. Konflik politik, perselisihan yang utama dalam ideologi politik, didiskusikan
sebagai faktor lingkungan dan menjadi bagian bangsa-negara yang
berhubungan dengan perencanaan kota.
4) Konflik melalui perencanaan kota, umumnya berupa kepentingan suatu organisasi,
konflik yang terkait dengan administrasi ataupun organisasi, potensi perselisihan
terjadi antara harapan pekerjaan dan peraturan organisasi dapat terjadi. Konflik
diantara organisasi yang terkait dengan kebijakan, dan secara keseluruhan berupa
pemasalahan dalam (kelompok, organisasi, individu, pekerja, atau bidang/ dinas-dinas
tertentu). Dengan demikian, permasalahan konflik terkait dengan organisasi. Hal ini
berupa isu yang terdapat di suatu daerah dan asumsi perbedaan kekuasaan.

14 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

2.5. Manajemen Pertumbuhan


Manajemen pertumbuhan adalah penggunaan rencana, kebijakan, otoritas fiskal
negara dan pemerintah secara sengaja dan terpadu untuk memengaruhi pola pertumbuhan dan
pembangunan dalam memenuhi kebutuhan yang akan datang. Merupakan konsep
komprehensif/menyeluruh, bukan hanya dampak fisik tetapi juga dampak ekonomi dan
sosial. Pemerintah mengambil peran utama dalam membentuk kerangka kerja yang terpadu.
Sektor privat, masyarakat, dan kelompok-kelompok kepentingan tertentu juga mempunyai
peran yang penting. Merujuk kepada teknik pengaturan perundang-undangan. Fokus pada
pembatasan pertumbuhan, mengarahkan/ menyalurkannya, atau mengelola dampaknya.
Fungsi dari Manajemen Pertumbuhan adalah sebagai berikut :
1. Meminimalkan biaya dan memaksimalkan manfaat kepada individu dan masyarakat
2. Mencegah munculnya permasalahan baru akibat dampak dari pertumbuhan
3. Mengarahkan/menyalurkan atau mengelola dampak dari pertumbuhan
Manajemen pertumbuhan memilki beberapa fungsi diantaranya sebagai :
1

Regulatory Tools
Dimana manajememn pertumbuhan dapat berupa hukum dan peraturan
perundang-undangan baik mengenai aturan penataan ruang, aturan lingkungan,
maupun mengenai aturan pembangunan.

Public Service Location


Dimana manajememn pertumbuhan

sebagai alat untuk mengarahkan

pembangunan melalui penyediaan sarana prasaranan dan utilitas. Contohnya


seperti penyediaan infrastruktur tertentu di lokasi tertentu.
3

Revenue Resources
Manajemen perumbuhan sebagai usaha pemerintah sendiri untuk memperluas
sumber penerimaan pemerintah dan target pembangunan tipe khusus. Contohnya
melalui biaya dampak pembangunan, retribusi, biaya pemakaian, dan lainnya.

Government Expenditures
Adanya

manajememn

pertumbuhan

sendiri

dapat

sebagai

alat

pengeluaran/pembelanjaan oleh pemerintah baik secara langsung maupun tidak


langsung. Contohnya pembelian lahan untuk meciptakan greenbelt atau ruang
terbuka.

15 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

2.6. Konsep Agropolitan


Menurut Friedman and Douglas (1976), Agropolitan adalah suatu model pengebangan
pertanian yang berupaya mempercepat pembangunan pedesaan berbasis agribisnis serta
meningkatkan daya saing produk-produk pertanian yang dihasiklan. Sedangkan menurut
Departemen Pertanian (2002), agropolitan adalah kota yang tumbuh dan berkembang karena
berjalannya sistem dan usaha agribisnis yang melayani, mendoorng, dan menarik
pertumbuhan pertanian di wilayah-wilayahnya.
Konsep agropolitan sendiri sebenarnya adalah konsep pembangunan terpadu melalui
sektor pertanian. Konsep ini bukan memciptakan sebuah kota berbasis pertanian baru tetapi
menjadikan kota di wilayah pertanian pedesaan secara keseluruhan dan juga memodernisasi
budaya agraris menjadi budaya industri.
Konsep Agropolitan sendiri menurut Anugrah, mencakup beberapa dimensi yang
meliputi:
a. Pengembangan kota-kota berukuran kecil sampai sedang dengan jumlah penduduk
maksimum 600.000 jiwa dan luas maksimum 30.000 hektar (setara dengan kota
kabupaten)
b. Daerah belakang (yang merupakan daerah perdesaan) dikembangkan berdasarkan
konsep perwilayahan komoditas yang menghasilkan satu komoditas/bahan mentah
utama dan beberapa komoditas penunjang sesuai dengan kebutuhan.
c. Pada daerah pusat pertumbuhan (yang merupakan daerah perkotaan) dibangun
agroindustri terkait, yaitu terdiri atas beberapa perusahaan sehingga terdapat
kompetisi yang sehat
d. Wilayah perdesaan didorong untuk membentuk satuan-satuan usaha yang optimal dan
selanjutnya diorganisasikan dalam wadah koperasi, perusahaan kecil dan menengah,
dan
e. Lokasi dan sistem transportasi agroindustri dan pusat pelayanan harus memungkinkan
para petani untuk bekerja sebagai pekerja paruh waktu (part time workers)
Sedangkan menurut Friedman dan Douglas (1975), konsep dasar pembangunan
agropolitan ditujukan untuk:

16 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

a. Mengubah daerah perdesaan dengan cara memperkenalkan unsur-unsur gaya hidup


kota yang telah disesuaikan pada lingkungan perdesaan tertentu. Hal ini berarti tidak
lagi mendorong perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan menanam modal di
kota, tetapi mendorong mereka untuk tetap tinggal di tempat mereka semula, dengan
menanam modal di daerah perdesaan dan dengan demikian merubah tempat
permukiman yang sekarang ini untuk dijadikan suatu bentuk campuran yang
dinamakan agropolis. Pertentangan abadi antara kota dan desa dalam pembangunan
agropolitan dapat diredakan.
b. Memperluas hubungan sosial di wilayah perdesaan sampai keluar batas-batas
desanya, sehingga terbentuk suatu ruang sosio-ekonomi dan politik yang lebih luas,
atau yang disebut dengan agropolitan district. Distrik ini dapat disesuaikan untuk
dipakai sebagai dasar satuan tempat permukiman untuk kota-kota besar atau pusat
kota-kota, terutaa yang berada di sekitarnya dan yang selalu berkembang.
c. Memperkecil keretakan sosial dalam proses pembangunan, memelihara kesatuan
keluarga, memperteguh rasa aman, dan memberi kepuasan pribadi dan sosial dalam
membangun suatu masyarakat baru.
d. Menstabilkan pendapatan desa dan kota, dan memperkecil perbedaan-perbedaannya
dengan cara memperbanyak kesempatan kerja yang produktif dan khususnya
memadukan kegiatan-kegiatan pertanian dengan kegiatan nonpertanian dalam
lingkungan masyarakat yang sama.
e. Menggunakan tenaga kerja yang ada secara lebih efektif, dengan mengarahkannya
pada usahausaha yang mengembangkan sumberdaya-sumberdaya alam secara sangat
luas di tiap-tiap agropolitan district, termasuk peningkatan hasil pertanian, proyekproyek untuk memelihara dan mengendalikan air, pekerjaan umum di perdesaan,
memperluas pemberian jasa-jasa untuk perdesaan dan industri yang berkaitan dengan
pertanian.
f. Merangkai agropolitan district menjadi jaringan regional, dengan cara membangun
dan memperbaiki sarana hubungan antara agropolitan district dan kota-kota besar,
serta menempatkan pada daerah (regional) jasa-jasa tertentu dan kegiatan-kegiatan
penunjang yang membutuhkan tenaga kerja yang lebih besar dari pada yang terdapat
dalam suatu distrik.
g. Menyusun suatu pemerintahan dan perencanaan yang sesuai dengan lingkungannya
yang

dapat

mengendalikan

pemberian

prioritas-prioritas

pembangunan

dan

pelaksanaannya pada penduduk daerahnya. Apa yang dimaksudkan adalah suatu


pemerintahan yang memberi wewenang pada agropolitan district untuk mengambil
keputusan sendiri.]
17 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

h. Menyediakan sumber-sumber keuangan untuk membangun agropolitan dengan cara:


(1) menanam kembali bagian terbesar dari tabungan setempat di tiap-tiap district, (2)
mengadakan sistem bekerja sebagai pengganti pajak bagi semua anggota masyarakat
yang telah dewasa, (3) mengalihkan dana pembangunan dari pusat-pusat kota dan
kawasan industri khusus untuk pembangunan agropolitan, dan (4) memperbaiki nilai
tukar barang-barang yang merugikan antara petani dan penduduk kota agar lebih
menguntungkan petani.
Sebenarnya dalam pengembangan konsep agropolitan itu sendiri, permasalahan yang
akan dihadapi biasanya tidak jauh dari rendahnya mutu SDM, lemahnya posisi tawar petani,
belum optimalnya pengelolaan SDA dan kurangnya ketersediaan infrastruktur penunjang.
Keberhasilan para petani dalam meningkatkan produksi juga tidak langsung meningkatkan
pendapatan petani. Hal ini dikarenakan nilai tambah ekonomi tidak hanya berasal dari usaha
tani tetapi juga dari kegiatan off-farmnya. Dalam konsep agropolitan sendiri, segala kegiatan
pertanian dari hulu hingga hilir sangat mempengaruhi satu sama lain, maka dari itu konsep
Agropolitan menitikberatkan kepada sistem agribisnis.
Untuk mencapai hal itu, diperlukan keterlibatan semua pihak diantaranya dengan
memberdayakan IKM yang dijalankan oleh masyarakat dalam hal kegiatan pengolahan hasil
pertanian setempat, sehingga dapat menghasilkan produk turunan yang bernilai tambah dan
pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat itu sendiri.

18 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

BAB III
GAMBARAN UMUM
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum mengenai Kawasan
Agropolitan Ciwidey yang akan dikembangkan melalui konsep OVOP.
3.1. Gambaran Umum Kawasan Agropolitan Ciwidey
3.1.1. Batas Administrasi Wilayah dan Batas Fisik Kota
Posisi geografis Wilayah PEngembangan Kawasan Agropolitan Ciwidey
menurut Peta Rupa Bumi Bakorsurtanal adalah antara 10703130BB
10703130BT dan 70215LU 701800LS. Adapun batas batas wilayah Kawasan
Agropolitan Ciwidey adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara

: Kabupaten Bandung Barat

Sebelah Timur

: Kabupaten Bandung

Sebelah Selatan

: Kabupaten Cianjur

Sebelah Barat

: Kabupaten Cianjur

Gambar 3.1
Peta Administrasi Kawasan Agropolitan Ciwidey Kabupaten Bandung

19 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

Sumber: Masterplan Pembangunan Ekonomi Daerah (Kawasan Agropolitan


Ciwidey)

Wilayah Pengembangan Agropolitan Ciwidey memiliki luas wilayah sebesar


40.674,67 Ha, yang terdiri dari 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Ciwidey, Kecamatan
Rancabali, dan KEcamatan Pasirjambu, dimana terbagi dalam 22 desa. Untuk lebih
rinci nama-nama desa tersebut adalah sebagai berikut.
a. Kecamatan Ciwidey terdiri atas:

Desa Panundaan

Desa Ciwidey

Desa Panyocokan

Desa Lebakmuncang

Desa Rawabogo

Desa Sukawening

b. Kecamatan Rancabali terdiri atas:

Desa Cipelah

Desa Sukaresmi

20 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

Desa Indragiri

Desa Patengan

Desa Alamendah

c. Kecamatan Pasirjambu terdiri atas:

Desa Sugihmukti

Desa Margamulya

Desa Tenjolaya

Desa Cisondari

Desa Mekarsari

Desa Cibodas

Desa Mekarsari

Desa Cibodas

Desa Cukanggenteng

Desa Pasirjambu

Desa Mekarjambu

Desa Cikoneng

Adapun rincian luas wilayah per kelurahan yang ada di Kawasan Agropolitan
Ciwidey dapat dilihat pada tabel
Tabel 3.1
Luas Wilayah Desa-desa di Kawasan Agropolitan Ciwidey
No
1.

Kecamatan
Kecamatan Ciwidey

Desa
Ciwidey

Luas (Ha)
211,707

Lebakmuncang

1.672,578

21 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

Nengkelan

442,845

Panundaan

314,977

Panyocokan

408,068

Rawabogo
2.

3.

Kecamatan Pasirjambu

Kecamatan Rancabali

1.056,787

Sukawening
Cibodas

739,959
878,910

Cikoneng

370,664

Cisondari

2.295,583

Cukanggenteng

489,908

Margamulya

740,205

Mekarmaju

165,767

Mekarsari

1.822,711

Pasirjambu

246,056

Sugihmukti

10.077,262

Tenjolaya
Alam Endah

5.870,584
1.296,938

Cipelah

4.434,920

Indragiri

2.484,280

Patengan

4.640,674

Sukaresmi
Total
Sumber: Masterplan Pengembangan Kawasan Agropolitan Ciwidey

1.980,170
43.641,552

Dari Tabel 3.1 dapat disimpulkan bahwa Desa Sugihmukti memiliki luas
wilayah yang paling besar yaitu 10.077,262 Ha, sedangkan untuk luas wilayah yang
paling kecil adalah Desa Mekarmaju yaitu sebesar 165,757 Ha.
3.1.2. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan yang terjadi di Ciwidey dipengaruhi oleh faktor alami
maupun faktor non alami. Secara alami faktor yang memengaruhi penggunaan lahan
Ciwidey antara lain kemiringan tanah, jenis tanah, curah hujan, kandungan air tanah
dan sebagainya, sedangkan faktor non alami yang memengaruhi penggunaan lahan
yaitu aktivitas yang terjadi di masyarakat, mata pencaharian, jumlah penduduk, dan
sebaran penduduk.
Penggunaan lahan di wilayah Ciwidey ini di dominasi oleh penggunaan lahan
untuk kebun the, yaitu seluas 12.771, Ha atau sebesar 31,4 % dari total luas
22 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

penggunaan lahan. Kawasan runag terbangun adalah sebesar 4,79% yang digunakan
untuk permukiman.

3.1.3. Jumlah dan Persebaran Penduduk


Jumlah penduduk pada ketiga kecamatan yang termasuk kedalam kawasan
agropolitan ciwidey pada tahun 2010 terbanyak 199.134 jiwa, dengan jumlah
penduduk tertinggi terdapat di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali yaitu 20.559
jiwa. Sedangkan untuk daerah yang jarang penduduknya terdapat di Desa Indragiri
Kecamatan Rancabali yaitu sebanyak 4.044 jiwa.

3.1.4. Topografi
Topografi wilayah Ciwidey merupakan daerah dengan topografi relative
bergelombang dan sedikit darat. Daerah ini terletak pada ketinggian kurang lebih
100 meter diatas permukaan air laut. Daerah bergelombang dan berombak sebagian
besar terdapat di Kecamatan Pasirjambu, yaiut seluas 12749,6 Ha untuk luas wilayah
bergelombang.

3.2. Gambaran Umum Desa Alam Endah


Desa Alamendah merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan
Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Desa ini termasuk kedalam
rencana pengembangan kawasan agropolitan Ciwidey. Secara geografis Desa alam endah
memiliki batas administrasi sebagai berikut:

Sebelah Utara

: Desa Panundaan

Sebelah Selatan

: Desa Patengan

Sebelah Barat

: Desa Lebakmuncang

Sebelah Timur

: Desa Sugih Mukti

Secara umum keadaan iklim di Desa Alam Endah merupakan daerah dataran
tinggi dengan ketinggian 1.550 mdpl dan memiliki bentang wilayah berbukit. Suhu rata-

23 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

rata di wilayah ini berkisar antara 190 c sampai dengan 200 c, sedangkan curah hujan
tahunan 2.150 mm/th dengan jumlah bulan hujan selama 6 bulan hujan.
Desa Alamendah merupakan desa terluas di Kecamatan Rancabali. Dalam
dokumen Masterplan Pembangunan Kawasan Agropolitan Ciwidey 2008-2012, Desa
Alamendah memiliki luas lahan sebesar 1.296,938 Ha. Selain itu, Desa Alamendah juga
memiliki jumlah penduduk terbanyak diantara ketiga Kecamatan yang termasuk kedalam
kawasan agropolitan Ciwidey dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya sebagai
petani.
3.3. Masterplan Pembangunan Ekonomi Daerah Kawasan Agropolitan Ciwidey
2008-2012
Kegiatan pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Bandung diperlukan
sebagai dasar perencanaan pembangunan pertanian, khususnya menyangkut keterpaduan
kegiatan pembangun infrastruktur yang mendukung terhadap peningkatan produksi
pertanian agar memiliki daya saing dan bernilai jual tinggi.
Penyusunan Masterplan kawasan agropolitan pada kawasan agribisnis merupakan
program pembangunan ekonomi berbasi spertanian yang dirancang dan dilaksanakan
dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya
sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan berkelanjutan dan
terdesentralisasi yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah.
Pengembangan Kawasan Agropolitan Ciwidey diharapkan dapat menwujudkan
Keberimbanagn pembangunan per kawasan dan pembangunan perdesaan yang berbasis
pertanian. Hasil masterplan tersebut diharapkan dapat menjadi arahan bagi
penyelenggara pengembangan agribisnis secara menyeluruh dan terpadu yang didasarkan
pada kondisi, potensi, permasalahan, dan kebutuhan nyata serta dapat mengakomodasi
aspirasi masyarakat tumbuh dan berkembang.

24 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

BAB IV
ANALISIS
Pada bab ini dijelaskan mengenai pembahasan hasil penelitian dan analisis terkait
pengoptimalan

Kawasan Agropolitan Ciwidey melalui pengembangan OVOP dengan

manajemen administrasi pembangunan.


4.1. Identifikasi Persoalan dan Hasil Penelitian
4.1.1. Pengembangan OVOP di Kawasan Agropolitan Ciwidey
Dalam sebuah laporan penelitian dengan judul Pengoptimalan Kawasan Agropolitan
Ciwidey Melalui Pengembangan OVOP (One Village One Product) dengan studi kasus yaitu
komoditas strawberry di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung
25 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

dijelaskan bahwa Kabupaten Bandung merupakan salah satu kabupaten yang termasuk dalam
proyek penerapan OVOP (One Village One Product) yang dicanangkan oleh Kementrian
Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Dalam RPJMD Kabupaten Banung 2011-2015
yang memuat rencana program dan kegiatan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan
Kabupaten Bandung, dapat diketahui bahwa komoditas OVOP di Kawasan Agropolitan
Ciwidey yang dikembangkan adalah strawberry di Wilayah Pasirjambu, Ciwidey dan
Rancabali. Dalam penelitian tersebut dijelaskan, Kawasan Agropolitan Ciwidey memiliki
potensi besar dalam sisi permintaan maupun penawaran holtikultura, khususnya strawberry
yang merupakan komoditas unggulan dari Desa Alamendah Kecamatan Rancabali. Namun
demikian, meskipun memiliki potensi yang besar tapi masih sulit untuk dikembangkan karena
pengusahanya masih bersifat dispersal, belum ada keterkaitan fungsional yang harmonis
antara setiap kegiatan agribisnis yang satu dengan yang lain, sehingga respon pasar tidak
dapat ditangani dengan cepat. Petani holtikultura di Kawasan Agropolitan Ciwidey hanya
berfokus pada aspek budidaya dan mengalami hambatan di permodalan sehingga industri
masukan dan hasil produksinya dikuasai oleh pedagang sarana produk pertanian dan
pedagang besar. Pembahasan pada penelitian tersebut mencakup kelayakan komoditas
strawberry melalui OVOP, pengembangan OVOP di Kawasan Agropolitan Ciwidey, peran
kebijakan Pemerintah Daerah setempat dan instansi atau sektor lainnya yang terkait dengan
pengembangan OVOP dan kesiapan Kawasan Agropolitan Ciwidey dalam mengembangkan
konsep OVOP.
Hasil penelitian yang diperoleh, komoditas strawberry layak untuk dikembangkan melalui
konsep OVOP. Hal tersebut diperoleh dari B/C ratio-nya yang menempati urutan pertamadan
juga memiliki nilai yang cukup tinggi pada industri hasil olahan strawberry. Beberapa faktor
yang mendukung dalam pengembangan komoditas strawberry di Desa Alamendah adalah
sebagai berikut :
1. Ketersediaan lahan di Desa Alamendah untuk budidaya strawberry;
2. Karakteristik lahan yang cocok untuk budidaya strawberry;
3. Kondisi cuaca;
4. Strawberry merupakan salah satu produk unggulan dari Desa Alamendah;
5. Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM);
6. Masyarakat sudah mengenal cara membudidayakan strawberry;
7. Banyak warga yang memanfaatkan lahan di pekarangan rumahnya untuk budidaya
strawberry selain di lahan yang memang khusus untuk kebun strawberry;

26 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

8. Pengolahan strawberry sudah mulai diarahkan pada industri kecil yang dijalankan
oleh warga, sehingga dapat menggerakan roda perekonomian Desa Alamendah;
9. Dukungan dari aparat desa setempat.
Terdapat beberapa permasalahan pada setiap jenis komoditas unggulan di Kawasan
Agropolitan Ciwidey diantaranya :
1. Lemahnya permodalan di masyarakat;
2. Kurangnya infrastruktur pendukung industri;
3. Kurangnya bahan baku (bibit, bahan baku, pakan);
4. Kurangnya lahan dan kepemilikan usaha;
5. Kualitas bahan baku rendah;
6. Harga saprotan mahal;
7. Banyaknya hama dan penyakit;
8. Kurangnya pengetahuan masyarakat;
9. Ketidak pastian pemasaran;
10. Kurangnya perhatian dan peran pemerintah;
11. Lemahnya kelembagaan usaha di masyarakat;
12. Masalah sosial;
13. Masalah lingkungan.
Masih banyak anggota masyarakat Desa Alamendah, termasuk juga para aparat desa
serta para pelaku usaha agribisnis belum mengetahui terkait adanya Masterplan
Pembangunan Ekonomi Daerah Kawasan Agropolitan Ciwidey 2008-2012. Begitupula
dengan konsep OVOP belum terlalu dikenal oleh masyarakat Desa Alamendah serta
masyarakat di Kawasan Agropolitan Ciwidey. Hal tersebut dikarenakan kurangnya sosialisasi
mengenai konsep OVOP. Selain itu, belum terstrukturnya daerah-daerah di Kawasan
Agropolitan Ciwidey sebagai pendukung dalam konsep OVOP.
Saat ini wilayah-wilayah yang termasuk ke dalam Kawasan Agropolitan Ciwidey
masih terus berupaya untuk meningkatkan kapasitasnya guna pengimplementasian OVOP.
Kendala-kendala yang dihadapi ketika mencoba untuk mengimplementasikan konsep OVOP
bagi komoditas strawberry di Desa Alamendah diantaranya :
1. Areal lahan pertanian yang digunakan masyarakat masih banyak menggunakan sistem
tumpangsari dengan palawija, sehingga hasilnya kurang optimal;
2. Jenis-jenis pelatihan yang diberikan oleh pemerintah seringkali tidak tepat sasaran,
misalkan kelompok petani strawberry diberi pelatihan mengenai tembakau;
27 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

3. Dukungan infrastruktur yang belum memadai, misalnya jalan yang merupakan jalur
transportasi pemasaran komoditas strawberry ini.
4. Keberadaan kelompok tani dan kelompok usaha tani yang semakin berkurang, dari
semula lima kelompok, kini hanya tinggal dua kelompok yang masih aktif sehingga
perlu diadakan restrukturisasi kelompok;
5. Kebiasaan para petani strawberry dalam skala kecil ketika harga sayuran naik, maka
mereka beralih menanam sayuran, namun begitu pula sebaliknya.
6. Industri olahan strawberry yang berupa industri kecil dan menengah masih belum
optimal;
7. Pendampingan terhadap pelaku agribisnis strawberry masih dirasakan kurang;
8. Aksesbilitas modal membutuhkan agunan yang dirasa terlalu besar bagi masyarakat
petani maupun pelaku IKM strawberry.
9. Belum dapat memenuhi permintaan pasar, terutama untuk pasar menengah ke atas
dengan standar kualitas yang di atas rata-rata sehingga memerlukan biaya produksi
lebih tinggi.
Potensi yang dimiliki oleh Desa Alamendah yaitu potensi wisata, akan tetapi Desa
Alamendah belum pernah mendapat bagi hasil dari kawasan-kawasan wisata yang terdapat di
daerahnya. Hal tersebut dikarenakan pihak desa tidak diperbolehkan ikut mengelola wisata
yang terdapat di daerahnya. Dalam kasus ini, sudah terdapat rencana pembuatan terminal
transit untuk membangkitkan kehidupan perekonomian di wilayah ini, serta dapat membuka
pasar baru bagi produk strawberry yang dihasilkan.

4.1.2. Peran Kebijakan Pemerintah Daerah Setempat dan Instansi atau Sektor
Lainnya yang Terkait dengan Pengembangan OVOP
Visi Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung yang dituangkan dalam RPJMD tahun
2010-2015 yaitu Terwujudnya Kabupaten Bandung yang Maju, Mandiri dan Berdaya
Saing, melalui Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Pemantapan Pembangunan
Perdesaan, Berlandaskan Religius, Kultural dan Berwawasan Lingkungan. Salah satu
misi yang terkandung didalamnya adalah meningkatkan ekonomi kerakyatan yang berdaya
saing. Misi tersebut merupakan misi ke 6 dan salah satunya dilakukan melalui penerapan
konsep OVOP. Penyusunan Masterplan Kawasan Agropolitan Ciwidey diarahkan pada :
keberimbangan pembangunan per kawasan, dan pembangunan perdesaan berbasis pertanian.
Penyusunan masterplan ini mengacu pada :
28 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

1.
2.
3.
4.
5.

UU No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang;


RPJMD Kabupaten Bandung 2005-2010;
RTRWKabupaten Bandung 2007-2026
RDTR Kota Ciwidey 2004-2014
Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kabupaten
Bandung 2004-2009.

Pengembangan kawasan pertanian di Kabupaten Bandung diprioritaskan pada


kawasan pertanian yang berpotensi menjadi kawasan agropolitan,melalui kegiatan :
1. Pemberdayaan masyarakat pelaku agribisnis agar mampu meningkatkan
produksi, produktivitas komoditi pertanian serta produk-produk olahan
pertanian yang dilakukan dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis
yang efisien dan menguntungkan serta berwawasan lingkungan;
2. Penguatan kelembagaan petani;
3. Pengembangan kelembagaan sistem agribisnis (penyedia
4.
5.
6.
7.

pengolahan hasil, pemasaran dan penyedia jasa);


Pengembangan kelembagaan penyuluh pembangunan terpadu;
Pengembangan iklim yang kondusif bagi usaha dan investasi;
Peningkatan sarana dan prasarana umum;
Peningkatan sarana dan prasarana kesejahteraan sosial.

29 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

agroinput,

4.2. Analisis Pengoptimalan Kawasan Agropolitan Ciwidey Melalui Pengembangan


OVOP (One Village One Product) dan Manajemen Administrasi Pembangunan
Untuk melaksanakan atau mengoptimalkan konsep OVOP di Kawasan Agropolitan
Ciwidey dengan melihat potensi dan kendala yang telah dijelaskan, manajemen administrasi
pembangunan merupakan alat untuk pengimplementasikan kebijakan publik salah satunya
konsep OVOP di Kawasan Agropolitan Ciwidey. Dalam manajemen sektor publik terdapat
perangkat utama yaitu Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan dan Pengontrolan
(Planning, Organizing, Actuating dan Controlling). Dalam pengimplementasian atau agar
konsep OVOP (konsep pembangunan) dapat terlaksana diperlukan tahapan-tahapan berikut:
1) Perencanaan
Dalam pengimplementasian OVOP perlu dilakukan perencanaan yang mencakup :
1) Tinjauan keadaan (review) : tinjauan sebelum memulai suatu rencana
maupun tinjauan terhadap pelaksanaan rencana sebelumnya.
2) Perkiraan keadaan masa yang akan dilalui rencana (forecasting) :
dibutuhkan berbagai informasi untuk mengetahui kemungkinan yang
akan terjadi di masa yang akan datang. (Informasi yang diperlukan
dapat berupa data statistik dan hasil penelitian terdahulu yang
relevan.). Hasil penelitian pengoptimalan potensi Kawasan Agropolitan
Ciwidey melalui pengembangan OVOP dapat dijadikan sebagai
informasi untuk rencana pembangunan berikutnya.
3) penetapan tujuan rencana (plan objectives) dan pemilihan cara-cara
pencapaian tujuan rencana (pengembangan OVOP di Kawasan
Agropolitan Ciwidey)
4) mengidentifikasi

kebijakan

(policy)

yang

perlu

dilakukan.

Operasionalisasi unsur ini perlu didasarkan pada pilihan alternatif


terbaik dan skala prioritas.
5) pengambilan keputusan (decision making) sebagai persetujuan atas
suatu rencana.

30 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

Dalam tahapan ini diperlukan Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan)


yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Konsep OVOP di Kawasan Agropolitan
Ciwidey ini untuk dapat terlaksana dengan berebagai potensi dan kendala yang telah
dipaparkan setidaknya termuat dalam rencana pembangunan daerah Kabupaten Bandung :
1) RPJPD
2) RPJMD
3) Renstra SKPD
4) RKPD
5) Renja SKPD

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa konsep OVOP ini merupakan konsep yang
dicanangkan oleh Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan dalam
RPJMD Kabupaten Banung 2011-2015 yang memuat rencana program dan kegiatan Dinas
Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung.
Dalam perumusan rencana pembangunan yang nantinya konsep OVOP ini dapat
termuat dalam rencana pembangunan tersebut diperlukan manajemen strategis untuk publik.
Manajemen strategis untuk publik yaitu sebagai berikut :
1. Penetapan visi, misi dan tujuan;
2. Analisis faktor internal dan eksternal untuk penentuan strategi, kebijakan,
program, kegiatan berdasarkan tujuan yang telah dibuat.
3. Pembentukan strategi, kebijakan, program dan kegiatan. (Konsep OVOP
ini dapat menjadi salah satu program atau kegiatan pembangunan di
Kabupaten Bandung)
4. Membuat anggaran
5. Pelaksanaan
Setelah konsep OVOP di Kawasan Agropolitan ini termuat dalam program atau
kegiatan pembangunan, akan berpeluang besar untuk terlaksananya konsep ini.

31 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

2) Pengorganisasian
Untuk mencapai tujuan rencana pembangunan daerah salah satunya dapat
terlaksananya

program

atau

kegiatan

pembangunan

daerah

diperlukan

pengorganisasian seluruh sumber baik SDM maupun non-SDM. Dalam


pengorganisasian ini program-program pembangunan yang telah dibuat dapat
dibagi lagi berdasarkan sektor-sektor tertentu dan dalam tahap ini dilakukan juga
pembuatan anggaran untuk setiap program. Konsep OVOP di Kawasan
Agropolitan Ciwidey ini dapat terlaksana dengan pengorganisasian yang baik
seperti adanya penanggung jawab dalam program ini dari pihak pemerintah,
adanya pemantau dari pelaksanaan program ini dan penganggaran yang baik.
3) Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan rencana pembangunan salah satunya konsep OVOP di
Kawasan Agropolitan Ciwidey ini dapat dilaksanakan melaui kerjasama antar
pemangku kepentingan seperti pemeritah dan masyarakat, masyarakat dan swasta
atau pemerintah dan swasta. Dalam pelaksanaan konsep OVOP ini dengan
mempertimbangkan

kendala-kendala

yang

dihadapi

seperti

Kurangnya

pengetahuan masyarakat, kurangnya perhatian dan peran pemerintah, kurangnya


infrastruktur pendukung industri, keberadaan kelompok tani dan kelompok usaha
tani yang semakin berkurang, dari semula lima kelompok, kini hanya tinggal dua
kelompok yang masih aktif sehingga perlu diadakan restrukturisasi kelompok
diperlukan kerjasama antara pemerintah seperti pemberdayaan masyarakat,
keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan konsep OVOP ini
di Kawasan Agropolitan Ciwidey. Sehingga pemerintah secara tidak langsung
dapat mensosialisakan program ini. Selain itu diperlukan kerjasama antara
masyarakat dan swasta dengan memperhatikan kendala-kendala sebagai berikut :
1. Lemahnya permodalan di masyarakat;
2. Kurangnya bahan baku (bibit, bahan baku, pakan);
3. Kurangnya lahan dan kepemilikan usaha;
4. Kualitas bahan baku rendah;
5. Harga saprotan mahal;
6. Banyaknya hama dan penyakit;
32 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

7. Ketidak pastian pemasaran;


8. Lemahnya kelembagaan usaha di masyarakat;
9. Industri olahan strawberry yang berupa industri kecil dan menengah
masih belum optimal;
10. Pendampingan terhadap pelaku agribisnis strawberry masih dirasakan
kurang;
11. Aksesbilitas modal membutuhkan agunan yang dirasa terlalu besar
bagi masyarakat petani maupun pelaku IKM strawberry.
12. Belum dapat memenuhi permintaan pasar, terutama untuk pasar
menengah ke atas dengan standar kualitas yang di atas rata-rata
sehingga memerlukan biaya produksi lebih tinggi.
Kerjasama yang dilakukan antara masyarakat dan swasta seperti
peminjaman modal dan pegadaian. Peminjaman modal dilakukan oleh Lembaga
Keuangan baik bentuk bank maupun non bank seperti koperasi dan pegadaian.
Lembaga ini berfungsi menghimpun dana masyarakat secara langsung atau tidak
untuk kemudian menyalurkannya kembali ke masyarakat seperti memberikan
modal pada usaha mikro, kecil dan menengah. Contoh : KUM (Kredit Usaha
Mikro) di Bank Mandiri, pinjam modal di koperasi. Selain itu, dapat juga dalam
pembentukan home industry dan lembaga keuangan setempat (di Ciwidey) untuk
memudahkan dalam pelaksanaan OVOP.
4) Pengontrolan
Pengontrolan meupakan tindakan kolektif, dimana terdapat proses
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan dan mengambil langkah atas
evaluasi. Tahap evaluasi, terdapat 3 jenis evaluasi yaitu :

Evaluasi ketika akhir pelaksanaan pembangunan (Ex-Post).

Evaluasi ketika sedang berjalan dalam proses pembangunan (OnGoing).

Evaluasi ketika akan dilaksanakan program pembangunan (ExAnte).

Dalam pelaksanaan konsep OVOP ini diperlukan ketiga jenis evaluasi


tersebut ketika akan dilaksanakan program ini (untuk melihat efektif atau tidak,
mudah atau tidak untuk dilaksanakan, kendala-kendala yang dihadapi ketika
33 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

pelaksanaan program ini dan langkah untuk mengatasi kendala tersebut seperti
apa); ketika sedang proses penerapan konsep OVOP ini di Kawasan Agropolitan
Ciwidey (Apakah program ini terlaksana sesuai dengan harapan atau tidak,
kendala-kendala yang dihadapi ketika pelaksanaan konsep ini dan langkah ke
depannya atas kendala tersebut agar program ini dapat terlaksana dengan sesuai
harapan dan tujuan yang dibuat); ketika akhir pelaksanaan program ini (Program
yang sudah dilaksanakan, apakah sesuai dengan tujuan yang dibuat dan mencapai
tujuan serta indikator yang telah dibuat, evaluasi terhadap program ini untuk
pelaksanaan program selanjutnya).
Potensi yang dimiliki oleh Desa Alamendah yaitu potensi wisata, akan tetapi Desa
Alamendah belum pernah mendapat bagi hasil dari kawasan-kawasan wisata yang terdapat di
daerahnya. Hal tersebut dikarenakan pihak desa tidak diperbolehkan ikut mengelola wisata
yang terdapat di daerahnya. Dalam kasus ini, aktor yang terlibat yaitu pemilik wisata di
sekitar Desa Alamendah, pemerintah desa dan masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut,
dapat dilakukan pembangunan wisata berbasiskan masyarakat atau melalui usulan yang telah
dibuat yaitu pembuatan terminal transit untuk membangkitkan kehidupan perekonomian di
wilayah ini, serta dapat membuka pasar baru bagi produk strawberry yang dihasilkan.
Dalam pelaksanaan OVOP di Kawasan Agropolitan Ciwidey ini, agar pelaksanaan
konsep dan program ini dapat berkelanjutan dengan mempertimbangkan pertumbuhan di
masa yang akan datang baik pertumbuhan penduduk maupun pembangunan serta melihat
pula adanya pariwisata di sekitar Kawasan Agropolitan Ciwidey tersebut yang akan
berdampak terhadap lingkungan berupa adanya alih fungsi lahan, sosial berupa masyarakat
yang dirugikan dengan adanya pariwisata tersebut, dan ekonomi yang akan cenderung
menguntungkan kalangan-kalangan tertentu. Berdasarkan hal tersebut, agar konsep OVOP di
Kawasan Agropolitan Ciwidey ini akan terus berlanjut dan mensejahterakan masyarakat
sekitar diperlukan alat untuk mengontrol pertumbuhan tersebut, seperti regulatory tools,
public service location, revenue resources, government expenditures.
Manajemen pertumbuhan pada pelaksanaan konsep OVOP di Kawasan Agropolitan
Ciwidey ini dilakukan melalui :
1. Regulatory tools (Penggunaan aturan penataan ruang, aturan lingkungan dan
pembangunan)
Untuk pelaksanaan konsep OVOP yang berkelanjutan harus ditunjang dengan
adanya aturan penataan ruang yang mengarahkan kepada terlindungnya
34 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

kawasan agropolitan dari alih fungsi lahan dan aturan yang dapat mengikat hal
tersebut.
2. Public Service Location (Penggunaan layanan publik untuk mengarahkan
pembangunan)
Melalui alat manajemen pembangunan ini, pemerintah dalam membuat
infrastruktur penunjang program ini dan mengarahkan pembangunannya
melalui peletakan lokasi infrastruktur untuk menunjang program ini agar
berlanjut.
Untuk mengatasi hal-hal berikut :

Areal lahan pertanian yang digunakan masyarakat masih banyak menggunakan


sistem tumpangsari dengan palawija, sehingga hasilnya kurang optimal;

Kebiasaan para petani strawberry dalam skala kecil ketika harga sayuran naik,
maka mereka beralih menanam sayuran, namun begitu pula sebaliknya.

Pemerintah setempat harus berperan aktif dalam hal ini, seperti kebijakan harga dan
adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat melalui pemberian insentif untuk
penggunaan lahan secar khusus (strawberry saja tanpa tanaman lain).

35 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari hasil analisis yang telah
dilakukan penulis dan rekomendasi terhadap hasil penelitian yang diambil dari suatu sumber.
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil analisis yang telah dilakukan terkait perwujudan optimalisasi
Kawasan Agropolitan melalui OVOP yaitu dari sisi manajemen sektor publik diperlukan
tahapan-tahapan seperti yang biasanya dilakukan dalam proses manajemen untuk
mewujudkan pembangunan Kawasan Agropolitan melalui konsep OVOP diantaranya tahap
perencanaan baik perencaan untuk membuat konsep OVOP tersebut mupun perencanaan
untuk pelaksanaan pembangunannya; tahap pengorganisasian baik pengorganisasian
sumberdaya alam maupun manusia atau lainnya seperti pembiayaan; tahap pelaksanaan; dan
tahap evaluasi baik sebelum, sedang, dan sesudah pelaksanaan pembangunan.
Dari sisi manajemen strategis publik, perlu dilakukannya manajemen strategis agar
pelaksanaan pembangunan Kawasan Agropolitan melalui konsep OVOP dapat tepat sasaran
dan sesuai dengan kondisi eksisting sehingga dalam pelaksanaannya lebih mudah untuk
mencapai tujuan pembangunan tersebut. Tahapan yang dilakukan sebagaimana yang telah
dijelaskan yaitu mulai dari analisis internal dan eksternal sesuai dengan visi, misi dan tujuan
kemudian pembentukan strategi, kebijakan, program dan kegiatan. (Konsep OVOP ini dapat
menjadi salah satu program atau kegiatan pembangunan di Kabupaten Bandung); Membuat
anggaran dan Pelaksanaan.
Dari sisi manajemen konflik dan manjemen pertumbuhan, terdapat solusi untuk
mengatasi salah satu persoalan di Kawasan Agropolitan Ciwidey yaitu belum pernah
mendapat bagi hasil dari kawasan-kawasan wisata yang terdapat di daerahnya. Solusi dalam
mengatasi hal tersebut, dapat dilakukan pembangunan wisata berbasiskan masyarakat atau
melalui usulan yang telah dibuat yaitu pembuatan terminal transit untuk membangkitkan
kehidupan perekonomian di wilayah ini, serta dapat membuka pasar baru bagi produk
strawberry yang dihasilkan. Selain itu, ketika terjadi persoalan pertumbuhan pembangunan

36 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n

yang tidak terkendali diperlukan alat untuk mengatasi persoalan tersebut yaitu regulatory
tools dan public service location.
Dalam mewujudkan good governance dalam pembanguan dan manajemen administrasi
pembangunan pada perwujudan optimalisasi Kawasan Agropolitan melalui konsep OVOP
perlu adanya kerjasama antara pemangku kepentingan yang terkait yaitu pemerintah dan
masyarakat, masyarakat dan swasta sehingga lebih mudah untuk mewujudkan pembangunan
tersebut.
5.2. Rekomendasi
Rekomendasi yang penulis ajukan dari hasil analisis ini diantaranya :
1. Diperlukan tahapan manajemen administrasi pembangunan untuk mewujudkan
pembangunan

Kawasan

Agropolitan

melalui

konsep

OVOP

(perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan dan pengontrolan)


2. Diperlukan manajemen strategis untuk mewujudkan pembangunan Kawasan Agropolitan
melalui konsep OVOP.
3. Sebaiknya adanya kerjasama antara pemerintah dan swasta serta swasta dan masyarakaat
untuk mewujudkan Kawasan Agropolitan melalui konsep OVOP.
4. Untuk mewujudkan Kawasan Agropolitan melalui konsep OVOP yang berkelanjutan
sebaiknya menggunakan regulatory tools dan public service location.

3.3

37 | M a n a j e m e n A d m i n i s t r a s i d a n P e m b a n g u n a n