Anda di halaman 1dari 26

ANALISIS KUANTITATIF KLASIK

Analisis data merupakan salah satu proses penelitian yang dilakukan setelah
semua data yang diperlukan guna memecahkan permasalahan yang diteliti sudah
diperoleh secara lengkap. Ketajaman dan ketepatan dalam penggunaan alat analisis
sangat menentukan keakuratan pengambilan kesimpulan, karena itu kegiatan analisis
data merupakan kegiatan yang tidak dapat diabaikan begitu saja dalam proses
penelitian. Kesalahan dalam menentukan alat analisis dapat berakibat fatal terhadap
kesimpulan yang dihasilkan dan hal ini akan berdampak lebih buruk lagi terhadap
penggunaan dan penerapan hasil penelitian tersebut. Dengan demikian, pengetahuan
dan pemahaman tentang berbagai teknik analisis mutlak diperlukan bagi seorang
peneliti agar hasil penelitiannya mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi
pemecahan masalah sekaligus hasil tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah.
Secara garis besarnya, teknik analisis data terbagi ke dalam dua bagian, yakni
analisis kuantitatif dan kualitatif. Yang membedakan kedua teknik tersebut hanya
terletak pada jenis datanya. Untuk data yang bersifat kualitatif (tidak dapat diangkakan)
maka analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif, sedangkan terhadap data yang
dapat dikuantifikasikan dapat dianalisis secara kuantitatif, bahkan dapat pula dianalisis
secara kualitatif.
Analisis kuantitatif merupakan pengolahan data dengan menggunakan kaidah
matematik/statistik terhadap data berupa angka atau numerik. Angka atau numerik dapat berupa
hasil pengukuran langsung (yang menggambarkan representasi) dari suatu kuantitas atau hasil
konversi dari kualitas (yang dikuantifikasi).
Aspek kuantitif analisis dan sistem konsentrasi dalam teknik pembuatan larutan, metoda
analisis dan aplikasinya, meliputi:
I.

Analisis gravimetri

II.

Analisis volumetri:
1) Titrasi asam-basa
2) Titrasi asam basa bebas air
3) Titrasi redoks
4) Titrasi pembentukan kompleks
5) Titrasi pengendapan

Pada aplikasi perhitungannya, analisis kuantitatif didalamnya terdapat perhitunganperhitungan dasar dasar seperti perhitungan sistem konsentrasi, diantaranya : fraksi massa, fraksi
mol, molaritas, molalitas, dan normalitas.

A. Sistem Konsentrasi
1. Fraksi Massa
Fraksi Massa mrupakan salah satu cara yang digunakan untuk menjabarkan komposisi
sebuah campuran dalam satuan tanpa dimensi, dengan rumus umum :

Sebagai contoh : NaCl


Na= 23

Cl= 35,5

2. Fraksi Mol
Fraksi mol disebut juga dengan fraksi jumlah, yang didefinisikan sebagaijumlah molekul
suatu konsistuen

dibagi dengan jumlah total semua molekul

. Konsep ini merupakan

salah satu cara menunjukkan komposisi campuran dengan satuan tak berdimensi. Fraksi mol
kadang-kadang dilambangkan dengan huruf Yunani (chi).
Contoh : Berapa bobot Na dalam 10 gram NaCl ?
Na= 23, mol= gr/Ar
= 10/23
= 0,43
3. Molaritas
salah satu ukuran konsentrasi larutan. Molaritas suatu larutan menyatakan jumlah mol
suatu zat per liter larutan. Misalnya 1.0 liter larutan mengandung 0.5 mol senyawa X, maka
larutan ini disebut larutan 0.5 molar (0.5 M). Umumnya konsentrasi larutan berair encer
dinyatakan dalam satuan molar. Keuntungan menggunakan satuan molar adalah kemudahan
perhitungan dalam stoikiometri, karena konsentrasi dinyatakan dalam jumlah mol (sebanding
dengan jumlah partikel yang sebenarnya). Kerugian dari penggunaan satuan ini adalah
ketidaktepatan dalam pengukuran volum. Selain itu, volum suatu cairan berubah sesuai
temperatur, sehingga molaritas larutan dapat berubah tanpa menambahkan atau mengurangi zat
apapun. Selain itu, pada larutan yang tidak begitu encer, volume molar dari zat itu sendiri
merupakan fungsi dari konsentrasi, sehingga hubungan molaritas-konsentrasi tidaklah linear,
dengan rumus umum :
g

M=
BM x Vol (liter)

Contoh : 10 g NaOH dilarutkan dalam air hingga volume menjadi 500 ml


Hitung konsentrasi molar (molaritas) larutan ini!
BM NaOH = 40 g/mol

10 g NaOH = 10 g/(40g/mol) = 0,25 mol NaOH


molaritas larutan:
0,25 mol NaOH
1000 ml

x
= 0,5 mol/liter = 0,5 M
500 ml
liter
4. Molalitas
Molalitas adalah satuan konsentrasi yang menyatakan jumlah mol zat yang terdapat
didalam 1000 gram pelarut. Molalitas diberi lambang dengan huruf m. Sebagai contoh didalam
botol di laboratorium tertera label bertuliskan 0.5 m CuSO4, hal ini berarti didalam larutan
terdapat 0.5 mol CuSO4 dalam 1000 gram pelarut. Penggunaan satuan konsentrasi molalitas,
ketika kita mempelajari sifat- sifat zat yang ditentukan oleh jumlah partikel misalnya kenaikan
titik didih atau penurunan titik beku larutan.
5. Normalitas
Normalitas yang bernotasi (N) merupakan satuan konsentrasi yang sudah
memperhitungkan kation atau anion yang dikandung sebuah larutan. Normalitas didefinisikan
banyaknya zat dalam gram ekivalen dalam satu liter larutan. Secara sederhana gram ekivalen
adalah jumlah gram zat untuk mendapat satu muatan. Dengan rumus umum :
N=

BE x vol (liter)
Contoh : 10 g H2SO4 dilarutkan dalam air hingga volume menjadi 500 ml
Hitung konsentrasi normal (Normalitas) larutan ini!
H2SO4 2H+ + SO4=
1 mol H2SO4 (( 2 mol H+ , H2SO4 disebut bermartabat 2, n=2
BE H2SO4 = 98/2 = 49 g/ekiv atau grek atau ekivalen
10 g H2SO4 = 10 g x ( 1 grek/49 g) = 0,204 grek
Konsentrasi H2SO4 :
0,204 grek
1000 ml

x
= 0,408 grek/liter = 0,408 ekiv/l
500 ml
liter
= 0,408 N
B. Metoda analisis
I. Analisis gravimetri
Merupakan analisis kimia yang didasarkan pada penimbangan atau analisis dimana sampel
dilarutkan ke dalam akuades. Kemudian analit diubah menjadi bentuk endapan yang dapat
dipisahkan dan ditimbang. Endapan terbentuk terutama untuk analit-analit yang dalam bentuk
garamnya adalah garam sukar larut. Dengan demikian sebagian besar garam analit tersebut akan
mengendap. Namun demikian ada sejumlah sedikit analit yang tidak terendapkan dan masih
dalam bentuk ionnya yang terlarut dalam larutan akuades.Bamyaknya ion yang terlarut dalam
larutan tergantung dari besarnya konstanta hasil kali kelarutan (Ksp).
Dalam menimbang suatu zat kimia harus dengan timbangan atau neraca dengan ketelitian
0,1mg 0,0001 g.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
a.

Syarat dalam menimbang , diantaranya :


Neraca ditempatkan pada alas/meja yang kokoh, tidak bergoyang
Neraca dalam keadaan mendatar (water pas atau mata kucing ditengah)
Dalam kondisi kosong, harus menunjukkan 0,0000 gram
Tidak boleh menimbang bahan kimia secara langsung diatas pinggan
Bahan kimia harus diletakkan pada alas timbang ( Botol timbang, kaca arloji, cawan
petri, atau kertas saring)
Tidak boleh menimbang bahan kimia dalam keadaan panas
Tidak boleh ada zat kimia yang berceceran
Sewaktu menimbang, pintu neraca harus ditutup
Setelah selesai menimbang, neraca di nol kan
Sebelum meninggalkan neraca, neraca harus dibersihkan
Langkah dari analisis gravimetri, diantaranya :
Sampling

b.

Penimbangan sampel

c.

Pengeringan

d.

Penimbangan

e.

Pelarutan

f.

Pengaturan kondisi larutan

g.

Pengendapan ( penambahan reagen pengendap)

h.

Pencernaan (digestion)

i.

Penyaringan endapan

j.

Pencucian endapan

k.

Pemanasan endapan

l.

Pemijaran

m.

Penimbangan

n.

Perhitungan akhir
Contoh soal :
Suatu sampel mengandugn senyawa besi karbonat (FeCO3) dan senyawa inert dilarutkan
ke dalam akuades. Larutan kemudian dioksidasi dengan pereaksi sehingga besi terendapkan.
Endapan kemudian disaring dan dibakar sehingga didapatkan senyawa besi (III) oksida (Fe2O3)
sebanyak 1,0 g. Berapakah kandungan besi karbonat dalam sampel?
Jawab :

Massa besi karbonat dalam sampel adalah,


Massa FeCO3 = massa Fe2O3 x 2 x Ar Fe
Mr Fe2O3

= 1,0 g Fe2O3

Mr FeCO3
1 x Ar Fe

2 x 56 g Fe
160 g Fe2O3

116 g FeCO3
1 x 56 g Fe

= 1,45 g FeCO3

Jadi kadungan besi karbonat dalam sampel awal adalah 1,45 g.


II.

Analisis volumetri
Analisa volumetri merupakan bagian dari kimia analisa kuantitatif, di mana penentuan zat
dilakukan dengan jalan pengukuran volume larutan atau berat zat yang diketahui konsentrasinya,
yang dibutuhkan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan zat yang dibutuhkan tadi.
Dalam volumetri, penentuan dilakukan dengan jalan titrasi yaitu, suatu proses di mana
larutan baku (dalam bentuk larutan yang telah diketahui konsentrasinya) ditambahkan sedikit
demi sedikit dari sebuah buret pada larutan yang ditentukan atau yang dititrasi sampai keduanya
bereaksi sampai sempurna dan mencapai jumlah equivalen larutan baku sama dengan nol
equivalen larutan yang dititrasi dan titik titrasi ini dinamakan titik equivalen atau titik akhir
titrasi.
Untuk mengetahui kesempurnaan berlangsungnya reaksi antara larutan baku dan larutan
yang dititrasi digunakan suatu zat kimia yang dikenal sebagai indikator, yang dapat membantu
dalam menentukan kapan penambahan titran harus dihentikan. Bila reaksi antara larutan yang
dititrasi dengan larutan baku telah berlangsung sempurna, maka indikator harus memberikan
perubahan visual yang jelas pada larutan (misalnya dengan adanya perubahan warna atau
pembentukan endapan). Titik pada saat indikator memberikan perubahan disebut titik akhir titrasi
dan pada saat itu titrasi harus dihentikan.
Dalam volumetri dikenal 2 macam larutan baku, yaitu baku primer dan baku sekunder.
A.Baku Primer
Yaitu larutan dimana kadarnya dapat diketahui secara langsung, karena diperoleh dari hasil
penimbangan. Pada umumnya kadarnya dapat dinyatakan dalam N (mol.Equivalen/L) atau M
(mol/L). Contoh larutan baku primer adalah : NaCl, asam oksalat, Natrium Oksalat.
B.Baku Sekunder

Yaitu larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembekuan, dengan larutan
baku primer atau dengan metode gravimetri yang tepat. Contoh : NaOH (dibakukan dengan
primer asam oksalat).
Syarat-syarat suatu bahan baku adalah :
1. Susunan kimianya diketahui dengan pasti
2. Harus murni dan mudah dimurnikan
3. Dapat dikeringkan dan tidak bersifat higroskopis
4. Stabil, baik dalam keadaan murni, maupun dalam larutannya
5. Dapat larut dalam pelarut yang cocok dan dapat bereaksi secara sthokiometri dengan
larutan yang akan dibakukan atau dengan zat yang akan ditentukan kadarnya
6. Bobot equivalennya besar, agar pengaruh kesalahan penimbangan dapat diperkecil

Bentuk-bentuk dari analisa volumetri :


1) Titrasi asam-basa
Salah satu aplikasi stoikiometri larutan adalah titrasi. Titrasi merupakan suatu metode yang
bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui
agar tepat habis bereaksi dengan sejumlah larutan yang dianalisis atau ingin diketahui kadarnya
atau konsentrasinya. Suatu zat yang akan ditentukan konsentrasinya disebut sebagai titran dan
biasanya diletakkan di dalam labu Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui
konsentrasinya disebut sebagai titer atau titrat dan biasanya diletakkan di dalam buret.
Baik titer maupun titran biasanya berupa larutan.
Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi,
sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa atau
aside alkalimetri, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi
kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain
sebagainya.
PRINSIP TITRASI ASAM BASA
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Kadar larutan
asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa atau sebaliknya. Titrant ditambahkan titer
tetes demi tetes sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer
tepat habis bereaksi) yang biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator. Keadaan ini
disebut sebagai titik ekuivalen, yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi
basa atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang
dinetralkan : [H+] = [OH-]. Sedangkan keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat
perubahan warna indikator disebut sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi ini mendekati

titik ekuivalen, tapi biasanya titik akhir titrasi melewati titik ekuivalen. Oleh karena itu, titik
akhir titrasi sering disebut juga sebagai titik ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian catat volume titer
yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran,
volume dan konsentrasi titer maka bisa dihitung konsentrasi titran tersebut.

NAMA

pH RANGE

WARNA

Biru timol

1,2-2,8

merah kuning

asam

Kuning metil

2,9-4,0

merah kuning

basa

merah jingga

basa

Jingga metil

3,1 4,4

Hijau

TIPE(SIFAT)

3,8-5,4

kuning biru

asam

4,2-6,3

merah

basa

bromkresol
Merah metil

kuning
Ungu

5,2-6,8

kuning ungu

asam

Biru bromtimol

6,2-7,6

kuning biru

asam

Merah fenol

6,8-8,4

kuning merah

asam

Ungu kresol

7,9-9,2

kuning ungu

asam

Fenolftalein

8,3-10,0

t.b. merah

asam

Timolftalein

9,3-10,5

t.b. biru

asam

10,0-12,0

kuning ungu

bromkresol

Kuning alizarin
RUMUS UMUM TITRASI

basa

Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalen asam akan sama dengan mol-ekuivalen basa,
maka hal ini dapat ditulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara normalitas (N) dengan volume, maka
rumus diatas dapat ditulis sebagai berikut:
N asam x V asam = N asam x V basa

Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada
asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH- (pada basa)
INDIKATOR ASAM BASA
TABEL DAFTAR INDIKATOR ASAM BASA
Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa yaitu indikator fenolftalein. Tabel
berikut ini merupakan karakteristik dari indikator fenolftalein.

pH

Kondisi

Warna

<0

08.2

Sangat

Asam atau mendekati

asam

netral

Jingga

Tidak berwarna

8.212.0

Basa

>12.0

Sangat
basa

pink

Tidak

keunguan

berwarna

2) Titrasi asam basa bebas air


Titrasi titrimetri dalam lingkungan bebas air, pelarut mengambil bagian yang amat penting
untuk reaksi stoikiometri, dimana pelarut tersebut dapat mengambil bagian dalam reaksi. Ada
tiga teori yang menerangkan reaksi netralisasi dalam suatu pelarut yaitu teori ikatan hidrogen,
teori Lewis dan teori Bronsted.
Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak menggunakan air sebagai pelarut. Tetapi
digunakan pelarut organik seperti alkohol, eter atau pelarut-pelarut organik lain karena senyawa
tersebut tidak dapat larut dalam air, disamping itu kurang reaktif dalam air seperti misalnya
garam-garam amina, dimana garam-garam ini dirombak lebih dahulu menjadi basa yang bebas

larut dalam air, sari dengan pelarut organik lain dan direaksikan dengan asam baku berlebih,
yang kemudian pelarutnya diuapkan dan barulah kelebihan asam ditentukan kembali dengan
basa baku sedangkan senyawa-senyawa organik yang mengandung nitrogen ditentukan dengan
metode Kjeldahl, dimana senyawa-senyawa yang berupa garam natrium diasamkan dahulu,
kemudian senyawa yang tidak larut dalam air disari dengan pelarut lain (organik), pelarut
diuapkan dan sisa dikeringkan dan ditimbang.
Pada pelarut asam lemah dan basa lemah dalam lingkungan bebas air harus diperhatikan
pengaruh pelarut bukan air terhadap tetapan ionisasi, tetapan dissosiasi, tetapan asam asam dan
basa senyawa yang hendak dititrasi. Yang tidak kalah penting adalah pengaruh konstante
dialetrik pada reaksi protolisis pada pelarut bukan air.
Jenis dan pengaruh pelarut dalam titrasi ini harus mendapat perhatian. Pada dasarnya
pelarut dibedakan menjadi dua jenis pelarut yaitu :
1.Pelarut aprotik
Pelarut aprotik adalah pelarut yang tidak dapat memberikan proton, yaitu pelarut yang
tidak terdisosiasi menjadi proton dan anion pelarut. Sebagai contoh adalah pelarut benzen.
Penggunaan pelarut aprotik dalam titrasi bebas air adalah karena pelarut ini tidak dapat
menyetingkatkan pada keasaman/kebasaan asam dan basa yang bereaksi sesamanya. Selain itu
garam yang terjadi pada titrasi tidak akan diuraikan secara protolitik oleh pelarut. Kerugiannya
adalah sifatnya yang sedikit polar atau nonpolar yang mempunyai daya larut yang amat kecil,
selain itu hantaran suatu larutan akan sangat dikurangi.
2.Pelarut protik
Pelarut protik adalah pelarut yang menunjukkan disosiasi sendiri menjadi proton dan anion
pelarut. Secara praktis pelarut yang seperti ini selalu dapat memberi dan menerima proton.
Pelarut yang seperti ini dinamakan pelarut amfiprotik atau pelarut amfolit. Pada penggunaan
pelarut aprotik keadaan ideal ini hampir tercapai. Jika dilakukan dengan pelarut amfiprotik maka
pelarut akan bertindak sebagai peserta pada proses netralisasi dan tetapan inisiasi, disosiasi
keasaman dan kebasaan tentu akan dipengaruhi
Pengaruh pelarut aprotik terhadap titrasi bebas air adalah senyawa HCl yang dilarutkan
akan tidak bereaksi dengan pelarut, karena itu kekuatan asamnya tidak berkurang. Sebagai
ukuran untuk kekuasaan asam adalah afinitas proton. Makin kuat proton terikat makin sedikit
proton yang diberikan dan asamnya akan semakin meningkat/kuat. Begitupun dengan basa.
3) Titrasi redoks

Titrasi Reduksi oksidasi (redoks) adalah suatu penetapan kadar reduktor atau oksidator
berdasarkan atas reaksi oksidasi dan reduksi dimana redoktur akan teroksidasi dan oksidator
akan tereduksi.
Teori oksidasi reduksi
Secara umum oksidasi diartikan sebagai reaksi pengikatan oksigen dan reduksi sebagai
pelepasan oksigen. Berdasarkan konsep elektron dari suatu zat, istilah redok digunakan untuk
reaksi-reaksi dimana terjadi pelepasan dan pengikatan elektron. Pelepasan elektron disebut
oksidasi sedangkan pengikatan elektron disebut reduksi.
Oksidasi
Reduksi
Redoks

: Fe2+ Fe3+ + e
: Ce4+ + E Ce3+
: Fe2+ Ce4+ Fe3+ + Ce3+

Pada reaksi redoks jumlah elektron yang dilepaskan oleh reduktor selalu sama dengan
jumlah elektron yang diikat oleh oksidator. Hal ini analog dengan reaksi asam basa, dimana
proton yang dilepaskan oleh asam dan proton yang diikat oleh basa juga selalu sama. Oleh
karena elektron tidak tampak pada keeluruhan reaksi maka penlisan reaksi lebih mudah bila
dipisahkan menjadi dua bagian yaitu bagian oksidasi dan bagian rduksi, masing-masing dikenal
sebagai setengah reaksi (lihat contoh reaksi di atas).
Oleh karena reaksi berlangsung dalam larutan air maka untuk menyempurnakan koeffien
reaksi air (H+ atau OH-) bila perlu dapat diikutsertakan dalam reaksi. Misalnya dalam oksidasi
senyawa besi (II) dengan kalium permanganat, reaksi dapat ditulis sebagai berikut :
Oksidasi
Reduksi
Redoks

: Fe2+ Fe3+ + e 5x
: MnO4- + 8 H+ + 5 e- Mn2+ + H2O
: 5 Fe2+ MnO4 8 H + 5 Fe3+ + Mn2+ + 4 H2O

Agar dapat digunakan sebagai dasar titrasi, maka reaksi redoks harus
memenuhi persyaratan umum sebagai berikut :
1.
2.

Reaksi harus cepat dan sempurna.


Reaksi berlangsung secara stiokiometrik, yaitu terdapat kesetaraan yang pasti antara

oksidator dan reduktor.


3.
Titik akhir harus dapat dideteksi, misalnya dengan bantuan indikator redoks atau secara
potentiometrik.
Oleh karena itu banyak unsur-unsur mempunyai lebih dari satu tingkat oksidasi, maka
1.
2.
3.
4.

dikenal beberapa macam titrasi redoks yaitu :


Titrasi permanganometri.
Titrasi Iodo-Iodimetri
Titrasi Bromometri dan Bromatometri
Titrasi serimetri
Pereaksi Redoks
Suatu sampel biasanya mengandung campuran spesi kimia dalam bentuk teroksidasi dan
tereduksi.Untuk keperluan penetapan seluruh spesi harus dibuat dalam kondisi tereduksi atau
seluruhnya dibuat dalam kondisi teroksidasi.

Untuk mengubah seluruh spesi kimia menjadi dalam bentuk teroksidasi seluruhnya
diperlukan pereaksi oksidasi (Oksidator), sedangkan untuk mengubah seluruh spesi kimia
menjadi dalam bentuk tereduksi seluruhnya diperlukan pereaksi reduksi (Reduktor).
Bobot ekivalen
Bobot ekivalen suatu zat pada titrasi redoks adalah bayakna mol zat itu yang ekivalen
dengan mol 0,1 mol Cl/Br/I atau 1 mol elektron. Contoh :
1.
2.
3.
4.

As2O3 + 2 O As2O5
BE As2O3 = mol
Ca(Ocl)2 + 4 HCl CaCl2 + 2 H2O+ 2 Cl2
BE Ca(Ocl)2 = mol
H2O2 + 2 HI 2 H2O+ I2
BE H2O2 = mol
2 KmnO4 + 3H2SO4 K2SO4 + 2MnSO4 + 3H2O+ 5 O
BE KMnO4 = 1/5 mol
Atau :
MnO4- + e- Mn2+
MnO4- + 8H+ + 5 e- Mn2+ + H2O
BE KMnO4 = 1/5 mol
Untuk melengkapkan koefisien pada reaksi oksidasi atau reduksi dapat dilakukan prosedur
sebagai berikut :

1.
2.

1.
2.
1.
2.
3.
4.

Tulis reaktan dan produk.


Samakan jenis unsur.
Untuk O dipakai H2O
Untuk H dipakai H+ (pada media asam) atau OH (pada media basa).
Samakan jumlah unsur.
Samakan muatan dengan penambahan elektron pada bagian reaktan atau produk.
Contoh : reaksi reduksi dari KmnO4
MnO4- Mn2+
MnO4- + H+ Mn2+ + 2 H2O
MnO4- + 8 H+ Mn2+ + 4 H2O
MnO4- + 8 H+ + 5 e- Mn2+ + 4 H2O
Bilangan oksidasi
Untuk menentukan bobot ekivalen pada titrasi redoks dapat juga dilakukan tanpa
melengkapkan koefisien reaksi, yaitu dengan menggunakan bilangan oksidasi(tingkat oksidasi).
Perubahan bilangan oksidasi menunjukkan jumlah elektron yang diikat atau dilepaskan pada
reaksi redoks.

1.
2.
3.

Untuk menetapka bilangan oksidasi digunakan ketentuan berikut :


Bilangan oksidasi dari ion sederhana (monnoatomik) sama dengan muatannya.
Jumlah bilangan oksidasi dari molekul adalah nol.
Jumlah bilangan oksidasi dari atom-atom yang menyusun ion sama dengan muatan dari
ion tersebut.

4.

Bilangan oksidasi dari H = +1 (kecuali pada gas Hidrogen dan hidrida, masing-masing

adalah -1, 0 dan +2).


5.
Bilangan oksidasi dari H = +1 (kecuali pada gas Hidrogen dan hidrida, masing-masing
adalah 0 dan -1).
6.
Bilangan oksidasi dari logam, yaitu sama dengan valensinya dan diberi tanda positif.
1.

1.

Contoh :
MnO4- + 5 e- Mn2+
Pada MnO4- bilangan oksidasi dari O = 4 x -2 = -8 (muatan -1)
Jadi bilangan oksidasi dari Mn = +7
Jadi dari Mn7+ menjadi Mn2+ diperlukan 5 e.
BE MnO4MnO4- MnO2
Pada MnO2 bilangan oksidasi O = -4, sehingga bilangan oksidasi dari Mn = +4. jadi dari
Mn7+ menjadi Mn+4 diperlukan 3 e.
BE MnO4- = 1/3 mol
Indikator redoks
Disamping secara potensiometrik (dengan mengukur loncatan potensial larutan), titik akhir
dari titrasi redoks dapat juga ditetapkan secara visual apabila sistem redoks itu sendiri
memperlihatkan peruabahan warna pada titik akhir titrasi (misalnya KmnO4), atau dengan
menambahkan indikator redoks. Indikator adalah senyawa organik yang bila dioksidasi dengan
atau direduksi akan mengalami perubahan warna. Perbedaan warna dari bentuk tereduksi dengan
bentuk teroksidasi harus tajam, sehingga penggunaannya dapat sesedikit mungkin untuk
mengurangi kesalahan titrasi.
Inok + n e Inred
Warna indikator oksidasi tidak sama dengan warna indikator reduksi. Daerah perubahan
warna dari suatu indikator redoks dua warna berada pada daerah potensial tertentu. Hal ini
analog dengan indikator asam basa dimana perubahan warna juga terjadi pada trayek pH tertentu.
Untuk indikator satu warna, warna titik akhir (intensitas warna) ditentukan oleh konsentrasi
indikator itu. Tentu saja indikator yang dipilih harus mempunyai daerah transisi perubahan warna
pada titik ekivalen, atau disekitar titik ekivalen. Indikator harus mempunyai potensial standard
(E0) harga E0 dari oksidator dan reduktor. Misalnya pada penetapan senyawa besi (II) secara
serimetri, indikator yang baik adalah ferroin (0-fenanthrolin besi (II) sulfat.

4) Titrasi pembentukan kompleks


Reaksi pembentukan senyawa kompleks atau senyawa koordinasi yang dipakai sebagai
dasar penentuan titimetri adalah senyawa kompleks yang terbentuk dari kation logam dengan
anion/molekul netral.

M +n + L
Dimana :
M+n
= kation logam

ML

L
ML

= anion atau molekul netral (memiliki pasangan elektron bebas)


= senyawa kompleks

Contoh senyawa kompleks dengan bilangan koordinasi 4

[ Cu (NH3 ) 4 ]+2

Cu+2 + 4NH 3
Cu 2+ + 4NH3

NH3

[Cu(NH3)4]2+

Cu

NH3

NH3
H3N

CH2

CH2
Cu
+2

Titrasi kompleksometri
titrasi berdasarkan
pembentukan persenyawaan kompleks
Cu 2+ yaitu
+ 2en
[Cu(en)2]2+
(ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana
titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi
pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga
banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang
kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi titrasi
kompleksometri :
Ag+ + 2 CN- Ag(CN)2
Hg2+ + 2Cl- HgCl2
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan
pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi.
Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam,
sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral.
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ionion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan
mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi
komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi

kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat,
disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :
M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah
satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat
berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya
atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul,
misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang
mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam
molekul.
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion
logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam,
dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang
menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan
tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam
larutan tersebut.
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba
dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan
indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya
mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut
indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol
violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein
dan calcein blue.
Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa lalu dalam pemeriksaan kimia adala ion
sianida, CN-, karena sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang mantap dengan ion perak
dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida membentuk senyawa kompleks perak-sianida,
sedagkan dengan ion nilkel membentuk nikel-sianida. Kendala yang membatasi pemakaianpemakaian ion sianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara
bertahap dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu.
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda
tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada
pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum
titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan
berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif.
Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena
disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu
harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir,
EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA
harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator

logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion
logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik
ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi
adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap,
sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator murexide.
Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan
penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen
maupun nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan
berbagai macam logam. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam
keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri.
Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air, sebaiknya EDTA distandarisasikan dahulu
misalnya dengan menggunakan larutan kadmium.
Indikator Titrasi Kompleks
Indikator titrasi kompleks disebut indikator metalokromik yaitu suatu senyawa organik
yang dapat membentuk kompleks dengan kation logam.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh indikator adalah :
1.
Membentuk kompleks berwarna dengan ion logam atau melepas ion logam menjelang
titik akhit titrasi, larutan harus berwarna kuat.
2.
Reaksi harus spesifik dan selektif
3.
Kompleks logam-indikator harus cukup stabil, akan tetapi stabilitas kompleks ini harus
lebih rendah dari stabilitas kompleks analit-titran, sehingga memungkinkan mengusir ion logam
dari kompleks indikator-logam pada titik akhir titrasi.
4.
Perbedaan warna antara kompleks indikator-logam dengan warna indikator bebas harus
5.

jelas dan kontras.


Kesemua syarat-syarat di atasharus dapat dipenuhi pada pH titrasi yang dilakukan.

5) Titrasi pengendapan
Argentometri merupakan titrasi pengendapan sample yang dianalisis dengan menggunakan
ion perak. Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini adalah ion halida (Cl-, Br-, I-) .
Hasil kali konsentrasi ion-ion yang terkandung suatu larutan jenuh dari garam yang sukar
larut pada suhu tertentu adalah konstan. Misalnya suatu garam yang sukar larut AmBn dalam
larutan akan terdisosiasi menjadi m kation dan n anion.
AmBn Ma++ NbHasil kali kelarutan = (CA+)M (CB-)N titrasi argentometri adalah titrasi dengan
menggunakan perak nitrat sebagai titran dimana akan terbentuk garam perak yang sukar larut.
Jika larutan perak nitrat ditambahkan pada larutan kalium sianida maka mula-mula akan
terbentuk endapan putih yang pada pengadukan akan larut membentuk larutan kompleks yang
stabil.

Titik akhir ditandai dengan terbentuknya endapan putih yang permanent.salah satu
kesulitan dalam menentukan titik akhir ini terletak pada fakta dimana perak sianida yang
diendapkan oleh adanya kelebihan ion perak yang agak lebih awal dari titik ekuivalen, sangat
lambat larut kembali dan titrasi ini makan waktu yang lama.
Larutan jenuh dapat dicapai dengan penambahan zat ke dalam pelarut secara terus menerus
hingga zat tidak melarut lagi dengan cara menaikkan lagi konsentrasi ion-ion tertentu hingga
terbentuk endapan.
Faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu suhu, sifat pelarut, ion sejenis, aktivitas ion,
pH, hidrolisis, hidroksida logam, dan pembentukan senyawa kompleks.
Pada kebanyakan garam anorganik, kelarutan meningkat jika suhu naik. Sebaiknya proses
pengendapan, penyaringan dan pencucian endapan dilakukan dalam keadaan larutan panas
kecuali untuk endapan yang dalam larutan panas memiliki kelarutan kecil cukup disaring setelah
terlebih dahulu didinginkan di lemari es. Kebanyakan garam anorganik larut dalam air dan tidak
arut dalam pelarut organik.Air memiliki momen dipol yang besar dan tertarik oleh kation dan
anion membentuk ion hidrat.
Teknik penambahan ion sejenis dilakukan oleh analis untuk tujuan :
1) Menyempurnakan pengendapan
2) Pencucian endapan dengan larutan yang mengandung ion sejenis
dengan endapan
Untuk larutan yang mengandung Ag, jika ditambahkan NaCI maka mula-mula terbentuk
suspensi yang kemudian terkoagulasi (membeku).Laju terjadinya koagulasi menyatakan
mendekamya titik ekivalen.Penambahan NaCI ditersukan sampai titik akhir tercapai.Perubahan
ini dilihat dengan tidak terbentuknya endapan AgCI pada cairan supernatan.Akan tetapi sedikit
NaCI harus ditambahkan untuk menyempurnakan titik akhir.Penentuan Ag sebagai AgCI dapat
dilakukan dengan pengukuran turbidimetri yaitu dengan pembauran sinar.
Jika AgNO3 ditambahkan ke NaCI yang mengandung zat berpendar fluor, titik akhir
ditentukan dengan berubahnya warna dari kuning menjadi merah jingga.Jika didiamkan, tampak
endapan berwarna, sedangkan larutan tidak berwarna disebabkan adanya adsorpsi indikator pada
endapan AgCI.Warna zat yang terbentuk dapat berubah akibat adsorpsi pada penukaan.
Semua indikator adsorpsi bersifat ionik.Selain indikator adsorpsi tersebut terdapat pula
indikator-indikator adsorpsi yang digunakan dalam titrasi pengendapan, yaitu turunan
krisodin.Indikator tersebut merupakan indikator asam basa dan indikator reduksi oksidasi dan
memberikan perubahan warna yang reversibel dengan brom.Indikator ini berwarna merah pada
suasana asam clan kuning pada suasana basa.Indikator ini juga digunakan untuk titrasi ion I"
dengan ion Ag+.Kongo merah adalah indikator asam basa lainnya.
Selain kelemahan, indikator adsorpsi mempunyai beberapa keunggulan.Indikator ini
memberikan kesalahan yang kecil pada penentuan titik akhir titrasi.Perubahan warna yang
disebabkan adsorpsi indikator biasanya tajam.Adsorpsi pada permukaan berjalan baik jika
endapan mempunyai luas permukaan yang besar.Warna adsorpsi tidak begitu jelas jika endapan
terkoagulasi.Kita tidak dapat menggunakan indikator tersebut karena koagulasi.Koloid pelindung
dapat mengurangi masalah tersebut.Indikator-indikator tersebut bekerja pada batasan daerah-

daerah pH tertentu juga pada konsentrasi tertentu saja, yaitu pada keadaan yang sesuai dengan
peristiwa adsorpsi dan desorpsi saja.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan:
a. Kelarutan bertambah dengan naiknya temperatur. Kadangkala endapan yang baik
terbentuk pada larutan panas, tetapi jangan dilakukan penyaringan terhadap larutan panas karena
pengendapan dipengaruhi oleh faktor temperatur.Garam-garam anorganik lebih larut dalam
air.Berkurangnya kelarutan di dalam pelarut organik dapat digunakan sebagai dasar pemisahan
dua zat.Kelarutan endapan dalam air berkurang jika lanitan tersebut mengandung satu dari ionion penyusun endapan, sebab pembatasan Ks.p (konstanta hasil kali kelarutan).Baik kation atau
anion yang ditambahkan, mengurangi konsentrasi ion penyusun endapan sehingga endapan
garam bertambah.Pada analisis kuantitatif, ion sejenis ini digunakan untuk mencuci larutan
selama penyaringan.
b. Beberapa endapan bertambah kelarutannya bila dalam lanitan terdapat garam-garam
yang berbeda dengan endapan. Hal ini disebut sebagai efek garam netral atau efek
aktivitas.Semakin kecil koefesien aktivitas dari dua buah ion, semakin besar hasil kali
konsentrasi molar ion-ion yang dihasilkan.Kelarutan garam dari asam lemah tergantung pada pH
larutan. Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air, akan menghasilkan perubahan (H).
Kation dari spesies garam mengalami hidrolisis sehingga menambah kelarutannya
c. Kelarutan garam yang sedikit larut merupakan fungsi konsentrasi zat lain yang
membentuk kompleks dengan kation garam tersebut. Beberapa endapan membentuk kompleks
yang larut dengan ion pengendap itu sendiri.Mula-mula kelarutan berkurang (disebabkan ion
sejenis) sampai melalui minuman. Kemudian bertambah akibat adanya reaksi kompleksasi
Ada beberapa metode dalam titrasi argentometri yang dibedakan berdasarkan indikator
yang digunakan pada penentuan titik akhir titrasi, antara lain:
a. Metode Mohr
Metode Mohr biasanya digunakan untuk menitrasi ion halida seperti NaCl, dengan AgNO3
sebagai titran dan K2CrO4 sebagai indikator.Titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan
warna suspensi dari kuning menjadi kuning coklat. Perubahan warna tersebut terjadi karena
timbulnya Ag2CrO4, saat hampir mencapai titik ekivalen, semua ion Cl- hamper berikatan
menjadi AgCl. Larutan standar yang digunakan dalam metode ini, yaitu AgNO3, memiliki
normalitas 0,1 N atau 0,05 N.
Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir dengan titran, sehingga terbentuk
endapan yang berwarna merah-bata, yang menunjukkan titik akhir karena warnanya berbeda dari
warna endapan analat dengan Ag+ .
b. Metode Volhard
Metode Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN sebagai titrant, dan larutan Fe3+
sebagai indikator.Sampai dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi antara titrant dan Ag,
membentuk endapan putih.
Konsentrasi indikator dalam titrasi Volhard juga tidak boleh sembarang, karena titrant
bereaksi dengan titrat maupun dengan indikator, sehingga kedua reaksi itu saling mempengaruhi.
Penerapan terpenting cara Volhard ialah untuk penentuan secara tidak langsung ion-ion
halogenida: perak nitrat standar berlebih yang diketahui jumlahnya ditambahkan sebagai contoh,

dan kelebihannya ditentukan dengan titrasi kembali dengan tiosianat baku. Keadaan larutan yang
harus asam sebagai syarat titrasi Volhard merupakan keuntungan dibandingkan dengan cara-cara
lain penentuan ion halogenida karena ion-ion karbonat, oksalat, dan arsenat tidak mengganggu
sebab garamnya larut dalam keadaan asam.
c. Metode Fajans
Dalam titrasi Fajans digunakan indikator adsorpsi.Indikator adsorpsi ialah zat yang dapat
diserap pada permukaan endapan (diadsorpsi) dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan
ini dapat diatur agar terjadi pada titik ekivalen, antara lain dengan memilih macam indikator
yang dipakai dan pH.
Cara kerja indikator adsorpsi ialah sebagai berikut: indikator ini ialah asam lemah atau
basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya fluoresein yang
digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan, fluoresein akan mengion (untuk mudahnya
ditulis HFl saja).
HFl(aq) H+(aq) +Fl-(aq)
Ion Fl- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah
muda.Karena penyerapan terjadi pada permukaan, dalam titrasi ini diusahakan agar permukaan
endapan itu seluas mungkin supaya perubahan warna yang tampak sejelas mungkin, maka
endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan
positif, dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant (ion Ag+).
Suatu kesulitan dalam menggunakan indikator adsorpsi ialah, bahwa banyak diantara zat
warna tersebut membuat endapan perak menjadi peka terhadap cahaya (fotosensifitasi) dan
menyebabkan endapan terurai.
Titrasi menggunakan indikator adsorpsi biasanya cepat, akurat dan terpercaya.Sebaliknya
penerapannya agak terbatas karena memerlukan endapan berbentuk koloid yang juga harus
dengan cepat.
1.
2.
3.
4.

Penggunaan indikator adsorpsi harus diperhatikan 8 hal :


Endapan tidak boleh terkoagulasi membentuk agregat, tetapi harus tetap terdispersi
sebagai koloid. (perlu koloid pelindung, misalnya dextrin)
Konsentrasi indikator harus cukup rendah supaya tidak membentuk endapan.
Indikator tidak boleh terserap terlalu kuat atau terlalu lemah.
pH larutan harus diperhatikan karena indikator adalah asam organik lemah yang sangat

tergantung kepada pH.


5.
Indikator dipilih yang bermuatan berlawanan dengan muatan ion titran.
6.
Hindarkan titrasi larutan yang memiliki konsentrasi tinggi (pekat) karena: menyebabkan
flokulasi ; menurunkan jumlah indikator yang terserap karena adanya kompetisi dengan anion
7.
8.

sehingga perubahan warna tidak tajam


Jangan diaduk-aduk terlalu kuat (suhu dapat berubah)
Hindarkan titrasi larutan yang terlalu encer, perubahan warna kurang peka (titrasi larutan
klorida < 0,005 M jarang dilakukan).

TEKHNIK PEMISAHAN

Pemisahan senyawa kimia tertentu dari campurannya diperlukan baik untuk tujuan
pemurnian ataupun analisis kimia. Dalam tujuan pemurnian, berguna untuk mendapatkan
kualitas bahan yang baik dan murni, sedangkan dalam tujuan analisis kimia pemisahan
diperlukan dengan alasan: untuk memperkecil gangguan (interferensi) dan menaikkan
kepekaan analisis, dan ada pula konstituen kimia yang baru dapat diukur setelah
dipisahkan lebih dahulu.
Hubungan pemisahan dalam analisis dapat dilihat pada urutan atau tahap-tahap
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

analisis sebagai berikut:


Sampling
Persiapan/preparasi sampel
Pelarutan
Perlakuan awal (pengaturan kondisi larutan)
Pemisahan konstituen analit
Pengukuran analit
Analisis data, perhitungan dan pelaporan.
I.1. Parameter keberhasilan pemisahan
Berdasarkan produk terdapat 2 parameter yang perlu diperhatikan yaitu %
kemurnian dan kuantitas. Misalnya campuran zat A, B, dan C. Zat A dipisahkan dari
campurannya, maka kemurnian A adalah:
mA
% A =
x 100 %
mA + mB + mC
m = massa atau mol
Kuantitas A yang diperoleh dinyatakan dengan:
A =
mA

wA
x 100 %

wA = bobot A yang diperoleh dari pemisahan


mA = bobot A dalam sampel

Uji kemurnian zat


Kemurnian zat dapat diuji dengan berbagai cara sesuai dengan sifat-sifat zat.
Cara-cara yang lazim yaitu : pemeriksaan titik leleh untuk zat padat, sedangkan untuk
cairan: titik didih, indeks refraksi, putaran optik dan sebagainya.
Urutan kemurnian pelarut
1. HPLC atau spectroscopy grade
2. Pro analisis (PA)
3. Reagent grade
4. Pure grade
5. Farmaceutic
6. Technical grade.
Selain dua kriteria keberhasilan diatas ada empat kriteria lain yang penting untuk
diperhatikan yaitu: factor perolehan kembali (recovery factor), faktor pemisahan,

efisiensi dan efektifitas pemisahan. Keempat kriteria ini merupakan gambaran unjuk
kerja (performance) suatu teknik pemisahan.
Faktor perolehan kembali
Factor perolehan kembali (R) adalah angka banding jumlah komponen terpisahkan atau
terisolasi terhadap jumlah komponen dalam sampel. Untuk zat i, facotr perolehan
kembali, Ri adalah:
Qi

Qi = jumlah zat i yang terpisahkan


Ri =
Qo = Jumlah zat i dalam sampel
Qo
Zat yang berhasil dipisahkan disebut isolat. Isolat dapat dikatakan kuantitatif apabila
faktor perolehan kembali = 1, yaitu diperoleh kembali 100 %, jika harga ini dicapai
berarti pemisahan sempurna.
Faktor pemisahan
Faktor pemisahan (separation factor) adalah perbandingan faktor perolehan
kembali setiap komponen dalam campuran. Dalam sistem biner, misalnya sampel
mengandung zat A dan zat B, faktor pemisahan A terhadap B adalah:
QA/QoA
S A/B =
QB/QoB
Untuk isolat A kuantitatif, RA = 1, maka faktor pemisahan B adalah
QB
SB/A =
= RB
o
QB
Efisiensi pemisahan
Efisiensi pemisahan diartikan : semakin sedikit pekerjaan yang dilakukan dalam
pemisahan dianggap semakin efisien.
Efektifitas pemisahan
Efektifitas pemisahan diartikan : dengan pekerjaan pemisahan yang dilakukan
diperoleh hasil pemisahan yang semurni mungkin. Dalam praktek, haruslah dipilih
metoda pemisahan yang efektif dan efisien.
I.2. Metoda pemisahan
Beberapa metoda pemisahan yang dapat disebut diantaranya: penyaringan,
pengayakan, kristalisasi, pengendapan, volatilisasi, adsorbsi, distilasi, ekstraksi,
kromatografi dan sebagainya. Proses pemisahan ini ada yang melibatkan proses
mekanik, kesetimbangan kimia dan fisika, kesetimbangan fasa, atau pemisahan secara
listrik. Suatu metoda pemisahan disebut atau diberi nama berdasarkan proses yang
terlibat.
Klasifikasi pemisahan berdasarkan proses yang terlibat
Mekanik

Fisik

Kimia

Sieving & exclusi (size)

1. Partisi

Perubahan
kimia

-Dialisis

GLC

Pengendapan

-Exclusi kromatografi

LLC

Elektrodeposisi

-Filtrasi

GSC

Masking

-Ultra filtrasi

Ekstraksi cair

(pseudoseparation)

-Sentrifugasi (density)

Zona elektroforesisi

Ion exchange

2.Perubahan keadaan
Distilasi
Sublimasi
Kristalisasi
Pemisahan yang melibatkan proses mekanik yaitu didasarkan kepada perbedaan
1.

ukuran zat yang dipisahkan ada empat.


Dialisis, proses pemisahan menggunakan membran semipermeabel, yaitu suatu membran

yang hanya dapat dilewati molekul tertentu disebabkan karena ukuran besarnya molekul.
2. Filtrasi dan ultra filtrasi menggunakan penyaring (kertas atau yang lainnya) dengan
memanfaatkan gaya gravitasi.
3. Sentrifugasi suatu proses pelepasan muatan karena perputaran cepat dan memanfaatkan
gaya gravitasi.
Pemisahan yang melibatkan proses fisik meliputiproses partisi dan perubahan
keadaan.
1. Ekstraksi cair cair merupakan salah satu contoh proses partisi.
2. Distilasi merupakan salah satu contoh proses isolasi berdasarkan perbedaan fasa,
meskipun demikian fasa uap dikembalikan ke fasa cair ditempat yang terpisah.
Klasifikasi berdasarkan perbedaan fasa
Fasa awal

Fasa kedua
Gas

Gas

Termal

Cair

Padatan
GLC

GSC

HPLC

LSC

difusi
Cair

Distilasi

Ekstraksi
cair
Dialisis
Ultra filtrasi

Padatan

Sublimasi

Zona
refining
Leaching

Keterangan :
GLC = gas liquid chromatography suatu teknik pemisahan yang menggunakan zat cair yang
disalutkan pada permukaan partikel padat, dan dikemas dalam sebuah kolom. Zat cair ini
selanjutrnya disebut fasa diam (stationery fase). Campuran zat yang akan dipisahkan
dimasukkan ke dalam kolom, kemudian dielusi (didorong) dengan gas inert, yaitu gas

Helium atau hidrogen. Gas pengelusi ini selanjutnya disebut fasa gerak (mobile fase)
GSC = sama dengan GLC tetapi fasa diamnya padatan, tanpa disalut dengan cairan.
HPLC = GLC tetapi fasa geraknya berupa cairan.
Leaching , proses pencucian. Analit dalam fasa padat diekspose kedalam aliran zat cair,
sehingga terlepas dari fasa padat menuju ke fasa cair.
I.
DISTILASI
Distilasi adalah proses pemisahan yang didasarkan kepada perbedaan titik didih
(atau tekanan uap) komponen-komponen yang dipisahkan. Prinsip pelaksanaannya:
cairan yang mengandung komponen-komponen itu dididihkan dan uap yang terbentuk
didinginkan kembali sehingga menjadi cair (disebut : distilat) dan ditampung ditempat
lain yang terpisah.
Klasifikasi dan penamaan distilasi dapat ditabelkan sebagai berikut:
Berdasarkan cara

Berdasarkan tahap

Berdasarkan cara

pemasukan

pemanasan

pengubahan

bahan( umpan )

analit menjadi
uap.

1. Bacth distilation

1. Distilasi tunggal

1. Distilasi biasa

(sekali umpan)
2. Distilasi kontinyu

(sekali )
2. Distilasi terfraksi

2. Distilasi uap

(umpan terus

(beberapa tahap

menerus)

pemanasan)

3. Distilasi
vakum
4. Distilasi
ekstraktif

I.1. Titik didih dan tekanan uap


Mendidih dan menguap melibatkan kesetimbangan fasa. Menurut hukum fasa
Gibbs, F = C P + 2. F = derajat kebebasan, C = banyaknya komponen, dan P = banyak
fasa. Jika banyak komponen sama dengan banyak fasa, F = 2, artinya ada dua variabel

yang menentukan sistem, yaitu suhu (T) dan tekanan (P). Jika tekanan dapat dibuat
konstan maka hanya variabel suhu yang perlu diperhatikan.
Pada saat cairan mendidih terjadi kesetimbangan cair-uap. Menurut Clapeyron :
dP Hv

=
dT
T V
P = tekanan uap, Hv = entalpi penguapan, T = suhu mutlak, dan V = perbedaan
volume yang diduduki oleh satu mol zat dalam fasa uap dan fasa cair. V identik dengan
volume zat dalam fasa gas. Menururt persamaan gas ideal, V = RT/P, R = 1,987 cal mol1 der-1
Sehingga persamaan Clapeyron menjadi:
dP Hv

=
x P
dT
RT2
atau

Hv
x dT

dP
=

RT2

Hv
Hasil integrasi persamaan ini diperoleh: ln P =
+ C
RT
Dengan mengukur tekanan uap pada berbagai suhu dapat dibuat plot ln P terhadap
1/T dapat dihasilkan grafik garis lurus dengan nilai intersept = C dan kemiringan garis
(slope) adalah Hv/R, sehingga panas penguapan zat dapat dihitung

Hv = R x slope.

ln P

tg = slope = Hv/R
intersept = C
1/T

Tekanan Uap Larutan


Tekanan uap larutan yaitu tekanan uap pelarut diatas larutan pada saat terjadi ke
setimbangan. Tekann uap larutan lebih kecil dar pelarut murni dan oleh Hukum Rault
dinyatakan :
P larutan = X pelarut . Popelarut
P

T
0
Gambar 1 : Diagram P-T dan diagram P-X

tekanan uap
pelarut murni

X pelarut

Hukum Dalton
Dua cairan A dan B dicampur menjadi larutan, tekanan uap larutan adalah
PA = XA + PoA

PB = XB + PoB
Pt = PA + PB
= XA + PoA + XB + PoB

HK.Dalton

Larutan ideal dan non ideal


Larutan ideal mengikuti Hk. Rault (tekanan uap larutan dapat dihitung dengan
rumusan Hk.Rault), sedangkan larutan non ideal menyimpang dari Hk.Rault.
penyimpangan mungkin positif, yaitu tekanan uap larutan lebih besar dari perhitungan
tekanan uap larutan ideal, atau sebaliknya yaitu penyimpangan negatif.

Xa
1

1
Xb

Xa
1

1
Xb

Xa
1

1
Xb

Gambar 2. Diagram P-X larutan ideal dan non ideal

Gaya Tarik

Hs

Temp saat

Sifat

pelarutan

penyimpangan

contoh

AA, BB =AB

ideal

Benzen chhoroform

AA, BB AB

Negatif

Naik

Negatif

Aseton air

AA, BB AB

Negatif

Turun

positif

Etilalkohol air

Distilasi
Larutan padatcair (pelarutnya cairan) jika dipanaskan pelarutnya menguap dan
uap ini dapat dicairkan kembali dengan cara pendinginan dan ditampug di tempat lain.
Cara pemisahan inin disebut distilasi.Cairan yang diperoleh disebut Distilat. Distilasi
dapat dilakukan dengan cara biasa, distilasi terfraksi, dan distilasi vakum. Distilasi
terfraksi dilakukan jika komponen yang dipisahkan memiliki perbedaan tekanan uap
kecil.Distilasi vakum dilakukan jika komponen yang dipisahkan dapat rusak jika terkena
panas.
Distilasi terfraksi
Campuran caircair dimana kedua cairan mudah menguap masingmasing dapat
dipisahkan dengan cara distilasi terfraksi. Misal campuran benzenatoluena. Pada 20oC
tekanan uap murni benzena PBo =75 mmHg dan Po toluena =22 mmHg. Campuran terdiri
dari 30 mol benzena dan 70 mol toluena
Po toluena = X toluena. Po toluena

= 0,70 x 20 mmHg = 15,40 mmHg


Pobenzena = 0,30 x 75 mmHg = 22,50 mmHg
Tekanan uap total = 15,40 + 22,50 = 37,90 mmHg
Jika uap ini didinginkan sehingga mencair, maka komposisi cairan adalah:
15,40 mmHg
X toluena =
= 0,60
= 60 %
37,90
22,50 mmHg
X benzena =
= 0,40
= 40 %
37,90 mmHg
kemudian cairan ini diuapkan lagi akan diperoleh distilat dengan komposisi:
X toluena = 83,6 %
X benzena = 16,4 %
Dengan beberapa kali penyulingan/tingkatan akan diperoleh toluena dan benzena
murni.
Ekstraksi Asam Lemah
Asam lemah dalam fasa air akan terionisasi, dalam fasa organik tidak terionisasi
Fasa organik

[HA]o
A- + H+

Fasa air [HA]a


K

Ka

H A

Ka =

HA a

HA a

HA o
HA a

H a

[A-]a =Ka

Kd =
Angka banding distribusi D
D
=
Total asam dalam fasa organik
Total asam dalam fasa air
HAo
HA a A a
D
=

Kd HA a
HA a Ka HA a
H a

Kd [ HA]a
Ka
[ HA]a (1
)
H

D =
D

Kd
Ka
(1
)
H

% ekstraksi dan faktor pemisahan


Kd
x100
Va
Kd
Vo
% ekstraksi = % E = fo =
Kd .100
D.100
Va
Va
Kd
D
Vo
Vo
%E=
atau % E =
Va
%E
Va
%E
.
Vo 100 % E
Vo 100 % E
Kd =
atau D =
Faktor Pemisahan
D1
D2
S
=
D1
= harga D untuk komponen 1
D2
= harga D untuk komponen 2
Pemisahan kuantitatif, 99% zat terpisahkan dari zat lainnya untuk 1 kali ekstraksi.
Supaya minimal 99 % terekstraksi
D1
D2
S
=
Va / Vo.% E1 /(100 % E1 )
Va / Vo.% E2 /(100 % E2 )
=
% E1 /(100 % E1 )
% E2 /(100 % E2 )
=
% E1
(100 % E2 )
% E2
(100 % E1 )
=
x
(100 1)
99
(100 99)
1
=
x
= 99 x 99 = 9801 104