Anda di halaman 1dari 101

KONYUNGTIVITIS

GETRY SUKMAWATI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP M JAMIL

Konyungtivitis
Radang/inflamasi/infeksi pada konyungtiva
Gamb klinik yang terpenting untuk
menegakan diagnosa :
a.Bentuk sekret : serosa, mukous,
purulen & muko purulen.
b.Sifat reaksi konyungtiva
c.Kelenjar limfe preaurikuler

Sifat2 reaksi konyungtiva yg


penting :

Hiperemis: dilatasi plexus subepitelial pemb darah cony, sakular


aneurisma, petechiae, perdarahan intra konyungtiva
Injeksi konyungtiva & siliar.
Papil: dilatasi, telangiektasi pemb drh kony, bervariasi dr dotlike
sp lebih besar, dg edema dan sel inflamasi disekelilingnya.
Folikel: nodul limfoid dg vaskularisasi
Membran & pseudo membran: koagulasi inf
Plikten: nodul dari sel2 inflamasi kronis, dekat/di limbus
Granuloma: nodul dari sel2 infl kronis dg proliferasi fibrovaskuler
Simblefaron & ankiloblefaron

Pemeriksaan Laboratorium
Pulasan konj: Gram, Giemsa, KOH,
Methylen Blue
Kultur kuman dan jamur
Sensitiviti test

Pembagian Konyungtivitis
Berdasarkan timbulnya penyakit
1. Konyungtivitis Hiper akut
a. Konys neonatorum
1.konys zat kimia / AgNO3
2.konys gonorhoe
b. Konys gonorhoe dewasa
2. Konyungtivitis Akut
a. Konys kataralis akut / bakteri
b. Konys inklusi pada neonatus
c. Konys inklusi pada dewasa
d. Konys folikularis akut

Konys Folikuler Akut

Pharyngo conjs fever (PCF)


Epidemic kerato conjs (EKC)
Herpes simplex kerato conjs
Newcastle conys
Inclusion conys
Other chamydia infections (zoonoses)
Acute hemorrhagic conjs (AHC)

Pembagian Konyungtivitis
3. Konyungtivitis kronik
Konys folikularis kronik
A.Trachoma
B.Non trachoma
-konys inklusi kronik
-konys folikular toxic
-konys virus lainnya
Konyungtivitis bakteri kronik
-S aureus, Syphilis, TBC dll

Pembagian lain
Berdasarkan penyebabnya
1.Konys karena kuman :
bakteri, jamur, virus, parasit
2.Konys karena reaksi alergi
immunologi

Konys hiper akut


1.Neonatorum conjs Go
Biasanya gejala muncul dlm 2-4hr
setelah lahir, penularan biasanya dari jalan lahir.
Ada 3 stadium
Stadium infiltratif : 1-3 hr, sekret serosa, bisa berdarah,
edema & hiperemis pd palp & kony, blefarospasme, kony
injeksi hebat, pseudo membrane, klj preaurikuler
membesar, demam.
Stadium supuratif / purulenta : bisa 2-3 minggu, sekret
sangat purulen,berdarah, proyektil.
Stadium konvalesen / peyembuhan : bisa 2-3 minggu,
gejala berkurang.

1.Neonatorum conjs Go
Penanganan
Rawat, isolasi pasien, menular, priksa pulasan kony
sekali 2 hr, cari N Go diplokokus gram negatif intra &
ekstra sel
Antibiotik sistemik biasanya berhasil dg penisilin G
50-100 000 unit/kg/hr selama 7 hr (AB lebih penting)
Bersihkan sekret saban jam dg kapas basah, dapat
diirigasi dg larutan fisiologis hangat, baru obat tetes
AB dpt diberikan spt penisilin ed tiap jam sp keadaan
akut dpt diatasi.
Bila pmrks kuman 3x berturut2 sdh negatif pasien
dpt diplgkan
Kedua ortu konsulkan kebagian kulit kelamin

2.Chemical conjs
neonatorum
Karena pemakaian lrt CREDE (1881) utk
propilak tdh konys GO.
Onset beberapa jam setelah diberi obat
tetes pd mata.
Mata berair, edema palp & kony, sekret
serosa, kony injeksi, bisa dg siliar injeksi,
membran / pseudo membran.
Penanganan: bilas segera beri artifisial
tear film, AB ed hanya perlu bila ada
infeksi sekunder.

3.Adult conjs
Gonorrhoea
Etio N GO atau N Meningitidis
Penularan kuman melalui sexual intercourse
dan kemata karena kontak dg tangan
sendiri.
Palp & kony edema, kemosis, injeksi kony &
siliar, sekret purulen /mukopurulen bnyk
mengalir dan dpt proyektil, membran
ada/tidak, gatal & nyeri, kelenjar pre
aurikuler tdk terlampau besar.

Adult Go Conjs

Gonorrhoea Corneal Ulcer

3.Adult conjs
Gonorrhoea
Penanganan
Rawat, isolasi pasien, bersihkan & irigasi saban
jam.
AB sistemik spt penisilin G 4,8 milyun unit im
bagi 2 dosis atau ceftriaxone 1gr/hr iv selama
7hr
Topikal ed penisilin atau gol ketiga spt
ciprofloxacin, ofloxacin tiap jam setelah
dibersihkan dulu.
Labor: sama dg Neonatus conj GO
Dpt menembus epitel kornea intak timbul ulkus
kornea. Bahkan bisa timbul endoftalmitis.

Konyungtivitis akut
1.Konys kataralis akut
Etio: berbagai kuman S Aureus, S
Epidermidis, H Inf, C Dipht dll.
Onset cepat biasanya krg dr 2 hr, edema
palp & kony, bilateral ,mulai pd satu mata
dulu, sekret purulen bnyk, inj kony
perdarahan subkony, tu H Inf pd anak2
lebih berat, pseudo memb / memb pd C
Dipht dpt menyebabkan simblefaron, toxin
C Diph dpt menyebabkan paralise otot2
ekstra okuler.
Sangat menular umumnya melalui kontak.
Istrahatkan pasien dirumah.

1.Konys kataralis akut


Penanganan: sebaiknya pulasan kony dg
Gram, Giemsa, KOH, sebelum terapi.
AB topikal tiap jam tergantung klinisnya,
AB sistemik perlu bila C Diph etionya juga
anti toxin Dpht.
Bila kornea terkena, perlu ed lbh potent
spt preparat quinolones : cephalosporin,
ofloxacin dll.

Acute Catarrhal Conjs

Acute Catarrhal Conjs

2. Neonatal inclusion
conys / Blennorrhoe
DD dari hiper akut neonatal konys, onset
lbh lama bisa 5-14 hr, infeksi jalan lahir
dari ibu penderita Chlamydia genital.
Gej klinis hampir sama dg Konys Go.
Pulasan kony dg Giemsa, dapat ditemukan
Inclusion bodies spt pada trachoma

2.Neonatal inclusion
conjs / Blennorrhoe
Penanganan; rawat isolasi pasien, AB
sistemik erythromycin 50 mg/kg/hr bagi 4
dosis, AB topikal erythromycin atau
tetracilin salf setelah sekret dibersihkan
dulu.
Pada daerah endemik Chamydia, lebih
baik preventif dg salf erythromycin dari pd
lart Crede.
Obati kedua ortu / konsul kulit kel.

3. Adult inclusion conjs


Gejala dpt akut / sub akut, palp edema,
pseudo ptosis, sekret mukopurulen, edema
& hiperemis kony bulbi, folikel & papil pd
kony tarsalis sup & inf, papil lbh bnyk pd
kony tars sup
Memb / pseudo memb tdk ada ( neonatal
inc ada memb) klj preaurc dpt membesar.
Keratitis di sup/inf, mikropannus.

3.Adult inclusion conjs

Dpt dg infeksi sistemik lainnya.


Diduga sbg penyebab Syndr Reiter.
Labor inclusion bodies.
Pengobatan dg AB sistemik tetraciclin atau
doxycycline 100 mg, 2x sehari, selama 3
mgu. atau Azithromycine 1000 mg oral
single dose, topical salf tetracyclin 1% 2x
sehari selama 1 bulan.

3. Adult inclusion conjs


Termasuk pada Acute Foll Conjs
Etio: C trachomatis serotype
D,E,F,G,H,I,J.K, kdg2 B, yg meyebabkan
infeksi urogenital penularan dg transmisi
sexual dan mengenai mata.
Infeksi tdk lsg bisa juga dikolam renang.
Jarang kontak antara mata-mata.

4.Acute follicular Conjs


Etio umumnya adeno virus
Unilateral, kmd bilateral
Pembesaran klj limfe pre auriculer,
dan nyeri ipsilateral
Folikel dikony,membran /
pseudomembran, perdarahan
subkonyungtiva.
Berdasarkan etio ada 7 jenis.

4.1.Pharyngo conjungtivitis fever/ PCF


Etio: adeno virus type 3- 4- 7
Dpt sporadik, sering pd anak dg demam
dan pharyngitis.
Mata rasa berpasir,
fotofobia,hiperlakrimasi dg sekresi
serofbrinous,folikel dikony,
hiperemis,ptikhiae,khemosis,
membran/pseudomemb,keratitis epitelial
Kel preaurikuler dpt besar nyri tekan/tidak

4.1.PCF
Virus dikony dan paru dpt hilang dlm 2
minggu tp difeses sp 30 hr menimbulkan
penularan dikolam renang
Isolasi pasien selama 2 minggu, penularan
umumnya dg droplet infection dlm
keluarga sendiri, atau kontak alat2 rumah
tangga
Pengobatan simtomatis, self limited
disease.

4.2.Epidemic kerato
Conjungtivitis/ EKC
Etio; adenovirus type 8,19 dll
Bisa epidemik, penularan dipraktek
dokter/ dokter mata
Khas gejala timbul tiba2,mula2 unilateral,
bbrp hr bilateral
Mata merah,sekresi mula2 serous, folikel,
papil, perdarahan subkony, timbul
membran/pseudomem sekresi jadi
mukopurulen, timbul infiltrat di kornea

4.2.EKC
Pengobatan tidak spesifik, dpt
sembuh sendiri, tapi infiltrat kornea
memerlukan terapi, bisa berlanjut
terjadi Dry eye, uveitis anterior.
Preventif dg menghambat penularan
melalui tangan dll.

4.3.Herpes simplex
conjungtivitis / HSC
Etio; HSV type I, (infeksi genital HSV type
II)
Pada kony & palp biasanya lesi primer, tapi
pada kornea lesi sekunder
Bisa sp 3 mgu, jarang menimbulkan ulkus
atau pseudommembran pada kony,tapi
sering dg infiltrat di kornea
Punctate epithelial keratitis, marginal
infiltrate, ulcus dendrite, uveitis anterior,
chorioretinitis
Kelj preauriculer membesar dan nyeri tekan

4.3.HSC
Mata merah unilateral, rasa berpasir,
mula2 perih dan berair, sesuai dg
perjalanan penyakit sensibilitas kornea
akan menurun terutama bila ada infiltrat
dikornea, nyeri berkurang dan tdk
lakrimasi
Folikel dikony, injeksi kony dan siliar
Pulasan kony dg Giemsa atau Papanicolou:
khas giant cell dg multinucleated

4.3.HSC
Pengobatan dengan anti viral salf
(asyclovir)
Bila disertai Keratitis perlu artificial
tear film.
Antiviral topikal side efeknya toxic
thd epitel kornea, dpt menimbulkan
Ulkus kornea.

4.4.New Castle Desease


Conjunctivitis
Etio Paramyxo virus, auto inokulasi pada
ternak
Masa inkubasi lama 18-48 hr
Palp edema dg gelatin dipalp tarsalis
terutama palp inferior
Folikel dikonj tarsalis inferior, sekret
serous, jarang Keratitis
Pengobatan simtomatik, dpt sembuh
sendiri, karantina, cegah kontak.

4.6.Other Chlamydia
Infections (Zoonoses)
Psitacosis: etio C Psittaci pada
burung, timbul konys folikel pada
manusia, pengobatan dg tetracycline
oral 500mg, 3x selama 6 mgu atau
doxycicline 2x 100mg.
Feline Pneumonitis, karena Chamydia
pada kucing.

4.6.Zoonoses
Lymphogranuloma Venereum; etio
Chamydia trachomatis sero type L-1,L-2,L3, walaupun jarang dpt timbul konys.
Palp edema hebat,
eritema, kony hiperemis, folikel edema.
Keratitis superfisial yg difus atau diperiper
kornea. Kadang2 timbul phlycten,
episcleritis, uveitis, optic neuritis.
Kelj preauriculer besar
Terapi: tetracycline / doxycicline.

4.7.Acute Hemorrhagic
Conjunctivitis / AHC
Etio: adenovirus 11, coxsackie A 24, entero
virus 70, timbul epidemik, disebut juga
Apollo 11 Conjunctivitis
Muncul mendadak, unilat, lsg bilat, edema
palp, lakrimasi, sekresi mukoid banyak
fotofobi, kony edema, hiperemis, folikel,
subkonyungtiva hemorhagik cepat meluas,
dan keratitis

AHC

AHC

4.7.Acute Hemorrhagic
Conjunctivitis / AHC

Malaise, myalgia, sakit kepala,


demam dan phryngitis
Sangat menular, isolasi pasien
Self limited disease kecuali ada
sekunder infeksi
Pengobatan simtomatik

Konyungtivitis Kronis
Trachoma
Kronis bila lebih dari 4 minggu
Etio: C Trachomatis yg hanya pada
manusia, biasanya daerah dg higine
dan sanitasi buruk (Afrika),
Penularan dpt kontak lansung atau
melalui nyamuk
Mengenai semua umur, infeksi ketika
anak2, buta waktu dewasa karena
komplikasi trikiasisnya

Trachoma
C trachoma hidup intra seluler, masa
inkubasi 5-14hr, rata2, 7hr
Mula2,mata merah, rasa iritasi,berair,
fotofobia,kemosis kony dan folikel mula2
di tarsalis sup progres sp menutupi semua
kony tarsalis sup, muncul diseluruh kony
Palp edema, eritema, sekresi spt air atau
bisa mukopurulen

Trachoma
Mac Callan klasifikasi
Std I (insipiens): folikel imatur, kecil, keras,
sikatrik tdk ada.
Std II (established):
a.folikel matur & papil hipertopi
b.papil hipertropi hebat
mengaburkan gamb folikel
Std III (cicatrical): folikel dg permulaan
sikatrik
Std IV (healed): inaktif hanya ada sikatrik

Trachoma St I Foll & Pannus on the


Limbus

Tr St II large foll & papil


hipertrophy (tarsal conj)

Tr St III

Tr St Sikatrik

Trachoma with Ulcer

Trachoma
Keratitis epitelial dg infiltrat
dimarginal dan sentral kornea
Folikel dilimbus, timbul pannus dan
sikatrik dilimbus.
Pannus aktif: infiltrat dg
neovaskularisasi dilimbus (combsappearance) seperti sisir
Herberts pits: cekungan bekas folikel
dilimbus

Trachoma
Diagnosa: ada 2 dari 4 gejala:
1. folikel di 1/3 kony tarsal sup dan
limbus superior
2. pannus aktif di 1/3 superior limbus
3. sikatrik spt bintang dg garis2
(Arlts Line) di kony tarsal superior
4. Herberts pits di 1/3 limbus superior

Trachoma
Diagnosa dpt juga ditegakan dg satu
gejala dan terdapat badan inklusion
pada pemeriksaan labor.
Prototrachoma; gej klinik tdk ada,
labor ditemukan badan inklusion.

Trachoma
Klasifikasi WHO

Grade TF : Trachomatous Inflamation / Follicular :


mild/moderate, folikel 5 atau lebih dikony tarsal sup zone 1,2,3.
Grade TI : Trachomatous Inflamation / Intense : severe inflamasi
dikony sup yg mengaburkan gamb pemb darah lebih dr
permukaan kony tarsal, folikel banyak.
Grade TS : Trachomatous Scaring
Grade TT : Trachomatous Trichiasis, distiachiasis atau karena
entropion
Grade CO : Corneal Opacity

Trachoma
Pengobatan
Dewasa : tetracycline 1,5-2,0 gr/hr atau
doxycicline 2 x 100 mg/hr selama 3 mgu,
atau azithtromycin 1 gr single dose.
Anak: erythromycine oral 40 mg/kg/hr
selama 3 mgu, atau azythromycin
20mg/kgBB single dose
Topikal tetracycline atau erythromycine
salf mata 6-8 mgu

Konyungtivitis kronis lainnya

Toxic follicular conjunctivitis


Chronic bacterial conjunctivitis
Axenfelds chronic foll conjs
Chronic follicular kerato conjs Thygeson
Parinauds oculoglandular synd
Konyungtivitis Tuberkulosa
Konyungtivitis Syphilis
Blepharo conjs Moluscum Contagiosum
Blepharo conjs HZV
Konjungtivitis parasit
Konjungtivitis jamur. dll

Konyungtivitis alergi
imunologi
Reaksi hipersensitivitas type I
1.Allergic conjungtivitis :
seasonal dan perennial
2.Vernal kerato conjungtivitis
3.Giant papillary conjungtivitis
4.Atopic keratoconjungtivitis

Reaksi hipersensitivitas type I


pada mata
Pengenalan pertama terjadi paparan antigen
pada orang yg sensitif terbentuk antibodi IgE
terhadap antigen tsb, IgE melekat pd permukaan
sel yg punya reseptor thd IgE spt sel mast,
basofil, eusinofil.
Paparan kedua antigen yg sama bergabung dg
IgE, merusak dinding sel reseptor dan
mengeluarkan zat2 mediator radang spt
histamin,prostaglandin, sitokin dll, timbul gej
klinis mata merah, gatal, edema berair.

1.Konjungtivitis alergi
(Allergic Conys)
Seasonal / Hay fever conjs (SAC ): reaksi
musiman, cuaca tertentu. Antigennya misal benang
sari, debu, bulu binatang, pollens
Perennial Allergic conjs (PAC ): reaksi sepanjang
tahun tdk tergantung musiman, misal thdp debu
rumah, bulu binatang peliaraan
Reaksi murni merupakan reaksi alergi thd antigen
pada individu tertentu
Terapi dg ed anti histamin, mast sel stabilizer,
lubrisen, sebaiknya hindari kortikosteroid

Folikel pada konys alergi

2.Giant Papillary
Conjunctivitis
Karena kontak lama thd antigen
tertentu pd mata misal lensa kontak,
benang operasi, terjadi reaksi, mula2
papil halus kmd menjadi besar /
giant, hanya pd tempat paparan
antigen.
Terapi hindarkan paparan antigen
dulu, baru beri obat2

Hipertropi Papil pada Giant


Papillary Conjungtivitis

3.Vernal
Keratoconjunctivitis
Reaksi type I dan IV, sering pd laki2, anak2 &
dewasa muda, terutama daerah panas, gejala
akan mereda bila pindah daerah
Ada 2 type,
Palpebra type mengenai kony
tarsalis superior,
Limbal type, giant papil timbul
dilimbus, atau
kedua type muncul bersama.

3.Vernal Keratoconjs
(VKC)
Pada kony tarsalis sup timbul papil2
besar/raksasa yg tersusun spt batu bata
(cobble stones appearance ), timbul rasa
gatal, perih berair, bnyk sekret kental spt
benang dpt ditarik
Cobble stones menonjol, tebal kasar
karena serbukan limfosit, plasma, eosinofil
dan akumulasi kolagen & fibrosa, ini dpt
menggesek kornea sehingga timbul ulkus
kornea.

Cobble Stones

Cobble Stones dengan sekret


kental

3.VKC
Pada type limbal terlihat penebalan
sekeliling limbus karena masa putih
keabuan, kdg2 ada bintik2 putih
(Horner-Trantas dots), yg terdiri dari
serbukan sel limfosit, eosinofil, sel
plasma, basofil serta proliferasi
jaringan kolagen & fibrosa yg
semakin bertambah.

3.VKC
Pengobatan dg menekan reaksi radang dg tts
mata yg mengandung antihistamin, vaso
konstriktor, dan mast cell stabilizer
Orang tua dan penderita harus menyadari bahwa
keadaan ini berbahaya, karena dpt timbul ulkus
kornea dan kebutaan
Sebaiknya hindari tts mata kortiko steroid
Biasanya gejala mereda bila pindah kedaerah
lebih dingin.

4.Atopic Kerato
conjunctivitis (AKC)
Reaksi hipersesitivitas type I dan IV
Umumnya pada dewasa muda / dewasa,
terutama yg menderita penyakit atopi misal
dermatitis / eksim, mata berair, gatal,panas,
mengganjal, sekret banyak
Berbahaya karena dpt mengenai kornea, timbul
ulkus, kebutaan.
Pengobatan harus bersama dg ahli kulit, ahli
alergi dan ahli mata.

Reaksi hipersensitivitas
lamban / delayed (seluler)
1.Keratoconjs Phlycten
Etio ; hipersensitif thd protein mikroba,
basil TBC, S auereus, C albican, Ascaris,
Ancylostoma
H simplex, Adeno virus dll.
Umumnya pd anak2, unilat atau bilat
timbul nodul satu atau multiple kecil 1-3
mm keras me-nonjol,abu2, kuning
dikelilingi daerah hiperemis dikornea kony
dan limbus.

Keratoconjs Phlycten
Nodul dilimbus umumnya bentuk
segitiga dg puncak di kornea, pusatnya
kmd jadi putih timbul ulkus sembuh dg
sikatrik sekeliling limbus
Nodul dikornea, sembuh dg sikatrik,
terlihat banyak.
Nodul dikony tdk berbekas
Terapi : cari kuman penyebab dan
topikal kortkosteroid.

2.Blepharo conjs
Blefaritis kontak karena obat2
topikal spt atropin, neomisin dan
AB lainnya, timbul hipe
remis,hipertropi papil ringan dg
sekret sdkt mukoid dan iritasi
Pengobatan harus cari penyebab

Konjs Penyakit Autoimmune


1.Keratoconjs Sicca
Primary Sjogrens Synd dg kelainan tear
film dan mulut / saliva
Secondary Sjogrens Synd berhub dg
Rheumatoid Arthritis,SLE, Panarteritis
Nodosa, Scleroderma, Primary biliary
Cirrhosis, Thyroiditis, Pulmonary fibrosis,
Wageners granulomatosis.
Penyebabnya karena kerusakan tear film,
kwalitas dan kwantitas
Tear film td dr lap mucin, aquous, lap lipid.

1.Keratoconjs Sicca
Kerusakan organ yg memproduksinya atau kelainan salah satu
komponennya, akan menyebabkan
tear film tdk mampu melembabkan,
membasahi permukaan kornea dan
kony sehingga menimbulkan gejala
sindroma mata kering ini.

1. Keratoconjs Sicca
Pemeriksaan yang diperlukan :
Break Up Time test : mengukur lama
pecahnya/break tear film dipermukaan
kornea, N > 10 dtk
Schimer test : mengukur jumlah air mata. N >
10 mm membasahi kertas isap yg di
cantelkan 5 menit dipinggir margo inferior
Ferning test : menilai kwalitas air mata
Fuorescein test : mewarnai defek kornea
Rose Bengal dan Lysamin Green test :
mewarnai epitel & mukous musin yg rusak

Lapisan Tear Film

Fluorescent & Schimer test

Ferning Pattern

Ferning Stadium IV

1.Keratoconjs Sicca
Pengobatan dg pemberian tear film
artifisial, memperbaiki epi tel kornea
kony, sel goblet, fungsi N V1, oklusi
punktum lakrimal, penyakit
penyebab defisiensi komponen2 air
mata.
Dihindarkan kortikosteroid ed.
Skrg diberi cyclosporin A ed

2.Cicatricial Pemphigoid
Sering pd wanita tua,timbul jar parut
yg progresif dimukosa spt mulut, hi
dung,osofagus, vulva, kony & dikulit.
Timbul simblefaron dikony, obliterasi
fornik, obstr saluran kljr lakrimal,
terjadi defisiensi tear film, kekering an
kornea dan kebutaan dg cepat
Pengobatan hrs cepat pd std awal
sebelum mengenai kornea, dpt
diberikan obat2 imunosupresi

Erythema Multiforme Stevens


Johnson Syndr (SJS)
SJS atau Erythema Multiforme Mayor
merupakan reaksi hiper sensitifitas type 3,
karena deposit kompleks imun yg ikut per
edaran darah msk kedlm mikro vaskulatur
superfisial kulit & selaput lendir, akan
mengendap dikulit dan mukosa dan kony.
Biasanya karena obat2 spt derivat sulfa,
salisilat, penisilin, INH dll atau infeksi virus,
streptokokus, mykoplasma dll.
Sering pada anak2, dewasa muda, wanita
lebih sering.

SJS
Timbul reaksi inflamasi vesico bullosa
pd kulit, mukosa, sela put lendir
diseluruh badan.
Erythema Multiforme Minor : bila
hanya mengenai kulit saja.
Toxic Epidermal Necrolysis : keadaan
SJS yg sangat berat
Periode akut SJS biasanya selama 6
mgu, tp dpt lebih lama & parah pada
penderita AIDS.

Ten

Pterygium
Pterygium is a wing-shaped ,
degenerative, fibrovascular, hyperplastic
proliferative tissue actively growing from
the conjunctival limbal area onto the
cornea in the interpalpebral area.
Mostly from the nasal side, and bilateral
Rarely from temporal side, or
simultaneously, nasal and temporal sides

Mr Af , 40 yo. Pterygium RLE


LE

RE

VA RE : 5/15 F
LE : 5/20 F

Introduction
The etiology still unknown
More frequent in areas nearer to the equator,
exposed to greater ultraviolet (UV), hot, dry,
windy, dusty and smoky environments
And in people more exposed to the climatic
conditions, such as fishermen, farmers,
construction workers, who are probably
exposed to ultraviolet (UV).

Introduction
There are also hereditary factors

(Booth F

1985)

It is not only a degenerative, but also a


proliferative and inflammatory disorder
(Dushku et al. 2001)

It is also characterized by corneal epithelial


stem cell deficiency at the limbus (Kwork &
Coroneo 1984)

Booth F. Heredity in One Hundred Patients Admitted for Excision of


Pterygia. Australian and New Zealand Journal of Opth. 1985; 13: 5961.
Dushku N, John MK, Schultz GS, Reid TW. Corneal invasion by Matrix
Metalloproteinase Expressing Altered Limbal Epithelial Basal Cells.
Arch Ophthalmol. 2001; 119:695-705.

HISTOPATHOLOGY
Pterygium is a fibrovascular proliferation of
conjunctival tissue onto clear cornea,
subepithelial tissue is fibroplastic
hyperplasia.
The abnormal collagen tissue is aggregated
into a coiled and fibrillated pattern, and is
called elastotic degeneration.
The head of the pterygium grows between
Bowmans layer and the basement
membrane of the overlying corneal
epithelium.

CLASSIFICATION AND STAGING OF


PTERYGIUM

Progressive pterygium; an active


growing, fleshy, vascular, and
inflammation
Stationary pterygium; may still look
vascular, but the head of the pterygium
looks pale and sparsely vascularized and
stops growing
Regressive pterygium: a pale, thin,
papery, gray, anemic, and membranous
pterygium appears to be regressing, but
in reality the pterygium never gets
smaller or disappears.

TREATMENTT

Medical treatment for pterygium has


been tried and found unsatisfactory
Surgical treatment is only effective
treatment for pterygium, however,
none of the surgical procedures is
perfect because of high recurrence
rates and scarring left after pterygium
excision

TREATMENT
Indications for surgery
The primary indication is decreased visual
acuity, or the irregular astigmatism induced by
the growth.
Other reasons, include ocular irritation,
discomfort, unresponsive to lubrication
Restricted ocular motility and, diplopia
(recurrent pterygium).

TREATMENT
Most patients ask for surgical excision
of the pterygium for cosmetic
reasons, but they need to be informed
of the high recurrence rate and the
scarring left after pterygium excision.

Case 4, Mr Ai , 19 yo.
Pterygium RLE
Pre operative

VA RE : 5/10
LE : 5/7

3 days post op
Oct 3 2010

VA RE : 5/10
LE : 5/7

Last
control
Oct 26
2010
(26days)

VA RE : 5/5
LE : 5/5

Case 6, Mrs Z, 53 yo.


Pterygium RE
Pre operative

VA RE : 5/10
LE : 5/5

3 days post op
Feb 19 2011

VA RE :
5/7
LE :
5/5

Last control
Feb 23 2011
(7 days)

VA RE : 5/5
LE : 5/5

Case 9, Mrs D, 39 yo.


Pterygium RLE
Pre operative

VA RE : 1.0
f1
LE : 0.2

3 days post op
April 09 2012

VA RE : 1.0
f1
LE : 0.6
f3

Last
control
May 3
2012 (1
mth)

VA RE : 1.0
f1
LE : 0.8
f2