Anda di halaman 1dari 46

66

BAB II
POLA KEPEMILIKAN DAN PENGUASAAN TANAH PADA
PULAU-PULAU DI WILAYAH PULAU BATAM

A. Gambaran Lokasi Penelitian


Lokasi yang dipilih untuk melakukan penelitian ini adalah Pulau Batam,
tepatnya pada 2 (dua) pulau kecil yakni Pulau Sekikir dan Pulau Bulat yang secara
administratif berada di Kelurahan Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam,
Provinsi Kepulauan Riau.
Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Pulau
Batam memiliki kedudukan yang khusus bila dibandingkan dengan daerah atau pulau
lain di Indonesia, terutama dalam hal pengelolaannya yang dilakukan oleh
Pemerintah Pusat melalui suatu badan yang dibentuk untuk itu yakni Otorita
Pengembangan Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Otorita Batam,
sungguhpun dalam proses perjalanannya mengalami berbagai perkembangan dan
penyebutan untuk badan yang mengelola tersebut.
Namun hal yang terpenting untuk dikaji dan menjadi pertimbangan kuat untuk
melakukan penelitian ini adalah aspek pertanahan yang melingkupinya, terutama
mengenai status hukum dari pemilikan dan penguasaan tanah yang dilakukan oleh
badan pengelola, pemerintah daerah maupun masyarakat setempat, terutama atas
tanah-tanah yang ada di pulau-pulau di kawasan kepulauan Batam.

54

Universitas Sumatera Utara

67

Apalagi belakangan ini perkembangan di Pulau Batam makin menarik


sehubungan dengan dijadikannya Pulau Batam sebagai kawasan perdagangan bebas
dan pelabuhan bebas Batam sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun
2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam
menggantikan Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 tentang Daerah Industri
Pulau Batam yang menjadikan Batam sebagai kawasan pengembangan daerah
industri, yang dapat berimplikasi terhadap kebijakan di bidang pertanahan.
Demikian juga dari segi penggunaannya, terdapat berbagai kegiatan usaha
oleh berbagai kalangan dalam rangka menggunakan bidang-bidang tanah yang ada di
Pulau Batam, maka pengaturan penggunaan tanah tersebut perlu ditelusuri lebih jauh
keterkaitan kerja antara badan pengelola dengan pemerintah daerah setempat dalam
membuat perencanaan penggunaan tanah untuk berbagai kepentingan, seperti untuk
usaha industri, pariwisata, budidaya, perkotaan, pedesaan, pemerintahan, konservasi,
fasilitas umum dan lain-lain.
Berdasarkan catatan sejarah,52 Batam mulai dikembangkan sejak awal 1970an sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh
Pertamina. Sungguhpun di tempat itu telah ada perkampungan tua sebagai lingkungan
tempat tinggal penduduk asli Kota Batam sebelum tahun 1970 saat Batam mulai
dibangun.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 tentang Daerah
Industri Pulau Batam, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga

Universitas Sumatera Utara

68

pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau lebih
dikenal dengan Otorita Batam.
Pengembangan Pulau Batam terbagi dalam beberapa periode, dengan
penjelasan sebagai berikut :
Periode pertama yaitu tahun 1971-1976 dikenal dengan nama Periode
Persiapan yang dipimpin oleh Dr. Ibnu Sutowo.
Periode kedua adalah Periode Konsolidasi (1976-1978) dipimpin oleh Prof.
Dr. JB.Sumarlin. Setelah itu adalah Periode Pembangunan Sarana Prasarana
dan Penanaman Modal yang berlangsung selama 20 tahun, yaitu tahun 19781998, yang diketuai Prof. Dr. BJ. Habibie.
Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh J.E Habibie yaitu bulan Maret s/d
Juli 1998. Periode ini dikenal dengan nama Pembangunan Prasarana dan
Penanaman Modal Lanjutan.
Kemudian sejak tahun 1998 sampai 2005, di bawah kepemimpinan Ismeth
Abdullah dan dinamakan Periode Pengembangan Pembangunan Prasarana
dan Penanaman Modal Lanjutan dengan perhatian lebih besar pada
kesejahteraan rakyat dan perbaikan iklim investasi.
Selanjutnya sejak tahun 2005 sampai sekarang dikenal dengan periode
pengembangan Batam, dengan penekanan pada peningkatan sarana dan

52

http://www.batam.go.id/home/sejarah_ob.php

Universitas Sumatera Utara

69

prasarana, penanaman modal serta kualitas lingkungan hidup, yang dipimpin


oleh Mustofa Wijaya.53
Dalam rangka mengimplementasikan tugas dan fungsi dari Badan yang
menangani pengembangan Pulau Batam tersebut, maka dibangunlah insfrastruktur
modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, seperti jalan
arteri dan kolektor, bandar udara dan pelabuhan laut, penyediaan air baku dan sarana
penunjang lainnya seperti rumah sakit dan sarana umum lainnya, sehingga menjadi
daya tarik bari investor menanamkan modalnya di Pulau Batam.
Apalagi Pulau Batam sejak awal dikembangkan sebagai kawasan industri.
Bila hal itu tercapai, maka Pulau Batam tidak hanya sebagai kawasan industri juga
suatu saat dapat dijadikan sebagai daerah pengembangan pariwisata yang diminati
dan mampu bersaing dengan kawasan serupa Asia Pasifik. Saat ini Pulau Batam terus
berkembang dan dapat disaksikan bahwa kegiatan industri, perdagangan, perkapalan
dan pariwisata sedang marak di daerah ini.
Perkembangan dan kemajuan ini dapat berdampak pada tersedianya berbagai
lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari
seluruh daerah di tanah air, juga akan berakibat positif pada peningkatan penerimaan
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

53

Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Badan Pengusahaan Kawasan


Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Development Progress of Batam Indonesia, Edisi
Pertama 2010, halaman 5

Universitas Sumatera Utara

70

Secara geografis Pulau Batam yang dikenal sebagai wilayah Kota Batam
mempunyai letak yang sangat strategis yaitu jalur pelayanan internasional dengan
jarak 12,5 mil laut dari Negara Singapura.
Letak Pulau Batam terbentang antara 02529 s/d 11500Lintang Utara dan
1033435 s/d 1042604 Bujur Timur dengan total wilayah darat dan wilayah laut
seluas 3.990,00 Km2, terdiri dari daratan seluas 1.038,43 km2 dan lautan seluas
2.951,57 km2.
Wilayah Pulau Batam terdapat lebih dari 400 (empat ratus) pulau dan 329
(tiga ratus dua puluh sembilan) pulau di antaranya telah diberi nama, termasuk di
dalamnya pulau-pulau terluar di wilayah perbatasan negara, yang berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Negara Singapura/Malaysia
Sebelah Timur

: Kabupaten Bintan dan Tanjung Pinang

Sebelah Selatan : Kabupaten Lingga


Sebelah Barat : Kabupaten Karimun dan Laut internasional
Kemudian secara administratif pemerintahan, pada awalnya Pulau Batam
merupakan salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulaun
Riau, berikutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 1983 dibentuk
Kotamadya Administratif Batam terdiri dari 3 (tiga) kecamatan, yakni Kecamatan
Belakang Padang, Kecamatan Batam Barat dan Kecamatan Batam Timur.
Selanjutnya Kota Batam sebagai daerah otonom dibentuk berdasarkan Undang
Undang Nomor 53 tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan,
Kabupaten

Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten

Universitas Sumatera Utara

71

Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam, yang
diikuti dengan melakukan penataan kewilayahan yakni melalui pemekaran baik
kecamatan maupun kelurahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah
Kota Batam.
Saat ini berdasarkan Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 tahun 2004
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004 2014, Kota Batam
terdiri dari 8 (delapan) wilayah Kecamatan dan 64 (enam puluh empat) kelurahan,
yaitu :
a. Kecamatan Sekupang, yang mencakup :
1. Kelurahan Sungai Harapan
2. Kelurahan Tanjung pinggir
3. Kelurahan Tanjung Riau
4. Kelurahan Tanjung Uncang
5. Kelurahan Tiban Lidah
6. Keluahan Patam Lestari
7. Kelurahan Tiban Asri
8. Kelurahan Tiban Lama
b. Kecamatan Lubuk Baja, yang mencakup
1. Kelurahan Batu Selicin
2. Kelurahan Lubuk Baja Kota
3. Kelurahan Kampung Pelita
4. Kelurahan Pangkalan Petai

Universitas Sumatera Utara

72

5. Kelurahan Tanjung Uma


c. Kecamatan Batu Ampar, yang mencakup
1. Kelurahan Bukit Senyum
2. Kelurahan Sungai Jodoh
3. Kelurahan Batu Merah
4. Kelurahan Kampung Seraya
5. Kelurahan Bengkong Harapan
6. Kelurahan Bukit Jodoh
7. Kelurahan Harapan Baru
8. Kelurahan Bengkong Laut
d. Kecamatan Nongsa, yang mencakup
1. Kelurahan Batu Besar
2. Kelurahan Nongsa
3. Kelurahan Kabil
4. Kelurahan Teluk Tering
5. Kelurahan Belian
6. Kelurahan Baloi Permai
7. Kelurahan Baloi
8. Kelurahan Ngenang
e. Kecamatan Sei Beduk, yang mencakup
1. Kelurahan Muka Kuning
2. Kelurahan Batuaji

Universitas Sumatera Utara

73

3. Kelurahan Sagulung
4. Kelurahan Tanjung Piayu
f.

Kecamatan Galang, yang mencakup


1. Kelurahan Sijantung
2. Kelurahan Karas
3. Kelurahan Galang Baru
4. Kelurahan Sembulang
5. Kelurahan Rempang Cate
6. Kelurahan Subang Mas
7. Kelurahan Pulau Abang

g. Kecamatan Bulang, yang mencakup


1. Kelurahan Bulang Lintang
2. Kelurahan Pulau Buluh
3. Kelurahan Temoyong
4. Kelurahan Batu Legong
5. Kelurahan Pantai Gelam
6. Kelurahan Pulau Setokok
h. Kecamatan Belakang Padang, yang mencakup
1. Kelurahan Belakang Padang
2. Kelurahan Pemping
3. Kelurahan Kasu
4. Kelurahan Pecong

Universitas Sumatera Utara

74

5. Kelurahan Pulau Terong


Daerah yang dijadikan obyek penelitian adalah Kecamatan Bulang, yakni di
Kelurahan Pulau Setokok, tepatnya berada di 2 (dua) buah pulau di daerah tersebut
yakni Pulau Sekikir dan Pulau Bulat.
Berdasarkan keterangan staf Lurah Setokok,54 wilayah Kelurahan Setokok
meliputi seluas 4.700 Ha, berbatasan dengan :
Sebelah utara : Sei Beduk
Sebelah Selatan

: Pulau Panjang Galang

Sebelah Barat : Pulau Temoyong


Sebelah Timur

: Rempang Cate

Kelurahan Pulau Setokok sendiri terdapat sebanyak 27 (dua puluh tujuh)


pulau, namun yang saat ini sudah dihuni oleh penduduk sebanyak 6 (enam) pulau,
yakni Pulau Kalo, Pulau Setokok, Pulau Teluk Air, Pulau Nipah, Pulau Akar dan
Pulau Panjang.
Sementara Pulau Sekikir dan Pulau Bulat yang ada di wilayah tersebut
dikategorikan sebagai pulau yang belum dihuni oleh penduduk, sungguhpun saat
peninjauan ke lapangan, di Pulau Sekikir dan Pulau Buat sudah ada penduduk yang
berdiam di tempat tersebut, masing-masing 1 (satu) keluarga dan sudah ada rumah
tempat tinggalnya.

54

Wawancara dengan Rahmad, staf Lurah Setokok, tanggal 1 Oktober 2010

Universitas Sumatera Utara

75

Pulau Bulat berada sekitar 1 km ke arah Barat dari Pulau Setokok, luasnya
sekitar 2 Ha, kemudian Pulau Sekikir lebih jauh lagi sekitar 500 meter dari Pulau
Sekikir dan luasnya sekitar 50 Ha.
Oleh karena Pulau Sekikir dan Pulau Bulat yang berada di wilayah Pulau
Setokok dan merupakan bagian dari wilayah Kota Batam, di dalamnya telah ada
penduduk dan ada pemilikan dan penguasaan tanah berupa rumah tempat tinggal dan
usaha perladangan, maka ditentukan kedua pulau tersebut sebagai lokasi penelitian,
untuk melihat aspek pemilikan atas tanah di wilayah tersebut.
B. Pengaturan Kepemilikan dan Penguasaan Tanah
Pengertian pemilikan adalah kepunyaan bersifat perdata, dalam hal ini
kepemilikan tanah adalah hubungan hukum antara orang per-orang, kelompok orang
atau badan hukum tertentu dengan tanah tertentu sebagaimana dimaksud dalam
Undang Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok
Agraria.55
Hubungan hukum tersebut ditunjukkan dengan adanya alat-alat bukti yang
ditentukan oleh ketentuan hukum yang ada dan berlaku, baik secara tertulis,
pengakuan dan kesaksian pihak lain maupun secara faktual yang ditunjukkan dengan
adanya tanda-tanda pada obyek tanahnya, seperti tanda batas bidang tanah berupa
patok, parit, pagar atau tanda batas alam seperti jalan, sungai, lembah, bukit,

55

Pasal 1 butir 2 Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah

Universitas Sumatera Utara

76

pepohonan dan lain-lain, maupun bentuk penguasaan atau pengusahaan secara fisik di
lapangan.
Berdasarkan catatan sejarah, sejak dahulu pemilikan dan penguasaan atas
tanah menjadi faktor penting diberikan atau dilegalisasikannya hak atas tanah oleh
penguasa kepada seseorang yang secara faktual/fisik telah menguasai bidang tanah
tersebut dengan itikad baik.
Sungguhpun banyak di daerah-daerah tertentu, pemilikan tanah tidak disertai
dengan bukti alas hak secara tertulis sebagaimana sifat Hukum Adat umumnya tidak
tertulis, bukti pemilikan tanah hanya didasarkan pada penguasaan secara fisik atas
tanah tersebut yang juga diakui kebenarannya oleh masyarakat setempat, yang
ditandai dengan pengakuan dari pengetua adat atau aparat desa setempat.
Pemilikan atas tanah baik ada ataupun tidak ada bukti alas hak tertulis dapat
dikategorikan berdasarkan Hukum Adat dan juga didasarkan pada Hukum Barat,
khusus yang didasarkan pada Hukum Adat ditemukan karakteristik yang berbeda di
masing-masing daerah lingkungan hukum adat sesuai dengan adat setempat
Sebagaimana diketahui bahwa menurut Hukum Adat, pada awalnya status
tanah-tanah di Indonesia berasal dari hak ulayat, yakni hak desa menurut adat dan
kemauannya untuk menguasai tanah dalam lingkungan daerahnya buat kepentingan
anggota-anggotanya atau untuk kepentingan orang lain (orang asing) dengan
membayar ganti kerugian kepada desa, dalam hal mana desa itu sedikit banyak turut

Universitas Sumatera Utara

77

campur dengan pembukaan tanah itu dan turut bertanggung jawab terhadap perkaraperkara yang terjadi di situ yang belum dapat diselesaikan.56
Dapat juga disebutkan bahwa Hak Ulayat adalah hak atas tanah yang secara
tradisional menurut hukum adat setempat merupakan tanah milik masyarakat secara
bersama dalam kerajaan-kerajaan kecil yang ada di berbagai daerah di seluruh
Indonesia.57
Secara formal pengertian hak ulayat disebutkan dalam Pasal

1 angka 1

Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999


tentang Pedoman Penyelesaian Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat ditentukan
bahwa yang dimaksud dengan hak ulayat adalah :
Kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh Masyarakat Hukum
Adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan para warganya
untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah, dalam
wilayah tersebut bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari
hubungan secara lahiriah dan bathiniah turun temurun dan tidak terputus
antara Masyarakat Hukum Adat dengan wilayah yang bersangkutan.
Selanjutnya ditentukan bahwa bagian-bagian dari hak ulayat ini dapat
dikerjakan dan dikuasai oleh anggota masyarakat desa/masyarakat hukum adat yang
kemudian menjadi hak perseorangan/individu. Pada umumnya hak perseorangan ini

56

Dirman, Perundang-undangan Agraria di Seluruh Indonesia, (Jakarta : JB. Volters, 1958),


halaman 36
57
A. Bazar Harahap Dkk, Tanah Ulayat Dalam Sistem Pertanahan Nasional, (Jakarta :
Sandipeda, 2005), halaman 4

Universitas Sumatera Utara

78

terbatas dan tidak begitu luas, yaitu hanya diakui selama hak itu dipergunakan untuk
penghidupan sendiri dan keluarganya.
Apabila tanah itu tidak dikerjakan atau tidak dikuasai lagi, misalnya karena
meninggalkan desa tersebut, maka tanah itu kembali menjadi tanah hak ulayat. Jadi
ada hubungan timbal balik antara hak-hak bersama dengan hak-hak individu, apabila
hak-hak individu menguat maka hak-hak bersama akan melemah, demikian
sebaliknya.58
Dengan demikian, menurut Hukum Adat dan dikuatkan dengan peraturan
mengenai pendaftaran tanah, bukti pemilikan atas tanah hanya didasarkan pada
penguasaan atas tanah secara fisik yang ditandai dengan mengerjakan tanah tersebut
secara aktif dan terus-menerus dapat menjadi faktor pendukung dilegalkannya hak
perorangan tersebut oleh penguasa adat, termasuk dengan memberikan bukti hak
secara tertulis.59
Sedang bukti pemilikan hanya didasarkan pada alat bukti lain berupa surat
atau tanda tertentu tetapi tanahnya ditelantarkan tidak mendapat perlindungan Hukum
Adat, bahkan dengan azas rechtsverwerking, pihak ketiga yang menguasai tanah
dengan itikad baik dapat dilegalkan sebagai pemilik sedang orang orang terdahulu
yang membiarkan tanahnya tidak dikerjakan selama jangka waktu terentu, dianggap

58

Arie S. Hutagalung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, (Jakarta :


Lembaga Perberdayaan Hukum Indonesia, 2005), halaman 121
59
Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

Universitas Sumatera Utara

79

telah melepaskan haknya dan hilanglah haknya untuk menuntut kembali tanah
tersebut.60
Demikian juga pada zaman penjajahan Hindia Belanda yang didasarkan pada
Hukum Barat sebagaimana diatur dalam Pasal 1 dan 7 ayat (1) Reglement Agraria
untuk Sumatera Barat, ditentukan bahwa pemilikan dan penguasaan atas suatu bidang
tanah dilihat sebagai telah adanya hak atas tanah, artinya tanah yang telah dipakai
untuk diduduki atau dikerjakan dengan kekal, dapat menjadi milik atau kepunyaan
orang yang membuka atau yang memakai tanah itu.61
Bahkan menurut domeinbeginsel (Stb. 1870 Nomor 118) ditentukan bahwa
sekalipun status tanah tersebut masih merupakan pinjaman, misalnya raja
meminjamkan tanah kepada pembesar-pembesarnya selanjutnya pembesar-pembesar
itu meminjamkan bagiannya lagi kepada warga desa, maka warga desa yang
meminjam dan menguasai serta mengerjakan tanah tersebut diakui sebagai pemilik
tanah.62
Setelah Indonesia merdeka dan disusun peraturan perundang-undangan
tentang keagrariaan sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 5 tahun 1960 atau lebih
dikenal dengan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA), ternyata pemilikan atas

60

Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang Undang Pokok
Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, (Jakarta : Penerbit Djambatan, Jakarta, edisi revisi, cetakan ke-9,
2003, halaman 483
61
Dirman, 1958, op.cit.,, halaman 54
62
Bushar Muhammad, Asas-asar Hukum Adat (Suatu Pengantar), (Jakarta : Pradnya
Paramita, 1984), halaman 69

Universitas Sumatera Utara

80

tanah tidak bisa dilepaskan dari faktor penguasaan tanah, bahkan pemilikan atas tanah
diperlukan syarat mutlak penguasaan atas tanah tersebut, terutama tanah pertanian.
Pasal 10 UUPA mengatur bahwa setiap orang atau badan hukum yang
mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada asasnya diwajibkan mengerjakan
atau mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan.
Demikian juga memiliki tanah dengan tidak menguasainya atau dengan kata
lain menelantarkan tanahnya dengan sengaja, maka pada dasarnya telah bertentangan
dengan ketentuan yang berlaku, yakni dapat menjadi salah satu penyebab hilangnya
kepemilikan atau dihapuskannya hak atas tanah tersebut sesuai dengan ketentuan
Pasal 27, 34 dan 40 UUPA.
Pemilikan atas tanah yang didasarkan pada penguasaan tanah oleh masyarakat
setempat atas rumah tempat tinggal yang telah dibangun sejak lama sebenarnya dapat
dijadikan alasan formal untuk diberikan haknya, sekalipun pemilikan tanah tersebut
tidak didukung oleh surat-surat tanahnya (data yuridis). Hal tersebut dikuatkan oleh
ketentuan Pasal 24 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah, yang mengatur sebagai berikut :
Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian,
pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang
tanah yang bersangkutan selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut
oleh pemohon pendaftaran dan pendahuluan-pendahulunya, dengan syarat:

Universitas Sumatera Utara

81

a. Penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh
yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh
kesaksian orang yang dapat dipercaya;
b. Penguasaan tersebut

baik sebelum maupun selama pengumuman

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak dipermasalahkan oleh


masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun
pihak lainnya.
Dalam penjelasan pasal ini diuraikan bahwa ketentuan ini memberi jalan
keluar apabila pemegang hak tidak dapat menyediakan bukti kepemilikan atas
tanahnya, baik yang berupa bukti tertulis maupun bentuk lain yang dapat dipercaya.
Dalam hal demikian pembukuan hak dapat dilakukan tidak berdasarkan bukti
kepemilikan akan tetapi berdasarkan bukti penguasaan fisik yang telah dilakukan oleh
pemohon dan pendahulunya.
Faktor pemilikan tanah dengan dasar penguasaan atas tanah merupakan hal
penting untuk mengakui kepemilikan seseorang atas tanah, sebab pengertian dari
pemilikan atas tanah adalah seseorang yang mempunyai hubungan nyata dengan
barang yang ada dalam kekuasaannya. Oleh karena itu sulit bagi seseorang untuk
dapat membayangkan adanya suatu sistem hukum apabila di situ tidak dijumpai
adanya pengakuan dan pengaturan tentang pemilikan atau penguasaan.63

63

Zainuddin Ali, Filsafat Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), halaman 30.

Universitas Sumatera Utara

82

Pengakuan terhadap pemilikan tanah yang didasarkan pada penguasaan secara


fisik bidang tanah boleh dilakukan oleh seseorang atas suatu barang merupakan
modal yang utama agar seseorang tersebut dapat mempertahankan kehidupannya,
sebab pada saat itu, ia tidak memerlukan pengakuan atau legitimasi lain kecuali
pengakuan pemilikan barang yang ada dalam kekuasaannya tersebut.
Masalah pemilikan tanah dengan dasar penguasaan secara fisik bidang tanah,
seharusnya tidak dapat diabaikan sama sekali oleh hukum, walaupun soal pemilikan
tersebut hanya atas dasar penguasaan bersifat faktual atau fisik saja tanpa ada bukti
konkrit yang tertulis. Namun hukum dituntut untuk memberikan kepastian mengenai
pemilikan tersebut. Jika hukum sudah mulai masuk, maka ia harus memutuskan
apakah seseorang akan mendapat perlindungan pengakuan dan perlindungan terhadap
pemilikan atau tidak.
Jika hukum memutuskan akan mendapatkan pengakuan dan perlindungan
terhadap pemilikan seseorang atas suatu barang, maka hukum akan melindungi orang
tersebut dari gangguan orang lain, karena di sini hukum berhadapan dengan persoalan
yang bersifat faktual, sehingga ukuran untuk memberikan keputusan tersebut bersifat
faktual juga.64
Berdasarkan argumentasi tersebut sebenarnya pemilikan atas tanah yang
didasarkan pada penguasaan atas suatu bidang tanah sudah menjadi faktor yang
menentukan pemilikan tanah tersebut atau dengan kata lain pemilikan tersebut dapat

64

Ibid, halaman 31

Universitas Sumatera Utara

83

juga sebagai permulaan adanya hak, bahkan ada yang menyebut pemilikan dengan
dasar penguasaan tanah tersebut sudah merupakan suatu hak. Kata pemilikan atas
dasar penguasaan menunjukkan adanya suatu hubungan antara tanah dengan yang
mempunyainya.65
Dengan demikian, faktor pemilikan atas dasar penguasaan atas tanah secara
fisik merupakan hal penting dalam memberikan hak atas tanah kepada seseorang,
bahkan sesuai dengan ketentuan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun
1997, sebidang tanah

dapat didaftarkan apabila telah dikuasai secara fisik oleh

seseorang selama 20 tahun berturut-turut, sekalipun itu tidak didukung oleh buktibukti tertulis mengenai penguasaan atas tanah tersebut.
Oleh karena itu tidak cukup hanya dengan memiliki dengan cara
menguasainya secara yuridis yaitu dengan memegang surat-surat tanahnya saja, tetapi
harus ada kepemilikan yang didasarkan penguasaan secara fisik atas tanah.
Selanjutnya pemilikan atas tanah sebagaimana diatur dalam UUPA, dapat dilegalisasi
dengan pemberian hak atas tanah oleh Pemerintah. Hal tersebut diatur dalam Pasal
22 ayat (2), Pasal 31 dan Pasal 37 UUPA mengatur bahwa terjadinya hak atas tanah
salah satunya adalah melalui penetapan Pemerintah.
Penetapan Pemerintah tersebut selain dilakukan terhadap obyek tanah yang
bukti haknya merupakan hak-hak lama (baik bekas hak Barat maupun bekas Hak
Adat) juga dilakukan terhadap obyek tanah yang statusnya berasal dari tanah yang

65

Badan Pertanahan Nasional, Hak Hak Atas Tanah Dalam Hukum Tanah Nasional, 2002,
halaman 18

Universitas Sumatera Utara

84

dikuasai langsung oleh Negara. Isi dari penetapan Pemerintah tersebut adalah
pemberian atau penetapan hak atas tanah kepada subyek hak baik perseorangan
maupun badan hukum dengan obyek suatu bidang tanah tertentu .
Berdasarkan ketentuan Pasal 23 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997
pemberian hak atas tanah termasuk dalam kategori pembuktian hak baru. Pembuktian
hak baru tersebut didahului dengan suatu penetapan pemberian hak atas tanah dari
pejabat yang berwenang memberikan hak tersebut menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Obyek tanah yang dapat diperlakukan dengan
proses pemberian hak dimaksud umumnya adalah atas tanah yang berasal dari tanah
yang dikuasai langsung oleh Negara.
Menurut Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN
Nomor 3 tahun 1999 jo Pasal 1 angka 8 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala
Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 tahun 1999 ditegaskan bahwa yang dimaksud
dengan pemberian hak atas tanah adalah penetapan Pemerintah yang memberikan
suatu hak atas tanah Negara, perpanjangan jangka waktu hak, pembaharuan hak,
perubahan hak, termasuk pemberian hak di atas Hak Pengelolaan.
Dalam proses penetapan Pemerintah yang wujudnya pemberian/ penetapan
hak atas tanah tersebut, dapat dilakukan apabila terlebih dahulu dibuktikan adanya
hubungan hukum antara orang dengan tanahnya yang merupakan bukti atau dasar
penguasaan atas tanahnya (hak keperdataan) atau alas haknya, baik yang diterbitkan
oleh pejabat yang berwenang maupun pernyataan yang dibuat sendiri oleh orang yang

Universitas Sumatera Utara

85

menguasai tanah tersebut apabila sejak awal dialah yang pertama mengerjakan bidang
tanah dimaksud.
Bahkan dalam penetapan hak, apabila tidak ada alas hak secara tertulis, maka
bukti penguasaan tersebut cukup dengan adanya penguasaan secara fisik sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tersebut.
Terhadap penguasaan tanah yang dibuktikan dengan alat bukti secara tertulis
dapat disebut juga alas hak. Alas hak diartikan sebagai bukti penguasaan atas tanah
secara yuridis dapat berupa alat-alat bukti yang menetapkan atau menerangkan
adanya hubungan hukum antara tanah dengan yang mempunyai tanah, dapat juga
berupa riwayat pemilikan tanah yang pernah diterbitkan oleh pejabat Pemerintah
sebelumnya maupun bukti pengakuan dari pejabat yang berwenang. Alas hak secara
yuridis ini biasanya dituangkan dalam bentuk tertulis dengan suatu surat keputusan,
surat keterangan, surat pernyataan, surat pengakuan, akta otentik maupun surat di
bawah tangan dan lain-lain.
Berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dan
Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997, alas hak
tersebut diberi istilah data yuridis, yakni keterangan mengenai status hukum bidang
tanah, pemegang haknya, dan pihak lain serta beban-beban lain yang membebaninya.
Secara perdata, dengan adanya hubungan yang mempunyai tanah dengan
tanahnya yang dibuktikan dengan penguasaan fisik secara nyata di lapangan atau ada
alas hak berupa data yuridis berarti telah dilandasi dengan suatu hak keperdataan,
tanah tersebut sudah berada dalam penguasaannya atau telah menjadi miliknya.

Universitas Sumatera Utara

86

Pemilikan tanah secara yuridis selalu mengandung kewenangan yang


diberikan hukum untuk menguasai fisik tanahnya. Oleh karena itu penguasaan yuridis
memberikan alas hak terhadap adanya hubungan hukum mengenai tanah yang
bersangkutan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka (2) Peraturan Pemerintah Nomor 16
Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah, penguasaan tanah adalah hubungan
hukum antara orang-perorang, kelompok orang, atau badan hukum dengan tanah
sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria.
Apabila tanahnya sudah dikuasai secara fisik dan sudah ada alas haknya, maka
persoalannya hanya menindaklanjuti alas hak yang melandasi hubungan tersebut
menjadi hak atas tanah yang ditetapkan dan diakui oleh Pemerintah agar hubungan
tersebut memperoleh perlindungan hukum. Proses alas hak menjadi hak atas tanah
yang diformalkan melalui penetapan Pemerintah disebut pendaftaran tanah yang
produknya adalah sertipikat tanah.
Oleh karena itu dasar penguasaan atau alas hak sebenarnya sudah merupakan
suatu legitimasi awal atau pengakuan atas pemilikan tanah oleh subyek hak yang
bersangkutan, namun idealnya agar pemilikan suatu bidang tanah juga mendapat
legitimasi dari Negara, maka harus diformalkan yang dilandasi dengan suatu hak atas
tanah yang ditetapkan oleh Negara / Pemerintah dalam hal ini Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

87

AP. Parlindungan menyatakan bahwa dasar penguasaan atau alas hak


sebagaimana diatur dalam UUPA dapat diterbitkan haknya karena penetapan
Pemerintah atau ketentuan peraturan perundang-undangan, maupun karena suatu
perjanjian khusus yang diadakan untuk menimbulkan suatu hak atas tanah di atas hak
tanah lain (misalnya Hak Guna Bangunan di atas Hak Milik)

dan juga karena

ketentuan konversi hak, sedangkan ketentuan pendakuan maupun karena kadaluarsa


memperoleh suatu hak dengan lembaga uitwijzingprocedure sebagaimana diatur
dalam pasal 548 KUH Perdata tidak dikenal dalam UUPA, sungguhpun pewarisan
merupakan juga salah satu alas hak.66
Dinyatakan juga bahwa dasar penguasaan atau alas hak untuk tanah menurut
UUPA adalah bersifat derivative, artinya berasal dari ketentuan peraturan perundangundangan dan dari hak-hak yang ada sebelumnya, seperti Hak-hak Adat atas tanah
dan hak-hak yang berasal dari Hak-hak Barat,67
Jadi secara normatif bukti penguasaan atau pemilikan atas suatu bidang tanah
yang diterbitkan oleh Pemerintah sebelumnya (dasar penguasaan/alas hak lama)
masih tetap diakui sebagai dasar penguasaan atas tanah karena diterbitkan oleh
pejabat yang berwenang dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang
berlaku pada masa itu.
Hak-hak Adat maupun Hak-hak Barat yang dijadikan sebagai alas hak
tersebut ada yang sudah didaftar pada zaman Hindia Belanda dan ada yang belum

66
67

AP. Parlindungan, Beberapa Masalah Dalam UUPA, Op.cit, halaman 69-70.


AP. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Op.cit,

Universitas Sumatera Utara

88

didaftar. Pendaftaran hak atas tanah pada waktu itu hanya pada hak-hak atas tanah
yang tunduk pada KUH Perdata (BW), sungguhpun ada juga orang-orang pribumi
yang mempunyai hak atas tanah yang berstatus Hak-hak Barat selain golongan Eropa
dan Golongan Timur Asing termasuk golongan China setelah menyatakan dirinya
tunduk pada Hukum Eropa .
Untuk Golongan Bumi Putera umumnya tidak ada suatu hukum pendaftaran
tanah yang bersifat uniform, sungguhpun ada secara sporadis ditemukan beberapa
pendaftaran yang sederhana dan belum sempurna seperti Grant Sultan Deli, Grant
lama, Grant Kejuran, pendaftaran tanah yang terdapat di kepulauan Lingga-Riau, di
daerah Yogyakarta dan Surakarta dan di lain-lain daerah yang sudah berkembang dan
menirukan sistem pendaftaran kadaster. Sebaliknya juga dikenal pendaftaran tanah
pajak, seperti pipil, girik, petuk, ketitir, letter C yang dilakukan oleh Kantor Pajak di
Pulau Jawa.68
Bukti kepemilikan hak-hak atas tanah yang dapat diajukan sebagai
kelengkapan persyaratan permohonan hak atas tanah sebagaimana diatur dalam
Penjelasan Pasal 24 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dan Pasal
60 ayat (1) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997
dapat dikategorikan sebagai alas hak, sungguhpun sebagaimana diuraikan di atas
bahwa terhadap alas hak dimaksud dapat diproses pendaftaran tanahnya melalui
konversi atau pengakuan/penegasan hak atas tanah

68

Ibid., halaman 76.

Universitas Sumatera Utara

89

Surat-surat yang dikategorikan sebagai dasar penguasaan atau alas hak atau
data yuridis atas tanah pada dasarnya merupakan keterangan tertulis mengenai
perolehan tanah oleh seseorang, misalnya saja dengan berupa pelepasan hak bekas
pemegang hak, pernyataan tidak keberatan dari bekas pemegang hak tentunya setelah
ada ganti rugi. Syarat ini berkaitan dengan ketentuan Pasal 4 ayat (1) Peraturan
Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara
Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan yang
bunyinya "sebelum mengajukan permohonan hak atas tanah, pemohon harus
menguasai tanah yang dimohon dibuktikan dengan data yuridis dan data fisik sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 69
Selanjutnya Pasal 9 ayat (2) angka 2 dan Pasal 18 ayat (2) angka 2 Peraturan
tersebut menegaskan bahwa alas hak atau data yuridis dapat berupa sertipikat, girik,
surat kapling, surat-surat bukti pelepasan hak dan pelunasan tanah dan rumah dan
atau tanah yang telah dibeli dari Pemerintah, putusan pengadilan, akta PPAT, akta
pelepasan hak, termasuk juga akta pelepasan kawasan hutan, akta pelepasan bekas
tanah milik adat dan surat bukti perolehan tanah lainnya.
Berdasarkan pemilikan tanah yang ditandai dengan adanya penguasaan atau
alas hak atau data yuridis tersebut yang ditunjukkan dengan adanya hubungan hukum
antara orang dengan tanahnya, maka dapat ditindaklanjuti dengan memformalkan
atau melegalisasi asetnya masyarakat.

69

Djoko Walijatun, Persyaratan Permohonan hak, Majalah Renvoy No. 10.34.III, Maret
2006, halaman 65.

Universitas Sumatera Utara

90

Apabila hubungan hukum tersebut diformalkan atau dilegalisasi oleh Negara,


sehingga Negara memberikan dan menentukan kewenangan, kewajiban dan/atau
larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu dengan tanah yang dihakinya,
maka pemilikan tanah tersebut dapat menjadi hak atas tanah.70
Hak atas tanah dapat diartikan sebagai lembaga hukum jika belum
dihubungkan dengan tanah dan subyek tertentu, juga hak pemilikan dan penguasaan
atas tanah dapat merupakan hubungan yang konkrit (subjektief recht) jika
dihubungkan dengan tanah tertentu dan subyek tertentu sebagai pemegang haknya.71
Menurut Boedi Harsono, hak-hak atas tanah yang dikenal dalam Hukum
Tanah khusunya dalam UUPA, dapat disusun dalam jenjang tata susunan atau
hirarkhi sebagai berikut :
1.

Hak Bangsa Indonesia (Pasal 1)

2.

Hak Menguasai dari Negara (Pasal 20)

3.

Hak Ulayat masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut


kenyataannya masih ada (Pasal 3)

4.

Hak-hak perorangan :
a. Hak-hak atas tanah (Pasal 4) :

70

Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, (Jakarta : Penerbit Djambatan, 1994), halaman

71

Ibid

203

Universitas Sumatera Utara

91

- Primer : Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan yang
diberikan oleh Negara, Hak Pakai, yang diberikan oleh
Negara dan Hak Pengelolaan (Pasal 16)
- Sekunder: Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai, yang diberikan oleh
pemilik tanah, Hak Gadai, Hak Usaha Bagi Hasil, Hak
Menumpang, Hak Sewa dan lain-lainnya (Pasal 37, 41 dan
53)
b. Wakaf (Pasal 49)
c. Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (Undang-undang Nomor 16/1985
tentang Rumah Susun)
d. Hak jaminan atas tanah :
- Hak Tanggungan (Pasal 23, 33, 39 dan 51)
- Fidusia (Undang-undang Nomor 16 tahun 1985).72
Khusus terhadap Hak Pengelolaan, sebenarnya tidak disebutkan secara konkrit
dalam UUPA, tetapi hanya disebutkan sebagai hak-hak lain yang akan ditetapkan
dengan undang-undang.73
Bila berbicara mengenai hak hak atas tanah, maka hal tersebut merupakan
tindak lanjut dari proses kegiatan pemerintah yang melakukan penetapan hak
terhadap kepemilikan dan penguasaan atas tanah oleh masyarakat.
72

Ibid., halaman 204-205


Istilah Hak Pengelolaan disebutkan pertama kali dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 9 tahun 1965 yang mengatur tentang Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan atas tanah Negara.
Sebelumnya dikenal dengan sebutan Hak Penguasaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah
73

Universitas Sumatera Utara

92

Dalam hal ini, kepemilikan dan penguasaan atas tanah menjadi dasar
diberikan dan ditetapkannya hak atas tanah kepada yang memiliki dan menguasai
tanah tersebut.
Dengan demikian hubungan hukum antara orang dengan tanahnya melahirkan
kepemilikan dan secara perdata pemilikan atas tanah oleh warga masyarakat cukup
dibuktikan dengan dasar penguasaan atau alas hak secara terulis sebagaimana
disebutkan di atas, namun dalam sistem Hukum Agraria, maka pemilikan tanah saja
tidak cukup untuk diberikan jaminan kepastian hukum oleh Negara (Pemerintah),
tetapi harus ditindaklanjuti dengan legalisasi hak atas tanah melalui proses penetapan
hak dan pendaftaran tanahnya yang hasilnya sertipikat tanah.
C. Kepemilikan dan Penguasaan Tanah di Pulau Bulat dan Pulau Sekikir
Berdasarkan aspek pemilikan atas tanah sebagaimana diuraikan di atas, maka
akan ditinjau pemilikan tanah di Pulau Batam, khususnya di lokasi penelitian, yakni
Pulau Sekikir dan Pulau Bulat.
Pada Pulau Sekikir dan Pulau Bulat secara faktual terdapat pemilikan yang
didasarkan atas penguasaan tanah secara fisik yang dibuktikan dengan adanya rumah
tempat tinggal yang didirikan di masing-masing pulau tersebut.
Khusus di Pulau Bulat, ditemui satu keluarga yang menjaganya dan mendiami
pulau tersebut sejak beberapa tahun terakhir ini yaitu Syafruddin alias Awang Puding.

Nomor 8 tahun 1953 tentang Penguasaan Tanah-tanah Negara dan hak itu merupakan terjemahan dari
Beheersrecht

Universitas Sumatera Utara

93

Menurut Syafruddin,74 dia telah mendirikan rumah tempat tinggal di pulau tersebut
dan dijadikan juga sebagai tempat peristirahatan dan tempat memancing bagi
penduduk setempat. Rumah tersebut dibangun oleh Syafruddin sejak tahun 2005.
Menurut Syafruddin, dari dulu Pulau Bulat dipunyai oleh satu orang saja
yakni Bahar Dahlan, yang merupakan orangtuanya dan semula hanya digunakan
untuk berladang. Oleh karena hanya dijadikan sebagai tempat berladang, maka
sebagaimana dinyatakan oleh Rahmat, staf Lurah Setokok, Pulau Bulat dikategorikan
sebagai Pulau tak berpenghuni. 75
Pemilikan atas tanah di pulau-pulau tersebut dibuat oleh yang bersangkutan
yang dikuatkan oleh Kepala Kelurahan atau surat-surat tanah yang dibuat oleh Kepala
Kelurahan Setokok.
Sedang di Pulau Sekikir, menurut penuturan Arman Dahlan, penduduk Pulau
Setokok yang ditemui sedang berladang di Pulau tersebut, semula diusahai oleh lebih
dari 15 (lima belas) orang penduduk Pulau Setokok dan dijadikan lahan perladangan,
namun karena tidak diurus dengan baik, maka usaha perladangan tersebut tidak
berkembang dan sempat ditinggalkan warga setempat beberapa tahun sehingga
menjadi semak belukar.
Belakangan ini, Pulau Sekikir kembali diusahai oleh penduduk

setempat

untuk usaha berladang, namun yang aktif berladang di pulau tersebut dengan
menanami tanah miliknya hanya satu orang lagi, yakni Arman Dahlan. Di lapangan,

74
75

Wawancara dilakukan pada tanggal 30 September 2010 di Pulau Setokok.


Wawancara dengan Rahmad, staf Lurah Setokok, tanggal 1 Oktober 2010

Universitas Sumatera Utara

94

ditemukan banyak tanaman pertanian baik tanaman keras seperti mangga, durian,
kelapa dan lain-lain serta tanaman palawija seperti singkong, pepaya, cabai dan lainlain sayuran.
Khusus tanaman keras baru ditanami sekitar dua tahun ini dan belum
menghasilkan buah-buahan, sedangkan untuk tanaman palawija, menurut Dahlan,
telah ditanami sejak lama dan tidak terputus sejak dulu.
Bukti pemilikan atas bidang-bidang tanah oleh masing-masing warga
setempat di Pulau Sekikir tersebut ditandai dengan surat-surat tanah yang dibuat oleh
Kepala Desa/Lurah Setokok.
Menurut Rahmat, staf Lurah Setokok, secara umum warga di Kelurahan
Setokok hanya memiliki surat-surat pemilikan tanah berupa Surat Keterangan
Riwayat Pemilikan/Penguasaan Tanah yang ditandatangani oleh Lurah Setokok dan
hanya satu surat lama yang pernah dijumpainya berbentuk Grant atas nama Jambul.
Dengan adanya surat Grant tersebut, maka masyarakat di Pulau Batam yang sudah
lama berdiam di pulau tersebut terutama di kampung-kampung tua masih
menganggap status tanah yang dimikinya sebagai tanah adat.
Terhadap kampung-kampung tua yang sudah ada sebelum tahun 1970 ketika
ditetapkan Pulau Batam sebagai daerah pengembangan industri, menurut Rahmat,
sudah ada peraturan Walikota untuk melestarikannya dan tanahnya menjadi
disebutkan sebagai tanah adat, termasuk kampung tua yang ada di Pulau Setokok.
Namun di luar kampung tua yang ada di wilayah Kelurahan Pulau Setokok,
termasuk di Pulau Sekikir dan Pulau Bulat, surat-surat tanah yang ditemukan sama

Universitas Sumatera Utara

95

dengan surat-surat tanah yang dijumpai di Pulau Setokok dan surat tanah tersebut
dibuat di bawah tahun 2004, sebab sejak tahun 2004 telah ada larangan dari Walikota
kepada para Camat dan Lurah untuk tidak menerbitkan surat-surat tanah warganya,
sehingga sampai saat ini yang dipegang oleh warga sebagai bukti pemilikan tanahnya
adalah Surat Ketarangan Riwayat Pemilikan Tanah tersebut.
Khusus di Pulau Sekikir, ditemukan beberapa Surat Keterangan Riwayat
Pemilikan/Pengusaan Tanah yang diterbitkan oleh Lurah Setokok pada tahun 2002
yang diketahui Camat Bulang dengan register tanggal 12 September 2002 dan
disaksikan oleh Ketua RT 01 dan Ketua RT 05, dengan sebagai berikut :
Tabel 1
Daftar Surat Tanah Warga Pulau Sekikir
Luas Tanah
No.

Nama Pemilik

Tanggal Surat

Nomor Register
Kantor Camat

(m2)

Arman

20.000

20 Juni 2002

No.09/CB/IX/2002

Timat Rahmat

20.000

20 Juni 2002

No.10/CB/IX/2002

Amir

20.000

20 Juni 2001

No.11/CB/IX/2002

Kamaruddin

20.000

20 Juni 2002

No.11/CB/IX/2002

Irwan

20.000

20 Juni 2002

No.12/CB/IX/2002

Kemat

20.000

20 Juni 2002

No.13/CB/IX/2002

Rani

20.000

20 Juni 2002

No.14/CB/IX/2002

Saiful

20.000

20 Juni 2002

No.15/CB/IX/2002

Ramli

20.000

20 Juni 2002

No.16/CB/IX/2002

10

Evi

20.000

20 Juni 2002

No.17/CB/IX/2002

11

Cahaya

20.000

20 Juni 2002

No.18/CB/IX/2002

Sumber : Kantor Lurah Setokok, 2010

Universitas Sumatera Utara

96

Bukti pemilikan atas tanah dengan bentuk Surat Keterangan Riwayat


Pemilikan / Penguasaan Tanah diakui keberadaan dan kebenarannya oleh penduduk
setempat.
Hingga saat ini, di Kelurahan Setokok umumnya dan khususnya di Pulau
Sekikir dan Pulau Bulat,

belum ada diterbitkan sertipikat atas tanah kepada

masyarakat. Sementara itu berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kantor


Pertanahan Kota Batam, di Kelurahan Setokok khususnya di Pulau Sekikir dan Pulau
Bulat, belum ada diterbitkan sertipikat hak atas tanah kepada penduduk setempat .
Menurut M. Rizal, Kepala Seksi Pengaturan dan Penataan Pertanahan pada
Kantor Pertanahan Kota Batam,76 selama ini masyarakat di daerah Pulau Batam dan
pulau-pulau sekitarnya, termasuk pemilik dari Pulau Sekikir ada yang datang hendak
mengajukan permohonan hak atas tanah, namun belum dapat dilayani, karena seluruh
wilayah kepulauan Batam sudah harus diterbitkan Hak Pengelolaan sesuai dengan
Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 dan Nomor 28 tahun 1992, jadi terlebih
dahulu tanah yang ada di wilayah Kepulauan Batam diberikan Hak Pengelolaan
kepada Otorita Batam, baru dapat diberikan hak atas tanah perseorangan kepada
pihak ketiga di atas tanah Hak Pengelolaan.
Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa secara yuridis formal,
pemilikan tanah di wilayah kepulauan Batam termasuk di Pulau Sekikir dan Pulau
Bulat

yang didasarkan pada penguasaan fisik bidang tanahnya oleh penduduk

76

Wawancara tanggal 30 September 2010 di Kantor Pertanahan Kota Batam

Universitas Sumatera Utara

97

setempat diakui keberadaannya baik oleh aparat pemerintah kelurahan maupun


masyarakat terlebih-lebih telah didukung oleh alas hak secara tertulis yang diterbitkan
oleh aparat kelurahan setempat, sungguhpun tidak dapat dilegalkan dengan bukti
formal melalui penerbitan sertipikat hak atas tanah oleh instansi pemerintah yang
mengelola bidang pertanahan karena terbentur dengan aturan pengelolaan Pulau
Batam yang ditetapkan oleh Presiden.
D. Aturan Pengelolaan Pulau Batam
Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa sekalipun masyarakat di wilayah
kepulauan Batam mempunyai bukti kepemilikan atas tanah berdasarkan penguasaan
dan didukung oleh alas hak berupa surat tanah yang diterbitkan oleh aparat kelurahan,
namun tidak dapat diterbitkan sertipikat karena telah ditetapkan oleh pemerintah
sebagai obyek Hak Pengelolaan.
Penetapan Pulau Batam sebagai wilayah pengembangan pembangunan
sekaligus sebagai daerah obyek Hak Pengelolaan pertama kali didasarkan pada
Keputusan Presiden Nomor 74 tahun 1971 tentang Pengembangan Pembangunan
Pulau Batam, kemudian disempurnakan dengan Keputusan Presiden Nomor 41 tahun
1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam.
Setelah diteliti dari berbagai pengaturan yang ada, maka beberapa pengaturan
dan kebijakan Pemerintah mengenai pengelolaan Pulau Batam dapat dikategorikan
dalam beberapa hal, yakni tentang lembaga/badan pengelola,

tentang wilayah

lingkungan kerja dan tentang pengelolaan pertanahan.

Universitas Sumatera Utara

98

1.

Lembaga Badan Pengelola


Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 tentang Daerah

Industri Pulau Batam, maka ditetapkan lembaga pengelola yang terdiri dari badan
pengawas, badan otorita pengembangan dan perusahaan perseroan pengusahaan
Daerah Industri Pulau Batam.
Kemudian dilakukan perubahan pertama, dengan menerbitkan Keputusan
Presiden Nomor 45 tahun 1978 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor
41 tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam, dalam hal ini ada perubahan
susunan badan pengawas.
Kedua keputusan Preiden Nomor 58 tahun 1989 tentang Perubahan Keputusan
Presiden Nomor 41 tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam sebagaimana
telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 45 tahun 1978, dalam hal ini
perubahan susunan Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam.
Ketiga, diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 94 tahun 1998 tentang
Penyempurnaan Atas Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 tentang Daerah
Industri Pulau Batam, dalam hal ini mengubah dewan pembina, otorita
pengembangan dan perusahaan perseroan pengelola.
Keempat, melalui Keputusan Presiden Nomor 113 tahun 2000 tentang
Perubahan Keempat atas Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 tentang Daerah
Industri Pulau Batam.

Universitas Sumatera Utara

99

Kelima, dengan Keputusan Presiden Nomor 25 tahun 2005 tentang Perubahan


Kelima atas Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau
Batam.
Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1
tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 36 tahun 2000 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti undang Undang Nomor 1 tahun 2000
tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas menjadi Undang Undang
dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2007 tentang
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, ditentukan bahwa Otorita
Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam diganti menjadi Badan Pengusahaan
Kawasan Perdangaan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, berikut pengalihan asetnya.
2.

Wilayah Kerja
Berdasarkan ketentuan Keputusan Presiden Nomor 41 tahun 1973 ditetapkan

seluruh Pulau Batam sebagai lingkungan kerja daerah pengembangan industri.


Selanjutnya sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 33 tahun 1974 tentang
Penunjukan dan Penetapan Beberapa Wilayah Usaha bonded warehouse di Daerah
Pulau Batam, maka sejumlah daerah ditetapkan sebagai kawasan berikat (bonded
warehouse).
Berikutnya disusul dengan penerbitan Keputusan Presiden Nomor 41 tahun
1978 tentang Penetapan Seluruh Daerah Industri Pulau Batam sebagai wilayah
bonded warehouse, dalam hal ini tidak ada pengeculian di wilayah Pulau Batam yang
seluruhnya menjadi wilayah bonded warehouse.

Universitas Sumatera Utara

100

Kemudian berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 56 tahun 1984 tentang


Penambahan Wilayah Lingkungan Kerja Daerah Industri Pulau Batam dan
Penetapannya sebagai wilayah Usaha bonded warehouse, dalam hal ini wilayah yang
ditambah adalah pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Batam yaitu gugusan Pulau Janda
Berhias, Pulau Tanjung Sauh, Pulau Ngenang, Pulau Kasem dan Pulau Moimoi.
Berikutnya dengan Keputusan Presiden Nomor 28 tahun 1992 tentang
Penambahan Wilayah Lingkungan Kerja Daerah Industri Pulau Batam dan
Penetapannya sebagai wilayah Usaha Kawasan Berikat, dalam hal ini wilayah
lingkungan kerja yang ditambah adalah Pulau Rempang dan Pulau Galang.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang
Nomor 1 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 36 tahun 2000
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti undang Undang Nomor 1 tahun
2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas menjadi Undang
Undang dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2007
tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, ditentukan bahwa
wilayah atau kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam meliputi Pulau
Batam, Pulau Tonton, Pulau Setokok, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang
dan Pulau Galang Baru.
Penyebutan nama-nama pulau tersebut tidak lagi mencantumkan gugusan
pulau-pulau di sekitarnya, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa hanya semua pulau
yang disebutkan secara tegas yang menjadi kawasan perdagangan bebas dan
pelabuhan bebas.

Universitas Sumatera Utara

101

Dengan demikian hampir seluruh wilayah Kota Batam dimasukkan menjadi


wilayah lingkungan kerja daerah industri Pulau Batam dan sekarang menjadi kawasan
perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, hanya saja tidak diuraikan luas daerahnya
3.

Pengelolaan Bidang Pertanahan


Khusus mengenai pengelolaan pertanahan, berdasarkan Keputusan Presiden

Nomor 41 tahun 1973 dinyatakan bahwa seluruh areal tanah yang terletak di Pulau
Batam diserahkan dengan Hak Pengelolaan kepada Ketua Otorita Pengembangan
Daerah Industri Pulau Batam.
Hak Pengelolaan tersebut memberi wewenang kepada Ketua Otorita
Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam untuk :
1. Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah tersebut;
2. Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan tugasnya;
3. Menyerahkan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dengan
hak pakai sesuai dengan ketentuan-ketentuan Pasal 41 sampai dengan Pasal
43 Undang Undang Pokok Agraria;
4. Menerima uang pemasukan / ganti rugi dan uang wajib tahunan.
Kemudian dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 tahun 1977
tentang Pengelolaan dan Penggunaan Tanah di Daerah Industri Pulau Batam,
diputuskan memberikan Hak Pengelolaan kepada Otorita Pengembangan Daerah
Industri Pulau Batam atas seluruh areal tanah yang terletak di Pulau Batam termasuk
areal tanah di gugusan Pulau-pulau Janda Berias, Tanjung Sau & Ngenang dan
Pulau Kasem, untuk dipergunakan sebagai pengembangan daerah industri, pelabuhan,

Universitas Sumatera Utara

102

pariwisata, pemukiman, peternakan, perikanan dan lain-lain usaha, sedang bagianbagian dari tanah Hak Pengelolaan tersebut dapat diberikan kepada pihak ketiga
dengan Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai.
Kebijakan pemerintah berikutnya berkaitan dengan pengelolaan pertanahan di
Pulau

Batam

adalah

dengan

diterbitkannya

Keputusan

Menteri

Negara

Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9-VIII-1993 tanggal 13 Juni 1999


tentang Pengelolaan dan Pengurusan Tanah di Daerah Industri Pulau Rempang, Pulau
Galang dan pulau-pulau lain di sekitarnya.
Dalam diktum keputusan tersebut dinyatakan kesediaan untuk memberikan
hak pengelolaan kepada Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atas
seluruh areal tanah yang terletak di Pulau Rempang, Pulau Galang dan pulau-pulau
lain di sekitarnya sebagaimana tergambar dalam lampiran Keputusan Presiden
Nomor 28 tahun 1992.
Diatur juga bahwa tanah yang akan diberikan dengan Hak Pengelolaan dan
telah dilakukan pengukuran, akan diberikan dengan keputusan Kepala Badan
Pertanahan Nasional secara bertahap (parsial) dan harus didaftarkan pada Kantor
Pertanahan setempat untuk memperoleh tanda bukti berupa sertipikat dengan
membayar biaya pendaftaran menurut ketentuan yang berlaku, sedangkan bagianbagian dari Hak Pengelolaan yang akan diberikan kepada pihak ketiga diwajibkan
untuk memenuhi ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 tahun 1977.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 41 tahun
1973 bahwa seluruh areal tanah yang terletak di Pulau Batam diserahkan dengan Hak

Universitas Sumatera Utara

103

Pengelolaan, namun tidak dijelaskan apakah pendaftaran hak dilakukan sekaligus


terhadap seluruh areal lokasi yang ditetapkan menjadi areal Hak Pengelolaan atau
didaftarkan secara parsial (sebagian-sebagian), namun merujuk pada kalimat seluruh
areal tanah yang terletak di Pulau Batam diserahkan dengan Hak Pengelolaan,
seharusnya seluruh areal tersebut didaftarkan sekaligus dan diterbitkan satu sertipikat
Hak Pengelolaan, namun kenyataannya, di Pulau Batam diterbitkan sertipikat Hak
Pengelolaan secara parsial, mengikuti aturan dalam Keputusan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9-VIII-1993.
Penerbitan sertipikat Hak Pengelolaan dapat dilakukan setelah terlebih dahulu
dilakukan pengukuran untuk mengetahui luas tanah yang pasti dan didaftarkan pada
Kantor Pertanahan setempat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Pertanahan, sejak tahun 1987
sampai dengan 2010, telah diterbitkan Sertipikat Hak Pengelolaan secara parsial
kepada Otorita Batam sebanyak 160 (seratus enam puluh) persil, dengan uraian
sebagai berikut :
Tabel 2
Jumlah Sertipikat Hak Pengelolaan Berdasarkan Tahun Terbit
No

Tahun

Jumlah

Luas

Terbit

Lokasi

Persil

(M2)

1987

192.500

Tiban

Universitas Sumatera Utara

104

1988

Lubuk Baja Kota

1.509.100

1989

Tiban

1592600

1990

Lubuk Baja Kota

2.377.900

1991

1. P. Buluh

394.410

2. Kabil

1.947.522

1. Tiban

49.000

2. Sekupang

2.865.000

3. Pulau Buluh

2.428.765

4. Lubuk Baja Kota

1.220.000

5. Lubuk Baja Timur

4.720.000

6. Lubuk Baja Utara

8.510.000

7. S. Beduk

1.746.430

8. Nongsa

23.645

1. Tiban

2.503.510

2. Sekupang

8.045.000

3. P. Buluh

6.940.045

4. Lubuk Baja Utara

812.874

5. S. Beduk

5.198.435

6. Nongsa

170.505

7. Kabil

4.398.660

1992

1993

Universitas Sumatera Utara

105

10

11

12

13

1994

1995

1996

1997

1998

1999

1. Tiban

7.134.977

2. P. Buluh

1.765.878

3. Lubuk Baja Timur

971.841

4. S. Beduk

2.250.000

5. Nongsa

1.989.575

1. Tiban

9.086.251

2. P. Buluh

128.181

3. Lubuk Baja Timur

2.413.064

4. S. Beduk

6.741.992

5. Nongsa

1.928.744

1. Tiban

2.604.450

2. P. Buluh

17.121.507

3. Nongsa

703.220

4. Kabil

1.938.650

1. P. Buluh

1.853.500

2. Lubuk Baja Timur

2.181.427

3. Lubuk Baja Utara

141.227

1. P. Buluh

4.987.858

2. Lubuk Baja Utara

40.386

3. S. Beduk

13.202.247

4. Nongsa

2.016.070

Tiban Asri

768.895

Universitas Sumatera Utara

106

14

2000

1. Sagulung

150.931

2. Tanjung Riau

49.613

15

2001

Nongsa

1.629.257

16

2002

1. Sagulung

30.006

2. Batu Aji

73.659

1. Tanjung Piayu

4.246.000

2. Nongsa

880.930

3. Belian

6.211.226

4. Tanjung Riau

9.532.600

5. Sagulung

3.958.830

6. Sungai Harapan

863.600

7. Baloi Permai

493.760

8. Batu Aji

51.507

9. Teluk Tering

750.339

10. Kabil

100.000

1. Teluk Tering

1.486.390

2. Kabil

74.143

3. Tiban Asri

248.073

4. Bengkong Laut

2.269.977

5. Batu Aji

304.872

6. Tanjung Uma

61.790

17

18

2004

2005

Universitas Sumatera Utara

107

1
19

20

21

22

3
2006

2007

2008

2009

1. Belian

204.776

2. Sagulung

61.881

3. Tiban Asri

232.079

4. Kabil

50.000

5. Tanjung Riau

23.325

6. Sungai Jodoh

28.001

1. Belian

216.454

2. Batu Aji

30.286

3. Benkong Laut

69.998

4. Tiban Asri

24.040

5. Muka Kuning

48.703

6. Kabil

20.000

7. Sungai Langkai

40.103

1. Belian

10

1.347.169

2. Kabil

83.343

3. Tembesi

885.472

4. Sungai Lekop

79.941

5. Tanjung Uma

44.502

6. Sungai Jodoh

112.289

7. Kibing

17.311

8. Sagulung

100.053

1. Tembesi

493.815

2. Bukit Tempayan

26.235

Universitas Sumatera Utara

108

23

2010

3. Sungai Pelunggut

374.575

4. Tanjung Uma

10.580

1. Batu Besar

51.078

2. Tembesi

677.768

3. Belian

10.000

4. Tanjung Uncang

17.148

Jumlah

160

178.464.69

Sumber : Data dari Kantor Pertanahan Kota Batam yang diolah, 2010
Terhadap pemberian Hak Pengelolaan tersebut, baik yang diatur dan
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 tahun 1977 maupun
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor : 9-VIII-1993 ditentukan
persyaratan antara lain apabila di atas areal tanah yang diberikan dengan Hak
Pengelolaan masih terdapat tanah, bangunan dan tanaman milik rakyat, maka harus
dibebaskan dengan ketentuan pembayaran ganti ruginya wajib diselesaikan terlebih
dahulu oleh penerima hak demikian pula pemindahan penduduk ke tempat
pemukiman baru atas dasar musyawarah.
Dengan adanya ketentuan tersebut, maka Pemerintah masih mengakui
pemilikan dan penguasaan tanah oleh masyarakat sekalipun di atas tanah yang sudah
ditetapkan sebagai areal Hak Pengelolaan milik Otorita Batam, karena pada
kenyataannya, banyak pemukiman penduduk dan juga perladangan yang sudah ada
sebelum ditetapkannya pemberian Hak Pengelolaan tersebut.

Universitas Sumatera Utara

109

Pada saat dilakukan pembebasan tanah yang dikuasai oleh masyarakat


tersebut, maka pembayaran ganti ruginya juga dilakukan secara parsial sama dengan
permohonan pengukuran dan pendaftaran Hak Pengelolaan dimaksud.
Perkembangan yang terjadi di lapangan, menurut M. Rizal, setelah menerima
keputusan tentang pemberian Hak Pengelolaan, pihak Otorita Batam seharusnya
melakukan pembebasan tanah atas seluruh areal yang ditunjuk dalam surat keputusan
pemberian Hak Pengelolaannya, namun hal tersebut tidak dilaksanakan dan pada
kenyataanya suatu bidang tanah baru dibebaskan dari penguasaan rakyat apabila
sudah ada investor yang hendak membelinya, bahkan ada investor yang terlebih
dahulu membebaskan tanahnya dari penguasaan penduduk baru kemudian membeli
tanahnya dari Otorita Batam.
Oleh karena yang melakukan pembebasan tanah adalah investor sementara
tanahnya tidak langsung dikuasai oleh investor karena menunggu proses pembelian
dari Otorita Batam, maka tanah yang kosong sering digarap kembali oleh masyarakat,
sehingga tidak jarang terjadi dua kali pembebasan tanah di suatu tempat.
Menurut penelitian Muhammad Thamzil,77 dalam rangka pembebasan tanah
dari penguasaan masyarakat, sebagian penduduk ada yang dipindahkan dan diberikan
suatu lokasi yang dijadikan tempat pemukiman baru (relokasi), namun dalam
pelaksanaannya tidak diikuti dengan pemberian kepastian status tanahnya hanya

77

Muhammad Thamzil, Pemberian Hak Pengelolaan kepada Otorita Pengembangan Daeran


Industri Pulau Batam (OPDIB) dan Implementasinya kepada Pihak Pengembang (developer) di Kota
Batam, Tesis, Program Studi Magister Ilmu Hukum, Program Pascasarjana Universitas Batam, 2010,
hal.aman 51

Universitas Sumatera Utara

110

diberikan penunjukan penetapan lokasi (PL), sehingga saat ini masih ada masyarakat
yang ingin memperoleh sertipikat, namun tidak diproses karena tidak memenuhi
syarat seperti tidak mempunyai surat keputusan pengalokasian dan penggunaan tanah
dari Ketua Otorita atau tidak melakukan pembayaran Uang Wajib Tahunan Otorita
(UWTO).
Kemudian terhadap tanah yang berada di Pulau Rempang, Pulau Galang dan
pulau-pulau lain di sekitarnya yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dengan
kesediaan untuk memberikan hak pengelolaan kepada Otorita Pengembangan
Daerah Industri Pulau Batam, sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9-VIII-1993 tanggal 13
Juni 1999, hingga saat ini belum ada bidang tanah yang diberikan sertipikat Hak
Pengelolannya, sehingga dapat dikatakan surat keputusan tersebut belum dapat
dilaksanakan.
Menurut M. Rizal, keputusan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena
disebabkan beberapa hal, antara lain :
1. Belum ada permohonan dari pihak Otorita Batam;
2. Ada

penguasaan

tanah

oleh

masyarakat

dan

belum

dilakukan

pembebasannya;
3. Ada areal yang masuk kawasan hutan, seperti di Pulau Rempang masuk
kawasan hutan baru dengan surat keputusan Menteri Kehutanan tahun 1986
;

Universitas Sumatera Utara

111

4. Di pulau-pulau lain juga pihak instansi kehutanan masih keberatan untuk


diproses Hak Pengelolaan sampai ada ijin pelepasan dari kawasan hutan.
Dengan demikian, untuk dapat diproses permohonan Hak Pengelolaan dari
Otorita Batam, instansi Badan Pertanahan Nasional mensyaratkan harus jelas
obyeknya, bebas dari penguasaan masyarakat dan bebas dari kawasan hutan, baru
kemudian dapat dilakukan pengukuran, pendaftaran dan penerbitan sertipikatnya.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang
Nomor 1 tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 36 tahun 2000
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 tahun
2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas menjadi Undang
Undang yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2007
tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, secara substantif
tidak lebih dari sekedar penggantian nama dari Otorita Pengembangan Daerah
Industri Pulau Batam menjadi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas Batam, sedang peraturan teknis di bidang pertanahan tetap harus
disesuaikan dengan kebijakan pertanahan nasional sehingga tidak menimbulkan
ketimpangan peraturan.78

78

Ny. Arie Sakanti Hutagalung dan Markus Gunawan, Op.cit., halaman 207

Universitas Sumatera Utara