Anda di halaman 1dari 13

Modul ke 5

Perekonomian Indonesia
Asfia Murni

INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN


EKONOMI INDONESIA

Sebagai tolok ukur kemajuan pembangunan ekonomi suatu Negara digunakan


beberapa indikato-indikator antara lain : Pertumbuhan Ekonomi, Struktur
Ekonomi, Pola Konsumsi dan Tabungan Masyarakat, Tingkat Inflasi, Neraca
Pembayaran Luar negeri dan Penerimaan Negara,
1. Pertumbuhan Ekonomi
Indikator yang digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi
Indonesia adalah perkembangan GNP atau GDP yang terjadi dalam suatu negara.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik gunakanlah:
1)

data GNP bukan GDP Alasannya adalah: GDP dihitung berdasarkan batas
wilayah geografis, misalnya produk dihasilkan oleh semua perusahan yang
berada di bumi

Indonesia termasuk perusahaan asing. Sedangkan GNP

dihitung berdasarkan produk yang dihasilkan benar-benar oleh faktor


produksi milik bangsa, termasuk produk bangsa indonesia yang dihasilkan di
luar negeri,
2)

Data GNP riil bukan GNP nominal. Alasanya adalah dalam GNP nominal
masih diperhitungkan kenaikan/penurunan harga, sedangkan GNP riil yang
diperhitungkan benar-benar hanya perubahan jumlah produk yang dihasilkan
dalam suatu negara.

Untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi maka rumus berikut ini:

LPE(t 1, t ) =

GNPt GNPt 1
100%
GNPt 1

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
Perhitungan pertumbuhan ekonomi lebih terfokus pada tingkat pertumbuhan ekonomi
pertahun.
Selanjutnya untuk melihat pertumbuhan ekonom dapat dilihat dari:
1) data

pertumbuhan

ekonomi

perkapita.

Indikator

ini

merupakan

bagian

kesejahteraan manusia yang dapat diukur, sehingga dapat menggambarkan tingkat


kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Walaupun demikian, beberapa ahli
menganggap penggunaan indikator ini mengabaikan pola distribusi pendapatan
nasional. Indikator ini tidak mengukur distribusi pendapatan dan pemerataan
kesejahteraan, termasuk pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi.
Melalui indikator GDP perkapita ini Bank Dunia (2003) mengklasifikasikan negara
menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Negara berpenghasilan rendah (low-income economies)
Negara-negara ini memiliki GDP perkapita Kurang atau sama dengan US$ 745
pada tahun 2001.
2. Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies)
Kelompok Negara ini memiliki GDP perkapita lebih dari US$ 745 namun kurang
dari US$ 8.626 pada tahun 2001. kelompok Negara ini dibagi menjadi:
a. Negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income
economies) dengan GDP perkapita antara US$ 746 sampai US$2.975.
b. Negara berpenghasilan menengah papan atas (upper-middle-income
economies) dengan GDP perkapita antara US$2.976 sampai US$ 9.025.
3. Negara berpenghasilan tinggi (high- income economies)
Negara di dalam kelompok ini mempunyai GDP perkapita sebesar US$ 9.206 atau
lebih pada tahun 2001.
Perkembangan PDB dan PDB per kapita di Indonesia dari tahun 2001 s/d 2013
dapat dilihat pada tanel berikut ini.

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni

Tabel 5.1
Perkembangan PDB dan PDB per kapita
2001-2014 (US$)
Tahun

PDB

PDB per kapita

2008 510,24 miliar

2.178,27

2015

n/a

n/a

2007 432,22 miliar

1.871,29

2014

n/a

n/a

2006 364,57 miliar

1.601.03

2013 868,35 miliar

3.475,25

2005 285,87 miliar

1.273,47

2012 876,72 miliar

3.551,42

2004 256,84 miliar

1.160,61

2011 845,93 miliar

3.469,75

2003 232,77 miliar

1.076,22

2010 709,19 miliar

2.946,66

2002 195,66 miliar

909,89

2009 539,58 miliar

2.272,04

2001 160,45 miliar

756,93

Sumber: (http://id.wikipedia.org/wiki/Produk_domestik_bruto)
Berdasarkan indikator GDP perkapita tersebut dapat dikatakan Indonesia
termasuk Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies) dalam
posisi menengah bawah (lower-middle-income economies), karena GDP perkapita
Indonesia pada tahun 2001 sebesar US$ 756,93 dan tahun 2002 sebesar US$
909,89. Sedangkan di tahun 2012 dan 2013 tetap berpenghasilan menengah, tapi
meningkat pada posisi menengah atas (upper-middle-income economies)

2. Pola Konsumsi dan Tabungan Masyarakat.


Kemajuan pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diamati melalui pola konsumsi dan
tabungan masyarakat.
Secara teori pola konsumsi (C) dan pola tabungan (S) masyarakat dalam suatu
negara tergantung pada pendapatan nasional (PN). Pola konsumsi dalam model matematik
C = a + b Y, sedangkan model matematik pola tabungan S = - a + (1 + b) Y. Variabel a
3

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
merupakan pengeluaran konsumsi untuk kebutuhan pokok seperti pangan,

bariabel b

adalah MPC (marginal propensity to consume), sedangkan (1-b) adalah MPS (marginal
propensity to saving).
Publikasi Bank Dunia telah pemaparkan 48% pengeluaran konsumsi rumah tangga
Indonesia tersita untuk pangan. Presentase ini jauh lebih tinggi di bandingkan dengan
negara tetangga seperti malasya yang hanya 23%, dan rumah tangga di jepang hanya
membelanjakan 17% dari pengeluarannya untuk pangan. (Priyono.,

Ekonomi Makro.,

2014)
Selanjutnya hubungan antara PN dengan MPC dan MPS, memperlihatkan:

a) Bagi

negara maju pertumbuhan PN tinggi, maka nilai MPCnya akan semakin kecil, dan MPSnya
semakin besar. b) Bagi negara yang belum maju pertumbuhan PN rendah, maka nilai MPC
negara tersebut semakin besar dan MPSnya semakin kecil.
Mengapa di Negara berkembang atau sedang berkembang konsumsi tinggi namun
pendapatan rendah atau bisa dikatakan MPC > MPS, sedang di Negara maju, mereka
memilki pendapatan yang tinggi namun konsumsinya rendah MPS > MPC
Pada negara maju yang terjadi adalah di mana masyarakatnya dapat dikatakan
workaholic atau dalam bahasa sehari-harinya adalah pecinta kerja. Selain itu penghasilan
yang mereka dapatkan, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan
hanya sebagian kecil penghasilan yang mereka dapat, sudah mampu memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya. Jika dibandingkan dengan keadaan negara berkembang,
penghasilan yang mereka peroleh semuanya mereka alokasikan untuk mencukupi
kebutuhan hidupnya. Bahkan penghasilan yang mereka peroleh masih belum mampu
mencukupi semua kebutuhan.
Selain itu di negara maju pemerataan penghasilan penduduk cenderung lebih baik.
Di sana tidak ada orang yang sangat miskin dan terlantar, karena mereka menjadi
tanggungan negara dan pemerintah. Jadi tidak ada kesenjangan yang begitu kentara.
Pola hidup dan pola fikir masyarakat di negara maju cenderung berbeda dengan
negara berkembang. Mereka cenderung mengalokasikan pendapatan atau penghasilan
4

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
yang mereka dapatkan selain untuk konsumsi, juga dialokasikan ke tabungan, investasi
atau yang lainnya. Berbeda dengan masyarakat di negara berkembang yang mindset-nya
masih berkutat pada konsumsi semata.
Di negara berkembang termasuk Indenesia tingkat konsumsi yang tinggi,
menandakan negara tersebut makmur dan masyarakatnya berpendapatan tinggi. Namun
kenyataannya di negara berkembang justru tidak demikian. Dengan konsumsi yang tinggi,
namun tidak dibarengi dengan pendapatan yang tinggi pula.

3. Struktur Ekonomi
Struktur ekonomi dapat diartikan sebagai penataan kegiatan ekonomi melalui
ketentuan-ketentuan (aturan) yang dirancang untuk pelaksanaan kegiatan ekonomo
sesuai dengan kondisi lingkungan alam dan sosial budaya yang berlaku dalam kehidupan
masyarakat suatu negara.
Struktur

ekonomi

mencerminkan

jenis/bentuk

kegiatan

yang

dilakukan

masyarakat dan jenis/bentuk produksi yang dihasilkan, serta jenis/bentuk barang yang
dipasarkan baik untuk perdagangan domestik maupun perdagangan internasional.
Struktur ekonomi Negara dapat dibedakan yaitu Negara Agraris dan Negara
Industri. Dikatakan Negara Agraris jika kegiatan sebagioan besar penduduk begerak
disektor pertanian dan produksi nasional didominasi oleh hasil barang pertanian. Dan
dikatakan Negara Industri apabila sebagian besar kegiatan ekonomi penduduknya
bergerak di di sektor industri dan produksi nasional didominasi oleh hasil barang
industri.
Sektor ekonomi sesungguhnya ada tiga yaitu: a) .Pertanian : yaitu kegiatan yang
termasuk

didalamnya

bidang

pertanian,

perburuan,

perikanan,

dan

kehutanan.

b) Industri ; yaitu kegiatan yang termasuk didalamnya bidang pertambangan, industri


pengolahan, industri tenaga (air & listrik), perhubungan serta pengangkutan.

Dan

c) Jasa-jasa : yaitu kegiatan yang termasuk didalamnya bidang perdagangan, keuangan,


jasa perseorangan, dan jasa-jasa lainnya.
5

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
Disuatu

negara

struktur

ekonomi

dapat

berubah,

adapun

faktor

yang

menyebabkan perubahan strktur ekonomi tersebut dapat disebabkan oleh:


1. Ditinjau

dari

sudut

kegiatan

konsumsi

sangat

tergantung

pada

tingginya

pendapatan, makin tinggi pendapatan masyarakat, maka akan makin sedikit proporsi
pendapatan yang digunakan untuk membeli bahan pertanian, karena masyarakat
cenderung melakukan tindakan konsumsi praktis mengarah pada barang-barang
industri yang mudah digunakan, sehingga

proporsi pendapatan untuk membeli

produksi industri menjadi bertambah besar.


2.

Ditinjau dari sudut kegiatan produksi. Perubahan teknologi yang terjadi dalam
proses pembangunan akan menimbulkan perubahan struktur produksi yang bersifat
compulsory dan inducive, artinya

mengajak dan mengharuskan masyarakat untuk

mengikutinya, terutama dalam melakukan kegiatan produksi, setiap pelaku produksi


akan beralih menggunakan teknologi yang lebih canggih sebagai upaya untuk
meningkatkan produktivitas secara efisien.
3.

Ditinjau dari sudut kegiatan pasar. Perubahan struktur ekonomi sangat dipengruhi
oleh perkebangan pasar baik dari sisi permintaan maupun dari sisi penawaran.
Dari sisi permintaan, Dilihat dari Elastisitas permintaan barang-barang pertanian
bersifat inelastis, (karena barang pertanian mudah busuk dan tidak tahan lama).
Akibatnya; perubahan harga barang pertanian akan berpengaruh rendah terhadap
permintaan, sehingga pendapatan petani cenderung rendah dan sangat tidak stabil.
Ini akan sangat berpengaruh pada pilihan masyarakat untuk bekerja di sektor
industri.
Sedangkan dari sisi penawaran, Hasil produksi barang pertanian sangat dibatasi
olen waktu masa panen, sehingga ketersediaan barang-barang pertanian di pasar
sangat sulit mengikuti permintaan pasar, Akibatnya terjadi transformasi struktur
produksi yang berdampak bergesernya keuntungan komparatif dari sektor pertanian
ke sektor industri.

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
Peningkatan pendapatan per kapita akan mencerminkan transformasi struktural
dalam bidang ekonomi dan kelas-kelas sosial. Dengan adanya perkembangan ekonomi dan
peningkatan per kapita, konstribusi sektor manupaktur/industri dan jasa terhadap
pendapatan nasional akan meningkat terus. Perkembangan sektor industri dan perbaikan
tingkat upah akan meningkatkan permintaan atas barang-barang industri, yang akan
diikuti oleh perkembangan investasi dan perluasan tenaga kerja. Di lain pihak , kontribusi
sektor pertanian terhadap pendapatan nasional akan semakin menurun.

4. Tingkat Inflasi
Peristiwa-peristiwa ekonomi yang terjadi diluar negeri sering merupakan penyebab
Inflasi di Indonesia. Inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan
terus menerus atau penurunan nilai mata uang.
Penyebab Inflasi dapat dilihat: a) berasal dari dalam Negeri (Domestic Inflation)
yaitu inflasi yang sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan pengelolaan perekonomian baik
di sektor riil ataupun di sektor moneter di dalam negeri oleh para pelaku ekonomi dan
masyarakat. b) Inflasi dapat juga berasal dari luar negeri (Imported Inflation) yaitu
inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan harga-harga komoditi di luar negeri (di
negara asing yang memiliki hubungan perdagangan dengan negara yang bersangkutan).
Inflasi ini hanya dapat terjadi pada negara yang menganut sistem perekonomian terbuka
(open economy system). Selanjutnya inflasi ada yang bersifat cost push inflation yaitu
inflasi terjai karena dorongan biaya produksi dan ada yang bersifat demand full
inflation yaitu inflasi terjadi karena dorongan permintaan.
Meskipun demikian inflasi dalam suatu negara tidak hanya desebabkan oleh satu
nacam penyebab saja. Karena pelaku ekonomi tidak dapat melakukan kegiatan ekonomi
secara indipenden tanpa ada hubungan dengan pihak lain. Misalnya; imported inflation
seringkali diikuti oleh cost push inflation, domestic inflation diikuti dengan demand pull
inflation, dan sebagainya.

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
Di Indonesia kejadian inflasi sering dipengaruhi oleh dampak ekonomi global.
Seperti Krisis Ekonomi Global. Pada tahun 1998 Indonesia benar benar merasakan
dahsyatnya goncangan krisis financial yang merembet pada kepercayaan. Setelah itu
Ekonomi Indonesia mulai bergerak dan bangkit kembali, namun pada tahun 2004
perlahan kondisi Ekonomi Indonesia mulai merasakan tekanan kembali yang merupakan
imbas dari kenaikan harga minyak dunia dengan diumumkannya kenaikan harga BBM oleh
Menteri Koordinator Abu Rizal Bakri pada tanggal 1 Maret 2004. Kemudian kenaikan
BBM kembali terjadi tepatnya pada tanggal 21 Juni 2013 lalu. Dan baru baru ini
kenaikan BBM yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo.
Untuk melihat perkembangan inflasi dapat menggunaka empat Indikator yaitu
perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB),
Deflator PDB migas dan Nonmigas.
Perkembangan infalsi di Indonesia; pada tahun 2012 laju inflasi sebesar 4,30 %,
tahun 2013 meningkat 8,38 % dan tahun 2014 sebesar 8,36 %.

Jumlah uang beredar dapat mempengaruhi terjadinya inflasi.

Secara

umum, bank sentral mencatat adanya peningkatan dalam jumlah uang beredar M1 dan
M2 menjadi IDR 836,51 triliun dan IDR 3.364,12 triliun pada April 2013. Jika
dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, M1 dan M2 meningkat
masing-masing sebesar 16% dan 15%.
Semakin banyak jumlah uang yang beredar maka nilai tukar Rupiah cenderung
akan melemah dan harga-harga akan meningkat. Pertumbuhan jumlah uang beredar yang
tinggi sering kali juga menjadi penyebab tingginya inflasi karena meningkatnya jumlah
uang beredar akan menaikkan permintaan yang pada akhirnya jika tidak diikuti oleh
pertumbuhan di sektor riil akan menyebabkan naiknya harga.

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
5. Neraca Pembayaran Internasional.
Neraca Pembayaran Internasional (NPI) merupakan laporan keuangan tentang nilai
transaksi ekonomi suatu negara dengan negara-negara lain dalam bentuk ekspor-impor
dan aliran keluar masuk dana/modal yang pencatatannya dilakukan secara sistimatis
dalam suatu periode tertentu.(biasanya satu tahun, atau bisa juga pertriwulan)
NPI juga merupakan catatan yang mencerminkan kondisi/perkembangan valuta
asing atau cadangan devisa suatu negara. Dalam penyusunannya NPI mempunyai prinsip
yang sama dengan akuntansi pada umumnya. NPI mencatat transaksi plus dan transaksi
minus. Kegiatan eksport akan tercatat sebagai kredit (transaksi plus), sedangkan Impor
tercatat sebagai debet (transaksi minus). Suatu transaksi plus/kredit terjadi bila
transaksi itu dapat menghasilkan tambahan valuta asing bagi suatu Negara. Sebaliknya
transaksi minus/debit terjadi bila ada pengurangan cadangan valuta asing suatu Negara.
Jika NPI mengalami surplus artinya perekonomia boleh dikatakan dalam keadaan
baik dan dapat berkembang, sebaliknya jika mengalami defisit perkembangan ekonomi
dalam negeri akan mengalami kesulitan.
Peranan Neraca Pembayaran di Indonesia sangat penting dalam pengelolaan
ekonomi makro Indonesia. NPI merupakan: a) barometer dalam mengukur kemampuan
perekonomian nasional dalam menopang transaksi-transaksi internsional, terutama yang
berhubungan dengan kewajiban pemabayaran utang dan transaksi ekspor dan impor. b)
salah satu indikator untuk melihat pengaruh sentimen para pelaku pasar dalam
mendorong perbaikan ekonomi di dalam negeri dan pembentukan produk domestik bruto.
Tujuan Neraca Pembayaran adalah: a) Memberikan informasi kepada pemerintah
mengenai posisi negara di perdagangan internasional. b) Memberikan informasi kepada
pemerintah mengenai posisi pembayaran internasional, c)

Merupakan alat untuk

mengukur berapa besar utang dan piutang negara terhadap luar negeri, d) Merupakan
alat untuk mengukur struktur dan komposisi transaksi ekonomi suatu negara dengan
dunia

internasional,

e)

Mengukur

keadaan

perekonomian

dan

posisi

keuangan

internasional suatu Negara, d) Memberikan bantuan dan sistem pembayarannya, f)


9

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
Memberikan bantuan kepada pemerintah dalam mentapkan kebijakan moneter dan fiskal,
g) Memberikan keterangan kepada pemerintah di dalam menetapkan berbagai kewajiban
perekonomian nasional seperti ekspor impor, lalu lintas moneter serta produksi, dan h)
Membantu pemerintah dalam mengambil keputusan dalam bidang politik perdagangan dan
urusan pembayarannya.
Fungsi Neraca Pembayaran mempunyai fungsi, yaitu: a) Alat pembukuan anggaran
dan alat pembayaran luar negeri, b) Alat untuk menjalankan pengaruh transaksi luar
negeri terhadap pendapatan nasional, c) Alat untuk mengukur keadaan perekonomian
suatu Negara, d) Alat untuk menetapkan kebijakan mon eter dan fiskal, dan e) Untuk
mengetahui transaksi luar negeri terhadap pendapatan nasional.
Transakasi Neraca Pembayaran meliputi: a) Transaksi Barang, b) Transaksi Jasa,
c) Transaksi Modal, d) Transaksi Unilateral/Hadiah (Grant), e)

Investasi Jangka

Panjang (Long Term Investment), f) Investasi Jangka Pendek (Short Term Investment),
g) Transaksi Pemindahan Emas (Gold Movement), h) Transaksi Pengangkutan Mata Uang
(Currency Shipment)
Di dalam neraca pembayaran terdapat Neraca Perdagangan (Balance Of Trade),
yang memperlihatkan selisih bersih antara nilai ekspor suatu negara dan impor barang
dagangan, ekspor yang tercantum di sisi aset dan impor pada sisi kewajiban. Neraca
perdagangan adalah positif (surplus) jika ekspor melebihi impor, dan negatif (defisit)
jika impor melebihi ekspor.
Kondisi Neraca Perdagangan dari tahun 2003 s/d 2013 terlihat seperti pada
tabel berikut ini.
Neraca Perdagangan Indonesia Tahun 2003 2013
TAHUN

EKSPOR

IMPOR

DEFISIT/SURPLUS

2003

61.058.246.995

32.550.684.286

28.507.562.709

2004

71.584.608.796

46.524.531.358

25.060.077.438

2005

85.659.952.615

57.700.882.616

27.959.069.999

2006

100.798.624.280

61.065.465.536

39.733.158.744

2007

114.100.890.751

74.473.430.118

39.627.460.633

10

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
2008

137.020.424.402

129.197.306.224

7.823.118.178

2009

116.510.026.081

96.829.244.981

19.680.781.100

2010

157.779.103.470

135.663.284.048

22.115.819.422

2011

203.496.620.060

177.435.555.736

26.061.064.324

2012

190.031.845.244

191.691.001.109

-1.659.155.865

2013*

91.068.762.794

94.410.645.297

-3.341.882.503

Berdasarkan angka-angka tabel terlihat dari 2003 s/d 2008 Neraca perdagangan
mengalami surplus, padatahun 2009 nilai ekspor dan impor mengalami menurunan tapi
tetap dalam leadaan surplus. Sedangkan 2012 s/d 2013 mengalami defisit.
Defisit pada tahun 2012 disebabkan oleh sektor migas sebesar 5,5 miliyar USD
sedangkan sektor non migas menyumbang surplus sebesar 3,9 milyar USD. Sehingga
pada tahun 2012 mengalami defisit untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir
sebesar 1,6 milyar USD.
Neraca perdagangan pada tahun 2013 tidak jauh berbeda dengan tahun 2012,
pada tahun 2013 (data sementara yang ditunnjukkan bulan Januari hingga Juni) masih
mengalami defisit, penyebabnya sama seperti tahun 2012, tingginya impor migas
menyumbang defisit pada neraca perdagangan.
Dengan defisitnya neraca perdagangan pada tahun 2012 dan tahun 2013
menunjukkan bahwa Indonesia belum siap untuk menghadapi pasar persaingan bebas
ASEAN. Ketidaksiapan ini dapat kita lihat dari rendahnya kualitas produk yang
dihasilkan oleh Indonesia. Sehingga produk tersebut belum mampu bersaing dengan
produk dari luar.
Salah satu upaya untuk meningkatkan surplus perdagangan adalah melalui
kebijakan expansi ekpor dan substitusi impor, artinya mencari dan mengupayakan
perluasan

ekspor

dalam

bentuk

jenis

produk

yang

baru,

kemudian

membatasi/menyetopimpor untuk produk-produk yang dapat dihasilkan egara dan digan


tikan dengan produk yang benar-benar tidak dapat dihasilkan di dalam negeri tersebut.

11

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni
6.

Indeks Kualitas Hidup


Indeks kualitas hidup (IKH) atau Physical Qualty of life Index (PQLI) digunakan

untuk mengukur kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Indeks makroekonomi


tidak dapat memberikan gambaran tentang kesejahteraan masyarakat dalam mengukur
keberhasilan ekonomi. Misalnya, pendapatan nasional sebuah bangsa dapat tumbuh terus,
tetapi tanpa diikuti oleh peningkatan kesejahteraan sosial.
Indeks kulaitas hidup dihitung berdasarkan kepada : a) angka rata-rata harapan
hidup pada umur satu tahun, b) angka kematian bayi, dan c) angka melek huruf.
Dalam indeks kualitas hidup, angka rata-rata harapan hidup dan kematian bayi
sekaligus dapat menggambarkan status gizi anak dan ibu, derajat kesehatan, dan
lingkungan keluarga yang langsung beasosiasi dengan kesejahteraan keluarga. Pendidikan
diukur dengan angka melek huruf, dapat menggambarkan jumlah orang yang memperoleh
akses pendidikan sebagai hasil pembangunan. Variabel ini menggambarkan kesejahteraan
masyarakat, karena tingginya status ekonomi keluarga akan mempengaruhi status
pendidikan para anggotanya. Oleh para pembuatnya, indeks ini dianggap sebagai yang
paling baik untuk mengukur kualitas manusia sebagai hasil dari pembangunan, disamping
pendapatan per kapita sebagai ukuran kuantitas manusia.
7.

Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)


The United Nations Development Program (UNDP) telah membuat indicator

pembangunan yang lain, sebagai tambahan untuk beberapa indicator yang telah ada. Ide
dasar yang melandasi dibuatnya indeks ini adalah pentingnya memperhatikan kualitas
sumber daya manusia. Menurut UNDP, pembangunan hendaknya ditujukan kepada
pengembangan sumberdaya manusia. Dalam pemahaman ini, pembangunan dapat diartikan
sebagai sebuah proses yang bertujuan mengembangkan pilihan-pilihan yang dapat
dilakukan oleh manusia. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa peningkatan kualitas
sumberdaya manusia akan diikuti oleh terbukanya berbagai pilihan dan peluang
menentukan jalan hidup manusia secara bebas.
12

Modul ke 5
Perekonomian Indonesia
Asfia Murni

Pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai factor penting dalam kehidupan


manusia, tetapi tidak secara otomatis akan mempengaruhi peningkatan martabat
dan harkat manusia. Dalam hubungan ini, ada tiga komponen yang dianggap paling
menentukan dalam pembangunan, umur panjang dan sehat, perolehan dan
pengembangan pengetahuan, dan peningkatan terhadap akses untuk kehidupan
yang lebih baik. Indeks ini dibuat dengag mengkombinasikan tiga komponen,
yaitu:
1. Rata-rata harapan hidup pada saat lahir,
2. Rata-rata pencapaian pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMU,
3. Pendapatan per kapita yang dihitung berdasarkan Purchasing Power Parity.
Pengembangan manusia berkaitan erat dengan peningkatan kapabilitas manusia yang
dapat dirangkum dalam peningkatan knowledge, attitude dan skills, disamping derajat
kesehatan seluruh anggota keluarga dan lingkungannya.

Sumber bacaan
1.

Suharsono Sagir. Kapita Selekta Ekonomi Indonesia., Kencana Media Group, edisi 1
2009.

2.

Asfia Murni., Ekonomika Makro ., Rafika Aditama, Bandung edisi tiga 2013

3.

https://depiyanii.wordpress.com/2011/11/26/indikator-pertumbuhan-ekonomiindonesia.

4.

http://id.wikipedia.org/wiki/Produk_domestik_bruto.

5.

http://www.slideshare.net/BagusCahyoJayaP/perekonomian-indonesia-perubahanstruktur-ekonomi.

6.

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/10/21/neraca-perdaganganindonesia-defisit-598066.html

7. http://ppmkp.bppsdmp.deptan.go.id/index.php/artikel/kepemimpinan-danmanajemen/75-indikator-keberhasilan-pembangunan

13