Anda di halaman 1dari 16

GANGGUAN PADA SISTEM PENCERNAAN DAN PENANGANANNYA

I. Gangguan Pada Oesophagus


1. Akalasia
Akalasia merupakan suatu gangguan motilitas primer esofagus yang ditandai oleh
kegagalan sfingter esofagus bagian distal yang hipertonik untuk berelaksasi pada waktu
menelan makanan dan hilangnya peristalsis esofagus. Kelainan ini menyebabkan obstruksi
fungsional dari batas esofagus dan lambung. Akibatnya, terjadi stasis makanan dan
selanjutnya timbul dilatasi esofagus. Keadaan ini akan menimbulkan gejala dan komplikasi
tergantung dari berat dan lamanya kelainan yang terjadi. Secara klinis akalasia dibagi
menjadi akalasia primer dan sekunder yang dihubungkan dengan etiologinya.
a. Akalasia Primer (yang paling sering ditemukan).
Penyebab yang jelas tidak diketahui. Diduga disebabkan oleh virus neurotropik
yang berakibat lesi pada nukleus dorsalis vagus pada batang otak dan ganglia
mienterikus pada esofagus. Disamping itu, faktor keturunan juga cukup berpengaruh
pada kelainan ini.
b. Akalasia sekunder (jarang ditemukan).
Kelainan ini dapat disebabkan oleh infeksi, tumor intraluminer seperti tumor kardia
atau pendorongan ekstraluminer seperti pseudokista pankreas. Kemungkinan lain
dapat disebabkan oleh obat antikolinergik atau pascavagotomi.

Penyebab
Akalasia mungkin disebabkan oleh kegagalan fungsi (malfungsi) dari saraf-saraf yang
mengelilingi kerongkongan dan mempersarafi otot-ototnya.

Gejala
Gejala utamanya adalah kesulitan dalam menelan makanan, baik makanan cair maupun
padat. Penyempitan katup kerongkongan bawah menyebabkan kerongkongan di atasnya
melebar. Gejala lainnya bisa berupa nyeri dada, pemuntahan kembali (regurgitasi) isi
kerongkongan yang melebar dan batuk pada malam hari. Nyeri dada dapat terjadi pada
saat menelan atau tanpa alasan tertentu. Sekitar 1/3 penderita memuntahkan kembali

makanan yang belum dicerna ketika tidur. Pada saat ini makanan bisa terhirup ke dalam
paru-paru, dan dapat menyebabkan abses paru, bronkiektasis (pelebaran dan infeksi
saluran nafas) atau pneumonia aspirasi. Akalasia juga merupakan faktor resiko untuk

terjadinya kanker kerongkongan, walaupun mungkin hanya kurang dari 5% dari kasus.
Pengobatan
Tujuan pengobatan adalah untuk mempermudah pembukaan katup kerongkongan bagian
bawah. Pendekatan pertama adalah melebarkan katup secara mekanik, contohnya dengan
menggelembungkan sebuah balon di dalam kerongkongan. 40% hasil dari prosedur ini
memuaskan, tetapi mungkin perlu dilakukan secara berulang.
Dengan pemberian nitrat (contohnya nitroglycerin) yang ditempatkan di bawah lidah
sebelum makan atau penghambat saluran kalsium (contohnya nifedipine), maka tindakan
untuk melebarkan kerongkongan dapat ditangguhkan. Pada kurang dari 1% kasus,
kerongkongan dapat pecah selama prosedur pelebaran, menyebabkan peradangan pada
jaringan di sekitarnya (mediastinitis). Perlu dilakukan tindakan pembedahan segera untuk
menutup dinding kerongkongan yang pecah. Pilihan pengobatan lainnya adalah dengan
menyuntikkan racun botulinum pada katup kerongkongan bagian bawah. Pengobatan ini
sama efektifnya dengan dilatasi (pelebaran) mekanik tetapi efek jangka panjangnya
belum diketahui. Jika pelebaran atau terapi racun botulinum tidak berhasil, biasanya perlu
dilakukan pembedahan untuk memotong serat otot pada katup kerongkongan bagian
bawah. 85% kasus bisa diatasi dengan pembedahan, tetapi 15% diantaranya mengalami

2.

refluks asam setelah pembedahan.


Hernia Hiatal
Hernia Hiatal adalah penonjolan dari suatu bagian lambung melalui diafragma, dari
posisinya yang normal di dalam perut. Diafragma adalah lembaran otot yang digunakan
untuk bernafas, yang merupakan pembatas antara dada dan perut. Pada sliding hiatal
hernia, perbatasan antara kerongkongan dan lambung, juga sebagian dari lambung, yang
secara normal berada di bawah diafragma, menonjol ke atas diagragma. Pada hernia hiatal
paraesofageal, perbatasan antara kerongkongan dan lambung berada dalam tempat yang
normal yaitu di bawah diafragma, tetapi bagian dari lambung ada yang terdorong ke atas
diafragma dan terletak di samping kerongkongan. Hernia hiatal sering terjadi, terutama

pada usia diatas 50 tahun. Akibat dari kelainan ini bisa terjadi regurgitasi asam lambung.
Penyebab

Penyebab hernia hiatal biasanya tidak diketahui, tetapi bisa terjadi karena adanya
kelamahan pada jaringan penyokong.
Faktor resiko terjadinya hernia hiatal pada dewasa adalah:
- pertambahan usia
- kegemukan
- merokok.
Pada anak-anak, hernia hiatal biasanya merupakan suatu cacat bawaan.
Hernia hiatal pada bayi biasanya disertai dengan refluks gastroesofageal.

Gejala
Penderita sliding hernia hiatal mencapai lebih dari 40% orang, tetapi kebanyakan tanpa
gejala. Gejala yang terjadi biasanya ringan. Hernia hiatal paraesofageal umumnya tidak
menyebabkan gejala. Tetapi bagian yang menonjol ini bisa terperangkap atau terjepit di
diafragma dan mengalami kekurangan darah.
Bila keadaannya serius dan timbul nyeri, disebut penjeratan (strangulasi), yang
membutuhkan pembedahan darurat. Kadang terjadi perdarahan mikroskopis atau
perdarahan berat dari lapisan hernia, yang bisa terjadi pada kedua jenis hernia hiatal
tersebut.

II.

Gangguan Pada Lambung

1.

Gastritis
Maag atau dalam istilah medis disebut dengan gastritis adalah peradangan atau luka yang
terjadi pada permukaan lambung. Maag bisa terjadi secara tiba-tiba (maag akut) dan bisa

juga terjadi secara perlahan (maag kronis). Dalam beberapa kasus, maag dapat
menyebabkan borok pada lambung dan meningkatkan risiko kanker lambung. Namun pada
dasarnya maag bukanlah suatu keadaan yang serius dan merespon pengobatan dengan baik.

Gejala
Maag tidak selalu menimbulkan gejala, namun yang paling sering terjadi dari
maag adalah mual, kembung, perih dan perasaan tidak enak pada ulu hati. Sedangkan
kemungkinan gejala lainnya adalah muntah, sakit saat buang air besar, sering bersendawa
(sedikit-sedikit), sering merasa lapar, perasaan penuh di perut bagian atas setelah makan.
Keadaan penderita maag biasanya memburuk setelah makan, namun tidak menutup

kemungkinan keadaan akan membaik setelah makan.


Penyebab
Maag biasanya terjadi ketika lapisan lambung Anda menipis atau rusak. Sebuah
lapisan yang melindungi dinding dari asam lambung yang bertugas mencerna makanan.
Bila lapisan lambung rusak, maka asam lambung akan merusak dan "membakar" lapisan
lambung. Sejumlah penyakit dan beberapa kondisi lainnya membuat lapisan lambung

menjadi rentan terhadap kerusakan dan meningkatkan risiko menderita maag.


Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko maag meliputi:
a) Infeksi bakteri.
Orang yang terinfeksi Helicobacter pylori dapat mengalami maag
-umumnya maag kronis. Setengah populasi dunia diperkirakan terinfeksi oleh
bakteri ini, yang diduga ditularkan dari orang ke orang. Namun sebagian besar
dari mereka yang terinfeksi tidak mengalami komplikasi infeksi H. pylori. Pada
sebagian orang, H. Pylori dapat memecah lapisan pelindung lambung bagian
dalam yang menyebabkan perubahan pada lapisan lambung. Alasan mengapa
sebagian orang mengalami komplikasi akibat infeksi H. pylori seperti maag, bisul
dan lain-lain sebenarnya masih tidak jelas. Namun para ahli kesehatan meyakini
bahwa kerentanan seseorang terhadap H. pylori bisa dipengaruhi dari genetik
(keturunan) atau bisa juga disebabkan karena gaya hidup, seperti kebiasaan
merokok dan stres tingkat tinggi.
b) Biasa menggunakan obat penghilang rasa sakit (termasuk obat rematik).

Obat penghilang rasa sakit umum seperti antalgin, aspirin, ibuprofen dan
naproxen dapat menyebabkan maag akut dan kronis. Dengan terus menerus
menggunakan obat-obatan ini maka dapat mengurangi substansi kunci yang
membantu menjaga lapisan lambung.
c) Usia. Orang dewasa memiliki peningkatan risiko maag karena lapisan lambung
mereka cenderung menipis seiring usia dan karena orang dewasa lebih mungkin
terjangkit infeksi H. pylori atau gangguan autoimun ketimbang anak-anak.
d) Penggunaan alkohol. Alkohol akan mengiritasi dan mengikis lapisan lambung,
yang menjadikan lambung lebih rentan terhadap asam lambung. Penggunaan
alkohol cenderung menyebabkan maag akut.
e) Stres. Termasuk juga stres fisik yang diakibatkan operasi besar (pembedahan
besar), cedera, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan maag akut.
f) Kondisi refluks empedu. Empedu -zat yang membantu mencerna lemak dan
membuang jenis racun tertentu- diproduksi di hati dan disimpan di dalam kantong
empedu. Kondisi refluks empedu adalah cairan empedu mengalir balik ke atas
yaitu dari usus dua belas jari ke dalam lambung dan akhirnya menyebabkan maag.
Hal ini dikarenakan cincin yang seperti otot sfingter tidak bertugas dengan benar
(bisa juga karena pembedahan) yang sejatinya bertugas mencegah empedu
mengalir balik ke atas.
g) Tubuh Anda sendiri menyerang sel-sel di lambung. Ini disebut sebagai maag
autoimun, yaitu jenis maag yang terjadi akibat tubuh menyerang sel-sel yang
membentuk lapisan lambung. Maag autoimun lebih umum terjadi pada orang
dengan gangguan autoimun lainnya dan bisa juga terkait kekurangan vitamin B12.

Pengobatan
Obat-obat yang biasa digunakan untuk mengobati maag antara lain :
Antasida. Menetralisir asam lambung dan menghilangkan rasa nyeri.
Ranitidin. Mengobati tukak lambung.
Simetidin. Mengobati dyspepsia
Pompa Proton. Mencegah pertumbuhan bakteri, menghentikan produksi asam
lambung dan menghambat infeksi bakteri H. pylori.
Agen Cytoprotektif. Melindungi lapisan lambung dan usus halus.
Anti sekretorik. Menekan sekresi asam.

Pankreatin. Membantu pencernaan lemak, karbohidrat, protein dan mengatasi


gangguan sakit pencernaan seperti perut kembung, mual, dan sering

2.

mengeluarkan gas.
Gastroparesis
Gastroparesis merupakan kondisi medis yang ditandai dengan kembung, mual dan
lekas kenyang sewaktu makan. Hal ini disebabkan oleh kelainan atau tidak adanya
kontraksi lambung. Lambung adalah organ yang bertanggung jawab untuk menyimpan
makanan yang ditelan dan membantu mencampur makanan bersama-sama dengan enzimenzim pencernaan. Kontraksi dari otot-otot lambung juga secara mekanik memecahkan
makanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk pencernaan dan penyerapan yang
lebih baik di dalam usus. Gastroparesis, yang juga dikenal sebagai kelumpuhan lambung
merupakan kondisi di mana otot-otot perut tidak berfungsi normal. Pada kondisi normal,
kontraksi otot mendorong makanan melalui saluran pencernaan. Tapi dalam gastroparesis,
otot-otot di dinding perut bekerja sangat lemah atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Hal
ini mengganggu pencernaan. Akibat lanjut, mual dan muntah. Pada orang-orang dengan
pola makan tinggi serat, massa dari serat yang tidak dicerna dapat menyumbat lambung
sehingga lambung tidak dapat menyalurkan makanan ke usus halus, menyebabkan muntah
dan nyeri. Penanganan seringkali ditujukan pada pengembalian nutrisi dan pola makan.
Pipa untuk pemberian makan dapat dimasukkan ke dalam usus halus. Beberapa obatobatan, seperti eritromisin dan obat-obat kolinergik, dapat diberikan untuk menghilangkan
gejala. Sayangnya, penanganan ini seringkali bersifat sebagai solusi sementara dan tidak
dapat menyembuhkan gastroparesis secara sempurna.

Gejala
Tanda dan gejala Gastroparesis yang mungkin timbul:
Nafsu makan berkurang
Terjadi peningkatan asam lambung
Kejang pada dinding perut
Kulit kering
Malnutrisi
Menderita Rasa Panas Dalam Perut
Terasa mual, atau muntah tapi tak ada yang dimuntahkan
Pembuluh darah yang bengkak atau melebar pada bagian putih mata, yang
menyebabkan mata terlihat merah (mata merah)

Penurunan berat badan


Perut kembung
Pembengkakan pada abdomen
Mulas atau gastroesophageal reflux
Perubahan kadar gula darah
Kurangnya nafsu makan
Penyebab
Penyebab pasti dari kelainan kontraksi dari otot-otot ini belum diketahui tetapi
gastroparesis seringkali berhubungan dengan penderita diabetes, penyakit
neuromuskluer atau orang-orang yang telah melakukan operasi di daerah perut dimana
terjadi kerusakan pada saraf-saraf yang mengendalikan otot-otot lambung. Kurang
baiknya kontraksi lambung menyebabkan pencernaan yang tidak baik dan pada kasus
berat, dapat menyebabkan malnutrisi akibat penyerapan nutrisi yang buruk. Belum jelas
apa yang menyebabkan gastroparesis, namun dalam banyak kasus, gastroparesis diyakini
disebabkan oleh kerusakan saraf yang mengontrol otot-otot perut (saraf vagus). Saraf
vagus membantu mengelola proses kompleks dalam saluran pencernaan, termasuk sinyal
otot-otot yang berkontraksi di perut dan mendorong makanan ke dalam usus kecil. Saraf
vagus yang rusak tidak bisa mengirim sinyal ke otot-otot perut. Hal ini dapat
menyebabkan makanan tetap di perut lebih lama, daripada bergerak normal ke usus
kecil untuk dicerna.Saraf vagus bisa rusak oleh penyakit, seperti diabetes atau karena
operasi lambung atau usus kecil.

Kerusakan pada syaraf vagus yang mengendalikan kontrasi otot-otot perut


Penggunaan Analgesik
Penggunaan Antidepresi

Faktor resiko
Risiko terjangkit gastroparesis akan meningkat
Sebelumnya pernah menjalani Gastrektomi
Sedang menderita Anoreksia
Sedang menderita Bulimia Nervosa
Sedang menderita Hipotiroidisme
Telah didiagnosa mengidap Diabetes Mellitus
Telah didiagnosa mengidap Penyakit Parkinson
Telah didiagnosa mengidap Skleroderma
Komplikasi yang ditimbulkan:

Penurunan berat badan yang tidak diinginkan


Penyumbatan usus yang dikarenakan oleh massa makanan padat (bezoar)
Pertumbuhan bakteri berlebihan di dalam perut
Pengobatan
Pasien-pasien dengan gastroparesis yang ringan biasanya dapat dikendalikan
dengan sukses dengan pembebas-pembebas nyeri dan obat-obat pro-motility (pro
kemampuan bergerak), namun pasein-pasien dengan gastroparesis yang parah
seringkali memerlukan opname rumah sakit yang berulangkali untuk mengkoreksi
dehidrasi, malnutrisi dan untuk mengontrol gejala-gejala.

III.

Gangguan Pada Usus Halus


1. Lactose Intolerance
Lactose intolerance adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna dan menyerap
laktosa (gula yang terdapat dalam susu dan produk susu) karena berkurangnya atau tidak
adanya enzim laktase. Lactose intolerance berbeda dengan lactase deficiency. Orang
dengan lactase deficiency memiliki jumlah enzim laktase yang lebih sedikit dibandingkan
dengan orang normal, tetapi tetap dapat mengonsumsi susu dan produk susu tanpa
menunjukkan gejala, sedangkan lactose intolerance akan menimbulkan gejala jika
mengonsumsi susu dan produknya.
Laktosa adalah disakarida, yaitu gula yang terdiri dari 2 molekul gula yang lebih
sederhana, yaitu -D-glukosa dan -D-galaktosa. Agar laktosa dapat diserap dari usus,
laktosa harus dipecah menjadi glukosa dan galaktosa. Gula sederhana tersebut kemudian
diserap oleh lapisan sel usus. Enzim yang bertugas memecah laktosa adalah enzim laktase,
enzim yang diproduksi oleh sel-sel di permukaan usus halus.
Orang kadang menyamakan lactose intolerance dengan alergi susu. Alergi susu ialah
reaksi sistem imun tubuh terhadap satu atau lebih protein susu dan dapat membahayakan
nyawa saat sejumlah kecil susu atau produk susu dikonsumsi. Alergi susu kebanyakan
muncul di tahun pertama sejak lahir, sedangkan lactose intolerance lebih sering timbul
pada orang dewasa.

Diperkirakan 74% orang dewasa di dunia menunjukkan penurunan aktivitas enzim


laktase selama masa dewasanya. Frekuensi penurunan aktivitas laktase berkisar dari 5% di
Eropa utara, 71% di Sisilia, hingga lebih dari 90% di beberapa negara Afrika dan Asia.

Penyebab
Lactose intolerance digolongkan menjadi 3 berdasarkan penyebabnya:
1. Primary lactose intolerance
Disebabkan karena penurunan jumlah produksi laktase yang terjadi setelah masa
anak-anak sehingga disebut juga hipolaktasia tipe dewasa. Normalnya, tubuh
memproduksi laktase dalam jumlah banyak saat lahir dan selama masa kanak-kanak
dimana susu merupakan sumber nutrisi utama, kemudian produksinya menurun sejalan
dengan mulai bervariasinya asupan makanan dan berkurangnya konsumsi susu. Pada
manusia, dalam populasi yang jarang mengonsumsi susu, produksi laktase biasanya
menurun sekitar 90% selama 4 tahun pertama.

2. Secondary lactose intolerance


Tipe sekunder disebabkan oleh penyakit, operasi, luka, atau kemoterapi yang
merusak lapisan sel usus. Penyakit intestinal yang dapat merusak usus antara lain
penyakit celiac sprue, penyakit Crohns, termasuk penyakit yang disebabkan oleh parasit
seperti Giardia lamblia. Tipe sekunder ini dapat terjadi sementara (temporer) atau
permanen tergantung dari sejauh mana kerusakan yang dialami usus. Penyebab paling
umum secondary lactose intolerance temporer ialah gastroenteritis, terutama yang
disebabkan oleh rotavirus. Tipe ini juga dapat terjadi karena kelebihan laktosa pada bayi.
Jenis lactose intolerance ini dapat dialami segala usia, namun lebih sering dialami oleh
bayi.
3. Congenital lactose intolerance (CLI)
Congenital lactose intolerance disebabkan karena adanya mutasi terhadap gen
yang memproduksi enzim laktase. Bayi dengan congenital lactose intolerance tidak bisa
mencerna ASI sejak lahir dan hanya bisa diberi susu formula yang bebas laktosa.
Populasi tertentu memiliki mutasi pada kromosom 2 yang mengeliminasi terhentinya
produksi laktase, sehingga populasi ini dapat mengonsumsi susu segar dan produk susu
lainnya tanpa kesulitan. Persistensi laktase, yang memungkinkan laktosa tetap dapat

dicerna saat dewasa, merupakan alel dominan dan lactose intolerance ialah sifat genetik
resesif.
Gejala
Lactose intolerance tidak mudah didiagnosa hanya dengan melihat tanda dan
gejalanya karena berbagai kondisi lain, termasuk flu perut dan irritable bowel syndrome,
menunjukkan gejala yang sama. Pada anak-anak, diare dengan gejala tertentu merupakan
tanda alergi protein susu. Secara umum gejala lactose intolerance yaitu: nyeri perut,
kram, diare, kentut, kembung, dan mual. Gejala-gejala tersebut timbul 30 menit hingga 2
jam setelah mengonsumsi susu atau produk susu.
Gejala-gejala tersebut terjadi karena laktosa yang tidak diabsorpsi melewati usus
dan menuju kolon. Dalam kolon, satu tipe bakteri secara normal mengandung laktase dan
mampu memecah laktosa serta menggunakan glukosa dan galaktosa yang dihasilkan
untuk kebutuhannya. Namun, saat bakteri tersebut menggunakan glukosa dan galaktosa,
bakteri juga melepaskan gas hidrogen. Sejumlah kecil gas diserap dari kolon dan masuk
ke sirkulasi kemudian dikeluarkan oleh paru bersama napas. Sebagian besar gas
digunakan oleh bakteri lain di kolon. Sedikit hidrogen dikeluarkan dalam bentuk kentut.
Beberapa orang memiliki tipe bakteri tambahan dalam kolon yang mengubah hidrogen
menjadi metan, sehingga napas dan kentutnya hanya mengandung metan atau metan dan
hidrogen.Tidak semua laktosa yang mencapai kolon dipecah dan digunakan oleh bakteri
kolon. Laktosa yang tidak dipecah dalam kolon menarik air karena naiknya tekanan
osmotik dan menyebabkan diare.
2. Konstipasi
Gangguan pada usus besar dimana terjadi perlambatan pergerakan tinja yang melalui usus
besar.
Penyebab
Normalnya tinja di dalam usus didorong dengan kontraksi otot usus. Pada usus
besar air dan garam diserap kembali karena penting bagi tubuh. Tetapi ketika usus
besar menyerap terlalu banyak air, atau kontraksi otot usus besar lambat maka tinja
akan menjadi keras dan kering sehingga pergerakan pada usus besar menjadi terlalu
lambat. Konstipasi juga dapat terjadi jika otot yang digunakan untuk
menggerakkan usus tidak berfungsi secara benar. Masalah ini disebut anismus.
Sejumlah faktor yang menyebabkan antara lain:
Kekurangan cairan atau dehidrasi

Kekurangan serat pada makanan


Kurangnya aktifitas fisik (khususnya pada orang tua)
Irritable bowel syndrome
Perubahan gaya hidup atau rutinitas, termasuk hamil, penuaan dan perjalanan
Sakit (sedang mengalami suatu penyakit)
Sering menggunakan atau penyalahgunaan obat pencahar
Penyakit tertentu, seperti stroke, diabetes, thyroid disease dan Parkinson's disease
Masalah pada usus besar dan dubur, seperti penyumbatan usus atau diverticulosis
Obat-obatan tertentu
Gangguan hormon, seperti tidak aktifnya kelenjar tiroid
Kerusakan pada kulit dubur dan ambeien
Hilangnya kadar garam di dalam tubuh karena muntah atau diare
Cedera pada syaraf tulang belakang, yang dapat berefek pada usus
Pada kasus yang langka, konstipasi dapat menjadi tanda bahwa anda mengalami kondisi
medis yang serius, seperti kanker usus besar, gangguan hormon atau gangguan pada
autoimun. Pada anak-anak, konstipasi dapat mengindikasikan hirschsprung disease

kondisi hilangnya sel syaraf bawaan sejak lahir.


Pengobatan
Jika sudah terlanjur mengalami konstipasi, beberapa resep tradisional ini bisa
membantu Anda mengobati sembelit.
1. Wortel
Ubi yang dikenal sebagai makanan untuk kesehatan mata ini, ternyata juga mampu
mengobati sembelit. Caranya ambil dua batang wortel, kemudian diparut dan
tambahkan 2 sendok makan air dan peras. Tambahkan sedikit garam, aduk hingga rata
dan minum air perasan wortel tersebut 2 kali sehari.
2. Daun Pandan Wangi
Daun pandan yang biasa digunakan sebagai pewangi masakan, bisa juga dijadikan obat
alternatif untuk mengatasi konstipasi. Caranya, daun pandan ditumbuk hingga halus,
kemudian tambahkan setengah gelas air. Peras dan ambil airnya, kemudian tambahkan
sedikit garam dan gula aren. Minum ramuan ini setelah makan malam.

3. Diare
Gangguan yang berupa pergerakan yang cepat dari materi tinja sepanjang usus besar.
Penyebab
a) Diare Psikogenik
b) Alergi terhadap makanan
c) Kolitis Ulserativa
d) Enteristis
Diare yang disebabkan oleh bakteri
1.

Diare pada amoebiasis oleh disentri amoeba


Diare ini disebabkan oleh infeksi entamuba histolitika di dalam usus besar.
Infeksi dapat menyebabkan ulserasi atau perlukaan pada dinding kolon. Ciri-ciri
terkena diare ini adalah diare 20 kali atau bahkan lebih dalam sehari, tinja berbau
disertai darah dan lendir, mengeluh nyeri perut dan lemah , menyebabkan berat
badan menurun.Bila diare tidak ditangani dengan cepat dapat menyebakan panas
yang tinggi dan disertai nyeri perut yang menyeluruh dan kejang.

2. Diare pada shigellosis oleh disentri basiler.

Diare ini di sebabkan oleh bakteri shigella dysentriae yang menembus dan
berkembang di dalam usus. Ciri-cirinya bila nyeri pada perut bagian bawah, panas
tinggi, menggigil, hilang nafsu makan, malas, sakit kepala dan lemah. Tinja
bercampur dengan darah dan lendir
3. Diare pada kolera.
Diare ini disebabkan oleh toksin kolera yang menyerang sekresi elektrolit
dan air. Ciri-cirinya ada watery diarrhea yaitu tinja yang mengeluarkan lebih
banyak air dari pada ampas. Tidak ada nyeri namun muntah tanpa mual, dapat
menyebabkan dehidrasi dalam waktu singkat dan syok hipovolemik. Sebenarnya
diare bukanlah penyakit yang berbahaya apabila tidak di tangani dengan baik.
Komplikasi yang bisa terjadi adalah adanya dehidrasi dan syok hipovolemik
akibat banyaknya cairan yang keluar dari tubuh tanpa diimbangi oleh masuknya
cairan.

Gejala

Buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan
Tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari
Pegal pada punggung, dan perut sering berbunyi
Mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh)
Diare yang disebabkan oleh virus dapat menimbulkan mual dan muntah-muntah
Badan lesu atau lemah
Panas
Tidak nafsu makan

Darah dan lendir dalam kotoran

Penanganan

Meminum oralit atau dapat membuatnya sendiri dengan melarutkan 1 sendok teh garam
dan 8 sendok teh gula dalam 1 liter air matang.
Jaga hidrasi dengan elektrolit yang seimbang. Ini merupakan cara paling sesuai di
kebanyakan kasus diare, bahkan disentri. Mengkonsumsi sejumlah besar air yang tidak
diseimbangi

dengan

elektrolit

yang

dapat

dimakan

dapat

mengakibatkan

ketidakseimbangan elektrolit yang berbahaya dan berakibat fatal


Mencoba makan lebih sering tapi dengan porsi yang lebih sedikit, frekuensi teratur, dan
jangan makan atau minum terlalu cepat.
Menjaga kebersihan dan isolasi: Kebersihan tubuh merupakan faktor utama dalam
membatasi penyebaran penyakit
Penanganan
Meminum oralit atau dapat membuatnya sendiri dengan melarutkan 1 sendok teh garam
dan 8 sendok teh gula dalam 1 liter air matang.
Jaga hidrasi dengan elektrolit yang seimbang. Ini merupakan cara paling sesuai di
kebanyakan kasus diare, bahkan disentri. Mengkonsumsi sejumlah besar air yang tidak
diseimbangi

dengan

elektrolit

yang

dapat

dimakan

dapat

mengakibatkan

ketidakseimbangan elektrolit yang berbahaya dan berakibat fatal


Mencoba makan lebih sering tapi dengan porsi yang lebih sedikit, frekuensi teratur, dan
jangan makan atau minum terlalu cepat.

Menjaga kebersihan dan isolasi: Kebersihan tubuh merupakan faktor utama dalam
membatasi penyebaran penyakit

4. Appendicitis
Appendicitis adalah kondisi dimana appendix membengkak dan terisi oleh nanah.
Appendix adalah kantong berbentuk jari yang menonjol keluar dari usus besar pada bagian
bawah sebelah kanan perut. Appendix ini belum diketahui fungsi pentingnya, tetapi bukan
berarti tidak dapat menyebabkan masalah.Appendicitis menyebabkan nyeri yang dimulai dari
sekitar pusar dan kemudian menjalar ke bawah perut bagian kanan. Appendicitis biasanya
meningkat pada 12 sampai 18 jam dan dengan cepat menjadi sangat parah.Appendicitis dapat
berefek pada siapapun, tetapi paling sering terjadi pada mereka yang berusia 10 sampai 30
tahun. Pengobatan appendicitis standar adalah operasi untuk mengeluarkan appendix.
Penyebab
Penyebab appendicitis dapat terjadi karena:
1. Penyumbatan. Sisa makanan atau kotoran yang mengeras dapat terjebak di dalam lubang
pada rongga perut yang mengisi appendix.
2. Infeksi. Appendicitis dapat juga dikarenakan infeksi, seperti infeksi virus gastrointestinal,
atau mungkin karena jenis pembengkakan lainnya.
Pada kedua kasus, bakteri dapat menyerang dengan cepat, menyebabkan appendix
meradang dan terisi oleh nanah. Jika tidak diobati secara benar, appendix dapat pecah.

Gejala
Tanda dan gejala usus buntu (appendicitis) antara lain:
Nyeri gatal yang dimulai dari sekitar perut dan sering manjalar ke perut bagian
kanan bawah

Nyeri yang menjadi tajam dalam beberapa jam


Rasa kebal ketika anda menekan perut bagian kanan bawah
Nyeri yang tajam pada perut bagian kanan bawah yang terjadi ketika area di tekan
dan kemudian tekanan tersebut dilepas dengan capat
Nyeri yang memburuk ketika anda batuk, berjalan atau membuat gerakan bergetar
Mual
Muntah

Hilang nafsu makan


Demam ringan
Konstipasi
Sulit buang angin
Diare
Bengkak pada daerah perut
Lokasi rasa sakit bervariasi, berdasarkan pada usia dan posisi appendix. Anak-anak dan wanita
hamil, khususnya dapat memiliki nyeri appendicitis pada tempat yang berbeda.
https://hanifatunnisaa.wordpress.com/2013/01/21/penyebab-gejala-pengobatan-danpencegahan-penyakit-diare-pada-bayi-anak-anak-dan-dewasa/
http://gejalapenyakitmu.blogspot.com/2013/04/gejala-usus-buntu-definisi-penyebabdan.html
http://dianhusadasamsularifien.blogspot.com/p/gangguan-pada-esofagus.html
http://gejalapenyakitmu.blogspot.com/2013/10/gejala-konstipasi-sembelit-penyebabdan.html
http://tn-bb.com/5549.htm
http://porta-scientia.blogspot.com/2010/08/lactose-intolerance.html