Anda di halaman 1dari 12

RUMAH SUSUN DENGAN KONSEP BIOKLIMATIK DI KOTA MALANG

ARTIKEL ILMIAH
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Memeperoleh Gelar Sarjana Teknik

Disusun oleh :
DELFTA YUGASWARA
NIM. 0810650034

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN ARSITEKTUR
2014

RUMAH SUSUN DENGAN KONSEP BIOKLIMATIK DI KOTA


MALANG
Delfta Yugaswara, Beta Suryokusumo, Subhan Ramdlani
Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur
FT Universitas Brawijaya Malang
E-mail : delftayugaswara@gmail.com
ABSTRAK
Kota Malang merupakan salah satu kota terpadat penduduknya di Jawa Timur. Bertambahnya
penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya lahan, membuat harga properti
menjadi mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah. Solusi
untuk mengatasi masalah tersebut adalah menyediakan permukiman vertikal dengan harga
sewa/beli terjangkau yang biasa disebut rumah susun (untuk selanjutnya disingkat rusun).
Untuk itu pemerintah kota Malang merencanakan membuat rusun di kawasan Kedung
kandang
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan programatik. Analisa dilakukan
berdasarkan survey lokasi dan hasil pencarian data berupa data fisik tapak, kependudukan,
dan klimatologi. Sedangkan, studi komparasi dilakukan terhadap Rumah Susun yang
memakai respon terhadap ikim sebagai referensi. Kajian yang dilakukan antara lain mengenai
aspek tanggap iklim. Kajian dilakukan untuk membantu dalam memahami karakteristik
bangunan terhadap iklim.
Dengan kajian ini diharapkan dengan konsep arsitektur bioklmatik yang merupakan konsep
desain bangunan tanggap iklim terhadap tempat bangunan itu berada, tidak terkecuali
penerapannya pada rusun.
Kata kunci : rumah susun, tanggap Iklim, bioklimatik
1. PENDAHULUAN

temperatur udaranya sangat tinggi rata-rata

Latar Belakang

minimum 23,6 C dan maksimum 34C

Bioklimatik merupakan salah satu


dari

aspek

arsitektur

Dengan

50%. Kondisi tersebut menyebabkan suhu

dapat

ruangan terlalu panas yang disebabkan

mengarahkan arsitek untuk mendapatkan

oleh adanya radiasi dinding atau langit

penyelesaian

dengan

langit atau disebabkan oleh meningkatnya

memperhatikan hubungan antara bentuk

kelembaban dalam ruang tersebut akibat

arsitektur dengan

minimnya

pendekatan

hijau.

dan kelembaban udara rata-rata minimum

bioklimatik
desain
lingkungannya

dalam

aliran

udara,

sehingga

kaitan iklim daerah tersebut. Kota Malang

menghambat pencapaian kenyamanan fisik

mempinyai iklim tropis lembab yang

bagi

pengguna bangunan

yang pada

umumnya. Menurut Frick (2006) dalam

nyamanan yang dibahas disini terutama

mencapai kenyamanan bagi pengguna di

terkait dengan desain bangunan rusun

dalam ruangan dapat ditentukan dengan

tersebut.

hubungan antara suhu udara, kelembaban


udara, gerakan angin, dan sirkulasi udara.

Permasalahan umum yang ada pada


rusun

terjadi

karena

kurangnya

Kota Malang merupakan salah satu

pemahaman mengenai bangunan tanggap

kota terpadat penduduknya di Jawa Timur.

iklim. Salah satu contoh kasus adalah

Bertambahnya

tidak

kondisi temperatur pada rusun Dupak

diimbangi dengan bertambahnya lahan,

Bangunrejo di Surabaya yang mengalami

membuat harga properti menjadi mahal

over-heating pada pukul 11.00-17.00. Hal

dan tidak terjangkau oleh masyarakat yang

ini dikarenakan faktor dari penghawaan

berpenghasilan

ini

alami yang tidak berjalan dengan baik

untuk

(Indrani, 2008). Kesalahan dari peletakan

tinggal di tempat-tempat yang tidak layak,

ventilasi dan bukaan juga menjadi masalah

seperti di daerah bantaran Sungai Brantas.

rusun yang ada. Pada penelitian terhadap

Disebut tidak layak karena daerah tersebut

kualitas pencahayaan alami pada 7 unit

merupakan area hijau untuk penyerapan

rusun di Surabaya ditemukan bahwa,

air, sehingga mudah longsor dan rawan

ukuran dan pengaturan bukaan pada sisi

terkena banjir. Salah satu solusi untuk

bangunan yang bervariasi mempengaruhi

mengatasi

distribusi pencahayaan alami di dalam

akhirnya

penduduk

rendah.

memaksa

masalah

yang

Keadaan

masyarakat

tersebut

adalah

menyediakan permukiman vertikal dengan

ruangan.

harga sewa/beli terjangkau yang biasa

Pada rumah susun di kota malang

disebut rumah susun (untuk selanjutnya

yang terdapat di daerah kedung kandang

disingkat rusun). Untuk itu pemerintah

dari hasil pengamatan terdapat masalah

kota

pada pencahayaan dan penghawaan karena

Malang

rusun

di

merencanakan

kawasan

Kedung

membuat
kandang

(Mulyadi, 2013)
ditinggalkan oleh penghuninya karena
faktor kenyamanan yang tidak memadai
2011).

Ketidak-nyamanan

disebabkan oleh beberapa faktor, seperti


kondisi
penghuni

bangunan
rusun

memperhatikan

unsur

iklim.

Terdapat tower yang menghadap langsung

Kebanyakan dari rusun tersebut

(Bernadi,

kurang

itu

maupun
sendiri.

perilaku
Ketidak

ke arah matahari, ini dapat menyebabkan


permasalahan seperti rumah susun di atas.

Penggunaan material yang tepat dan


karena bangunan ini merupakan bangunan
rumah

susun

yang

bersubsidi

maka

pemilihan material ini juga mengutamakan


efesiensi.
2.

Penempatan Bukaan Jendela

Gambar 1.1 Eksisting rumah susun


kedungkandang Malang

Bukaan

jendela

sebaiknya

menghadap utara dan selatan sangat

Dari eksisting yang sudah ada perlu

penting

untuk

mendapatkan

orientasi

dilakukan redesain pada tower yang

pandangan. Jika memperhatikan alasan

menghadap langsung ke arah matahari, dan

easthetic, curtain wall bisa digunakan pada

agar dapat memaksimalkan penghawaan

fasad bangunan yang tidak menghadap

alami.

matahari.

Permasalah

tersebut

dapat

diselesaikan dengan konsep arsitektur

3.

bioklmatik yang merupakan konsep desain


bangunan

tanggap

iklim

Penyekat Panas
Insolator panas yang baik pada

kulit

bangunan

dapat

mengurangi

terhadap tempat bangunan itu berada, tidak

pertukaran panas yang terik dengan udara

terkecuali penerapannya pada rusun.

dingin yang berasal dari dalam bangunan.

2. TINJAUAN PUSTAKA

4.

Menggunakan Alat Pembayang

Prinsip-prinsip Arsitektur Bioklimatik

Pasif

Menurut Kenneth Yeang

Pembayangan

sinar matahari

Konsep bioklimatik yang diusung

adalah esensi pembiasan sinar matahari

Ken

mendesain

pada dinding yang menghadap matahari

bangunan tinggi telah menjadi tolak ukur

secara langsung (pada daerah tropis berada

dari esttika desain massa dan prinsip-

disisi timur dan barat)

prinsip teknis.

5.

Menentukan Orientasi

1.

Orientasi bangunan sangat penting

oleh

Yeang

dalam

Desain Pada Dinding


Penggunaan

yang

untuk menciptakan konservasi energi.

dengan

Secara umum, susunan bangunan dengan

lingkungan dapat dijadikan sebagai kulit

bukaan menghadap utara dan selatan

pelindung. Material bangunan merupakan

memberikan

salah satu aspek dalam insolator panas.

mengurangi insulasi panas.

menghubungkan

mebran
bangunan

keuntungan

dalam

6.

Penggunaan Balkon

diawali

dengan

Karena adanya terasteras yang

masalah

yang

mengidentifikasi
ada

pada

tapak,

lebar akan mudah membuat taman dan

lingkungan sekitar, penghuni, serta

menanam tanaman yang dapat dijadikan

kendala yang ada pada rumah susun

pembayang sinar yang alami, dan sebagai

yang ada.

daerah

fleksibel

akan

mudah

untuk

B. pengumpulan data baik berupa data

menambah fasilitas fasilitas yang akan

primer maupun data sekunder yang

tercipta dimasa yang akan datang.

berkaitan dengan perancangan rumah

7.

susun di kota Malang.

Hubungan Terhadap Landscape


Menurut

dasar

C. metode kualitatif ataupun kuantitatif.

bangunan tropis seharusnya lebih terbuka

Analisa data yang dilakukan bertujuan

keluar dan menggunakan ventilasi yang

untuk menentukan solusi atau konsep

alami karena hubungan lantai dasar dengan

desain

jalan juga penting. Fungsi atrium dalam

ditemukan.

ruangan

pada

Yeang,

lantai

lantai

dasar

dapat

dari

permasalahan

yang

D. proses perancangan, langkah pertama

membuat bangunan menjadi lebih sejuk

yang akan dilakukan mengidentifikasi

8.

Membuat Ruang Transisional

masalah

Menurut Yeang, ruang transisional

menentukan penyelesaiaannya dengan

dapat diletakkan ditengah dan sekeliling

mengacu pada latar belakang yang

sisi bangunan sebagai ruang udara dan

ada.

yang ada di lokasi untuk

atrium.Ruang ini dapat menjadi ruang

E. mengumpulkan data yang ada, dimana

perantaran antara ruang dalam dan ruang

di dalam pengumpulan data terdapat

luar bangunan

metode survei dan studi komparasi


objek,
F. Pada tahap perancangan hal hal yang

3. METODE PERANCANGAN

dijadikan parameter mendesain rumah

Metode Umum dan Tahapan

susun sewa di Malang adalah hasil

Perancangan
Metode yang di gunakan pada
proses kajian perancangan Rumah Susun
dengan

konsep

bioklimatik

di

kota

Malang adalah :
A. menggunakan

metode

deskriptif

analisis. Metode pada perancangan ini

dari proses analisis dan sintesa, yang


akan di perhatikan dalam merancang
tata massa, sistem perletakan vegetasi
pada bangunan, sistem pencahayaan
dan penghawaan alami serta sistem
sanitasi yang dapat diterapkan pada
tapak, bangunan dan ruang. Teknik

penyajian gambar perancangan akan

mendapat sinar matahari sepanjang tahun.

menggunakan gambar secara digital

Garis peredaran matahari pada tapak dapat

dengan

dilihat pada info grafis pada gambar

menggunakan

aplikasi

autocad, sketchup, dan ecotect.


3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Lokasi objek perancangan berada
di

Kecamatan

Kedungkandang

Kota

Malang seperti yang ditunjukkan pada


gambar 4.1 berikut. Banyak potensi yang
terdapat di sekitar tapak. Potensi yang ada

Gambar Peredaran matahari tahunan


(Sumber : Analisis menggunakan software Ecotect
analysisi)

Eksisting Tapak :

adalah potensi alami, seperti keberadaan

- Tapak memanjang membentuk L pada

lahan hijau dan Sungai Brantas di sisi barat

arah Timur laut barat daya dan barat laut

dan utara tapak.

tenggara. Pembayangan yang terbentuk


dapat dilihat pada gambar 4.6 berikut.

Gambar 4.1 Batas-batas dan kondisi di sekitar tapak

Adapun batas-batas wilayahnya sebagai

Gambar 4.5 Pembayangan pada tapak

Analisis Angin

berikut :

Berdasarkan analisis menggunakan

Utara

: Makam, Kawasan Hijau

Timur

: Permukiman penduduk

software Vasari Analysis, arah angin pada

Selatan

: Permukiman penduduk

tapak bergerak dari arah utara-selatan.

Barat

: Kawasan Hijau

Sesuai dengan teori yang dipaparkan

Tapak memiliki luas 5500 m, dengan

Yeang, Apabila orientasi bangunan tegak

garis sempadan jalan 10 m serta

lurus dengan arah datangnya angin dengan

permukaan tanah datar tidak berkontur.

pola penataan massa yang beragam dan


perbandingan antara inlet-oulet sebesar 1:2

Analisis Matahari

maka, angin akan lebih leluasa masuk ke

Lokasi tapak yang tidak jauh dari


garis

khatulistiwa

membuat

tapak

dalam ruangan sehingga udara dalam


ruangan terasa lebih sejuk.

dari susunan ini adalah, kemudahan dalam


pemanfaatan

cross

ventilation

serta

kemungkinan kenyamanan termal yang


lebih baik dari skenario pertama. Seperti
yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 4.9 Arah gerak angin pada tapak


(Sumber : Analisis menggunakan Software Ecotec
Analysis)

Penerapan

Konsep

Bioklimatik

Menurut Kenneth Yeang Terhadap

Gambar 4.33 Arah sinar matahari & Aliran angin


pada massa skenario ke-2

Di

Rusun

skenario

terakhir,

penulis

mencoba mengkombinasikan kelebihan


a. Orientasi Bangunan
Untuk
bangunan

dari tatanan masa yang terbentuk di

menentukan

masa utama disesuaikan dengan bentuk

pertama

lahan dengan sisi permukaan terluas

berdasarkan arah peredaran matahari, dan

dihadapkan pada jalan. Namun untuk

yang kedua berdasarkan arah angin.

penempatan

dua

poin

kondisi

skenario pertama dan kedua. Penempatan

iklim

terdapat

berdasarkan

oreintasi

penting,

bukaan/jendela

diarahkan

ke

bentuk

ruangan

termodifikasi

Utara-Selatan,

tetap
sehingga

per-unit

menjadi

rusun

seperti

yang

ditunjukkan pada gambar 4.34.


Gambar 4.32 Kemungkinan tatanan massa
skenario ke-2

Gambar

tersebut

menunjukkan

posisi bangunan yang canggung karena


permukaan

terluas

bangunan

tidak

menghadap ke arah jalan, dan bangunan


menjadi

sangat

berbeda

Gambar 4.34 Arah sinar matahari & Aliran angin


pada massa skenario ke-3

Dari hasil analisis tersebut skenario

dengan

ketiga dipilih sebagai formasi tatanan

lingkungannya. Selain itu, pada skenario

massa rusun pada tapak, karena paling

ini tercipta ruang-ruang luar dengan

sesuai

bentuk yang tidak menguntungkan serta

bioklimatik, dan teori pemanfaatan ruang.

dengan

prinsip

arsitektur

potensi fungsi bernilai rendah cenderung


menjadi dead space. Sedangkan kelebihan

b. Penempatan Bukaan Jendela

Hal pertama yang dilakukan setelah


terbentuknya

masa

mentransformasi

adalah

permukaan

massa

menjadi fasad bangunan.


Permukaan ini menerima panas
yang berlebihan terutama dari sekitar jam
7 pagi hingga siang hari seperti yang

Gambar 4.38 fasad ditransformasi agar ventilasi


terhindar dari sinar matahari langsung

itunjukkan pada gambar 4.35.

Gambar 4.35 Sisi dinding yang menerima sinar


matahari langsung

Gambar 4.39 Insolation Analyisis pada gedung A

c. Hubungan Terhadap Landscape


Untuk mengurangi efek heat island
digunakan sistem pengangkatan massa
bangunan /panggung (kolong bangunan
dimanfaatkan sebagai parkir dan area
Gambar 4.36 Insolation Analyisis pada gedung A

Sesuai teori maka penempatan


bukaan jendelan harus menghadap ke arah
Utara-Selatan.
mentransformasi
tersebut

ke

Maka

penulis

bentuk

permukaan

arah

servis) sehingga memungkinkan tetap


terjadinya aliran udara dan evaporasi
terhadap lingkungan.

Utara-Selatan.

Transformasi yang diberlakukan tidak


mengubah

keseluruhan

bangunan

Gambar 4.42 Pengangkatan masa untuk mengurangi


heat island

melainkan hanya perunit rusun saja.


Dengan bentuk bangunan blok

Sehingga bentuk permukaan blok rusun


menjadi seperti yang ditunjukkan pada
gambar 4.32.

yang

sedikit

melayang

diharapkan

terbentuk aliran udara yang.


d. Membuat Ruang Transisional

Berdasarkan fungsi ruang yang


diprogram,

unit

rusun

yang

mampu

ditampung disetiap blok hanya sebanyak


tiga

lantai

Namun

Pasif
Shading device di rancang sebagai

penulis

alat pembayangan untuk membatasi panas

lantai

yang dihasilkan oleh matahari. Pada rumah

dengan tujuan untuk membuat ruang-ruang

susun ini konsep shading device dirancang

transisional. Menurut Yeang,1996 ruang

sedemikian rupa untuk dapat menontrol

transisional dapat menjadi ruang perantara

perolehan cahaya matahari sesuai dengan

antara ruang luar dan ruang dalam. Ruang

kebutuhan.

menambahnya

saja.

f. Menggunakan Alat Pembayang

menjadi

empat

ini dapat menjadi ruang udara yang


mampu mendorong angin masuk kedalam
ruangan. Sehingga blok bangunan berubah
bentuk menjadi seperti yang ditunjukkan
pada gambar 4.45.

Gambar 4.48 Shading device terhadap sinar matahari

g. Penyekat Panas
Gambar 4.45 aliran angin melalui ruang transisional

e. Penggunaan Balkon

Alat penyekat panas pada rusun ini


berupa jaring-jaring yang bisa sebagai

Balkon dirancang sebagai tempat

tempat tanaman rambat. Selain sebagai

penghuni rusun menanam tanaman yang

penyekat panas vegetasi vertikal ini juga

berfungsi sebagai penyaring udara dan

sebagai alat penyaring debu dan penyejuk

juga sebagai penyejuk ruangan. Pada

ruangan.

balkon terdapat shading yang berfungsi


sebagai alat pembayangan sinar matahari
yang masuk ke dalam ruangan.

Gambar 4.51 Alat penyekat panas

h. Desain Pada Dinding

Material yang digunakan rusun ini


selain dapat dijadikan sebagai pelindung

pengontrol

pencahaaan

dan

penghawaan alami..

dan juga harus efisien. Penggunaan batu

3. Hubungan terhadap landscape, untuk

bata pada dinding dengan nilai absorbtansi

mengurangi efek heat island digunakan

radiasi

sistem pengangkatan massa bangunan

matahari

0,89

dan

menggunakan cat berwarna putih dengan

/panggung

nilai absorbtansi radiasi = 0,30 dengan

dimanfaatkan sebagai parkir dan area

menggunakan

tersebut

servis) sehingga memungkinkan tetap

penyerapan radiasi matahari yang dapat

terjadinya aliran udara dan evaporasi

membawa panas akan semakin kecil .

terhadap lingkungan.

4.

material

4. Membuat

SIMPULAN DAN SARAN


hasil

dari

studi

ini,konsep arsitektur bioklimatik yang


merupakan
tangap

konsep

iklim

desain

terhadap

bangunan

bangunan

itu

berada,tidak terkecuali penerapannya pada


rusun. Proses perancangan di awali dengan
mengaplikasikan

teori

ruang

bangunan

transisi,

dengan

mengkosongkan beberapa bagian blok

Simpulan
Berdasarkan

(kolong

arsitektur

bioklimatik dari Kenneth Yeang.

untuk menciptakan ruang transisional


yang berfungsi sebagai perantara ruang
luar dan ruang dalam yang menjadi
ruang udara yang mampu mendorong
angin masuk kedalam ruangan. Pada
rumah susun ini ruangan ini berfungsi
sebagai ruang bersama pada tiap lantai.
5. Penggunaan balkon yang berfungsi
sebagai

tempat

penghuni

rusun

1. Orientasi bangunan ini dilakukan untuk

menanam tanaman, dengan tanaman

menentukan peletakan bukaan kamar,

yang berfungsi menyejukan ruangan

yang diintegrasikan dengan kondisi

dan pada rumah susun (permukiman

eksisting iklim terkait arah matahari,

vertikal) penggunaan balkon ini sebagai

dan arah angin. Tujuan utamanya

pengganti halaman yang ada pada

adalah untuk mengarahkan bangunan

rumah pada umumnya (permukiman

agar

horisontal).

terhindar

matahari

dari

secara

penchayaan
langsung,

dan

memasukkan udara menuju bangunan.


2. Penempatan

bukaan

jendela

6. Menggunakan alat pemybangan pasif,


Pengaplikasian shading device pada
bangunan

rumah

susun

sebaiknya

menghadap utara selatan. Dengan

diletakkan pada sisi yang terkena

sudut kemiringan bukaan dapat sebagai

cahaya

matahari

langsung

atau

perletakannya

untuk

menanggapi

masalah yang ada dalam tapak.

vegetasi dan penghuni yang akan


menempati

rumah

susun

tersebut.

7. Penyekat panas, dengan menggunakan

Karena akan ber integrasi kondisi

jaring jaring sebagai tempat tanamn

eksisting dengan konsep yang akan

rambat

dirancang..

selain

sebagai

insulation

terhadap sinar matahari juga sebagai

Saran

untuk

pemerintah

terkait

penyaring debu. Alat ini terpasang

meskipun

hanya pada lantai 1 dan 2 saja

untuk orang berpenghasilan menengah

dimaksimalkan untuk menyaring debu

ke bawah, sebaiknya rumah susun yang

yang terbawa oleh angin bawah.

akan

8. Desain

Pada

merupakan

dinding

aspek

isolator

rumah

susun

sasarannya

dibangun

selanjutnya

material

memperhatikan penghuni yang akan

panas.

tinggal, agar kebutuhan ruang sesuai

Pemilihan material yang tepat harus

dengan kebutuhan penghuni.

juga mengutamakan efisiensi karena


bangunan rumah susun ini merupakan

Catatan

bangunan bersubsidi. Penggunaan batu

berdasarkan skripsi penulis dengan

bata dan cat bewarna putih mempunyai

Pembimbing I Beta Suryokusumo dan

nilai

Pembimbing II Subhan Ramdlani

absorbtansi

terhadap

radiasi

artikel

ini

disusun

matahari paling tinggi.


Daftar Pustaka

Saran
Penulisan skripsi ini diharapkan

Yeang,

susun yang tanggap iklim.


Bagi pihak yang ingin mengaplikasikan
konsep tanggap tanggap iklim ini, ada
beberapa saran yang diberikan. Pemberian
saran ini bertujuan agar pengaplikasiannya
bisa maksimal dan kontekstual:

saranya

adalah

Skyscraper
Considered,

London, Academy 1996


Yeang, Ken, Bioc!imatic Skyscrapers,
London, Artemis London Ltd, 1994
Yeang,

Ken,
Bioclimatically

The

Skyscraper
Considered,

London, Academy, 1996


Givoni B. (1994), Climate Considerations
in Building and Urban Design,

Penerapan konsep ini pada desain yang


lain

The

Bioclimatically

dapat memberikan gambaran bagi pihakpihak yang mencoba membangun rumah

Ken,

Van Nostrand Reinhold, New York

memahami

Krishan, A., Baker, N., Yannas, S.,

karakteristik lingkungan yang akan

Szokolay, S.V. (2000), Climate

dibangun baik secara lokasi, iklim,

Responsive Architecture, McGraw

Hill Publishing Company Limited,


New Delhi.
Olgyay, V. (1992), Design With Climate:
Bioclomatic

Approach

Architectural

Regionalism,

to
Van

Nostrand Reinhold, New York


http://Koran Arsitektur Arsitektur
Bioklimatik.html, (diakses tanggal
28 Januari 2013)
www.Desain-Gaya-Arsitektur-BangunanYang-Tanggap-TerhadapLingkungan-Beriklim-Tropis.co.id
(diakses tanggal 10 Februari 2013)
http://rusunamirusunawa.blogspot.com/2011/11/pe
raturan-rusun.html.

(diakses

tanggal 18 Februari 2013)


www.skyscrapers.com

(Menara

Mesiniaga) (diakses tanggal 28 Juni 2013)


www.mesiniaga.com (diakses tanggal 28
Juni 2013)
www.smartarch.nl (Ken Yeang / Menara
Mesiniaga) (diakses tanggal 28
Juni 2013)
www.ellipsis.com

(projects-Menara

Mesiniaga) (diakses tanggal 27


September 2013)
www.archnet.org
Oktober 2013)

(diakses

tanggal

20