Anda di halaman 1dari 9

1.

EFUSI PLEURA
BATASAN
Kumpulkan cairan di rongga pleura
PATOFISIOLOGI DAN ETIOLOGI
Transudat
Merupakan jenis cairan ekstraseluler dalam rongga pleura yang timbul secara
pasif.
Berat jenis cairan < 1,015, dengan protein < 2 3 g/dl.
Terjadi sebagai akibat perubahan faktor sistemik yang mempengaruhi
pergerakan cairan pleura.
Contoh:
-

Peningkatan cairan interstisial pulmonal dan peningkatan tekanan kapiler


pleura viseral pada gagal jantung kiri
Penurunan tekanan onkotik.

Eksudat
Terjadi akibat perubahan faktor lokal sehingga terjadi akumulasi cairan
pleura.
Cairan dalam rongga pleura yang disebabkan oleh penyakit infeksi atau
neoplasma.
Umumnya kadar protein > 3 g/dl. Dapat berwarna kuning, purulen ataupun
kemerahan, dengan atau tanpa sel-sel atau bakteri.
Secara umum dapat disebabkan oleh inflamasi, infeksi, neoplasma.
GEJALA KLINIS
-

Sesak napas merupakan gejala utama, kadang-kadang disertai perasaan


tidak enak di dada. Bila cairan pleura sidikit, maka tidak dapat dideteksi
dengan pemeriksaan klinis, tetapi dapat dideteksi dengan radiografi.
Kadang-kadang disertai nyeri pleuritik atau batuk nonproduktif, tetapi
efusi pleura lebih sering merupakan penyulit pneumoni (efusi
parapneumoni).

Pemeriksaan fisik
-

Pada inspeksi : gerak napas tertinggal pada sisi efusi, sela iga nampak
melebar dan menonjol.

Pada perkusi : suara ketok terdengar redup sesuai dengan luas efusi, dapat
membentuk garis ellys damoiciere, tanda-tanda pendorongan
mediastinum, sela iga melebar.
Pada palpasi : fremitus raba menurun.
Pada auskultasi : suara napas menurun atau menghilang. Suara bronkial
dan egofoni sering dijumpai tepat di atas efusi.

Foto toraks
-

Foto toraks PA atau AP duduk, untuk melihat cairan pleura. Cairan


cenderung menuju ke tempat rendah. Tanda awal radiologi adalah sinus
frenikokostalis tumpul.
Jumlah cairan pleura > 300cc tampak pada foto toraks.
Bila jumlah cairan sedikit dapat terlihat pada foto toraks dalam posisi
dekubitus.
Efusi pleura yang terlihat pada foto toraks berbentuk kantong
(pocketed/loculated) masih perlu dibedakan dengan gambaran penyakit
lain. Mungkin diperlukan pemeriksaan penunjang lain seperti USG toraks
atau CT scan toraks.
Pada efusi minimal tampak sinus kostofenikus tumpul.
Efusi dalam jumlah banyak menyebabkan pendorongan mediastinum,
kemungkinan efusi disertai kolaps paru.

Makroskopis
-

Aspirasi cairan dan biopsi pleura dapat digunakan untuk mendiagnosis


penyakit dan sebagai bahan biakan.
Kadang diperlukan pemeriksaan torakoskopi untuk membantu diagnosis.
Makroskopis cairan efusi pleura transudat berwarna bening atau kuning,
cairan eksudat berwarna kuning jernih, purulen, kemerahan, kecoklatan.
Bila berwarna putih seperti susu, menunjukkan ada cairan chylous.

Mikroskopis
-

Cairan pleura dapat digunakan untuk pemeriksaan sitologi dan hitung


jenis.
Efusi yang banyak mengandung sel darah merah, diduga karena keganasan
atau infark paru. Bila banyak mengandung sel PMN menunjukkan infeksi
bakterial. Limfosit yang ada dalam cairan pleura tidak khas untuk
tuberkolosis. Eosinofil dalam jumlah banyak. Kemungkinan ada penyakit
pada jaringan ikat atau efusi pleura eosinofilik.

Laboratorium
-

Protein > 3 g/dl: eksudat, < 3 g/dl: transudat


Rasio protein efusi: serum > 0,5: eksudat, rasio protein efusi: serum < 0,5:
transudat.

Glukosa < 60 g/dl: tuberkolosis, efusi pleura rheumatoid


Rasio LDH efusi: serum > 0,6: eksudat, rasio LDH efusi: serum < 0,6:
transudat
Kolesterol, trigliserida : chylothorax
PCR (Polimerase chain reaction) dan ADA (adenosine deaminase) untuk
tuberkolosis
Kultur dan tes sensivitas cairan pleura untuk kecurigaan infeksi bakterial
Sitologi cairan pleura untuk keganasan.

Efusi pleura lainnya


Chylothorax adalah efusi pleura yang disebabkan oleh kebocoran duktus
torasikus. Kebocoran ini dapat disebabkan trauma, keganasan (limfoma maligna),
atau penyumbatan oleh filariasis di daerah tropik.
DIAGNOSIS
Anamnesis dijumpai keluhan sesak napas.
Pemeriksaan fisik ada gerakan asimetris sisi sakit tertinggal, sela iga melebar,
keredupan sisi sakit, fremitus raba menurun pada sisi sakit, suara napas menurun
pada sisi sakit.
Foto toraks tampak gambaran cairan efusi pleura. Aspirasi cairan pleura
memastikan ada efusi pleura. Bila diperlukan dapat dibantu USG toraks atau CT
scan toraks.
DIAGNOSIS BANDING
-

Konsolidasi paru karena pneumoni


Neoplasma karena kolaps paru
Fibrosis pleura

PENATALAKSANAAN
-

Aspirasi cairan pleura untuk mengurangi keluhan sesak napas. Dianjurkan


untuk melakukan aspirasi sedikit demi sedikit, sebanyak 500-1000 cc,
unutk mencegah edema paru akibat pengambilan cairan yang banyak dan
cepat.
Efusi pleura maligna yang cepat reakumulasi dianjurkan pleurodesis.
Sebelum bahan sklerosing dimasukkan ke rongga pleura, dipasang chest
tube, lalu tetracylin HGI dosis 20 mg/kgBB yang dilarutkan dalam 50 cc
cairanfisiologis (garam faali). Penderita diupayakan berubah posisi atau
digoyang supaya merata, dilakukan pengisapan dengan tekanan negatif
kemudian chest tube diklem selama 24 jam. Bahan pleurodesis yang lain
seperti talk, dekstrosa 40%, dll.
Selain itu dapat diberikan kemoterapi intrapleura pada proses keganasan
seperti bleomycin, 5 flurouracil, cysplatinum.

PENYULIT
Empiema
PROGNOSIS
Prognosis tergantung penyakit dasar.
Biasanya sembuh setelah diberi pengobatan adekuat terhadap penyakit dasar.

DAFTAR PUSTAKA
Chesnutt MS, Prendergast TJ. 2003. In : Current medical diagnosis & treatment
2003. Editors: Tierney LM, McPhee SJ, Papadakis MA. 42 th. Ed. New York;
McGraw-Hill, 216-311.
Light R W. 2001. Clinical manifestations and useful tests. In: Pleural diseases. 4 th.
Ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins, 42-86.
Rosenbluth DB. 2002. Pleural effusions: Nonmalignant and malignant. In:
Fishmans Manual of pulmonary diseases and disorders. 3rd ed. Editors:
Fishman AP, Fishman JA, et al. McGraw-Hill Companies, 487-506.

2. PNEUMOTORAKS
BATASAN
Pneumotoraks adalah akumulasi udara pada rongga disertai kolaps paru.
PATOFISIOLOGI DAN ETIOLOGI
Tekanan intrapleura negatif, tekanan alveoli positif, bila terjadi hubungan antara
rongga pleura dengan alveoli, udara akan bergerak dari alveoli ke dalam rongga
sampai terjadi keseimbangan tekanan atau hubungan tertutup. Kejadian yang sama
pada hubungan antara dinding dada dan rongga pleura.
Pneumotoraks dibagi menjadi 3:
1. Pneumotoraks spontan :

Primer : bila tidak dijumpai penyakit primer, biasanya pada laki-laki muda,
tinggi, kurus, merokok.
Sekunder : bila terdapat penyakit primer di paru, seperti PPOK, asma,
sarkoidosis, tuberkolosis, fibrosis paru idiopatik, dll.
2. Pneumotoraks traumatik.
3. Pneumotoraks iatrogenik.
Pembagian penumotoraks berdasarkan jenis fistel bronkopleura :
1. Pneumotoraks terbuka :

Bila robekan pleura viseralis tetap terbuka sehingga tekanan di dalam


rongga pleura sama dengan tekanan udara luar.
2. Pneumotoraks tertutup :
Bila robekan menutup setelah udara yang masuk cukup banyak.
3. Pneumotoraks ventil / tension pneumothorax :
Bila terjadi mekanisme check valve dimana udara dapat masuk ke rongga
pleura tetapi tidak dapat keluar lagi, dengan akibat terjadi pergeseran
mediastinum ke sisi sehat.
Hemopneumotoraks, hidropneumotoraks, piopneumotoraks bila rongga pleura
berisi udara dengan darah, cairan pleura jernih atau nanah.
GEJALA KLINIS
-

Sesak napas ringan sampai berat


Nyeri dada ringan sampai berat
Gagal napas dan mungkin disertai sianosis

Pemeriksaan fisik
-

Pada pneumotoraks ventil sering terjadi kolaps sirkulasi akibat pergeseran


mediastinum.
Pada inspeksi didapatkan gerak napas asimetris, sisi sakit tertinggal
Pada perkusi didapatkan suara hipersonor sisi sakit

Pada auskultasi didapatkan suara napas menurut sampai menghilang pada


sisi sakit

Foto toraks
-

Tampak garis kolaps paru. Pada pneumotoraks parsial dengan lokasi di


anterior atau posterior, batas garis kolaps mungkin tidak terlihat. Bila
diperlukan dapat dilakukan foto toraks lateral.
Mediastinal shift dapat terlihat pada foto toraks atau fluoroskopi pada saat
inspirasi atau ekspirasi, terutama dapat terjadi pada pneumotoraks ventil.

DIAGNOSIS BANDING
1.
2.
3.
4.
5.

Pleurisi dan perikarditis


Infark miokard dan emboli paru
Bronkitis kronis dan emfisema
Hernia diafragmatika
Dissecting aneurysma aorta

PENATALAKSANAAN
Terapi tergantung berat ringan pneumotoraks dan penyakit dasar.
Pneumotoraks spontan primer stabil
Kolaps paru kecil (<15-20%): observasi, suplemen O2 untuk mempercepat
reabsorbsi.
Kolaps luas dan ada keluhan : aspirasi, kateter toraks.
Pneumotoraks spontan sekunder
Kateter toraks
Torakoskopi dengan stapling bleb dan abrasi pleura atau pleurodesis dengan
bahan sklerosing untuk mencegah relaps.
Pneumotoraks ventil
Dekompresi dengan jarum besar yang dimasukkan ke rongga pleura
midklavikula ruang antar iga 2 depan, dilanjutkan pemasangan kateter toraks
Setelah pemasangan kateter toraks 5-7 hari paru masih kolaps atau bronkopleura
fistula menetap, dianjurkan torakoskopi/VATS
Analgetika untuk mengobati nyeri.
PENYULIT
-

Pneumotoraks ventil dapat berakhir fatal bila terjadi kolaps sirkulasi


Gagal napas

Hemopneumotoraks
Empiema
Atelektasis
Pneumotoraks berulang/rekuren
Emfisema subkutis atau mediastinum
Edema paru reekspansi

PROGNOSIS
-

Baik, apabila segera dilakukan pertolongan dan pengobatan intensif,


terutama yang mengenai penderita muda yang sehat.
Tergantung penyakit dasar

DAFTAR PUSTAKA
Baumann MH, Stranger C, Heffner JE, et al. 2001. Management to spontaneous
pneumothorax. An American College of Chest Physicians Delphi Consensus
Statement. Chest, 119:590-601.
Chesnutt MS, Prendergast TJ. 2003. Lung. In : Current medical diagnosis &
treatment 2003. Editors: Tierney LM, McPhee SJ, Papadakis MA. 42 th. Ed.
McGraw-Hill, 216- 311
Light RW. 2001. Pneumothorax, In: Pleural diseases. 4th ed. Philadelphia;
Lippincott Williams & Wilkins, 284-319.
Rosenbluth DB. 2002. Pneumothorax. In: Fishmans Manual of pulmory diseases
and disorders. Editors: Fishman AP, Elias JA, Fishman JA, et al. 3 rd. Ed.
McGraw-Hill Companies, 507-512.