Anda di halaman 1dari 9

TUGAS 2 ELEMEN MESIN 1

KERUSAKAN PASAK PADA TRANSMISI


MOBIL

NAMA

: DHANU PRASETYO

NIM

: 111 03 1097

JURUSAN

: TEKNIK MESIN (S1)

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI


INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI
AKPRIND YOGYAKARTA

Transmisi
Transmisi Kendaraan Ringan
Secara umum pembagian transmisi pada mobil dapat digolongkan seperti bagan di bawah ini :
Namun yang termasuk transmisi manual adalah pada no.I dan II, yaitu Selective and Planetary Gear
Transmission.
1. Selective Gear Transmission
Terdiri dari beberapa model, yaitu : model Sliding Mesh, Constant Mesh dan Syncromesh. Selective
Gear Transmission mempunyai konstruksi yang sederhana, kesukaran yang timbul juga relatif ringan,
biaya produksinya rendah, dan dewasa ini banyak sekali digunakan pada kendaraan bermotor (mobil).
Sebaliknya, pada transmisi model ini terdapat beberapa kerugian, diantaranya perbandingan gigigiginya tidak kontinu dilakukan dalam beberapa tingkat (dari 3 sampai 5 tingkat) diperlukan setiap
kali pemindahan gigi apabila keadaan jalan berubah dan menimbulkan suara.
a. Tipe Sliding Mesh
Model ini dilengkapi dengan gigi-gigi yang meluncur (sliding gear) dari berbagai macam ukuran yang
terpasang pada poros outputnya. Dengan meluncurkan gigi-gigi ini agar berkaitan dengan gigi susun
(counter gear) untuk memperoleh pengaturan yang sempurna, bermacam perbandingan dapat
diperoleh. Kombinasi yang umum pada transmisi model ini adalah 3 sampai 5 tingkat ke depan/maju
dan 1 tingkat untuk mundur.
Gambar berikutnya memperlihatkan konstruksi transmisi model sliding mesh 3 tingkat untuk maju
dan 1 tingkat untuk mundur. Apabila garpu pengatur gigi transmisi (gear shift fork) digerakkan ke arah
1 oleh tuas pengatur gigi (gear shift lever), sliding gear (2) yang terpasang pada output shaft (1)
tertarik ke depan agar berkaitan dengan low speed gear (9) pada counter shaft (8), menimbulkan
perputaran input shaft yang dipindahkan dengan urutan (6) (9) (2) untuk memutarkan output shaft.
Pengaturan gigi ini adalah salah satu yang menghasilkan kecepatan terendah dari input shaft dan
transmisi dapat dikatakan low (gigi 1) apabila pada keadaan seperti ini. Apabila garpu pengatur gigi
(gear shift fork) digerakkan ke arah 2, (2) dan (9) tidak berkaitan dengan second sliding gear (3)
didorong ke belakang agar berkaitan dengan second speed gear (10). Perputaran input shaft
dipindahkan dengan (6) (10) (3) untuk memutarkan output shaft. Dalam keadaan seperti ini
disebut second atau kedua (gigi 2).
Apabila garpu pengatur gigi digerakkan ke arah 3, (3) dan (10) tidak berkaitan, tetapi (3) dengan
clutch (4) berkaitan, dengan demikian input dan output shaft menjadi satu dan berputar bersamaan.
Pada posisi ini transmisi disebut posisi top (gigi 3). Apabila garpu pengatur gigi digerakkan ke arah
depan R, sliding gear (2) digerakkan ke belakang berkaitan dengan reverse idle gear (12). Perputaran
input shaft dipindahkan dalam urutan (6) (7) (11) (12) (2) untuk memutarkan output shaft
dalam arah putaran mundur.
Di antara selective gear transmission, tipe sliding mesh inilah yang paling sederhana konstruksinya.
Dikarenakan belum adanya ukuran yang tepat untuk memudahkan perkaitan gigi, maka cara kopling
ganda (double clutching) harus dilakukan agar pemindahan gigi-gigi dapat berlangsung dengan
sempurna. Selain itu gigi-gigi ini cenderung menimbulkan suara berisik. Karena adanya kesukaran
tersebut, dewasa ini tidak dipergunakan lagi. Adapun contoh mobil yang menggunakan model
transmisi sliding mesh adalah sedan Holden, Daihatsu, Tronton, Suzuki Fronte dan lain-lain.
b. Tipe Constant Mesh
Pada transmisi model ini, roda gigi yang berkaitan harus dapat bergerak pada putaran yang sama. Jika
tidak, gigi-gigi akan berbunyi dan tidak berkaitan dengan mudah. Model constant mesh telah
dikembangkan untuk membatasi kekurangan pada tingkat tertentu. Gambar berikut menunjukkan
sebuah transmisi yang gigi 3 dan 4 nya (ketiga dan ke empatnya) terdiri dari model constant mesh.
Pada model ini, gigi input shaft dan counter gear ada dalam perkaitan yang tetap (constant mesh).
Gigi ke-3 pada output shaft dikondisikan dapat berputar bebas di shaft. Pada gigi kopling (clutch gear)
diberi alur-alur dan diposisikan sedemikian rupa (pada poros output) sehingga dapat digerakkan
sepanjang alur-alur untuk berkaitan dengan alur pada roda gigi constant mesh yang selalu berputar

pada dudukannya. Sebagai contoh, apabila gigi-gigi ingin dipindahkan pada tingkat 3, gigi kopling
didorong ke belakang agar dapat berkaitan dengan bagian dalam gigi ketiga pada poros output.
Kemudian, momen mesin akan berpindah dalam urutan : input shaft counter shaft gigi ketiga (pada
output shaft) clutch gear output shaft.
c. Tipe Synchromesh
Transmisi model ini, mempunyai banyak keuntungan untuk memungkinkan pemindahan gigi dengan
lembut dan cepat tanpa menimbulkan bahaya pada gigi-gigi dan tidak memerlukan pelayanan dengan
kopling ganda (double clutching).
Mobil yang menggunakan tipe sinkromesh adalah : sedan Datsun 120Y, Suzuki Carry 1.6, Suzuki
Carreta 1.0, Toyota Corola, Toyona Corona, Benz 200, Mazda 626, BMW 520i, dll.
1) Prinsip Konstruksi Transmisi Sinkromesh
Melihat pada gambar diatas memindahkan gigi-gigi dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang
rendah pada saat mobil berjalan, pertama kopling dibebaskan dan gigi diposisikan pada netral (bebas).
Bagian-bagiannya terdiri dari: gigin susun (counter gear) dan gigi 3 berada pada kecepatan asli yang
tertinggi tetapi kecepatan gigi 3 dalam hubungan dengan clutch hub sleeve ada lebih rendah dan
menjadi lebih lambat dengan perlahan-lahan karena adanya berbagai macam tahanan.
Sebaliknya, clutch hub sleeve dan out put shaft yang disatukan untuk menggerakan roda disesuaikan
dengan kecepatan kendaraan dan tidak akan menjadi lambat. Karena itu, terjadi perbedaan putaran
yang besar pada clutch hub sleeve dan gigi 3. Dalam hal ini, pada sliding gear type, putaran gigi ke 3
akan bertambah oleh adanya kopling ganda untuk disesuaikan dengan putaran clutch hub sleeve. Pada
type sinkromes, sebagai ganti mempertinggi putaran mesin dilakukan dengan hub sleeve. Sebuah
kopling dengan bentuk kerucut (conical clutch) disebut synchronizer ring digunakan untuk
menghasilkan gaya gesek antara clutch hub sleeve dan gigi 3 yang berputar pada kecepatan yang sama
kemudian gigi (alur-alur) akan berkaitan. Ini adalah prinsip kerja transmisi sinkromesh.
2) Bagian-bagian utama transmisi sinkromesh
a) Clutch hub berkaitan dengan output shaft pada alur-alurnya.
b) Clutch hub sleeve berkaitan dengan bagian luar. Dilengkapi dengan alur bagian luar untuk garpu
pengatur (shift fork).
c) Synchronizer ring, berada disamping bagian gigi yang tirus pada output shaft. Ring ini terbuat
dari tembaga paduan.
d) Baji sinkromesh (synchromesh shifting key), dipasangakn di tiga tempat dibagian luar diameter
clutch hub dan ditekan oleh pegas-pegas pada hub sleeve.
3) Cara kerja transmisi sinkromesh
Dalam keadaan netral, gigi-gigi dalam keadaan perkaitan yang tetap dengan gigi susun tetapi dapat
berputar bebas pada output shaft. Output shaft, clutch hub, dan clutch hub sleeve masing-masing
beralur. Dengan demikian, semua dapat berputar sama. Ring-ring sinkromesh berada dalam keadaan
bebas, tetapi ujung-ujung shifting key ditempatkan pada tiga tempat dari tiap ring-ring.
Apabila gigi-gigi berhubungan (shifting gear) :
a) Apabila tuas pengatur didorong menurut arah panah, clutch hub, dan shifting key agar berkaitan
pada bagian yang menonjol di bagian tengahnya. Dengan demikian, tenaga akan berpindah ke shifting
key. Kemudian, shifting key akan mendorong synchronizer ring pada gigi tirus (core gear) yang mana
gigi-gigi ini mulai cepat putarannya. Dalam waktu yang bersamaan synchronizer ring akan ditarik
oleh gigi. Dengan demikian, clutch hub dan synchronizer ring akan saling berhadapan dengan bagianbagian yang menonjol keluar dari jajaran (gambar 1)).
b) Apabila shift lever didorong sedikit keras, clutch digeserkan lebih lanjut, maka clutch tidak
berkaitan dengan shifting key (keras). Synchronizer ring selanjutnya akan diseret dan mengakibatkan
clutch hub synchronizer ring saling mendorong dengan kuat seperti ditunjukkan pada gambar berikut.
Selama tenaga dipindahkan, putaran gigi ke 3 akan bertambah, hingga akhirnya clutch hub dan gigi ke
3 berada pada kecepatan yang sama (gambar 2)).
c) Apabila tuas pengatur didorong lebih lanjut, dan apabila clutch hub disinkronisasikan dengan gigi
3, synchronizer ring menjadi bebas dalam arah putarannya. Dengan demikian, clutch hub telah
berkaitan dengan gigi ke 3 (gambar 3)).
2. Planetary Gear Transmission

Transmisi model ini biasanya disebut transmisi otomatis. Yang termasuk transmisi model ini adalah
Overdrive Transmission. Overdrive adalah suatu bagian untuk meningkatkan kecepatan yang
memungkinkan propeller shaft berputar lebih cepat dari putaran mesin. Overdrive yang diuraikan ini
berkisar pada overdrive yang digunakan Toyota pada Crown Deluxe.
Perlengkapan overdrive pada intinya adalah transmisi planet 2 kecepatan yang dipasang di belakang
transmisi biasa. Fungsinya, untuk mempercepat putaran poros jalan terhadap putaran poros input dari
transmisi biasa.
Overdrive dilengkapi dengan perlengkapan listrik untuk menjalankannya yang biasanya terdiri dari 1
buah solenoid, 1 buah sakelar governor yang peka terhadap perubahan kecepatan, 1 buah relay, dan 1
buah sakelar penyepak (kick-down switch).
a. Kegunaan Overdrive
1) Memungkinkan kendaraan berjalan dengan tenang dan aman.
2) Penggunaan bahan bakar yang lebih hemat.
3) Daya tahan mesin akan bertambah/lebih cepat.
4) Mengurangi putaran motor sekitar 30%.
5) Bagi pengemudi yang ahli dalam menggunakan overdrive dapat menggunakan transmisi 3 speed
sebagai 5 speed.
6) Tidak terdapat keluhan.
b. Cara Kerja Overdrive
Jika kecepatan kendaraan mencapai 50 km/jam (31 mph), perlengkapan listrik akan bekerja dan
sekaligus terhubung dengan overdrive. Pada waktu yang bersamaan, lampu tanda (indicator lamp)
yang terdapat pada dashboard akan menyala. Pada kecepatan ini overdrive dapat dihubungkan. Pada
tingkat kecepatan lampu tanda menyala disebut cut in speed.
Sebaliknya, jika putaran mesin menurun, overdrive tidak akan melepas pada kecepatan 50 km/jam (31
mph). Di sini terdapat perbedaan sekitar 8 km/jam (5 mph). Dengan kata lain, overdrive tidak akan
melepaskan (bebas) hingga kecepatan menurun sampai 42 km/jam (26 mph). Pada kecepatan ini
overdrive akan terlepas secara otomatis, kondisi ini biasa disebut cut out speed. Adanya perbedaan 8
km/jam (5 mph) antara cut in speed dan cut out speed ini disebut histeresis. Tanpa adanya perbedaan
ini, kendaraan pada kecepatan 50 km/jam (31 mph) akan timbul kesukaran pada waktu melakukan
pertukaran gigi-gigi, berganti-ganti secara terus menerus antara overdrive dan kecepatan tinggi yang
normal.
Jika tuas pengontrol (control lever) yang terdapat pada bagian depan pengemudi ditarik, sakelar
pengunci (lock-nut switch) akan bekerja dan overdrive akan bebas. Sistem kelistrikan overdrive akan
terputus dan overdrive tidak akan berhubungan sekalipun kecepatan cut in (Cut in speed).
Mobil akan tetap berjalan dalam hubungan langsung dan normal (normal direct drive). Jika mobil
berjalan dengan kecepatan overdrive, mobil memerlukan akselerasi yang cepat. Apabila kendaraan
berjalan mendaki, yang membutuhkan tenaga, tekanlah pedal akselerasi (pedal gas) dalam-dalam dan
overdrive secara otomatis akan bebas dan memungkinkan mobil berjalan pada tingkat hubungan
langsung (direct drive), ini yang biasa disebut kick-down. Jika pedal akselerasi ditekan dalam-dalam
pada waktu mobil berjalan pada kecepatan tinggi (kira-kira 110 km/jam atau 70 mph), overdrive akan
tetap tidak terhubung sebab dilengkapi dengan perlengkapan overdrive relay yang berfungsi mencegah
mesin dari overrunning.
c. Konstruksi Overdrive
Dapat dibagi menjadi : mekanisme free wheeling, mekanisme planetary gear, dan mekanisme
pengontrol (control mechanism).
Perpindahan Daya Overdrive
Perpindahan daya melalui unit overdrive dapat diatur dalam 3 kondisi, yaitu : locked out (penguncian),
direct (langsung) + free wheeling (roda bebas), dan overdrive.
1) Locked Out (Penguncian)
Dalam hal ini, penguncian dilakukan oleh pengemudi dengan memindahkan/menggerakkan tuas ke
kanan sehingga gigi matahari berhubungan dengan sangkar roda gigi (pinion cage). Dengan demikian
output shaft akan memutarkan roda dengan perbandingan putaran 1 : 1.
2) Direct, Free Wheeling (Langsung, Roda Bebas)

Dalam keadaan ini :


- Motor akan memutar roda, dalam hal ini putaran motor akan sama besar dan searah dengan putaran
poros gardan.
- Motor tak memutar roda, set luar dari unit di atas injakan kopling berputar bebas, sehingga poros
gardan berputar lebih cepat dari putaran motor.
3) Overdrive
Pada keadaan ini motor akan memutar roda, patok solenoid masuk pada pelat control, sehingga pelat
control diam, karenanya gigi matahari juga dalam keadaan diam. Putaran poros gardan berputar lebih
cepat dari putaran motor.
A.
PrinsipKerjadan Cara Kerja Pemindahan Tenaga TransmisiManual
1. Prinsip Kerja Transmisi Manual
Momen yang dihasilkan mesin tetap sementara tenaga bertambah sesuai dengan putaran mesin. Saat
kendaraan menempuh jalan menanjak atau tinggi membutuhkan momen yang besar, tidak seperti saat
kendaraan menempuh jalan rata karena pada saat ini momen mesin cukup untuk menggerakan
kendaraan. Maka dari itu kita membutuhkan beberapa bentuk mekanisme peubah momen, yaitu
transmisi. Transmisi merupakan bagian dari sistem pemindah daya (power train) yang berfungsi untuk
memindahkan tenaga mesin dari kopling ke propeler shaft dengan perantara roda gigi ke roda-roda
penggerak. Transmisi Manual adalah sistem transmisi yang cara pengoperasiannya secara manual atau
dengan menggunakan bantuan tangan yang bekerja di lingkungan basah atau kering. Komponen lain
power train selain transmisi adalah kopling, poros propeler, gardan dan axle shaft. Sedangkan momen
terhadap suatu titik adalah besar gaya dikalikan dengan jarak tegak lurus antara gaya terhadap titik.
v Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh transmisi adalah sebagai berikut :
Waktu memindahkan tenaga harus cepat, mudah dan tidak berbunyi.
Kecil, ringan, tidah mudah rusak dan mudah dioperasikan/diperbaiki.
Ekonomis dan mempunyai efisiensi tinggi.
Kualitas bahan harus baik.
a. Kombinasi Roda Gigi (Gear Combination)
1) Kombinasi dasar untuk roda gigi paralel
Jumlah Gigi
A<B
A= B
A>B
A= B
Kombinasi Roda
Gigi
Kecepatan B
Sebanding(C =
Berkurang
Sebanding
Berkurang
terhadap A
idle gear)
Momen B
Bertambah
Sebanding
Bertambah
Bertambah
terhadap A
Putaran
Berlawanan
Berlawanan
Berlawanan
Sama
Langsung
Ket. :
A : Roda gigi penggerak
B : Roda gigi yang digerakkan
2) Kombinasi dasar roda gigi Transmisi
Kedua roda gigi dikombinasi seperti pada gambar di bawah ini, arah putaran dari input shaft (A : sisi
mesin input shaft) akan berbalik arah pada output shaft (B : sisi output shaft & propeler shaft).
Dalam transmisi ini 2 pasang roda gigi dikombinasikan seperti pada gambar di bawah, untuk
memperoleh putaran output shaft searah dengan input shaft.
Mesin tidak dapat berputar pada arah kebalikannya karena terbatas keadaan, roda gigi idle E dipasang
di antara roda gigi C dan D seperti gambar di bawah, untuk menggerakkan kendaraan ke arah mundur.
Perbandingan roda gigi dalam suatu kombinasi ini dinyatakan sebagai berikut :

Roda gigi E disebut reverse idler gear, dan digunakan untuk mundur dengan merubah arah putaran.
Perbandingan roda gigi akan sama bila ditambah dengan roda gigi idle.
2. Cara Kerja Pemindahan Tenaga Transmisi Manual
Pada sebuah sistem transmisi manual, roda gigi diubah oleh pengendara. Tuas persneling/transmisi
(pada kolom setir/lantai kabin) memungkinkan pengendara memilih roda gigi yang tepat dengan
menggunakan tangan.
Berikut dijelaskan model transmisi sinkromesh 4 speed (4 kecepatan maju dan 1 kecepatan mundur).
a. Pada saat Netral
Saat ini kedudukan dari clutch hub sleeve posisi netral (di tengah-tengah), maka tenaga mesin yang
dipindahkan ke transmisi sebagai berikut : input shaft transmission main drive gear counter gear
barulah ke gigi 1, gigi 2, gigi 3. Jadi, pada saat netral ini output shaft tidak berputar.
b. Pada saat Gigi 1 (First Gear)
Saat ini clutch hub sleeve no.1 bergerak ke kanan sehingga berhubungan dengan spline gear gigi 1
maka tenaga mesin dipindahkan oleh transmisi sebagai berikut : input shaft main driver gear
counter gear gigi 1 clutch hub sleeve no.1 clutch hub dan output shaft.
c. Pada saat Gigi 2 (Second Gear)
Pada posisi ini clutch hub sleeve no.1 bergerak ke kiri sehingga berhubungan dengan gear spline gigi
2, kemudian tenaga mesin dipindahkan oleh transmisi sebagai berikut : input shaft main drive gear
counter gear gigi 2 clutch hub sleeve no.1 clutch hub dan output shaft.
d. Pada saat Gigi 3 (Third Gear)
Pada saat ini, clutch hub sleeve no.2 bergerak ke kanan. Akibatnya, terjadi hubungan antara gigi 3
dengan clutch hub sleeve no.2. Untuk itu, tenaga mesin dipindahkan oleh transmisi sebagai berikut :
input shaft main drive gear counter gear gigi 3 clutch hub sleeve clutch hub dan output shaft.
e. Posisi saat Gigi 4 (Top Gear)
Pada saat ini, clutch hub sleeve no.2 bergerak ke kiri sehingga berhubungan dengan main drive gear,
sedangkan clutch hub sleeve no.1 posisi netral. Akibatnya tenaga mesin dipindahkan oleh transmisi
sebagai berikut : input shaft main drive gear clutch hub no.2 langsung ke output shaft. Pada saat
ini tenaga mesin tidak melalui counter gear.
f. Pada saat Gigi Mundur (Reverse Gear)
Pada saat ini, gigi mundur (idle gear) bergerak ke kiri menghubungkan counter gear dengan gigi
mundur, akibatnya putaran dipindahkan terbalik oleh idle gear tersebut. Posisi dari kedua clutch hub
sleeve = netral. Hal ini mengakibatkan tenaga mesin dipindahkan oleh transimisi sebagai berikut :
input shaft main drive gear counter gear idle gear clutch hub sleeve no.1 clutch hub dan
output shaft.
3. Cara Kerja Pemindah Gigi (Gear Shift)
Dilihat dari susunan dan pengaturan dari pemindah, gigi terbagi menjadi 2 macam. Adapun bentuk
pengaturan dari pemindah gigi tersebut adalah : remote control(pengaturan dengan links tuas-tuas atau
kabel) dan direct control(pengaturan langsung).
1. Remote Control
Pada model ini tuas pemindah (shift lever) letaknya agak jauh dari transmisi itu sendiri. Dilihat dari
sudut letaknya, tuas pemindah tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut :
a. Column shift (tuas pemindah tetap) tetapi letak links di bawah wheel steering (roda kemudi).
Contoh : mobil minibus, Colt-T, dll. Cara kerja column shift :
Control shift terletak pada steering column dan pada ujung bagian atas terdapat shift lever, sedangkan
ujung yang bawah terdapat bracket. Pada bracket terdapat 2 buah lever (tuas).
1) Low speed shift lever (untuk gigi 1 da gigi mundur)
2) High speed lever untuk gigi 2 dan 3 (top gear)
Pada bagian connecting rod terdapat cross shaft dan transmission out shift lever. Apabila shift lever
digerakkan ke atas, maka control shaft, low speed shift lever, connecting rod, serta out shift lever akan
ikut berputar dan akhirnya menggerakkan fork di dalam transmisi yang mengantarkan gigi pada

transmisi bersatu (masuk). Hal ini juga berlaku ketika digerakkan ke arah lain (untuk gigi mundur,
dua, dan tiga).
b. Floor shift (tuas pemindah tetap) tetapi letak links di samping jok pengemudi dan di lantai.
Pengontrol floor shift menggunakan kabel sebagai pemindah gerakan dari tuas persneling.
Contoh : mobil Suzuki Carry ST 100, Toyota FF (Front engine, Front drive). Cara kerja floor shift :
Pada prinsipnya, bak transmisi dipasang shift lever dilanjutkan ke connecting rod, dari connecting rod
dipasangkan ke tuas pemindah transmisi.
2. Direct Control
Pada direct control letak shift lever langsung pada transmisi. Pada saat ini, kebanyakan pabrik
pembuat kendaraan memilih direct control, hal ini disebabkan :
Posisi mudah dicari/diubah ;
Pemindahan (shifting) lebih mudah ;
Konstruksinya sederhana.
Contoh : Suzuki Escudo. Cara kerja direct control :
Apabila shift lever digerakkan ke arah 1, maka shift dan select lever shaft akan menggerakkan shift
fork shaft, kemudian ke shaft fork sehingga terjadi hubungan gigi 1. Begitu juga masuk gigi 2, 3, 4, 5,
dan R (mundur) hanya tergantung dari arah gerakan shift lever di antara shift fork shaft. Karet
pelindung debu untuk mencegah debu masuk ke ujung bawah shift lever.
Cara kerja interlock pin (pena pengunci dalam) :
Pada tipe ini mempunyai shift fork sebanyak 3 buah, shaft yang di tengah mempunyai alur, alur poros
ini akan berhadapan pada alur kedua shaft lainnya (alur ini untuk interlock pin). Pada saat posisi netral
antara pin dengan alur masih terdapat celah sehingga semua shaftnya tidak saling mengunci. Tetapi,
apabila salah satu shaft digerakkan, pin akan terlepas dari shaft tadi dan pin lain mengunci shaft
lainnya.
3. Menghitung Pemindahan Gigi Pada Transmisi
Pemindahan gigi dapat dicari dengan rumus di bawah ini :
Keterangan :

PG
: Pemindahan Gigi
n1 : Putaran/rpm poros pada gigi input
n2 : Putaran/rpm poros pada gigi output
B1 : Momen putar pada gigi input
B2 : Momen putar pada gigi output
G
: Randemen/daya guna
Z
: Jumlah gigi
B.
Macam-macam Gangguan/Kerusakan Transmisi Manual

Contoh gangguan pada transmisi manual dan kemungkinan penyebabnya terdapat pada bagan
diagnosis sebagai berikut :

GANGGUAN/KERU
SAKAN
1. Pemindahan antar
gigi sulit

2. Transmisi macet
pada salah satu gigi

3. Transmisi
melompat antar gigi

4. Terjadi benturan
roda gigi

KEMUNGKINAN PENYEBAB
a. Poros persneling atau penyambung
bengkok
b. Kabel kopling tidak disetel dengan
baik
c. Garpu persneling aus
d. Poros persneling aus
e. Roda gigi atau selongsong
synchronizer macet pada poros atau
pemutarnya
f. Cincin atau pegas penyerempak aus
g. Gigi eksternal aus atau mengelupas
h. Poros input atau bantalan pilot
bengkok
i. Level pelumas rendah
j. Menggunakan pelumas yang tudak
sesuai
a. Poros persneling atau penyambung
bengkok
b. Penekan persneling macet
c. Kopling tidak terbatas
d. Penyerempak macet
e. Level pelumas rendah
a. Pegas penekan lemah
b. Bantalan poros input atau output aus
c. Bantalan pilot aus
d. Poros atau roda gigi koclak
berlebihan
e. Selongsong penyerempak aus
f. Pasak poros input longgar atau patah
g. Rumah kopling atau transmisi
longgar
h. Transmisi tidak sejajar
a. Penyerempak aus
b. Kopling menggesek
c. Bantalan pilot atau poros input
bengkok
d. Kecepatan idle engine tinggi

PEMERIKSAAN atau
PERBAIKAN
Betulkan
Periksa setelannya atau ganti
Ganti
Ganti
Ganti bagian-bagian yang aus

Ganti bagian-bagian yang aus


Ganti roda gigi
Ganti bantalan pilot atau poros
input
Isi pelumas sampai level yang
sesuai
Keluarkan dan ganti pelumas
yang sesuai
Betulkan
Betulkan
Perbaiki kabel kopling
Ganti penyerempak
Isi pelumas sampai level yang
sesuai
Ganti
Ganti
Ganti
Ganti cincin pendorong yang
aus
Ganti penyerempak dan roda
gigi
Ganti
Kencangkan baut-baut pengikat
Periksa kesejajarannya
Ganti
Perbaiki kopling
Perbaiki bantalan atau poros
Setel

e. Level pelumas rendah atau kualitas


pelumas tidak sesuai
5. Transmisi
gaduh/kasar pada roda
gigi

6. Transmisi
gaduh/kasar pada saat
netral
7. Transmisi
gaduh/kasar pada saat
mundur

8. Tidak ada tenaga


yang melewati
transmisi
9. Oli transmisi bocor

a. Cakram kopling rusak


b. Celah antara roda gigi dengan poros
utama berlebihan
c. Bantalan aus atau rusak
d. Gigi pada roda gigi patah
e. Roda gigi pinion speedometer aus
f. Penyerempak aus
g. Bantalan pilot aus
h. Level pelumas rendah
i. Transmisi tidak sejajar
j. Bantalan poros counter aus atau
cincin menjepit
a. Bantalan poros input aus
b. Roda gigi aus atau patah
a. Roda gigi idle mundur atau bos
poros aus/rusak
b. Roda gigi mundur pada poros utama
aus/rusak
c. Roda gigi counter aus atau rusak
d. Mekanisme pemindah rusak
a. Kopling tidak menekan
b. Gigi pada roda gigi mengelupas
c. Garpu poros patah atau longgar
d. Poros input atau output patah
a. Pelumas yang tidak tepat atau level
pelumas yang terlalu tinggi sehingga
terbentuk busa
b. Gasket bocor
c. Seal oli rusak
d. Sumbat pengisi oli longgar
e. Seal pinion speedometer bocor
f. Box atau rumah ekstensi retak
g. Box atau seal rumah ekstensi aus

Isi dengan pelumas yang


kualitasnya baik pada level
yang sesuai
Ganti
Ganti roda gigi
Ganti
Ganti roda gigi
Ganti
Ganti
Ganti
Isi pada level yang sesuai
Periksa kesejajaran
Ganti bagian-bagian yang aus
Ganti
Ganti
Ganti
Ganti
Ganti
Perbaiki, ganti bagian-bagian
yang rusak, setel kembali
Perbaiki kopling
Ganti roda gigi
Ganti
Ganti
Isi dengan pelumas yang sesuai
dengan level
Ganti
Ganti
Kencangkan
Ganti sil
Ganti
Ganti

Beri Nilai