Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Produksi kedelai di Indonesia masih rendah sedangkan laju peningkatan
produksinya belum dapat mengimbagi laju peningkatan kebutuhannya. Untuk
memenuhi kebutuhan kedelai pemerintah mengimpor kedelai tiap tahun kurang
lebih 700.000 ton. Upaya mencapai swasembada kedelai dapat dilakukan melalui
intensifikasi dan ekstensifikasi. Ekstensifikasi diperkirakan membutuhkan areal
tambahan 2juta ha, tetapi bila luas areal tetap maka dibutuhkan produktifitas 2
ton/ha (Solahudin, 1999; Sumarno, 1999). Salah satu lahan yang dapat
dimanfaatkan untuk perluasan area tanam adalah lahan salin.
Kedelai yang mempunyai produktifitas lebih dari 2 ton/ha adalah varietas
Slamet (2,26 ton/ha) dan Sindoro (2,03 ton/ha), kedua varietas ini merupakan
temuan Fakultas Pertanian Universitas Jendel Soedirman Purwokerto (Sunarto,
1997). Setelah dilepas varietas Slamet menunjukkan hasil dari 2 ton/ha secara
konsisten pada pengujian di 5 kabupaten (Purworejo, Kebumen, Purbalingga,
Banyumas, Cilacap) (Sunarto, 1999).
Upaya untuk memperbaiki karakter suatu varietas dapat melalui induksi
mutasi. Dari rangkaian penilitian ternyata mutasi dapat memperpendek umur
panen, meningkatkan ketahanan terhadap organisme penganggu dan toleran
terhadap lingkungan rawan/salin (Borojevic, 1990; Schum, 1999). Telah banyak
varietas yang dikembangkan hasil mutasi, pada tanaman serelia mencapai 163
varietas, kacangkacangan 40 dan tanaman membiak vegetatif mencapai 264

(Borojevic, 1990). Untuk menunjang rogram ekstensifikasi kedelai perlu dirakit


varietas yang toleran salin dan berdaya hasil tinggi melalui induksi mutasi.
Masalah pada tanah saling untuk budidaya tanaman pangan adalah kadar
garam yang tinggi. Ion-ion garam tersebut antara lain NA + , Ca++, Mg++, Cl- dan
SO4= dimana garam NaCl merupakan yang paling dominan (Ismunadji dan
Sudjadi, 1988). Larutan tanah saling memiliki daya hantar listrik lebih dari 4
numhos/cm pada suhu 250 dengan pH berkisar 5-8,5 dan Na+ sering lebih dari
50% dari seluruh kation (Ismunadji dan Sudjadi, 1983). Kadar garam yang terlalu
tinggi didalam tanah akan menimbulkan tegangan lengas tanah yang berlebihan,
karena tekanan osmosa meningkat (Notohadiprawiro, 1986).
Secara umum tanaman yang keracunan garam pertumbuhannya terhambat,
ujung daun mongering dan mengalami khlorosis (Ismunadji dan Sudjadi, 1983).
Menurut Supandie (1995) akibat konsentrasi NaCl yang tinggi akan menurunkan
kandungan K, Cad an Mg pada pucuk daun dan akar tanaman. Salinitias juga
mempengaruhi posporilasi oksidatif dan rasio ATP/ADP pada jaringan akar atau
mitochondria akar sehingga menurunkan suplay energy (Blum, 1988).
Keberhasilan

program

pemuliaan

tanaman

sangat

ditentukan

oleh

keragaman genetik yang ditangani. Pada program pemuliaan tanaman untuk


mendapatkan varietas baru yang toleran salin, keragaman genetic sifat toleran
tanah salin mutlak dibutuhkan. Induksi mutasi dapat meningkatkan keragaman
genetic sifat toleran tersebut. Varietas toleran lebih mampu menahan Na dan Cl
pada organ akar. Dilaporkan bahwa terdapat keragaman antar varietas dalam
mekanisme ketanggangan tanaman padi terhadap salinitas tinggi diihat dari indeks

selektivitas pengambilan dan translokasi K, Na dan Cl. Menurut Blum (1998)


pengaturan tekanan osmotik merupakan tekanan turgor untuk menghindar dari
kerusakan daun, merupakan mekanisme utama toleransi tanaman terhadap
salinitas.
Mutagen dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu fisik dan kimiawi. Mutagen
fisik adalah sinar ultra violet, X, gamma, neutron, kosmik, beta dan alfa (Suzuki
et. al., 1989). Sinar X telah digunakan untuk meningkatkan hasil pada tanaman
barley dan kacang tanah (Gustaffson, 1997; Gregory, 1996). Panjang gelombang
sinar X adalah 150-0,15 A0 dan digolongkan sinar lemah tetapi mampu
menginduksi perubahan genetic. Sinar gamma mempunyai panjang gelombang
lebih pendek dari sinar X tetapi mempunyai daya tembus yang lebih besar. Sinar
ultraviolet mempunyai panjang gelombang 3.800-150 A0 dengan panjang
gelombang efektif membuat mutasi 2.600 A0. Sinar beta mempunyai daya tembus
yang lebih besar dibanding dengan sinar alfa (Suzuki et. al., 1984).

B. Tujuan
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perlakuan dosis radiasi
sinar Gamma dalam mendapatkan mutan kedelai varietas Slamet toleran salin.

C. Manfaat
1.

Menunjang program pemerintah dan meningkatkan produksi kedelai dalam


rangka peningkatan ketahanan pangan nasional.

2.

Memenuhi kebutuhan konsumsi protein nabati (khususnya kedelai ) dan


memperbaiki gizi masyarakat dengan harga yang terjangkau.
3

3.

Meningkatkan pemanfaatan lahan margin untuk memproduksi bahan pangan.

II. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS


A. Kerangka Pemikiran

Kedelai merupakan sumber protein penting di Indonesia. Produksi kedelai di


Indonesia tidak sebanding dengan konsumsi kedelai. Diperkirakan tiap tahun
ratarata kebutuhan kedelai sebanyak 2,3 juta ton/tahun, sedangkan produksi
kedelai dalam negeri hanya sekitar 800 ribu-900 ribu ton (Balai Penelitian
Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-Umbian, 2011). Produksi kedelai di
Indonesia masih rendah sehingga harus ditutupi dengan impor. Harga kedelai
lokal Indonesia terus meningkat sedangkan harga kedelai impor lebih murah.
Pasar kedelai di Indonesia lebih dikuasai kedelai impor. Hal ini terjadi karena,
kebijakan pemerintah yang membebaskan bea masuk impor kedelai untuk
mengatasi kelangkaan kedelai akan merugikan petani lokal (Gatra,2012).
Kedelai yang mempunyai produktifitas lebih dari 2 ton/ha adalah varietas
Slamet (2,26 ton/ha) dan Sindoro (2,03 ton/ha), kedua varietas ini merupakan
temuan Fakultas Pertanian Universitas Jendel Soedirman Purwokerto (Sunarto,
1997). Setelah dilepas varietas Slamet menunjukkan hasil dari 2 ton/ha secara
konsisten pada pengujian di 5 kabupaten (Purworejo, Kebumen, Purbalingga,
Banyumas, Cilacap) (Sunarto, 1999). Radiasi gamma merupakan radiasi pengion
yang mempunyai kekuatan daya tembus tinggi (Poespodarsono, 1986) dan
kemampuan penetrasi yang cukup kuat ke dalam jaringan tanaman (Herawati &
Setiamihardja 2000) sehingga dapat menyebabkan perubahan baik pada tingkat
gen maupun kromosom. Terjadinya perubahan pada gen maupunkromosom akan
mengakibatkan perubahan karakter tanaman, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan keragaman genetik pada kultivar kedelai Slamet.

Pembukaan areal baru sering dahadapkan pada kendala kondisi fisik dan
kimia tanah yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi
kurang menguntungkan tersebut diantaranya adalah tanah berkadar garam tinggi
atau tanah salin. (Moore,1987). Menurut Soepardi (1979) kelebihan atau
akumulasi garam dapat terjaid melalui: (a.) adanya evaporasi yang tinggi di
beberapa daerah seperti rawa dan pasang surut. Evaporasi ini mempercepat
terjadinya pengendapan garam di permukaan tanah dan perakaran, (b) intrusi air
laut melalui sungai yang sering terjadi di daerah muara sebagai akibat naik
turunnya air laut karena peristiwa pasang surut.
Menurut Aswidinnoor et al. (2008) pada umumnya salah satu penyebab
salinitas di Indonesia ialah pasang surut air laut yang menimpa daerah pantai dan
adanya instrusi (perembesan) air laut terutama di dataran rendah dan di daerah
pesisir. Santoso (1993) menyatakan bahwa pada wilayah kering, lahan yang
berdrainase buruk dan evaporasi yang lebih tinggi dari pada jumlah hujan akan
menyebabkan garam-garam yang dapat larut dan Na yang dapat ditukar
terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar untuk mengganggu pertumbuhan
tanaman. Hal ini dapat terjadi apabila letak air tanah berada pada tingkat yang
tinggi atau dekat permukaan tanah.
Menurut Boyko dalam Yahya dan Adib (1992) salah satu masalah yang
dihadapi dalam membangun pertanian di dataran rendah adalah salinitas tanah,
yaitu keadaan di mana terjadi akumulasi garam-garam terlarut dalam
tanah.Menurut Suwarno (1985) pengaruh salinitas terhadap tanaman mencakup
tiga aspek yaitu: mempengaruhi tekanan osmosa, keseimbangan hara, dan

pengaruh racun. Disamping itu, NaCl dapat mempengaruhi sifat-sifat tanah dan
selanjutnya berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Poljakoff (1975)
menyatakan bahwa salinitas tanah dapat menekan laju fotosintesis per satuan luas
daun. Fotosintesis berkurang sebanding dengan peningkatan salinitas tanah.
Mekanisme utama penekanan laju fotosintesis terjadi karena menutupnya stomata
sebagai akibat dari kemampuan tanaman dalam menyerap air berkurang. Sari et
al. ( 2006) menambahkan bahwa menutupnya stomata pada daun akan memotong
suplai CO2 ke sel-sel mesofil, sehingga fotosintesis terhambat dan fotosintat yang
terbentuk sedikit. Pada awal perkembangan daun, fotosintat ditahan untuk
mengembangkan daun secara cepat, setelah daun berkembang penuh dengan
kandungan pati yang tinggi maka fotosintat akan ditranslokasi ke daun-daun yang
lebih muda, sehingga ketersediaan sejumlah asimilat sangat mempengaruhi
pembentukan daun.
Tanah salin dapat juga menyebabkan ketidakseimbangan ketersediaan hara
bagi tanaman, hal ini disebabkan karena kadar hara tertentu tersedia dalam jumlah
yang tinggi dan dapat menekan ketersediaan unsur hara lainnya. Disamping itu
adanya bahaya keracunan dari Na, Cl dan ion-ion lainnya (Gardner et al., 1991).
Pengujian tingkat toleransi tanaman terhadap cekaman salinitas dapat
dilakukan dengan menciptakan media tumbuh yang dapat menjabarkan kondisi
salin atau media yang memiliki tekanan osmotik tinggi seperti penggunaan larutan
garam. Pengujian untuk melihat tingkat toleransi terhadap salinitas dapat
dilakukan di berbagai media tumbuh yang sederhana seperti pasir, kertas dan jenis
media tanam lainnya. Sadjad (1993) menyatakan bahwa substrat kertas merang

yang dicelup dalam larutan garam NaCl dapat digunakan untuk menciptakan
tekanan osmosis yang tinggi dan tidak memberikan efek peracunan substrat.
Sinar gamma merupakan salah satu bahan fisik yang banyak digunakan
sebagai agen mutasi. Radiasi sinar gamma merupakan radiasi ionisasi. Bentuk
radiasi ini dapat menembus sel-sel dan jaringan dengan mudah (Pai 1999). Radiasi
dengan sinar gamma dapat menghasilkan dua macam efek yaitu aberasi
kromosom dan hambatan mitosis (Whitson 1972). Sinar gamma diperoleh dari
peluruhan zat radioaktif yang dipancarkan dari atom dengan kecepatan tinggi
karena kelebihan energi. Panjang gelombang sinar gamma lebih pendek dari sinar
X tetapi energinya lebih besar. Radiasi sinar gamma dapat dipancarkan oleh 60Co,
137Cs dan lain-lain (Soeminto 1985).
Sinar gamma mempunyai kemampuan penetrasi yang cukup kuat ke dalam
jaringan tanaman. Dosis sinar gamma untuk mutasi pada kedelai adalah 10 20
kRad (Herawati & Setiamihardja 2000). Dosis irradiasi yang dapat diterima oleh
sel dibedakan atas dosis acute yaitu dosis yang diterima dengan cara sekaligus
pada laju dosis tinggi, dan dosis kronis yaitu dosis yang diterima dengan cara
sedikit demi sedikit pada laju dosis rendah. Dosis acute dapat menyebabkan sel
mati atau mengalami perubahan sifat (Wiryosimin 1995).
Dosis irradiasi yang diterapkan tergantung pada sensitivitas dari spesies dan
bagian tanaman. Sensitivitas tergantung pada volume inti (DNA yang lebih besar
lebih sensitif), jumlah kromosom (tanaman dengan kromosom lebih sedikit
dengan volume inti tertentu, lebih sensitif dari tanaman dengan kromosom yang

lebih banyak), dan tingkat ploidi ( lebih tinggi, sensitivitasnya lebih sedikit)
(Broertjes & Harten 1988).
Target utama dari perlakuan radiasi pengion yang dihasilkan sinar gamma
adalah DNA. Perubahan kecil dalam suatu basa DNA dapat menyebabkan mutasi
gen. Poespodarsono (1991) menyatakan bahwa radiasi bisa menyebabkan mutasi
karena adanya tenaga kinetik yang tinggi yang membebani sel sehingga dapat
mengubah atau mempengaruhi reaksi kimia yang mengakibatkan perubahan
susunan kromosom.
Pengujian dengan larutan hara ini memang merupakan pengujian yang
sederhana, dan sudah diaplikasikan untuk banyak sifat, terutama untuk sifat-sifat
yang berhubungan dengan cekaman unsur hara. Sifat-sifat yang pernah diuji pada
larutan Yoshida misalnya, cekaman Al (Lubis dan Suwarno 2000; Prasetiyono et
al. 2003), cekaman besi (Purwati dan Marjani 2009), dan cekaman-cekaman lain
yang berhubungan dengan cekaman abiotik.
Tanaman sampai batas-batas tertentu masih dapat mengatasi tekanan
osmotik yang tinggi akibat tingginya kandungan garam dalam tanah. Toleransi
tanaman terhadap salinitas dapat dinyatakan dalam berbagai cara diantaranya
kemampuan tanaman untuk hidup pada tanah salin, produksi yang dihasilkan pada
tanah salin, persentase penurunan hasil setiap unit peningkatan salinitas tanah
(Mass dan Hofmann, 1998).
Tanaman dapat menghindari terjadinya ketidakseimbangan hara atau
keracunan dengan empat cara yaitu: eksklusi, ekskresi, sekresi dan dilusi. Eksklusi
terjadi secara pasif dengan adanya dinding sel yang tidak permeable terhadap ion-

ion dari garam tersebut. Ekskresi dan sekresi merupakan pemompaan ion secara
aktif masing-masing ke luar tanaman dan ke dalam vakuola. Dilusi dapat terjadi
dengan adanya pertumbuhan yang cepat. Hal ini disimpulkan dari hasil analisis
bahwa bagian yang tumbuh cepat mengandung Na dan Cl lebih rendah dari bagian
yang tumbuh lambat (Levitt, 1980).
Menururt Levitt (1980) tanaman dapat toleran terhadap NaCl karena
mempunyai

kemampuan

menahan

pengaruh

racun

dari

NaCl

dan

ketidakseimbangan hara. Toleransi terhadap defisiensi K dapat dimiliki tanaman


yang mampu memanfaatkan Na untuk menggantikan sebagian K yang
dibutuhkan. Johnson (1991) menambahkan bahwa toleransi pada garam
nampaknya berhubungan dengan ketidakmampuan tanaman yang rentan untuk
mengurangi pengangkutan ion Na+ dan Cl- ke pucuk.
Mekanisme morfologi tanaman terhadap ketahanan salinitas dapat dilihat
dari ukuran daun lebih kecil, jumlah stomata lebih sedikit, berkurangnya
diferensiasi dan perkembangan jaringan pembuluh. Mekanisme fisiologis adalah
kemampuan tanaman menyesuaikan diri terhadap tekanan osmotik yang
mencakup penyerapan maupun akumulasi ion-ion dan sintesis senyawa organik,
mengatur konsentrasi garam dalam sitoplasma melalui transport membran, dan
ketahanan relatif membran dalam mengatur transfer ion dan solut lainnya dari
sitoplasma dan vakuola serta organel lainnya (Mass dan Hofmann, 1998).

B. HIPOTESIS
10

Diduga perbedaan perlakuan dosis radiasi sinar Gamma berpengaruh dalam


mendapatkan mutan kedelai varietas Slamet toleran salin.

III.

METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu

11

Penelitian ini akan diaksanakan di rumah pastik Fakultas Pertanian Unsoed,


Purwokerto. Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah selama 6 bulan
pada bulan November 2013 sampai bulan April 2014.

B. Bahan dan Alat


Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah varietas kedelai
Slamet, mutagen, pasir, bak pastik, larutan hara Yoshida dan garam.

C. Rancangan Percobaan
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan
uangan 3 kali. Factor pertama yang dicoba adalah dosis radiasi sinar Gamma (G)
yang terdiri dari 0 Rad (J0), 10 Rad (J1), 20 Rad (J2), 30 Rad (J3), 40 Rad (J4), 50
Rad (J5). Factor kedua adalah kadar garam (K) yang terdir dari 0 ppm (K0) dan
3000 ppm (K1). Kombinasi perlakuan yang diperoleh sebanyak 12 kombinasi
perlakuan yang diulang tiga kali sehingga unit percobaan keseluruhan berjumlah
36 unit percobaan.

D. Variabel dan Pengukuran


1. Tinggi tanaman
Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi.
Tinggi tanaman diukur saat tanaman berumur 6 minggu setelah tanam (mst) pada
larutan Yoshida.
2. Volume akar

12

Volume akar diamati pada usia 8 minggu dengan cara memasukkan akar ke
dalam gelas ukur berisi air. Volume air sebelum dan setelah akar dimasukkan
dicatat, kemudian dihitung selisihnya. Selisih tersebut merupakan volume akar
yang dimasukkan.
3. Nilai relatif kondisi tercekam garam dibanding kondisi tidak tercekam
E. Analisis Data
Data-data yang diperoleh dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan denga uji
jarak ganda Duncan. Analisis data menggunakan program IRRISTAT.
F. Garis Besar Pelaksanaan Penelitian
Secara garis besar tahapan penelitian tersusun atas tahap radiasi bibit,
penyiapan larutan hara Yoshida, penanaman bibit, perawatan tanaman,
pengamatan, analisis data dan pelaporan.

1. Radiasi Benih
Benih kedelai kultivar Slamet diradiasi dengan sinar gamma dengan 6 taraf
dosis yaitu : 0; 10; 20; 30; 40 dan 50 Rad. Pada setiap perlakuan diradiasi 200 biji
kedelai. Perlakuan

dari dosis irradiasi dengan kultivar Slamet membentuk 6

populasi yaitu populasi 1 (Slamet kontrol), populasi 2 (Slamet 10 Rad), populasi 3


(Slamet 20 Rad ), populasi 4 (Slamet 30 Rad), populasi 5 (Slamet 40 Rad), dan
populasi 6 (Slamet 50 Rad).
2.

Penyiapan Larutan Hara Yoshida


13

Pengujian larutan garam di rumah kaca digunakan larutan Yoshida. Larutan


ini dibakukan oleh Yoshida. Unsur hara makro disiapkan dengan melarutkan 91,4
g N(NH4NO3) + 40,3 g P(Na H2PO4.2H2O) + 71,4 g K(K2SO4) +88,6 g
Ca(CaCl2) + 324 g Mg(MgSO4.7H2O) masing-masing unsur tersebut dalam 1 l
akuades. Untuk memperoleh 25 l larutan, diperlukan kelipatan jumlah unsur-unsur
tersebut di atas. Untuk menyiapkan unsur hara mikro, 1,5 g Mn(MnCl2.4H2O) +
0,074 g Mo[(NH4)6Mo7.4H2O] + 0,934 g B(H3BO3) +0,035 g Zn(Zn
SO4.7H2O) + 0,031 g Cu(CuSO4.5H2O) + 7,7 g Fe(FeCl3.6H2O) + 11,9 g asam
sitrat masing-masing unsur tersebut dilarutkan dalam satu liter akuades.
Beberapa hari menjelang pembuatan larutan hara Yoshida, terlebih dahulu
disiapkan akuades pada dua buah drum plastik masing-masing 60 l. Pembuatan
larutan hara Yoshida dilakukan dua tahap. Pertama, akuades dari drum
dipindahkan ke dalam dua ember plastik ukuran 25 l. Pada tiap ember akuades
dicampur dengan bahan kimia unsur hara makro dan unsur hara mikro seperti
tersebut di atas. Untuk menghindari terjadinya reaksi dari logam, pengadukan
menggunakan pengaduk kayu.
3. Penanaman bibit
Benih disterilisasi dengan NaOCl 0.5% selama 15 menit, dicuci dengan air
aquades. Benih ditumbuhkan selama 14 hari dengam menggunakan media pasir.
Bibit dipilih yang baik dan seragam, serta dikulturkan di media larutan Yoshida
konsentrasi penuh. Dalam setiap bak terdapat lima kedelai yang telah diradiasi
dan kedelai yang belum diradiasi sebagai control.

14

Bibit yang ditanam agar tidak masuk ke dalam media, bibit diletakkan pada
penyangga yang ada dalam pipa PVC berdiameter 3.4 cm dan panjang 5 cm.
Sebanyak 36 pipa PVC disusun di Styrofoam berukuran 45 cm x 36 cm.
Styrofoam diletakkan di bak plastik berukuran 45 Cm x 36 cm yang telah diisi 25
liter larutan Yoshida. Larutan Yoshida di bak kultur diganti seminggu sekali.
Setelah umur 4 minggu, ke dalam media ditambahkan NaCl dengan konsentrasi
0 ppm dan 3000 ppm.
4. Perawatan Tanaman
Kadar keasaman (pH) larutan diatur setiap dua hari sekali dengan
menggunakan pH meter, diatur pada 5,5 5,8. Keasaman pH diatur dengan
menambahkan NaOH atau HCl sesuai dengan kebutuhan. Setiap kali pengukuran
pH juga dilakukan penambahan air (H20) sesuai dengan perkiraan kehilangan air
akibat penguapan di dalam rumah kaca. Untuk menjaga homogenitas larutan
masing-masing bak percobaan diberi aerator yang berfungsi mengaduk larutan
hara Yoshida setiap saat. Penggantian larutan hara untuk semua perlakuan
dilakukan setiap satu minggu sekali. Tanaman dipelihara sampai berumur 8
minggu. Pada akhir minggu kedelapan dilakukan pengamatan tinggi tanaman dan
volume akar.
5. Pengamatan
Karakter yang diamati pada tanaman meliputi tinggi tanaman, volume akar,
nilai relative kondisi tercekam garam dibanding kondisi tidak tercekam. Mutasi

15

dideteksi dari adanya perubahan pada karakter yang diamati. Pengamatan


dilakukan pada minggu ke delapan setelah tanam.

6. Analisis Data dan Pelaporan


Data-data yang diperoleh dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan denga uji
jarak ganda Duncan. Analisis data menggunakan program IRRISTAT.

G. Jadwal Pelaksanaan

Tabel. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No.

Kegiatan

Persiapan Penelitian

Pelaksanaan Penelitian

Pengambilan Data

Analisis Data dan

Bulan ke1

16

Penyusunan Laporan

DAFTAR PUSTAKA
Aswidinnoor, H., M. Sabran, Masganti dan Susilawati. 2008. Perakitan Varietas
Unggul Padi Tipe Baru dan Padi Tipe Baru Ratun Apesifik Lahan Pasang
Surut Kalimantan untuk Mendukung Teknologi Budidaya Dua Kali Panen
Setahun. LPPM IPB. Bogor. 30 hal.
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi). 2011.
Varietas Unggul Kedelai.http://www.litbang.deptan.go.id/varietas/ ?
l=300&k=310&n=&t=&sv=. diakses pada 22 Oktober 2013
Blum, A. 1988. Plant Breeding for Stress Enviroments. CRC Press Inc. Boca
Raton, Florida.
Borjovic, S. 1990. Principles and Methods of Plant Breeding. Elsevier, Tokyo.
Gardner, F.P., R.B. Pearce, and R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 428 hal.
17

Gatra, S. 2012. Jaga Harga Kedelai di Kisaran Rp 7.000 Per kilogram.


www.kompas.com. [23 Oktober 2013]
Gregory, W.C. 1996. Induced of Useful Mutations in Peanut. P:9 In : Genetics in
Plant Breeding. Brookhaven Biol, Symp.
Gustafsson, A. 1997. Mutation in Agriculture Plants. Hereditas. 33
Herawati, T dan R. Setiamihardja, 2000. Pemuliaan Tanaman Lanjutan. Program
Pengembangan Kemampuan Peneliti Tingkat S1 Non Pemuliaan Dalam
Ilmu Dan Teknologi Pemuliaan. Universitas Padjadjaran, Bandung.
Ismunadji, M. Dan M. Sudjadi. 1983. Lahan Bermasalah. Hal.: 40-41. Dalam : M.
Ismunadji (Ed.), Masalah dan Hasil Penelitian Padi Risalah Lokakarya
Penelitian Padi. 22-24 Maret 1983. Badan Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan, Bogor.
Ismunadji, M. dan R. Sismiyati. 1998. Hara Mineral Tanaman Padi. Hal.: 231269. Dalam : M. Ismunadji, S. Partohardjono, M. Syam dan A. Wisjono
(Eds.), Padi, Buku I. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Johnson, R.E. 1991. Salinity resistance, water relations, and salt content of
crested and tall whetagrass accessions. Crop Sci. 31:730 - 734.
Levitt, J. 1980. Responses of Plant to Environmental Stresses. 2nd Edition.
Academic Press. New York. 607 p.
Lubis E, Suwarno. 2000. Seleksi padi gogo yang cocok untuk lahan masam. Bul
Plasma Nutfah 6 (1) : 47-52
Mass, E.V. and G.J. Hofmann. 1998. Crop salt tolerance current assessment.
Journal Irrigation Divison. 2: 115-134
Notohadiprawiro, T. 1986. Tanah Estuarin: Watak, Sifat, Kelakuan dan
Kesuburannya. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Poespodarsono. 1986. Pemuliaan Tanaman I. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang
Poespodarsono, S., 1988. Dasar-Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU-IPB
Bekerjasama dengan Lembaga Sumber Daya Informasi IPB, Bogor. 163p.
dalam Sudarmadji, R. Mardjono dan H. Sudarmo., 2007. Variasi Genetik,
Heritabilitas, dan Korelasi Genotipik Sifat-Sifat Penting Tanaman Wijen
18

(Sesamum indicum L.). Jurnal Littri Vol. 13 No. 3, September 2007: hal. 88
92.
Prasetiyono J, Tasliah, Aswidinnoor H, Moeljopawiro S. 2003. Identifikasi marka
mikrosatelit yang terpaut dengan sifat toleransi terhadap keracunan Al
pada padi persilangan Dupa x ITA131. J Biot Pert 8 (2) ; 35-48
Purwati RD, Marjani. 2009. Evaluasi ketoleranan plasma nutfah kenaf terhadap
cekaman Fe pada pH masam. Bul Tan Tembakau, Serat dan Minyak Industri
1(1) : 28-40
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Gramedia, Jakarta.
Santoso, B. 1993. Tanah Salin-Tanah Sodik dan Cara Mereklamasinya. Yayasan
Pembina Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Malang. 63 hal.
Sari, H.C., S. Darmanti, dan E.D. Hastuti. 2006. Pertumbuhan tanaman jahe
emprit (Zingiber officinale Var. Rubrum) pada media tanam pasir dengan
salinitas yang berbeda. Buletin Anatomi dan Fisiologi 14(2):19-29.
Schum, A. 1999. Mutation Induction in Ornamental Plants. Makalah Ekspose
Hasil Penelitian Bioteknologi Pertanian. Balitbang Pertanian, Jakarta. 31
Agustus 1 September 1999.
Solahuddin, S. 1999. Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Pencapaian Swasembada
Kedelai. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Kedelai II , Strategi
Pencapaian Swasembada Kedelai, LP-SRDC, Unsoed, Purwokerto, 17
Maret 1999.
Sopandie, D. 1995. Effect of Calcium on the Griwth and Ion Uptake In NaCl
Stressed Plant. Buletin Agronomi 12(I):42.
Sumarno. 1999. Peran Penelitian Untuk Mendorong Pencapaian Swasembada
Kedelai. Makalah dalam Seminar Nasional Kedelai II, Strategi Pencapaian
Swasembada Kedelai, LP-SRDC, Unsoed, Purwokerto, 17 Maret 1999.
Sunarto. 1997. Kedelai Varietas Slamet dan Sindoro Temuan Unsoed. Lembaga
Penelitian Unsoed. Purwokerto.
Sunarto. 1999. Peran SRDC (Soybean Research and Development Centre) dalam
Mendorong Swasembada Kedelai. Makalah dalam Seminar Nasional
Kedelai II, Strategi Pencapaian Swasembada Kedelai, LP-SRDC, Unsoed,
Purwokerto, 17 Maret 1999.
Suzuki, D.T., A.J.F. Griffits, J.H. Miller, R.C. Lewtons. 1989. Yang Introductions
to Genetic Analysis. 4th ed. W.H. Freeman and Co, New York.
19

Yoshida S, Forno DA, Cock JH, Gomez KA. (1976). Laboratory Manual for
Physiological Studies of Rice . International Rice Research Institute. Los
Banos, Philippines.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar Denah Percobaan
BLOK 1
G4K1
G3K0
G0K0
G4K0
G5K1
G1K1
G5K0
G1K0
G2K1
G3K1
G0K1
G2K0

BLOK 2
G2K1
G5K0
G3K1
G5K1
G0K1
G3K0
G0K0
G4K0
G4K1
G1K0
G2K0
G1K1

BLOK 3
G0K1
G1K1
G5K0
G2K1
G1K0
G3K1
G3K0
G5K1
G4K0
G2K0
G0K0
G4K1

20