Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI

Artikel Ilmiah
Analisis Kuantitatif Vitamin C dengan Titrasi Iodimetri dan Instrumen
Spektrofotometer UV-Vis

Disusun Oleh :
Lani Dermawan

260110120147

Indah Kusumawati S.

260110120148

Ruth E. Sihombing

260110120149

Myra Vania W.

260110120150

Inna Muthmainnah

260110120151

LABORATORIUM ANALISIS FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

Analisis Kuantitatif Vitamin C dengan Titrasi Iodimetri dan Instrumen


Spektrofotometer UV-Vis
Lani Dermawan, Indah Kusumawati Susanti, Ruth Elisabeth Sihombing,
Myra Vania Wisnuputri, Inna Muthmainnah
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
vania.myra@gmail.com
Abstrak
Telah dilakukan analisis kadar vitamin c dengan dua metode. Metode pertama berupa titrasi iodimetri,
yaitu suatu metode analisis yang menggunakan prinsip reaksi reduksi-oksidasi dalam penentuan kadar
suatu senyawa. Asam askorbat yang terkandung dalam sampel dititrasi langsung dengan menggunakan
larutan iodine. Hasil analisis mengguakan metode iodimetri menunjukan bahwa konsentrasi asam
askorbat pada sampel sebesar 107,5 %. Metode lain yang dilakukan untuk analisis asam askorbat adalah
dengan menggunakan spektrofotometer Visible pada panjang gelombang 296 nm. Dengan metode
tersebut didapat konsentrasi asam askorbat adalah sebesar 82,88 %
Kata Kunci : Asam askorbat, vitamin C, Spektroskopi UV-Vis, iodimetri

Quantitative Analysis of Vitamin C with Iodimetric Titration and


Spectrofotometer UV-Vis Instrument
Abstract
The analysis of the levels of vitamin C by two methods had done. The first mothod was iodimetri
titration method, which was an analytical method that use the principle of oxidation-reduction reactions
on determination a compound. Ascorbic acid contained in the sample titrated directly using iodine
solution. Iodimetri method results showed that the concentration of ascorbic acid in the sample was
107.5%. Another method which was carried out for ascorbic acid analysis was using the Visible
spectrophotometer at 296 nm wavelength. With this method, the concentration of ascorbic acid in the
sample was 82.88%
Keywords: ascorbic acid, Vitamin C, Spectroscopy UV-Vis, iodimetric.

Pendahuluan
Vitamin C merupakan senyawa yang
sangat mudah larut dalam air, mempunyai sifat
asam dan sifat pereduksi yang kuat. Sifat
tersebut terutama disebabkan adanya struktur
radial yang berkonjugasi dengan gugus karbonil
dalam cincin lakton (Basset et. al., 1994).

Ada beberapa metode yang dikembangkan


untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya
adalah metode spektrofotometri UV-Vis
(panjang gelombang 265 nm) dan metode
iodimetri. Metode Spektrofotometri dapat
digunakan untuk penetapan kadar campuran
dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa
pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat

lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi


analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri
banyak digunakan di bidang analisis kimia
sedangkan iodimetri merupakan metode yang
sederhana dan mudah diterapkan dalam suatu
penelitian.
Iodimetri merupakan salah satu metode
titrasi yang didasarkan dengan reaksi reduksioksidasi yang digunakan jika titrasi terhadap zatzat reduktor dengan titrasi langsung dan tidak
langsung. Percobaan ini dilakukan untuk
menentukan kadar-kadar zat oksidator secara
langsung, seperti kadar yang terdapat pada
serbuk vitamin C (Rivai, 1995).
Sistem redoks iodin (triiodida)-iodida,
I3 + 2e 3Imempunyai potensial standar sebesar +0,54 V.
Karena itu iodin adalah sebuah agen
pengoksidasi yang jauh lebih lemah daripada
kalium permanganat, senyawa serium(IV), dan
kalium dikromat. Di lain pihak, ion iodida
adalah agen pereduksi yang termasuk kuat, lebih
kuat, sebagai contoh, daripada ion Fe(II). Dalam
proses- proses analitis, iodin dipergunakan
sebagai sebuah agen pengoksidasi (iodimetri)
(R.A.Day, JR. & A.L. Underwood, 2002)
Iodin hanya larut sedikit dalam air
(0,00134 mol/liter pada 25C) namun larut
dalam larutan larutan yang mengandung ion
iodide. Iodin membentuk kompleks triiodida
dengan iodide,
I2 + I- I3Dengan konstanta kesetimbangan sekitar
710 pada 25C. Suatu kelebihan kalium iodide
ditambahkan untuk meningkatkan kelarutan dan
untuk menurunkan keatsirian iodin. Biasanya
sekitar 3 sampai 4% berat KI ditambahkan
kedalam larutan 0,1 N dan
botol yang
mengandung larutan ini disumbat dengan baik
(R.A.Day, JR. & A.L. Underwood, 2002).
Indikator kanji merupakan indikator yang
sangat lazim digunakan, namun indikator kanji
yang digunakan harus selalu dalam keadaan
segar dan baru karena larutan kanji mudah

terurai oleh bakteri sehingga untuk membuat


larutan indikator yang tahan lama hendaknya
dilakukan sterilisasi atau penambahan suatu
pengawet. Pengawet yang biasa digunakan
adalah merkurium (II) iodida, asam borat atau
asam formiat. Kepekatan indikator juga
berkurang dengan naiknya temperatur dan oleh
beberapa bahan organik seperti metil dan etil
alkohol (R.A.Day, JR. & A.L. Underwood,
2002).
Spektrofotometer serapan atom Spektrum
elektromagnetik terdiri dari urutan gelombang
dengan sifat-sifat yang berbeda. Kawasan
gelombang penting di dalam penelitian biokimia
adalah ultra lembayung (UV, 180-350 nm) dan
tampak (VIS, 350-800 nm). Cahaya di dalam
kawasan ini mempunyai energi yang cukup
untuk mengeluarkan elektron valensi di dalam
molekul tersebut (Keenan, 1992).
Ketika cahaya melewati suatu larutan
biomolekul,
terjadi
dua
kemungkinan.
Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap
dan kemungkinan kedua adalah cahaya
discattering. Bila energi dari cahaya (foton)
harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan
energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses
inilah yang menjadi dasar pengukuran
absorbansi dalam spektrofotometer (Khopkar,
2007).
Cara kerja spektrofotometer dimulai
dengan dihasilkannya cahaya monokromatik
dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian
menuju ke kuvet (tempat sampel/sel).
Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun
yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh
detektor yang kemudian menyampaikan ke layar
pembaca (Khopkar, 2007).
Pengukuran
spektrofotometri
menggunakan alat spektrofotometer yang
melibatkan energi elektronik yang cukup besar
pada molekul yang dianalisis, sehingga
spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai
untuk
analisis
kuantitatif
dibandingkan
kualitatif. Spektrum UV-Vis sangat berguna

untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi


dari analit di dalam larutan bisa ditentukan
dengan mengukur absorban pada panjang
gelombang tertentu dengan menggunakan
hukum Lambert-Beer (Rohman, 2007).
Pada percobaan kali ini dilakukan
penentuan kadar vitamin C dengan metode
titrasi iodimetri dan penentuan kadar campuran
vitamin C dengan spektrofotometri UV-Vis.

Metode
Alat
Instrumen spektrofotometer UV-Vis,
gelas kimia, gelas ukur, kuvet, labu ukur, pipet,
pipet volum, dan timbangan analitik.
Bahan
Aquadest, baku asam askorbat, indikator
amilum, larutan iodium 0,1 N, larutan natrium
tiosulfat 0,1 N, larutan HCl 1%, dan sampel
asam askorbat.
a.) Penentuan Kadar dengan Metode Titrasi
Iodimetri
Pembuatan Larutan Baku Natrium Tiosulffat
0,1 N
Larutan baku Natrium Tiosulfat dibuat
dengan melarutkan 2,6 gram Na2S2O3 dan 20mg
Na2CO3 dalam 100 mL aquades mendidih.
Pembuatan Larutan Iodium 0,1 N
Larutan Iodium dibuat dengan melarutkan
3506,3 mg Iodium dan 9002,7 mg Kalium
Iodida pada labu ukur 250 mL dengan
penambahan 1 tetes HCL 2N dan aquadest
sampai tanda batas pada labu.
Pembuatan Indikator Amilum
Indikator dibuat dengan melarutkan 0,5
gram amilum pada 100 mL aquadest yang
kemudian didihkan pada penangas.

Pembakuan Iodium dengan larutan baku


Natrium tiosulfat
Sebanyak 10 mL larutan natrium tiosulfat
dimasukkan ke Erlenmeyer yang kemudian
ditambahkan indikator amilum, larutan dititrasi
hingga terbentuk warna biru. Titrasi dilakukan
tiga kali.
Penentuan Kadar Asam Askorbat
Sampel Asam Askorbat 40 mg di larutkan
pada 10mL air di dalam Erlenmeyer
ditambahkan indikator amilum dan 1 tetes HCl
2N. Analit dititrasi hingga larutan berubah
menjadi warna biru. Titrasi dilakuka tiga kali.

b.) Penentuan Kadar dengan metode


Spektroskopi UV
Pembuatan Larutan Baku Stok Vitamin C
100 ppm
Vitamin C (Asam Askorbat) BPFI
ditimbang sebanyak 10 mg dan dilarutkan pada
labu ukur 100 mL dengan menambahkan
aquadest sampai tanda batas pada labu.
Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Asam Askorbat
Sampel Asam Askorbat 100 ppm
diencerkan menjadi 20 ppm, yaitu dengan
mengambil 4 mL larutan baku stok 100 ppm
dimasukkan kelabu ukur 20 mL dan
ditambahkan air hingga tanda batas pada labu.
Larutan diukur serapan maksimum pada =
200-400 nm dengan blanko aquadest.
Pembuatan Kurva Baku
Larutan baku Asam Askorbat (Vit C)
100ppm diencerkan hingga didapatkan larutan
asam askorbat dengan konsntrasi 20 ppm, 15
ppm dan 10 ppm. Larutan baku diukur
serapannya pada maks yang didapatkan dari hasil
penentuan gelombang maksimum pada 2.2.2.
Kemudian dilakukan plotting antara konsetrasi
(x) dan serapan adsorbansi (y) didapatkan
persamaan
.

Penetapan Kadar Sampel


Sampel ditimbang 10 mg kemudian
dilarutkan pada labu ukur 100mL dengan
ditambahkan aquadest hingga tanda batas pada
labu. Didapatkan sampel dengan kadar 100 ppm.
Sampel diencerkan kembali dengan mengambil
5 mL larutan stok sampel dimasukkan kelabu
ukur 25mL ditambahkan aquadest hingga tanda
batas pada labu ukur.
Larutan Sampel diukur serapannya pada
panjang gelombang maksimum. Kadar asam
askorbat pada sampel dihitung dengan
mensubtitusi hasil serapan sampel pada
persamaan yang didapat pada 2.2.3.

Dari Reaksi Tiosulfat dan Iodium tersebut


didapatkan persamaan bahwa :

Dari persamaan tersebut didapatkan mol


larutan I2 adalah 0,09 N.
No
Vol I2 (mL)
1
5.3
2
5.4
3
5.6
Rata-Rata
5.43
Tabel 2. Hasil titrasi Sampel dengan I2

Hasil
Penetapan kadar asam askorbat dengan
metode Titrasi Redoks

Gambar 1. Hasil titrasi sampel asam askorbat


N Na2S2O3 Vol Na2S2O3 Vol I2
No
(N)
(mL)
(mL)
1
0.1
10
2.2
2
0.1
10
2.4
3
0.1
10
2.4
Rata2
0.1
10.
2.3
Tabel 1. Hasil titrasi Na Tisulfat dengan I2

Gambar 3. Reaksi I2 dan asam Askorbat


Dari Reaksi tersebut didapatkan kesetaraan :
1 mL iodium 0,1 N = 8,806 mg asam askorbat
Dari Normalitas Iodium yang sudah didapat
dapat dihitung
1 mL 0,2 N iodium = 8,806 mg asam askorbat
1 mL 0,09 N iodium = x Asam askorbat

1 mL 0,09 N iodium = 7,9254 mg Asam


askorbat
Dengan demikian Kadar Asam Askorbat
adalah :
Berat asam askorbat = mL iodium x 7,9524
Berat asam askorbat = 5,43 mL x 7,9524
= 43 mg
Kadar
Kadar =

Gambar 2. Reaksi tiosulfat dengan Iodium

Penetapan
Kadar
dengan
Metode
Spektroskopi UV
Penentuan gelombang maksimum pada baku
menunjukkan serapan masksimum asam

askorbat diukur pada panjang gelombang 296


nm.

Konsentrasi
(ppm)

Absorbansi

10

0.5658

15

0.6589

20

0.7341

Sampel

0.7492

Tabel 3. Hasil pengukuran absorbansi larutan


standar asam askorbat dan sampel (pada = 269
nm)

Kurva Kalibrasi Baku Asam Askorbat


0,8
0,7
Adsorbansi

0,6
0,5
0,4

y = 0,0168x + 0,4005
R = 0,9962

0,3
0,2
0,1
0
0

10

15

20

25

Konsentrasi ( ppm)

Didapatkan persamaan kurva kalibrasi


dengan R2= 0.9962
Sehingga dapat ditentukan kadar asam askorbat
pada sampel adalah :
0,7491 = 0,0168x + 0,4005
0,0168x = 0,7491- 0,4005
x=
= 20,75 ppm (Dikalikan dengan
faktor pengenceran sebesar 4)
20,75 x 4 = 83 ppm

Kadar asam askorbat

Pembahasan
Pada praktikum ini bertujuan untuk
menentukan kadar kadar asam askorbat dengan
menggunakan metode redoks. Metode redoks
yang digunakan adalah
metode iodimetri.
Iodimetri adalah titrasi langsung dan merupakan
metode penentuan atau penetapan kuantitatif
yang dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang
bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari hasil
reaksi antara sampel dengan ion iodida.
Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai
pentiternya. Dalam reaksi redoks harus selalu
ada oksidator dan reduktor, sebab bila suatu
unsur
bertambah
bilangan
oksidasinya
(melepaskan elektron), maka harus ada suatu
unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau
turun (menangkap elektron).
Sebelum sampel dititrasi, dilakukan
pembakuan larutan iodium dengan larutan

natrium tiosulfat. Pembakuan dilakukan karena


larutan tersebut dapat berubah kondisinya pada
kondisi suatu lingkungan tertentu dan juga
akibat penyimpanan dalam waktu yang lama.
Konsentrasi larutan iodium yang diperoleh
setelah dibakukan dengan larutan natrium
tiosulfat sebesar 0,09 N.

spektrofotometer UV-Vis. Instrumen ini dapat


digunakan karena asam askorbat menghasilkan
serapan pada panjang gelombang 296 nm, atau
pada panjang gelombang UV. Rentang hasil
absorbansi yang baik untuk pengukuran adalah
0,2-0,8. Sampel asam askorbat larut dalam air
sehingga menghasilkan larutan tidak berwarna.

Percobaan selanjutnya adalah penetapan


kadar asam akorbat. Sampel ditimbang 40 mg
dan dilarutkan dengan air bebas O2 sebanyak 10
ml dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer.
Penggunaan air bebas O2 untuk menghindarkan
tereduksinya asam askorbat oleh udara.
Kemudian, ditambahkan 1 tetes HCl 2 N.
Penambahan HCl dilakukan karena asam
askorbat
yang
telah
dilarutkan
kadar
keasamannya akan menurun, sehingga harus
ditambahkan dengan larutan asam agar asam
askorbat selalu berada dalam keadaan asam,
sebab jika tidak maka hasil titrasi tidak akan
maksimal. Kedalam Erlenmeyer ditambahkan
larutan amilum sebagai indikator.

Dari hasil pengukuran larutan baku, dapat


diketahui bahwa panjang gelombang maksimum
larutan standar asam askorbat berada pada
panjang gelombang 296 nm karena pada daerah
tersebut terdapat absorbansi maksimum yang
ditandai dengan puncak tertinggi. Panjang
gelombang maksimum menunjukkan kepekaan
tertinggi dan kesalahan terkecil sehingga
pengukurannya akurat. Panjang gelombang ini
digunakan sebagai patokan untuk pengukuran
absorbansi sampel.

Setelah itu, sampel dititrasi dengan larutan


Iodium 0,1 N. Larutan iodium akan
memperlihatkan jumlah asam askorbat yang
terdapat dalam sampel menjadi senyawa
dihidroaskorbat sehingga akan berubah warna
karena pereaksi yang berlebih. Proses titrasi
dilakukan sampai larutan dalam erlenmeyer
berubah warna dari larutan bening menjadi biru
violet. Warna biru violet yang dihasilkan
merupakan reaksi antara iod dengan amilum
menjadi iod-amilum yang menandakan bahwa
proses titrasi telah mencapai titik akhir. Larutan
amilum tidak boleh ditambahkan tepat sebelum
titik akhir dicapai. Jika larutan amilum
ditambahkan ketika konsentrasi iod tinggi,
sedikit iod akan tetap teradsorpsi bahan pada
titik akhir titrasi. Titrasi dilakukan secara triplo.
Metode kedua yang dapat digunakan
untuk menentukan kadar asam askorbat di dalam
sampel
adalah
dengan
instrumen

Kurva kalibrasi merupakan suatu garis


yang diperoleh dari titik-titik yang menyatakan
suatu konsentrasi terhadap absorbansi yang
diserap setelah dilakukan analisa regresi linier.
Konsentrasi
asam
askorbat
secara
spektrofotometri UV-Vis ditentukan berdasarkan
kurva kalibrasi yang dibuat dengan mengukur
absorbansi larutan standar asam askorbat dengan
variasi konsentrasi 10-20 ppm.
Absorbansi berbanding lurus dengan
konsentrasi artinya semakin besar nilai
konsentrasi larutan, artinya semakin besar nilai
konsentrasi larutan, maka intensitas cahaya yang
diserap oleh larutan akan semakin besar
sehingga absorbansinya pun semakin besar.
Pernyataan ini sesuai dengan hukum Lambert
beer dimana A = b c. Pada penelitian ini
didapatkan persamaan regresi sederhana y =
0,0168x + 0,4005 dan nilai koefisien regresi (R2)
sebesar 0,9962. Dari nilai koefisien korelasi
sebesar 0,9962 menyatakan bahwa terdapat
korelasi yang erat dan linearitas yang baik antara
konsentrasi larutan baku standar asam askorbat

dengan absorbansinya. Hal ini dikarenakan nilai


kisaran R2 berada pada rentang 0,9 < R2 < 1.
Salah satu syarat sampel yang dapat
diukur oleh spektrofotometer UV-Vis adalah
berbentuk liquid (cair), dan tidak keruh sehingga
dapat ditembus oleh cahaya. Larutan sampel
asam askorbat kemudian diukur absorbansinya
menggunakan
spektrofotometer
UV-Vis.
Absorbansi yang didapat yakni 0,7494, 0,7491,
dan 0,7491 sehingga didapat rata-rata absorbansi
larutan sampel sebesar 0,7492. Kemudian
dimasukkan ke dalam persamaan y = 0,0168x +
0,4005 , dengan perhitungan sebagai berikut:
Dari hasil perhitungan diketahui kadar
asam askorbat di dalam sampel sebesar 83%.
Jika dibandingkan dengan
hasil analisis
menggunakan titrasi manual, maka hasil dengan
instrumen lebih baik karena tidak melebihi
ketentuan yang ada di farmakope. Selain itu juga
karena sampel asam askorbat yang digunakan
untuk dianalisis instrumen sudah dicampur
dengan eksipien, sehingga tidak murni asam
askorbat, dan kadar nya dibawah 100%.
Analisis kuantitatif menggunakan titrasi
manual memiliki tingkat risiko kesalahan yang
lebih besar dibandingkan dengan instrumen,
karena hasil titik akhir titrasi yang sering
melewati dari yang seharusnya. Dan dibutuhkan
keterampilan laboratorium yang lebih untuk
melakukan titrasi. Selain itu instrumen sudah
melewati proses kalibrasi dan uji validasi alat
sebelum digunakan untuk pengukuran sampel.

Namun kedua metode ini dapat digunakan untuk


analisis kuantitatif sampel asam askorbat.

Simpulan
Sampel asam askorbat dapat ditentukan
kadarnya baik dengan menggunakan titrasi
iodimetri
atau
menggunakan
instrumen
spektrofotometer
UV-Vis.
Dengan
menggunakan titrasi iodimetri diketahui kadar
asam askorbat sebesar 107,5%, sedangkan
menggunakan instrumen spektrofotometer UVVis kadar asam askorbat di dalam sampel
diketahui sebesar 83%. Analisis kuantitatif
dengan titrasi iodimetri memiliki tingkat risiko
terjadi kesalahan yang lebih besar dibandingkan
dengan analisis menggunakan instrumen.

Daftar Pustaka
Bassett, J., R.C. Denney, G.H. Jeffery, and J.
Mendham. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif
Anorganik. Jakarta: EGC.
Keenan, R. 1992. Kimia untuk Universitas.
Jakarta: Erlangga.
Khopkar, S. 2007. Konsep Dasar kimia Analitik.
Jakarta : UI Press.
R.A.Day, JR., and A.L. Underwood. 2002.
Analisis Kimia Kuantitatif, edisi Kelima.
Jakarta: Erlangga.
Rivai, H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.