Anda di halaman 1dari 12

EPIDEMIOLOGI GIZI

I. Pengantar Epidemiologi Gizi


1. Pengertian
Epidemiologi Gizi adalah ilmu yang mempelajari sebaran, besar, dan
determinan masalah gizi dan penyakit yang berhubungan dengan masalah gizi, serta
penerapannya dalam kebijakan dan program pangan dan gizi untuk mencapai
kesehatan penduduk yang lebih baik. (Albiner, 2010)
Epidemiologi gizi adalah penerapan eknik epidemiologi dalam upaya
memahami penyebab (kausa) penyakit di dalam populasi yang terpajan dengan satu
atau lebih faktor gizi yang diyakini sangat penting. (Gibney, 2008). Sebagian besar
epidemiologi gizi difokuskan kepada upaya menjelaskan penyebab penyakit kronis,
khususnya penyakit jantung dan kanker.
2. Tujuan
Epidemiologi bertujuan untuk: (Gibney, 2008)
- Menguraikan distribusi, pola, dan luas penyakit pada populasi manusia
- Memahami mengapa penyakit lebih sering terjadi pada sebagian kelompok atau
II.

orang dibandingkan lainnya (menjelaskan etiologi penyakit)


Membeikan informasi yang diperlukan untuk mengelola dan merencanakan

pelayanan bagi pencegahan, pengendalian dan penanganan penyakit.


Insidensi dan atau prevalensi masalah obesitas
Status Gizi Anak
Klasifikasi indikator IMT/U:
Sangat kurus
: Zscore< -3,0
Kurus
: Zscore -3,0 s/d < -2,0
Normal
: Zscore-2,0 s/d 1,0
Gemuk
: Zscore> 1,0 s/d 2,0
Obesitas
: Zscore> 2,0
Kecenderungan prevalensi status gizi anak balita tahun 2007- 2013

Gambar

16.4

menyajikan

kecenderungan

prevalensi

status gizi anak

balita

ketiga

indeks

BB/U,

BB/TB.

Terlihat

dan

menurut
TB/U

prevalensi gizi buruk dan gizi kurang meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013.
Prevalensi sangat pendek turun 0,8 persen dari tahun 2007, tetapi prevalensi pendek
naik 1,2 persen dari tahun 2007. Prevalensi sangat kurus turun 0,9 persen tahun 2007.

Prevalensi kurus turun 0,6 persen dari tahun 2007. Prevalensi gemuk turun 2,1 persen
dari tahun 2010 dan turun 0,3 persen dari tahun 2007.
Status gizi anak balita berdasarkan gabungan indikator TB/U dan BB/TB

Gambar 16.5. menyajikan kecenderungan prevalensi status gizi gabungan indikator


TB/U dan BB/TB secara nasional. Berdasarkan Riskesdas 2007, 2010 dan 2013 terlihat
adanya

kecenderungan bertambahnya prevalensi

anak

balita

pendek-kurus,

bertambahnya anak balita pendek-normal (2,1%) dan normal-gemuk (0,3%) dari


tahun 2010. Sebaliknya, ada kecenderungan penurunan prevalensi pendek-gemuk (0,8
%), normal-kurus (1,5 %) dan normal-normal (0,5 %) dari tahun 2010.
Pravalensi Gemuk dan obes umur 5-12 tahun

Secara nasional masalah gemuk pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi yaitu 18,8
persen, terdiri dari gemuk 10,8 persen dan

sangat gemuk (obesitas)

8,8 persen.

Prevalensi gemuk terendah di Nusa Tenggara Timur (8,7%) dan tertinggi di DKI
Jakarta

(30,1%).

Sebanyak

15 provinsi dengan prevalensi sangat gemuk diatas

nasional, yaitu Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Timur,

Bali,

Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Papua, Bengkulu, Bangka
Belitung, Lampung dan DKI Jakarta.
Pravalensi Gemuk dan obesitas umur 13-15 tahun

Prevalensi gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10.8 persen, terdiri
dari 8,3 persen gemuk dan 2,5 persen sangat gemuk (obesitas). Sebanyak 13 provinsi
dengan prevalensi gemuk diatas nasional, yaitu Jawa Timur, Kepulauan Riau, DKI,
Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Bali, Kalimantan Timur,
Lampung, Sulawesi Utara dan Papua
Pravalensi Gemuk dan obes umur 16-18 tahun

Prevalensi gemuk pada remaja umur 16 18 tahun sebanyak 7,3 persen yang terdiri
dari 5,7 persen gemuk dan 1,6 persen obesitas. Provinsi dengan prevalensi gemuk
tertinggi adalah DKI Jakarta (4,2%) dan terendah adalah Sulawesi Barat (0,6%). Lima
belas provinsi dengan prevalensi sangat gemuk diatas prevalensi nasional, yaitu
Bangka Belitung, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, Kalimantan Tengah, Papua,
Jawa Timur, Kepulauan Riau, Gorontalo, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur,
Sulawesi Utara dan DKI Jakarta.

Status Gizi Dewasa


Batasan IMT yang digunakan untuk menilai status gizi penduduk dewasa adalah sebagai
berikut:
Kategori kurus
IMT < 18,5
Kategori normal IMT 18,5 - <24,9
Kategori BB lebih IMT 25,0 - <27,0
Kategori obesitas IMT 27,0
Pravalensi dewasa (>18 tahun) tahun 2013

Gambar 16.17 menyajikan prevalensi penduduk umur dewasa kurus, gizi lebih dan
obesitas menurut IMT/U di masing masing provinsi. Prevalensi penduduk dewasa kurus
8,7 persen, berat badan lebih

13,5 persen dan obesitas

15,4 persen. Prevalensi

penduduk kurus terendah di provinsi Sulawesi Utara (5,6%) dan tertinggi di Nusa
Tenggara Timur (19,5%). Dua belas provinsi dengan prevalensi penduduk dewasa kurus
diatas prevalensi nasional, yaitu Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sumatera Barat,
Jawa Timur, Maluku, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat,
Kalimantan Selatan, DI Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur. Prevalensi penduduk
obesitas terendah di provinsi Nusa tenggara Timur (6,2%) dan tertinggi di Sulawesi
Utara (24,0%). Enam belas provinsi dengan prevalensi diatas nasional, yaitu Jawa Barat,
Bali, Papua, DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Bangka Belitung,
Sumatera Utara, Papua Barat, Kepulauan Riau, Maluku Utara, Kalimantan Timur, DKI
Jakarta, Gorontalo dan Sulawesi Utara.
Pravalensi obesitas penduduk laki-laki dewasa >18 tahun

Gambar 16.18 menyajikan kecenderungan prevalensi obesitas penduduk laki-laki


dewasa (>18 tahun) di masing-masing provinsi tahun 2007, 2010 dan 2013. Prevalensi
penduduk laki-laki dewasa obesitas pada tahun 2013 sebanyak 19,7 persen, lebih tinggi
dari tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%). Pada tahun 2013, prevalensi terendah di
Nusa Tenggara Timur (9,8%) dan tertinggi di provinsi Sulawesi Utara (34,7%). Enam
belas provinsi dengan prevalensi diatas prevalensi nasional, yaitu Aceh, Riau, Sulawesi
Tengah, Bangka Belitung, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Maluku Utara, Gorontalo,
Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Papua Barat, Bali, Kalimantan Timur, Papua, DKI
Jakarta dan Sulawesi Utara.
Prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) pada tahun 2013

Pada tahun 2013, prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) 32,9 persen, naik
18,1 persen dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5 persen dari tahun 2010

(15,5%).

Prevalensi obesitas terendah di Nusa Tenggara Timur (5,6%), dan prevalensi obesitas
tertinggi di provinsi Sulawesi Sulawesi Utara (19,5%). Tiga belas provinsi dengan
prevalensi obesitas di atas prevalensi nasional, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Aceh,
Papua Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Kepulauan Riau, Maluku Utara, DKI
Jakarta, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Gorontalo dan Sulawesi Utara.

III.

Pengertian obesitas
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak
berlebihan dengan ambang batas IMT/U > 2 Standar Deviasi (WHO, 2005).
Ditinjau dari segi klinis, obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh, yang
umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit), sekitar organ tubuh dan
kadang terjadi perluasan ke dalam jaringan organnya. (Waspadji, 2003)
Ditinjau dari segi ilmu gizi, obesitas adalah penimbunan trigliserida yang berlebihan
di jaringan-jaringan lemak tubuh. Menurut Bray, jumlah lemak tubuh manusia (pada orang
dewasa muda) yang normal pada laki-laki 15-18% berat badan, sedangkan pada wanita 2025% berat badan. Seseorang dikatakan obesitas bila 25% berat badan seorang laki-laki
terdapat lemak dan pada wanita lemak tubuhnya berjumlah 30%. (Waspadji, 2003)

IV. Penyebab obesitas


Penyelidikan menunjukkan bahwa kegemukan pada orang dewasa sebenarnya mulai
dibentuk pada permulaan kehidupan dimana terjadi interaksi antara faktor genetik dan cara
pemberian makanan yang akan merangsang pertumbuhan sel-sel lemak yang lebih banyak
dalam berbagai jaringan lemak.
Mekanisme dasar terjadinya kegemukan adalah masukan kalori yang melebihi
pemakaian kalori untuk memelihara dan pemulihan kesehatan yang berlangsung cukup
lama, Akibat kelebihan kalori tersebut akan disimpan di dalam jaringan lemak, yang lama
kelamaan akan mengakibatkan kegemukan. Ketidakseimbangan antara masukan kalori dan
pemakaian dapat disebabkan banyak faktor antara lain : (Waspadji, 2003; Ratu, 2011)
a. Kurangnya aktivitas fisik (hidup santai)
Pada umumnya seseorang yang gemuk kurang aktif daripada seseorang
dengan berat badan normal. kurangnya aktivitas fisik baik kegiatan harian maupun
latihan fisik terstruktur. Aktivitas fisik yang dilakukan sejak masa anak sampai
lansia akan mempengaruhi kesehatan seumur hidup.
b. Meningkatnya konsumsi zat gizi tertentu, terutama zat gizi yang menyebabkan
kegemukan bila dimakan secara berlebihan.
Perubahan pola makan dan aktivitas fisik ini berakibat kepada semakin
banyaknya penduduk yang mengalami masalah overweight dan obesitas (Almatsier,
2006).
c. Kelaian Gen
Anak yang gemuk biasanya salah satu atau kedua orangtuanya gemuk. Apakah
kegemukan ini selalu diturunkan sebagai bawaan dari orang tuanya atau karena
kebiasaan makan yang berlebihan yang ditiru anaknya atau faktor lingkungan belum
diketahui secara pasti.

d. Penyebab obesitas dinilai sebagai multikausal dan sangat multidimensional karena


tidak hanya terjadi pada golongan sosio-ekonomi tinggi, tetapi juga sering terdapat
pada sosio-ekonomi menengah hingga menengah ke bawah. Obesitas dipengaruhi oleh
faktor lingkungan dibandingkan dengan faktor genetik.
e. Kelaian dari sel lemak itu sendiri
Kelainan metabolisme dan kelainan sel lemak pada seseorang dapat menimbulkan
kegemukan.
V. Kelompok yang beresiko terhadap obesitas (Ratu, 2011)
Faktor risiko utama yang menyebabkan obesitas adalah faktor perilaku yaitu pola
makan yang tidak sehat ditambah dengan konsumsi serat (buah dan sayur) tidak
mecukupi, fisik yang tidak aktif, dan merokok.
1. Obesitas pada usia anak akan meningkatkan risiko obesitas pada saat dewasa.
2. Jika obesitas terjadi pada anak sebelum usia 5-7 tahun, maka risiko obesitas dapat
terjadi pada saat tumbuh dewasa. Anak obesitas biasanya berasal dari keluarga yang
juga obesitas.
3. Masalah gizi banyak dialami oleh golongan rawan gizi yang memerlukan kecukupan
zat gizi untuk pertumbuhan. Kelompok anak hingga remaja awal (sekitar 10-14 tahun)
merupakan kelompok usia yang berisiko mengalami masalah gizi baik masalah gizi
kurang maupun gizi lebih.
VI. Dampak obesitas (Jeffry, 2014)
1. Kematian Dini
Menurut seorang peneliti dari CDC atau Centers for Disease Control menyatakan
bahwa, sekitar 300.000 kasus kematian per tahun di Amerika diperkirakan terjadi
berhubungan dengan obesitas. Orang yang mengalami berat badan berlebih akan
memiliki 50 hingga 100% peningkatan resiko kematian secara dini jika dibandingkan
dengan orangorang yang memiliki berat badan yang sehat.
2. Penyakit jantung
3. Resiko berbagai penyakit seperti serangan jantung, gagal jantung kongestif, kematian
secara mendadak, angina, maupun nyeri dada, umumnya akan meningkat pada orang
yang mengalami obesitas. Obesitas juga berhubungan dengan tekanan darah tinggi,
kadar trigliserida atau lemak jahat yang tinggi serta penurunan kolesterol baik
4. Stroke
Penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis, yang dapat menyebabkan
pembekuan darah merupakan suatu kondisi yang umumnya mengawali kasus
serangan stroke. Munculnya aterosklerosis dipicu oleh hipertensi, kolesterol tinggi,
merokok, serta kurang berolahraga. Obesitas juga berkaitan dengan diet atau pola
makan yang tinggi akan lemak, meningkatnya tekanan darah, serta kurangnya

berolahraga. Maka, obesitas saat ini dianggap sebagai faktor resiko sekunder yang
sangat penting dari terjadinya penyakit stroke.
5. Diabetes Tipe 2
Naiknya berat badan walaupun hanya sebesar 5 hingga 10 kg dari kisaran berat badan
yang sehat, akan meningkatkan seseorang terserang diabetes tipe 2 sebesar dua kali
lipatjika dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami berat badan. Sekitar lebih
dari 80% pengidap diabetes diketahui memiliki kelebihan berat badan.
6. Kanker.
Obesitas berkaitan dengan meningkatnya resiko beberapa jenis penyakit kanker,
termasuk kanker endometrium atau kanker lapisan rahim, kanker usus besar, kandung
empedu, prostat, ginjal, serta kanker payudara pasca menopause. Wanita yang
mengalami peningkatan dalam berat badan lebih dari 10 lg saat dari umur 18 tahun
hingga umur paruh baya akan meningkatkan resiko terserang kanker payudara pasca
menopause sebesar dua kali lipat, jika dibandingkan dengan wanita yang berat
badannya tetap dalam keadaan stabil.
7. Perlemakan hati.
Penyebab utama dari penyakit perlemakan hati non alkoholik ialah resistensi hormon
insulin, sebuah gangguan metabolisme dimana selsel mejadi tidak peka terhadap efek
insulin. Salah satu faktor resiko yang sangat umum terjadinya resistensi hormon
insulin adalah obesitas, terutama obesitas sentral. Dalam studi telah menunjukkan
bahwa ada hubungan yang erat antara derajat kerusakan hati dengan obesitas.
8. Penyakit kandung empedu.
Orang yang mengalami obesitas akan memiliki resiko batu empedu tiga kali lebih
besar jika dibandingkan dengan orang yang berat badannya tetap stabil. Umunya
wanita lebih banyak terserang jika dbandingkan dengan pria. Semakin tinggi umur
seseorang maka semakin tinggi juga resiko terserang batu kandung empedu ini.
Umumnya menyerang pada seseorang yang umurnya diatas 40 tahun.
9. Ganguan pernapasan
Disebut juga dengan nama obstructive sleep apnea atau gangguan pernapasan saat
tidur, lebih umum terjadi pada seseorang yang mengalami kelebihan berat badan.
Obesitas dikaitkan dengan meningkatnya resiko penyakit pernapasan seperti asma,
bronkitis berat, besiktas sindrom hipoventilasiserta insufisiensi pernapasan.
10. Artritis
Gangguan pada muskuloskeletal, termasuk osteoarthritis, jauh lebih sering terjadi
pada orang yang mengalami obesitas, terutama pada orang yang didiagnosis
mengalami obesitas kronis. Studi kesehatan menunjukkan bahwa obesitas adalah
pediktor yang sangat kuat untuk gejala osteoarthritis, terutama pada bagian lutut.
Resiko osteoartritis akan meningkat setiap kenaikan 1 kg berat badan.

11. Ibu hamil dan bayi


Obesitas memberikan dampak yang buruk pada kesehatan, baik ibu maupun bayi yang
baru lahir, baik selama serta setelah kehamilan. Obesitas di saat hamil akan berkaitan
dengan resiko kematian yang lebih tinggi mabik pada ibu maupun pada bayinya. Hal
seperti ini juga dapat menimbulkan resiko tekanan darah tinggi pada sang ibu, sebesar
10 kali lipat. Obesitas di masa kehamilan juga sangat berhubungan dengan
peningkatan resiko bayi yang terlahir cacat seperti spina bifida atau sebuah bentuk
kelainan pada tulang belakang. Masalah kesehatan yang berhubungan dengan
obesitasyang terjadi setelah melahirkan termasuk resiko yang lebih tinggi terhadap
luka maupun infeksi endometrium, endometritis serta infeksi pada saluran kemih.
12. Dampak psikologis serta sosial
Dampak emosional mungkin salah satu bagian yang sangat menyakitkan Dampak
emosional mungkin salah satu bagian yang sangat menyakitkan bagi orang yang
mengalami obesitas. Masyarakat saat ini lebih menekankan pada penampilan fisik
yang identik dengan langsing, terutama bagi para wanita. Hal ini akan membuat orang
yang mengalami obesitas menjadi merasa tidak menarik.
13. Mengurangi derajat kesehatan
Semakin bertambahnya berat badan maka dapat mengurangi derajat kesehatan
seseorang. Jadi, dengan cara mengurangi berat badan hingga 10% saja, akan dapat
mengurangi kemungkinan akan terserang penyakit stroke serta penyakit jantung.
Dengan menurunkan berat badan dapat menurunkan resiko penyakit jantung dengan
cara memperbaiki kerja jantung anda, tekanan darah anda, kadar kolesterol darah serta
trigliserida dalam tubuh anda. Dalam studi telah menujukkan bawah dengan cara
mengurangi berat badan 5 hingga 10 kg berat badan anda bila anda mengalami
obesitas akan dapat meningkatkan derajat kesehatan anda.
Berikut ini merupakan penjelasan lengkap tentang pengaruh obesitas terhadap
berbagai aspek kesehatan pada diri seseorang:
1. Yang pertama adalah penjelasan penting bahwa obesitas berperan penting dalam
menurunkan kinerja otak secara drastis. Yang perlu dipahami adalah obesitas
membuat daya ingat seseorang jauh lebih rendah daripada mereka dengan tubuh
proporsional. Ketika daya ingat mendapat masalah, daya tangkap atau kecerdasan
seseorang secara otomatis turut mendapatkan masalah. Kabar baiknya adalah
fenomena ini masih dapat diperbaiki dengan dilakukannya proses penurunan berat
badan. Seiring dengan berkurangnya berat badan seseorang, peredaran darah akan
semakin lancar yang berpengaruh pula pada lancarnya jalan oksigen menuju otak
yang memicunya untuk bekerja dan berfungsi lebih baik.

2. Pengaruh obesitas yang kedua berfokus pada wanita yang ingin segera
mendapatkan keturunan. Pasalnya, menurut hasil riset dari Academic Medical
Center di Amsterdam, kelebihan berat badan berpengaruh besar pada kematangan
sel telur. Akibatnya wanita yang menderita obesitas dikatakan lebih sulit untuk
hamil karena akan mendapatkan lebih banyak kesulitan pada proses pembuahan.
Kemungkinan hamil secara alami oleh wanita dengan BMI (body mass index)
sebesar 30 yang berlebih menurun sebesar dua puluh enam persen. Persentase
tersebut dapat meningkat seiring dengan semakin besar pula jumlah BMI yang
dimiliki oleh seorang wanita.
Obesitas digambarkan sebagai salah satu penyebab menurunnya produktivitas
kerja seseorang. Dapat dibayangkan secara sederhana bahwa seseorang dengan
tumpukan lemak berlebih akan lebih sulit untuk menggerakkan tubuh mereka. Oleh
karena itu, mereka akan lebih mudah merasa lelah dan kualitas kerja mereka juga
tidak akan maksimal. Pasalnya, produktivitas merupakan salah satu daya jual paling
penting pada diri seseorang yang mengandalkan karir mereka sebagai tumpuan hidup
karena produktivitas kerja yang tinggi secara otomatis meningkatkan daya saing.
Mereka yang bertahan adalah mereka yang mampu bersaing dalam kompetisi dunia
kerja, obesitas adalah salah satu perusaknya.
VII. Upaya penanggulangan yang sudah dilakukan pemerintah
Kebijakan yang telah diambil pemerintah Indonesia dalam mengatasimasalah gizi
adalah
1. Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalamRangka Seribu Hari Pertama
Kehidupan disingkat menjadi Gerakan 1000 HPK, (KementerianKesejahteraan Rakyat
RI, 2013)
Gerakan

Seribu

Hari

Pertama

Kehidupan

merupakan

upaya

untuk

memperkuatkomitmen dan rencana aksi percepatan perbaikan gizi, khususnya


penanganan gizi sejak seribuhari pertama kehidupan dari masa kehamilan hingga anak
usia 2 tahun.
Salah satu upaya pemerintah adalah lewat program yang disebut Program
1.000 hari Pertama untuk Negeri yang akan dilaksanakan di enam provinsi Jawa
Barat, Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat dan Nusa
Tenggara Timur. (Tribunnews.com; Eko Sutriyanto)
2. Revitalisasi Posyandu Atasi Masalah Gizi
Posyandu relevan mengatasi masalah gizi. Bisa dibayangkan berapa balita
Indonesia akan terhindar dari masalah gizi jika Posyandu benar-benar dimanfaatkan.

Masyarakat perkotaan yang mempunyai kemampuan ekonomi cukup tentu memilih


dokter. Sebaliknya masyarakat pedesaan masih mempercayai pengobatan melalui
posyandu dan jadi pilihan. (Tribunnews.com; Eko Sutriyanto)
Posyandu dimulai terutama untuk melayani balita (imunisasi, timbang berat
badan) dan orang lanjut usia (Posyandu Lansia), dan lahir melalui suatu Surat
Keputusan Bersama antara Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri), Menteri Kesehatan
(Menkes) RI, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan
Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan
dicanangkan pada sekitar tahun 1986. Legitimasi keberadaan Posyandu ini diperkuat
kembali melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tertanggal
13 Juni 2001 yang antara lain berisikan "Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu"
yang antara lain meminta diaktifkannya kembali Kelompok Kerja Operasional
(POKJANAL)

Posyandu

di

semua

tingkatan

administrasi

pemerintahan.

(Tribunnews.com; Eko Sutriyanto)


3. Deteksi Dini Obesitas Pada Anak dan Remaja Dengan Teknologi Heart Smart Kids
Deteksi dini terhadap timbulnya dampak penyakit yang lebih luas melalui
pengkajian dengan menggunakan aplikasi teknologi yang saat ini sudah
dikembangkan di negara maju yaitu Heart Smart Kids.
VIII. Ide kreatif yang diusulkan untuk mengatasi obesitas

DAFTAR PUSTAKA
Laseduw, Jeffry. Penyakit Yang Muncul Karena Obesitas | Nectura Juice. (Availabe at
http://www.necturajuice.com/penyakit-yang-muncul-karena-obesitas/ pada tanggal
16-12-2014 pukul 17:03)
Michael J. Gibney, Shirley AA Beresford, dan John M Kearney. 2008. Gizi
Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Revitalisasi
Posyandu
Atasi
Masalah
Gizi
(Available
at
http://www.tribunnews.com/kesehatan/2012/02/17/revitalisasiposyandu-atasi-masalah-gizi Pada tanggal 16-12-2012 pada tanggal
16-12-2012 pukul 18.39)
Sartika , Ratu Ayu Dewi, 2011. FAKTOR RISIKO OBESITAS PADA ANAK 5-15 TAHUN
DI INDONESIA. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
Siagan, Albiner. 2010. Epidemiologi Gizi. Erlangga.
Waspadji, Sarwono dan Slamet
Epidemiologi.Jakarta: FKUI

Suyono.2003.Pengkajian

Status

Gizi

Studi

Anda mungkin juga menyukai