Anda di halaman 1dari 47

TEKNOLOGI PENGOLAHAAN AIR LIMBAH

RUMAH SAKIT DENGAN SISTEM


BIOFILTER ANEROB-AEROB
Oleh
Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair


Direktorat Teknologi Lingkungan, Deputi Bidang Teknologi
Informasi, Energi, Material dan Lingkungan
Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi
Jakarta, 1999

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

TEKNOLOGI PENGOLAHAAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT


DENGAN SISTEM BIOFILTER ANEROB-AEROB
ABSTRAK
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tujuan dan Sasaran

Manfaat
Kontak Personil

METODOLOGI

Survai Lapangan
Penentuan Lokasi
Ketersediaan Bahan & Peralatan

Rancangan & Konstruksi


Pembangunan Prototipe &
Pengujian Karakteristik Alat

PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT

PEMILIHAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT


Teknologi Pengolahan Air Limbah
Teknologi Proses Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit

Pengolahan Air Limbah dengan Proses Lumpur Aktif


Pengolahan Air Limbah dengan Proses Reaktor Biologis Putar (RBC)
Pengolahan Air Limbah dengan Proses Aerasi Kontak
Pengolahan Air
Limbah dengan
Proses Bio Filter
TEKNOLOGI
PENGOLAHAN
AIR "Up-Flow"
LIMBAH
Proses Pengolahan dengan Sistem Bio Filter Anaerob-Aerob

RANCANG BANGUN UNIT PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH


SAKIT DENGAN SISTEM BIOFILTER ANAEROB-AEROB
Proses Pengolahan
Bentuk dan Prototipe Alat
Kapasitas Alat
Bak Kontraktor Khlorine
Waktu Tinggal
Lokasi Uji Coba

PEMBANGUNAN ALAT PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT


DENGAN PROSES BIOFILTER ANAEROB-AEROB
KAPASITAS 1015 M3/HARI

UJI COBA ALAT PENGOLAH AIR LIMBAH RUMAH SAKIT


KOMBINASI BIO FILTER ANAEROB-AEROB
PENUTUP
162

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

ABSTRAK

Air limbah rumah sakit merupakan salah satu sumber pencemaran


lingkungan yang sangat potensial. Oleh karena itu air limbah tersebut perlu
diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran umum. Masalah yang sering
muncul dalam hal pengelolaan limbah rumah sakit adalah terbatasnya dana yang
ada untuk membangun fasilitas pengolahan limbah serta operasinya, khususnya
untuk rumah sakit tipe kecil dan menengah.
Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dikembangkan teknologi
pengolahan air limbah rumah sakit yang murah, mudah operasinya serta
harganya terjangkau, khususnya untuk rumah sakit dengan kapasitas kecil
sampai sedang. Selain itu perlu menyebar-luaskan informasi teknologi khususnya
untuk pengolahan air limbah rumah sakit, sehingga dalam memilih teknologi pihak
pengelola rumah sakit mendapatkan hasil yang optimal.
Makalah ini membahas tentang beberapa teknologi pengolahan air limbah
secara biologis yang sesuai untuk pengolahan air limbah rumah sakit. Di dalam
pemilihan teknologi pengolahan air limbah tersebut beberapa hal yang perlu
diperhatikan antara lain yakni jumlah air limbah yang akan diolah, kualitas air
limbah dan kualitas air olahan yang diharapkan, kemudahan dalam hal
pengelolaan dan perawatan, ketersediaan lahan dan sumber energi, serta
ketersediaan dana yang ada.
Salah satu cara pengolahan air limbah rumah sakit yang murah, sederhana
dan hemat energi adalah proses pengolahan dengan sistem biofilter anaerobaerob. Dengan sistem kombinasi biofilter Anaerob-Aerob diperoleh hasil air
olahan yang cukup baik, serta proses pengolahannya sangat stabil walaupun
konsentrasi maupun debit air limbah berfluktuasi.
Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

163

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumah sakit adalah merupakan fasilitas sosial yang tak mungkin dapat
dipisahkan dengan masyarakat, dan keberadaannya sangat diharapkan oleh
masyarakat, karena sebagai manusia atau masyarakat tentu menginginkan agar
keseahatan tetap terjaga. Oleh karena itu rumah sakit mempunyai kaitan yang
erat dengan keberadaan kumpulan manusia atau masyarakat tersebut. Di masa
lalu, suatu rumah sakit dibangun di suatu wilayah yang jaraknya cukup jauh dari
dareah pemukiman, dan biasanya dekat dengan sungai dengan pertimbangan agar
pengelolaan limbah baik padat maupun cair tidak berdampak negatip terhadap
penduduk, atau bila ada dampak negatip maka dampak tersebut dapat diperkecil.
Sejalan dengan perkembangan penduduk yang sangat pesat, lokasi rumah
sakit yang dulunya jauh dari daerah pemukiman penduduk tersebut sekarang
umumnya telah berubah dan berada di tengah pemukiman penduduk yang cukup
padat, sehingga masalah pencemaran akibat limbah rumah sakit baik limbah
padat atau limbah cair sering menjadi pencetus konflik antara pihak rumah sakit
dengan masyarakat yang ada di sekitarnya.
Dengan pertimbangan alasan tersebut, maka rumah sakit yang dibangun
setelah tahun 1980 an telah diwajibkan menyediakan sarana limbah padat
maupun limbah cair. Namun dengan semakin mahalnya harga tanah, serta
besarnya tuntutan masyarakat akan kebutuhan peningkatan sarana penunjang
pelayanan kesehatan yang baik, dan di lain pihak peraturan pemerintah tentang
pelestarian lingkungan juga semakin ketat, maka pihak rumah sakit umumnya
menempatkan sarana pengolah limbah pada skala prioritas yang rendah.
Akibatnya, sering terjadi benturan perbedaan kepentingan antar pihak rumah
sakit dengan masyarakat atau pemerintah. Dengan adanya kebijakan legal yang
mengharuskan pihak rumah sakit agar menyediakan fasilitas pengolahan limbah
yang dihasilkan, mengakibatkan biaya investasi maupun biaya operasional
menjadi lebih besar.
Air limbah yang berasal dari limbah rumah sakit merupakan salah satu
sumber pencemaran air yang sangat potensial. Hal ini disebabkan karena air
limbah rumah sakit mengandung senyawa organik yang cukup tinggi juga
kemungkinan mengandung senyawa-senyawa kimia lain serta mikro-organisme
patogen yang dapat menyebabkan penyakit terhadap masyarakat di sekitarnya.
Oleh karena potensi dampak air limbah rumah sakit terhadap kesehatan
masyarakat sangat besar, maka setiap rumah sakit diharuskan mengolah air
limbahnya sampai memenuhi persyaratan standar yang berlaku.

164

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Dengan adanya peraturan yang mengharuskan bahwa setiap rumah sakit


harus mengolah air limbah sampai standar yang diijinkan, maka kebutuhan akan
teknologi pengolahan air limbah rumah sakit khususnya yang murah dan hasilnya
baik perlu dikembangkan. Hal ini mengingat bahwa kendala yang paling banyak
dijumpai yakni teknologi yang ada saat ini masih cukup mahal, sedangkan di lain
pihak dana yang tersedia untuk membangun unit alat pengolah air limbah
tersebut sangat terbatas sekali. Untuk rumah sakit dengan kapasitas yang
besar umumnya dapat membangun unit alat pengolah air limbahnya sendiri
karena mereka mempunyai dana yang cukup. Tetapi untuk rumah sakit tipe kecil
sampai dengan tipe sedang umumnya sampai saat ini masih membuang air
limbahnya ke saluran umum tanpa pengolahan sama sekali.
Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dikembangkan teknologi
pengolahan air limbah rumah sakit yang murah, mudah operasinya serta
harganya terjangkau, khususnya untuk rumah sakit dengan kapasitas kecil
sampai sedang. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat kedala yang cukup
besar yakni kurangnya tersedianya teknologi pengolahan yang baik dan harganya
murah. Masalah ini menjadi kendala yang cukup besar terutama untuk rumah
sakit kecil, yang mana pihak rumah sakit tidak/belum mampu untuk membangun
unit alat pengilahan air limbah sendiri, sehingga sampai saat ini masih banyak
sekali rumah sakit yang membuang air limbahnya ke saluran umum.
Untuk pengolahan air limbah rumah sakit dengan kapasitas yang besar,
umumnya menggunakan teknlogi pengolahan air limbah Lumpur Aktif atau
Activated Sludge Process, tetapi untuk kapasitas kecil cara tersebut kurang
ekonmis karena biaya operasinya cukup besar. Untuk mengatasi hal tersebut,
perlu menyebarluaskan informasi teknologi khususya teknologi pengolahan air
limbah rumah sakit berserta aspek pemilihan teknologi serta keunggulan dan
kekurangannya. Dengan adanya informasi yang jelas, maka pihak pengelola rumah
sakit dapat memilih teknologi pengolahan limbah yang sesuai dengan kodisi
maupun jumlah air limbah yang akan diolah, yang layak secara teknis, ekonomis
dan memenuhi standar lingkungan.
Tujuan dan Sasaran
Tujuan kegiatan ini yakni mengkaji dan mengembangkan teknologi
pengolahan air limbah rumah sakit, khususnya untuk rumah sakit tipe kecil yang
sesuai dengan kondisi di Indonesia misalnya dengan proses Biofilter Anaerob
dan Aerob. Unit alat pengolah air limbah tersebut dapat di dalam bentuk paket
sehingga pembangunan atau operasinya murah dan sederhana. Selain itu alat ini
dirancang sedemikian rupa hingga hemat energi.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

165

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Sasaran dari kegiatan ini adalah membangun prototipe unit pengolahan air
limbah rumah sakit dengan sistem biofilter Anaerob dan Aerob, dengan
kapasitas pengolahan 10 - 15 M3/hari, serta mengkaji karakteristik serta
efisiensi pengolahan terhadap beberapa parameter kualitas air limbah.
Manfaat
Teknologi pengolahan air limbah dengan sistem biofilter anaerob-aerob
sangat cocok digunakan untuk mengolah air limbah dengan skala kecil sampai
skala besar, tahan terhadap perubahan beban hidrolik maupun beban organik,
dan biaya opersinya sangat murah.
Kontak Personil
Ir. Nusa Idaman Said, M.Eng.
Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair
Direktorat Teknologi Lingkungan
Kedeputian Bidang Teknologi Informatika, Energi dan Material
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Tel. 021-3169769, 3169770 Fax. 021-3169760
Email : air@pentium.as.bppt.go.id
Home Page : http://pentium.as.bppt.go.id/

166

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

METODOLOGI PELAKSANAAN

Survai Lapangan
Survai ini dilakukan untuk mengetahui keadaan di lapangan mengenai
jumlah dan kualitas air limbah, serta kondisi jaringan air limbah dan
ketersediaan lahan.
Penentuan Lokasi
Lokasi prototipe unit alat pengolah air limbah dipasang di rumah sakit
terpilih, dan harus ditentukan sedemikian rupa agar didapatkan hasil yang
memuaskan, baik ditinjau dari segi teknis maupun estetika. Sedapat mungkin
lokasi ditentukan agar aliran air dapat berjalan secara gravitasi untuk
penghematan energi.
Ketersediaan Bahan dan Peralatan
Bahan dan peralatan yang diperlukan untuk pembangunan unit pengolahan
air limbah diharapkan dapat dengan mudah didapat di pasaran, sehingga dapat
memberikan kemudahan dalam pengerjaan pembangunan dan biaya konstruksi
dapat ditekan serendah mungkin.
Rancangan dan Konstruksi
Disain unit alat pengolah air limbah dirancang berdasarkan jumlah dan
kualitas air limbah, serta sesuai dengan ketersediaan lahan yang ada. Prototipe
alat pengolah air limbah rumah sakit tersebut akan dirancang dalam bentuk yang
kompak agar pemasangan/pembangunan serta operasinya mudah, serta
diusahakan menggunakan energi sekecil mungkin.
Pembangunan Prototipe dan Pengujian Karakteristik Alat
Setelah prototipe alat pengolah air limbah rumah sakit selesai dibangun,
dilakukan pengujian karakteristik alat dan pengujian efisiensi pengolahan
terhadap beberapa parameter proses misalnya beban pengolahan, waktu tinggal,
aerasi dll.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

167

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT


Umum
Air limbah rumah sakit adalah seluruh buangan cair yang berasal dari
hasil proses seluruh kegiatan rumah sakit yang meliputi: limbah domistik cair
yakni buangan kamar mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian; limbah cair
klinis yakni air limbah yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit misalnya air
bekas cucian luka, cucian darah dll.; air limbah laboratorium; dan lainya.
Air limbah rumah sakit yang berasal dari buangan domistik maupun
buangan limbah cair klinis umumnya mengadung senaywa pulutan organik yang
cukup tinggi, dan dapat diolah dengan proses pengolahan secara biologis,
sedangkan untuk air limbah rumah sakit yang berasal dari laboratorium biasanya
banyak mengandung logam berat yang mana bila air limbah tersebut dialirkan ke
dalam proses pengolahan secara biologis, logam berat tersebut dapat menggagu
proses pengolahannya.
Oleh karena itu untuk pengelolaan air limbah rumah sakit, maka air limbah
yang berasal dari laboratorium dipisahkan dan ditampung, kemudian diolah
secara kimia-fisika, Selanjutnya air olahannya dialirkan bersama-sama dengan
air limbah yang lain, dan selanjutnya diolah dengan proses pengolahan secara
biologis. Diagram proses pengelolaan air limbah rumah sakit secara umum dapat
dilihat seperti pada gambar 1.
Di dalam pengelolaan air limbah rumah sakit, maka yang perlu
diperhatikan adalah sistem saluran pembuangan air. Saluran air limbah dan
saluran air hujan harus dibuat secara terpisah. Air limbah rumah sakit baik yang
berasal dari buangan kamar mandi, air bekas ccucian, air buangan dapur serta
air limbah klinis dikumpulkan ke bak kontrol dengan saluran atau pipa tertutup,
selanjutnya dialirkan ke unit pengolahan air limbah. Setelah dilakukan
pengolahan, air hasil olahannya dibuang ke saluran umum. Untuk air hujan dapat
langsung dibuang kesaluran umum melalui saluran terbuka.
Dari hasil analisa kimia terhadap berberapa contoh air limbah rumah sakit
yang ada di DKI Jakarta menunjukkan bahwa konsentrasi senywa pencemar
sangat bervariasi misalnya, BOD 31,52 - 675,33 mg/l, ammoniak 10,79 - 158,73
mg/l, deterjen (MBAS) 1,66 - 9,79 mg/l. Hal ini mungkin disebabkan karena
sumber air limbah juga bervarisi sehingga faktor waktu dan metoda pengambilan
contoh sangat mempengaruhi besarnya konsentarsi. Secara lengkap
karakteristik air limbah rumah sakit dapat dilihat pada tabel 1.

168

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Dari tabel tesebut terlihat bahwa air limbah rumah sakit jika tidak diolah
sangat berpotensi untuk mencemari lingkungan. Selain pencemaran secara
kimiawi, air limbah rumah sakit juga berpotensi untuk memcemari lingkungan
secara bakteriologis.

Gambar 1 : Diagram pengelolaan air limbah rumah sakit


Tabel 1 : Karakteristik air limbah rumah rumah sakit di daerah DKI Jakarta.
No

PARAMETER

MINIMUM

MAKSIMUM

RATA-RATA

1
2
3

BOD - mg/l
COD - mg/l
Angka Permanganat
(KMnO4) - mg/l
Ammoniak (NH3) - mg/l
Nitrit (NO2-) - mg/l
Nitrat (NO3-) - mg/l
Khlorida (Cl-) - mg/l
Sulfat (SO4-) - mg/l
pH
Zat padat tersuspensi (SS) mg/l
Deterjen (MBAS) - mg/l
Minyal/lemak - mg/l
Cadmium (Cd) - mg/l
Timbal (Pb)
Tembaga (Cu) - mg/l
Besi (Fe) - mg/l
Warna - (Skala Pt-Co)
Phenol - mg/l

31,52
46,62
69,84

675,33
1183,4
739,56

353,43
615,01
404,7

10,79
0,013
2,25
29,74
81,3
4,92
27,5
1,66
1
ttd
0,002
ttd
0,19
31
0,04

158,73
0,274
8,91
103,73
120,6
8,99
211
9,79
125
0,016
0,04
0,49
70
150
0,63

84,76
0,1435
5,58
66,735
100,96
6,96
119,25
5,725
63
0,008
0,021
0,245
35,1
76
0,335

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Sumber : PD PAL JAYA 1995.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

169

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

PEMILIHAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN


AIR LIMBAH RUMAH SAKIT
Teknologi Pengolahan Air Limbah
Untuk mengolah air yang mengandung senyawa organik umumnya
menggunakan teknologi pengolahan air limbah secara biologis atau gabungan
antara proses biologis dengan proses kimia-fisika. Proses secara biologis
tersebut dapat dilakukan pada kondisi aerobik (dengan udara), kondisi anaerobik
(tanpa udara) atau kombinasi anaerobik dan aerobik. Proses biologis aeorobik
biasanya digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang tidak
terlalu besar, sedangkan proses biologis anaerobik digunakan untuk pengolahan
air limbah dengan beban BOD yang sangat tinggi. Dalam makalah ini uraian
dititik beratkan pada proses pengolahan air limbah secara aerobik.
Pengolahan air limbah secara biologis aerobik secara garis besar dapat
dibagi menjadi tiga yakni proses biologis dengan biakan tersuspensi (suspended
culture), proses biologis dengan biakan melekat (attached culture) dan proses
pengolahan dengan sistem lagoon atau kolam. Proses biologis dengan biakan
tersuspensi adalah sistem pengolahan dengan menggunakan aktifitas mikroorganisme untuk menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air dan mikroorganime yang digunakan dibiakkan secara tersuspesi di dalam suatu reaktor.
Beberapa contoh proses pengolahan dengan sistem ini antara lain : proses
lumpur aktif standar/konvesional (standard activated sludge), step aeration,
contact stabilization, extended aeration, oxidation ditch (kolam oksidasi sistem
parit) dan lainya.
Proses biologis dengan biakan melekat yakni proses pengolahan limbah
dimana mikro-organisme yang digunakan dibiakkan pada suatu media sehingga
mikroorganisme tersebut melekat pada permukaan media. Beberapa contoh
teknologi pengolahan air limbah dengan cara ini antara lain : trickling filter atau
biofilter, rotating biological contactor (RBC), contact aeration/oxidation
(aerasi kontak) dan lainnnya. Proses pengolahan air limbah secara biologis
dengan lagoon atau kolam adalah dengan menampung air limbah pada suatu kolam
yang luas dengan waktu tinggal yang cukup lama sehingga dengan aktifitas
mikro-organisme yang tumbuh secara alami, senyawa polutan yang ada dalam air
akan terurai. Untuk mempercepat proses penguraian senyawa polutan atau
memperpendek waktu tinggal dapat juga dilakukam proses aerasi. Salah satu
contoh proses pengolahan air limbah dengan cara ini adalah kolam aerasi atau
kolam stabilisasi (stabilization pond). Proses dengan sistem lagoon tersebut
kadang-kadang dikategorikan sebagai proses biologis dengan biakan tersuspensi.

170

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Secara garis besar klasifikasi proses pengolahan air limbah secara aerobik
dapat dilihat seperti pada gambar 2, sedangkan karakteristik pengolahan,
parameter perencanaan serta efisiensi pengolahan untuk tiap tiap jenis proses
dapat dilihat pada tabel 2, dan tabel 3. Untuk memilih jenis teknologi atau
proses yang akan digunakan untuk pengolahan air limbah, beberapa hal yang
perlu diperhatikan antara lain : karakteristik air limbah, jumlah limbah serta

standar kualitas air olahan yang diharapkan.

Teknologi Proses Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit


Teknologi proses pengolagan air limbah yang digunakan untuk mengolah air
limbah rumah sakit pada dasarnya hampir sama dengan teknologi proses
pengolahan untuk air limbah yang mengandung polutan organik lainnya. Pemilihan
jenis proses yang digunakan harus memperhatikan bebrapa faktor antara lain
yakni kualitas limbah dan kualitas air hasil olahan yang diharapkan, jumlah air
limbah, lahan yang tersedia dan yang tak kalah penting yakni sumber energi yang
tersedia. Berapa teknologi proses pengolahan air limbah rumah sakit yang sering
digunakan yakni antara lain: proses lumpur aktif (activated sludge process),
reaktor putar biologis (rotating biological contactor, RBC), proses aerasi kontak
(contact aeration process), proses pengolahan dengan biofilter Up Flow, serta
proses pengolahan dengan sistem biofilter anaerob-aerob.

Gambar 2 : Klasifikasi proses pengolahan air limbah secara biologis aerobik.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

171

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Tabel 2 : Karakterisiti operasional proses pengolahan air limbah dengan proses biologis.
EFISIENSI
PENGHILANGAN
BOD (%)

KETERANGAN

Lumpur Aktif
Standar

85 - 95

Step Aeration

85 - 95

Digunakan untuk beban


pengolahan yang besar.

Modified Aeration

60 - 75

Untuk pengolahan dengan


kualitas air olahan sedang.

Contact Stabilization

80 - 90

Digunakan untuk pengolahan


paket. Untuk mereduksi
ekses lumpur.

High Rate Aeration

75 - 90

Untuk pengolahan paket, bak


aerasi dan bak pengendap
akhir merupakan satu paket.
Memerlukan area yang kecil.

Pure Oxygen Process

85 - 95

Untuk pengolahan air limbah


yang sulit diuraikan secara
bilogis. Luas area yang
dibutuhkan kecil.

Oxidation Ditch

75 - 95

Konstruksinya mudah, tetapi


memerlukan area yang luas.

Trickling Filter

80 - 95

Sering timbul lalat dan bau.


Proses operasinya mudah.

Rotating Biological
Contactor

80 - 95

Konsumsi energi rendah,


produksi lumpur kecil. Tidak
memerlukan proses aerasi.

Contact Aeration
Process

80 - 95

Memungkinkan untuk
penghilangan nitrogen dan
phospor.

Biofilter Unaerobic

65 - 85

memerlukan waktu tinggal


yang lama, lumpur yang
terjadi kecil.

Kolam stabilisai

60 - 80

memerlukan waktu tinggal


yang cukup lama, dan area
yang dibutukkan sangat luas

JENIS PROSES

PPROSES
BIOMASA
TERSUSPENSI

PROSES
BIOMASA
MELEKAT

LAGOON

172

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Tabel 3 : Parameter Perencanaan Proses Pengolahan Air Limbah


Dengan Proses Biologis Aerobik.
Jenis
Proses

Beban
BOD
kg/kgSS.D

BOD
BOD
Kg/M3.D

MLSS
(Mg/Lt)

QA/Q

T (Jam)

Efisiensi
Penghilangan BOD (%)

Lumpur Aktif Standar

0,2 - 0,4

0,3 - 0,8

1500 - 2000

3 -7

6-8

85 - 95

Step Aeration

0,2 - 0,4

0,4 - 1,4

1000 - 1500

3-7

4-6

85 - 95

PPROSES

Modified Aeration

1,5 - 3,0

0,6 - 2,4

400 - 800

2 - 2,5

1,5 - 30

60 - 75

BIOMASA

Contact Stabilization

0,2

0,8 - 1,4

2000 - 8000

> 12

>5

80 - 90

TERSUSPENSI

High Rate Aeration

0,2 - 0,4

0,6 - 2,4

3000 - 6000

5-8

2-3

75 - 90

Pure Oxygen Process

0,3 - 0,4

1,0 - 2,0

3000 - 4000

1-3

85 - 95

Oxidation Ditch

0,03 - 0,04

0,1 - 0,2

3000 - 4000

24 -48

75 - 95

Extended Aeration

0,03 - 0,05

0,15 - 0,25

3000 - 6000

> 15

16 - 24

75 - 95

PROSES

Trickling Filter

0,08 - 0,4

80 - 95

BIOMASA

Rotating Biological Contactor

0,01 - 0,3

80 - 95

MELEKAT

Contact Aeration Process

80 - 95

Biofilter Unaerobic

65 - 85

CATATAN :

Q : Debit Air Limbah (M3/day)

Qr : Return Sludge (M3/day)

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

QA : Laju Alir Suplai Udara (M3/day)

173

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Lumpur Aktif


Pengolahan air limbah dengan proses lumpur aktif secara umum terdiri
dari bak pengendap awal, bak aerasi dan bak pengendap akhir, serta bak
khlorinasi untuk membunuh bakteri patogen. Secara umum proses
pengolahannya adalah sebagai berikut. Air limbah yang berasal dari rumah
sakit ditampung ke dalam bak penampung air limbah. Bak penampung ini
berfungsi sebagai bak pengatur debit air limbah serta dilengkapi dengan
saringan kasar untuk memisahkan kotoran yang besar. Kemudian, air limbah
dalam bak penampung di pompa ke bak pengendap awal.
Bak pengendap awal berfungsi untuk menurunkan padatan tersuspensi
(Suspended Solids) sekitar 30 - 40 %, serta BOD sekitar 25 % . Air limpasan
dari bak pengendap awal dialirkan ke bak aerasi secara gravitasi. Di dalam bak
aerasi ini air limbah dihembus dengan udara sehingga mikro organisme yang
ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah. Energi yang
didapatkan dari hasil penguraian zat rganik tersebut digunakan oleh
mikrorganisme untuk proses pertumbuhannya. Dengan demikian didalam bak
aerasi tersebut akan tumbuh dan berkembang biomasa dalam jumlah yang
besar. Biomasa atau mikroorganisme inilah yang akan menguaraikan senyawa
polutan yang ada di dalam air limbah.
Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini
lumpur aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa
kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Air
limpasan(over flow) dari bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi. Di
dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor
untuk membunuh micro-organisme patogen. Air olahan, yakni air yang keluar
setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum.
Dengan proses ini air limbah rumah sakit dengan konsentrasi BOD 250 300 mg/lt dapat di turunkan kadar BOD nya menjadi 20 -30 mg/lt. Skema
proses pengolahan air limbah rumah sakit dengan sistem aerasi kontak dapat
dilihat pada gambar 3. Surplus lumpur dari bak pengendap awal maupun akhir
ditampung ke dalam bak pengering lumpur, sedangkan air resapannya
ditampung kembali di bak penampung air limbah.
Keunggulan proses lumpur aktif ini adalah dapat mengolah air limbah
dengan beban BOD yang besar, sehingga tidak memerlukan tempat yang besar.
Proses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah dalam jumlah yang besar.
Sedangkan beberapa kelemahannya antara lain yakni kemungkinan dapat
terjadi bulking pada lumpur aktifnya, terjadi buih, serta jumlah lumpur yang
dihasilkan cukup besar.
174

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng.

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Gambar 3 : Diagram proses pengolahan air limbah dengan proses lumpur aktif

Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Reaktor Biologis Putar


(Rotating Biological Contactor, RBC)
Reaktor biologis putar (rotating biological contactor) disingkat RBC
adalah salah satu teknologi pengolahan air limbah yang mengandung polutan
organik yang tinggi secara biologis dengan sistem biakan melekat (attached
culture). Prinsip kerja pengolahan air limbah dengan RBC yakni air limbah yang
mengandung polutan organik dikontakkan dengan lapisan mikro-organisme
(microbial film) yang melekat pada permukaan media di dalam suatu reaktor.
Media tempat melekatnya film biologis ini berupa piringan (disk) dari
bahan polimer atau plastik yang ringan dan disusun dari berjajar-jajar pada
suatu poros sehingga membentuk suatu modul atau paket, selanjutnya modul
tersebut diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke dalam air
limbah yang mengalir secara kontinyu ke dalam reaktor tersebut.
Dengan cara seperti ini mikro-organisme miaslanya bakteri, alga,
protozoa, fungi, dan lainnya tumbuh melekat pada permukaan media yang
berputar tersebut membentuk suatu lapisan yang terdiri dari mikro-organisme
yang disebut biofilm (lapisan biologis). Mikro-organisme akan menguraikan atau
mengambil senyawa organik yang ada dalam air serta mengambil oksigen yang
larut dalam air atau dari udara untuk proses metabolismenya, sehingga
kandungan senyawa organik dalam air limbah berkurang.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

175

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Pada saat biofilm yang melekat pada media yang berupa piringan tipis
tersebut tercelup kedalam air limbah, mikro-organisme menyerap senyawa
organik yang ada dalam air limbah yang mengalir pada permukaan biofilm, dan
pada saat biofilm berada di atas permuaan air, mikro-organisme menyerap
okigen dari udara atau oksigen yang terlarut dalam air untuk menguraikan
senyawa organik. Enegi hasil penguraian senyawa organik tersebut digunakan
oleh mikro-organisme untuk proses perkembang-biakan atau metabolisme.
Senyawa hasil proses metabolisme mikro-organisme tersebut akan keluar dari
biofilm dan terbawa oleh aliran air atau yang berupa gas akan tersebar ke
udara melalui rongga-rongga yang ada pada mediumnya, sedangkan untuk
padatan tersuspensi (SS) akan tertahan pada pada permukaan lapisan biologis
(biofilm) dan akan terurai menjadi bentuk yang larut dalam air.
Pertumbuhan mikro-organisme atau biofilm tersebut makin lama semakin
tebal, sampai akhirnya karena gaya beratnya sebagian akan mengelupas dari
mediumnya dan terbawa aliran air keluar. Selanjutnya, mikro-organisme pada
permukaan medium akan tumbuh lagi dengan sedirinya hingga terjadi
kesetimbangan sesuai dengan kandungan senyawa organik yang ada dalam air
limbah. Secara sederhana proses penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme di dalam RBC dapat digambarkan seperti pada gambar 4.
Keunggulan dari sistem RBC yakni proses operasi maupun konstruksinya
sederhana, kebutuhan energi relatif lebih kecil, tidak memerlukan udara dalam
jumlah yang besar, lumpur yang terjadi relatf kecil dibandingkan dengan
proses lumpur aktif, serta relatif tidak menimbulkan buih. Sedangkan
kekurangan dari sistem RBC yakni sensitif terhadap temperatur.

Gambar 4 : Mekanisme proses penguraian senyawa organik


oleh mikro-organisme di dalam RBC
176

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Proses Pengolahan
Secara garis besar proses pengolahan air limbah dengan sistem RBC
terdiri dari bak pemisah pasir, bak pengendap awal, bak kontrol aliran,
reaktor/kontaktor biologis putar (RBC), Bak pengendap akhir, bak khlorinasi,
serta unit pengolahan lumpur. Diagram proses pengolahan air limbah dengan
sistem RBC adalah seperti pada gambar 5.

Gambar 5 : Diagram proses pengolahan air limbah dengan sistem RBC.


Bak Pemisah Pasir
Air limbah dialirkan dengan tenang ke dalam bak pemisah pasir, sehingga
kotoran yang berupa pasir atau lumpur kasar dapat diendapkan. Sedangkan
kotoran yang mengambang misalnya sampah, plastik, sampah kain dan lainnya
tertahan pada sarangan (screen) yang dipasang pada inlet kolam pemisah pasir
tersebut.
Bak Pengendap Awal
Dari bak pemisah/pengendap pasir, air limbah dialirkan ke bak pengedap
awal. Di dalam bak pengendap awal ini lumpur atau padatan tersuspensi
sebagian besar mengendap. Waktu tinggal di dalam bak pengedap awal adalah 2
- 4 jam, dan lumpur yang telah mengendap dikumpulkan daan dipompa ke bak
pengendapan lumpur.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

177

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Bak Kontrol Aliran


Jika debit aliran air limbah melebihi kapasitas perencanaan, kelebihan
debit air limbah tersebut dialirkan ke bak kontrol aliran untuk disimpan
sementara. Pada waktu debit aliran turun / kecil, maka air limbah yang ada di
dalam bak kontrol dipompa ke bak pengendap awal bersama-sama air limbah
yang baru sesuai dengan debit yang diinginkan.
Kontaktor (reaktor) Biologis Putar
Di dalam bak kontaktor ini, media berupa piringan (disk) tipis dari
bahan polimer atau plastik dengan jumlah banyak, yang dilekatkan atau dirakit
pada suatu poros, diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke
dalam air limbah. Waktu tinggal di dalam bak kontaktor kira-kira 2,5 jam.
Dalam kondisi demikian, mikro-organisme akan tumbuh pada permukaan media
yang berputar tersebut, membentuk suatu lapisan (film) biologis.
Film biologis tersebut terdiri dari berbagai jenis/spicies mikroorganisme misalnya bakteri, protozoa, fungi, dan lainnya. Mikro-organisme yang
tumbuh pada permukaan media inilah yang akan menguraikan senaywa organik
yang ada di dalam air limbah. Lapsian biologis tersebut makin lama makin tebal
dan kerena gaya beratnya akan mengelupas dengan sedirinya dan lumpur
orgnaik tersebut akan terbawa aliran air keluar. Selanjutnya laisan biologis
akan tumbuh dan berkembang lagi pada permukaan media dengan sendirinya.
Bak Pengendap Akhir
Air limbah yang keluar dari bak kontaktor (reaktor) selanjutnya
dialirkan ke bak pengendap akhir, dengan waktu pengendapan sekitar 3 jam.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, lumpur yang berasal dari RBC lebih
mudah mengendap, karena ukurannya lebih besar dan lebih berat.
Air limpasan (over flow) dari bak pengendap akhir relaitif sudah jernih,
selanjutnya dialirkan ke bak khlorinasi. Sedangkan lumpur yang mengendap di
dasar bak di pompa ke bak pemekat lumpur bersama-sama dengan lumpur yang
berasal dari bak pengendap awal.

178

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Bak Khlorinasi
Air olahan atau air limpasan dari bak pengendap akhir masih mengandung
bakteri coli, bakteri patogen, atau virus yang sangat berpotensi menginfeksi
ke masyarakat sekitarnya. Untuk mengatasi hal tersebut, air limbah yang
keluar dari bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi untuk membunuh
mikro-organisme patogen yang ada dalam air. Di dalam bak khlorinasi, air
limbah dibubuhi dengan senyawa khlorine dengan dosis dan waktu kontak
tertentu sehingga seluruh mikro-orgnisme patogennya dapat di matikan.
Selanjutnya dari bak khlorinasi air limbah sudah boleh dibuang ke badan air.
Bak Pemekat Lumpur
Lumpur yang berasal dari bak pengendap awal maupun bak pengendap
akhir dikumpulkan di bak pemekat lumpur. Di dalam bak tersebut lumpur di
aduk secara pelan kemudian di pekatkan dengan cara didiamkan sekitar 25 jam
sehingga lumpurnya mengendap, selanjutnya air supernatant yang ada pada
bagian atas dialirkan ke bak pengendap awal, sedangkan lumpur yang telah
pekat dipompa ke bak pengering lumpur atau ditampung pada bak tersendiri
dan secara periodik dikirim ke pusat pengolahan lumpur di tempat lain.
Keunggulan dan Kelemahan RBC
Beberapa keunggulan proses pengolahan air limbah denga sistem RBC
antara lain :
Pengoperasian alat serta perawatannya mudah.
Untuk kapasitas kecil / paket, dibandingkan dengan proses lumpur aktif
konsumsi energi lebih rendah.
Dapat dipasang beberapa tahap (multi stage), sehingga tahan terhadap
fluktuasi beban pengoalahan.
Reaksi nitrifikasi lebih mudah terjadi, sehingga efisiensi penghilangan
ammonium lebih besar.
Tidak terjadi bulking ataupun buih (foam) seperti pada proses lumpur aktif.
Sedangkan beberapa kelemahan dari proses pengolahan air limbah dengan
sistem RBC antara lain yakni :

Pengontrolan jumlah mikro-organisme sulit dilakukan.


Sensitif terhadap perubahan temperatur.
Kadang-kadang konsentrasi BOD air olahan masih tinggi.
Dapat menimbulkan pertumbuhan cacing rambut, serta kadang-kadang
timbul bau yang kurang sedap.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

179

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Aerasi Kontak


Proses ini merupakan pengembangan dari proses lumpur aktif dan proses
biofilter. Pengolahan air limbah dengan proses aerasi kontak ini terdiri dari
dua bagian yakni pengolahan primer dan pengolahan sekunder.
Pengolahan Primer
Pada pengolahan primer ini, air limbah dialirkan melalui saringan kasar
(bar screen) untuk menyaring sampah yang berukuran besar seperti sampah
daun, kertas, plastik dll. Setelah melalui screen air limbah dialirkan ke bak
pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran
lainnya. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak
pengontrol aliran.
Pengolahan sekunder
Proses pengolahan sekunder ini terdiri dari bak kontaktor anaerob
(anoxic) dan bak kontaktor aerob. Air limpasan dari bak pengendap awal
dipompa dan dialirkan ke bak penenang, kemudian dari bak penenang air limbah
mengalir ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari bawah ke atas (Up
Flow). Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan
plastik atau kerikil/batu split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa dibuat
lebih dari satu sesuai dengan kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah.
Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak aerasi. Di
dalam bak aerasi ini diisi dengan media dari bahan pasltik (polyethylene), batu
apung atau bahan serat, sambil diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga
mikro organisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air
limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media.
Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikro-orgainisme yang
tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana
hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik. Proses ini
sering di namakan Aerasi Kontak (Contact Aeration).
Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini
lumpur aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa
kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur.

180

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam


bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk
membunuh micro-organisme patogen. Air olahan, yakni air yang keluar setelah
proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan
kombinasi proses anaerob dan aerob tersebut selain dapat menurunkan zat
organik (BOD, COD), cara ini dapat menurunkan konsentrasi nutrient
(nitrogen) yang ada dalam air limbah.
Dengan proses ini air limbah rumah sakit dengan konsentrasi BOD 250 300 mg/lt dapat di turunkan kadar BOD nya menjadi 20 -30 mg/lt. Skema
proses pengolahan air limbah rumah sakit dengan sistem aerasi kontak dapat
dilihat pada gambar 6. Surplus lumpur dari bak pengendap awal maupun akhir
ditampung ke dalam bak pengering lumpur, sedangkan air resapannya
ditampung kembali di bak penampung air limbah.

Gambar 6 : Diagram proses pengolahan air limbah dengan proses aerasi kontak.

Keunggulan Proses Aerasi Kontak


Pengelolaannya sangat mudah.
Biaya operasinya rendah.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, Lumpur yang dihasilkan relatif
sedikit.
Dapat menghilangkan nitrogen dan phospor yang dapat menyebabkan
euthropikasi.
Suplai udara untuk aerasi relatif kecil.
Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

181

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Biofilter Up Flow


Proses pengolahan air limbah dengan biofilter up flow ini terdiri dari bak
pengendap, ditambah dengan beberapa bak biofilter yang diisi dengan media kerikil
atau batu pecah, plastik atau media lain. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam
air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau facultatif aerobik bak pengendap
terdiri atas 2 ruangan, yang pertama berfungsi sebagai bak pengendap pertama,
sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur sedangkan ruang kedua
berfungsi sebagai pengendap kedua dan penampung lumpur yang tidak terendapkan di
bak pertama, dan air luapan dari bak pengendap dialirkan ke media filter dengan arah
aliran dari bawah ke atas.
Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh
lapisan film mikro-organisme. Mikro-organisme inilah yang akan menguraikan zat
organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap. Air luapan dari biofilter
kemudian dibubuhi dengan khlorine atau kaporit untuk membunuh mikroorganisme
patogen, kemudian dibuang langsung ke sungai atau saluran umum. Skema proses
pengolahan air limbah dengan biofilter Up Flow dapat dilihat seperti terlihat dalam
Gambar 7.
Biofilter Up Flow ini mempunyai 2 fungsi yang menguntungkan dalam proses
pengolahan air buangan yakni antara lain :
Adanya air buangan yang melalui media kerikil yang terdapat pada biofilter lama
kelamaan mengakibatkan timbulnya lapisan lendir yang menyelimuti kerikil atau
yang disebut juga biological film. Air limbah yang masih mengandung zat organik
yang belum teruraikan pada bak pengendap bila melalui lapisan lendir ini akan
mengalami proses penguraian secara biologis. Efisiensi biofilter tergantung dari
luas kontak antara air limbah dengan mikro-organisme yang menempel pada
permukaan media filter tersebut. Makin luas bidang kontaknya maka efisiensi
penurunan konsentrasi zat organiknya (BOD) makin besar. Selain menghilangkan
atau mengurangi konsentrasi BOD cara ini dapat juga mengurangi konsentrasi
padatan tersuspensi atau suspended solids (SS) dan konsentrasi total nitrogen dan
posphor.
Biofilter juga berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang melalui media ini.
Sebagai akibatnya, air limbah yang mengandung suspended solids dan bakteri E.coli
setelah melalui filter ini akan berkurang konsentrasinya. Efesiensi penyaringan
akan sangat besar karena dengan adanya biofilter up flow yakni penyaringan
dengan sistem aliran dari bawah ke atas akan mengurangi kecepatan partikel yang
terdapat pada air buangan dan partikel yang tidak terbawa aliran ke atas akan
mengendapkan di dasar bak filter. Sistem biofilter Up Flow ini sangat sederhana,
operasinya mudah dan tanpa memakai bahan kimia serta tanpa membutuhkan
energi. Poses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas yang
tidak terlalu besar.
182

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Gambar 7 : Diagram proses pengolahan air limbah dengan sistem biofilter Up Flow.

Kriteria Perencanaan Bak Pengendap


Bak pengendap harus memenuhi persyaratan tertentu antara lain:
Bahan bangunan harus kuat terhadap tekanan atau gaya berat yang mungkin
timbul dan harus tahan terhadap asam serta harus kedap air.
Jumlah ruangan disarankan minimal 2 (dua) buah.
Waktu tinggal (residence time) 1s/d 3 hari.
Bentuk Tangki empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan
lebar 2 s/d 3 : 1.
Lebar Bak minimal 0,75 meter dan panjang bak minimal 1,5 meter.
Kedalaman air efektif antara 1-2 meter, tinggi ruang bebas air 0,2 - 0,4
meter dan tinggi ruang
Untuk penyimpanan lumpur 1/3 dari kedalaman air efektif (laju produksi
lumpur sekitar 0,03 - 0,04 M3/orang /tahun ).
Dasar bak dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk
memudahkan pengurasan lumpur.
Pengurasan lumpur minimal dilakukan setiap 2 - 3 tahun.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

183

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Kriteria Perencanaan Biofilter Up Flow


Untuk merencanakan biofilter Up Flow harus memenuhi beberapa
persyaratan atara lain yakni :
Bak biofilter terdiri dari 1 (satu) ruangan atau lebih.
Media filter terdiri dari kerikil atau batu pecah atau bahan plastik dengan
ukuran diameter rata-rata 20 -25 mm , dan ratio volume rongga 0,45.
Tinggi filter (lapisan kerikil) 0,9 -1,2 meter.
Beban hidrolik filter maksimum 3,4 M3/m2/hari.
Waktu tinggal dalam filter 6 -9 jam (didasarkan pada volume rongga filter).
Salah satu contoh hasil uji coba pengolahan air limbah dengan proses air
limbah dengan biofilter Up Flow ditunjukkan seperti pada Tabel 4.
Proses Pengolahan Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob
Proses ini pengolahan dengan biofilter anaerob-aerob ini merupakan
pengembangan dari proses proses biofilter anaerob dengan proses aerasi
kontak Pengolahan air limbah dengan proses biofilter anaerob-aerob terdiri
dari beberapa bagian yakni bak pengendap awal, biofilter anaerob (anoxic),
biofilter aerob, bak pengendap akhir, dan jika perlu dilengkapi dengan bak
kontaktor khlor.
Air limbah yang berasal dari rumah tangga dialirkan melalui saringan
kasar (bar screen) untuk menyaring sampah yang berukuran besar seperti
sampah daun, kertas, plastik dll. Setelah melalui screen air limbah dialirkan ke
bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran
lainnya. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungasi sebagai bak
pengontrol aliran, serta bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan,
sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur.
Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak
kontaktor anaerob dengan arah aliran dari atas ke dan bawah ke atas. Di dalam
bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan plastik atau
kerikil/batu split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa dibuat lebih dari satu
sesuai dengan kualitas dan jumlah air baku yang akan diolah. Penguraian zatzat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau
facultatif aerobik Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter
akan tumbuh lapisan film mikro-organisme. Mikro-organisme inilah yang akan
menguraikan zat organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap.

184

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor


aerob. Di dalam bak kontaktor aerob ini diisi dengan media dari bahan kerikil,
pasltik (polyethylene), batu apung atau bahan serat, sambil diaerasi atau
dihembus dengan udara sehingga mikro organisme yang ada akan menguraikan
zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada
permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikroorgainisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan
media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat
organik, deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi
penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Proses ini sering di namakan Aerasi
Kontak (Contact Aeration).
Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini
lumpur aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa
kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan
air limpasan (over flow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor
khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh microorganisme patogen. Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi
dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses
anaerob dan aerob tersebut selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD),
ammonia, deterjen, padatan tersuspensi (SS), phospat dan lainnya. Skema
proses pengolahan air limbah rumah tangga dengan sistem biofilter anaerobaerob dapat dilihat pada Gambar 8.
Tabel III.1 : Efisiensi pengoalahan air limbah dengan proses biofilter Up Flow
CONTOH AIR

BOD
mg/lt

Air

COD
%

mg/lt

SS
%

483,43

mg/lt

T-N
%

249

mg/lt

MBAS
%

68,87

mg/lt

COLI
%

11,52

MPN/
100 ml

(1)

235,93

17.670

(2)

76,73

67,48

173,38

64,14

79,75

67,97

49,90

27,54

9,45

17,97

11.500

34,92

(3)

68,49

70,87

145,82

69,84

55,25

77,81

43,49

36,85

8,03

30,29

6.130

65,31

(4)

62,54

73,49

137,97

71,47

44,06

82,33

39,79

42,22

6,66

42,19

4.500

74,53

(5)

45,01

80,92

108,61

77,53

33

86,75

32,2

53,24

5,26

54,33

3.100

82,46

Limbah

Air
Olahan

Keterangan : (1), (2) ... (5) adalah titik pengambilan contoh air seperti pada gambar (7).
Sumber : Said, N.I., Sistem Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga Skala Individual Tangki
Septik Filter Up Flow, Majalah Analisis Sistem Nomor 3, Tahun II, 1995.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

185

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Gambar 8 : Diagram proses pengolahan air limbah rumah tangga (domistik)


dengan proses biofilter anaerob-aerob .

Peoses dengan Biofilter Anaerob-Aerob ini mempunyai beberapa


keuntungan yakni :
Adanya air buangan yang melalui media kerikil yang terdapat pada biofilter
mengakibatkan timbulnya lapisan lendir yang menyelimuti kerikil atau yang
disebut juga biological film. Air limbah yang masih mengandung zat organik
yang belum teruraikan pada bak pengendap bila melalui lapisan lendir ini akan
mengalami proses penguraian secara biologis. Efisiensi biofilter tergantung
dari luas kontak antara air limbah dengan mikro-organisme yang menempel
pada permukaan media filter tersebut. Makin luas bidang kontaknya maka
efisiensi penurunan konsentrasi zat organiknya (BOD) makin besar. Selain
menghilangkan atau mengurangi konsentrasi BOD dan COD, cara ini dapat
juga mengurangi konsentrasi padatan tersuspensi atau suspended solids
(SS) , deterjen (MBAS), ammonium dan posphor.

186

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Biofilter juga berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang melalui
media ini. Sebagai akibatnya, air limbah yang mengandung suspended solids
dan bakteri E.coli setelah melalui filter ini akan berkurang konsentrasinya.
Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena dengan adanya biofilter up
flow yakni penyaringan dengan sistem aliran dari bawah ke atas akan
mengurangi kecepatan partikel yang terdapat pada air buangan dan partikel
yang tidak terbawa aliran ke atas akan mengendapkan di dasar bak filter.
Sistem biofilter anaerob-aerb ini sangat sederhana, operasinya mudah dan
tanpa memakai bahan kimia serta tanpa membutuhkan energi. Poses ini cocok
digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas yang tidak terlalu
besar
Dengan kombinasi proses Anaerob-Aerob, efisiensi penghilangan senyawa
phospor menjadi lebih besar bila dibandingankan dengan proses anaerob
atau proses aerob saja. Phenomena proses penghilangan phosphor oleh
mikroorganisne pada proses pengolahan anaerob-aerob dapat diterangkan
seperti pada Gambar 9. Selama berada pada kondisi anaerob, senyawa
phospor anorganik yang ada dalam sel-sel mikrooragnisme akan keluar sebagi
akibat hidrolosa senyawa phospor. Sedangkan energi yang dihasilkan
digunakan untuk menyerap BOD (senyawa organik) yang ada di dalam air
limbah. Efisiensi penghilangan BOD akan berjalan baik apabila perbandingan
antara BOD dan phospor (P) lebih besar 10. (Metcalf and Eddy, 1991).
Selama berada pada kondisi aerob, senyawa phospor terlarut akan diserap
oleh bakteria/mikroorganisme dan akan sintesa menjadi polyphospat dengan
menggunakan energi yang dihasik oleh proses oksidasi senywa organik
(BOD). Dengan demikian dengan kombinasi proses anaerob-aerob dapat
menghilangkan BOD maupun phospor dengan baik. Proses ini dapat digunakan
untuk pengolahan air limbah dengan beban organik yang cukup besar.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

187

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Gambar 9 : Proses penghilangan phospor oleh mikro-organisme


di dalam proses pengolahan Anaerob-Aerob.
Keunggulan Proses Biofilter Anaerob-Aerob
Beberapa keunggulan proses pengolahan air limbah dengan biofilter
anaerb-aerob antara lain yakni :
Pengelolaannya sangat mudah.
Biaya operasinya rendah.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, Lumpur yang dihasilkan relatif
sedikit.
Dapat menghilangkan nitrogen dan phospor yang dapat menyebabkan
euthropikasi.
Suplai udara untuk aerasi relatif kecil.
Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.
Dapat menghilangan padatan tersuspensi (SS) dengan baik.
188

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

RANCANG BANGUN UNIT PENGOLAHAN AIR


LIMBAH RUMAH SAKIT DENGAN SISTEM
BIOFILTER ANAEROB-AEROB
Proses Pengolahan
Seluruh air limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit, yakni yang
berasal dari limbah domistik maupun air limbah yang berasal dari kegiatan
klinis rumah sakit dikumpulkan melalui saluran pipa pengumpul. Selanjutnya
dialirkan ke bak kontrol. Fungsi bak kontrol adalah untuk mencegah sampah
padat misalnya plastik, kaleng, kayu agar tidak masuk ke dalam unit pengolahan
limbah, serta mencegah padatan yang tidak bisa terurai misalnya lumpur,
pasir, abu gosok dan lainnya agar tidak masuk kedalam unit pengolahan limbah.
Dari bak kontrol, air limbah dialirkan ke bak pengurai anaerob. Bak
pengurai anaerob dibagi menjadi tiga buah ruangan yakni bak pengendapan
atau bak pengurai awal, biofilter anaerob tercelup dengan aliran dari bawah ke
atas (Up Flow), serta bak stabilisasi.
Selanjutnya dari bak stabilisai, air limbah dialirkan ke unit pengolahan
lanjut. Unit pengolahan lanjut tersebut terdiri dari beberapa buah ruangan
yang berisi media untuk pembiakan mikro-organisme yang akan menguraikan
senyawa polutan yang ada di dalan air limbah.
Setelah melalui unit pengolahan lanjut , air hasil olahan dialirkan ke bak
khlorinasi. Di dalam bak khlorinasi air limbah dikontakkan dengan khlor tablet
agar seluruh mikroorganisme patogen dapat dimatikan. Dari bak khlorinasi air
limbah sudah dapat dibuang langsung ke sungai atau saluran umum.
Bentuk Dan Prototipe Alat
Rancangan prototipe alat dirancang yang digunakan untuk uji coba
pegolahan air limbah rumah sakit ditunjukkan seperti pada Gambar IV.1.
Prototipe alat ini secara garis besar terdiri dari bak pengendapan/pengurai
anaerob dan unit pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob.
Bak pengurai anaerob dibuat dari bahan beton cor atau dari bahan fiber
glas (FRP), disesuaikan dengan kondisi yang ada. Ukuran bak pengurai anaerob
yakni panjang 160 cm, lebar 160 cm, dan kedalaman efektif sekitar 200 cm,
dengan waktu tinggal sekitar 8 jam.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

189

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Unit pengolahan lanjut dibuat dari bahan fiber glas (FRP) dan dibuat
dalam bentuk yang kompak dan langsung dapat dipasang dengan ukuran panjang
310 cm, lebar 100 cm dan tinggi 190 cm. Ruangan di dalam alat tersebut dibagi
menjadi beberapa zona yakni rungan pengendapan awal, zona biofilter anaerob,
zona biofilter aerob dan rungan pengendapan akhir. Media yang digunakan
untuk biofilter adalah batu apung atau batu pecah dengan ukuran 1-2 cm, atau
ari bahan lain misalnya zeolit, batubara (anthrasit), palstik dan lainnnya. Selain
itu, air limbah yang ada di dalam rungan pengendapan akhir sebagian disirkulasi
ke zona aerob dengan menggunakan pompa sirkulasi.
Kapasitas Alat
Prototipe alat ini dirancang untuk dapat mengolah air limbah sebesar 10 15 m3/hari, yang dapat melayani rumah sakit dengan 30 50 bed.
Waktu Tinggal (Retention Time)
A. Bak Pengurai Anaerob
Debit Air Limbah = 15 m3/hari = 625 lt/jam = 0,625 m3/jam
Dimensi = 1,6 m X 1,6 X 2,2 m
Volume Efektif = 5 m3
Waktu Tinggal = 8 Jam
Gambar penampang bak pengurai awal ditunjukan seperti pada gambar IV.2.
B. Unit Pengolahan Lanjut
1. Ruang Pengendapan Awal
Debit Air Limbah (Q) = 15 m3/hari = 625 lt/jam = 0,625 m3/jam
Volume Efektif = 1,6 m x 1,0 m x 0,6 m = 0,96 M3
Waktu Tinggal di dalam ruang pengendapan awal (T1) = 0,96 m3/0,625 m3/jam
T1 = 1,5 jam
2. Zona Biofilter Anaerob
Volume Total Ruang efektif = 1,6 m x 1,0 m x 1,2 m = 1,92 m3
Volume Total Unggun Medium = 2 x [1,2 m x 1 m x 0,6 m] = 1,44 m3
Porositas Mediun = 0,45
Volume Medium tanpa rongga = 0,55 x 1,44 m3 = 0,79 m3
Total Volume Rongga dalam Medium = 0,45 x 1,44 m3 = 0,65 m3
190

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Volume Air Limbah Efektif di dalam zona Anareob = 1,92 m3-0,79 m3 = 1,13 m3
Waktu Tinggal di dalam Zona Anaerob (T2) = 1,13 m3/0,625 m3/jam = 1,8 jam
Waktu Kontak di dalam medium zona Anaerob = 0,65 m3/0,625 m3/jam = 1.04 jam

3. Zona Aerob
Volume Efektif = 1,5 m x 1 m x 0,7 m = 1,05 m3
Volume Unggun Medium = 1,1 m x 0,6 m x 1 m = 0,66 m3
Porositas Medium = 0,45
Volume Rongga = 0,45 x 0,66 m3 = 0,3 m3
Volume Medium Tanpa Rongga = 0,66 m3- 0,3 m3 = 0,36 m3
Waktu Tinggal Total di dalam zona aerob (T3) = [1,05-0,36] m3/0,625 m3/jam =
1,1 jam
Waktu Kontak di dalam medium zona aerob = 0,3 m3/0,625 m3/jam = 0,48 jam
4. Ruangan Pengendapan Akhir
Volume Efektif = 1,5 m x 0,6 m x 1 m = 0,9 m3
Waktu Tinggal (T4) = 0,9 m3/0,625 m3/jam = 1,44 jam
Waktu Tinggal Total di dalam Unit Pengolahan Lanjut = [1,5+1,13+1,1+1,44] jam
= 5,17 jam
Gambar penampang bak pengolahan lanjut ditunjukkan seperti pada gambar 9.

Gambar 9 : Diagram proses pengolahan air limbah rumah sakit.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

191

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Bak Kontaktor Khlorine


Unit prototipe alat pengolahan air limbah rumah tangga tersebut dapat
dilengkapi dengan bak khlorinasi (bak kontaktor) yang berfungsi untuk
mengkontakan khlorine dengan air hasil pengolahan. Air limbah yang telah
diolah sebelum dibuang ke saluran umum dikontakkan dengan khlorine agar
mikroorganisme patogen yang ada di dalam air dapat dimatikan. Senyawa khlor
yang digunakan adalah kaporit dalam bentuk tablet. Penampang bak kontaktor
adalah seperti pada gambar 12. Bak kontaktor ini dipasang atau disambungkan
pada pipa pengeluaran air olahan.
Lokasi Uji Coba
Uji coba prototipe alat pengolah air limbah rumak sakit dilakukan Rumah
Sakit Makna, Ciledug, Tangerang. Air yang diolah adalah seluruh limbah cair
yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit, yakni baik yang berasal dari limbah
domistik maupun limbah yang berasal dari limbah klinis.

Gambar 10 : Penampang bak pengurai Anaerob.

192

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

PENAMPANG MELINTANG

Keterangan : gambar tidak menurut skala


Gambar 11 : Rancangan prototipe alat pengolahan air limbah domistik
dengan sistem biofilter anaerob-aerob.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

193

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Gambar 12 : Penampang bak khlorinator.

194

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

PEMBANGUNAN ALAT PENGOLAHAN


AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DENGAN PROSES
BIOFILTER ANAEROB-AEROB
KAPASITAS 1015 M3/HARI

Penggalian tanah untuk pemasangan unit alat pengolahan limbah

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

195

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Konstruksi bak pengurai anaerobik

Lantai penyangga berlubang-lubang

Bak penenang pada bak pengurai anaerob

196

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Unit alat pengolahan air limbah yang sedang dipasang.

Konstruksi reaktor alat pengolahan air limbah dari bahan fiber glass.

Konstruksi bak pengurai atau bak pengendapan awal pada proses pengolahan lanjut
Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

197

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Konstruksi bagian dalam reaktor pada proses pengolahan lanjut.

Konstruksi bagian dalam reaktor (sebelum diisi dengan media).

Konstruksi bagian dalam reaktor zona aerobik (sebelum diisi dengan media).
198

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Konstruksi bagian dalam reaktor zona pengendapan akhir.

Konstruksi bak pengurai anaerob

Unit reaktor pengolahan lanjut yang telah dipasang.


Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

199

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Media plastik sarang


tawon untuk pembiakan
mikro-organisme
untuk
menguraikan zat organik.

Media plastik yang telah


dipasang pada bak pengurai
anaerob.

Media plastik yang telah dipasang pada bak pengolahan lanjut.


200

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Blower dan pompa sirkulasi yang digunakan untuk proses pengolahan.

Konstruksi bak kontrol pertama.


Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

201

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Konstruksi bak kontrol kedua.

Air di bak penenang pada bak pengurai anaerob.

Unit pengolahan air limbah rumah sakit dengan proses Biofilter Anaerob-Aerob.
202

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

UJI COBA ALAT PENGOLAHAN


AIR LIMBAH RUMAH SAKIT KOMBINASI
BIOFILTER ANAEROB - AEROB
Hasil Pengamatan Fisik
Berdasarkan pengamatan secara fisik (dengan mata), pada awal proses
yakni pengamatan setelah dua hari operasi, proses pengolahan belum berjalan
secara baik. Hal ini karena mikroorganisme yang ada di dalam reaktor belum
tumbuh secara optimal, walupun demikian air yang keluar dari reaktor sudah
relatif bersih dibandingkan dengan air limbah yang masuk. Setelah proses
berjalan berjalan sekitar dua minggu, mikroorganisme sudah mulai tumbuh atau
berkembang biak di dalam reaktor. Di dalam bak pengendapan awal sudah mulai
terlihat lapisan mikro organisme yang menempel pada permukaan media. Mikro
orgnisme tersebut sangat membantu menguraikan senyawa organik yang ada di
dalam air limbah.
Dengan berkembang-biaknya mikro orgnisme atau bakteri pada
permukaan media maka proses penguraian senyawa polutan yang ada di dalam
air limbah menjadi lebih efektif. Selain itu, setelah proses berjalan beberapa
minggu pada permukaan media kontaktor (media plastik sarang tawon dan batu
pecah) yang ada di dalam zona anaerob maupun zona aerob, telah diselimuti
oleh lapisan mikroorganisme. Dengan tumbuhnya lapisan mikroorganisme
tersebut maka proses penyaringan padatan tersuspensi (SS) maupun
penguraian senyawa polutan yang ada di dalam air limbah menjadai lebih baik.
Hal ini secara fisik dapat dilihat dari air limpasan yang keluar dari zona
anaerob sudah cukup jernih, dan buih atau busa yang terjadi di zona aerob
(bak aerasi) sudah sangat berkurang. Sedangkan air olahan yang keluar secara
fisik sudah sangat jernih.

lapisan mikroorganisme yang telah tumbuh dan menempel pada permukaan media biofilter.
Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

203

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Air limbah sebelum diolah (kanan) dan air hasil olahan (kiri).

Berdasarkan pengamatan secara fisik (dengan mata), dapat dilihat dari


air limpasan yang keluar dari zona anaerob sudah cukup jernih, dan buih atau
busa yang terjadi di zona aerob (bak aerasi) sudah sangat berkurang.
Sedangkan air olahan yang keluar secara fisik sudah sangat jernih.
Hasil Analisa Kualitas Air
Berdasarkan hasil analisa kualitas air limbah sebelum dan sesudah
pengolahan setelah proses berjalan selama 4 (empat) bulan menunjukkan bahwa
konsentrasi BOD turun dari 419 mg/l menjadi 16,5 mg/l, konsentrasi COD di
dalam air limbah 729 mg/l turun menjadi 52 mg/l, konsentrasi zat padat
tersuspensi dari 825 mg/l turun menjadi 10 mg/l, konsentrasi ammonia dalam
air limbah 33,86 mg/l turun menjadi 8 mg/l dan konsentrasi deterjen (MBAS)
12 mg/l turun menjadi 2,6 mg/l.
Dengan demikian efisiensi penghilangan BOD 96 %, COD 92,8 %, Total
zat padat tersuspensi (SS) 98,8 %, Ammonia 76,2 % dan deterjen (MBAS) 78
%. Hasil anailasa kualitas air limbah sebelum dan sesudah pengolahan seperti
terlihat pada tabel berikut.

204

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

Tabel Hasil analisa kualitas air limbah sebelum dan sesudah pengolahan.

No

PARAMETER

KONSENTRASI
AIR LIMBAH
(mg/l)

KONSENTRASI
AIR LOAHAN
(mg/l)

EFISIENSI
PENGHILANGAN
(%)

BOD

419

16,5

96

COD

729

52

92,8

Total SS

825

10

98,8

33,68

76,2

(suspended
solids)
4

NH4-N

MBAS
(deterjen)

12

2,6

78

pH

7,3

7,9

Catatan ; Setelah operasi berjalan 4 bulan.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

205

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

PENUTUP

Berdasarkan hasil pengamatan selama lebih dari empat bulan opersi,


pengolahan air limbah rumah sakit dengan sistem kombinasi proses biofilter
Anaerob-Aerob mempunyai beberapa keunggulan antara lain yakni :
Efisiensi pengolahan cukup tinggi.
Pengelolaannya sangat mudah.
Biaya operasinya rendah.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, Lumpur yang dihasilkan relatif
sedikit. (selama empat bulan operasi belum terjadi ekses lumpur.)
Suplai udara untuk aerasi relatif kecil.
Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.
Dapat menghilangan padatan tersuspensi (SS) dengan baik.
Tahan terhadap perubahan beban pengolahan secara mendadak.

206

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit ...

DAFTAR PUSTAKA

-----, Gesuidou Shissetsu Sekkei Shisin to Kaisetsu , Nihon Gesuidou Kyoukai, 1984.

-----, Pekerjaan Penentuan Standard Kualitas Air Limbah Yang Boleh Masuk Ke Dalam
Sistem Sewerage PD PAL JAYA, Dwikarasa Envacotama-PD PAL JAYA, 1995.

Gouda T., Suisitsu Kougaku - Ouyouben, Maruzen kabushiki Kaisha, Tokyo, 1979.

Said, N.I., Sistem Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga Skala Individual Tangki Septik
Filter Up Flow, Majalah Analisis Sistem Nomor 3, Tahun II, 1995.

Sueishi T., Sumitomo H., Yamada K., dan Wada Y.,


Engineering), Kajima Shuppan Kai, Tokyo, 1987.

Viessman W, Jr., Hamer M.J., Water Supply And Polution Control , Harper & Row, New
York, 1985.

Wignjohusodo, S., Pengelolaan Limbah Secara Terpadu dan Terpusat, Presentasi


Pengelolaan Limbah Rumah Sakit, Jakarta 11 Juli 1996.

Ir. Nusa Idaman Said, M.Sc. dan Heru Dwi Wahjono, B.Eng

Eisei Kougaku (Sanitary

207