Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA IKAN

GINOGENESIS, TRIPLOIDISASI DAN HIBRIDISASI


Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Genetika Ikan

Disusun oleh:
Kelompok 18
Perikanan B

Fakhri Fathurahman

230110130090

Nuraya Asfariah

230110130091

Bastian Damanik

230110130152

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayahnya, serta kesehatan kepada kita semua, salawat serta salam semoga
terlimpah curah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah
menyampaikan wahyu Allah kepada kita.
Laporan akhir ini adalah tugas dari mata kuliah Genetika Perikanan yang
disusun untuk memenuhi hasil pengamatan praktikan di laboratorium yang di
berikan kepada kami, yang berjudul GINOGENESIS, TRIPLOIDISASI DAN
HIBRIDISASI. Percobaan tersebut kami jadikan dasar pada penulisan laporan
ini.
Kami menaruh perhatian yang seksama terhadap semua masukan dari
berbagai pihak demi penyempurnaan isi tugas ini. Oleh karena itu, kritik dan saran
sangat diharapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Kami berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi civitas
akademika yang membutuhkannya. Amin.

Jatinangor, 18 Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................... ..v
I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........................................................................
1.2 Identifikasi Masalah ..................................................................
1.3 Tujuan........................................................................................
1.4 Manfaat......................................................................................

II.

1
2
2
2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Ikan Komet ................................................................... 3
2.2 Biologi ikan mas........................................................................ 4
2.3 Reproduksi ikan komet.............................................................. 5
2.4 Reproduksi Ikan Mas ................................................................ 6
2.5 Spermatozoa .............................................................................. 7
2.6 Pemijahan Buatan ...................................................................... 8
2.6.1 Ginogenesis............................................................................11
2.6.2 Hibridisasi..............................................................................11
2.6.3 Triploidisasi...........................................................................12
2.7 Embriogenesis...........................................................................12

III.

METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ....................................................................
3.2 Alat dan Bahan ..........................................................................
3.3 Prosedur Praktikum ...................................................................
3.3.1 Persiapan Alat ........................................................................
3.3.2 Pemijahan Buatan ...................................................................
3.3.3 Hibridisasi ..............................................................................
3.3.4 Ginogenesis ............................................................................
3.3.5 Triploidisasi ............................................................................
3.3.6 Embriogenesis ........................................................................
3.3.7 Pemeliharaan Larva ................................................................

13
13
13
14
14
14
14
14
15
15

3.4 Metode Praktikum ..................................................................... 16


3.5 Rancangan Praktikum ............................................................... 16
3.5.1 FR ........................................................................................... 16
3.5.2 HR .......................................................................................... 16
3.5.3 SR Larva ................................................................................. 17
3.6 Analisa Data .............................................................................. 17

ii

IV.

Hasil dan Pembahasan

V.

4.1 Pemijahan Buatan ......................................................................


4.2 Hibridisasi .................................................................................
4.3 Ginogenesis ...............................................................................
4.4 Triploidisasi ...............................................................................
4.5 Embriogenesis ...........................................................................
4.6 Keberhasilan Pemijahan ............................................................
Kesimpulan dan Saran

18
18
20
21
22
22

5.1 Kesimpulan................................................................................ 23
5.2 Saran .......................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 24
LAMPIRAN .................................................................................... 25

iii

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Judul

Halaman

Ikan Komet......................................................................................

Ikan Mas..................................................................................

iv

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Judul

Halaman

Dihibrid pada pengamatan 30 jam .................................................

26

Ginogenesis pada pengamatan 30 jam........................................

26

Pengamatan dihibrid selam 26 jam................................................

27

Pengamatan Ginogenesis selama 26 jam.........................................

27

Triploid pada pengamatan 10 jam ..................................................

28

Dihibrid pada pengamatan 20 jam .................................................

28

vi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budidaya adalah suatu metode yang dikembangkan untuk melestarikan
dan mempertahankan jumlah populasi mahluk hidup agar tidak hanya melakukan
penangkapan ikan saja tetapi tahu bagaimana cara mengembang biakkannya.
Dewasa ini rekayasa dalam bidang genetika semakin sering dilakukan untuk
meperbanyak produksi. Hal ini terjadi karena permintaan akan ikan yang semakin
tinggi dan untuk memperbaiki kualitas ikan agar didapatkan individu yang unggul
dari biasanya yang berguna dalam proses budidaya. Rekayasa genetik yang umum
dilakukan ada tiga yaitu Ginogenesis, Hibridisai dan Triploid.
Ginogenesis adalah proses pemurnian dengan mengambil genetik murni
yang berasal dari induk betina dengan cara merangsang terjadinya proses
pembuahan tanpa adanya sumbangan bahan genetik jantan (sperma yang telah di
non-aktifkan dan digunakan untuk memacu terjadinya perkembangan sel telur
menjadi larva). Proses ginogenesis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu proses
mitosis dan miosis.
Hibridisasi merupakan perkawinan silang antara dua spesies individu yang
masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat (dalam hal ini adalah tingkat
famili). Hibridisasi bertujuan untuk mendapatkan benih dengan sifat lebih baik
dari yang dipunyai tertuanya terutama dalam pertumbuhan, kematangan gonad,
ketahanan terhadap penyakit serta lingkungan burukdan efesiensi pemanfaatan
makanan.
Poliploidisasi adalah usaha, proses atau kejadian yang menyebabkan
individu berkromosom lebih dari satu set. Poliploidisasi merupakan salah satu
metode manipulasi kromosom untuk perbaikan dan peningkatan kualitas genetik
ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang mempunyai keunggulan, antara
lain pertumbuhan cepat, toleransi terhadap lingkungan dan resisten terhadap
penyakit.
Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi yaitu salah satu
teknik

untuk

menghambat

berkembangnya

organ

reproduksi,

sehingga

pertumbuhan ikan tidak terhambat karena energi metabolisme yang digunakan


untuk

perkembangan

gonad

dapat

dimanfaatkan

untuk

meningkatkan

pertumbuhan sel-sel somatik.

.2 Identifikasi Masalah
Dalam melakukan rekayasa genetika banyak juga faktor-faktor yang akan
mempengaruhi dari perkembangan ikan tersebut. Teknik rekayasa genetika yang
umum dilakukan adalah hibridisasi,seleksi, inbreeding dan lain-lain. Dalam
praktikum kali ini akan mempelajari tentang teknik rekayasa genetika
menggunakan hibridisasi, ginogenesis dan triploidisasi.

1.3 Tujuan Praktikum


Tujuan dari dari praktikum kali ini adalah,
1. Mahasiswa memahami teknik rekayasa genetik yaitu ginogenesis ,
dihibrid dan triploid .
2. Mahasiswa melakukan teknik rekayasa genetik yaitu ginogenesis,
dihibrid dan triploid dengan benar dan sesuai prosedur

1.4 Manfaat
Manfaat dari praktikum kali ini adalah ,
1. Mahasiswa mampu memahami teknik ginogenesis, dihibrid dan triploid.
2. Mahasiswa mampu melakukan teknik rekayasa genetik dengan baik dan
sesusai prosedur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Ikan Komet

Gambar1. Ikan Komet


Kebiasaan hidup di alam Ikan Komet aslinya hidup di sungai, danau, dan
lain lambat atau masih menggerakkan tubuh air di kedalaman sampai dengan 20
m. Di habitat aslinya ikan Komet tinggal di iklim subtropis dan lebih suka air
tawar dengan pH 6,0-8,0, dengan kesadahan air sebesar 5,0 _ 19,0 DGH, dan
rentang temperatur 32-106 F (0 41 C). Makanan ikan Komet terdiri dari
krustasea, serangga, dan bahan tanaman. Ikan Komet bertelur pada vegetasi air.
Hidup di sungai-sungai, danau, kolam dan saluran dengan air tergenang dan
lambat mengalir. Pemakan termasuk tumbuhan, krustasea kecil, serangga, dan
detritus. Ikan Komet hidup lebih baik dalam air dingin dan bertelur pada vegetasi
terendam.
Ikan Komet merupakan ikan euryhaline yang mampu hidup pada salinitas
17 ppt, tetapi tidak mampu bertahan lama pemaparan diatas 15 ppt
(Anonim, 2009).
Klasifikasi ikan komet
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Ostariphisysoidei

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Carassius

Spesies

: Carassius auratus

2.2 Biologi Ikan Mas

Gambar 2. Ikan Mas


Ikan mas (C. carpio) merupakan salah satu ikan yang banyak
dibudidayakan oleh masyarakat, karena dagingnya enak, kenyal, dan durinya
mengumpul. Daerah yang sesuai untuk mengusahakan pemeliharaan ikan ini yaitu
daerah yang berada antara 150 1000 meter, suhu optimum 25-30 oC, pH
perairan berkisar antara 7-8 (Rukmana, 2003).
Ikan mas mempunyai daya adaptasi dan laju pertumbuhan yang tinggi
dengan pemberian pakan buatan yang sesuai (Santoso, 1993). Ikan mas (C.
carpio) adalah salah satu ikan perairan tawar yang hidup di danau, sungai yang
perairannya tidak dalam, tidak begitu deras, dan berair hangat. Ikan mas
(termasuk dalam jenis ikan pemakan hewan dan tumbuhan (omnivora). Ikan mas
bersifat pemakan jasad dasar (bottom feeders), hal ini menyebabkan air keruh dan
rusaknya pematang tanah kolam (Tim Karya Tani, 2009).

Tubuh ikan mas

berbentuk agak panjang dan sedikit pipih ke samping, bibir mulut lunak dan dapat
disembulkan (protaktil), serta memiliki kumis atau sungut (barbel) yang pendek
dua pasang pada sudutsudut mulutnya.
Warna tubuhnya bermacam-macam ada yang merah, hijau, biru keperakan,
hitam, kuning muda, coklat keemasan, dan berbelang-belang campuran dari
beberapa warna (Rukmana, 2003). Secara umum, hamper semua tubuh ikan mas
tertutupi sisik, kecuali beberapa strain yang hanya memiliki sisik sedikit dan tipe

sisiknya adalah sisik tipe sikloid (lingkaran) (Amri, 2002). Sirip punggung
(dorsal) berukuran memanjang dengan bagian belakang berjari keras dan di
bagian akhir bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan
sirip perut (ventral). Sirip dubur mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni
berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi. Garis rusuk (Linea lateralis atau gurat
sisi) ikan mas tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh melintang dari
tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Kulitnya banyak
mengandung kelenjar lendir, tertutup oleh sisik, sirip dan ekor yang simetris,
insang tertutup tutup insang (Amri, 2002).
Klasifikasi ikan mas menurut (Susanto, 2007) adalah sebagai berikut:
Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Ostariophysi

Familia

:Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Spesies

: Cyprinus carpio L

2.3 Reproduksi Ikan


Reproduksi merupakan aspek biologis yang terkait mulai dari diferensiasi
seksual hingga dihasilkan individu baru. Pengetahuan tentang ciri reproduksi yaitu
mengetahui tentang perubahan atau tahapan-tahapan kematangan gonad untuk
mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan atau tidak melakukan reproduksi.
Pengetahuan tentang ciri reproduksi tidak akan sempurna apabila tidak diiringi
dengan pengetahuan anatomi reproduksi baik jantan maupun betina.
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin
(gamet). Gonad ikan betina dinamakan ovari dan gonad ikan jantan dinamakan
testes. Ovari dan testes ikan dewasa biasanya terdapat pada individu yang
terpisah, kecuali pada beberapa ikan yang ditemukan gonad jantan dan betina
ditemukan dalam satu individu (ovotestes). Gonad ikan terletak didekat anus
memanjang ke depan mengisi rongga badan. Gonad memiliki tingkat kematangan

yang berbeda-beda, mulai dari Tingkat kematangan Gonad (TKG) I (belum


matang) sampai Tingkat Kematangan Gonad (TKG) IV (matang).
2.3.1 reproduksi ikan komet
Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar.
Menjelang memijah, induk-induk ikan mas aktif mencari tempat yang rimbun,
seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah
yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus
membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan. (Gursina, 2008). Sifat telur
ikan Komet adalah menempel pada substrat. Telur ikan Komet berbentuk bulat,
berwarna bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg. Ukuran
telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran atau bobot induk. Embrio akan
tumbuh di dalam telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa. Antara 2-3 hari
kemudian, telur-telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva. Larva ikan Komet
mempunyai kantong kuning telur yang berukuran relatif besar sebagai cadangan
makanan bagi larva. Kantong kuning telur tersebut akan habis dalam waktu 2-4
hari.
Larva ikan Komet bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva
antara 0,50,6 mm dan bobotnya antara 18-20 mg. Larva berubah menjadi kebul
(larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari. Pada stadia kebul ini, ikan Komet
memerlukan pasokan makanan dari luar untuk menunjang kehidupannya. Pakan
alami kebul terutama berasal dari zooplankton, seperti rotifera, moina, dan
daphnia. Kebutuhan pakan alami untuk kebul dalam satu hari sekitar 60-70% dari
bobotnya. Setelah 2-3 minggu, kebul tumbuh menjadi burayak yang berukuran 13 cm dan bobotnya 0,1-0,5 gram. Antara 2-3 minggu kemudian burayak tumbuh
menjadi putihan (benih yang siap untuk didederkan) yang berukuran 3-5 cm dan
bobotnya 0,5-2,5 gram. Putihan tersebut akan tumbuh terus. Setelah tiga bulan
berubah menjadi gelondongan yang bobot per ekornya sekitar 100 gram.
2.3.2 reproduksi ikan Mas
Letak gonad betina ikan mas membesar mengisi dua pertiga rongga perut
atau hampir memenutupi organ-organ tubuh saat melakukan pengamatan sebelum

dilakukan pemburaian dan berwarna kuning kecoklatan. Organ-organ yang


teramati yaitu gelembung renang, hati, dan lambung. Sehingga gonad ikan mas
dari pengamatan yang dilakukan pada tingkat kematangan gonad (TKG) IV
(Khairuman dan Amri, 2007).
Seperti pada gonad betina, gonad jantan ikan mas besar dan panjang, mengisi dua
pertiga rongga perut atau hamper menutupi orga-organ yang lain sebelum
dilakukan pemburaian. Gonad mengembung, memanjang ke depan dan berwarna
putih jernih. Sehingga gonad ikan mas dari pengamatan yang dilakukan pada
tingkat kematangan gonad (TKG) IV (Khairuman dan Amri, 2007).
Ciri-ciri matang gonad jantan dan betina
Ciri-ciri ikan mas betina yang siap pijah atau matang gonad adalah:

Pergerakan ikan lamban

Pada malam hari sering meloncat-loncat

Perut membesar/buncit ke arah belakang dan jika diraba terasa lunak

Lubang anus agak membengkak/menonjol dan berwarna kemerahan

Sedangkan ciri-ciri untuk ikan mas jantan gerakan lincah dan mengeluarkan
cairan berwarna putih (sperma) dari lubang kelamin bila dipijit (Aswanto, 2012).

2.4 Spermatozoa
Menurut Evans (1993), spermatozoa ikan biasanya immotile dan tidak
aktif ketika berada di dalam testis. Motilitas dari sperma dimulai setelah
spermaiasi di dalam lingkungan air atas di dalam sistem reproduksi betina dengan
demikian aktivitas dari sperma mungkin terjadi ketika faktor tekanan dicairkan,
pH menjadi alkalin dan osmolalitas menjadi hipotonik, secara berturut-turut.
Proses spermatogenik dapat dibagi menjadi 3 tingkatan utama. Spermatosiyenesis
adalah perkembangan dari spermatogonium menjadi spermatosik primer dan
sekunder. Dua tahap terakhir meiosis, yang mana pembagian dua sel terjadi dan
jumlah dari kromosom di spermatid adalah perbedaan dari spermatid menjadi
spermatozoa. Waktu yang dilewati dari pembuatan sperma menjadi ejakulasnya
biasanya sekitar 59 hari (Svendsen and Anthony, 1974).

2.5 Pemijahan buatan


Sebenarnya pemijahan ikan komet dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak
tergantung pada musim. Namun, di habitat aslinya, ikan ini memijah pada awal
musim hujan, karena adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang
air. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar.
Menjelang memijah, induk-induk ikan komet aktif mencari tempat yang rimbun,
seperti tanaman air atau rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah
yang nantinya akan digunakan sebagai tempat menempel telur sekaligus
membantu perangsangan ketika terjadi pemijahan (Anonim, 2011).
2.5.1 Ginogenesis
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa
kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi
untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturunkan.
Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan. Nagy et al,. 1978,
menyebutkan ginogenesis adalah terbentuknya zigot 2n (diploid) tanpa peranan
genetik gamet jantan. Jadi gamet jantan hanya berfungsi secara fisik saja,
sehingga prosesnya hanya merupakan perkembangan pathenogenetis betina
(telur). Untuk itu sperma diradiasi. Radiasi pada ginogenesis bertujuan untuk
merusak kromososm spermatozoa, supaya pada saat pembuahan tidak berfungsi
secara genetic (Sumantadinata, 1981).
Ginogenesis secara alami jarang terjadi pada pembuahan, karena nukleus
sperma yang masuk ke dalam telur yang dalam keadaan tidak aktif jarang
didapatkan, pada beberapa populasi ikan karper krusia (Carrasius auratus gibelio)
dan beberapa spesies dari family Poecilidae di Meksiko terjadi ginogenesis secara
alami.
Sedangkan ginogenesis buatan dilakukan melalui beberapa perlakuan pada
tahapan pembuahan dan awal perkembangan embrio. Perlakuan ini bertujuan 1).
membuat supaya bahan genetik jantan menjadi tidak aktif 2). mengupayakan
terjadinya diploisasi agar telur dapat menjadi zigot. Bahan genetik dalam
spermatozoa dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gama, sinar X dan sinar
ultraviolet (Purdom, 1993).

Perlakuan Ginogenesis
Untuk mendapatkan benih ikan yang monosex secara ginogenesis ada
beberapa perlakuan yang dapat dilakukan yakni antara lain:
1.

Penyinaran sperma dengan sinar ultraviolet

Sebelum sperma dicampur dengan sel telur (pemijahan buatan) sperma tersebut
diberi perlakuan penyinaran dengan sinar UV. Hal ini dilakukan untuk merusak
bahan genetik sperma. Komposisi

kimiawi

sperma

pada

plasma

inti

(nukleoplasma) diantaranya adalah DNA, Protamine, Non Basik Protein.


Sedangkan seminal plasma mengandung protein, potassium, sodium, calsium,
magnesium, posfat, klarida. Sedangkan komposisi kimia ekor sperma adalah
protein, lecithin dan cholesterol (Gusrina, 2008).
Sinar ultraviolet dengan panjang gelombang di bawah 300 nm dapat
diserap secara kuat oleh bahan biologi tertentu, terutama asam nukleat, protein,
dan koenzim. Tetapi sinar ini tidak sampai mengionisasi atom-atom dan
molekulnya disamping itu kemampuan sinar ultraviolet untuk menembus bahan
sangat terbatas. Walaupun sinar ultraviolet yang dapat masuk ke bahan biologi
tersebut sedikit, tetapi hampir semua diserap. Hal ini berarti efisiensi penyerapan
sinar ultraviolet olleh bahan-bahan biologi sangat tinggi. Pada panjang gelombang
hingga 260 nm sinar UV dapat merusak fungsi pirimidin AND yang merupakan
bahan genetic sperma. Walapun sperma diradiasi namun tidak sampai merusak
kemampuannya untuk bergerak dan membuahi telur. Dengan demikian sperma ini
masih mampu untuk memicu untuk terjadinya pembuahan dan perkembangan
telur.
2.

Perlakuan kejut suhu


Setelah sperma diberi perlakuan penyinaran kemudian dicampur dengan

sel telur dan dilepaskan dalam air agar terjadi pembuahan. Setelah pembuahan
terjadi kemudian telur yangterbuahi tersebut diberi kejutan lingkungan. Hal ini
dapat berupa kejut suhu atau dengan tekanan hidrostatis. Perlakuan dengan
tekanan hidrostatis memerlukan peralatan yang rumit, mahal sehingga suli untuk
diterapkan telur dalam jumlah banyak namun metode ini efektif untuk
memproduksi tingkat heterozigositas nol persen. Kejut suhu lebih praktis dalam

penggunaannya sehingga bisa diterapkan pada jumlah yang banyak. Kejut suhu
dimaksudkan untuk pencegahan keluarnya polar body II telur pada saat terjadi
pembelahan miosis kedua atau pencegahan pembelahan sel setelah duplikasi
kromosom pada saat terjadi pembelahan mitosis pertama sehingga jumlah
kromosom telur mengganda lagi pada awal perkembangan zigot (Nagy et al:,
1978). Kejut suhu disini berupa kejutan panas dan kejutan dingin. Pemberian
kejutan panas lebih singkat periodenya dibandingkan dengan kejut dingin.
Pada saat oogenesis (proses pembentukan sel telur hingga siap untuk
ovulasi), sel telur belumlah dalam keadaan 2N melainkan 4N. Saat pembelahan
sel miosis I terjadi,saat itu dikatakan sel telur telah matang. Saat itulah ada
"loncatan" polar body I (2N), sehingga sel telur yang awalnya 4N menjadi 2N.
Pembelahan sel secara miosis, ada pengurangan set kromosom menjadi setengah
dari semula. Perbedaannya dengan pembelahan sel mitosis (pembelahan yang
ditandai dengan penggandaan atau perbanyakan jumlah sel). Proses pembelahan
sel selama oogenesis dan spermatozoa ada pada gambar 1. berikut ini:
Gambar 1. Bagan spermatogenesis dan oogenesis
Satu buah sel telur yang memiliki dua set kromosom (2N) dan satu buah
sel sperma memiliki satu set kromosom (1N). Jika keduanya kita pasangkan,
maka terjadilah pembuahan. Setelah sel telur dibuahi oleh sperma, maka satu set
kromosom sperma memasangkan diri terhadap satu set kromosom pada sel telur.
Dan sebagai akibatnya, ada satu set kromosom sel telur yang tidak mendapatkan
pasangan. Itulah yang kemudian dipahami oleh beberapa peneliti, bahwa polar
body II yang berisi satu set kromosom (1N) akan "ke luar" dari sistem. Satu set
yang tidak memiliki pasangan kromosom itu akan ter denaturasi. Dengan
terjadinya, maka sel telur yang sudah dibuahi tersebut, kembali pada kondisi
normal (2N) dan menyiapkan diri untuk melakukan proses berikutnya; yakni
pembelahan sel mitosis.
Jika proses keluarnya polar body II kita ganggu dengan kejut suhu di atas
hingga mengalami kegagalan, maka tentu saja sel telur yang sudah dibuahi itu
akan tetap memiliki tiga set kromosom; dua set dari sel telur dan satu set dari sel
sperma. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai triploid atau individu yang

10

memiliki tiga set kromosom (3N). Karena materi genetic sperma telah rusak maka
yang akan berkembang dan mengalami pembelahan hanya pada set kromosom
telur dari induk betina. Oleh karena itu ginogenesis hanya akan menghasilkan
anakan yang sama dengan sifat induknya jika metode ini berhasil.
Ginogenesis dapat digunakan untuk pemurnian ikan menggantikan teknik
perkawinan sekerabat. Menurut Rohadi, D. S, (1996) dengan ginogenesis buatan
dapat menghasilkan ikan bergalur murni dengan sifat homozigositas. Hasil
pemurnian ikan dengan metode ginogenesis selama satu generasi sama dengan
hasil

tujuh

sampai

delapan

generasi

perkawinan

sekerabat

sedangkan

homozogositassatu generasi ikan ginogenesis sama dengan homozigositas tiga


generasi ikan hasil perkawinan sekerabat. Keberhasilan dari metode ini ditentukan
oleh umur zigot, lama waktu kejutan dan suhu kejutan panas yang digunakan.
Lamanya kejutan suhu, pemilihan waktu yang tepat serta suhu perlakuan yang
tepat adalah spesifik atau khas untuk masing-masing jenis ikan.

2.5.2 Hibridisasi
Hibridisasi adalah salah satu metode pemuliaan dalam upaya mendapatkan
strain baru yang mewarisi sifat-sifat genetik dan morfologis dari kedua tetuanya
dan untuk meningkatkan heterozigositas. Semakin tinggi heterozigositas suatu
populasi, semakin baik sifat-sifat yang dimilikinya. Hibridisasi pada ikan relatif
mudah dan dapat menghasilkan kombinasi taksonomi yang bermacam-macam dan
luas (Tave, 1988).
Hibridisasi dalam pengembangbiakan ikan sudah dikenal serta dilakukanorang
untuk memeperbaiki sifat genetik ikan tertentu. Hibridisasi pada ikan
dapat dilakukan antara ikan ras dalam satu spesies, antara ras dalam satu genus
anataragenus

dalam

ras

satu

family

atau

berbeda

family

(Hickling

1971 Dalam Syamsiah2001). Hibridisasi ini bertujuan untuk mendapatkan benih


dengan sifat lebih baik dari yang dipunyai tertuanya terutama dalam pertumbuhan,
kematangan gonad,ketahanan terhadap penyakit serta lingkungan buruk, dan
efesiensi

pemanfaatanmakanan

(Hardjamulia

dan

Suseno dalam Syamsiah

2001).Berdasarkan konsep di atas penggunaan sperma ikan mas (Cyrinus carpio)

11

dapat

diaplikasikan

pada

hibridisasi

ikan

komet

(Carassius

auratus),

mengingatikan mas memiliki pertumbuhan cepat, dan memiliki kekerabatan yang


cukup

dekat dengan ikan komet. Hibridisasi yang dilakukan diharapkan

dapat

menghasilkan ikan komet Hibrid yang memiliki mutu genetis yang lebih baik.

2.5.3. Triploidisasi
Triploidisasi merupakan salah satu metode untuk menghasilkan ikan yang
steril adalah dengan manipulasi kromosom. Benih triploid diperoleh dengan
memberi kejutan suhu atau tekanan setelah pembuahan dengan menggunakan
spermatozoa aktif. Selain itu triploidi dapat juaga dihasilkan dengan membuahi
telur ikan tetraploid dengan sperma ikan diploid normal
Selain dari proses dan waktu penyinaran ultraviolet dan kejutan panas,
penenganan setelah pembuahan merupakan faktor yang harus diperhatikan yaitu
kondisi lingkungan wadah penetasan yang baik, sehingga telur-telur hasil
Triploidisasi dapat menetas

2.5.4 Embriogenesis
Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan embrio.
Proses ini merupakan tahapan perkembangan sel setelah mengalami pembuahan
atau fertilisasi. Embriogenesis meliputi pembelahan sel dan pengaturan di tingkat
sel. Sel pada embriogenesis disebut sebagai sel embriogenik (Lewis, 2002).

12

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum

genetika

ikan

mengenai

hibridisasi,

triploidisasi

dan

ginogenesis dilaksanakan pada hari Kamis,Jumat,Sabtu dan Minggu, tanggal 27


30 November 2014. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Akuakultur
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
1. Alat suntik berfungsi untuk menyuntikkan hormon ovaprim ke dalam
bagian tubuh ikan uji.
2. Ember berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan ikan
3. Lap berfungsi untuk menutup kepala ikan saat akan disuntik agar ikan
tidak mengalami stress
4. Akuarium berfungsi sebagai tempat menyimpan induk
5. Instalasi aerasi

(blower, batu aerasi, dan selang)

berfungsi sebagai

penyedia oksigen bagi ikan di dalam akuarium


6. Water bath

berfungsi

sebagai tempat untuk melakukan

heat shock

terhadap telur
7. Kotak UV berfungsi sebagai tempat untuk melakukan radiasi terhadap
telur
8. Termometer berfungsi untuk mengatur suhu pada saat melakukan heat
shock di dalam water bath
9. Cawan petri berfungsi sebagai tempat menyimpan sel telur
10. Akuarium berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan telur yang sudah
dibuahi dan tempat telur menetas
11. Mikroskop berfungsi untuk melihat dan mengamati perkembangan sel
telur

13

3.2.2 Bahan
1. Ikan Komet betina berfungsi sebagai sampel ikan yang akan diuji
2. Ikan Mas jantan berfungsi sebagai sampel ikan yang akan diuji
3. NaCl fisiologis 0,9 berfungsi sebagai cairan untuk mengencerkan sperma
4. Hormon ovaprim berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi telur
oleh indukan yang dipijahkan dan untuk indukan jantan berfungsi untuk
meningkatkan produksi sperma yang akan dikeluarkan

3.3 Prosedur
3.3.1 Persiapan Alat
1. Mencuci akuarium hingga bersih
2. Memasangkan instalasi aerasi agar berfungsi dengan baik

3.3.2 Pemijahan Buatan


1. Menyeleksi indukan yang akan digunakan dalam praktikum.
2. Memisahkan indukan jantan dan indukan betina
2. Menyuntikan ovaprim pada indukan betina dan indukan jantan dengan
dosis 0,4 ml/kg induk betina dan 0,1 ml/kg indukan jantan
3. Melakukan stripping sperma pada indukan jantan
4. Melakukan stripping sel telur pada indukan betina setelah ovulasi (setelah
12 jam proses penyuntikan ovaprim)

3.3.3 Hibridisasi
1. Mengencerkan

sperma yang telah

dihasilkan oleh indukan jantan

menggunakan larutan NaCl.


2. Sperma diletakkan di cawan petri.
3. Melakukan fertilisasi atau penyatuan sel telur ikan betina yakni

ikan

komet dan sperma ikan jantan yakni ikan komet. Saat proses pengeluaran
telur dari lubang genital betina, diwajibkan lubang genital kering agar
mikrofil yang ada pada telur tidak dimasuki oleh air
4. Menebarkan sel telur di akuarium yang telah disediakan

14

5. Melakukan pengamatan.

3.3.4 Ginogenesis
1. Mengencerkan

sperma yang telah dihasilkan oleh indukan jantan

menggunakan larutan NaCl.


2. Sperma diletakkan di cawan petri.
3. Sperma yang telah diencerkan diradiasi menggunakan sinar UV selama 10
menit.
4. Melakukan fertilisasi atau penyatuan sel telur ikan betina yakni ikan
komet dan sperma ikan jantan yakni ikan mas
5. Hasil fertilisasi didiamkan selama 40 menit.
6. Sel telur dan sperma yang telah difertilisasi kemudian diheat shock pada
sterofoam berisi air yang suhunya 40 oC selama 2 menit.
7. Menebarkan sel telur di akuarium yang telah disediakan
8. Melakukan pengamatan

3.3.5

Triploidisasi

1. Mengencerkan sperma yang telah dihasilkan oleh indukan jantan


menggunakan larutan NaCl.
2. Sperma diletakkan di cawan petri.
3. Melakukan fertilisasi atau penyatuan sel telur ikan betina yakni ikan komet
dan sperma ikan jantan yakni ikan mas.
4. Hasil fertilisasi didiamkan selama 2 menit.
5. Sel telur dan sperma yang telah difertilisasi kemudian diheat shock pada
sterofoam berisi air yang suhunya 40 o C selama 2 menit.
6. Menebarkan sel telur di akuarium yang telah disediakan.
7. Melakukan pengamatan

3.3.6 Embriogenesis
Mengamati sel telur yang sudah difertilisasi menggunakan mikroskop.
Pengamatan dilakukan untuk mengamati perubahan atau perkembangan yang

15

terjadi untuk pada sel telur. Pengamatan dilakukan setiap 15 menit sekali selama 8
jam.

3.3.7 Pemeliharaan Larva


Sel telur mengalami kematian dan tidak berkembang menjadi larva setelah
di tebar karena tidak terjadi perubahan setelah dilakukan pengamatan selama
kurang lebih 14 jam.

3.4 Metode Praktikum


Metode yang digunakan dalam praktikum ini berupa eksperimental dengan
menggunakan beberapa perlakuan. Perlakuan yang diberikan diantaranya adalah
striping, pengenceran, radiasi dan kejut suhu (heat shock).

3.5 Rancangan Praktikum


3.5.1 FR
FR atau fertilization rate adalah derajat pembuahan telur. Pengamatan
derajat pembuahan telur (FR) yang dilakukan setelah pembuahan telur pada
proses ginogenesis, hibridisasi, dan triploidisasi selesai dilakukan. Effendie
(1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui derajat fertilisasi telur ikan dapat
menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
FR

: Derajat fertilisasi telur (%)

: Jumlah telur sampel

Po

: jumlah telur yang dibuahi

3.5.2 HR
HR atau hatching rate adalah derajat penetasan telur. Pengamatan derajat
penetasan telur dilakukan ketika embrio berumur 17-20 jam dari proses

16

pembuahan telur. Effendie (1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui derajat


penetasan telur ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
HR

: Derajat penetasan telur

Pt

: Jumlah telur yang menetas

Po

: Jumlah telur yang dibuahi

3.5.3 SR Larva
SR atau

survival rate

adalah derajat kelangsungan hidup ikan.

Pengamatan derjat kelangsungan hidup ikan dilakukan hanya untuk proses


ginogenesis, hibridisasi, dan triploidisasi setelah larva ikan berumur tujuh hari.
Effendie (1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui derajat kelangsungan
hidup ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
SR : Kelangsungan hidup ikan selama praktikum
Nt : Jumlah ikan pada akhir praktikum
No : Jumlah ikan pada awal praktikum

3.6 Analisis Data


Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk perhitungan dan dianalisis
secara deskriptif, yaitu dengan membandingkan hasil percobaan dengan literature
yang berkaitan dengan hibridisasi, triploidisasi dan ginogenesis.
SR (%) = x 100 %

17

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pemijahan Buatan


Pemijahan

buatan

yang

dilakukan

oleh

penulis

adalah

dengan

menyuntikkan ovaprim kepada induk betina sebelum ovulasi. Pemijahan ini


berhasil dilakukan oleh penulis, perbedaan besar perut sebelum dan sesudah
disuntikkan ovaprim menjadi tolok ukur keberhasilan pemijahan buatan. Setelah
itu, ikan betina diurut perutnya dan mengeluarkan telur ikan , telurnya pun masih
berwarna oranye.

4.2 Hibridisasi
4.2.1 Hasil
Jumlah telur yang kelompok kami dapatkan untuk proses hibridisasi ini
sebanyak 439 telur. Tetapi hanya sekitar 197 telur yang berhasil terbuahi. Hal ini
dapat terlihat dari warna telur yang berwarna lebih kuning, yang berarti telur
berhasil terbuahi. Sedangkan sel telur yang tidak terbuahi berwarna putih (telur
tidak matang). Sehingga didapatkan derajat fertilisasi sebesar:
x 100 %
= 44,8%
Nilai derajat penetasan larva dapat dihitung melalui rumus HR , dengan
diketahui larva yang akan menetas melalui pengamatan adalah 9 larva. Dapat
dihitung sebagai berikut :

4.2.2 Pembahasan
Hibridisasi dalam pengembangbiakan ikan sudah dikenal serta dilakukan
orang untuk memperbaiki sifat genetik ikan tertentu. Hibridisasi pada ikan dapat
dilakukan antara ikan ras dalam satu spesies, antara ras dalam satu genus, anatara

18

genus dalam ras satu famili atau berbeda famili. Tujuan hibridisasi mendapatkan
benih dengan sifat lebih baik dari yang dipunyai tertuanya terutama dalam
pertumbuhan, kematangan gonad, ketahanan terhadap penyakit serta lingkungan
buruk, dan efesiensi pemanfaatan makanan. Data hasil pengamatan praktikum
didapatkan hasil derajat pembuahan 44,8% dan derajat penetasan telur 4,56%.
Calon ikan yang berhasil bertahan hanya satu. Hasil tersebut dapat diperoleh
dengan melakukan prosedur yang telah ada , misalnya dari saat sperma di
stripping lalu kemudian ditambahkan dengan sel telur untuk difertilisasi agar
mendapatkan telur yang menetas sesuai dengan keinginan. Lalu manajemen waktu
juga penting saat melakukan praktikum hibridisasi ini karena telur dan sperma
yang terlalu lama dibiarkan diluar setelah difertilisasi akan menyebabkan telur
yang terbuahi menjadi sedikit dan telur yang menetasnya pun akan sedikit.
Kontaminasi tangan dari luar juga dapat menyebabkan kegagalan pada hibridiasi
ini mengapa karena proses praktikum ini sangat rentan terhadap kontaminasi
tangan dari manusia yang akhirnya menyebabkan telur tidak terbuahi secara
maksimal.
Faktor pemanasan dari lampu mikroskop juga mempengaruhi nilai derajat
penetasan larva, semakin sering diamati di mikroskop maka akan semakin cepat
penetasan dan semakin banyak daripada hanya dibiarkan lama di dalam akuarium
yang berisi air.

4.3 Ginogenesis
4.3.1 Hasil
Jumlah sel telur untuk proses ginogenesis yang didapatkan oleh kelompok
kami adalah 308 telur. Hal ini dapat terlihat dari warna telur yang berwarna lebih
kuning, yang berarti telur berhasil terbuahi dengan jumlah 127 telur. Sedangkan
sel telur yang tidak terbuahi berwarna putih (telur tidak matang). Sehingga
didapatkan derajat fertilisasi sebesar :

= 41,7 %

19

Pada pengamatan penulis , banyaknya larva yang akan menetas sebanyak


9 larva. Larva yang menunjukkan akan menetasa adalah larva yang sudah
mempunyai organ-organ tubuh dan bergerak dengan aktif dalam larva. Nilainya
dapat dihitung sebagai berikut :

= 7,08%

4.3.2 Pembahasan
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa
kontribusi dari gamet jantan.

Gamet

jantan hanya

berfungsi untuk

merangsangperkembangan telur sedangkan sifat-sifat genetisnya tidak ikut


diturunkan.
Ginogenesis terbagi menjadi dua macam yaitu ginogenesis miotik dan
ginogenesis mitotik. Serangkaian perlakuan yang diberikan pada kedua
ginogenesis ini sama, yaitu radiasi dan kejut suhu (heat shock). Radiasi dilakukan
dengan menggunakan sinar ultraviolet yang bertujuan untuk merusak kromosom
spermatozoa, agar pada saat pembuahan tidak berfungsi secara genetik sehingga
semua anakan yang didapatkan berjenis kelamin betina. Radiasi dilakukan selama
2 menit dengan ketebalan sperma 1 mm. Perbedaan perlakuan untuk ginogenesis
miotik dan mitotik berada pada tahap selanjutnya, yaitu heat shock. Pada
ginogenesis miotik, sel telur harus didiamkan terlebih dahulu selama 2 menit agar
heat shock berlangsung pada saat pembelahan miosis kedua sehingga mencegah
keluarnya badan polar II, sedangkan untuk mitotik lebih lama yaitu 30 menit yaitu
ketika fase gastrula berlangsung. Setelah didiamkan pada waktu yang sudah
ditentukan, heat shock dilakukan selama 2 menit dengan suhu 40oC. Kejut suhu
dimaksudkan untuk pencegahan keluarnya badan polar II telur pada saat terjadi
pembelahan miosis kedua atau pencegahan pembelahan sel setelah duplikasi
kromosom pada saat terjadi pembelahan mitosis pertama sehingga jumlah

20

kromosom

telur

mengganda

lagi

pada

awal

perkembangan

zigot

(Nagy et al. 1978).


Dari perhitungan derajat fertilisasi dan derajat penetasan didapatkan hasil
FR = 41,7% menunjukan bahwa hanya setengahnya telur yang terbuahi ,namun
nilai HR = 7,08 % menunjukkan hanya beberapa buah telur yang akan menetas,
pengaruh nya terletak pada pemanasan saat pengamatan dan metode yang
dilakukan oleh praktikan saat praktikan berlangsung serta kualitas telur dan
sperma yang dikawinkan . Serta lama pengamatan yang dilakukan penulis selama
proses praktikum yaitu 36 jam.

4.4 Triploidisasi
4.4.1 Hasil
Jumlah telur yang kelompok kami dapatkan untuk proses triploidisasi ini
Sebanyak 393 telur. Tetapi hanya sekitar 105 telur yang berhasil terbuahi. Hal ini
dapat terlihat dari warna telur yang berwarna lebih kuning, yang berarti telur
berhasil terbuahi. Sedangkan sel telur yang tidak terbuahi berwarna putih (telur
tidak matang). Sehingga didapatkan derajat fertilisasi sebesar :

= 26,7%
Pada Beberapa jam awal saat proses pengamatan , yaitu pada 8-12 jam
setelah proses fertilisasi , telur mati semua. Kematian telur ditunjukkan dengan
berwarna hitamnya telur ketika diamati dengan mikroskop , sedangkan dengan
mata telanjang , semua berwarna putih, telur yang masih hidup berwarna bening.
Nilai HR dapat dihitung melalui rumus berikut

= 0%

4.4.2 Pembahasan
Setelah kurang lebih 36 jam mengamati perkembangan telur ikan dapat
diketahui bahwa derajat fertilisasi sebesar 26,7 % , tidak sampai setengah nya.
21

Berapa kesalahan dilakukan oleh kelompok penulis sehingga hanya sedikit yang
terbuahi bahkan tidak ada yang menjadi larva. Kesalahan kesalah yang
dilakukan penulis saat praktikum berlangsung adalah kesalahan pada metode
praktikum , yaitu tidak dilakukannya heatshock dan juga terlalu sedikitnya sperma
yang diberikan saat fertilisasi buatan dilakukan. Heat shock berguna untuk
mencegah badan polar II keluar dari sel telur. Penulis lupa melakukannya
sehingga pembuahan tidak maksimal dan tidak ada satu pun yang menjadi larva.
Rendahnya kuantitas dan kualitas sperma juga mempengaruhi pembuahan saat
praktikum.
4.5 Embriogenesis
Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan embrio.
Proses ini merupakan tahapan perkembangan sel setelah mengalami pembuahan
atau fertilisasi.Setelah melakukan pengamatan kurang

lebih 8 jam melalui

mikroskop kami dapat melihat telur-telur hasil hibridisasi, ginogenesis dan


triploidisasi dengan lebih jelas. Terlihat ada perubahan yang mencolok selama 12
jam pengamatan ,dan menunjukkan perubahan dari fase fase embriogenesis ,
yaitu blastula , gastrula sampai menjadi embrio. Pada tahap akhir , kelihatan jelas
pembelahan yang terjadi.
4.6 Keberhasilan Pemijahan
Keberhasilan pemijahan dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor
diantaranya adalah seleksi induk, penyuntikan, striping, dan juga faktor eksternal
seperti kondisi air serta faktor internal seperti kematangan gonad induk.Seleksi
induk harus dilakukan agar individu yang nantinya akan dihasilkan memiliki
keunggulan dan kualitas yang lebih baik dari induknya. Kelompok kami memilih
ikan nilem betina yang terlihat sudah siap untuk dipijahkan dengan ciri-ciri seperti
perut gendut dan kelaminnya berwarna kemerahan.
Setelah memilih induk yang baik, proses selanjutnya adalah penyuntikan
menggunakan hormon ovaprim. Penyuntikan dilakukan di bagian otot punggung
ikan nilem, kemudian didiamkan untuk terjadi ovulasi. Striping tidak dapat
kelompok kami lakukan karena ikan nilem sudah mengeluarkan telur terlebih
dahulu sebelum waktunya.

22

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa praktikum mengenai
triplodasi , hibridasi dan ginogenesis belum seluruhnya mampu dilakukan oleh
penulis , khusus nya dengan triplodasi. Kaetidakmampuan penulis melakukan
metode adalah penyebab kurang mampunya penulis melakukan proses triplodasi
yaitu tidak melakukan heat shock. Pada Ginogenesis dan hibridisasi penulis sudah
dianggap mampu , walaupun hanya dapat mefertilisasi 50 persen dari jumlah telur
dan kurang dari 10 persen dari telur yang menjadi larva.

5.2 Saran
Praktikum selanjutnya dilakukan dengan lebih teliti dan serius agar dapat
meminimalisir

kesalahan-kesalahan

yang

kemungkinan terjadinya kegagalan praktikum.

23

terjadi

sehingga

memperkecil

DAFTAR PUSTAKA.

Goenarso, 2005. Feeding Activity And Growth Efficiency Of Common Carp


(Cyprinus Carpio Lin. Vol 1, No 1 (2002): Biotika Juni 2002.
Gustiano, R. 2009. Ikan Nila BEST. Trobos. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Hickling CF. 1962. Fish Culture. Faber and Faber Publishing London. 295 pp.
http://tropicalfishandaquariums.com/Goldfish/Goldfish.asp. Diakses pada tanggal
09 Desember 2014 pukul 20.00 WIB
http://www.wikipedia.com. Embriogenesis Diakses pada tanggal 10 Desember
2014 pukul 20.00 WIB
Huisman EA. 1987. Principles of Fish Production. Department of Fish Culture
and Fisheries, Wageningen Agriculture University, Wageningen,
Netherland. 170p.
Isnaeni. 2006. Fisiologi Hewan. Carnisius. Yogyakarta.
Khairul Amri 2008. Buku Pintar Budi Daya 15 Ikan Konsumsi. Agromedia
Pustaka. Jakarta.

24

LAMPIRAN

25

Dihibrid pada pengamatan 30 jam

Ginogenesis pada pengamatan 30 jam

26

Pengamatan dihibrid selam 26 jam

Pengamatan Ginogenesis selama 26 jam

27

Triploid pada pengamatan 10 jam

Dihibrid pada pengamatan 20 jam

28