Anda di halaman 1dari 39

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

82
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Kegiatan Pembelajaran Tahap Pra Siklus


Penelitian pra siklus diawali dengan kegiatan observasi proses
pembelajaran, wawancara dengan guru dan siswa, dan kajian dokumen hasil
kemampuan kognitif siswa untuk mendapatkan deskripsi awal kemampuan
kognitif dan aktivitas siswa kelas VII-G. Kegiatan observasi dilakukan di kelas
VII-G pada 24 dan 26 Februari 2014. Kegiatan observasi dilakukan untuk
mendapatkan data aktivitas siswa pra siklus dan deskripsi awal kegiatan
pembelajaran yang selama ini berlangsung.
Materi yang diajarkan pada tahap pra siklus adalah kalor dengan
menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta mengerjakan latihan soal.
Pada saat proses pembelajaran berlangsung, masih banyak siswa yang kurang
memperhatikan guru. Siswa cenderung melakukan aktivitas lain selain belajar,
seperti berbicara dengan teman sebangkunya saat guru menjelaskan, tiduran di
meja dan ada yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain. Hal serupa
diungkapkan oleh tiga siswa kelas VII-G yakni Safira, Aina dan Ahlul. Menurut
mereka, karena penyajian materi yang monoton, sehingga siswa kurang tertarik
dalam mengikuti pelajaran. Oleh karena itu, banyak siswa yang lebih memilih
untuk mengalihkan perhatiannya dengan melakukan aktivitas lain saat proses
pembelajaran. Adapun hasil observasi awal di kelas VII-G oleh ketiga observer
disajikan pada Tabel 4.1 dan digambarkan dalam bentuk diagram silinder pada
Gambar 4.1, sedangkan hasil analisis data hasil observasi dapat dilihat pada
Lampiran 36.
Tabel 4.1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pra Siklus
Aspek
Visual activities
Oral activities
Writing activities
Listening activities

Prosentase Aspek (%)


Observer I
Observer II
Observer III
26,9
26,9
27,8
0,93
0,93
0,93
7,7
7,7
8
31,5
33,3
33,3
commit to user

82

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

83
Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pra-Siklus

Prosentase (%)

35
30
25
20

Observer I

15

Observer 2

10

Observer 3

5
0
Visual
activities

Oral
activities

Writing
activities

Listening
activities

Aspek Aktivitas

Gambar 4.1. Diagram Silinder Prosentase Ketercapaian


Aktivitas Siswa
Berdasarkan Tabel 4.1 dan Gambar 4.1 dapat dilihat bahwa ada
perbedaan hasil observasi antara observer 1, 2 dan 3 meskipun tidak terlalu jauh.
Oleh karena itu, ketiga observer melakukan diskusi mengenai data yang berbeda.
Perbedaan data hasil observasi terletak pada interpretasi jumlah siswa yang
melakukan visual dan listening activities. Secara lebih jelas dapat dilihat pada
Lampiran 36. Namun demikian berdasarkan diskusi ketiga observer, maka
diperoleh data akhir yang ditunjukkan pada Tabel 4.2. Kesepakatan yang dibuat
oleh tiga observer dengan pertimbangan guru adalah mengambil hasil yang sama
dari dua atau tiga observer sebagai hasil akhir.
Tabel 4.2. Hasil Akhir Observasi Aktivitas Siswa Pra Siklus
Aspek
Visual activities
Oral activities
Writing activities
Listening activities

Prosentase Aspek (%)


26,9
0,93
7,7
33,3

Berdasarkan Tabel 4.2, aspek dengan hasil yang sangat rendah yaitu oral
acitivities. Dari dua pertemuan pra siklus yang dilakukan observer, hanya dua
commit to user
siswa yang menjawab pertanyaan guru tanpa ditunjuk. Aktivitas menjawab

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

84
merupakan satu dari empat sub indikator dalam aspek ini. Sedangkan tiga sub
indikator lain yang meliputi: bertanya pada guru, menanggapi pendapat teman,
dan memberikan ide atau gagasan dalam diskusi kelompok, tidak ada siswa yang
melakukannya. Aspek writing activities adalah aspek terendah kedua berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan. Hal ini dikarenakan dalam aspek ini ada empat
sub indikator aktivitas siswa melalui media e-learning, sedangkan model
pembelajaran yang digunakan saat itu belum berbasis media e-learning. Dalam
observasi pra siklus, didapatkan catatan bahwa guru masih menggunakan metode
ceramah dan pemberian informasi, sehingga tidak ada aktivitas siswa yang
mengarah pada penggunaan media e-learning.
Aktivitas siswa yang rendah dalam proses pembelajaran berdampak
terhadap kemampuan kognitif siswa yang rendah dan hal ini menunjukkan proses
pembelajaran yang belum optimal. Kemampuan kognitif siswa yang rendah
ditunjukkan dengan hasil ulangan tengah semester, yaitu hanya 5 siswa (18,51%)
yang dinyatakan tuntas dari 27 siswa yang mengikuti ujian. Daftar nilai siswa
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 39.
Berdasarkan hasil wawancara pra siklus terhadap guru IPA Fisika SMP
Negeri 14 Surakarta, Endang Puji Rahayu, disampaikan oleh beliau bahwa dari
seluruh kelas VII, kelas yang memerlukan perbaikan adalah kelas VII-G. Hal ini
didasarkan atas aktivitas siswa yang belum terarahkan dengan baik. Siswa masih
cenderung ramai. Beliau juga menambahkan ini kali pertama beliau mengajar di
kelas VII. Oleh karenanya masih sering menggunakan metode ceramah dan tanya
jawab, sesekali menggunakan power poin untuk media pembelajaran. Metode
diskusi masih jarang diterapkan. Hal ini didasarkan atas pertimbangan materi dan
alokasi waktu pembelajaran yang ditetapkan. Waktu dalam mempersiapkan
pembelajaran kurang, karena beliau juga mengajar di kelas IX. Namun demikian,
terkadang di dalam kelas beliau menjelaskan keterkaitan antar materi IPA baik
Fisika dan Biologi supaya siswa dapat memaknai proses pembelajaran yang
dimaksud. Tetapi hal ini belum cukup mendukung kegiatan siswa yang bersifat
aplikatif, terutama mengenai permasalahan lingkungan. Hal ini membuat materi
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

85
kurang diulas secara lebih mendalam, sehingga kemampuan kognitif siswa
rendah.
Istilah blended learning di lingkungan sekolah menengah memang masih
jarang didengar, terutama di daerah yang siswanya mengalami keterbatasan,
khususnya finansial dan fasilitas online. Berdasarkan wawancara tersebut, guru
menjelaskan bahwa model blended learning belum menjadi satu model unggulan
yang biasa digunakan. Persiapan yang benar-benar matang dan fasilitas yang
diperlukan menjadi salah satu alasan belum pernah diterapkannya model blended
learning di kelas tersebut ataupun kelas yang lain. Namun beliau menambahkan
bahwa model ini dapat menjadi salah satu model alternatif dalam menyiasati
waktu pembelajaran yang masih dirasa kurang oleh guru.
Berdasarkan hasil data pra siklus, peneliti dan guru menyusun suatu
tindakan guna meningkatkan kemampuan kognitif dan aktivitas siswa. Tindakan
tersebut adalah melalui implementasi model blended learning berbasis SETS pada
pembelajaran IPA Terpadu dengan tema Ekosistem Air Tawar. Pemilihan model
ini didasarkan atas banyaknya materi yang kurang diulas secara mendalam karena
waktu yang terbatas. Model ini menggabungkan antara model tatap muka dan
model pembelajaran melalui media e-learning yang mendukung aktivitas siswa
dalam mengerjakan tugas mereka. Dengan didukung oleh media e-learning yang
berbasis Moodle diharapkan nantinya tujuan pembelajaran yang direncakan dapat
tercapai. Tema yang dipilih adalah ekosistem air tawar. Hal ini dikarenakan
pendekatan SETS berkaitan dengan aktivitas siswa dalam hal lingkungan. Dengan
melihat kondisi banyaknya pencemaran sungai, danau, dan kurangnya pasokan air
bersih, diharapkan melalui tema ini siswa mampu ikut serta dalam menjaga
kelestarian ekosistem air tawar dan menghadirkan solusi atas permasalahan
lingkungan yang ada. Melalui aktivitas siswa di kelas dan media e-learning,
diharapkan model ini mampu meningkatkan kemampuan kognitif dan aktivitas
siswa.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

86
B. Deskripsi Hasil Kegiatan Pembelajaran Siklus I
Siklus I dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan, yaitu tanggal 17 dan 18 Maret
2014. Masing-masing pertemuan sebanyak dua kali jam pelajaran (80 menit) dan
satu jam pelajaran (40 menit).
1. Perencanaan Tindakan Siklus I
Pada tahapan perencanaan, peneliti dan guru secara kolaboratif
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Melalui media dan modul yang
telah disusun, peneliti dan guru memberikan masukan terutama pada indikator.
Karena model yang digunakan adalah blended learning maka peneliti dan guru
menyusun RPP dan LKS dengan mempertimbangkan pembagian materi yang
dilaksanakan melalui tatap muka dan melalui e-learning. Model blended
learning yang digunakan adalah model kelas murni yaitu materi yang akan
dikaji dapat dipelajari dan tugas siswa dapat dikerjakan melalui media elearning.
Berdasarkan hal tersebut materi yang akan dikaji pada siklus I adalah
air tawar dan ekosistem air tawar. Penjabaran dari indikator di tiap pertemuan
dapat dilihat pada Lampiran 2. Pada pertemuan I, peneliti dan guru
merencanakan menggunakan model blended learning dengan metode
demonstrasi, diskusi, dan tanya jawab saat pembelajaran di dalam kelas dan
disertai dengan evaluasi dan tugas yang diberikan melalui media e-learning.
Sedangkan untuk pertemuan II siswa akan melakukan presentasi tugas yang
telah dikerjakan melalui media e-learning.
Setelah RPP dan LKS selesai disusun, dilakukan validasi perangkat
baik RPP dan LKS oleh ahli. Berdasarkan analisis kuantitatif pada Lampiran
23-24, diperoleh kesimpulan bahwa RPP dan LKS memenuhi kriteria sangat
baik dengan rincian disajikan pada Tabel 4.3. Sedangkan berdasarkan hasil
analisis kualitatif didapatkan komentar dan saran yang diberikan oleh ahli yang
dapat dilihat pada Lampiran 40.
Di akhir siklus, siswa direncanakan untuk mengerjakan tes kognitif
untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. Instrumen yang digunakan
commit
to usersiswa adalah tes tertulis objektif
sebagai alat evaluasi kemampuan
kognitif

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

87
(pilihan ganda). Instrumen ini telah dilakukan uji validasi oleh ahli, dalam hal
ini yaitu pembimbing untuk mengetahui kelayakannya sebagai alat evaluasi.
Beberapa komentar dan saran yang diberikan oleh ahli dapat dilihat pada
Lampiran 41 . Jumlah butir soal aspek kognitif adalah 24 butir dengan bentuk
tes tertulis objektif tipe pilihan ganda. Instrumen tes kognitif siklus I dapat
dilihat pada Lampiran 17.
Tabel 4.3. Hasil Validasi Perangkat Siklus I
a. Validasi RPP
Kelompok
Kategori
Skor
5

148 < X

b. Validasi LKS
Kelompok
Kategori
Skor
5

104 < X

Kriteria
Sangat
baik

Total Skor

Frekuensi

100

Total Skor

Frekuensi

Validator I = 114
Validator II = 118

100

Validator I = 165
Validator II = 167

Kriteria
Sangat
baik

Instrumen lain yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas


siswa. Lembar observasi aktivitas siswa digunakan observer untuk mengamati
aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Jumlah observer
sebanyak 3 orang yang masing-masing mengamati aktivitas siswa baik di kelas
maupun melalui media e-learning. Aktivitas siswa yang diamati meliputi oral
activities, visual activities, writing activities, dan listening activities. Lembar
observasi dapat dlihat pada Lampiran 19.
Target ketercapaian yang dibuat secara kolaboratif antara guru dan
peneliti didasarkan atas kemampuan dan kondisi siswa. Adapun target yang
disepakati untuk kemampuan kognitif siswa secara klasikal meningkat menjadi
75 % dari kondisi awal, sedangkan untuk aspek aktivitas yaitu oral activities,
visual activities, writing activities, dan listening activities masing-masing
meningkat menjadi 60 %, 20 %, 25 % dan 65 % (dapat dilihat pada Tabel 3.4).
2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Siklus I pertemuan I dilaksanakan pada Senin, 17 Maret 2014.
to user pada Rabu, 19 Maret 2014.
Sedangkan untuk pertemuan commit
II dilaksanakan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

88
Berdasarkan lembar absensi siswa, jumlah siswa yang dijadikan subjek
penelitian adalah 27 dari 32 siswa di kelas. Hal ini dikarenakan ketidakhadiran
siswa dalam satu pertemuan atau lebih tiap siklus akan membuat dirinya tidak
secara penuh mengikuti proses pembelajaran baik tugas-tugas ataupun materi
yang diberikan dan pada akhirnya berdampak pada data penelitian. Namun
demikian, bukan berarti siswa tersebut tidak mengikuti proses pembelajaran
yang berlangsung selama penelitian. Hanya saja, bagi peneliti siswa yang tidak
hadir akan secara langsung dihapus sebagai data penelitian.
Guru sebagai pemberi tindakan dibantu 3 observer yang melakukan
observasi selama kegiatan berlangsung. Ketiga observer tersebut adalah
mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika dari Universitas Sebelas Maret
Surakarta, termasuk didalamnya peneliti yang secara garis besar memahami
peran dalam penelitian. Selama kegiatan pembelajaran, guru bertugas
menyampaikan pembelajaran di kelas, sedangkan observer melakukan
observasi di dalam kelas dengan mengambil posisi awal di belakang tempat
duduk siswa dan secara fleksibel dapat berpindah posisi sesuai dengan
keperluan observasi yang dilakukannya.
a. Pertemuan I Siklus I
Pada pertemuan pertama secara garis besar pembelajaran
dilaksanakan secara berkelompok. Guru memulai pendahuluan selama 10
menit yang berisi motivasi, apersepsi, opini siswa dan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti berlangsung melalui 4 kali tahapan eksplorasi-elaborasikonfirmasi (E-E-K). Pada siklus E-E-K pertama siswa melakukan
demonstrasi dan diskusi kelompok sesuai petunjuk di LKS Air Tawar.
Pada siklus E-E-K kedua guru menayangkan video Unsur dan Senyawa
yang diambil dari media e-learning sebagai bentuk eksplorasi siswa untuk
mengerjakan LKS Unsur dan Senyawa melalui diskusi kelompok. Pada
siklus E-E-K ketiga siswa melakukan demonstrasi sesuai petunjuk di LKS
Sifat-Sifat Zat. Sedangkan pada siklus E-E-K keempat guru menayangkan
video Perubahan Wujud Zat yang diambil dari media e-learning dalam
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

89
membimbing siswa mengerjakan LKS Perubahan Wujud Zat melalui
diskusi kelompok.
Saat kegiatan pembelajaran berlangsung, salah seorang observer
mengambil foto sebagai dokumentasi dan bersama dua observer lain
mengisi lembar observasi aktivitas siswa dengan berkeliling di tiap-tiap
kelompok untuk mengamati aktivitas siswa. Indikator pada lembar observasi
yang berkaitan dengan aktivitas siswa melalui media e-learning diisi oleh
observer melalui menu report yang tersedia pada media e-learning.
Aktivitas e-learning siswa pada pertemuan I ini meliputi membaca materi,
diskusi, mengerjakan evaluasi maupun tugas secara online melalui media elearning sampai hari Selasa (18 Maret 2014) pukul 24.00 WIB.
Peneliti selain sebagai observer juga bertugas membantu guru
dalam menjalankan ppt ataupun video selama proses pembelajaran
berlangsung. Di akhir pertemuan ditutup dengan memberikan rangkuman,
dan penjelasan dalam mengerjakan evaluasi dan tindak lanjut dalam bentuk
tugas serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Selama proses pembelajaran, guru tidak menyampaikan materi
secara langsung (pemberian informasi), tetapi melalui melalui model
blended learning dengan metode demonstrasi, diskusi dan tanya jawab.
Implementasi model blended learning yang dipilih pada siklus I adalah
melalui pembelajaran tatap muka di kelas dengan metode demonstrasi,
simulasi video, diskusi dan tanya jawab serta pemberian evaluasi dan tugas
melalui media e-learning. Materi yang dipelajari baik berupa ppt, video,
modul, dan LKS, semuanya diambil dari media e-learning. Oleh karena itu,
siswa dapat mempelajari materi sebelum pembelajaran melalui media elearning. Pada pertemuan 1, siswa secara inisiatif mendiskusikan jawaban di
LKS dengan membaca buku IPA tentang materi yang sedang dikaji. Melalui
kegiatan

diskusi,

demonstrasi,

dan

tanya

jawab,

siswa

mampu

menginterpretasikan data ke lembar kerja siswa (LKS) yang telah


disediakan. Perwakilan dari masing-masing kelompok mempresentasikan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

90
hasil pemecahan masalah kelompoknya ke depan kelas dan dilanjutkan
dengan kesimpulan secara bersama-sama oleh guru dan siswa.
LKS yang diberikan kepada siswa berisi petunjuk dalam
melakukan kegiatan diskusi, maupun penyampaian materi dan pertanyaan
yang menuntun siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Satu
kelompok diberikan masing-masing satu LKS. Setiap siswa wajib menulis
hasil diskusi pemecahan masalah dari kelompok masing-masing dan
mengumpulkannya kepada guru. Hasil diskusi kelompok melalui LKS yang
dikerjakan siswa secara kelompok dapat dilihat pada Lampiran 31. Skor
maksimal LKS adalah 80. Berdasarkan Lampiran 31 dapat dideskripsikan
bahwa semua siswa dalam kelompok berdiskusi dengan baik. Namun
demikian, berdasarkan catatan observer ada dua kelompok yang selalu
ramai saat diskusi.
Di akhir pertemuan, guru menjelaskan bahwa evaluasi dilakukan
melalui media e-learning. Hasil evaluasi siswa dapat dilihat pada Lampiran
31. Berdasarkan Tabel 4.4, hanya sebesar 11,1 % siswa yang mengerjakan
evaluasi melalui media e-learning. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan
pembelajaran pada pertemuan pertama tidak berjalan optimal. Hasil evaluasi
tersebut belum mampu menjabarkan keberhasilan pertemuan pertama.
Tindak lanjut yang diberikan pada pertemuan I siklus I dalam
bentuk tugas individu yang perlu diunggah siswa melalui media e-learning.
Tugas individu ini berupa pengerjaan LKS Siklus Air Tawar dan LKS
Ekosistem Air Tawar. Hasil LKS yang telah diunggah siswa akan menjadi
bahan diskusi untuk pertemuan 2. Tabel 4.4 menjabarkan prosentase
aktivitas yang dilakukan siswa melalui media e-learning. Selain itu, siswa
juga diminta untuk berdiskusi melalui forum yang disediakan pada media elearning. Namun, tak seorang pun siswa yang melakukannya.
b. Pertemuan 2 Siklus I
Pertemuan kedua siklus pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 19
Maret 2014. Pada pertemuan kedua siklus pertama, pembelajaran didahului
commit
to userdari media e-learning dan disertai
dengan penayangan video yang
diambil

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

91
tanya jawab untuk motivasi siswa serta dilanjutkan dengan presentasi tugas
dan diakhiri dengan kesimpulan. Siklus E-E-K di pertemuan 2 dilakukan
sebanyak 2 kali melalui kegiatan presentasi tugas siswa yang diberikan
pertemuan sebelumnya. Hasil tugas siswa tersebut dapat dilihat pada
Lampiran 32 dan secara ringkas prosentase siswa yang mengumpulkan
dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Hasil Observasi Pertemuan 1 Siklus I
Indikator
Siswa mengikuti
evaluasi melalui elearning
Siswa membaca
materi melalui media
e-learning
Siswa
mengumpulkan
tugas melalui elearning

Siswa
mengumpulkan
tugas secara
langsung

Prosentase
Ketercapaian (%)
11,1

100 % siswa tuntas

14,8

22,2

a. Optimal (tepat waktu) =


14,8 %
b. Kurang optimal (tidak
tepat waktu) = 3,7 %
c. Tidak optimal (tidak
mengumpulkan) = 77,8 %
a. Optimal = 14,8 %
b. Kurang optimal = 55,6 %
c. Tidak optimal = 29,6 %

70,4

Keterangan

Tabel 4.5. Hasil Observasi Pertemuan 2 Siklus I


Indikator
Siswa mengikuti
evaluasi melalui elearning
Siswa membaca
materi melalui media
e-learning
Siswa mengumpulkan
tugas melalui elearning

Prosentase
Ketercapaian (%)
37,1

Keterangan
a. 40 % siswa tuntas
b. 60 % siswa tidak tuntas

37

44,4

a. Optimal (tepat waktu) =


44,4 %
b. Tidak optimal (tidak
mengumpulkan) =
56,6 %

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

92
Setelah kegiatan presentasi selesai, dilanjutkan dengan tanya jawab
dengan siswa lain yang tidak presentasi. Kemudian guru memberikan
konfirmasi atas materi yang telah dipresentasikan. Di akhir pembelajaran,
guru bersama siswa merangkum materi hasil presentasi dan memberikan
evaluasi kepada siswa dalam bentuk tugas yang dapat dikerjakan oleh siswa
melalui media e-learning sampai hari Minggu, 23 Maret 2014 pukul 24.00
serta memberikan tugas kelompok sebagai tindak lanjut dari pertemuan
kedua yang juga dikumpulkan melalui media e-learning. Namun demikian
hanya 37,1 % siswa yang mengerjakan evaluasi. Tabel 4.5 menampilkan
prosentase aktivitas siswa melalui media e-learning meliputi, pengumpulan
tugas, membaca materi, pengerjaan evaluasi dan diskusi. Namun, aktivitas
diskusi melalui media e-learning tidak terlaksana dengan baik. Berdasarkan
Tabel 4.5 hanya 40 % siswa yang tuntas dari 37,1 % siswa yang
mengerjakan evaluasi dan sebesar 44,4 % siswa yang mengumpulkan tugas
melalui media e-learning.
Sedangkan kegiatan observasi yang dilakukan oleh observer tidak
jauh beda dengan pertemuan pertama. Ketiga observer melakukan observasi
di dalam kelas saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan untuk indikator
yang berkaitan dengan aktivitas e-learning siswa dilakukan dengan
observasi melalui media e-learning.
Untuk mengukur kemampuan kognitif siswa pada siklus I, siswa
mengerjakan tes tertulis dengan soal berupa soal objektif (pilihan ganda)
sejumlah 24 butir soal pada hari Senin, 21 Maret 2014. Dalam pelaksanaan tes
tersebut, dilakukan di luar jam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung
(tidak saat mengkaji materi). Seluruh siswa sebagai subjek penelitian hadir
dalam mengerjakan tes tertulis tersebut.
3. Observasi Tindakan Siklus I
Selama proses pembelajaran berlangsung, guru dan observer
melakukan observasi. Kesimpulan hasil observasi tindakan pada siklus I
dijelaskan sebagai berikut:
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

93
a. Aktivitas Siswa
Tahap observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa dan
peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran. Dengan observasi secara
langsung hal-hal yang mungkin tidak diamati guru selama proses
pembelajaran bisa tercatat oleh observer. Data hasil observasi langsung
merupakan data yang akurat yang dapat dijadikan masukan untuk proses
pembelajaran selanjutnya. Dalam penelitian ini observasi dilakukan oleh
peneliti dibantu dua rekan peneliti yang masing-masing mengamati 27 siswa
ditinjau dari aspek visual, oral, writing, dan listening activities serta hal-hal
yang perlu dicatat saat proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada pertemuan I
terlihat bahwa siswa cukup antusias dalam memperhatikan penjelasan dari
guru, baik saat guru memberikan apersepsi maupun saat guru menjelaskan
petunjuk pengerjaan LKS. Ketika diskusi berjalan, siswa secara inisiatif
membuka dan membaca buku IPA. Pada saat kegiatan diskusi berlangsung,
beberapa siswa aktif menjawab pertanyaan guru namun hanya sedikit siswa
yang berani mengajukan pertanyaan pada guru. Pertanyaan yang diajukan
juga belum fokus pada materi melainkan mengenai petunjuk di LKS yang
kurang jelas atau tugas yang belum jelas. Selain itu, hanya satu siswa dalam
tiap kelompok yang aktif menuliskan hasil diskusi kelompoknya ke LKS,
meskipun ada 4 siklus E-E-K pada pertemuan I. Kemudian hanya empat
siswa yang tercatat melakukan aktivitas melalui media e-learning baik
dalam mengerjakan evaluasi maupun tindak lanjut.
Berbeda halnya dengan pertemuan II yang dilakukan melalui
kegiatan presentasi dan tanya jawab. Hanya 10 siswa yang mengerjakan
evaluasi dan 3 kelompok yang mengerjakan tugas melalui media e-learning.
Banyak siswa yang tidak mengerjakan evaluasi dan tugas.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan pada
siklus I cukup mampu meningkatkan aktivitas siswa baik di kelas maupun di
luar kelas, dalam hal ini aktivitas siswa melalui media e-learning. Hasil
commit
user
observasi aktivitas siswa untuk
tiaptoindikator
secara lengkap dapat dilihat

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

94
pada Lampiran 37 dan disajikan secara ringkas untuk tiap aspek pada Tabel
4.6. Dalam tabel tersebut menampilkan hasil analisis data yang diperoleh
dari tiga observer.
Tabel 4.6. Hasil Analisis Observasi Siklus I
Prosentase ketercapaian (%)

Aspek
Visual activities
Oral activities
Writing activities
Listening activities

Observer I

Observer II

Observer III

49,5
11,6
16
56,5

48,15
12,5
16,98
61,11

51,39
12,5
16,36
56,48

Dalam Gambar 4.2 dapat dilihat ada perbedaan hasil observasi


antara ketiga observer meskipun tidak sigifikan. Oleh karena itu, dilakukan
diskusi terkait dengan perbedaan hasil observasi. Kesepakatan yang
diperoleh ketiga observer dengan pertimbangan guru adalah mengambil data
yang sama atau apabila tidak ada data yang sama maka mengambil data
yang memiliki nilai di tengah-tengah antara ketiga observer. Berdasarkan
hasil diskusi yang dilakukan, maka diperoleh hasil akhir observasi yang
dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Siswa antara
Observer I, II dan III
70,0

Prosentase (%)

60,0
50,0

Observer 1

40,0

Observer 2

30,0

Observer 3

20,0
10,0
0,0
Visual
activities

Oral
Writing
activities
activities
Aspek

Listening
activities

Gambar 4.2. Diagram Perbandingan Ketercapaian


Aktivitas Siswa Siklus I Observer 1, 2 dan 3
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

95
Tabel 4.7. Hasil Akhir Observasi Siklus I
Aspek
Visual activities
Oral activities
Writing activities
Listening activities

Prosentase
ketercapaian (%)
49,5
12,5
16,4
56,5

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa masih banyak siswa


yang kurang aktif dalam kegiatan e-learning pada dua aspek yang dinilai
yaitu writing dan visual actvities. Pada aspek visual activities, ada satu sub
indikator yang menilai aktivitas siswa melalui media e-learning. Pada aspek
writing activities, ada empat sub indikator yang menilai aktivitas siswa
melalui media e-learning. Hal ini mengindikasikan bahwa ada beberapa
kendala yang dialami siswa dalam melakukan kegiatan melalui media elearning. Oleh karenanya dilakukan kegiatan wawancara kepada siswa baik
yang melakukan aktivitas melalui e-learning maupun tidak. Selain itu,
berdasarkan data observer, menunjukkan bahwa aktivitas pada aspek oral
masih cukup rendah, terutama pada indikator bertanya dan berpendapat.
b. Kemampuan Kogntif Siswa
Ketuntasan belajar siswa dalam pelajaran IPA, khususnya pada
tema ekosistem air tawar merupakan salah satu faktor yang menentukan
penelitian ini berhasil. Ketuntasan belajar dalam penelitian ini diukur
berdasarkan kemampuan kognitif siswa. Untuk mengetahui seberapa besar
ketercapaian indikator yang disusun, dilakukan tes kognitif pada siswa yang
terdiri dari 24 soal objektif yang isinya mencakup kompetensi dasar yang
dijabarkan lebih rinci melalui indikator. Tes kognitif siswa dilaksanakan
pada hari di luar kedua pertemuan pada siklus I.
Berdasarkan Tabel 4.8 dapat dilihat prosentase ketuntasan siswa
dalam satu kelas hanya sebagian saja, yaitu hanya 12 dari 27 siswa. Untuk
lebih memudahkan dalam observasi tindakan, maka disajikan diagram pie
hasil kognitif siklus I kelas VII G SMP Negeri 14 Surakarta pada Gambar
commit to user
4.3.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

96
Tabel 4.8. Prosentase Ketuntasan Siswa Tes Kognitif Siklus I
Aspek
Kemampuan
Kognitif Siswa

Kategori
Tuntas
Tidak Tuntas

Jumlah Siswa
12
15

Prosentase (%)
44,4
55,6

Ketercapaian Kemampuan
Kognitif Siklus I

Belum
Tuntas
55,6%

Tuntas
44,4%

Tuntas
Tidak Tuntas

Gambar 4.3. Diagram Pie Ketercapaian Kemampuan


Kognitif Siklus I
4. Refleksi Tindakan Siklus I
Pembelajaran pada siklus I telah dilaksanakan sebanyak 2 kali
pertemuan yang mencakup 14 indikator. Secara umum pembelajaran terlaksana
dengan baik, meskipun ada satu siklus E-E-K terakhir pada pertemuan I yang
tidak sesuai dengan target. Hal ini dikarenakan jam pembelajaran IPA di hari
Senin apabila saat kegiatan upacara bendera siswa dibarisan belum tertib maka
alokasi waktu untuk upacara bendera jadi mundur, sehingga alokasi jam
pembelajaran menjadi tidak tepat. Dengan demikian, proses pembelajaran IPA
yang pada awalnya direncanakan 40 menit berkurang menjadi 30-35 menit.
Tetapi, hasil pembelajaran yang dilakukan telah mampu meningkatkan
kemampuan dan aktivitas siswa, meskipun belum mencapai target. Untuk lebih
jelasnya, akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Aktivitas Siswa
Berdasarkan Tabel 4.6, 4.7, dan Gambar 4.2 telah menunjukkan
prosentase ketercapaian aktivitas
siswa
selama proses pembelajaran siklus I
commit
to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

97
di tiap aspek. Apabila dibandingkan dengan aktivitas siswa pra siklus
hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.9 dan Gambar 4.4. Akan tetapi kenaikan
aktivitas siswa tersebut belum menenuhi target yang telah ditentukan.
Dibandingkan dengan target, hasilnya disajikan dalam Tabel 4.10. Data
berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Tabel 4.9. Perbandingan Prosentase Ketercapaian Aspek Aktivitas Siswa
Berdasarkan Observasi Pra Siklus dengan Siklus I
Prosentase ketercapaian (%)
Prosentase
Aspek
Peningkatan (%)
Pra Siklus
Siklus I
Visual activities
26,9
49,5
23,4
Oral activities
0,93
12,5
11,57
Writing activities
7,7
16,4
8,7
Listening activities
33,3
56,5
23,2
Tabel 4.10. Perbandingan Prosentase Ketercapaian Aspek Aktivitas Siswa
antara Hasil Observasi Siklus I dengan Target Ketercapaian
Prosentase Ketercapaian
(%)
Aspek
Kesimpulan
Target
Siklus I
Visual activities
60
49,5
Belum Berhasil
Oral activities
20
12,5
Belum Berhasil
Writing activities
25
16,4
Belum Berhasil
Listening activities
65
56,5
Belum Berhasil
Pada aspek visual ada satu sub indikator dan pada aspek writing
ada empat sub indikator terkait aktivitas siswa melalui media e-learning.
Pada pertemuan 1 hanya 4 siswa dan pada pertemuan 2 hanya 10 siswa yang
mengikuti kegiatan melalui e-learning. Setelah dilakukan wawancara untuk
mengetahui alasan siswa yang tidak mengikuti kegiatan melalui media elearning, sebagian besar siswa beralasan karena tidak memiliki fasilitas
internet di rumahnya dan saat di sekolah mereka tidak sempat ke
laboratorium komputer untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Beberapa
siswa yang lainnya mengatakan bahwa mereka kesulitan membuka elearning karena koneksinya lambat. Beberapa siswa yang mengerjakan
tugas melalui e-learning tidak semuanya memperoleh nilai yang
memuaskan dalam mengerjakan
melalui e-learning. Mereka
commit toevaluasi
user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

98
berasumsi bahwa di beberapa soal ada yang salah mengetik dan salah
mengklik jawaban, sehingga jawaban yang diinginkan tidak tercatat dengan
baik. Adapula yang menjelaskan bahwa mereka lupa mengklik submit untuk
menyimpan jawaban, oleh karenanya nilai yang diperolehnya tidak
maksimal.
70
Prosentase (%)

60
50
40

Target

30

Pra Siklus

20

Siklus I

10
0
Visual
activities

Oral
activities

Writing
activities

Listening
activities

Aspek

Gambar 4.4. Perbandingan Prosentase Ketercapaian


Indikator Aktivitas Siswa antara Hasil
Observasi Pra Siklus dengan Observasi Siklus I
terhadap Target
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti merumuskan
beberapa kemungkinan yang menyebabkan belum tercapainya target yang
telah ditentukan, diantaranya:
1) Lebih dari 50 % siswa belum membuka media e-learning sehingga tiap
aspek yang mencakup media e-learning belum meningkat secara optimal.
2) Alokasi waktu pembelajaran mengingat kegiatan pembelajaran di hari
Senin terkait dengan kegiatan upacara yang terkadang dapat mengurangi
alokasi jam pelajaran yang seharusnya 40 menit menjadi hanya 30-35
menit.
3) Banyak siswa yang masih belum mampu memberikan tanggapan atas
jawaban teman dan bertanya pada guru. Ada yang beralasan karena sudah
commit
to user
jelas dan ada yang beralasan
karena
tidak memperhatikan penjelasan baik

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

99
dari teman ataupun guru. Pertanyaan yang diajukan oleh siswa lebih
banyak pada kekurangjelasan akan petunjuk di LKS
4) Ada 2 kelompok yang ribut saat diskusi pembelajaran di kelas sehingga
menyebabkan siswa yang lain menjadi terganggu konsentrasi belajarnya.
5) Hanya satu orang siswa di tiap kelompok yang aktif baik dalam
memberikan ide/gagasan maupun menulis LKS.
6) Fasilitas di luar jam sekolah kurang mendukung untuk melakukan
aktivitas melalui media e-learning.
7) Keterbatasan pengetahuan siswa dalam menjalankan media e-learning.
Dari beberapa siswa yang menjalankan media e-learning, tak sedikit dari
mereka lupa untuk menyimpan tugas atau evaluasi yang telah dikerjakan,
sehingga tidak tersimpan di media e-learning.
Dengan demikian, peneliti dan guru perlu memberikan solusi
supaya aktivitas siswa melalui media e-learning ini tidak membebankan
siswa, terutama dari sisi finansial. Oleh karenanya diperlukan adanya
kerjasama dengan pengelola laboratorium komputer supaya siswa dapat
menyelesaikan tugasnya melalui media e-learning.
b. Kemampuan Kognitif Siswa
Ketercapaian hasil tes kemampuan kognitif siswa siklus I
ditunjukkan pada Tabel 4.8 dan Gambar 4.3. Berdasarkan Tabel 4.8, masih
banyak siswa yang belum mencapai KKM yang ditetapkan, yaitu 75.
Meskipun demikian, apabila dibandingkan dengan hasil tes kognitif pada
pra siklus maka melalui model blended learning berdampak positif terhadap
peningkatan kemampuan kognitif siswa. Besarnya peningkatan hasil
kemampuan kognitif siswa antara pra siklus dengan siklus I dan
perbandingannya dengan target dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Pada pelaksanaan siklus I ada 4 kompetensi dasar yang dijabarkan
menjadi 18 indikator yang terbagi dalam dua pertemuan. Setelah
pelaksanaan tes kognitif siklus I pada hari Senin, 24 Maret 2014, dapat
dianalisis ketercapaian tiap indikator secara klasikal. Dari 24 item soal tes
commit27to siswa
user pada siklus I dapat ditentukan
kognitif yang diberikan kepada

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

100
jumlah siswa yang menjawab benar pada tiap item soal yang dapat dilihat
pada Lampiran 44.

80
70
Prosentase (%)

60
Target

50

Pra Siklus

40

Siklus I

30
20
10
0
Tindakan

Gambar 4.5. Prosentase Ketercapaian Kemampuan


Kognitif Siswa Pra Siklus dan Siklus I
sertaPerbandingannya terhadap Target
Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa 7 dari 16 indikator
telah memenuhi target ketercapaian siswa tuntas (75 %). Angka tersebut
belum menunjukkan hasil yang memuaskan karena masih banyak siswa
yang belum menjawab dengan tepat. Sedangkan apabila dilihat berdasarkan
tingkat soal ada 2 soal tingkat C1, 6 soal tingkat C2, 3 soal tingkat C3, dan 3
soal tingkat C4 yang ketercapaiannya belum memenuhi target (75 %). Oleh
karena itu, peneliti melakukan wawancara kepada siswa yang belum
mencapai nilai KKM terkait hasil tes kognitif yang rendah. Sebagian besar
dari mereka beralasan belum belajar, sebagian yang lain beralasan bahwa
soal yang dikerjakan sulit, dan ada juga beralasan karena pilihan jawaban
banyak yang menjebak mereka. Namun setelah dilakukan analisis, sebagian
besar siswa yang tidak tuntas merupakan siswa yang ramai saat diskusi atau
tidak memperhatikan pembelajaran dan kurang aktif dalam aktivitas baik di
kelas maupun melalui media e-learning.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

101
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa yang tidak tuntas dan
hasil analisis peneliti, peneliti merumuskan beberapa kemungkinan yang
menyebabkan belum tercapainya target yang ditentukan, diantaranya :
1) Pemberian tugas pada tindak lanjut belum dapat membantu siswa dalam
meningkatkan kemampuan kognitifnya.
2) Alokasi waktu pembelajaran di kelas yang ditetapkan kurang tepat yang
akhirnya menyebabkan pembelajaran kurang berjalan secara optimal.
3) Lebih dari 50 % siswa belum membaca materi yang telah disediakan
melalui e-learning. Hal ini ditunjukkan dengan masih sedikitnya jumlah
siswa yang melakukan aktivitas melalui media e-learning.
4) Kurang dari 50 % siswa yang mengikuti evaluasi yang disediakan
melalui e-learning. Seharusnya evaluasi yang diberikan melalui media elearning di tiap pertemuan ini dapat dijadikan latihan soal bagi siswa
sebelum mengikuti tes kognitif.
5) Alokasi waktu dalam mengerjakan tes kognitif yang diberikan masih
kurang.
Oleh karena itu, peneliti dan guru memberikan solusi supaya bentuk tes
instrumen diubah menjadi jawaban singkat dengan alokasi waktu yang juga
mempertimbangkan jumlah soal pada masing-masing jenjang. Di lain pihak,
seluruh

siswa

diharapkan

mampu

mengikuti

pembelajaran

yang

direncanakan, baik saat di kelas maupun melalui media e-learning.


Berdasarkan hasil pembelajaran siklus I, maka masih diperlukan
kelanjutan tindakan pembelajaran yaitu dengan melakukan tindakan siklus II.
Hal ini dimaksudkan supaya target ketercapaian baik aktivitas maupun
kemampuan kognitif siswa dapat tercapai. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan siklus II di antaranya :
1) Alokasi waktu pada perencanaan perlu dilebihkan untuk mengantisipasi
alokasi pembelajaran yang dipotong menjadi 30-35 menit. Hal ini berkaitan
dengan pembelajaran yang berlangsung pada hari Senin.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

102
2) Bekerja sama dengan pengelola laboratorium supaya dapat memfasilitasi
siswa untuk mengakses media e-learning setelah pulang sekolah selama 1-2
jam .
3) Memberikan rincian tugas yang perlu dikerjakan dan langkah-langkah untuk
mengerjakan tugas di media e-learning tiap pertemuan kepada siswa. Hal ini
akan mengurangi tingkat kesalahpahaman siswa dalam mengakses elearning.
4) Tindak lanjut yang diberikan diusahakan dapat fokus pada materi yang telah
dipelajari pada pertemuan tersebut.
5) Evaluasi di tiap pertemuan supaya diberikan secara langsung, tidak melalui
media e-learning.
6) Tes kemampuan kognitif berbentuk essay singkat. Hal ini ditujukan supaya
siswa tidak menjawab soal secara acak.
7) Alokasi

waktu

dalam

mengerjakan

soal

tes

kognitif

perlu

mempertimbangkan butir jenjang soal.


C. Deskripsi Hasil Kegiatan Pembelajaran Siklus II
Siklus II dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan yaitu tanggal 25
Maret, 14 dan 15 April 2014. Alokasi waktu untuk pertemuan 1 dan 2 adalah dua
kali jam pelajaran (80 menit) dan satu jam pelajaran (40 menit) untuk pertemuan
ketiga. Berikut deskripsi dari kegiatan siklus II:
1. Perencanaan Tindakan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I maka diperlukan adanya
perencanaan untuk pelaksanaan tindakan siklus II sebagai tindak lanjut karena
belum tercapainya target yang telah ditetapkan. Pada tahapan perencanaan
untuk siklus II sebenarnya tidak jauh berbeda dengan siklus I. Akan tetapi,
beberapa hal yang telah dijabarkan pada refleksi siklus I harus menjadi
landasan dalam penyusunan perencanaan siklus II supaya dapat meningkatkan
kemampuan kognitif dan aktivitas siswa sesuai dengan target. Tahap
perencanaan meliputi pembuatan RPP dan LKS siklus II serta instrumen soal
tes kognitif. Sedangkan penilaian aktivitas siswa menggunakan lembar
commit
to userpada siklus I.
observasi yang sebelumnya telah
digunakan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

103
Materi yang akan dipelajari pada siklus II adalah penyebab dan
dampak kerusakan ekosistem air tawar serta bentuk upaya dalam mencegah
kerusakan ekosistem air tawar. Jumlah indikator pada pertemuan II adalah 21
butir. Penjabaran dari indikator di tiap pertemuan pada siklus II dapat dilihat
pada Lampiran 9. Pada pertemuan I peneliti dan guru berencana
mengimplementasikan model blended learning dengan metode demonstrasi,
diskusi, dan tanya jawab saat pembelajaran di dalam kelas dan disertai dengan
tindak lanjut berupa tugas yang diberikan melalui media e-learning. Perbedaan
utama antara siklus I dan siklus II adalah cara pemberian evaluasi di tiap
pertemuan. Untuk siklus II pemberian evaluasi di tiap pertemuan tidak
diberikan melalui media e-learning, tetapi secara langsung di kelas. Hanya saja
untuk pembahasan dari evaluasi tersebut diuraikan melalui media e-learning.
Pada pertemuan II metode yang digunakan sama dengan pertemuan I.
Sedangkan pada pertemuan III, siswa dari perwakilan kelompok akan
melakukan presentasi tugas yang telah dikerjakan melalui media e-learning.
Setelah RPP dan LKS selesai disusun, dilakukan validasi perangkat
baik RPP dan LKS oleh ahli. Berdasarkan analisis kuantitatif pada Lampiran
26-27 diperoleh kesimpulan bahwa RPP dan LKS memenuhi kriteria sangat
baik dengan rincian disajikan pada Tabel 4.11. Sedangkan berdasarkan hasil
analisis kualitatif didapatkan komentar dan saran yang diberikan oleh ahli yang
dapat dilihat pada Lampiran 42.
Di akhir siklus pada pertemuan keempat, siswa direncanakan untuk
mengerjakan tes kognitif untuk mengukur kemampuan kognitif siswa.
Instrumen yang digunakan sebagai alat evaluasi kemampuan kognitif siswa
pada siklus II adalah tes tertulis objektif (jawab singkat). Bentuk instrumen ini
berbeda dengan siklus I yang menggunakan tipe soal pilihan ganda. Instrumen
ini telah dilakukan uji validasi oleh ahli, dalam hal ini yaitu pembimbing untuk
mengetahui kelayakannya sebagai alat evaluasi. Beberapa komentar dan saran
yang diberikan oleh ahli dapat dilihat pada Lampiran 43. Jumlah butir soal
aspek kognitif adalah 24 butir. Tiap item soal memiliki poin yang berbeda,
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

104
tergantung pada jenjang soal tersebut. Bentuk instrumen tes kognitif siklus II
dapat dilihat pada Lampiran 18.
Tabel 4.11. Hasil Validasi Perangkat Siklus II
a. Validasi RPP
Kelompok
Kategori
Skor
5

148 < X

Kriteria
Sangat
baik

b. Validasi LKS
Kelompok
Kategori
Skor
5

104 < X

Kriteria
Sangat
baik

Total Skor

Frekuensi

100

Total Skor

Frekuensi

Validator I = 115
Validator II = 116

100

Validator I = 165
Validator II = 170

Instrumen lain yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas


siswa. Lembar observasi aktivitas siswa digunakan observer untuk mengamati
aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan bentuk
instrumennya sama dengan lembar observasi pada siklus I. Jumlah observer
sebanyak 3 orang yang masing-masing mengamati aktivitas siswa baik di kelas
maupun melalui media e-learning.
2. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Dalam pelaksanaan siklus II, pertemuan I dilaksanakan pada 25 Maret
2014, pertemuan II dilaksanakan pada 14 April 2014 dan pertemuan III
dilaksanakan pada 15 April 2014. Selang waktu antara pertemuan I dan
pertemuan II cukup jauh karena ruang kelas digunakan untuk ujian akhir
semester kelas IX, sehingga kelas VII dan VIII belajar di rumah. Jumlah siswa
yang dijadikan objek penelitian sama dengan siklus I yaitu 27 dari 32 siswa di
kelas.
a. Pertemuan 1 Siklus II
Pada pertemuan pertama secara garis besar pembelajaran
dilaksanakan secara berkelompok. Guru memulai pendahuluan selama 10
menit yang berisi motivasi, apersepsi, opini siswa dan tujuan pembelajaran.
Kegiatan inti berlangsung melalui 3 kali tahapan eksplorasi-elaborasikonfirmasi (E-E-K). Padacommit
siklusto user
E-E-K pertama, siswa melakukan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

105
demonstrasi, diskusi, dan tanya jawab sesuai petunjuk di LKS Larutan
Asam, Basa, dan Garam. Pada siklus E-E-K kedua, guru menayangkan
video Pencemaran Sungaiyang diambil dari media e-learning sebagai
bentuk eksplorasi siswa untuk mempresentasikan tugas LKS Dampak
Kerusakan Ekosistem Air Tawar yang telah diunggah melalui media elearning. Pada siklus E-E-K ketiga, siswa melakukan demonstrasi sesuai
petunjuk di LKS Sifat Fisika dan Sifat Kimia. Di akhir pertemuan ditutup
dengan memberikan rangkuman dan evaluasi serta memberikan tindak
lanjut dalam bentuk tugas yang dapat dikerjakan siswa melalui media elearning serta memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk bertanya.
Saat kegiatan pembelajaran berlangsung, salah seorang observer
mengambil foto sebagai dokumentasi dan bersama kedua observer lain
masing-masing mengisi lembar observasi dengan berkeliling ke tiap-tiap
kelompok untuk mengamati aktivitas siswa. Indikator pada lembar observasi
yang berkaitan dengan aktivitas siswa melalui media e-learning diisi oleh
observer melalui menu report yang tersedia pada media e-learning.
Aktivitas e-learning siswa pada pertemuan I ini dalam bentuk membaca
materi, pembahasan kuis, diskusi dan mengerjakan tugas secara online
sampai hari Senin (14 April 2014) pukul 24.00 WIB.
Model implementasi blended learning yang dipilih pada siklus II
sama dengan siklus I, yaitu model kelas murni. Materi yang dipelajari baik
berupa ppt, video, modul, dan LKS, semuanya berasal/diambil dari media elearning. Melalui kegiatan diskusi, demonstrasi dan tanya jawab, siswa
mampu menginterpretasikan data ke lembar kerja siswa (LKS) yang telah
disediakan. Perwakilan dari masing-masing kelompok mempresentasikan
hasil pemecahan masalah kelompoknya ke depan kelas dan dilanjutkan
dengan kesimpulan secara bersama-sama oleh guru dan siswa.
LKS yang diberikan kepada siswa berisi petunjuk dalam
melakukan kegiatan diskusi, maupun penyampaian materi dan pertanyaan
yang menuntun siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Pada siklus
to user diberikan masing-masing satu
E-E-K pertama dan ketigacommit
tiap kelompok

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

106
LKS. Setiap siswa wajib menulis hasil diskusi pemecahan masalah dari
kelompok

masing-masing

pada

LKS

yang

telah

diberikan

dan

mengumpulkannya kepada guru. Sedangkan siklus E-E-K kedua siswa


mempresentasikan hasil tugas kelompoknya berdasarkan LKS yang telah
dikumpulkan melalui media e-learning. Siswa yang telah mengerjakan tugas
untuk siklus E-E-K dua dapat dilihat pada tabel 4.5. Hasil diskusi kelompok
melalui LKS yang dikerjakan siswa secara kelompok, dapat dilihat pada
Lampiran 33. Skor maksimal LKS adalah 80. Berdasarkan Lampiran 33
dapat dideskripsikan bahwa semua siswa dalam kelompok berdiskusi
dengan baik.
Di akhir pembelajaran, 27 siswa mengerjakan soal evaluasi. Hasil
evaluasi siswa dapat dilihat pada Lampiran 39. Berdasarkan Tabel 4.12,
sebesar 55,6 % siswa yang tuntas mengerjakan evaluasi. Hasil evaluasi
tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran pada pertemuan
pertama berjalan cukup optimal.
Tindak lanjut yang diberikan pada pertemuan I siklus I dalam
bentuk tugas kelompok dan tugas individu melalui media e-learning. Tugas
kelompok berupa pengerjaan LKS Penjernihan Air Tawar dan LKS
Upaya Pencegahan Kerusakan Ekosistem Air Tawar. Sedangkan tugas
individu berupa pengerjaan soal-soal latihan pada materi di pertemuan I
melalui media e-learning. Hasil LKS yang telah diunggah siswa ini nantinya
sebagai bahan diskusi untuk pertemuan ketiga. Aktivitas siswa melalui
media e-learning secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 4.12.
b. Pertemuan 2 Siklus II
Pertemuan kedua dilaksanakan pada Senin, 14 April 2014. Pada
pertemuan kedua, seharusnya ada 3 siklus E-E-K. Namun demikian, pada
pelaksanaannya hanya 2 siklus yang dapat berjalan. Pada siklus E-E-K
pertama siswa melakukan demonstrasi, diskusi, dan tanya jawab sesuai
petunjuk pada LKS Indikator Air Bersih Berdasarkan Sifat Biologi dan
Kimia. Pada siklus E-E-K kedua siswa melakukan demonstrasi, diskusi,
commit
userIndikator Air Bersih Berdasarkan
dan tanya jawab sesuai petunjuk
di to
LKS

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

107
Sifat Fisika. Sedangkan untuk siklus E-E-K ketiga diundur di pertemuan
ketiga.
Tabel 4.12. Hasil Observasi Pertemuan I Siklus II
Indikator
Siswa tuntas
mengerjakan
evaluasi
Siswa membaca
materi melalui media
e-learning
Siswa melakukan
diskusi melalui
forum di media elearning
Siswa
mengumpulkan
tugas melalui elearning

Prosentase
Ketercapaian (%)
55,6

Keterangan
-

40,7

Siswa minimal membuka


course

13,6

Siswa melakukan tanya,


jawab, dan menanggapi
pada forum media elearning
a. Optimal = 74,1 %
b. Kurang optimal (tidak
tepat waktu) = 14,8 %
c. Tidak optimal (tidak
mengumpulkan) = 11,1 %

88,9

Kegiatan observasi yang dilakukan oleh observer tidak jauh


berbeda dengan pertemuan pertama. Ketiga observer melakukan observasi
di dalam kelas saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan untuk indikator
yang berkaitan dengan aktivitas e-learning siswa dilakukan dengan
observasi melalui media e-learning. Di akhir pertemuan pembelajaran
ditutup dengan memberikan rangkuman dan evaluasi serta memberikan
tindak lanjut dalam bentuk tugas yang dapat dikerjakan siswa melalui media
e-learning dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Prosentase siswa yang tuntas dalam mengerjakan evaluasi dan siswa yang
melakukan aktivitas melalui media e-learning secara ringkas dapat dilihat
pada Tabel 4.13.
c. Pertemuan 3 Siklus II
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa, 15 April 2014.
Pada pertemuan ketiga siklus kedua, seharusnya ada 2 siklus E-E-K,.
Namun karena pada pertemuan
kedua
ada satu siklus E-E-K yang belum
commit
to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

108
terlaksana, sehingga pada pertemuan ketiga total ada 3 siklus E-E-K.
Pembelajaran didahului dengan tanya jawab sebagai motivasi siswa.
Kemudian, guru menayangkan video Menjaga Air Bersihyang diambil
dari media e-learning sebagai bentuk eksplorasi siswa untuk mengerjakan
tugas LKS Hubungan Kepadatan Penduduk dengan Kebutuhan Air
Bersih. serta dilanjutkan dengan presentasi tugas oleh siswa dan diakhiri
dengan

kesimpulan.

Kegiatan

presentasi

tugas

kelompok

tersebut

merupakan tugas yang diberikan pada pertemuan pertama siklus kedua.


Hasil tugas tersebut dapat dilihat pada Lampiran 33 dan secara ringkas
prosentase yang mengumpulkan dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.13. Hasil Observasi Pertemuan 2 Siklus II
Indikator
Siswa tuntas
mengerjakan evaluasi
Siswa mengerjakan
tugas melalui elearning

Siswa membaca
materi melalui media
e-learning
Siswa melakukan
diskusi pada forum
media e-learning

Prosentase
Ketercapaian (%)
63
48,1

63

27,2

Keterangan
a. Optimal = 33,3 %
b. Kurang optimal (tidak
tuntas) = 14,8 %
c. Tidak optimal (tidak
mengerjakan) = 51,9 %
Siswa minimal membuka
course
Siswa melakukan tanya,
jawab, dan menanggapi
pada forum media elearning

Setelah kegiatan presentasi selesai, dilanjutkan dengan tanya jawab


dengan siswa lain yang tidak presentasi. Kemudian guru memberikan
konfirmasi atas materi yang telah dipresentasikan. Di akhir pembelajaran,
guru bersama siswa merangkum materi hasil presentasi dan memberikan
evaluasi kepada siswa serta memberikan tugas individu sebagai tindak lanjut
dari pertemuan ketiga. Tugas individu dapat dikerjakan oleh siswa melalui
media e-learning. Tabel 4.14 menampilkan prosentase aktivitas siswa
melalui media e-learning. commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

109
Tabel 4.14. Hasil Observasi Pertemuan 3 Siklus II
Indikator
Siswa tuntas
mengerjakan evaluasi
Siswa berdiskusi
melalui media elearning

Prosentase
Ketercapaian (%)
70,4

Siswa membaca
materi melalui media
e-learning
Siswa mengumpulkan
tugas melalui media elearning

19,8

70,4

57,4

Keterangan
Siswa melakukan tanya,
jawab, dan menanggapi
pada forum media elearning
Siswa minimal membuka
course
a. Optimal = 55,5 %
b. Kurang optimal (tidak
tuntas) = 1,9 %
c. Tidak optimal (tidak
mengerjakan) = 42,6 %

Sedangkan kegiatan observasi yang dilakukan oleh observer tidak


jauh berbeda dengan pertemuan pertama dan kedua. Ketiga observer
melakukan observasi di dalam kelas saat kegiatan pembelajaran berlangsung
dan untuk indikator yang berkaitan dengan aktivitas e-learning siswa
dilakukan dengan observasi melalui media e-learning.
Untuk mengukur kemampuan kognitif siswa pada siklus II dilakukan
tes tertulis dengan soal berupa soal objektif (essay singkat) sejumlah 24 butir
soal pada Senin, 21 April 2014. Seluruh siswa sebagai subjek penelitian hadir
dalam mengerjakan tes tertulis tersebut.
3. Observasi Tindakan Siklus II
Selama proses pembelajaran berlangsung, guru dan observer
melakukan observasi. Kesimpulan hasil observasi tindakan pada siklus II
dijelaskan sebagai berikut
a. Aktivitas Siswa
Dalam penelitian ini observasi dilakukan oleh peneliti dibantu dua
rekan peneliti yang masing-masing mengamati 27 siswa ditinjau dari aspek
visual, oral, writing, dan listening activities serta hal-hal yang perlu dicatat
commit to user
saat proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi yang

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

110
dilakukan pada pertemuan I dan II terlihat bahwa siswa cukup
memperhatikan pada saat guru memberikan apersepsi maupun saat guru
menjelaskan petunjuk pengerjaan LKS. Ketika diskusi berjalan, siswa
secara inisiatif membuka dan membaca buku

IPA. Pada saat kegiatan

diskusi berlangsung, beberapa siswa aktif menjawab pertanyaan guru


meskipun hanya sedikit siswa yang berani mengajukan pertanyaan pada
guru. Dalam tiap kelompok, 2-3 siswa aktif menulis LKS. Siswa di tiap
kelompok secara bergantian menulis di LKS pada siklus E-E-K yang
berbeda. Siswa yang tercatat melakukan aktivitas melalui media e-learning
baik dalam mengerjakan tugas, melakukan diskusi atau membaca materi
mencapai 50%. Hasil evaluasi yang dikerjakan siswa juga mencapai lebih
dari 50%.
Berbeda halnya dengan pertemuan ketiga yang dilakukan melalui
kegiatan presentasi dan tanya jawab. Beberapa siswa sudah berani
menanggapi jawaban atas kelompok yang presentasi. Berdasarkan catatan
observer, ada dua kelompok yang tidak membawa kompos. Satu kelompok
tercatat sudah mengerjakan LKS melalui media e-learning, namun satu
kelompok belum mengerjakan LKS. Dua kelompok yang selalu ribut saat
siklus I, sudah sedikit bisa dikontrol oleh guru. Namun tercatat bahwa kedua
kelompok tersebut masih belum mengumpulkan beberapa tugas baik saat
pertemuan pertama, kedua ataupun ketiga. Hasil evaluasi siswa juga cukup
baik dan sejumlah siswa tercatat melakukan aktivitas diskusi melalui forum
pada media e-learning.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan pada
siklus II mampu meningkatkan aktivitas siswa baik di kelas maupun di luar
kelas. Hasil observasi aktivitas siswa untuk tiap indikator secara lengkap
dapat dilihat pada Lampiran 38 dan disajikan secara ringkas untuk tiap
aspek pada Tabel 4.15. Dalam tabel tersebut menampilkan hasil analisis
data yang diperoleh dari tiga observer.
Pada Gambar 4.6 dapat dilihat bahwa ada perbedaan hasil observasi
commit
to user
antara ketiga observer meskipun
tidak
sigifikan. Oleh karena itu, dilakukan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

111
diskusi terkait dengan perbedaan hasil observasi tersebut. Kesepakatan yang
diperoleh ketiga observer dengan pertimbangan guru adalah mengambil data
yang sama atau apabila tidak ada data yang sama maka mengambil data
yang memiliki nilai di tengah-tengah antara ketiga observer. Berdasarkan
hasil diskusi yang dilakukan, maka diperoleh hasil akhir observasi yang
dapat dilihat pada Tabel 4.16.
Tabel 4.15. Hasil Analisis Observasi Siklus II
Prosentase ketercapaian (%)

Aspek

Observer I

Visual activities
Oral activities
Writing activities
Listening activities

Observer II

65,7
27,2
33,2
69,8

Observer III

67,3
27,5
33,2
69,8

66,4
26,5
31,2
71,6

Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Siswa antara


Observer I, II dan III Siklus II
80,0

Prosentase (%)

70,0
60,0
Observer 1

50,0
40,0

Observer 2

30,0

Observer 3

20,0
10,0
0,0
Visual
activities

Oral
activities
Aspek

Writing
activities

Listening
activities

Gambar 4.6. Diagram Perbandingan Ketercapaian


Aktivitas Siswa Siklus II Observer 1, 2, dan 3
b. Kemampuan Kogntif Siswa
Tes kognitif siswa dilaksanakan pada Senin, 21 April 2014.
Berdasarkan Tabel 4.17 dapat dilihat prosentase ketuntasan siswa dalam
satu kelas sudah mencapai setengah dari jumlah siswa, yaitu 21 dari 27
commit
to user
siswa atau 77,8 % siswa tuntas
dalam
mengerjakan tes kognitif. Untuk lebih

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

112
memudahkan dalam observasi tindakan, maka disajikan diagram pie hasil
kognitif siklus II kelas VII G SMP Negeri 14 Surakarta seperti pada Gambar
4.7.
Tabel 4.16. Hasil Akhir Observasi Siklus II
Prosentase
ketercapaian (%)
66,4
27,2
33,2
69,8

Aspek
Visual activities
Oral activities
Writing activities
Listening activities

Tabel 4.17. Prosentase Ketuntasan Siswa Tes Kognitif Siklus II


Aspek
Kemampuan
Kognitif Siswa

Kategori
Tuntas
Tidak Tuntas

Jumlah Siswa
20
6

Prosentase (%)
77,8
22,2

Ketercapaian Kemampuan Kognitif


Siklus II
Belum Tuntas
22,2%

Tuntas
77,8%

Tuntas
Tidak Tuntas

Gambar 4.7. Diagram Pie Ketercapaian


Kemampuan Kognitif Siklus II
Prosentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus II
sebesar 77,8 %. Sedangkan prosentase siswa ypang belum tuntas adalah
22,2 % atau 6 dari 27 siswa. Apabila dilihat dari nilai rata-rata kelas yaitu
75,44, maka nilai tersebut sudah berada di atas KKM.
4. Refleksi Tindakan Siklus II
Pembelajaran pada siklus II telah dilaksanakan sebanyak 3 kali
pertemuan yang mencakup 21 commit
indikator.
to Secara
user umum pembelajaran terlaksana

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

113
dengan baik, meskipun ada satu siklus E-E-K terakhir pada pertemuan II yang
tidak sesuai dengan perencanaan. Hal ini dikarenakan LCD di kelas tiba-tiba
mati. Oleh karenanya siklus E-E-K terakhir pada pertemuan kedua diundur
sampai pertemuan ketiga. Tetapi, hasil pembelajaran yang dilakukan telah
mampu mencapai target yang telah ditetapkan baik dalam kemampuan kognitif
siswa maupun aktivitas siswa. Untuk lebih jelasnya, akan dijelaskan sebagai
berikut:
a. Aktivitas Siswa
Berdasarkan Tabel 4.15, 4.16, dan Gambar 4.6 telah menunjukkan
prosentase ketercapaian aktivitas siswa selama proses pembelajaran siklus II
di tiap aspek. Apabila ketercapaian aktivitas siswa siklus II dibandingkan
dengan aktivitas siswa pra siklus dan target hasilnya dapat dilihat pada
Tabel 4.18 dan Gambar 4.8.
Tabel 4.18. Perbandingan Prosentase Ketercapaian Aspek Aktivitas Siswa
antara Target dengan Observasi Pra Siklus dan Siklus II
Prosentase ketercapaian
Prosentase
(%)
Aspek
Peningkatan Kesimpulan
Pra
Siklus
(%)
Target
Siklus
II
Visual activities
60
26,8
66,4
39,6
Berhasil
Oral activities
20
0,93
27,2
26,27
Berhasil
Writing activities
25
7,7
33,2
25,5
Berhasil
Listening
65
33,3
69,8
36,5
Berhasil
activities
Pada aspek visual ada satu sub indikator dan pada aspek writing
ada empat sub indikator terkait aktivitas siswa melalui media e-learning.
Pada pertemuan pertama sebanyak 11 siswa, pertemuan kedua sebanyak 17
siswa, dan pertemuan ketiga sebanyak 19 siswa yang mengikuti kegiatan
melalui media e-learning.
Setelah dilakukan wawancara untuk menganalisis perbedaan
jumlah siswa yang mengikuti kegiatan melalui e-learning di siklus I dan
siklus II, diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswa beralasan karena
fasilitas laptop dan internet yang disediakan tiap pulang sekolah membuat
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

114
kemudahan bagi mereka untuk mengakses, serta beberapa tugas kelompok
memudahkan mereka dalam mengerjakan secara bersama-sama melalui
media e-learning di rumah siswa yang memiliki fasilitas internet. Tiga
orang siswa yang tercatat tidak pernah mengikuti aktivitas melalui media elearning mengatakan bahwa mereka kesulitan membuka e-learning. Ketika
ditanya alasan mengapa mereka tidak pernah mengikuti aktivitas e-learning
saat pulang sekolah, mereka beralasan banyak tugas mata pelajaran lain.
Berdasarkan catatan observer ketiga siswa tersebut merupakan anggota dari
dua kelompok yang sering ribut saat diskusi. Guru menambahkan bahwa
mereka memang sulit untuk dikontrol dan jarang mengerjakan tugas yang
diberikan.
70
Prosentase (%)

60
50
40

Target

30

Pra Siklus

20

Siklus II

10
0
Visual
activities

Oral
activities

Writing
activities

Listening
activities

Aspek

Gambar 4.8. Perbandingan Prosentase Ketercapaian


Indikator Aktivitas Siswa antara Target
dengan Hasil Observasi Pra Siklus dan
Siklus II
Tugas kelompok yang dikumpulkan melalui media e-learning
banyak yang tidak diberikan identitas kelompok. Saat dilakukan wawancara,
mereka mengatakan bahwa mereka

lupa untuk menuliskan identitas

anggotanya. Beberapa diantaranya juga mengunggah lebih dari satu dalam


satu kelompok. Sehingga ada dua dokumen dalam satu kelompok. Namun
commit
usermelakukan aktivitas baik melalui
demikian, 6 dari 8 kelompok
aktif to
dalam

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

115
media e-learning maupun saat pertemuan tatap muka. Beberapa soal yang
dikerjakan siswa juga masih ada yang belum tuntas. Alasan mereka tidak
jauh berbeda saat mengerjakan soal melalui media e-learning di siklus I.
Mereka berasumsi bahwa beberapa soal ada yang salah mengetik dan salah
mengklik jawaban, sehingga jawaban yang diinginkan tidak tercatat dengan
baik. Adapula yang menjelaskan bahwa mereka lupa mengklik submit untuk
menyimpan jawaban, oleh karenanya nilai yang diperolehnya tidak
maksimal.
Tabel 4.19. Perbandingan Prosentase Ketercapaian Aspek Aktivitas Siswa
antara Target dengan Hasil Observasi Pra Siklus, Siklus I dan
Siklus II
Prosentase Ketercapaian (%)
Aspek
Target Pra Siklus Siklus I
Siklus II
Visual activities
60
26,8
49,5
66,4
Oral activities
20
0,93
12,5
27,2
Writing activities
25
7,7
16,4
33,2
Listening activities
65
33,3
56,5
69,8

70
60
50
Target

40

Pra Siklus
30

Siklus I

20

Siklus II

10
0
Visual
activities

Oral
activities

Writing
activities

Listening
activities

Gambar 4.9. Perbandingan antara Target dengan


Prosentase Ketercapaian Indikator
Aktivitas Siswa Hasil Observasi Pra
Siklus, Siklus I, dan Siklus II
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

116
Berdasarkan Gambar 4.8 dan Tabel 4.18, dapat dikatakan bahwa
semua aspek aktivitas siswa telah mencapai target. Dengan demikian
pembelajaran melalui blended learning pada siklus II dapat dikatakan telah
berhasil. Dibandingan ketercapaian antara siklus I, II dan pra siklus dapat
dilihat pada Tabel 4.19 dan Gambar 4.10. Dari data tersebut menunjukkan
bahwa terjadi kenaikan yang signifikan mencapai dua kali lipat dari siklus I
ke siklus II pada aspek writing dan oral activity. Hal ini dikarenakan
aktivitas melalui e-learning untuk aspek writing meningkat cukup tinggi.
Siswa sudah mampu berdiskusi melalui media e-learning. Sejumlah 3-5
siswa sudah berani bertanya dan hampir sebagian siswa juga mampu
menjawab pertanyaan dari guru saat pembelajaran di kelas.
b. Kemampuan Kognitif Siswa
Ketercapaian hasil tes kemampuan kognitif siswa pada siklus II
ditunjukkan pada Tabel 4.17 dan Gambar 4.7. Berdasarkan Tabel 4.17,
sebagian besar siswa telah mampu mencapai KKM yang ditetapkan.
Besarnya peningkatan hasil kemampuan kognitif siswa antara pra siklus,
siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.20 dan Gambar 4.10.
Tabel 4.20. Perbandingan Prosentase Ketercapaian Kemampuan Kognitif
Siswa antara Target dengan Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II
Prosentase Ketercapaian (%)
Aspek
Target
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Kemampuan
75
18,51
44,44
77,78
Kognitif Siswa
Pada pelaksanaan siklus II ada 4 kompetensi dasar yang dijabarkan
menjadi 21 indikator yang terbagi dalam tiga pertemuan. Setelah
pelaksanaan tes kognitif siklus II pada Senin, 21 April 2014, dapat dianalisis
ketercapaian tiap indikator secara klasikal. Dari 24 item soal tes kognitif
yang diberikan kepada 27 siswa pada siklus II dapat ditentukan total skor
siswa pada tiap item soal yang dapat dilihat pada Lampiran 45.
Dari 7 sub materi pada siklus II, ada 2 sub materi yang belum
mencapai target KKM, yaitu pada sub materi sifat larutan basa dan garam,
commit to user
dampak kerusakan ekosistem air tawar, sifat kimia, indikator kualitas air

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

117
bersih, hubungan antara kepadatan penduduk dan kebutuhan air bersih, dan
upaya menjaga ekosistem air tawar. Oleh karena itu, peneliti melakukan
wawancara kepada siswa yang belum mencapai nilai KKM terkait hasil tes
kognitif yang rendah. Sebagian besar dari mereka beralasan belum belajar.
Meskipun demikian, hasil kemampuan kognitif siswa pada siklus II telah
mencapai target yang telah ditetapkan.

80
70
Prosentase (%)

60

Target

50

Pra Siklus

40

Siklus I

30

Siklus II

20

10
0
Tindakan

Gambar 4.10. Prosentase Ketercapaian Kemampuan


Kognitif Siswa Pra Siklus, Siklus I, dan
Siklus II
Berdasarkan uraian refleksi siklus II terlihat bahwa target penelitian
telah tercapai pada siklus II, sehingga penelitian dapat diakhiri pada siklus II.
D. Pembahasan
Pembelajaran IPA Terpadu berbasis SETS melalui blended learning
dengan menggunakan model kelas murni telah diterapkan dalam proses
pembelajaran IPA di kelas VII G SMP Negeri 14 Surakarta dengan tujuan untuk
meningkatkan kemampuan kognitif dan aktivitas siswa. Dalam pelaksanaannya,
penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan 7 kali tatap muka, yang mana
siklus I dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan dan siklus II dilaksanakan dalam 3
kali pertemuan. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dilakukan penilaian
aktivitas sisswa melalui observasi oleh tiga observer, baik aktivitas siswa saat
commit to user
tatap muka di kelas maupun melalui media e-learning di luar jam pembelajaran.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

118
Implementasi model blended learning masih sangat jarang ditemukan,
khususnya untuk tingkat sekolah menengah pertama. Berbagai keterbatasan baik
kondisi finansial, kemampuan dalam mengoperasikan e-learning dan fasilitas
yang dimiliki menjadi alasannya. Namun, hal ini tidak lantas menjadi batasan
untuk tidak mengembangkan model pembelajaran blended learning. Ada 4
macam model implementasi blended learning menurut Anitah (2009: 261) dan 5
macam menurut Kusaeri (2011: 6). Berdasarkan analisis kemampuan awal siswa
dan pertimbangan dari guru, model implementasi yang dipilih adalah tipe kelas
murni. Melalui model kelas murni, pembelajaran dapat dilakukan di dalam kelas,
tetapi sumber materi meliputi video, ppt, dan soal-soal diambil dari media elearning serta tugas-tugas yang diberikan dapat dikerjakan oleh siswa melalui
media e-learning. Oleh karenanya, penerapan model ini merupakan inovasi baru
yang dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran masa kini.
Berdasarkan hasil analisis aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II dapat
disimpulkan bahwa penerapan model blended learning berbasis SETS dapat
meningkatkan aktivitas siswa, yang meliputi visual activity, oral activity, writing
activity dan listening activity. Aktivitas siswa mengalami peningkatan presentase
ketercapaian dari tahap pra siklus ke siklus I ataupun tahap pra siklus ke siklus II,
seperti pada Tabel 4.19. Meskipun pada siklus I sudah mengalami peningkatan,
namun prosentase aktivitas siswa belum mampu mencapa target keberhasilan.
Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I untuk aspek oral activity dan
writing activity manunjukkan hasil yang cukup rendah bila dibandingkan dengan
dua aspek lainnya. Siswa masih banyak yang enggan bertanya maupun menjawab
kepada guru serta hanya satu orang yang aktif dalam memberikan ide dalam
diskusi kelompok dan menuliskan hasil diskusi di LKS. Selain itu, hanya 4-10
siswa yang melakukan aktivitas melalui media e-learning. Banyak aktivitas yang
disediakan melalui media e-learning, seperti mengerjakan kuis, tugas, membaca
materi, video, gambar dan berdiskusi. Namun demikian, pada siklus I tercatat
siswa kurang maksimal dalam melakukan aktivitas melalui media e-learning.
Sedangkan untuk aspek listening dan visual activities hasil observasi yang
commitbelum
to usermencapai target yang ditentukan.
diperoleh sudah cukup baik meskipun

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

119
Tidak sedikit siswa yang ribut saat melakukan diskusi kelompok dan saat
kelompok lain sedang presentasi. Oleh karena itu, secara garis besar aktivitas
siswa sudah meningkat, tetapi belum mencapai target yang ditentukan.
Berdasarkan analisis dari data yang diperoleh meliputi observasi dan
wawancara,

penelitian

masih

perlu

dilanjutkan

ke

siklus

II

dengan

mempertimbangkan masukan dari guru dan dosen pembimbing. Pada siklus II,
untuk meningkatkan aktivitas siswa melalui media e-learning, sekolah
memberikan perpanjangan layanan internet kepada siswa sampai kegiatan
ekstrakurikuler berakhir. Guru mengkoordinir siapa saja siswa yang memiliki
fasilitas internet di rumahnya, sehingga saat pengerjaan tugas kelompok atau soal
melalui media e-learning, siswa yang lain dapat ikut serta dalam mengerjakan
tanpa memberatkan kemampuan finansialnya. Tercatat sebanyak 21 siswa
melakukan aktivitas melalui media e-learning. Oleh karena itu, aspek writing
activity yang mencakup paling banyak aktivitas melalui media e-learning dapat
meningkat tinggi. Sedangkan aspek oral activity sudah mencapai target yang
ditentukan meskipun dalam pelaksanaanya yang mengajukan pertanyaan masih
sedikit. Namun demikian, siswa sudah semakin berani dalam memberikan
pendapat baik saat diskusi maupun saat presentasi. Peningkatan aktivitas pada
siklus II sudah mencapai target yang ditetapkan, sehingga penelitian diakhiri
sampai siklus II. Hasil peningkatan aktivitas siswa tersebut sesuai dengan
pernyataan yang dijelaskan oleh Gunawan (2013: 1) bahwa melalui penerapan
model blended learning terbukti mampu meningkatkan aktivitas siswa.
Berdasarkan hasil tes kemampuan kognitif siswa siklus I dan siklus II
seperti pada Tabel 4.21 dapat disimpulkan bahwa kemampuan kognitif siswa
meningkat. Pada siklus I, kemampuan kognitif siswa telah meningkat sebesar dua
kali lipat dari hasil pra siklus. Namun demikian, 10 dari 18 indikator belum
mencapai batas ketuntasan. Akibatnya, hasil kemampuan kognitif siswa siklus I
belum dapat mencapai target. Untuk itu, perlu dilanjutkan dengan pelaksanaan
tindakan siklus II. Hasil analisis kemampuan kognitif siswa siklus II telah
menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan siklus I dan
to user
prosentase ketuntasan siswa sudahcommit
mencapai
target yang ditetapkan.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

120
Tema yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat membuat siswa
makin peka terhadap lingkungan sekitarnya. Melalui pembuatan kompos organik
dan teknik penjernihan air tawar yang sederhana, siswa menjadi semakin peduli
akan kondisi lingkungan dan dinamika masyarakat. Diskusi yang dilakukan siswa
melalui media e-learning menunjukkan bahwa siswa makin aktif dalam mencari
sumber-sumber kejadian yang ada di sekitar mereka. Hal ini menunjukkan ciri
pembelajaran dengan model blended learning berbasis SETS. Melalui
implementasi model blended learning berbasis SETS pada pembelajaran IPA
Terpadu mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Hal ini sesuai dengan
Binadja (2002) dalam Nugraha, dkk (2013: 33) yang menyatakan bahwa
pembelajaran berbasis SETS membentuk kesan positif dalam diri siswa yang
timbul akibat pembelajaran berbasis SETS, sehingga berpengaruh positif terhadap
hasil belajar siswa, yang dalam hal ini adalah kemampuan kognitif siswa.
Peningkatan kemampuan kognitif siswa tersebut, juga sesuai dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Gunawan (2013: 1) bahwa hasil belajar siswa
dalam hal ini kemampuan kognitif mampu meningkat melalui penerapan model
blended learning.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dapat
disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan berhasil karena aspek aktivitas
siswa yang diamati dan kemampuan kognitif siswa yang diukur telah mencapai
target yang ditetapkan. Dengan demikian, implementasi blended learning berbasis
SETS pada pembelajaran IPA Terpadu mampu meningkatkan kemampuan
kognitif dan aktivitas siswa kelas VII-G SMP Negeri 14 Surakarta Tahun Ajaran
2013/2014.

commit to user