Anda di halaman 1dari 3

Di setiap akhir periode, entitas menilai apakah terdapat indikasi bahwa suatu

aset mengalami penurunan nilai. Jika kemudian ditemukan indikasi, maka entitas
mengestimasi berapa jumlah terpulihkan aset. Walaupun demikian, entitas sudah
seharusnya melakukan pengujian penurunan nilai minimal setahun sekali. Pengujian
tersebut terutama dilakukan pada aset-aset berikut: aset tidak berwujud dengan masa
manfaat tidak terbatas, aset tidak berwujud yang belum digunakan, dan goodwill
yang diperoleh dalam kombinasi bisnis. Dalam identifikasi tersebut, terdapat dua
jenis sumber yang perlu dipertimbangkan, yaitu sumber eksternal dan sumber
internal. Sumber eksternal misalnya perubahan signifikan nilai pasar dan perubahan
signifikan teknologi, pasar, ekonomi dan lingkup hukum. Sedangkan sumber internal
misalnya bukti keusangan atau kerusakan fisik aset.
Setelah melakukan pengujian apakah terjadi penurunan nilai atau tidak, entitas
kemudian mengestimasi berapa jumlah terpulihkan pada aset tersebut. Menurut
PSAK 48, jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi antara Fair value less
costs to sell dan value in use. Fair value less cost to sell adalah jumlah yang dapat
dihasilkan dari penjualan suatu aset atau unit penghasil kas dalam transaksi antara
pihak-pihak yang mengerti dan berkehendak bebas tanpa tekanan, dikurangi biaya
pelepasan aset. Sedangkan Value in use adalah nilai sekarang dari taksiran arus kas
yang diharapkan akan diterima atau unit penghasil kas.
Bukti terbaik yang seharusnya digunakan dalam mengukur jumlah fair value
less cost to sell adalah harga dalam suatu perjanjian penjualan yang mengikat yang
dibuat dalam suatu transaksi antara pihak-pihak yang independen, disesuaikan
dengan biaya tambahan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan pelepasan aset.
Namun, bila tidak terdapat perjanjian penjualan yang mengikat namun aset
diperdagangkan di pasar aktif maka pengukuran didasarkan pada harga pasar aset
dikurangi biaya pelepasan aset tersebut. Pada beberapa kasus, tidak terdapat
perjanjian penjualan yang mengikat dan tidak ada pasar aktif untuk aset. Jika hal ini
terjadi,

pengukuran

didasarkan

pada

informasi

terbaik

yang

ada

untuk

menggambarkan jumlah yang dapat diperoleh entitas, pada akhir periode pelaporan,
dari pelepasan aset pada nilai wajar dikurangi biaya pelepasan
Sedangkan

pertimbangan-pertimbangan

mengestimasi Value in Use adalah:

yang

harus

digunakan

dalam

a. estimasi arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan diperoleh dari aset;
b. ekspektasi mengenai kemungkinan variasi dari jumlah atau waktu arus kas masa
depan tersebut;
c. nilai waktu uang, diwakili oleh suku bunga pasar bebas risiko yang berlaku;
d. harga untuk menanggung ketidakpastian yang melekat pada aset
e. faktor-faktor lain, seperti ilikuiditas, yang akan dipertimbangkan oleh pelaku
pasar dalam menilai arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan diperoleh
dari aset tersebut.
Terdapat dua langkah yang harus dilakukan entitas dalam mengestimasi nilai pakai
dari suatu aset. Pertama, entitas mengestimasi arus kas masuk dan arus kas keluar di
masa depan dari pemakaian aset tersebut dan pelepasannya pada akhirnya. Kedua,
entitas menerapkan tingkat diskonto yang tepat atas arus kas masa depan tersebut
Arus Kas masa depan terdiri dari proyeksi arus kas masuk dari penggunaan
aset, proyeksi arus kas keluar yang diperlukan untuk menghasilkan arus kas masuk
dari penggunaan aset (termasuk arus kas keluar untuk menyiapkan aset agar dapat
digunakan) dan dapat dikaitkan secara langsung, atau dialokasikan dengan dasar
yang layak dan konsisten, pada aset dan Arus kas neto, jika ada, yang akan diterima
(atau dibayarkan) untuk pelepasan aset pada akhir masa manfaatnya. Dalam
mengestimasi arus kas masa depan, dasar sekaligus hambatan yang seharusnya
digunakan entitas adalah:
a. Didasarkan pada asumsi yang masuk akal dan didukung oleh fakta atau teori.
b. Didasarkan pada anggaran keuangan yang terbaru dan telah disahkan oleh
manajemen.
c. Tidak memasukkan komponen arus kas masa depan yang berasal dari
restrukturisasi.
d. Pendasaran kepada anggaran hanya meliputi periode 5 tahun, kecuali jika
periode yang lebih lama dapat dijustifikasi.
e. Periode setelah anggaran hanya dapat menggunakan tingkat yang tetap atau
menurun, kecuali jika tingkat yang naik dapat dijustifikasi.
f. Tingkat pertumbuhan yang digunakan dalam proyeksi ekstrapolasi tidak dapat
melebihi rata-rata jangka panjang pertumbuhan untuk produk, industri, atau
negara tempat entitas beroperasi atau pasar dimana aset tersebut digunakan,
kecuali jika tingkat yang lebih tinggi dapat dijustifikasi.
Jika arus kas masa depan yang diestimasi diukur dalam satuan mata uang asing,
maka arus kas didiskonto pada suatu tingkat diskonto yang tepat untuk satuan mata

uang tersebut. Tingkat Tingkat pertukaran yang digunakan adalah kurs spot pada
tanggal penghitungan nilai pakai.
Tingkat diskonto menurut PSAK 48 adalah tingkat pengembalian yang
disyaratkan investor jika seandainya mereka hendak memilih suatu investasi yang
menghasilkan arus kas dengan jumlah, waktu dan profil risiko yang sama dengan
yang entitas harapkan akan dihasilkan dari aset tersebut. Tingkat ini diestimasi dari
salah satu antara:
a. Tingkat diskonto implisit pada transaksi pasar kini terhadap aset sejenis atau
b. Rata-rata tertimbang biaya modal entitas yang tercatat di bursa efek yang
memiliki aset sejenis
Dasar penetapan tingkat diskonto adalah tingkat diskonto sebelum pajak, dimana
tingkat diskonto ini adalah gambaran penilaian pasar kini dari:
a. nilai waktu uang; dan
b. risiko spesifik atas aset dimana estimasi arus kas masa depan belum disesuaikan.
Jika nilai terpulihkan aset kurang dari nilai tercatatnya maka terjadi Rugi
penurunan nilai. Kerugian ini kemudian diperlakukan dengan cara menurunkan nilai
tercatat aset menjadi sebesar nilai terpulihkan dan jumlah penurunan tersebut,
diklasifikasikan sebagai rugi penurunan nilai dan disajikan dalam laba rugi. Namun,
jika penurunan nilai mengacu pada PSAK lain, misalnya PSAK 16 yang mengatur
tentang revaluasi, maka rugi penurunan nilai diperlakukan sebagai penurunan
revaluasi. Penurunan ini diakui dalam pendapatan komprehensif lain sepanjang
kerugian penurunan nilai tidak melebihi jumlah surplus revaluasi untuk aset yang
sama dan kemudian mengurangi surplus revaluasi untuk aset terkait.