Anda di halaman 1dari 8

MODUL PRAKTIKUM

: Hand Boring

TANGGAL PRAKTIKUM

PENYUSUN MODUL

: Fahri Mahaditya

ASISTEN PENANGGUNG JAWAB

: Dwi B.M

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah sebagai pengambilan contoh tanah tidak
terganggu dan terganggu untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut di
laboratorium
Tujuan dari praktikum ini adalah :
a. Untuk mendapatkan keterangan tentang struktur tanah secara visual, pada
lapisan tanah dibawah yang akan menjadi pondasi.
I.2 Teori dan Rumus-rumus Yang Digunakan
Dari hasil pengeboran dapat diketahui penggolongan tanah secara visual,
walaupun penggolongan ini merupakan perkiraan yang kasar.
Dilihat dari sudut pandangan teknis, tanah-tanah tersebut dapat
digolongkan dalam beberapa macam :
1.
2.
3.
4.

Batu kerikil (Gravel),


Pasir (Sand),
Lanau (Silt), dan
Lempung (Clay).
Golongan batu kerikil dan pasir seringkali dikenal sebagai kelas bahan-

bahan yang berbutir kasar atau bahan-bahan tidak kohesive, sedang golongan
lanau dan lempung dikenal sebagai kelas bahan-bahan yang berbutir halus atau
bahan-bahan yang kohesive.
1. Batu Kerikil dan Pasir

Golongan ini terdiri dari pecahan batu dengan berbagai ukuran dan bentuk.
Butiran batu kerikil biasanya terdiri dari pecahan batu, tetapi kadang-kadang pula
terdiri dari satu macam zat mineral tertentu, misalnya flint atau kwartz. Sedangkan
butiran pasir hampir selalu terdiri dari satu macam zat mineral, terutama kwartz.
2. Lempung
Lempung terdiri dari butiran yang sangat kecil dan menunjukkan sifat-sifat
plastisitas dan kohesi. Kohesi menunjukkan kenyataan bahwa bagian-bagian
bahan itu melekat satu sama lainnya, sedangkat plastisitas adalah sifat yang
memungkinkan bentuk bahan itu dirubah-rubah tanpa perubahan isi atau tanpa
kembali ke bentuk asalnya, dan tanpa terjadi retakan-retakan atau terpecah-pecah.
3. Lanau
Adalah bahan yang merupakan peralihan antara lempung dan pasir halus.
Kurang plastis dan lebih mudah ditembus air dari pada lempung, serta
memperhatikan sifat dilatasi yang tidak terdapat pada lempung.
Dilatasi ini menunjukkan gejala perubahan isi apabila lanau itu dirubah
bentuknya. Juga lanau akan menunjukkan gejala untuk menjadi Quick (hidup)
apabila diguncag atau digetarkan.
Untuk melakukan klasifikasi dan menyatakan dengan tepat sesuatu tanah
secara visual, semata-mata dengan hanya melihatnya, mengerjakannya, dan
membentuknya kembali.
Langkah pertama untuk menyatakan suatu tanah adalah menentukkan
apakah bagian terbesar dari tanah itu masuk dalam kategori pasir dan kerikil
ataukah kedalam kelompok lempung dan lanau.
Dan bila kebanyakan dari tanah itu lebih halus daripada ukuran batas
pasir/lanau, maka tanah itu termasuk kedalam kelompok lanau atau lempung,
namun menentukkan apakah lanau atau lempungnya tidak dilakukan atas dasar
ukuran butirnya.
Cara yang paling baik dipakai untuk membedakan antara lanau dan
lempug adalah percobaan dilatasi.
I.4 Alat-alat Yang Digunakan

Auger Iwan besar (1 buah)


Socket (1 buah)
Kepala pemutar (hammer had)
Batang bor
Stang pemutar dan batang pemutar
Kunci pipa
Palu besar
Tabung contoh
Pacul
Pisau, kuas, oli, materan, tali rapia

I.5 Contoh Tanah Yang Digunakan


Contoh tanah yang digunakan terletak di sekitar laboratorium. Kondisi
tanah dalam keadaan disturbed maupun yang Undisturbed. Untuk Disturbed pada
kedalaman : 0,2 m (tanah permukaan) ; 0,5 m ; 1,0 m ; 2,0 m ; 3,0 m ; 4,0 m ; 5,0
m. sedangkan contoh tanah undisturbed pada kedalaman : 1,0 m ; 2,0 m ; 3,0 m ;
4,0 m ; 5,0 m.

BAB II
PERCOBAAN

II.1 Persiapan Percobaan


a. Tentukan lokasi yang akan di bor.
b. Alat-alat yang diperlukan dipersiapkan untuk dibawa ke tempat lokasi.
c. Tanah disekitar lokasi dibersihkan terhadap batu-batuan, rumput-rumputan
dan humus.
II.2 Jalannya Percobaan
a. Auger Iwan dipasang pada ujung sebuah batang bor dan pada ujung
lainnya dipasang stang pemutar.
b. Auger Iwan diletakkan pada titik Yang akan di bor.
c. Batang bor ditekan, kemudian stang pemutar diputar pada batang
pemutarnya searah jarum jam. Dengan demikian Auger Iwan akan masuk
kedalam tanah dan akan terisi oleh tanah.
d. Bila Auger Iwan telah terisi penuh dengan tanah, maka Auger Iwan
diangkat, tanah dikeluarkan dan tanah tersebut diidentifikasi secara visual
mengenai jenis dan warnanya.
e. Auger Iwan yang bersih dari tanah dimasukkan kembali ke dalam lubang
dan pekerjaan diulangi lagi sampai kedalaman yang dikehendaki, dalam
hal ini 0,5 m. tanah diambil 5 kg dan dimasukkan ke dalam plastik untuk
contoh tanah Disturbed.
f. Bila telah mencapai kedalaman 1,0 m Auger Iwan diganti dengan tabung
(sample tuben) yang sebelumnya telah diolesi oleh oli, dengan maksud
agar contoh tanah tidak melekat sehingga dapat memperkecil kerusakan
tanah. Selain itu juga tebal dinding tabung harus sekecil mungkin untuk
mengurangi kerusakan tanah.
Perbandingan luas tabung < 10 %

x 100% <10%
D1 = Diameter dalam tabung
D0 = Diameter luar tabung
g. Tabung contoh dan batang bor dimasukkan kedalam lubang secara
perlahan-lahan dan usahakan masuk tegak lurus.

Pada batang bor diberi tanda kedalam tabung yang akan dicapai sehingga
kedalaman waktu pemukulan tidak melebihi tinggi tabung (dapat
mengakibatkan compaction) ataupun kurang.
Tabung ditekan dengan jalan memukul bagian dari kepala pemukul,
sampai batas tanda yang telah dibuat pada batang bor tadi. Ini bearti
tabung telah penuh terisi oleh tanah Unditurbed.
Tabung didiamkan beberapa saat agar terjadi lekatan tanah, setelah itu
batang bor diputar 180 derajat.
h. Cabut batang bor perlahan-lahan, contoh tanah diambil kemudian kedua
ujung tabung contoh ditutup dengan lilin cair agar kadar air tanah tidak
berubah. Tempelkan label kedalaman dari contoh tanah.
i. Tabung diganti dengan Auger Iwan kembali dan pengeboran dilanjutkan.
Contoh tanah diambil dan diidentifikasikan.
Demikian selanjutnya dilakukan pengambilan contoh tanah, baik yang
disturbed maupun yang Undisturbed pada kedalaman yang diinginkan.
j. Pengambilan contoh tanah Disturbed pada kedalaman : 0.2 m (tanah
permukaan) ; 0,5 m ; 1,0 m ; 2,0 m ; 3,0 m ; 4,0 m ; 5,0 m.
Sedang contoh tanah Undisturbed pada kedalaman : 1,0 m ; 2,0 m ; 3,0 m ;
4,0 m ; 5,0 m.
II.3 Sumber-sumber Kesalahan
1. Kurang terampilnya dalam menggunakan alat percobaan.
2. Masih terdapat sisa-sisa tanah praktikum sebelumnya.
3. Kurang telitinya melihat (visual) dalam mengelompokkan jenis tanah.

II.4 Foto dan Data

BAB III
HASIL PERCOBAAN
III.1 Data Percobaan
Pengujian dilakukan pada :
Tanggal

: 13 April 2015

Waktu

: 10.00 WIB Selesai

Lokasi

: Kampus ITI-Serpong

Cuaca

: Cerah

Tim Pelaksana : Kelompok II


Kedalaman : 1,0 m 5,0 m
Kedalaman

No

(m)

Warna

Kondisi

Kekuatan

Jenis Tanah
Pasir
Pasir

0,2

Coklat

Homogen

Agak lunak

0,5

Coklat

Homogen

Agak lunak

1,0

Coklat

Homogen

Agak lunak

Homogen

Lunak

Homogen

Lunak

2,0

3,0

4,0

5,0

Coklat
kehitaman
Hitam
keabuan
Hitam
keabuan
Hitam
keabuan

Homogen

Lunak

Homogen

Sangat lunak

kelempungan
Pasir
kelempungan
Lapisan agak
kepasiran
Lempung
agak
kelanauan
Lempung
kelanauan
lanau

BAB IV
KESIMPULAN
IV.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan secara visual di lapangan, diperoleh data
tanah sebagai berikut, pada kedalaman :

0,0 m 1,0 m adalah pasir kelempungan.


1,0 m 2,0 m adalah lapisan agak kepasiran.
2,0 m 3,0 m adalah lapisan agak kepasiran.
3,0 m 4,0 m adalah lempung agak kelanauan.
4,0 m 5,0 m adalah lanau.

IV.2 Saran
Sebelum melakukan praktikum, sebaiknya terlebih dahulu mengetahui
tentang jenis jenis tanah dan karakteristiknya. Agar pada saat melakukan praktek
di lapangan tidak keliru dalam mengkalsifikasikan jenis dan karakteristiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Setiyadi, Rahmat. 1988. Pedoman Praktikum Mekanika Tanah.


Serpong:Laboratorium Mekanika Tanah.
H. Pranowo, Riana. 1988. Pedoman Praktikum Mekanika Tanah.
Serpong:Laboratorium Mekanika Tanah.
Lisa, 2012. Hand Boring, www. http://lisabowo73.blogspot.com/2012/10/handboring.html