Anda di halaman 1dari 17

1

HALAMAN JUDUL

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


PEMANFAATAN EKSTRAK KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VAL.)
SEBAGAI KELASI BESI (KARDIOPROTEKTIF) PADA PENDERITA
THALASEMIA

BIDANG KEGIATAN:
PKM-GT

Diusulkan oleh:
Radita Ikapratiwi
(Pend. Dokter 2009)
Yuni Hanifah
(Pend. Dokter 2009)
Aras Nurbarich Agustin (Pend. Dokter 2009)
Nahiyah Isnanda
(Pend. Dokter 2010)
Elma Laeni Barokah
(Pend. Dokter 2010)

(G1A009103)
(G1A009097)
(G1A009107)
(G1A010098)
(G1A010101)

LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Kegiatan

:
Pemanfaatan
Ekstrak
Kunyit
(Curcuma domestica Val.) Sebagai
Kelasi Besi (Kardioprotektif) pada
Penderita Thalasemia

2. Bidang Kegiatan

: (X) PKM-AI

3. Ketua Pelaksana Kegiatan


a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Jurusan

:
: Radita Ikapratiwi
: G1A009103
: Pendidikan Dokter

() PKM-GT

d. Universitas/Institusi/Politeknik
e. Alamat Rumah dan No. Tel./HP
f. Alamat email

: Universitas Jenderal Soedirman


: Perum. Bening Indah Blok B4 No. 20
Jatibening, Pondok Gede 17412
085726281421 / 085695509685
: raditaikapratiwi@yahoo.com

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis

:5

Orang

5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
b. NIP
c. Alamat dan No. Tel/.HP

:
: dr. Setiawati
:
:
Purwokerto, 24 Juli 2012

Menyetujui,
Pembantu atau Wakil Dekan Bidang
Kemahasiswaan

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Drs. Bambang Hariyadi, M.Kes)


NIP. 19600411 198603 1 001

(Radita Ikapratiwi)
NIM. G1A009103

Pembantu atau Wakil Rektor Bidang


Kemahasiswaan

Dosen Pendamping

(Prof. Dr. Imam Santoso, M. Si)


NIP. 19611001 198803 1 001

(dr. Setiawati)
NIP.

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberi rahmat dan bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan karya
tulis ini. Banyak hambatan yang telah kami lalui untuk menyelesaikan karya tulis
ini, tetapi tetap tidak menyurutkan niat kami untuk menyelesaikannya.
Dalam karya tulis ini, kami berusaha untuk memunculkan suatu gagasan
pemecahan dalam permasalahan kesehatan. Permasalahan kesehatan yang kami

angkat yaitu tentang kelebihan kadar besi pada penderita thalasemia akibat
transfusi darah berulang. Pemecahan yang kami kedepankan atas permasalahan
tersebut adalah pemanfaatan ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) karena
kunyit mengandung kurkumin yang dapat berperan sebagai kelasi besi. Oleh
sebab itu, judul karya tulis ini adalah pemanfaatan ekstrak kunyit (Curcuma
domestica Val.) sebagai kelasi besi khususnya sebagai kardioprotektif pada
penderita thalassemia.
Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan karya tulis
ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan masukan berupa kritik dan saran
untuk perbaikan karya tulis ini.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih dan berharap semoga karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Purwokerto, Juli 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul..........................................................................................................i
Lembar Pengesahan.................................................................................................ii
Kata Pengantar........................................................................................................iii
Daftar Isi.................................................................................................................iv
Daftar Gambar..........................................................................................................v
Ringkasan................................................................................................................vi
Pendahuluan.............................................................................................................1
Latar Belakang Masalah.......................................................................................1
Tujuan dan Manfaat..............................................................................................2
Gagasan....................................................................................................................2
Thalasemia Saat Ini..............................................................................................2
Terapi Thalasemia.................................................................................................3
Solusi Terdahulu...................................................................................................4
Anatomi Jantung...................................................................................................4
Besi Berlebih pada Jantung...................................................................................4
Kandungan Kunyit (Curcuma domestica Val.).....................................................5
Mekanisme Curcumin Sebagai Antioksidan akibat besi berlebih........................6
Pihak-Pihak Terkait..............................................................................................6
Langkah Strategis.................................................................................................7
Kesimpulan..............................................................................................................8
Gagasan yang Diajukan........................................................................................8
Teknik Implementasi............................................................................................8
Prediksi Hasil.......................................................................................................8
Daftar Pustaka..........................................................................................................8
Lampiran................................................................................................................10
Curriculum Vitae................................................................................................10

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema metabolisme zat besi di dalam tubuh ...................................... 3


Gambar 2. Anatomi Cor (Jantung) ....................................................................... 4
Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica Val.)....................................................... 5
Gambar 4. Mekanisme kurkumin sebagai antioksidan........................................... 6

RINGKASAN

Prevalensi thalassemia di dunia bahkan di Indonesia masih tinggi, secara


keseluruhan di tahun 2010 ada 5050 orang dan per april 2011 sudah tercatat 5538
orang. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas penderita thalasemia
diakibatkan oleh komplikasi transfusi darah yang berulang sebagai upaya
mengatasi anemia dan mempertahankan kadar Hb (hemoglobin).
Transfusi darah berulang mempunyai dampak yang kurang baik bagi
penderita, yaitu terjadinya penimbunan besi yang berlebihan pada berbagai organ
tubuh (terutama jantung, hati, dan kelenjar endokrin) sehingga menyebabkan
kerusakan jaringan bahkan menyebabkan disfungsi serta kegagalan organ. Oleh
karena itu, dibutukan suatu obat atau bahan yang bisa berfungsi sebagai kelasi
besi (pengikat besi). Sampai saat ini sudah ada 3 macam kelasi besi yang ada di
pasaran, yaitu desferoksamin (Desferal, DFO), deferiprone (Perriprox, DFP), dan
deferasirox (Exjade). Namun, harga yang mahal membuat beban ekonomi
keluarga semakin berat.
Ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan salah satu bahan
yang diyakini memiliki efek sebagai kelasi besi dengan harga yang terjangkau dan
dapat ditemukan dimana-mana. Kurkumin yang terkandung di dalam kunyit
(Curcuma domestica Val.) dapat membersihkan darah dari radikal bebas dan racun
zat-zat metal terutama zat besi di dalam tubuh untuk kemudian dibuang melalui
urin dan feses.
Implementasi pemanfaatan ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.)
sebagai kelasi besi pada penderita thalasemia terfokus pada uji praklinik
farmakologis dengan subjek hewan uji (tikus wistar) sebagai langkah awal. Uji
praklinik dimaksudkan untuk mengetahui apakah ekstrak kunyit (Curcuma
domestica Val.) dapat bermanfaat sebagai kelasi besi dan tetap aman dipakai atau
dapat menimbulkan efek toksik. Uji praklinik ini dapat dipakai sebagai acuan
untuk menentukan apakah ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) dapat
diteruskan dengan uji pada manusia atau tidak.
Adapun pihak-pihak terkait dalam mengatasi permasalahan ini adalah: (1)
Ilmuwan dan peneliti; (2) Pemerintah; (3) Tenaga medis dan paramedis; (4)
Masyarakat, terutama yang tergabung dalam YTI (Yayasan Thalasemia
Indonesia), POPTI (Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia),
dan penderita thalasemia.
Output dari gagasan ini adalah terciptanya suatu bahan atau obat kelasi
besi khusunya kardioprotektif bagi penderita thalasemia yang murah dan dapat
ditemukan di mana-mana sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien
thalasemia yang mendapatkan transfusi darah berulang.

PEMANFAATAN EKSTRAK KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VAL.)


SEBAGAI KELASI BESI KARDIOPROTEKTIF PADA PENDERITA
THALASEMIA

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Thalasemia adalah kelainan genetik pada darah disebabkan tidak adanya
atau terjadinya kesalahan gen yang bertanggung jawab untuk memproduksi
hemoglobin, salah satu protein dalam sel darah merah (WHO, 2012) dimana
terdapat pengurangan produksi satu atau lebih rantai globin ( atau ) yang
menyebabkan ketidakseimbangan produksi rantai globin (TIF, 2008;
Wahyuningsihngsih, 2011).
Prevalensi penyakit thalasemia di Indonesia menurut Ruswandi, pendiri
POPTI (Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia), secara
keseluruhan, di tahun 2010 ada 5050 orang dan per april 2011 sudah tercatat 5538
orang (Wahyuningsihngsih, 2011).
Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan angka bertahan hidup pasien
thalassemia menunjukkan angka yang sangat impresif. Pada pertengahan tahun
1960-an, hanya 37% pasien dari 41 pasien thalassemia mayor yang bisa bertahan
hidup sampai umur 16 tahun (Engle et al dalam Kremastinos et al, 2010).
Kemudian, pada tahun 2004, angka bertahan hidup pasien -Thalassemia mayor
menjadi 83% (Davis dalam Kremastinos, 2010). Peningkatan angka bertahan
hidup yang sangat memuaskan ini dikarenakan adanya pendekatan terapi
thalassemia secara sistematik dari mulai periode 1960-an sampai dengan periode
2000-an (Kremastinos, 2010).
Penderita thalasemia harus mendapatkan transfusi darah seumur hidup
untuk mengatasi anemia dan mempertahankan kadar Hb 9-10 gr%. Namun,
pemberian transfusi darah berulang ini masih mempunyai dampak yang kurang
baik bagi penderita, yaitu terjadinya penimbunan besi yang berlebihan pada
berbagai organ tubuh (terutama jantung, hati, dan kelenjar endokrin),
menyebabkan kerusakan jaringan, disfungsi serta kegagalan organ. Pada saat besi
dalam tubuh berlebih, peningkatan besi bebas akan memacu timbulnya reactive
oxygen spesies (ROS) bebas/ radikal bebas (El-Maraghy, 2009). Kelebihan besi
ini paling banyak menyebabkan mortalitas dan morbiditas pada penderita
thalasemia.
Di
samping
kemajuan
dalam
manajemen
terapi
thalassemia mayor dan menghasilkan peningkatan yang
signifikan dalam angka bertahan hidup pasien, penyakit jantung
masih merupakan penyebab utama kematian. Pada tahun 1964,
Engle et al, telah melakukan penelitian pada 41 pasien dan
melaporkan bahwa 63% dari mereka berada dalam status gagal

jantung kongestif dan meninggal dalam waktu satu tahun setelah


onset gejala muncul. Zurlo, et al pada penelitian kohortnya pada
1987 pasien menunjukkan 64% kematian pada pasien
thalassemia adalah karena penyakit jantung (Kremastinos,
2010).
Pemberian terapi kelator besi merupakan solusi yang efektif untuk
menurunkan kandungan besi pada penderita thalasemia yang mendapat transfusi.
Sampai saat ini sudah ada 3 macam kelasi besi yang ada di pasaran, yaitu
desferoksamin (Desferal, DFO), deferiprone (Perriprox, DFP), dan deferasirox
(Exjade). Namun, harga yang mahal membuat beban keluarga yang semakin berat.
Perlu alternatif lain yang berfungsi sebagai kelasi besi dengan biaya terjangkau
dan mudah didapat oleh semua kalangan (Khan, 2007).
Ekstrak kunyit memiliki kandungan kurkumin yang berfungsi
farmakologis sebagai kelasi besi. Kurkumin dapat membersihkan darah dari
radikal bebas dan racun zat-zat metal terutama zat besi di dalam tubuh untuk
kemudian dibuang melalui urin dan feses (Abd El-Baky, 2011).
Oleh karena itu, gagasan yang diajukan dalam penulisan ini untuk
menangani permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan ekstrak kunyit
(Curcuma domestica Val.). Di samping mengandung kurkuminoid, kunyit juga
dapat ditemukan di mana-mana dengan harga yang relatif murah.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan ini adalah:
1. Memaparkan manfaat ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) sebagai
kardioprotektif pada penderita thalasemia.
2. Mengetahui teknik untuk mengimplementasikan pemanfaatan ekstrak kunyit
(Curcuma domestica Val.) sebagai kardioprotektif pada penderita thalasemia.
3. Mengetahui dampak yang aka ditimbulkan dalam pemanfaatan ekstrak kunyit
(Curcuma domestica Val.) sebagai kardioprotektif pada penderita thalasemia.
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:
1. Manfaat teoritis
Menambah wawasan tentang manfaat ekstrak kunyit (Curcuma domestica
Val.).
2. Manfaat praktis
a. Memberikan dorongan kepada para peneliti untuk terus mengembangkan
uji farmakologis ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) sebagai
kardioprotektif pada penderita thalasemia.
b. Memberikan masukan kepada pemerintah, Yayasan Thalasemia Indonesia
(YTI), dan Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia
(POPTI) dalam menangani permasalahan terkait thalasemia.
c. Memberikan alternatif kelasi besi bagi penderita thalasemia.
GAGASAN

Thalasemia
Thalasemia Saat Ini
Thalasemia adalah kelainan genetik pada darah disebabkan tidak adanya
atau terjadinya kesalahan gen yang bertanggung jawab untuk memproduksi
hemoglobin, salah satu protein dalam sel darah merah (WHO, 2012). Secara
klinis, thalasemia dibedakan menjadi thalasemia mayor dimana gejala klinis jelas
dan thalasemia minor dimana tidak menunjukkan gejala klinis atau gejala anemia
ringan (Priyantiningsih, 2010; Wahyuningsihngsih, 2011).
Data terakhir berdasarkan World Bank 2006 dan Report of a Joint WHOMarch of Dime Meeting 2006 menunjukkan bahwa sekitar 7% dari populasi dunia
carrier dan sekitar 300.000-500.000 bayi lahir dengan kelainan ini setiap
tahunnya (TIF, 2008; Wahyuningsih, 2011).
Data Talasemia di Indonesia melaporkan tingginya kasus Talasemia
disebabkan oleh migrasi dan percampuran penduduk. Keseluruhan populasi ini
menjadi hunian kepulauan Indonesia yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi,
Jawa, Sumatera, Nias, Sumba dan Flores. Data Talasemia di Sumatera Utara
melaporkan populasi carrier di Sumatera Utara khususnya Medan mencapai
7.69% yang terdiri dari Talasemia Alfa 3.35% dan Talasemia Beta 4.07% yang
terdistribusi pada berbagai suku di Medan yaitu: Batak, Cina, Jawa, Melayu,
Minangkabau, dan Aceh (Ganie, 2005; Wahyuningsih, 2011).
Terapi
Pada pasien talasemia mayor, terapi yang direkomendasikan berdasarkan
Guidelines for Clinical Management of Thalasemia adalah transfusi darah seumur
hidup secara teratur, biasanya diberikan setiap dua sampai lima minggu. Transfusi
darah pada talasemia mayor sebanyak 100-200 ml sel darah merah setara dengan
116-232 mg zat besi (TIF, 2008).
Pemberian transfusi darah berulang ini masih mempunyai dampak yang
kurang baik bagi penderita, yaitu terjadinya penimbunan besi yang berlebihan
pada berbagai organ tubuh. Pada saat besi dalam tubuh berlebihan, peningkatan
besi bebas akan memacu timbulnya reactive oxygen spesies (ROS) bebas.
Radikal-radikal superoksida ini mengoksidasi lipid membran sel dan protein serta
membran organel yang menyebabkan terjadinya kerusakan sel dan kematian (ElMaraghy, 2009).

10

Gambar 1. Skema metabolisme zat besi di dalam tubuh


Keterangan:
: Normal
: Efek transfusi darah (TIF, 2008)
Normalnya ikatan besi pada transferin mencegah terbentuknya radikal
bebas. Pada penderita dengan kelebihan besi, transferin menjadi tersaturasi penuh
dan fraksi besi yang tidak terikat transferin bisa terdeteksi di dalam plasma. Hal
ini menyebabkan terbentuknya radikal bebas dan meningkatnya jumlah besi di
jantung, hati, dan kelenjar endokrin yang menyebabkan kerusakan dan gangguan
fungsi di organ-organ tersebut (TIF, 2008; Wahyuningsih, 2011).
Solusi Terdahulu
The World Health Organization Model List of Essential Medicines and
Model Formulary 2010 mencatat deferoxamin (DFO) sebagai pengobatan yang
dipilih, baik untuk keracunan iron akut maupun iron overload kronik (TIF, 2008).
Sampai saat ini sudah ada 3 macam kelasi besi yang ada di pasaran, yaitu (1)
Desferoksamin (Desferal, DFO), merupakan terapi standar kelasi besi pilihan
pertama untuk penimbunan besi karena transfusi darah berulang. Secara klinis
dapat mengurangi gejala sisa akibat penimbunan besi, termasuk kematian dini. (2)
Deferiprone (Perriprox, DFP), terapi kelasi pilihan kedua yang diberikan secara
oral untuk terapi penimbunan besi pada penderita thalasemia mayor bila terdapat
kontraindikasi terhadap DFO atau tidak adekuat. (3) Deferasirox (Exjade),
merupakan oral kelasi besi baru yang diberikan sekali sehari (Vichinsky, 2008).
Sebagian besar besi akan disekresikan melalui feses dan <10% melalui urin,
bekerja dengan cara mengeliminasi atau mengurangi ikatan serum non transferin
besi. Obat ini segera diabsorbsi dan bersirkulasi selama beberapa jam. Capellini
MD dkk, dalam penelitiannya yang memberikan Deferasirox per oral satu kali
sehari pada penderita -thalasemia mendapatkan penurunan kadar ferritin yang
terjadi setelah 12 minggu terapi (Capellini, 2006).
Jantung
Anatomi

11

Gambar 2. Anatomi Cor (Jantung)


(Pabst & Putz, 2006)
Jantung merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke
berbagai bagian tubuh. Jantung dibungkus oleh suatu selaput yang disebut
perikardium. Jantung terdiri atas lapisan tebal otot jantung, yaitu epicardium
(luar), myocardium (tengah), dan endocardium (dalam). Jantung bertanggung jawab
untuk mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep yang melengkapinya.
Untuk mejamin kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik (Martini,
2009).

Besi Berlebih pada Jantung


Akumulasi besi di dalam myocardium (otot jantung) bisa menyebabkan
cardiomyopathy, dan cardiomyopathy ini merupakan penyebab kematian utama
pada pasien yang menerima transfusi darah yang lama (Gujja, 2010).
Deposisi besi di jantung merupakan proses berkala dan tergantung pada
peningkatan jumlah besi serum. Jika di bawah homeostasis besi normal, besi di
jantung diatur melalui mekanisme uptake transferin sebagai transporter. Jika
berada dalam keadaan kelebihan besi, maka transferin akan tersaturasi, dan besi
yang tidak terikat dengan transferin akan dilepas ke sirkulasi dan memasuki
myosit jantung dalam bentuk ferrous. Besi kemudian diikat dengan feritin dan
ditransportasikan ke lisosom untuk dihancurkan dan penyimpanan dalam jangka
waktu yang lama di myosit jantung (Gujja, 2010).
Deposisi besi yang patologis dimulai di epicardium kemudian meluas ke
myocardium dan kemudian ke endocardium. Ketika kapasitas antioksidan dari sel
melewati batas, besi dikatalisasi oleh reaksi Fenton dan menghasilkan ion
hidroksil, yang merupakan radikal bebas reaktif yang sangat ekstrim yang
menyebabkan peroksidasi lipid yang menghasilkan peningkatan permeabilitas
membran. Modifikasi seperti ini akan menyebabkan kekurangan enzim hidrolitik
yang menginisiasi kerusakan sel dan berlanjut menjadi kerusakan myosit jantung
(otot jantung). Jika keadaan seperti ini bersamaan dengan iskemi myocardium,
deposisi besi berlebih akan mempercepat iskemi ddan menyebabkan proses
autkatalisis yang menghasilkan keadaan yang disebut proses cardiomyopathy
(Gujja, 2010).
Kunyit (Curcuma domestica Val.)

12

Kandungan

Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica Val.)


(Sumber: http://herbadantumbuhan.blogspot.com/2011/08/kunyit-bukan-sekadarramuan-untuk.html)

Indonesia memiliki lebih kurang 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies
di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat obat, salah satunya adalah kunyit
(Curcuma domestica Val.). Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan
bersifat tahunan yang tersebar di daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan
liar di sekitar hutan/ bekas kebun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia
Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina
(Kartasapoetra, 2005).
Klasifikasi kunyit:
Divisio
: Spermatophyta
Sub-divisio : Angiospermae
Kelas
: Monocotyledoneae
Ordo
: Zingiberales
Famili
: Zungiberaceae
Genus
: Curcuma
Species
: Curcuma domestica Val. (Kloppenburg-Versteegh, 1988).
Kandungan kimia kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang
disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan
bisdesmetoksikurkumin dan zat- zat manfaat lainnya. Kandungan Zat :
Kurkumin : R1 = R2 = OCH3 10 % Demetoksikurkumin : R1 = OCH3, R2 = H 1
- 5 % Bisdemetoksikurkumin: R1 = R2 = H sisanya Minyak asiri / Volatil oil
(Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen,
borneol dan sineil ) Lemak 1 -3 %, Karbohidrat 3 %, Protein 30%, Pati 8%,
Vitamin C 45-55%, Garam-garam Mineral (Zat besi, fosfor, dan kalsium) sisanya
(Aggarwal et al., 2003).
Mekanisme Sebagai Antioksidan Akibat Besi Berlebih
Di alam, kurkumin selalu terdapat bersama dengan senyawa turunan
lainnya yaitu demetoksikurkumin dan bis-demetoksikurkumin, yang dikenal
dengan nama kurkuminoid. Kurkumin praktis tidak larut dalam aquadest, tetapi
larut dalam pelarut organic. Kurkumin telah banyak diteliti dan dapat digunakan

13

antara lain sebagai antiinflamasi, antitrombosis, antioksidan, antiparasitik,


antimicrobial (Hadiprabowo, 2009). Kurkumin juga memiliki potensi sebagai zat
antioksidan sebagai sistem perlindungan terhadap radikal bebas.

Gambar 4. Mekanisme kurkumin sebagai antioksidan


(Sumber: http://www.sciencedirect.com)
Keterangan:
Cur
: Curcumin
Selain sebagai antioksidan, kurkumin juga dapat mengikat besi sehingga besi
tidak mengkatalisis pembentukan radikal bebas dan dapat dikeluarkan melalui
urin atau feses (Messner et al, 2009).
Pihak-Pihak Terkait
Thalasemia telah menimbulkan berbagai masalah kesehatan dunia
terutama Negara-negara berkembang, sehingga WHO telah mencantumkan
program penanganannya. Keberadaan penyakit tersebut di Indonesia, harus
dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama terkait
komplikasi hemosiderosis dan hemokromatosis, yaitu penumpukan zat besi dalam
jaringan tubuh akibat penyerapan besi yang berlebih yang dapat menyebabkan
kerusakan organ tubuh seperti: hati, limpa, ginjal, jantung, tulang, dan pankreas .
Kelebihan besi ini paling banyak menyebabkan mortalitas dan morbiditas pada
penderita thalasemia sehingga harus mendapat perhatian dari berbagai pihak,
antara lain:
1. Ilmuwan dan peneliti
2. Pemerintah
3. Tenaga medis dan paramedis

14

4. Masyarakat, terutama yang tergabung dalam YTI (Yayasan Thalasemia


Indonesia), POPTI (Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia),
dan penderita thalasemia.
Keempat pihak inilah yang berperan penting dalam mengatasi
permasalahan pada penderita thalasemia. Oleh karena itu diperlukan kerja sama
dari keempat pihak ini untuk mengimplementasikan gagasan dalam penulisan ini
sehingga dapat meringankan beban hidup dan meningkatkan kualitas hidup
penderita thalasemia.
Langkah Strategis
Untuk mengimplementasikan pemanfaatan ekstrak kunyit (Curcuma
domestica Val.) sebagai kelasi besi pada penderita terfokus pada uji praklinik
farmakologis dengan subjek hewan uji (tikus wistar). Uji praklinik dimaksudkan
untuk mengetahui apakah ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) dapat
bermanfaat sebagai kelasi besi dan tetap aman dipakai atau dapat menimbulkan
efek toksik. Uji praklinik ini dapat dipakai sebagai acuan untuk menentukan
apakah ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.) dapat diteruskan dengan uji pada
manusia atau tidak.
Uji praklinis pada tikus wistar ini dilakukan dengan menginduksi FeNa kepada
tikus. Hal ini dimaksudkan agar kondisi tikus pun mengalami kadar besi berlebih
dalam tubuhnya sama seperti kondisi pada penderita thalasemia yang mendapat
transfusi darah berulang.
Perlakuan yang akan dilakukan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
1. Kontrol positif (FeNa)
2. Kontrol negatif (tanpa intervensi)
3. FeNa + desferoksamin
4. FeNa + ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.)
Pada akhir perlakuan akan dilakukan pemeriksaan secara histopatologi pada
organ-organ vital, terutama hepar. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk
mengetahui efektifitas kelasi besi dari ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.)
terhadap pencegahan kerusakan organ.

15

Gambar 7. Pengembangan uji praklinik hingga uji klinik


(Sumber: http://lansida.blogspot.com/2010/09/pengetahuan-dasar-farmakologiklinik.html)
KESIMPULAN
Gagasan yang Diajukan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ekstrak kunyit
(Curcuma domestica Val.) dapat dimanfaatkan sebagai kelasi besi pada penderita
thalasemia. Kunyit mengandung kurkumin yang mampu membersihkan darah dari
radikal bebas dan racun zat-zat metal terutama zat besi di dalam tubuh untuk
kemudian dibuang melalui urin dan feses sehingga dapat melindungi organ-organ
tubuh terutama jantung dari kerusakan. Diharapkan dengan adanya gagasan ini,
kualitas hidup pasien thalasemia dapat semakin meningkat dan baik.
Teknik Implementasi
Teknik implementasi pemanfaatan ekstrak kunyit (Curcuma domestica
Val.) ini terfokus pada uji praklinik farmakologis dengan menggunakan subjek
penelitian berupa hewan coba (tikus wistar) yang diinduksi FeNa dan diperiksa
histopatologi organnya, terutama hepar.
Prediksi Hasil
Output dari gagasan ini adalah terciptanya suatu bahan atau obat kelasi
besi bagi penderita thalasemia yang terjangkau dan dapat ditemukan di manamana sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien thalasemia yang
mendapatkan transfusi darah berulang.
DAFTAR PUSTAKA

16

Abd El-Baky, Atef E. 2011. Protective Effect of Curcuma Longa Against Iron
Overload on Pancreatic -cell Function and Sorbitol Metabolism. Australian
Journal of Basic and Applied Science. Vol. 5(2): 90-99
Aggarwal, Bharat B., Anushree Kumar., dan Alok C.B. 2003. Anticancer Potential
of Curcumin: Preclinical and Clinical Studies. Anticancer Research. Vol.23:
363-398
Capellini MD., Cohen A., Piga A. 2006. A Phase 3 Study of Deferosirox
(ICL670): A Once aily Oral Iron Chelator in Patients with -Thalassemia.
Blood. Vol.107(9): 3455-3462
El-Maraghy, Shohda A., Sherine M. Rizk., dan Maha M. El-Sawalhi. 2009.
Hepatoprotective Potential of Crocin and Curcumin Against Iron OverloadInduced Biochemical Alterations in Rat. African Journal of Biochemistry
Research. Vol.3 (5): 215-221
Ganie, Ratna Akbari. 2005. Thalassemia: Permasalahan dan Penanganannya.
Makalah disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Gru Besar Tetap
FK USU. Medan: Universitas Sumatera Utara
Gujja, Pradeep., Douglas R. Rosing, Dorothy J. Tiphodi, et al. 2010. Iron
Overload Cardiomyopathy: Better Understanding of an Increasing Disorder.
Journal of The American College of Cardiology. Vol 56: 1001-1010
Hadiprabowo, Timur. 2009. Optimasi Sintesis Analog Kurkumin 1,3-Bis- (4Hidroksi-3-Metoksi Benzilidin) Urea pada Rentang pH 3-4. Skripsi. Fakultas
Farmasi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Kartasapoetra, G. 2005. Budidaya tanaman berkhasiat obat: kunyit (kunir).
Jakarta: PT. Rineka Cipta. Hal:60
Khan, F. UR., M. H. Khan Tariq Ayub, et al. 2007. Frequency of Complications In
Beta Thalassemia Major In D. I.Khan. Biomedica. Vol 23: 31-33.
Kloppenburg-Versteegh, J. 1988. Petunjuk lengkap mengenai tanaman-tanaman
di Indonesia dan khasiatnya sebagai obat-obatan tradisional (kunir atau
kunyit-Curcuma domestica Val.) Jilid 1: bagian Botani. Yogyakarta: CD.RS.
Bethesda. Hal:102-103
Kremastinos, Dimitrios T., Farmakis Dimitrios, Athanasios Aessopos et al. 2010.
-Thalassemia Cardiomyopathy : History, Present Considerations, and Future
Perspective. Circulation Heart Failure. Vol 3: 451-458
Martini, Frederich. 2009. Fundamentals of Anatomy & Physiology. Edisi 8th.
USA : Pearson Benjamin Cummings.
Messner, J.D., Gowsala, S., Kris, V.K. 2009. Curcumin Reduces The Toxic Effect
of Iron Loading in Rat Liver Epithelial Cells. Liver Int. Vol. 29 (1): 63-72
Pabst, R; Putz, R. 2006. Atlas Anatomi Manusia : Sobotta Ed.22. Bagian II.
Jakarta : EGC.
Priyantiningsih, Dewi Ratih. 2010. Pengaruh Deferasirox terhadap Kadar T4 dan
TSH pada Penderita -Thalassemia Mayor dengan Ferritin yang Tinggi.
Tesis. Pasca Sarjana Magister Ilmu Biomedik. Semarang: Universitas
Diponegoro

17

The Thalassaemia International Federation (TIF). 2008. Guidelines for the


Clinical Management of Thalassaemia. 2nd Revised Edition. Cyprus:
Thalassaemia International Federation Press
Vichinsky E. 2008. Oral Iron Chelators and the Treatment of Iron Overload in
Pediatric Patients with Chronic Anemia. Pediatrics. Vol.121(6): 1253-1256
Wahyuningsih, Merry. 2011. Penderita Thalassemia Paling Banyak Ada di Jateng
dan
Jabar.
Available
from
URL:
http://www.detikhealth.com/read/2011/05/05/084356/1632834/763/oenderitathalassemia-paling-banyak-ada-di-jateng-dan-jabar. diakses pada tanggal 3
Februari 2012
WHO.
2012.
Genetic
Diseases.
Available
from
URL:
http://www.who.int/genomics/public/geneticdiseases/en/index2.html. diakses
pada tanggal 1 Februari 2012
LAMPIRAN
CURRICULUM VITAE
1. Nama

: Radita Ikapratiwi

TTL
No. HP
Email
2. Nama

: Jakarta, 2 Juni 1992


: 085726281421 / 085695509685
: raditaikapratiwi@yahoo.com
: Yuni Hanifah

Tempat, tanggal lahir


No. hp
3. Nama

: Bogor, 3 Juni 1991


: 08569898922

: Aras Nurbarich Agustin


Tempat, tanggal lahir
No. hp
Email

4. Nama
NIM
No. HP
Email
5. Nama
TTL
No. HP
Email

: Serang, 6 Agustus 1990


: 085647854895
: pasga_04@yahoo.com

: Nahiyah Isnanda
: G1A010098
: 0857 2743 6961
: nahiyahisnanda@gmail.com
: Elma Laeni Barokah
: Banyumas, 17 April 1992
: 0852 2788 0883
: elmalaenibarokah@yahoo.com