Anda di halaman 1dari 13

Resume.

Diskusi makalah perbankan syariah


(Disusun untuk memenuhi tugas MID mata kuliah Perbankan Syariah)
Dibimbing oleh Dosen, Ibu Eva Iryani S.Pd.i.,
Di Susun Oleh:

Muhammad Amir
ERC1A012214
Kelas C (Konsentrasi Ekonomi islam dan perbankan syariah )
Fakultas EKONOMI dan BISNIS (Program studi Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan).

1.

Perbangkan syariah
Perbankan syariah pertama kali muncul di Mesir , mengambil bentuk sebuah bank
simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota Ghamr pada tahun1963.
Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia. Berdiri tahun
1991, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah serta
dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha
muslim. Saat ini keberadaan bank syariah di Indonesia telah di atur dalam Undangundang yaitu UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan, UU No. 7 tahun 1992 tentang
Perbankan.
Hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat
Indonesia, Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah. Sementara itu bank umum
yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank
besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero) dan Bank Rakyat Indonesia (Persero).

A. KONSEP SYARIAH ATAU SYARI

Ditinjau dari sudut etimologi (bahasa) syariah bermakna jalan yang lurus. Sedangkan
makna terminologi (definisi), syariah adalah undang-undang atau peraturan-peraturan
yang mengatur hubungan antara manusia dengan pencipta (Allah SWT), serta hubungan
antara manusia dengan manusia.

Penerapan syariah dalam setiap kehidupan manusia bertujuan agar manusia memiliki

martabat dan derajat yang lebih tinggi dari mahluk lain ciptaan Allah SWT.
Syariah mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan oleh seorang muslim dengan

aturan-aturan halal dan haram, serta perilaku baik dan buruk.


Syariah bertumpu pada kekuatan iman dan budi pekerti (akhlak) serta memiliki
implikasi balasan baik di dunia maupun di akhirat. Panduan dalam pengamalan
syariah mengacu kepada dua sumber hukum Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah
Nabi Muhammad SAW.
Perintah untuk menjalankan syariah antara lain tertuang dalam Al-Quran Surat 45 (Al-

Jaatsiyah) Ayat 18, yang berbunyi:


Kemudian Kami jadikan kamu (ya Muhammad) berada di atas syariat (peraturan)
dair urusan (agama), maka ikutilah syariat itu dan jangan kamu ikuti hawa nafsu
orang-orang yang tidak berilmu.

B. KONSEP PERBANKAN SYARIAH

Perbankan syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang
pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah).
Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk
meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba),
serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram).

C. PRINSIP BANK SYARIAH

Dalam menjalankan usahanya, bank syariah harus tetap berpedoman pada nilai-nilai
syariah. Prinsip itu berpedoman pada Alquran dan Hadits. Prinsip yang diterapkan bank
syariah meliputi :
Prinsip pengharaman riba : Prinsip ini tercermin dari praktek pengelolaan dana
nasabah. Dana yang berasal dari nasabah penyimSpan harus jelas asal usulnya.
Sedangkan penyalurannya harus dalam usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan

syari.
Prinsip keadilan : Prinsip ini tercermin dari penerapan sistem bagi hasil dan

pengambilan keuntungan berdasarkan hasil kesepakatan dua belah pihak.


Prinsip Kesamaan : Prinsip ini tercermin dengan menempatkan posisi nasabah serta
bank pada posisi yang sederajat. Kesamaan ini terwujud dalam hak, kewajiban,

risiko dan keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah
pengguna dana maupun bank.

2. Bank Syriah Vs Bank Konvensional


Ciri-ciri Bank Syariah dan Bank konvensional.

Bank syariah
Adapun ciri-ciri dari bank syariah adalah:
Berdimensi keadilan dan permintaan
Didalam bank syariah dilakukan dengan cara bagi hasil (mudharabah dan musyarakah)
dengan bagi hasil ini tidak akan muncul kerugian yang hanya dialami oleh satu pihak,
karna resiko keuntungan dan kerugian yang diperoleh di tanggung bersama.
Bersifat mandiri
Karna prinsip oprasional bank syariah tidak menggunakan bunga, maka secara otomatis
akan terlepas dari gejoalk moneter sehinggah bank syariah dapat berjaln tanpa
dipengaruhi invlasi dan bank syariah mendorng adanya investasi.
Menciptakan rasa kebersamaan
Dalam oprasionalnya bank syaraih berupaya menciptakan kebersamaan antara sebagai
pemilik modal dengan nasabahnyasebagai pengelola modal
Adanya dewan pengawas syariah
Sebagai pembela diri bank konvensonal adalah dengan adanya dewan pengawas syariah
(DPS)yang ditempatkan pada bank-bank yang melakukan kegiatan syariah ataukegiatan
usaha berdasarkan prinsip syaiah.
Adapun karakter khusus dari bank syariah adalah:
-Universal.
Yaitu bank syariah hadir untuk melayani setiap orang tanpa memandang kemampuan
ekonomi dan agama.
-Adil
Memberikan pada sesuatu yang berhak serta memperlakukan sesuatu denagandengan
posisinya dan melarang unsur maysir (sepekulasi atau utang-utangn), gharar(ketidak
jelasan) haram dan riba
-Trasparan
Kegiatan bank syariah sangat terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat
-Seimbang
Mengembngkan sector keungan melaluiaktipitas perbankan syariah yang mencakup
pengembangkan sector rill dan umkm
-Maslahat
Bank syariah hadir dengan misi membawa manfaat dan kebaikan bagi seluruh aspek
kehidupan.
-Variatif
Produk bank syariah sangat varitif (bervariasi)apa yangada di bank konvensonal dapat
dilaksanakan sepanjang tidak melanggar syariat islam.
-Fasilitas
Fasilitas pada bank syariah adalah penerimaan dan penyaluran ZIS (zakat, infak dan
sedekah)< wakaf dana kebijakan (gard)juga memiliki fasilitas ATM<mobile banking<
internet banking dan sebagainya.

Bank konvensional.
Ciri-ciri perbankaan konvensonal;
Membayar kadar faedah atas deposit dan pada penyimpanan
Bank konvensonal menyediakan akun simpanan tetapdan akun simpanan untuk
mengumpulkan deposit dan pada para pembayaran dengan cara membayar faedah.
Mengenakan faedah atas pinjaman yang diberikan kepada peminjam atau pilabur.
Bank konvensonal mengandalkan prinsip keuntunganmaksimum dalam
pelaburannya asal kan tidak bertentangan dengan undang-undang Negara.
Bank konvensoanl kurang menitik beratkan unsur spiritual atau keagamaan dalam
oprasional walau bagaimnapun bank konvensonal turt menjalan kan social.
A. Perbedaan bank syariah dan bank konvensonal Perbedaan yang mendasar antara bank
syariah dan bank konvensonal antara lain;
Perbedaan falsafah
Bank syariah tidak melaksanakan system bunga sementara bank konvensional
mengunakan bunga.
Konsep pengelolaan dana nasabah
Dalam bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan ataupun investasi, dan
berbeda dengan deposito pada bank konvensonal dimana devosito upaya membungakan
uang konssep dana titipan menjadi sangat likuid.
Kewajiban mengelola zakat
Bank syariah di wajibkan menjadi pengelola zakatyaitu dalam arti wajib membayar
zakat, menghimpun, mengadministrasikan dan mendistribusikan
Sruktur organisasi
Dalam bank syariah diharuskakn adanya dewan pengawas syariah (DPS) dan DPS
slalu diawasi oleh Dewan syariah Nasional DSN. DSN dapat memberikan teguran jika
lembaga yang bersangkutan menyimpang.
Perbedaan lain antara Bank Syariah dan Bank Konvensional
Syariah.
-Melakukan investasi halal menurut
hukum islam.
-Memakai prinsip akad (keuntungan
di awal),bagi hasil, dan sewa.
-Berinvestasi keuntungan falah
(kebahagiaan dunia akhirat).
-Hubungan nasabah dengan bentuk
kemitraan.

-Menghimpun dan pengeluaran dana


sesuai
dengan
fatwa
dewan
pengawas syariah.
Konvensional.
-Melakukan investasi yang halal
maupun haram menurut hukum islam.
-Memakai prinsip suku bunga.
-Berorientasi pada keuntungan.
-Hubungan dalam bentuk kreditur dan
debitur.
-Menghimpun dana pengeluaran dana
tidaak diatur dewan sejenis.

B. Persaman bank syariah dan bank konvensional


Meski secara prinsip operasi bank syariah jelas berbeda dengan bank konvensional
keduanya memiliki persamaan misalnya;
Sama-sama menjalankan fungsi bank (menghimpun dana, mengelola, dan
mengeluarkan dana).
Memiliki Pegawai laki-laki dan permpuan
Sama-sama memiliki pegawai yang paham maupun yang awam terhadap agama
islam
Harus patuh pada UU perbankan dan perturan bank Indonesia.

3. Produk-produk bank syariah

Berikut ini jeis-jenis produk bank syariah yang ditawarkan adalah sebagai berikut:
A . Al-wadiah (Simpanan)
Al-Wadiah atau dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan
murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus
dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si penitip menghendaki.
B . Pembiayaan Dengan Bagi Hasil
Al-musyarakah (Partisipasi Modal)
Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk melakukan
usaha tertentu.
Al-mudharabah
Pengertian Mudharabah dapat didefinisikan sebagai sebuah akad atau perjanjian
diantara dua belah pihak, dimana pihak pertama sebagai pemilik modal (shahib al-mal
atau al-mal), memercayakan kepada pihak kedua atau pihak lain (pengusaha), untuk
menjalankan suatu aktivitas atau usaha.
Al-muzaraah
Pengertian AI-muzaraah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik
lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap untuk
ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen.
Al-musaqah
Pengertian AI-musaqah merupakan bagian dari al-muzaarah yaitu penggarap hanya
bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan dengan menggunakan dana dan
peralatan mereka sendiri.
C . Baial Murabahah
Pengertian Baial-Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok
dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dulu
memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang diinginkannya.
D . Baias-Salam
Baias-salam artinya pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sedangkan
pembayaran dilakukan di muka.
E . Baial Istishna
Bai Al istishna merupakan bentuk khusus dari akad Baiassalam, oleh karena itu
ketentuan dalam Bai` Al istishna mengikuti ketentuan dan aturan Baias-salam.
Pengertian Bai Al istishna adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen
(pembuat barang).

F . Al-Ijarah (Leasing)
Pengertian Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa,
melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas
barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan leasing,
baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease.
G . Al-Wakalah (Amanat)
Wakalah atau wakilah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian
mandat dari satu pihak kepada pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan
yang telah disepakati oleh si pemberi mandat.
H . Al-Kafalah (Garansi)
Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan penanggung kepada pihak ketiga
untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dapat pula diartikan
sebagai pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lain.
I . Al-Hawalah
Al-Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang
lain yang wajib menanggungnya. Atau dengan kata lain pemindahan beban utang dari
satu pihak kepada lain pihak. Dalam dunia keuangan atau perbankan dikenal dengan
kegiatan anjak piutang atau factoring.
J . Ar-Rahn
Ar-Rahn merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai
jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini dilakukan seperti jaminan
utang atau gadai.

4. Pengertian dan konsep Wadiah.


Kata wadiah berasal dari wada asy syai-a,yaitu meninggalkan sesuatu. Sesuatu yang
orang tinggalkan pada orang lain agar dijaga disebut wadiah. Karena dia meninggalkannya
pada orang yang sanggup menjaganya. Secara harfiah al wadiah dapat diartikan sebagai
titipan murni dari suatu pihak ke pihak lain,baik individu maupun badan hukum, yang harus
dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya.
A. Dasar hukum wadiah
Dalam Alquran ditegaskan ,sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya. (QS.AN-Nisa/:58.dan sebagian kamu
mempercayai sebagian yang lain ,maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan
amanatnya(utangnya)(QS.Al-Baqarah:283).
B. Syarat Wadiah
1. Orang Yang Berakad
Adalah Muwadi Sebagai Orang Yang menitipkan Barangnya dan Mustaudah Sebagai
Orang yang di titip barang (Penerima Barng) orang Yang berakad hendaklah orang yg
sehat di antaranya yaitu:
Baligh
Beakal
Kemauan sendirian,tanpa di paksa
2. Barang titipan
Barang Yang dititpkan Harus Jelas dan dapat dipegang atau dikuasai

3. Sighah (Akad)
Syarat Sighah yaitu kedua belah pihak melepaksak akhad yaitu orang yang
menitipkan (Muwadi dan orang yang di beri titipan.
C. Rukun wadiah
berpendapat bahwa rukun wadiah adalah ijab dan Kabul. Sedangkan menurut jumhur
ulama rukun wadiah ada 4, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Muwaddi ( orang yang menitipkan )


WadiI ( orang yang dititipi barang )
Wadiah ( barang yang dititipkan )
Shigot ( Ijab dan qobul )

D. Jenis-Jenis Wadiah
1. Wadiah Yad Amanah
Adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima (Wadii) tidak
diperkenankan penggunaan barang/uang dari si penitip (Muwaddi) tersebut dan tidak
bertanggung jawab atas kerusakan atau kelalaian yang bukan disebabkan oleh kelalaian
si penerima titipan (Wadii).
2. Wadiah Yad Dhamanah (guarantee depository)
Akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima titipan dapat memanfaatkan
barang/uang titipan dan harus bertanggung jawab terhadap kehilangan atau kerusakan
barang/uang titipan.

5. Mudharabah
Mudharabah dapat di definisikan sebagai sebuah perjanjian antara dua belah pihak
dimana satu pihak, pemilik modal (shahibul mal) mempercayakan sejumlah dana
kepada pihak lain, pengusaha (mudharib) untuk menjalankan suatu aktivitas usaha.
Sedangkan dalam ilmu Fiqih Mudharabah didefinisikan sebagai akad persekutuan
dalam keuntungan dengan modal dari satu pihak dan kerja dari pihak lain.
A . Dasar Hukum Mudharabah
Secara umum dasar hukum al mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk
melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadits sebagai berikut :
a. AlquranArtinya : dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari
sebagian karunia Allah SWT... (Al-Muzzamil : 20)
Artinya : Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi;
dan carilah karunia Allah (al-Jumuah: 10)
Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. (AlBaqarah: 198)
b. Al-Hadits
Dari shalih bin shuhaib ra. Bahwa rasulullah saw bersabda, tiga hal yang
didalamnya terdapat tiga keberkatan : jual beli secara tangguh, muqharadah

(mudharabah), dan mencampur gandum untuk keperlan rumah, bukan untuk dijual.
(HR. Ibnu Majah)
c. Ijma
d. Qiyas
B . Jenis-jenis Mudharabah.
a. Mudharabah Muthlaqah.
Mudharabah Muthlaqah adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudharib yang
cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah
bisnis.
b. Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah
Muqayyadah atau

disebut

juga

dengan

istilah restricted

mudharabah/specifiedmudharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah. Si


mudarib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha.
C . Syarat-syarat Mudharabah
1. Syarat Aqidani
Disyaratkan bagi orang yang akan melakukan akad, yakni pemilik modal dan
pengusaha adalah ahli dalam mewakilkan atau menjadi wakil.
ulama malikiyah memakruhkan mudharabah dengan kafir dzimmi jika mereka tidak
melakukan riba.
2. Syarat Modal
-Modal harus berupa uang atau sejenisnya yang memungkinkan dalam pekongsian
(Asy-Syirkah).
-Modal arus jelas dan memiliki ukuran
-Modal tidak berupa hutang
-Modal harus diberikan kepada pengusaha.
- Syarat-Syarat Laba
E. Ketentuan-Ketentuan Dalam Mudharabah
1. Modal mudharabah harus berupa mata uang penuh yang ditentukan sewaktu akad
dan diserahkan kepada pihak pengusaha setelah selesai ijab sesuai dengan yang telah
disepakati.
2. Pembagian keuntungan tidak sah jika hanya dilakukan sebelah pihak.
3. Dasar dari pembiayaan mudharabah adalah modal berasal dari pihak pemodal
sedang kerja dilakukan oleh pihak pengusaha.
4. Jika dalam usaha megalami kerugian maka kerugian ditanggung oleh pihak pemodal.
5. Mudharabah dapat dibubarkan oleh pemilik modal pada waktu kapanpun sebelum
usaha tersebut dimulai.
6. Usaha yang dijalankan harus halal.
7. Mudharabah harus dilakukan oleh dua pihak dan disahkan oleh hokum yang berlaku.
8. Dilarang mencampur adukan harta mudharabah dengan harta pribadi atau harta
lainnya.
9. Perjanjian mudharabah selesai dengan jangka waktu yang telah disepakati atau
meninggalnya salah satu pihak.

10. Jika terjadi pembatalan maka modal dan untung harus dikembalikan kepada
pemodal, dan pengusaha berhak menuntut upah atas usaha yang sudah dijalankan.
11. Jika terjadi suatu kerusakan maka kerusakan tersebut dapat diganti dari keuntungan
yang sudah ada.
F. Rukun Mudharabah
Para ulama berbeda pendapat tentang rukun mudharabah. Ulama Hanafiyah
berpendapat bahwa rukun mudharabah adalah ijab dan qabul.
Jumhur ulama berpendapat bahwa rukun mudharabah ada tiga yaitu:
1. Dua orang yang melakukan akad (al-aqidani)
2. Modal (maqudalaih)
3. Sighat (ijab dan qabul)
ulama salafiyah lebih merinci menjadi lima rukun, yaitu modal, pekerjaan, laba,
sighat,dan dua orang yang akad.
imam Al Syarbini dalam Syarh Al Minhaaj menjelasakan bahwa rukun Mudharabah ada
lima, yaitu Modal, jenis usaha, keuntungan, pelafalan transaksi dan dua pelaku
transaksi. Ini semua ditinjau dari perinciannya dan semuanya tetap kembali kepada tiga
rukun di atas.
H. Berakhirnya Usaha Mudharabah
Berakhirnya suatu usaha mudharabah dapat terjadi apa bila terjadi hal-hal
sebagai berikut :
1. Debitur telah membayar lunas atas modal yang diterimanya.
2. Pembatalan perjanjian mudharabah yang dilakukan oleh pihak debitur.
3. Musnahnya objek pembiayaan.
4. Terjadinya kerugian total yang dialami oleh kreditur sehingga menyebabkan tidak
sanggupnya mengembalikan modal dari debitur.
5. Kreditur mengakhiri pembiayaan apabila usahanya mengalami kerugian terus menerus.

********************************
Nama: Muhammad Amir
Nim: ERC1A012214
Kelas: C (Konsentrasi Ekonomi islam dan perbankan syariah ).
Fakultas EKONOMI dan BISNIS (Program studi Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan).

Soal 2 : Buatlah contoh daripada konsep pelaksanaan Iljarah (Leasing) dan jelaskan
perbedaan dengan leasing konvensional ?
Konsep pelaksanaan ijarah antara lain adalah:
Adanya Rukun dan Syarat Sahnya Akad Ijarah

Secara hukum, agar ijarah (sewa-menyewa) memiliki kekuatan hukum maka harus
memenuhi rukun dan syaratnya. Rukun ijarah meliputi

adanya para pihak sebagai konsekuensi adanya subyek hukum yaitu penyewa dan

pemberi sewa,
adanya objek yang disewakan yaitu baik berupa benda yang memberikan manfaat

atau jasa yang diberikan,


3 harus ada ijab dan qabul dari para pihak sebagai konsekuensi pelafazan.
Adapun syarat sahnya akad ijarah harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1 Mukjir dan mustakjir harus tamyiz, berakal sehat dan tidak ditaruh dibawah
2
3
4
5

pengampuan,
Mukjir adalah pemilik sah dari objek sewa,
Masing-masing pihak rela untuk melakukan perjanjian sewa-menyewa,
Harus jelas dan terang mengenai objek yang diperjanjikan,
Objek sewa dapat digunakan sesuai dengan peruntukan atau mempunyai nilai

6
7
8

manfaat,
Objek sewa dapat diserahkan,
Kemanfaatan objek yang diperjanjikan adalah yang dibolehkan oleh agama, dan
harus ada kejelasan mengenai berapa lama suatu objek ijarah itu akan disewakan dan
harus jelas harga sewa atas objek tersebut.

Setelah terpenuhinya rukun dan syarat dari akad ijarah tersebut, maka akad tersebut sah dan
mempunyai kekuatan hukum. Jika telah memiliki kekuatan hukum, maka konsekuensi
yuridisnya perjanjian tersebut harus dilaksanakan dan ditaati dengan itikad baik oleh
pemberi sewa dan penyewa.
Jenis Akad Ijarah
Dilihat dari sisi obyeknya, akad ijarah dibagi menjadi dua, yaitu:
1 Ijarah manfaat (Al-Ijarah ala al-Manfaah), hal ini berhubungan dengan sewa
jasa, yaitu memperkerjakan jasa seseorang dengan upah sebagai imbalan jasa yang
disewa.
-

Pihak

yang

mempekerjakan

disebut mustajir,

disebut ajir, upah yang dibayarkan disebut ujrah.


Misalnya: sewa menyewa rumah, kendaraan,

pakaian

pihak
dll.

pekerja

Dalam

hal

ini mujir mempunyai benda-benda tertentu dan mustajir butuh benda tersebut dan
terjadi kesepakatan antara keduanya, di mana mujir mendapatkan imbalan tertentu
2

dari mustajir dan mustajir mendapatkan manfaat dari benda tersebut.


Ijarah yang bersifat pekerjaan (Al-Ijarah ala Al-Amal),
hal ini berhubungan dengan sewa aset atau properti, yaitu memindahkan hak
untuk memakai dari aset atau properti tertentu kepada orang lain dengan imbalan
biaya

sewa.

Bentuk ijarah ini

mirip

denganleasing (sewa)

di

bisnis

konvensional. Artinya, ijarah ini berusaha mempekerjakan seseorang untuk


melakukan sesuatu. Mujir adalah orang yang mempunyai keahlian, tenaga, jasa dan
lain-lain, kemudian mustajir adalah pihak yang membutuhkan keahlian, tenaga atau
jasa tersebut dengan imbalan tertentu. Mujir mendapatkan upah (ujrah) atas tenaga
yang ia keluarkan untuk mustajir dan mustajir mendapatkan tenaga atau jasa
-

dari mujir.
Misalnya: yang mengikat bersifat pribadi adalah menggaji seorang pembantu rumah
tangga, sedangkan yang bersifat serikat, yaitu sekelompok orang yang menjual
jasanya untuk kepentingan orang banyak. (Seperti; buruh bangunan, tukang jahit,
buruh pabrik, dan tukang sepatu
Ijarah bentuk pertama banyak diterapkan dalam pelayanan jasa perbankan syariah,

sedangkan ijarah bentuk kedua biasa dipakai sebagai bentuk investasi atau pembiayaan di
perbankan syariah. Selain dua jenis pembagian di atas, dalam akad ijarah juga ada yang
dikenal dengan namanya akad al-ijarah muntahiya bit tamlik (sewa beli), yaitu transaksi
sewa beli dengan perjanjian untuk menjual atau menghibahkan objek sewa di akhir periode
sehingga transaksi ini diakhiri dengan alih kepemilikan objek sewa. Dalam akad
inimustajir sama-sama dapat mempergunakan obyek sewa untuk selamanya. Akan tetapi
keduanya terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut ada dalam akad yang dilakukan di awal
perjanjian. Karena akad ini sejenis perpaduan antara akad jual beli dan akad sewa, atau
lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan penyewa atas barang yang
disewa melalui akad yang dilaksanakan kedua belah pihak.
Pembatalan dan Berakhirnya Ijarah
Ijarah adalah jenis akad tidak membolehkan adanya fasakh pada salah satu
pihak, karena ijarah merupakan akad pertukaran, kecuali bila didapati adanya hal-hal
yang mewajibkan fasakh.
Ijarah akan menjadi fasakh (batal) bila terdapat hal-hal sebagai berikut:
- Terdapat cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan penyewa.
- Barang yang disewakan hancur atau rusak.
- Rusaknya barang yang diupahkan, seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan.
- Akad ijarah dihentikan pada saat aset yang bersangkutan berhenti memberikan manfaat
-

kepada penyewa.
Terpenuhinya manfaat yang diakadkan, berakhirnya masa yang telah ditentukan dan

telah selesai pekerjaan.


Salah satu pihak meninggal dunia (Hanafi); jika barang yang disewakan itu berupa

hewan maka kematiannya mengakhiri akad ijaroh (Jumhur).


Kedua pihak membatalkan akad dengan iqolah.

Pengembalian Sewaan
Jika ijarah telah berakhir, penyewa berkewajiban mengembalikan barang sewaan,
jika barang tersebut dapat dipindahkan, ia wajib menyerahkan kepada pemiliknya, dan
jika bentuk barang sewaan adalah benda tetap, ia wajib menyerahkan kembali dalam
keadaan kosong, jika barang sewaan itu berupa tanah, ia wajib menyerahkan kepada
pemiliknya dalam keadaan kosong dari tanaman, kecuali bila ada kesulitan untuk
menghilangkannya.
Mazhab Hanbali berpendapat bahwa ketika ijarah telah berakhir, penyewa harus
melepaskan barang sewaan dan tidak ada keharusan mengembalikan untuk
menyerahterimakan seperti barang titipan.
Beberapa Contoh Aplikasi Ijarah Kontemporer
Ijarah
Ijarah adalah akad untuk memanfaatkan jasa, baik jasa atas barang ataupun jasa atas
tenaga kerja. Bila digunakan untuk mendapatkan manfaat barang, maka disebut sewamenyewa. Sedangkan jika digunakan untuk mendapatkan manfaat tenaga kerja, disebut
upah-mengupah. Pada ijarah, tidak terjadi perpindahan kepemilikan objek ijarah. Objek
-

ijarah tetap menjadi milik yang menyewakan.


Contoh : Pemilik kendaraan bermotor menyewakan kendaraannya dengan memperoleh
imbalan uang sewa. Seorang mandor memperoleh upah dari manfaat tenaga kerja yang
diberikan kepada pemilik proyek.

Ijarah al-Muwazy (Paralel)


Menyewakan barang kepada pihak ketiga, hukumnya dibolehkan, apabila pemilik
barang mengizinkannya. Apabila pemilik asset tidak mengizinkannya, maka penyewaan

kepada pihak ketiga tidak dibolehkan., Bank syariah dan BMT dapat menjadikan konsep
-

ini sebagai produk.


Contoh: seseorang yang ingin mengontrak rumah atau ruko secara cicilan perbulan,
sementara pemilik rumah atau ruko menginginkan pembayaran sekaligus pertahun atau
2 tahunan sekaligus. Masyarakat tersebut datang ke bank Islam untuk memohon
pembiayaan kontrak rumah. Salah satu akad yang paling suai untuk pembiyaan tersebut
adalah ijarah muwazi.

Perbedaan Ijarah dengan Leasing

Ijarah

Leasing

Objeknya berupa :

Objeknya :

Manfaat barang + jasa

Manfaat barang saja

Sistem pembayaran

Sistem pembayaran

1.

Bentuk tetap

2.

Bentuk tidak tetap

Kepemilikan :
1.

Tidak

Kepemilikan
dimiliki

ketika

1.

kontrak habis
2.

- Bentuk tetap

dimiliki

ketika

kontrak habis

Dijanjikan
dijual/dihibahkan

Tidak

untuk
di

awal

2.

Kesempatan untuk dibeli


pada akhir kontrak

periode kontrak.
Lease purchase /sewa beli :
Haram karena gharar (antara sewa
dan beli).

Lease purchase : tidak ada masalah.