Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

HEMATEMESIS

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Ners


Departemen Medikal

FARIDA AGUSTININGRUM
NIM : 105070201131007

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

A.

ANATOMI HATI
Hepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh manusia. Hepar pada
manusia terletak pada bagian atas cavum abdominis, di bawah diafragma, di
kedua sisi kuadran atas, yang sebagian besar terdapat pada sebelah kanan.
Beratnya 1200 1600 gram. Permukaan atas terletak bersentuhan di bawah
diafragma, permukaan bawah terletak bersentuhan di atas organ-organ
abdomen. Hepar difiksasi secara erat oleh tekanan intraabdominal dan
dibungkus oleh peritoneum kecuali di daerah posterior-superior yang
berdekatan dengan v.cava inferior dan mengadakan kontak langsung
dengan diafragma. Bagian yang tidak diliputi oleh peritoneum disebut bare
area.Terdapat refleksi peritoneum dari dinding abdomen anterior, diafragma
dan organ-organ abdomen ke hepar berupa ligamen.

Macam-macam ligamennya:
1. Ligamentum falciformis : Menghubungkan hepar ke dinding ant. abd dan
terletak di antara umbilicus dan diafragma.
2. Ligamentum teres hepatis = round ligament : Merupakan bagian bawah lig.
falciformis ; merupakan sisa-sisa peninggalan v.umbilicalis yg telah menetap.
3. Ligamentum gastrohepatica dan ligamentum hepatoduodenalis :Merupakan
bagian dari omentum minus yg terbentang dari curvatura minor lambung dan
duodenum sblh prox ke hepar.Di dalam ligamentum ini terdapat Aa.hepatica,
v.porta dan duct.choledocus communis. Ligamen hepatoduodenale turut
membentuk tepi anterior dari Foramen Wislow.
4. Ligamentum Coronaria Anterior kika dan Lig coronaria posterior ki-ka
:Merupakan refleksi peritoneum terbentang dari diafragma ke hepar.

5. Ligamentum triangularis ki-ka : Merupakan fusi dari ligamentum coronaria


anterior dan posterior dan tepi lateral kiri kanan dari hepar.
Secara anatomis, organ hepar tereletak di hipochondrium kanan dan
epigastrium, dan melebar ke hipokondrium kiri. Hepar dikelilingi oleh cavum
toraks dan bahkan pada orang normal tidak dapat dipalpasi (bila teraba berarti
ada pembesaran hepar). Permukaan lobus kanan dpt mencapai sela iga 4/ 5
tepat di bawah aerola mammae. Lig falciformis membagi hepar secara topografis
bukan scr anatomis yaitu lobus kanan yang besar dan lobus kiri.

Secara Mikroskopis
Hepar dibungkus oleh simpai yg tebal, terdiri dari serabut kolagen dan jaringan
elastis yg disebut Kapsul Glisson. Simpai ini akan masuk ke dalam parenchym
hepar mengikuti pembuluh darah getah bening dan duktus biliaris. Massa dari

hepar seperti spons yg terdiri dari sel-sel yg disusun di dalam lempenganlempengan / plate dimana akan masuk ke dalamnya sistem pembuluh kapiler
yang disebut sinusoid. Sinusoid-sinusoid tersebut berbeda dengan kapiler-kapiler
di bagian tubuh yang lain, oleh karena lapisan endotel yang meliputinya terediri
dari sel-sel fagosit yg disebut sel kupfer. Sel kupfer lebih permeabel yang artinya
mudah dilalui oleh sel-sel makro dibandingkan kapiler-kapiler yang lain
.Lempengan sel-sel hepar tersebut tebalnya 1 sel dan punya hubungan erat
dengan sinusoid. Pada pemantauan selanjutnya nampak parenkim tersusun
dalam lobuli-lobuli Di tengah-tengah lobuli tdp 1 vena sentralis yg merupakan
cabang dari vena-vena hepatika (vena yang menyalurkan darah keluar dari
hepar). Di bagian tepi di antara lobuli-lobuli terhadap tumpukan jaringan ikat yang
disebut traktus portalis/ TRIAD yaitu traktus portalis yang mengandung cabangcabang v.porta, A.hepatika, ductus biliaris.Cabang dari vena porta dan A.hepatika
akan mengeluarkan isinya langsung ke dalam sinusoid setelah banyak
percabangan Sistem bilier dimulai dari canaliculi biliaris yang halus yg terletak di
antara sel-sel hepar dan bahkan turut membentuk dinding sel. Canaliculi akan
mengeluarkan isinya ke dalam intralobularis, dibawa ke dalam empedu yg lebih
besar , air keluar dari saluran empedu menuju kandung empedu.

B.

FISIOLOGI HATI
Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan

sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 25% oksigen


darah. Ada beberapa fung hati yaitu:

1.

Fungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat


Pembentukan, perubahan dan pemecahan KH, lemak dan protein saling
berkaitan 1 sama lain.Hati mengubah pentosa dan heksosa yang diserap dari
usus halus menjadi glikogen, mekanisme ini disebut glikogenesis. Glikogen
lalu ditimbun di dalam hati kemudian hati akan memecahkan glikogen
menjadi glukosa. Proses pemecahan glikogen mjd glukosa disebut
glikogenelisis.Karena proses-proses ini, hati merupakan sumber utama
glukosa dalam tubuh, selanjutnya hati mengubah glukosa melalui heksosa
monophosphat shunt
mempunyai

beberapa

dan terbentuklah pentosa. Pembentukan pentosa


tujuan:

Menghasilkan

energi,

biosintesis

dari

nukleotida, nucleic acid dan ATP, dan membentuk/ biosintesis senyawa 3


karbon (3C)yaitu piruvic acid (asam piruvat diperlukan dalam siklus krebs).
2. Fungsi hati sebagai metabolisme lemak
Hati tidak hanya membentuk/ mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan
katabolisis asam lemak Asam lemak dipecah menjadi beberapa komponen :
1. Senyawa 4 karbon KETON BODIES
2. Senyawa 2 karbon ACTIVE ACETATE (dipecah menjadi asam lemak
dan gliserol)
3. Pembentukan cholesterol
4. Pembentukan dan pemecahan fosfolipid
Hati merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi
kholesterol .Dimana serum Cholesterol menjadi standar pemeriksaan
metabolisme lipid

3. Fungsi hati sebagai metabolisme protein


Hati mensintesis banyak macam protein dari asam amino. dengan proses
deaminasi, hati juga mensintesis gula dari asam lemak dan asam
amino.Dengan proses transaminasi, hati memproduksi asam amino dari
bahan-bahan non nitrogen. Hati merupakan

satu-satunya organ yg

membentuk plasma albumin dan - globulin dan organ utama bagi produksi
urea.Urea merupakan end product metabolisme protein. - globulin selain
dibentuk di dalam hati, juga dibentuk di limpa dan sumsum tulang globulin
hanya dibentuk di dalam hati.albumin mengandung 584 asam amino
dengan BM 66.000
4. Fungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah
Hati merupakan organ penting bagi sintesis protein-protein yang berkaitan
dengan koagulasi darah, misalnya: membentuk fibrinogen, protrombin, faktor
V, VII, IX, X. Benda asing menusuk kena pembuluh darah yang beraksi
adalah faktor ekstrinsi, bila ada hubungan dengan katup jantung yang
beraksi adalah faktor intrinsik.Fibrin harus isomer biar kuat pembekuannya
dan ditambah dengan faktor XIII, sedangakan Vit K dibutuhkan untuk
pembentukan protrombin dan beberapa faktor koagulasi.
5. Fungsi hati sebagai metabolisme vitamin
Semua vitamin disimpan di dalam hati khususnya vitamin A, D, E, K
6. Fungsi hati sebagai detoksikasi
Hati adalah pusat detoksikasi tubuh, Proses detoksikasi terjadi pada proses
oksidasi, reduksi, metilasi, esterifikasi dan konjugasi terhadap berbagai
macam bahan seperti zat racun, obat over dosis.

7. Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas


Sel kupfer merupakan saringan penting bakteri, pigmen dan berbagai bahan
melalui proses fagositosis. Selain itu sel kupfer juga ikut memproduksi globulin sebagai imun livers mechanism.
8.

Fungsi hemodinamik
Hati menerima 25% dari cardiac output, aliran darah hati yang normal
1500 cc/ menit atau 1000 1800 cc/ menit. Darah yang mengalir di dalam
a.hepatica 25% dan di dalam v.porta 75% dari seluruh aliran darah ke hati.
Aliran darah ke hepar dipengaruhi oleh faktor mekanis, pengaruh persarafan
dan hormonal, aliran ini berubah cepat pada waktu exercise, terik matahari,
shock. Hepar merupakan organ penting untuk mempertahankan aliran darah.

C.

DEFINISI HEMATEMESIS
Perdarahan saluran cerna bagian atas (didefinisikan sebagai perdarahan

yang terjadi di sebelah proksimal ligamentum Treitz pada duodenum distal.


Sebagian besar perdarahan saluran cerna bagian atas terjadi sebagai akibat
penyakit ulkus peptikum (PUD, peptic ulcer disease) (yang disebabkan oleh H.
Pylori atau penggunaan obat-obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) atau
alkohol). Robekan Mallory-Weiss, varises esofagus, dan gastritis merupakan
penyebab perdarahan saluran cerna bahagian atas yang jarang (Dubey, 2008).
Perdarahan saluran cerna bagian atas dapat bermanifestasi klinis mulai
dari yang seolah ringan, misalnya perdarahan tersamar sampai pada keadaan
yang mengancam hidup. Hematemesis adalah muntah darah segar (merah
segar) atau hematin (hitam seperti kopi) yang merupakan indikasi adanya
perdarahan saluran cerna bagian atas atau Proksimal Ligamentum Treitz.

Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA), terutama dari duodenum dapat
pula bermanifestasi dalam bentuk melena. Hematokezia (darah segar keluar per
anum) biasanya berasal dari perdarahan saluran cerna bagian bawah (kolon).
Maroon stools (feses berwarna merah hati) dapat berasal dari perdarahan kolon
bagian proksimal (ileo-caecal) (Djojoningrat, 2006). Warna merah gelap atau
hitam berasal dari konversi Hb menjadi hematin oleh bakteri setelah 14 jam.
Sumber perdarahannya biasanya juga berasal dari saluran cerna atas. ( Sylvia, A
price. 2005. Patofisiologi konsep klinis proses-proses keperawatan. Edisi 6.
Jakarta : EGC ).

D.

ETIOLOGI
1. Kelainan di Esophagus
Varises esophagus
Penderita dengan hematemesis melena yang disebabkan pecahnya
varises esophagus, tidak pernah mengeluh rasa nyeri atau pedih di
epigastrium. Pada umumnya sifat perdarahan timbul spontan dan
massif. Darah yang dimuntahkan berwarna kehitam-hitaman dan tidak
membeku karena sudah bercampur dengan asam lambung.
Karsinoma esophagus
Karsinoma esophagus sering memberikan keluhan melena daripada
hematemesis. Disamping mengeluh disfagia, badan mengurus dan
anemis, hanya sesekali penderita muntah darah dan itupun tidak
massif.
Sindroma Mallory Weiss
Sebelum timbul hematemesis didahului muntah-muntah hebat yang
pada akhirnya baru timbul perdarahan, misalnya pada peminum
alcohol atau pada hamil muda. Biasanya disebabkan oleh karena
terlalu sering muntah-muntah hebat dan terus-menerus.

Esophagitis dan tukak esophagus


Esophagus bila sampai menimbulkan perdarahan lebih sering
intermitten atau kronis dan biasanya ringan, sehingga lebih sering
timbul melena daripada hematemesis. Tukak di esophagus jarang
sekali mengakibatkan perdarahan jika dibandingkan dengan tukak
lambung dan duodenum.

2. Kelainan di Lambung
Gastritis erisova hemoragika
Hematemesis bersifat tidak masif dan timbul setelah penderita minum
obat-obatan yang menyebabkan iritasi lambung. Sebelum muntah
penderita mengeluh nyeri ulu hati.
Tukak lambung
Penderita mengalami dispepsi berupa mual, muntah , nyeri ulu hati
dan sebelum hematemesis didahului rasa nyeri atau pedih di
epigastrium yang berhubungan dengan makanan. Sifat hematemesis
tidak begitu masif dan melena lebih dominan dari hematemesis.

3. Kelainan Darah
Polisetimia vera, limfoma, leukemia, anemia, hemofili, trombositopenia
purpura.

E.

PATOFISIOLOGI
Pada gagal hepar

sirosis

kronis,

kematian

sel

dalam

hepar

mengakibatkan peningkatan tekanan vena porta. Sebagai akibatnya terbentuk


saluran kolateral dalam submukosa esophagus, lambung dan rectum serta pada
dinding abdomen anterior yang lebih kecil dan lebih mudah pecah untuk

mengalihkan darah dari sirkulasi splenik menjauhi hepar. Dengan meningkatnya


tekanan dalam vena ini, maka vena tersebut menjadi mengembang dan
membesar (dilatasi) oleh darah disebut varises. Varises dapat pecah,
mengakibatkan

perdarahan

gastrointestinal

masif.

Selanjutnya

dapat

mengakibatkan kehilangan darah tiba-tiba, penurunan arus balik vena ke


jantung, dan penurunan perfusi jaringan.
Dalam berespon terhadap penurunan curah jantung, tubuh melakukan
mekanisme kompensasi untuk mencoba mempertahankan perfusi. Mekanisme
ini merangsang tanda-tanda dan gejala-gejala utama yang terlihat pada saat
pengkajian awal. Jika volume darah tidak digantikan, penurunan perfusi jaringan
mengakibatkan disfungsi selular. Penurunan aliran darah akan memberikan efek
pada seluruh system tubuh, dan tanpa suplai oksigen yang mencukupi system
tersebut akan mengalami kegagalan. Pada melena dalam perjalanannya melalui
usus, darah menjadi berwarna merah gelap bahkan hitam. Perubahan warna
disebabkan oleh HCL lambung, pepsin, dan warna hitam ini diduga karena
adanya pigmen porfirin. Kadang-kadang pada perdarahan saluran cerna bagian
bawah dari usus halus atau kolon asenden, feses dapat berwarna merah terang /
gelap. Diperkirakan darah yang muncul dari duodenum dan jejunum akan
tertahan pada saluran cerna sekitar 6-8 jam untuk merubah warna feses menjadi
hitam. Paling sedikit perdarahan sebanyak 50 -100cc baru dijumpai keadaan
melena. Feses tetap berwarna hitam seperti ter selama 48 72 jam setelah
perdarahan berhenti. Ini bukan berarti keluarnya feses yang berwarna hitam
tersebut menandakan perdarahan masih berlangsung. Darah yang tersembunyi
terdapat pada feses selama 7 10 hari setelah episode perdarahan tunggal.
Pathway Hematemesis Melena

F.

MANIFESTASI KLINIS
a) Muntah darah (hematemesis)
b) Mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena)
c) Mengeluarkan darah dari rectum (hematoskezia)
d) Denyut nadi yang cepat, TD rendah
e) Akral teraba dingin dan basah
f) Nyeri perut
g) Nafsu makan menurun
h) Jika terjadi perdarahan yang berkepanjangan dapat menyebabkan
i) Terjadinya anemia, seperti mudah lelah, pucat, nyeri dada dan pusing

G.
1.

KOMPLIKASI
Syok hipovolemik
Syok hipovolemik disebut juga dengan syok preload yang ditandai
dengan menurunnya volume intravaskuler oleh karena perdarahan. dapat
terjadi karena kehilangan cairan tubuh yang lain. Menurunnya volume
intravaskuler menyebabkan penurunan volume intraventrikel. Pada klien
dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari

2.

30% dan berlangsung selama 24-28 jam.


Gagal ginjal akut
Gagal ginjal akut Terjadi sebagai akibat dari syock yang tidak teratasi
dengan baik. Untuk mencegah gagal ginjal maka setelah syock, diobati

3.

4.

dengan menggantikan volume intravaskuler.


Penurunan kesadaran
Terjadi penurunan transportasi O2 ke otak, sehingga terjadi penurunan
kesadaran.
Ensefalopati

Terjadi akibat kersakan fungsi hati di dalam menyaring toksin di dalam


darah. Racun-racun tidak dibuang karena fungsi hati terganggu. Dan
suatu kelainan dimana fungsi otak mengalami kemunduran akibat zat-zat
racun di dalam darah, yang dalam keadaan normal dibuang oleh hati.

H.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Langkah resusitasi berupa pemasangan jalur intravena dengan cairan

fisiologis, bila perlu transfusi PRC, darah lengkap (Whole Blood), packed cell,
dan FFP. Tindakan yang paling sederhana untuk menghentikan perdarahan
saluran cerna bagian atas adalah bilas lambung dengan air es melalui pipa
nasogastrik (NGT). Pemasangan pipa NGT dikerjakan melalui lunbang hidung
pasien, kemudian dilakukan aspirasi lambung. Bila pada aspirasi terdapat darah,
selanjutnya dilakukan bilas lambung dengan air es sampai isi lambung tampak
bersih dari darah atau tampak lebih jernih warnanya. Tindakan tersebut disebut
gastric spooling. Ada 5 manfaat dari tindakan ini:
1. Tindakan diagnostic dan pemantauan apakah perdarahan masih
2.
3.
4.
5.

berlangsung terus atau tidak


Menghentikan perdarahan (efek vasokontriksi es)
Memudahkan pemberian obat-obatan oral ke dalam lambung
Membersihkan darah dari lambung untuk mencegah koma hepatic
Persiapan endoskopi
Pada perdarahan saluran cerna ini dianggap terdapat gangguan

hemostasis berupa defisiensi kompleks protombin sehingga diberikan vitamin K


parenteral dan bila diduga terdapat fibrinolisis sekunder dapat diberikan asam
traneksamat parenteral.
Produksi asam lambung yang meningkat karena stress fisik maupun
psikis ditekan dengan pemberian antacid dan antagonis reseptor H2 (ranitidine,
famotidin, atau roksatidin), antacid diharapkan dapat bermanfaat untuk menekan
asam lambung yang sudah berada di lambung. Sedangkan reseptor antagonis

H2 untuk menekan produksi asam lambung. Selain itu dengan pertimbangan


bahwa proses koagulasi atau pembentukan fibrin akan terganggu oleh suasana
asam, maka diberikan antisekresi asam lambung, mulai dari antagonis reseptor
H2 sampai penghambat pompa proton (omeprazol, lanzoprazol, pantoprazol).
Disamping itu terdapat obat-obat yang bersifat meningkatkan defense mukosa
(sukralfat) yang dapat dipakai sebagai regimen alternatif.
Pemberian obat yang bersifat vasoaktif akan mengurangi aliran darah
splanknikus, sehingga diharapkan proses perdarahan berkurang atau berhenti.
Dapat dipakai vasopressin, somatostasin, atau okreotid. Vasopressin bekerja
sebagai vasokonstriktor pembuluh splanknik, sedangkan somatostatin dan
okreotid melalui efek menghambat sekresi asam lambung dan pepsin,
menurunkan aliran darah di lambung, dan merangsang sekresi mucus lambung.
I.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan adalah suatu metode yang sistematik dan

terorganisir yang difokuskan pada reaksi atau respon manusia yang unik pada
suatu kelompok atau perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami
baik aktual maupun potensial. Tahap-tahap melakukan asuhan keperawatan
antara lain pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan
evaluasi. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data melalui wawancara,
observasi, pemeriksaan fisik pada sasaran yang dituju. Selain itu pengumpulan
data dapat diperoleh dari klien, keluarga, tenaga kesehatan, catatan medis,
medical record, dan literature. Hal-hal yang dikaji pada klien antara lain:
pengkajian pada pasien hematemesis melena.
1. Aktivitas / Istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan, kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih


banyak.
2. Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah darah kronis, mis : GI kronis, ektremitas
pucat pada kulit dan membran mukosa, pengisian kapiler melambat.
3. Eliminasi
Gejala : hematemesis, feses dengan darah segar, melena, distensi
abdomen.
4. Makanan / cairan
Gejala : anoreksia, mual.
5. Neurosensori
Gejala : penurunan kesadaran, sakit kepala.
6. Nyeri
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala.
7. Pernafasan
Gejala : pernafasan pendek pada istirahat dan aktivitas.

8. Integumen
Gejala : kulit dingin, kering dan pucat, pengisian kapiler 3 detik.
J.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan adalah menguraikan kombinasi dari tanda dan gejala


yang memperlihatkan masalah kesehatan actual maupun potensial dan perawat
berdasarkan pendidikan dan pengalamanya mampu diakui, diizinkan dan
bertanggung gugat untuk mengatasinya. Menurut Marilynn E. Doenges terdapat
6 diagnosa keperawatan pada pasien hematemesis melena antara lain:

1.

Resiko Syok (hipovolemik) berhubungan dengan kehilangan darah


akut

2.

Ketidakefektifan

pola

nafas

berhubungan

dengan

penurunan

ekspansi paru
3.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan intake yang tidak adekuat.

4.

Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

5.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

1. Resiko Syok

2. Ketidak efektifan pola nafas

Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh

DAFTAR PUSTAKA

1. Doenges, Marylin E, et. al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan


Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien
(3rd ed.). Jakarta: EGC.
2. Jhoxer

(2010).

Asuhan

Melena. Diambil

pada

Keperawatan
13

Juli

Hematomesis
2010

dari

http://kumpulanasuhankeperawatan.blogspot.com/2010/01/asuhankeperawatan-hematomesis-melena.html.
3. Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi 2. Jakarta :
EGC, 2004. pp. 519-37
4. Sylvia,

A price.

2005.

Patofisiologi

keperawatan. Edisi 6. Jakarta : EGC ).

konsep

klinis

proses-proses