Anda di halaman 1dari 8

Patogenesis sirosis biliaris

Sirosis sering didahului oleh hepatitis dan fatty liver (steatosis), sesuai dengan
etiologinya.

Jika

etiologinya

ditangani

pada

tahap

ini,

perubahan

tersebut

masih

sepenuhnya reversible (Nurdjanah, 2006).


Ciri patologis dari sirosis adalah pengembangan jaringan parut yang menggantikan
parenkim normal, memblokir aliran darah portal melalui organ dan mengganggu
fungsi normal. Penelitian terbaru menunjukkan peran penting sel stellata, tipe sel
yang

biasanyam e n y i m p a n

vitamin

A,

dalam

pengembangan

sirosis.

K e r u s a k a n p a d a p a r e n k i m h a t i menyebabkan aktivasi sel stellata, yang menjadi


kontraktil (myofibroblast) dan menghalangi aliran darah dalam sirkulasi. Sel ini
mengeluarkan TGF-1, yang mengarah pada respon fibrosis dan proliferasi jaringan
ikat.

Selain

itu,

juga

mengganggu

keseimbangan

antara

matriks

m e t a l l o p r o t e i n a s e d a n i n h i b i t o r a l a m i ( T I M P 1 d a n 2 ) , menyebabkan kerusakan
matriks (Nurdjanah, 2006).
Pita jaringan ikat (septa) memisahkan nodul-nodul hepatosit, yang pada
akhirnyamenggantikan arsitektur seluruh hati yang berujung pada penurunan aliran darah di
seluruhhati. Limpa menjadi terbendung, mengarah ke hypersplenism dan peningkatan
sekuesterasi platelet. Hipertensi portal bertanggung jawab atas sebagian besar komplikasi
parah sirosis (Chung, 2005).
Kerusakan sel hati yang dimulai di sekitar duktus biliaris akan menimbulkan pola sirosis
yang dikenal sebagai sirosis biliaris. Penyebab tersering sirosis biliaris adalah obstruksi biliaris
pascahepatik. Statis empedu di dalam massa hati dan kerusakan sel-sel hati. (Price, 2013).
DAFTAR PUSTAKA
Nurdjanah Siti. 2006. Sirosis Hati. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I.
EdisiIV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Chung Raymond T, Padolsky Daniel K. 2005. Cirrhosis and Its Complications.


Dalam:Harrisons Principle of Internal Medicine . Edisi XVI. Newyork:
McGraw-Hill Companies.
Price ,Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2013. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta : EGC.
Patofisiologis Sirosis Biliaris
Empedu merupakan sekresi multi-fungsi dengan susunan fungsi, termasuk pencernaan
dan penyerapan lipid di usus, eliminasi toksin lingkungan, karsinogen, obat-obatan, dan
metabolitnya, dan menyediakan jalur primer ekskresi beragam komponen endogen dan produk
metabolit, seperti kolesterol, bilirubin, dan berbagai hormone (James, 2012).
Pada obstruksi jaundice, efek patofisiologisnya mencerminkan ketiadaan komponen
empedu (yang paling penting bilirubin, garam empedu, dan lipid) di usus halus, dan
cadangannya, yang menyebabkan tumpahan pada sirkulasi sistemik. Feses biasanya menjadi
pucat karena kurangnya bilirubin yang mencapai usus halus. Ketiadaan garam empedu dapat
menyebabkan malabsorpsi, mengakibatkan steatorrhea dan defisiensi vitamin larut lemak (A, D,
K); defisiensi vitamin K bisa mengurangi level protrombin. Pada kolestasis berkepanjangan,
seiring malabsorpsi vitamin D dan Ca bisa menyebabkan osteoporosis atau osteomalasia (James
2012).
Retensi bilirubin menyebabkan hiperbilirubinemia campuran. Beberapa bilirubin
terkonjugasi mencapai urin dan menggelapkan warnanya. Level tinggi sirkulasi garam empedu
berhubungan dengan, namun tidak menyebabkan, pruritus. Kolesterol dan retensi fosfolipid
menyebabkan hiperlipidemia karena malabsorpsi lemak (meskipun meningkatnya sintesis hati
dan menurunnya esterifikasi kolesterol juga punya andil); level trigliserida sebagian besar tidak
terpengaruh (James, 2012).
Penyakit hati kolestatik ditandai dengan akumulasi substansi hepatotoksik, disfungsi mitokondria
dan

gangguan

pertahanan

antioksidan

hati.

Penyimpanan

asam

empedu

hidrofobik

mengindikasikan penyebab utama hepatotoksisitas dengan perubahan sejumlah fungsi sel

penting, seperti produksi energi mitokondria. Gangguan metabolisme mitokondria dan akumulasi
asam empedu hidrofobik berhubungan dengan meningkatnya produksi oksigen jenis radikal
bebas dan berkembangnya kerusakan oksidatif (James, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

James S. Clarke, Barrett P. Diagnosis of Obstructive Jaundice. Diunduh dari


http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1501243/. Febuary, 4 2012.

BATU EMPEDU
a. Pemeriksaan Fisik
Kalau ditemukan kelainan, biasanya berhubungan dengan komplikasi
seperti kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum, hidrops kandung
empedu, empiema kandung empedu , atau pankreatitis (Brunicardi, 2005).
Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punctum maksimum di
daerah letak anatomik kandung empedu. Tanda murphy positif, apabila nyeri
tekan bertambah sewaktu p[enderita menarik nafas panjang karena kandung
empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksaan dan pasien
berhenti menarik napas (Brunicardi, 2005).
b. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

Tidak ada pemeriksaan yang spesifik untuk batu kandung empedu,


kecuali bila terjadi komplikasi kolesistitis akut bisa didapatkan leukositosis,
kenaikan kadar bilirubin darah dan fosfatase alkali (Brunicardi, 2005).

Pemeriksaan Radiologi
Diagnosis pasti dilakukan dengan pemeriksaan radiologi
o Foto Polos Abdomen
Kurang lebih 10 % dari batu kandung empedu bersifat radio
opak sehingga terlihat pada foto polos abdomen (Brunicardi, 2005).
o Kolesistografi
Foto dengan pemberian kontras baik oral maupun intravena
diharapkan batu yang tembus sinar akan terlihat. Jika kandung
empedu tidak tervisualisasikan sebaiknya dilakukan pemeriksaan
ulang dengan dosis ganda zat kontras. Goldberg dan kawan-kawan
menyatakan bahwa reliabilitas pemeriksaan kolesistografi oral dalam
mengindentifikasikan batu kandung empedu kurang lebih 75 %. Bila
kadar bilirubin serum lebih dari 3 mg% kolesistografi tidak dikerjakan
karena zat kontras tidak diekskresi ke saluran empedu (Brunicardi,
2005).

Gambar 1. Gambaran Kolesistografi7


o Ultra Sonografi
Penggunaan USG dalam mendeteksi batu di saluran empedu
sensitivitasnya sampai 98 % dan spesifitas 97,7 %. Keuntungan lain
dari pemeriksaan cara ini adalah mudah dikerjakan, aman karena
tidak infasif dan tidak perlu persiapan khusus. Ditambah pula bahwa
USG dapat dilakukan pada penderita yang sakit berat, alergi kontras,
wanita hamil dan tidak tergantung pada keadaan faal hati. Ditinjau
dari berbagai segi keuntungannya, Ugandi menganjurkan agar
pemeriksaan USG dipakai sebagai langkah pemeriksaan awal.
Dengan pemeriksaan ini bisa ditentukan lokasi dari batu tersebut, ada
tidaknya radang akut, besar batu, jumlah batu, ukuran kandung
empedu, tebal dinding, ukuran CBD (Common Bile Duct) dan jika
ada batu intraduktal (Brunicardi, 2005).
Gambar 2. Gambaran Ultra Sonografi12

o Tomografi Komputer

Keunggulan Tomografi Komputer adalah dengan memperoleh


potongan obyek gambar suara secara menyeluruh tanpa tumpang
tindih dengan organ lain. Karena mahalnya biaya pemeriksaan, maka
alat ini bukan merupakan pilihan utama (Brunicardi, 2005).
b. Penatalaksanaan
Tindakan Operatif
Terapi terbanyak pada penderita batu kandung empedu adalah dengan
operasi. Kolesistektomi dengan atau tanpa eksplorasi duktus komunis tetap
merupakan tindakan pengobatan untuk penderita dengan batu empedu
simptomatik (Sjamsuhidajat, 2005).
Pembedahan untuk batu empedu tanpa gejala masih diperdebatkan,
banyak ahli menganjurkan terapi konservatif. Sebagian ahli lainnya berpendapat
lain mengingat silent stone akhirnya akan menimbulkan gejala-gejala bahkan
komplikasi, maka mereka sepakat bahwa pembedahan adalah pengobatan yang
paling tepat yaitu kolesistektomi efektif dan berlaku pada setiap kasus batu
kandung empedu kalau keadaan umum penderita baik (Sjamsuhidajat, 2005).
Indikasi kolesistektomi sebagai berikut : (Sjamsuhidajat, 2005).

Adanya keluhan bilier apabila mengganggu atau semakin sering atau berat.

Adanya komplikasi atau pernah ada komplikasi batu kandung empedu.

Adanya penyakit lain yang mempermudah timbulnya komplikasi misalnya


Diabetes Mellitus, kandung empedu yang tidak tampak pada foto kontras dan
sebagainya.

Gambar 3. Kolesistotomi (Sjamsuhidajat, 2005).

Kolesistostomi
Beberapa ahli bedah menganjurkan kolesistostomi dan dekompresi
cabang-cabang saluran empedu sebagai tindakan awal pilihan pada penderita
kolesistitis dengan resiko tinggi yang mungkin tidak dapat diatasi kolesistektomi
dini (Sjamsuhidajat, 2005).
Indikasi dari kolesistostomi adalah

Keadaan umum sangat buruk misalnya karena sepsis, dan

Penderita yang berumur lanjut, karena ada penyakit lain yang berat yang
menyertai, kesulitan teknik operasi dan

Tersangka adanya pankreatitis.

Kerugian dari kolesistostomi mungkin terselipnya batu sehingga sukar


dikeluarkan dan kemungkinan besar terjadinya batu lagi kalau tidak diikuti
dengan kolesistektomi (Sjamsuhidajat, 2005).
DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat R, de Jong W. 2005. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC
Brunicardi, F. Charles et al. 2005. Schwartzs Principles of Surgery.8th edition.. New York:
McGrawHill.
Prognosis
Untuk penderita dengan ukuran batu yang kecil, pemeriksaan serial USG diperlukan untuk
mengetahui perkembangan dari batu tersebut. Batu bisa menghilang secara spontan. Untuk batu
besar masih merupakan masalah, karena merupakan risiko terbentuknya karsinoma kandung
empedu (ukuran lebih dari 2 cm). Karena risiko tersebut,dianjurkan untuk mengambil batu
tersebut. Pada anak yangmenderita penyakit hemolitik, pembentukan batu pigmenakan semakin
memburuk dengan bertambahnya umur penderita, dianjurkan untuk melakukan kolesistektomi
(Heubi, 20010.
Daftar Pustaka
Heubi JE, Lewis LG, Pohl JF. Diseases of the gallbladder in infancy, childhood, and adolescence.
In: Suchy FJ, Sokol RJ, Balistreri WF editor. Liver desease in children. 2nd Ed.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2001. h.343-59.