Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.7. Kendala Pemberian ASI Eksklusif


Adabeberapakendalayangseringdijadikanalasanolehibuuntuktidakmemberikan
ASIeksklusifkepadabayinya,antaralain:
1. ProduksiASIKurang
Alasaninitampaknyamerupakanalasanutamaparaibuuntuktidakmemberikan
ASIsecaraeksklusif.WalaupunbanyakibuibuyangmerasaASInyakurang,tetapi
hanya sedikit sekali yang secara biologis memang kurang produksi ASInya.
Selebihnya9598%ibudapatmenghasilkanASIyangcukupbagibayinya
2. IbuKurangMemahamiTataLaksanaASIYangBenar
Ibu kurang memahami tata laksana ASI yang benar, misalnya pentingnya
memberikan ASI, bagaimana ASI keluar, bagaimana posisi menyusui dan
perlekatanyangbaiksehinggabayidapatmengisapsecaraefektifanASIdapat
keluar dengan optimal, termasuk cara memberikan ASI bila ibu harus berpisah
denganbayinya.
3.Ibuinginmenyusuikembalisetelahbayidiberisusuformula(relaksasi)

Relaksasimerupakansuatukeadaanibuyangtelahberhentimenyusuiingimemulai
menyusuikembali.BiasanyasetelahtidakmenyusubeberapalamaproduksiASI
akan berkurang dan bayi akan malas menyusu dari ibunya apalagi kalau sudah
diberikansusubotol.
3. Bayiterlanjurmendapatkanprelaktealfeeding.
SeringkalisebelumASIkeluarbayisudahdiberiairputih,airgula,madu,susu
formuladengandot.Haliniakanmenyebabkanbayimalasmenyusui.
4. KelainanBayi.
Bayi yang menderita sakit atau dengan kelainan kongenital mungkin akan
menggangguprosesmenyusu.Kelakelainaniniperluditatalaksanadenganbenar
agar keadaan tersebut tidak menjadi penghambat dalam proses menyusui.
(Partiwi&Purnawati,2008)
5. IbuBekerja
BekerjabukanalasanuntuktidakmemberikanASIEksklusif,karenawaktuibu

bekerja,bayidapatdiberiASIperahyangdiperahseharisebelumnya.
7.TakutDitinggalSuami
DarisebuahsurveiyangdilakukanolehYayasanLembagaKonsumenIndonesia
(YLKI) pada tahun 1995 terhadap ibuibu seJabodetabek, diperoleh data bahwa
alasan pertama berhenti memberikan ASI pada anaknya karena takut ditinggal
suaminya.Inikarenaadanyamitosnyayangsalahyaitumenyusuiakanmengubah
bentukpayudaramenjadijelek.
8.AnggapanSusuFormulaLebihPraktis
Pendapatinitidakbenarkarenauntukmembuatsusuformuladiperlukanapiatau
listrik untuk memasak air, peralatan yang harus steril dan perlu waktu untuk
mendinginkansusuyangbarudibuat.SementaraASIsiappakaidengansuhuyang
tepatsetiapsaatsertatidakmemerlukanperlengkapanapapun.
9.TakutBadanTetapGemuk
Pendapatbahwaibumenyusuiakansukarmenurunkanberatbadanadalahtidak
benar.Didapatkanbuktibahwamenyusuiakanmembantuibuibumenurunkanberat
badan lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui secara eksklusif.Timbunan
lemak yang terjadi sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusui,
sedangkan wanita yang tidak menyusui akan lebih sukar untuk menghilangkan
lemak.(Roesli,2000)
2.8

FaktoryangberhubungandenganpemberianASIEksklusif
2.8.1Umur
Umuradalahlamahidupatauada(sejakdilahirkanataudidakan)(KBBI,1995).Proses
degenerasi payudara mengenai ukuran dan kelenjar alveoli mengalami regresi yang
dimulai pada usia 30 tahun. Sehingga dengan proses tersebut payudara cenderung
kurang menghasilkan (Worthington,1993). Makin tua umur seseorang maka proses
proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu,
bertambahnyaprosesperkembanganmentalinitidaksecepatsepertiketikaberumur
belasan tahun. Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI
dibandingkan dengan ibuibu yang yang sudah tua. Hal ini terjadi terjadi karena
pembesaran payudara setiap siklus ovulasi mulai dari permulaan tahun menstruasi
sampai umur 30 tahun (Suratmadja,1989).Penelitian Citra Br Aritonang (2011)

menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan perilaku
pemberianASIeksklusif.BerbedadenganhasilpenelitianLutfi(2009),menyebutkan
adahubunganyangbermaknaantaraumurdenganpraktekpemberianASIeksklusif
yaituibuyangberumur30tahunberpeluang4,333kaliuntukmemberikanAsisecara
eksklusifdibandingkandenganibuyangberumur30tahun.
2.8.2Pendidikan
Berdasarkan GBHN, pendidikan adalah adalah usaha sadar untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah yang berlangsung seumur
hidup.Sedangkantingkatpendidikanadalahjenjangsekolahformalyangditamatkan
oleh seseorang. Sementara menurut Notoatmodjo (2003), pendidikan adalah segala
upayayangdirencanakanuntukmempengaruhioranglainbaikindividu,kelompokatau
masyarakatsehinggamerekamelakukanapayangdiharapkanolehpelakupendidikan.
Tingkat pendidikan seseorang akan membantu orang tersebut untuk lebih mudah
menangkapdanmemahamisuatuinformasi.Merekayangberpendidikantinggiakan
berbedadenganmerekayangberpendidikanrendah.Tingkatpendidikanseorangibu
yangrendahmemungkinkanialambatdalammengadopsipengetahuanbarukhususnya
halhal yang berhubungan dengan ASI eksklusif. Menurut Soetjiningsi (2007)
pendidikanorangtuayanglebihbaik,akanmemungkinkaniadapatmenerimasegala
informasi yang berkaitan dengan cara pengasuhan dan perawatan anak termasuk
didalamnya pemberian ASI. Hasil penelitian Helmi (2010) manyatakan terdapat
hubunganyangbermaknaantarapendidikanIbudenganpemberianASIEksklusifyaitu
ibu yang berpendidikan rendah mempunyai peluang 5,5 kali untuk tidak menyusui
secaraeksklusifdibandingkanIbuyangberpendidikantinggi.

2.8.3Pekerjaan
BekerjaselaludijadikanalasantidakmemberikanASIeksklusifpadabayikarenaibu
meninggalkan rumah sehingga waktu pemberian ASI pun berkurang. Akan tetapi
seharusnya seorang ibu yang bekerja tetap memberi ASI secara eksklusif kepada
bayinya dengan pengetahuan yang benar tentang menyusui, perlengkapan memerah
ASI,dandukunganlingkungankerja(Soetjiningsih,1997).Statuspekerjaanberpeluang

mempengaruhiibudalammemberikanASIeksklusif.Adanyakecenderunganparaibu
yang bekerja mencari nafkah menjadi penyebab gagalnya pemberian ASI.
Meningkatnyapartisipasiangkatankerjaperempuanyangantaralaindisebabkanoleh
tuntutan ekonomi, menyebabkan sebagian keluarga tidak dapat mempertahankan
kesejahteraannya hanya dari satu sumber pendapatan. Masuknya perempuan dalam
kerjasedikitbanyakmempengaruhiperanibudalampengasuhananak(Sumarwan,1993
dalam Suhartin R,2011). Hasil penelitian Nuryanto (2002) menyebutkan bahwa ibu
yang bekerja mempunyai resiko 1,16 kali untuk menghentikan pemberian ASI
dibandingkanibuyangtidakbekerja.Penelitianyangsamajugamenyebutkanbahwa
proporsi 18 pemberian ASI Eksklusif pada ibu yang tidak bekerja lebih banyak
dibandingdenganibuyangbekerja(Fahrina,2010)
2.8.4DukunganSosial
Dukungankeluargamerupakanfaktorpendukungyangpadaprinsipnyaadalahsuatu
kegiatan baik bersifat emosional maupun psikologis yang diberikan kepada ibu
menyusuidalammemberikanASI.Seorangibuyangtidakpernahmendapatkannasehat
ataupenyuluhantentangASIdarikeluarganyadapatmempengaruhisikapnyaketikaia
harusmenyusuisendiribayinya(Lubis,2000).Hasilpenelitianyangdilakukanoleh
Asmijati (2007) menyebutkan ibu yang mendapat dukungan keluarga memiliki
kemungkinanmemberikanASIEksklusif6,533kalilebihbesardibandingdenganibu
yangtidakmendapatdukungankeluarga.Penelitianlainjugamengatakanbahwaibu
yang tidak mendapat dukungan keluarga akan meningkatkan resiko untuk tidak
memberikan ASI eksklusif (Mardeyanti, 2007). Menurut Green (1980) dalam
Notoatmodjo(2003)perilakuterbentukkarenafaktorpendorongyangterwujuddalam
sikapdanperilakupetugaskesehatan,ataupetugasyanglain,yangmerupakanreferensi
dariperilakumasyarakat.Sebagaiseorangyangdipercayaiibuibudalammengatasi
masalah bayi,tenaga kesehatan hendaknyamemberikannasihat kepada seorangibu
permulaanmenyusui,agardapatmengukuhkankepercayaandirinysataskesanggupan
menyusui dan bersikap mendukung penilaian bahwa menyusui adalah suatu fungsi
alamiahyangsempurna(Jellife,1994). MenurutSoetjiningsih(1997)pemberianASI
belum secara optimal diberikan oleh ibuibu disebabkan karena keterbatasan
pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan

mengenaicarapemberianASIyangbaikdanbenarkepadaibudankeluarga.Beberapa
penelitian membuktikan bahwa sikap petugas kesehatan sangat mempengaruhi
pemilihanmakananbayiolehibunya.Pengaruhinidapatberupasikapnegatifsecara
pasif, yang dinyatakan dengan tidak menganjurkan dan tidak membantu bila ada
kesulitanlaktasi.Sikapinibisapulasecaraaktifmisalnyabilaadakesulitanlaktasi,
malahpetugassendiriyangmenganjurkanuntukmemberikansusubotolkepadabayi.