Anda di halaman 1dari 4

CAMPAK

campak, measles atau rubeola adalah penyakit virus akut yang


disebabkan oleh virus campak.virus campak merupakan virus RNA,
genus morbilivirus, family paramyxoviridae. selama periode prodromal
dan beberapa saat setelah rash terlihat, virus dapat ditemukan pada
sekret nasofaringeal, darah dan urin. virus dapat hidup pada
temperatur ruangan selama 34 jam.
penyakit ini sangat infeksius, dapat menular sejak awal masa
prodromal sampai lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam.
penyebaran infeksi terjadi dengan perantara droplet.
angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990-2002 masih
tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian juga frekuensi terjadinya
kejadian luar biasa tampak meningkat dari 23 kali pertahun menjadi
174. namun case fatality rate telah dapat diturunkan dari 5,5%
menjadi 1,2%. umur terbanyak menderita campak adalah <12 bulan,
diikuti kelompok umur 1-2 dan 5-14 tahun.
tanda dan gejala
adanya demam tinggi terus menerus 38,5 c atau lebih disertai batuk,
pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila kena cahaya
(fotofobia), seringkali diikuti diare. pada hari ke 4-5 demam timbul
ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari
semula. pada saat ini anak dapat mengalami kejang demam. saat
ruam timbul, batuk dan diare dapat bertambah parah sehingga anak
mengalami sesak napas atau dehidrasi. adanya kulit kehitaman dan
bersisik (hiperpigmentasi) dapat merupakan tanda penyembuhan.
gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari tiga
stadium:
stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam
yang diikuti dengan batuk, pilek, faring merah, nyeri menelan,
stomatitis, dan konjungtivitis. tanda patognomosis timbulnya
enantema mukosa pipi di depan molar tiga sisebut bercak koplik
stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo papular
yang bertahan selama 5-6 hari. timbulnya ruam dimulai dari batas
rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher dan
akhirnya ke ekstremitas.
stadium penyembuhan (konvalensi), setelah 3 hari ruam
berangsur-angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. ruam kulit
menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 12 minggu.
campak menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak yang
berumur lebih kecil.
diare dapat diikuti dehidrasi
otitis media

laringotrakeobronkitis (croup)
bronkopneumonia
ensefalitis akut, terjadi pada 2-10 / 10.000 kasus dengan angka
kematian 10-15%
subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), suatu proses degeneratif
susunan saraf pusat dengan gejala karakteristik terjadi deteriorisasi
tingkah laku dan intelektual, diikuti kejang. disebabkan oleh infeksi
virus yang menetap, timbul beberapa tahun setelah infeksi merupakan
salah satu komplikasi campak onset lambat. terjadi pada 1/25.000
kasus menyebabkan kerusakan otak progresif dan fatal.
diagnosa banding
adanya ruam kulit sering disalahtafsirkan sebagi penyakit eksantema
akut yang lain seperti rubella, roseola infantum (eksantema subitum,
HPV 6), echovirus, adenovirus, coxsakivirus,
mononukleosus,
toxoplasmosis, meningococcemia, scarlet fever, ricketsial, kawasaki,
serum sickness dan erupsi obat
rubela, enteroviral dan adenoviral: ditemukan rash yang lebih sedikit,
derajat demam yang lebih ringan dan tingkat kegawatan yang lebih
rendah
roseola infantum: demam hilang baru muncul rash
serum sickness dan erupsi obat: ada riwayat minum obat tertentu
ricketsial: rash dimuka, tidak menyebar seperti campak
meningococcemia: tidak ditemukan batuk dan conjungtivitis, rash
berbentuk petechial/ purpura
scarlet fever: papular rash berbentuk khas, yang disebut goose flash
pemeriksaan penunjang
darah tepi: jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada
komplikasi infeksi bakteri. pemeriksaan untuk komplikasi encefalopati
dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis, kadar elektrolit darah
dan analisa gas darah. untuk enteritis dilakukan feses lengkap dan
untuk bronchopneumonia dilakukan pemeriksaan foto dada dan
analisis gas darah.
pengobatan
indikasi rawat inap: hiperpireksia (suhu >39), dehidrasi, kejang,
asupan oral sulit, atau adanya komplikasi
pengobataan bersifat suportif, terdiri dari pemberian cairan yang
cukup, kalori yang memadai (jenis makanan disesuaikan dengan
tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi), pemberian
antipiretik (paracetamol ibuprofen), suplemen nutrisi, antibiotik
diberikan apabila terjadi infeksi sekunder (otitis media, pneumonia),
anti konvulsi apabila terjadi kejang, serta diberikan vitamin A
pengobatan dengan antiviral terbukti tidak efektif
Ig G dan kortikosteroid kegunaannya masih diragukan
pengobatan tanpa komplikasi:

pasien dirawat diruang isolasi (ruangan hangat lebih baik)


tirah baring di tempat tidur
bila ada fotofobia, hindari cahaya
vitamin A (6bln 1 thn : 100.000 IU dosis tunggal; > 1thn:
200.000 dosis tunggal) bila ada kelainan oftalmologi maka
viatamin A diteruskan sampai 4 minggu kemudian, bila
disertai malnutrisi dilanjutkan 1.500 UI tiap hari.
pengobatan dengan komplikasi
ensefalopati:
kloramfenikol: 75mg/kgBB/hari dan ampisilin 100 mg/kgBB/hari
selama 7-10 hari
kortikosteroid : deksamethason 1mg/kgBB/hari sebagai dosis awal
dilanjutkan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis sampai kesadaran
membaik (bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan tappering off)
kebutuhan jumlah cairan dikurangi 3/4 kebutuhan serta koreksi
terhadap gangguan elektrolit
bronchopneumonia
kloramfenikol: 75 mg/kgBB/hari dan ampisilin 100 mg/kgBB/hari
selama 7-10 hari
oksigen 2 liter/menit
koreksi gangguan analisis gas darah dan elektrolit
enteritis
koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi.
pencegahan
imunisasi campak termasuk dalam program imunisasi nasional sejak
tahun 1982, angka cakupan imunisasi menurun <80% dalam 3 tahun
terakhir sehingga masih dijumpai si daerah kantong risiko tinggi
transmisi virus campak. strategi reduksi campak terdiri dari:
pengobatan pasien campak dengan memberikan vitamin A
imunisasi campak
bayi mendapat imunitas lewat plasenta dari ibu yang pernah
mengalami campak atau sudah mendapat imunisasi campak
sebelumnya. imunitas ini biasanya sudah lengkap pada usia 3-4 bulan
dan semakin berkurang sampai akhirnya hilang. walaupun antibodi
maternal biasanya sudah tidak terdeteksi setelah usia 9 bulan,
perlindungan terhadap anak tetap bertahan tapi sebaiknya pada usia
12 bulan anak sudah diimunisasi campak. anak yang lahir dari ibu
yang rentan terhadap campak dapat terjangkit campak bersama
ibunya sebelum dan setelah melahirkan.
program pengembangan imunisasi (PPI) diberikan pada umur 9 bulan
imunisasi campak dapat diberikan bersama vaksin MMR pada umur
12-15 bulan
mass campaign, bersamaan dengan pekan imunisasi nasional

catch up immunization, diberikan pada anak sekolah dasar kelas 1-6.


-dr. rosaNelson ed 17
spm kesehatan anak edisi 2004