Anda di halaman 1dari 3

Skema beserta gambar pembuatan tepung dari bahan

baku kulit buah


Bahan utuh

Pencacahan

Pengeringan

Penepungan

Hal yang pertama harus dilakukan


adalah mempersiapkan bahan-bahan
yang akan digunakan dalam praktikum
yaitu kulit manggis dan kulit pisang
(Kulit manggis didapat dengan
membeli buah manggis dan dimakan
isinya, sedangkan kulit pisang di dapat
dengan meminta kepada penjual
pisang keju di sekitar pasar pacar
keling).
Setelah bahan utuh tersebut di
dapatkan,
mulai
dilakukan
pemotongan/ pencacahan kedua bahan
untuk memperkecil ukuran partikel
bahan di lab basah FPK-UA tanggal 9
maret 2015.
Setelah dilakukan pencacahan hingga
ukuran partikel bahan lebih kecil
kedua bahan ini dijemur di depan lab
basah serta dipindah ke oven ketika
selesai praktikum, hal ini dilakukan
selama 2 minggu hingga tanggal 23
maret 2015.
Pada tanggal 23 sore mulai dilakukan
penggilingan terhadap bahan yang
telah kering.

Tepung hasil penggilingan

Hasil penggilingan yang berupa


tepung ini selanjutnya disimpan dalam
wadah tas keresek untuk praktikum
selanjutnya.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil praktikum didapati bahwa sifat fisik kulit manggis bertekstur keras,
tidak berbau dan berwarna ungu. Hal ini dapat dikarenakan tingginya kadar serat pada kulit
manggis yang mencapai 30,5% (Ajayi et al., 2007). Kulit manggis juga mengandung pigmen
antosianin yang membuatnya memiliki warna ungu (Niken, 2011). Sementara kulit pisang
memiliki tekstur yang lebih halus dan lunak, tidak berbau, dan berwarna coklat gelap. Tekstur
yang lebih halus dan lunak ini dapat dilihat dari kadar serat kasar yang hanya berkisar di 13%
(Anhwange et al., 2009). Sedangkan warna menjadi coklat gelap akibat adanya fermentasi
materi organik (hal ini dapat diamati dengan adanya belatung saat proses pengeringan).
Berdasarkan refrensi yang di dapat kulit manggis mengandung 25,8 % abu, 2,68 %
protein kasar, 3,02 % lemak kasar, 30,5 % serat kasar, dan 52,67 % BETN. Kulit manggis
juga mengandung sejumlah asam lemak dalam jumlah kecil, vitamin dan mineral(data tertera
di tabel) (Ajayi et al., 2007). Sedangkan kulit pisang mengandung 2,08% abu, 8,36% protein
kasar, 2,11% lemak kasar, 13 % lemak kasar, dan 66,2 % BETN. Kulit pisang juga
mengandung sejumlah asam amino, vitamin, mineral (tertera di tabel sebelumnya)
(Anhwange et al., 2009).
Terjadi penyusutan yang relatif besar hingga 80% dari bahan segar hingga menjadi
tepung dikarenakan bahan dari kulit buah merupakan bahan basah organik sehingga ketika
dilakukan pengeringan dan penepungan terjadi pengurangan kadar air yang signifikan
sehingga terjadi penyusutan yang besar. Pengeringan dilakukan dengan pemanasan langsung
dibawah sinar matahari serta pemanasan di dalam oven untuk mengurangi kadar airnya.
Pengurangan kadar air ini juga untuk menjaga agar bahan memiliki daya simpan yang lebih
lama, mengingat bahan basah rawan akan pembusukan dan fermentasi.
Berdasarkan data refrensi yang di dapat kulit manggis dan kulit pisang ini dapat
dikategorikan jenis bahan pakan ke 6 (sumber mineral) atau 7 (sumber protein). Klasifikasi
dari bahan pakan kelas 6 adalah mengandung mineral makro dan mikro sedangkan kelas 7
mengandung lebih dari 1 jenis vitamin atau lebih dengan kadar yang cukup besar (Widjiati,
2015). Berdasarkan studi literatur yang kami lakukan didapati bahwa kedua jenis bahan ini
memiliki kandungan mineral yang diatas rata-rata sedangkan untuk vitaminnya tidak terlalu
tinggi. Sehingga kulit manggis dan kulit pisang ini lebih cocok untuk dimasukan bahan pakan
kelas 6 karena kandugan mineralnya.
KESIMPULAN
Kadar mineral yang tinggi pada kedua bahan ini membuat kedua bahan ini yaitu kulit
manggis dan pisang layak dimasukan kategori bahan pakan kelas 6. Sifat fisiknya
dipengaruhi oleh kadar gizi yang terkadung dimana tekstur akan sangat dipengaruhi kadar
serat kasar bahan. Penyusutan yang terjadi hingga 80 % ini demi mendapatkan bahan kering
yang siap diolah menjadi tepung yang nantinya akan dijadikan campuran pakan. Kedua jenis
bahan ini dapat digunakan sebagai tambahan pakan sumber mineral, namun perlu
diperhitungkan dengan tingginya tingkat penyusutan sebelum digunakan sebagai sumber
utama.

Sumber Refrensi
Ajayi, I. A, et al. 2007. Chemical analysis and preliminary toxicological evaluation of
Garcinia mangostana seeds and seed oil. Food Chemistry 101. P 999-1004.
Anhwange, B. A, et al. 2009 CHEMICAL COMPOSITION OF MUSA SAPIENTUM
(BANANA) PEELS. EJEAFChe, 8(6). P. 437-442.
Niken, D. S. 2011. Ekstraksi Zat Warna Alami dari Kulit Manggis serta Uji Stabilitasnya.
Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.