Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) merupakan lanjutan dari episode initial

otitis media akut (OMA) dengan gejala adanya sekret persisten dari telinga tengah
melalui perforasi membran timpani. Ini menjadi masalah penting untuk mengatasi
ketulian yang kini menimpa negara berkembang (WHO, 2004).
Gangguan pendengaran (tuli) yang terjadi pada pasien OMSK dapat bervariasi.
Pada umumnya gangguan pendengaran yang terjadi berupa tuli konduktif namun
dapat pula bersifat tuli saraf atau tuli campuran apabila sudah terjadi gangguan pada
telinga dalam, misalnya akibat proses infeksi yang berkepanjangan atau infeksi yang
berulang. Beratnya ketulian bergantung kepada besar dan letak perforasi membran
timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem penghantaran suara di telinga tengah
(Djaafar, 2004).
Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) biasanya dimulai dengan otitis media yang
berulang pada anak, sangat jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya
berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga
tengah melalui tuba eustachius. Fungsi tuba eustachius yang abnormal merupakan
faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down Sindrome.
Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor
insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat (Nursiah, 2003).
Survei prevalensi di seluruh dunia walaupun masih bervariasi dalam hal definisi
penyakit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan beban dunia akibat

OMSK melibatkan 65-330 juta orang dengan telinga berair, 60% diantaranya (39-200
juta) mengalami gangguan pendengaran yang signifikan. Diperkirakan 28000
mengalami kematian dan < 2 juta mengalami kecacatan; 94% terdapat di negara
berkembang (WHO, 2004).
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain disebabkan, kondisi sosial,
ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, higiene dan nutrisi yang buruk. Otitis
media kronis merupakan penyakit THT yang paling banyak di negara sedang
berkembang. Di negara maju seperti Inggris sekitar 0, 9% dan di Israel hanya 0,
0039% (WHO, 2004). Menurut survei yang dilakukan pada tujuh propinsi di
Indonesia pada tahun 1996 ditemukan angka kejadian Otitis Media Supuratif Kronis
sebesar 3% dari penduduk Indonesia. Dengan kata lain dari 220 juta penduduk
Indonesia diperkirakan terdapat 6,6 juta penderita OMSK. Di Indonesia menurut
Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, prevalensi OMSK adalah
3,1% - 5,20 % populasi. Usia terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia
7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak adalah OMSK.
Jumlah penderita ini kecil kemungkinan untuk berkurang bahkan mungkin akan
bertambah setiap tahunnya mengingat kondisi ekonomi yang masih buruk, kesadaran
masyarakat akan kesehatan yang masih rendah, dan sering tidak tuntasnya
pengobatan yang dilakukan pasien.
Sampai saat ini belum ada data mengenai prevalensi otitis media supuratif kronis
di RSUP Sanglah. Oleh karena itu penulis tertarik dalam melakukan penelitian untuk
mengetahui prevalensi penderita otitis media supuratif kronis di RSUP Sanglah pada
tahun 2013.

1.2.

Rumusuan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka diperlukan suatu penelitian tentang

Bagaimanakah karakteristik penderita otitis media supuratif kronis di RSUP Sanglah


pada periode bulan Januari Juni tahun 2013.
1.3.
Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik pasien otitis media supuratif kronis (OMSK) di
Poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode bulan Januari - Juni tahun 2013.
1.3.2. Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus pada penelitian ini adalah:
1. Mengetahui jumlah pasien OMSK (otitis media supuratif kronis) yang
berobat di Poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode bulan Januari Juni tahun 2013.
2. Untuk mengetahui peringkat usia terbanyak pada penderita otitis media
supuratif kronis di Poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode bulan
Januari - Juni tahun 2013.
3. Mengetahui jenis kelamin tersering pada penderita otitis media supuratif
kronis di Poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode bulan Januari Juni tahun 2013.
4. Mengetahui gejala klinis yang sering muncul pada penderita otitis media
supuratif kronis di Poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode bulan
Januari - Juni tahun 2013.
5. Mengetahui tipe OMSK yang paling sering dijumpai pada penderita
OMSK di Poliklinik THT RSUP selama periode bulan Januari - Juni
tahun 2013.

1.4.
1.4.1.

Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Dapat memberikan informasi karakteristik penyakit otitis media supuratif kronis

(OMSK) kepada RSUP Sanglah.


1.4.2. Manfaat Teoritis
1. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti mengenai
prevalensi otitis media supuratif kronis di Poliklinik THT RSUP
Sanglah tahun 2013.
2. Dapat dipakai sebagai sumber informasi untuk melakukan penelitian
selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian yang telah dilakukan
penulis.
3.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Otitis Media Supuratif Kronis
2.1.1. Definisi Otitis Media Supuratif Kronis
Otitis Media Supuratif Kronis merupakan stadium dari penyakit telinga bagian
tengah dimana terjadi peradangan kronis dari telinga tengah, mastoid dan membran
timpani yang tidak mengalami perforasi dan ditemukan sekret (otorea) juga terdapat

purulen yang hilang timbul. Apabila penyakit ini hilang timbul atau menetap selama 2
bulan atau lebih maka dapat disebut dengan istilah kronis. (Djaafar, 1997).
Sedangkan menurut (Soepardi, 2007), Otitis media supuratif kronis adalah suatu
peradangan kronis pada telinga bagian tengah dengan perforasi membran timpani dan
riwayat keluarnya sekret dari telinga (ottorhea) selama lebih dari 2 bulan, baik terus
menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa
nanah.
Dan (WHO, 2004) mendefinisikan Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) sebagai
lanjutan dari episode inisial otitis media akut dengan karakteristik adanya sekret
persisten dari telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Ini menjadi masalah
penting untuk mengatasi ketulian yang kini menimpa negara berkembang.
2.1.2. Epidemiologi Otitis Media Supuratif Kronis
Survei prevalensi di seluruh dunia yang walaupun masih bervariasi dalam hal
definisi penyakit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan beban dunia
akibat OMSK melibatkan 65-330 juta orang dengan telinga berair, 60% diantaranya
(39-200 juta) mengalami gangguan pendengaran yang signifikan. Diperkirakan
28.000 mengalami kematian dan < 2 juta mengalami kecacatan; 94% terdapat di
negara berkembang (WHO, 2004).
Beberapa faktor yang mempengaruhi Otitis Media Supuratif Kronis di beberapa
negara antara lain: kondisi sosial, ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygiene
(kebersihan) dan nutrisi yang buruk. Kebanyakkan studi mengukur nilai prevalensi
bukannya menilai angka insidensi seperti table 1. Prevalensi OMSK setiap negara

dikategorikan oleh WHO regional classification pada tahun 2004. WHO


mengkategorikan prevalensi OMSK yaitu Negara dengan nilai prevalensi 1-2%
dianggap rendah dan nilai 3-6% dianggap tinggi (WHO, 2004).
Tabel 2.1
Prevalensi OMSK setiap Negara oleh WHO Regional Classification
Kategori
Populasi
Paling tinggi ( >4% )
Tanzania, India, Solomon Islands,
Guam,
Tinggi ( 2-4%)

Australian

Aborigines,

Greenland
Nigeria, Angola, Mozambique, Republic
of

Korea,

Thailand,

Philippines,

Malaysia, Vietnam, Micronesia, China,


Rendah (1-2% )
Paling rendah ( <1% )

Eskimos
Brazil, Kenya
Gambia, Saudi Arabia, Israel, Australia,
United Kingdom, Denmark, Finland,
American Indians

Sumber : (WHO, 2004)


Sebuah survei pada tahun 1996 yang dilakukan di tujuh propinsi oleh departemen
kesehatan di Indonesia ditemukan prevalensi Otitis Media Supuratif Kronis sebesar
3% dari penduduk Indonesia. Dengan kata lain dari 220 juta populasi penduduk di
Indonesia diperkirakan terdapat 6,6 juta penderita OMSK. Usia terbanyak penderita
infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak
adalah OMSK. Prevalensi OMSK di RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun
1989 sebesar 15,21 %. Di RS Hasan Sadikin Bandung dilaporkan prevalensi OMSK
selama periode 1988 1990 sebesar 15,7 % dan pada tahun 1991 dilaporkan
prevelensi OMSK sebesar 10,96 %. Prevalensi penderita OMSK di RS Dr Sardjito

Yogyakarta pada tahun 1997 sebesar 8,2 % (Paparella MM, 2001). Jumlah penderita
ini akan terus bertambah setiap tahunnya mengingat kondisi perekonomian yang
masih buruk, kesadaran masyarakat akan kesehatan masih rendah dan sering tidak
tuntasnya pengobatan yang dilakukan oleh penderita.
2.1.3. Etiologi Otitis Media Supuratif Kronis
OMSK hampir selalu diawali dengan otitis media yang berulang pada anak, jarang
dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis,
tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba eustachius. Fungsi
tuba eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada
anak dengan cleft palate dan Down Sindrome. (Nursiah, 2003).
Faktor host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah
defisiensi imun sistemik. kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan
cell-mediated (seperti infeksi HIV).
Penyebab OMSK antara lain:
1) Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas,
tetapi mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan
sosioekonomi, dimana kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden
yang lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan
dengan kesehatan secara umum, diet, tempat tinggal yang padat.
2) Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah
insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan
sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada

penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau
sekunder.
3) Otitis media sebelumnya.
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari
otitis media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak
diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang
lainnya berkembang menjadi kronis.
4) Infeksi
Jenis bakteri yang diisolasi dari mukosa telinga tengah hampir sama
pada otitis media kronis yang aktif. Organisme yang terutama dijumpai
adalah bakteri gram-negatif, mikroflora pada usus, dan beberapa
organisme lainnya.
5) Infeksi saluran nafas atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran
nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah
menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang
secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan
pertumbuhan bakteri.
6) Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar
terhadap otitis media kronis.
7) Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi
dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya
sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau
bakteria atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti
kemungkinannya.
8) Gangguan fungsi tuba eustachius.

Pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh
edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder
masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah
digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya
menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif
menjadi normal (Kumar S, 1996).
2.1.4. Pathogenesis Otitis Media Supuratif Kronis
Patogenesis OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini
merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah
terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Perforasi sekunder
pada OMA dapat terjadi kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah contohnya
perforasi kering. Beberapa penulis menyatakan keadaan ini sebagai keadaan inaktif
dari otitis media kronis. Suatu teori tentang patogenesis dikemukan dalam buku
modern yang umumnya telah diterima sebagai fakta. Hipotesis ini menyatakan bahwa
terjadinya otitis media nekrotikans, terutama pada masa anak-anak, menimbulkan
perforasi yang besar pada gendang telinga. Setelah penyakit akut berlalu, gendang
telinga tetap berlubang, atau sembuh dengan membran yang atrofi kemudian dapat
kolaps kedalam telinga tengah, memberi gambaran otitis atelektasis. Hipotesis ini
mengabaikan beberapa fakta, antara lain:
1) Hampir seluruh kasus otitis media akut sembuh dengan perbaikan lengkap
membran timpani. Pembentukan jaringan parut jarang terjadi, biasanya
ditandai oleh penebalan dan bukannya atrofi.

10

2) Otitis media nekrotikans sangat jarang ditemukan sejak digunakannya


antibiotik. Di pihak lain, kejadian penyakit telinga kronis tidak berkurang
dalam periode tersebut.
3) Pasien dengan penyakit telinga kronis tidak mempunyai riwayat otitis akut
pada permulaannya, melainkan lebih sering berlangsung tanpa gejala dan
bertambah secara bertahap, sampai diperlukan pertolongan beberapa tahun
kemudian setelah pasien menyadari adanya masalah (Glasscock III M.E,
Shambaugh GE, 1990).
2.1.5. Klasifikasi Otitis Media Supuratif Kronis
Otitis Media Supuratif Kronis dapat dibagi menjadi 2 tipe yaitu:
1) Tipe Tubotimpani
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars
tensa dan gejala klinis yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi
tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap
infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, di
samping itu campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat
perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamous. Secara
klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
1) Penyakit aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya
didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba
eutachius, atau setelah berenang di mana kuman masuk melalui
liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai
mukopurulen. Ukuran perforasi bervariasi dan jarang ditemukan

11

polip yang besar pada liang telinga luas. Perluasan infeksi ke selsel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan penyakit
mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif
gagal untuk mengontrol infeksi.
2) Penyakit tidak aktif
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering
dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai
berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti
vertigo, tinitus, and atau suatu rasa penuh dalam telinga.
2) Tipe Atikoantral
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit
atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan
terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai
menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom adalah suatu massa amorf,
konsistensi seperti mentega, berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel
bertatah yang telah nekrotik (Soepardi et all, 2007).
Bentuk perforasi membran timpani adalah :
1) Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan
postero-superior, kadang-kadang sub total.
2) Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi
dari anulus fibrosus. Perforasi marginal yang sangat besar
digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi pada pinggir
postero-superior berhubungan dengan kolesteatom.
3) Perforasi atik
Terjadi pada pars flasida, berhubungan dengan primary acquired
cholesteatoma (Helmi S, 2005).

12

Primary acquired cholesteatoma adalah kolesteatom yang terbentuk


tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. Kolesteatom timbul
dikarenakan proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat
adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena gangguan tuba (teori
invaginasi). Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flaksida
Secondary acquired cholesteatoma terbentuk setelah perforasi membran
timpani. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang
telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah
(teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani
karena iritasi infeksi yang berlangsung lama (teori metaplasi) (Aboet A,
2007).

2.1.6. Gejala dan Tanda Klinis Otitis Media Supuratif Kronis


1) OMSK Tipe Tubotimpani
Gejalanya berupa sekret mukoid yang tidak terlalu berbau busuk , ketika
pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan
dan penggunaan antibiotik lokal biasanya cepat menghilang, sekret mukoid
dapat konstan atau hilang timbul.
Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan
derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang pendengaran dan koklea
selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.
Perforasi membran timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi
selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya. Proses peradangan pada daerah
timpani terbatas pada mukosa sehingga membran mukosa menjadi berbentuk
garis derajat infeksi membran mukosa dapat tipis dan pucat atau merah dan

13

tebal, kadang-kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan
mengarah pada meatus menghalangi pandangan membran timpani dan telinga
tengah sampai polip tersebut diangkat . Sekret terlihat berasal dari rongga
timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid. Setelah satu atau dua kali
pengobatan local bau busuk berkurang. Cairan mukus yang tidak terlalu bau
dan perforasi besar tipe sentral merupakan diagnosa khas pada OMSK tipe
tubotimpani.
2) OMSK Tipe Atikoantral dengan Kolesteatom
Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret yang sangat
bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat kepingankepingan kecil, berwarna putih mengkilat. Gangguan pendengaran tipe
konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom pada otitis media
nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena
kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal
semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom (Helmi S, 2005).

2.1.7. Pemeriksaan Klinis Otitis Media Supuratif Kronis


Untuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan klinis sebagai
berikut:
1) Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif.
Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensorineural, beratnya ketulian tergantung
besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem
penghantaran suara di telinga tengah.

14

Paparella, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan
tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala
timpani melalui membran fenstra rotundum, sehingga menyebabkan penurunan
ambang hantaran tulang secara temporer/permanen yang pada fase awal terbatas pada
lengkung basal koklea tapi dapat meluas kebagian apek koklea. Gangguan
pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang, sedang berat, dan ketulian
total, tergantung dari hasil pemeriksaan (audiometri atau test berbisik). Derajat
ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata kehilangan intensitas
pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO 1964 yang ekivalen
dengan skala ANSI 1969.
Tabel 2.2
Derajat Ketulian dan Nilai Ambang Pendengaran menurut ISO 1964 dan ANSI
1969
Normal
-10 dB sampai 26 dB
Tuli ringan
27 dB sampai 40 dB
Tuli sedang
41 dB sampai 55 dB
Tuli sedang berat
56 dB sampai 70 dB
Tuli berat
71 dB sampai 90 dB
Tuli total
lebih dari 90 dB
Sumber : (Soetirto I, 2004)
Evaluasi audiometri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi
koklea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang
serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat
diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk
perbaikan pendengaran. Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh
penilaian pendengaran dengan menggunakan garpu tala dan test Barany. Audiometri

15

tutur dengan masking dianjurkan, terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli
campur (Boesoirie S, 2007).
2) Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai
diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.
Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik,
lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya
atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik memberi kesan
kolesteatom. Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah:
1) Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari
arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena
memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang
sklerotik, gambaran radiografi ini sangat membantu ahli bedah untuk
menghindari dura atau sinus lateral.
2) Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah.
Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat
diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur.
3) Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus
dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum
dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam
potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibat
kolesteatom.
4) Proyeksi Chause III, memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga
dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan
CT-scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom,
ada atau tidak tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula

16

pada kanalis semisirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan operasi


jarang berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Pada keadaan tertentu
seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan
adanya penyakit mastoid.
3) Bakteriologi
Walaupun perkembangan dari OMSK merupakan lanjutan dari mulainya infeksi
akut, bakteriologi yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan yang
ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang sering dijumpai pada
OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa, Stafilokokus aureus dan Proteus. Sedangkan
bakteri pada OMA Streptokokus pneumonie, H. influensa, dan Morexella kataralis.
Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E. Coli, Difteroid, Klebsiella, dan bakteri
anaerob seperti Bacteriodes sp. Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan
berasal dari hidung, sinus paranasal, adenoid atau faring. Dalam hal ini penyebab
biasanya adalah pneumokokus, streptokokus, atau hemofilius influensa. Tetapi pada
OMSK keadaan ini agak berbeda. Karena adanya perforasi membran timpani, infeksi
lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tersebut (Ballenger JJ,
1997).

2.1.8. Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif Kronis


Pengobatan penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktorfaktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Dengan demikian pada waktu
pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi
kronis, perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta
mengganggu fungsi, dan proses infeksi yang terdapat di telinga. Bila didiagnosis

17

kolesteatom, maka mutlak harus dilakukan operasi, terapi obat-obatan dapat


digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Prinsip pengobatan tergantung
dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, dimana pengobatan dapat dibagi atas :
1) Konservatif
2) Operasi

1) Penatalaksanaan OMSK Tipe Tubotimpani


1) OMSK Tipe Tubotimpani Aktif
Keadaan ini harus dilakukan pembersihan liang telinga dan kavum timpani
(toilet telinga). Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak
sesuai untuk perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga
merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme.
2) OMSK Tipe Tubotimpani Tenang (Tidak Aktif)
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan
mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang
berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila
fasilitas

memungkinkan

sebaiknya

dilakukan

operasi

rekonstruksi

(miringoplasti,timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta


gangguan pendengaran (Soepardi et all, 2007).
2) Penatalaksanaan OMSK Tipe Atikoantral
Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan
konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum
dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses
sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.

18

Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada
OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe tubotimpani atau tipe atikoantral, antara
lain :
1) Mastoidektomi sederhana
Dilakukan pada OMSK tipe tubotimpani yang tidak sembuh dengan
pengobatan konservatif. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang
mastoid dari jaringan patologik, dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga
tidak berair lagi.
2) Mastoidektomi radikal
Dilakukan pada OMSK tipe atikoantral dengan infeksi atau kolesteatom yang
sudah meluas.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan
dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan
telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah
anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini adalah untuk
membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke
intrakranial.
3) Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy)
Dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik, tetapi belum
merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding
posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi adalah untuk membuang
semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan
pendengaran yang masih ada.
4) Miringoplasti
Dilakukan pada OMSK tipe tubotimpani yang sudah tenang dengan ketulian
ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Operasi ini
merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan nama
timpanoplasti tipe 1. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani.

19

Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada
OMSK tipe tubotimpani dengan perforasi yang menetap.
5) Timpanoplasti
Dikerjakan pada OMSK tipe tubotimpani dengan kerusakan yang lebih berat
atau OMSK tipe tubotimpani yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan
medikamentosa. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta
memperbaiki pendengaran. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran
timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran.
Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah
timpanoplasti tipe II, III, IV dan V.
6) Timpanoplasti dengan pendekatan

ganda

(Combined

Approach

Tympanoplasty)
Dikerjakan pada kasus OMSK tipe atikoantral atau OMSK tipe tubotimpani
dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi untuk menyembuhkan
penyakit

serta

memperbaiki

pendengaran

tanpa

melakukan

teknik

mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga).


Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan
kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan, yaitu
liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior.
Namun teknik operasi ini pada OMSK tipe atikoantral belum disepakati oleh
para ahli karena sering timbul kembali kolesteatom (Soepardi et all, 2007).
2.1.9. Komplikasi Otitis Media Supuratif Kronis
Penyakit ini pada umumnya tidak memberikan rasa sakit kecuali apabila sudah
terjadi komplikasi. Biasanya komplikasi didapatkan pada penderita OMSK tipe
atikoantral seperti labirinitis, meningitis, abses otak yang dapat menyebabkan

20

kematian. Kadangkala suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada OMSK
tipe tubotimpani pun dapat menyebabkan suatu komplikasi (Nursiah, 2003).

BAB III
KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN

3.1. Kerangka Berpikir


Survei prevalensi di seluruh dunia walaupun masih bervariasi dalam hal definisi
penyakit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan beban dunia akibat
OMSK melibatkan 65-330 juta orang dengan telinga berair, 60% diantaranya (39-200
juta) mengalami gangguan pendengaran yang signifikan. Diperkirakan 28.000
mengalami kematian dan < 2 juta mengalami kecacatan; 94% terdapat di negara
berkembang (WHO, 2004).

21

Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain disebabkan, kondisi sosial,
ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, higiene dan nutrisi yang buruk. Otitis
media kronis merupakan penyakit THT yang paling banyak di negara sedang
berkembang. Menurut survei yang dilakukan pada tujuh propinsi di Indonesia pada
tahun 1996 ditemukan angka kejadian Otitis Media Supuratif Kronis sebesar 3% dari
penduduk Indonesia. Dengan kata lain dari 220 juta penduduk Indonesia diperkirakan
terdapat 6, 6 juta penderita OMSK. Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera
Penglihatan dan Pendengaran, prevalensi OMSK adalah 3,1% - 5,20% populasi. Usia
terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit
telinga tengah terbanyak adalah OMSK.
Jumlah penderita ini kecil kemungkinan untuk berkurang bahkan mungkin akan
bertambah setiap tahunnya mengingat kondisi ekonomi yang masih buruk, kesadaran
masyarakat akan kesehatan yang masih rendah, dan sering tidak tuntasnya
pengobatan yang dilakukan pasien.
Sampai saat ini belum ada data mengenai karakteristik pasien otitis media
supuratif kronis di RSUP Sanglah. Oleh karena itu penulis tertarik dalam melakukan
penelitian untuk mengetahui karakteristik penderita otitis media supuratif kronis di
RSUP Sanglah pada tahun 2013.
3.2. Konsep Penelitian
Dalam penelitian ini yang diamati adalah umur, jenis kelamin, dan gejala klinis
yang mendukung untuk mengetahui karakteristik Otitis Media Supuratif Kronis
(OMSK) dan dikelompokkan berdasarkan klasifikasinya.
Karakteristik:

22

Umur
Jenis Kelamin
Gejala Klinis

OMSK
(Otitis Media Supuratif Kronis)

OMSK Tipe Tubotimpani


(Benign)

OMSK Tipe Atikoantral


(Maligna)

Gambar 3.1 Konsep Penelitian

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Rancangan Penelitian
1.
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan
pendekatan cross-sectional untuk mengetahui jumlah kasus OMSK di Poliklinik THT
RSUP Sanglah, Denpasar, Bali dalam periode bulan Januari Juni tahun 2013 dengan
mempergunakan data sekunder rekam medis pasien sejak Januari 2013 hingga Juni
2013. Penelitian cross-sectional merupakan jenis penelitian yang pengukuran dan
pengamatan variabel-variabelnya dilakukan hanya satu kali, pada satu waktu.
2.
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Poliklinik THT RSUP Sanglah, Denpasar. Pemilihan
lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa RSUP Sanglah merupakan RS rujukan
yang memiliki data rekam medis yang baik.
3.
Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan selama 2 bulan dan dimulai dari bulan Agustus
September 2014.

23

4.2. Subjek dan Sampel


4.2.1. Variabilitas Populasi
1) Populasi Target
Populasi target pada penelitian ini adalah pasien OMSK.
2) Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah seluruh pasien OMSK yang menerima perawatan
di Poliklnik THT Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali yang
tercatat pada buku register Poliklinik THT RSUP Sanglah sejak bulan Januari
2013 hingga Juni 2013.
3) Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini merupakan populasi terjangkau yang memenuhi
kriteria inklusi dan tidak mempunyai kriteria eksklusi
4.2.2. Kriteria Subjek
Pada penelitian ini kriteria inklusi subjek adalah mengalami OMSK, mendapatkan
perawatan medis di Poliklinik THT RSUP Sanglah dan tercatat dalam rekam medis.
Peneliti tidak menyediakan kriteria eksklusi untuk subjek.
4.2.3. Teknik Pengumpulan Sampel
Teknik pengumpulan sampel yang digunakan adalah total sampling. Total
sampling merupakan cara pengambilan sampel dimana penentuan sampel dengan
menggunakan semua populasi yang ada hingga batas waktu yang telah ditentukan.
Metode ini dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
epidemiologi kasus OMSK dengan batasan waktu dari Januari 2013 hingga Juni
2013. Data sampel yang digunakan dalam penelitian berasal dari data sekunder rekam
medis Poliklinik THT RSUP Sanglah.

4.3. Variabel
4.3.1. Identifikasi Variabel

24

Adapun variabel-variabel yang diperhitungkan pada penelitian ini adalah


terdiagnosis OMSK, usia, jenis kelamin, gejala klinis, dan jenis OMSK.
4.3.2. Definisi Operasional
1) Terdiagnosis OMSK
Diagnosis OMSK adalah diagnosis yang tertera pada rekam medis Poliklinik
THT RSUP Sanglah selama periode bulan Januari - Juni tahun 2013.
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin adalah jenis kelamin yang tertera pada rekam medis Poliklinik
THT RSUP Sanglah selama periode bulan Januari - Juni tahun 2013.
Kategori:
a. Wanita
b. Laki-laki
3) Usia
Usia adalah lamanya hidup pasien (dalam tahun) terhitung sejak dilahirkan
yang tertera pada rakam medis Poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode
bulan Januari - Juni tahun 2013.
Yang dikategorikan : 0 10 tahun, 11 20 tahun, 21 30 tahun, 31 40
tahun, 41 50 tahun, dan 50 tahun keatas.
4) Gejala Klinis
Gejala klinis adalah gejala yang dijumpai pada penderita otitis media supuratif
kronis sesuai dalam rekam medis.
Yang dikategorikan : otorhea, nyeri telinga (otalgia), dan gangguan
pendengaran.
5) Tipe OMSK
Jenis OMSK dibagi atas OMSK tipe Tubotimpani dan OMSK tipe
Atikoantral. Data tersebut diperoleh dari rekam medis pasien Poliklinik THT
RSUP Sanglah.
4.4. Bahan dan Instrumen Penelitian

25

1) Rekam medis pasien di Poliklinik THT RSUP Sanglah Denpasar.


2) Buku register Poliklinik THT RSUP Sanglah.
4.5. Protokol Penelitian
Data yang telah terkumpul diolah dengan menggunakan langkah-langkah sebagai
berikut :
1) Data-data sampel yang diperlukan akan dilihat melalui rekam medis dan
dicantumkan pada formulir penelitian.
2) Pengecekan data dilakukan untuk memastikan kelengkapan rincian data
karakteristik tiap pasien terkumpul, bila terdapat kesalahan atau kekurangan
dalam pengumpulan, maka dilakukan pengambilan data ulang.
3) Hal tersebut terus dilakukan hingga batas waktu yang telah ditentukan.
4) Setelah data terkumpul, dilanjutkan dengan perhitungan statistik sederhana yang
bertujuan agar rincian frekuensi data yang diperoleh dapat disajikan dalam suatu
ukuran deskriptif, dapat berupa mean, median, modus, dan tendensi sentral.
5) Hasil penelitian nantinya akan dikelompokkan sesuai golongan variabelnya dan
disajikan dalam bentuk grafik maupun tabel.

4.6. Analisa Data


Pengolahan dilakukan dengan menganalisa data pasien yang diambil dari rekam
medis di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Analisa data ini akan dilakukan secara
deskriptif dengan menggunakan program komputer Windows SPSS. Nantinya akan
diperoleh distribusi proporsi kasus OMSK berdasarkan usia, jenis kelamin, gejala
klinis, dan jenis OMSK yang disajikan dalam bentuk grafik ataupun tabel.

26

4.7. Kelemahan Penelitian


Kelemahan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Studi deskriptif yang digunakan menyebabkan penelitian ini tidak dapat membuat
suatu analisis hubungan setiap variabel penelitian.
2) Pemanfaatan studi ini berlaku terbatas akibat dilaksanakan pada satu waktu saja,
sehingga data yang diperoleh tidak akan relevan jika digunakan pada masa yang
akan datang.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.

Hasil Penelitian
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 117 orang yaitu penderita Otitis Media
Supuratif Kronis yang berobat di Poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode
bulan Januari sampai Juni 2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Sampel yang diperoleh ini terdiri dari 64 laki-laki (54.7%) dan 53 perempuan

(45.3%).
5.2.
Karakteristik Sampel

27

Dari

keseluruhan

sampel

yang

ada

diperoleh

gambaran

mengenai

karakteristik, mencakup jenis kelamin, usia, gejala klinis, dan tipe OMSK.
Tabel 5.1
Distribusi Sampel berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah

64
53

54.7
45.3

117

100

Proporsi kejadian otitis media supuratif kronis lebih besar terjadi pada jenis
kelamin laki-laki sebesar 54.7 % sedangkan pada perempuan sebanyak 45.3 %.
Tabel 5.2
Distribusi Sampel berdasarkan Usia
%

Kelompok Umur

0 10
11 20
21 30
31 40
41 50
> 50

1
47
30
22
9
8

0.5
40.2
25.7
18.9
7.8
6.9

Jumlah

117

100

Pada table 4 diatas dapat diketahui bahwa dari 117 penderita otitis media
supuratif kronis, proporsi yang terbesar terjadi pada kelompok umur antara 11
20 tahun dengan persentase 40.2%, diikuti oleh kelompok umur 21 30 tahun
dan 31 40 tahun dengan persentase sebesar 25.7% dan 18.9%. Lalu pada
kelompok umur 41 50 tahun sebesar 7.8% dan kelompok umur >50 tahun

28

memiliki persentase yaitu 6.9%. Sementara proporsi terkecil ditemukan pada


kelompok umur 0 10 tahun dengan persentase 0.5%.
Tabel 5.3
Distribusi Sampel berdasarkan Gejala Klinis
Gejala Klinis
Otorhea
Otalgia
Gangguan Pendengaran

107
22
58

91.5
18.8
49.6

Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa gejala klinis yang paling banyak diderita
oleh pasien otitis media supuratif kronis adalah otorhea (telinga berair) dengan
persentase 91.5%. Lalu diikuti oleh gangguan pendengaran sebesar 49.6%. Pasien
OMSK yang mengalami otalgia (nyeri telinga) yaitu sebesar 18.8%.
Tabel 5.4
Distribusi Sampel berdasarkan Tipe Penyakit
Tipe OMSK
Benigna
Maligna
Jumlah

112
5

95.7
4.3

117

100

Berdasarkan tipe OMSK, yang paling banyak diderita oleh pasien OMSK
adalah tipe benigna yaitu sebanyak 112 pasien dengan persentase 95.7%.
Sedangkan tipe maligna jauh lebih sedikit yaitu 5 pasien dengan persentase 4.3%.
5.3.

Grafik Data

29

Distribusi Sampel menurut Jenis Kelamin

Laki-laki
Perempuan

45%
55%

Gambar 5.1

Distribusi Sampel menurut Umur dan Jenis Kelamin


30
25
20
Laki-laki

Frekuensi 15

Perempuan

10
5
0

0 10 11 20 21 30 31 40 41 50 > 50
Kelompok Umur

Gambar 5.2

30

Distribusi Sampel menurut Gejala Klinis

107
58
22

Otorhea

Otalgia

Gangguan Pendengaran

Gambar 5.3

Distribusi Sampel berdasarkan Tipe Penyakit

112

5
Maligna

Benigna

Gambar 5.4

31

5.4.

Pembahasan
Berdasarkan data yang didapat dari rekam medis pasien di Poliklinik THT
RSUP Sanglah terdapat 117 sampel penelitian selama periode bulan Januari Juni
2013. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa kejadian otitis media supuratif kronis
berdasarkan jenis kelamin lebih sering terjadi pada laki-laki yaitu 54.7%
dibandingkan dengan perempuan sebesar 45.3%. Hasil ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan tahun
2009 dengan 65 pasien OMSK didapatkan proporsi kejadian otitis media supuratif
kronis pada laki-laki lebih besar yaitu 55.4% sedangkan pada perempuan sebesar
44.6 % (Premraj P, 2010). Selain itu, hal ini juga sejalan dengan penelitian yang
dilakukan di RS Sardjito Yogyakarta selama 2 tahun, jenis kelamin yang paling
banyak menderita OMSK adalah laki-laki sebesar 62.1% (Nirmala H, 2002). Hal
ini membuktikan bahwa laki-laki memiliki resiko yang lebih tinggi menderita
otitis media supuratif kronis dibandingkan perempuan.
Gambaran distribusi sampel berdasarkan usia di Poliklinik THT RSUP
Sanglah selama periode bulan Januari Juni 2013 menunjukan bahwa proporsi
penderita otitis media supuratif kronis terbesar pada kelompok umur antara 11
20 tahun yaitu sebanyak 40.2%. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang
dilakukan di RS St. Elisabeth Semarang pada tahun 1998, dari 135 penderita
OMSK, 62.4% adalah kelompok umur 11 20 tahun (Roland NJ, 1999). Selain
itu, hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RS St.
Carolus Jakarta selama 2 tahun dimana dari 208 penderita OMSK, 66.4%
merupakan kelompok umur 11 20 tahun (Soeharso N,1996). Hal ini sudah

32

terbukti dalam banyak penelitian dimana kelompok umur 11 20 tahun


menduduki proporsi terbesar.
Dari hasil penelitian, dapat dilihat bahwa keluhan yang paling banyak diderita
oleh pasien otitis media supuratif kronis adalah otorhea (telinga berair) yaitu
sebanyak 107 pasien dengan persentase 91.5%. Menurut penelitian yang
dilakukan di RS Sardjito Yogyakarta selama 2 tahun menyatakan bahwa keluhan
terbanyak yang diderita oleh pasien otitis media supuratif kronis adalah keluhan
telinga berair (otorhea) sebanyak 99.8% (Nirmala H, 2002). Hal ini juga sejalan
dengan penelitian yang dilakukan di RS H Adam Malik Medan pada tahun 2009
dengan 65 pasien OMSK didapatkan semua pasien mengalami keluhan telinga
berair (otorhea). Dengan kata lain, persentase keluhan telinga berair sebesar 100%
(Premraj P,2010).
Menurut hasil gambaran distribusi sampel berdasarkan tipe OMSK di
Poliklinik THT RSUP Sanglah, tipe benigna yang merupakan tipe jinak
mendominasi diagnosis yaitu sebesar 95.7%. Sedangkan tipe maligna sebesar
4.3%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RS Dr Cipto
Mangunkusumo Jakarta selama 2 tahun, tipe OMSK yang lebih banyak diderita
oleh pasien OMSK adalah tipe benigna sebanyak 57.9% (Manuaba LM, 1999).
Namun hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RS Sardjito
Yogyakarta pada tahun 1997 hingga tahun 1999, dimana proporsi kejadian OMSK
terbesar ialah OMSK tipe maligna yaitu sebanyak 72.2% (Silvia H, 2000).

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

33

6.1.

Kesimpulan
Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) merupakan lanjutan dari episode

initial otitis media akut (OMA) dengan gejala adanya sekret persisten dari telinga
tengah melalui perforasi membran timpani. Ini menjadi masalah penting untuk
mengatasi ketulian yang kini menimpa negara berkembang dimana Indonesia
sampai saat ini merupakan negara berkembang.
Dari penelitian ini, peneliti dapat menyimpulkan jumlah total penderita otitis
media supuratif kronis di poliklinik THT RSUP Sanglah selama periode bulan
Januari Juni 2013 yaitu sebesar 117 orang. Selama periode tersebut pasien
OMSK terbanyak berjenis kelamin laki-laki dengan persentase sebesar 54.7% dan
perempuan sebesar 45.3%. Kelompok umur terbanyak menderita OMSK adalah
kelompok umur antara 11 20 tahun yaitu sebanyak 40.2%.
Keluhan terbanyak yang dialami oleh penderita otitis media supuratif kronis
di Poliklinik THT RSUP Sanglah adalah telinga berair (otorhea) dengan
persentase sebesar 91.5% kemudian diikuti oleh gangguan pendengaran sebesar
49.6%. Sedangkan nyeri telinga (otalgia) sebesar 18.8%.
Tipe OMSK dibagi menjadi 2 yaitu tipe benigna dan tipe maligna. Distribusi
tipe OMSK selama periode bulan Januari Juni tahun 2013 di Poliklinik THT
RSUP Sanglah didapatkan tipe benigna mendominasi diagnosis dengan persentase
95.7%. Sedangkan proporsi tipe maligna sebesar 4.3%.
6.2.

Saran
Perlunya pihak rumah sakit melakukan pengawasan, memberikan petunjuk

serta mengajari pihak keluarga dan penderita sendiri cara merawat otitis media

34

supuratif kronis untuk mencegah terjadinya kekambuhan penyakit ini pada


penderita tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Aboet A, (2006). Terapi pada Otitis Media Supuratif Akut, Dalam: Majalah
Kedokteran Nusantara; Departemen Telinga Hidung Tenggorokan dan Bedah Kepala
Leher FKUSU, Medan; Vol. 39; No. III.
Ballenger JJ, 1997. Penyakit Telinga Kronis. Dalam: Penyakit Telinga, Hidung,
Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid dua. Edisi 13. Binarupa Aksara. Jakarta. hal: 392403.
Djaafar, Z.A, (1997). Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Telinga, Hidung, Tenggorok, edisi 3, FKUI, Jakarta; h.54-57.
Glasscock III M.E, Shambaugh GE, (1990). Pathology and Clinical Course of
Inflammatory Disease of the Middle Ear. In: Surgery of the Ear, 4th ed, Philadelphia,
WB. Saunders Company; h.184-187.
Helmi S, (1990). Perjalanan Penyakit dan Gambaran Klinik Otitis Media Suppuratif
Kronis. Dalam: Pengobatan Non Operatif Otitis Media Supuratif, Editor Helmi dkk,
Balai Penerbit FK-UI, Jakarta; h.17-35.

35

Kumar S, (1996). Chronic Suppurative Otitis Media. In: Fundamental of Ear, Nose
and Throat Disease and Head Neck Surgery, Calcuta, 6th ed; h.100-107.
Paparella MM, et all Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid, Editor Effendi H, Santosa
K, Dalam : Boies Buku Ajar Penyakit THT, Alih Bahasa : Dr. Caroline Wijaya, Edisi
6, Jakarta, ECG, 1994 ; 88-113.
Roland NJ, (1999). Chronic Suppurative Otitis Media, Key Topic in Otolaryngology
and Head Neck Surgery, Bios scientific; h.51-53
Soepardi, EA , Nurbaiti, Jenny, Restuti, DR, 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala & Leher. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Edisi 6, Jakarta ; 69-74.
Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J, 2004. Gangguan Pendengaran dan Kelainan
Telinga dalam Soepardi EA, Iskandar N (Ed) Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi kelima. Balai Penerbit FK UI. Jakarta. hal: 919.
World Health Organization, Chronic Suppurative Otitis Media, Burden of Illness
and Management Options, Child and Adolescent Health and Development,
Prevention of Blindness and Deafness, Geneva, Switzerland, 2004.