Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hampir di setiap sekolah kita dapat menjumpai program Bimbingan dan
Konseling. Hal ini bukan semata terletak pada landasan atau ketentuan dari atas,
namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik
agar mampu mengembangkan potensi dirinya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan BK di sekolah saat ini sangat
dibutuhkan. Hal ini menyangkut tugas dan perannya terhadap peserta didik seperti
yang dikemukakan di atas. Lebih dari itu iklim dan lingkungan yang tidak
sehat membuat keberadaan BK menjadi sangat urgen dan mutlak ada. Kenakalan
siswa, misalnya. Itu merupakan salah satu faktor penyebab lingkungan / iklim
menjadi rusak.
Kenakalan siswa merupakan suatu bentuk perilaku siswa yang
menyimpang dari aturan sekolah. Kenakalan siswa banyak macamnya. Salah
satunya ialah membolos atau masuk tidak teratur. Membolos disebut kenakalan
remaja karena membolos sudah merupakan perilaku yang mencerminkan telah
melanggar aturan sekolah.
Perilaku membolos sebenarnya bukan merupakan hal yang baru lagi bagi
banyak pelajar. Setidaknya bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan. Hal
ini disebabkan kerena perilaku membolos itu sendiri telah ada sejak dulu.
Tindakan membolos dikedepankan sebagai sebuah jawaban atas kejenuhan yang
sering dialami oleh banyak siswa terhadap kurikulum sekolah. Buntutnya memang
akan menjadi fenomena yang jelas - jelas akan mencoreng lembaga persekolahan
itu sendiri. Tidak hanya di kota - kota besar saja siswa yang terlihat sering
membolos, bahkan sekolah yang letaknya di daerah - daerah pun prilaku
membolos sudah menjadi kegemaran.
Banyak siswa yang sering membolos bukan hanya di sekolah - sekolah
tertentu saja tetapi banyak sekolah mengalami hal yang sama. Hal ini juga
1

seringkali membuat peserta didik ikut serta terlibat pada hal - hal yang cenderung
merugikan. Betapa seriusnya perilaku membolos ini perlu mendapat perhatian
penuh dari berbagai pihak. Bukan saja hanya perhatian yang berasal dari pihak
sekolah, melainkan juga perhatian yang berasal dari orang tua, teman maupun
pemerintah. Perilaku membolos sangat merugikan dan bahkan bisa saja menjadi
sumber masalah baru. Apabila hal ini terus menerus dibiarkan berlalu, maka yang
bertanggung jawab atas semua ini bukan saja dari siswa itu sendiri melainkan dari
pihak sekolah ataupun guru yang menjadi orang tua di sekolah juga akan ikut
menangungnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dibahas
dalam makalah ini ialah :
1. Apa pengertian dari program Bimbingan dan Konseling ?
2. Apa pengertian dari membolos ?
3. Apa saja faktor - faktor yang menjadi penyebab siswa membolos ?
4. Apakah akibat yang akan ditimbulkan oleh siswa yang suka membolos ?
5.

Bagaimana peran program Bimbingan dan Konseling (BK) dalam hal


mengatasi siswa yang suka membolos ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk menjelaskan pengertian dari program Bimbingan dan Konseling.
2. Untuk menjelaskan pengertian dari membolos.
3. Untuk mengetahui apa saja faktor - faktor yang menjadi penyebab siswa
membolos.
4. Untuk mengetahui dampak atau akibat yang akan ditimbulkan pada siswa yang
suka membolos.
5. Untuk mengetahui bagaimana peran dari progam Bimbingan dan Konseling
(BK) dalam hal mengatasi siswa yang suka membolos.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling (BK)
Untuk lebih mengetahui pengertian mengenai bimbingan dan konseling,
berikut ini dikemukakan penjelasan mengenai bimbingan dan konseling.
1. Pengertian Bimbingan
Banyak ahli berusaha merumuskan pengertian bimbingan dan konseling.
Dalam merumuskan kedua istilah tersebut mereka memberikan tekanan pada
aspek tertentu dari kegiatan tersebut. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
dikemukakan beberapa rumusan tentang istilah bimbingan dan konseling
Jones mengatakan bahwa Guidance is the help given by one person to
another in making choice and adjustments and in solving problems. Dalam
pengertian tersebut terkandung maksud bahwa tugas pembimbing hanyalah
membantu agar individu yang dibimbing mampu membantu dirinya sendiri,
sedangkan keputusan terakhir tergantung kepada individu yang dibimbing (klien).
Ini senada dengan pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Rachman
Natawidjaja (1978) bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada
individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat
memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak
wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Dengan
demikian, dia dapat mengecap kebahagiaan hidupnya serta dapat memberikan
sumbangan yang berarti.
Selanjutnya Walgito (1982 : 11) merumuskan bahwa bimbingan adalah
bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan
individu - individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan - kesulitan di
dalam kehidupannya, agar individu atau sekumpulan individu - individu itu dapat
mencapai kesejahteraan hidupnya.
Berdasarkan pengertian dari beberapa tokoh diatas, yang dimaksud dengan
bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang
3

ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja,
maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan
dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu yang ada
dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2. Pengertian Konseling
Istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu Consilium yang berarti
dengan atau bersama yang dirangkai dengan kata menerima atau
memahami.1
Menurut Division of Counseling Psychology (Prayitno, 1994:1001)
konseling diartikan sebagai suatu proses untuk membantu individu mengatasi
hambatan-hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai perkembangan
optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya, dimana proses tersebut terjadi
setiap waktu.
Walgito (1982 :11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang
diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan
wawancara, dengan cara cara yang sesuai dengan keadaan individu yang
dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
Berdasarkan pendapat pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa
kegiatan konseling itu mempunyai ciri ciri sebagai berikut.
a. Pada umumnya dilaksanakan secara individual.
b. Pada umunya dilakukan dalam suatu perjumpaan tatap muka.
c. Untuk pelaksanaan konseling dibutuhkan orang yang ahli.
d. Tujuan

pembicaraan

dalam

proses

konseling

ini

diarahkan

untuk

memecahkan masalah yang dihadapi klien.


e. Individu yang menerima layanan (klien) akhirnya mampu memecahkan
masalahnya dengan kemampuannya sendiri.
Atas dasar ciri-ciri diatas, dapat dirumuskan dengan singkat bahwa yang
dimaksud dengan konseling adalah suatu proses memberi bantuan yang dilakukan
melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (yang disebut konselor) kepada
1 Heru Mugiarso, Bimbingan dan Konseling, (Semarang : Unnes Pers,
2012), hal. 4

individu yang sedang mengalami suatu masalah (disebut klien) yang bermuara
pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

B. Pengertian Membolos
Membolos atau dapat diartikan tidak masuk sekolah tanpa keterangan,
tidak masuk sekolah beberapa hari, dari rumah berangkat tapi tidak sampai ke
sekolah, dan meninggalkan sekolah pada jam pelajaran. Membolos sekolah
mungkin merupakan salah satu budaya dalam pendidikan di Indonesia. Seringkali
kita mendapati anak-anak sekolah yang masih berseragam berkeliaran di luar
sekolah pada jam sekolah.2 Anehnya lagi pada zaman sekarang bukan hanya anak
laki-laki saja yang melestarikan kebudayaan membolos tetapi anak perempuan
juga sudah mulai terbiasa melakukan kegiatan membolos juga. Padahal membolos
merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang jika tidak segera
diselesaikan atau dicari solusinnya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah.
Oleh karena itu penanganan terhadap siswa yang suka membolos menjadi
perhatian yang sangat serius.
Penanganan tidak saja dilakukan oleh sekolah, tetapi pihak keluarga juga
perlu dilibatkan. Malah terkadang penyebab utama siswa membolos lebih sering
berasal dari dalam keluarga itu sendiri. Jadi komunikasi antara pihak sekolah
dengan pihak keluarga menjadi sangat penting dalam pemecahan masalah siswa
tersebut.

C. Faktor - Faktor Penyebab Peserta Didik Membolos


Penyebab siswa membolos dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Beberapa faktor - faktor penyebab siswa membolos dapat dikelompokkan menjadi
dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor
yang berasal dari dalam diri siswa bisa berupa karakter siswa yang memang suka
membolos, sekolah hanya dijadikan tempat mangkal dari rutinitas - rutinitas yang
membosankan di rumah.
2 Rivadi. Siswa Suka Bolos Sekolah (Online) diakses di
http//www.fajar.co.id/news.php?newsid=22096, pada tanggal 15
Desember 2013

Sementara itu, faktor eksternal adalah faktor yang dipengaruhi dari luar
siswa, misalnya kebijakan sekolah yg tidak berdamai dengan kepentingan siswa,
guru yang tidak profesional, fasilitas penunjang sekolah misal laboratorium dan
perpustakaan yang tidak memadai, bisa juga kurikulum yang kurang bersahabat
sehingga mempengaruhi proses belajar di sekolah.
Selain faktor internal dan faktor eksternal yang telah dikemukakan di atas,
Faktor pendukung munculnya perilaku membolos sekolah pada remaja juga dapat
dikelompokkan sebagai berikut.
1. Faktor Keluarga
Mungkin kita pernah mendengar ada siswa yang tidak diperbolehkan
masuk sekolah oleh orang tuanya. Untuk suatu alasan tertentu mungkin hal ini
dianggap paling efisien untuk mengatasi krisis atau permasalahan dalam
keluarganya. Misalkan kakaknya sakit, sementara kedua orang tuanya harus pergi
bekerja mencari nafkah. Untuk menemani kakaknya tersebut maka adiknya
terpaksa tidak masuk sekolah. Untuk alasan tersebut bolehlah sang adik tidak
masuk sekolah. Tapi yang menjadi masalah terkadang anak tersebut tidak
membuat surat izin kepada pihak sekolah, sehingga piha sekolah tidak tahu duduk
permasalahannya. Yang mereka tahu si A membolos. Sementara dampaknya bagi
anak tersebut ialah ia harus kehilangan waktu belajarnya. Jika hal ini menjadi
kebiasaan (membolos), lambat laun siswa tersebut tidak peduli lagi dengan
peraturan. Ia akan berbuat seenaknya, terserah mau masuk atau tidak.
a) Orang tua yang tidak peduli terhadap pendidikan
Selain itu sikap orang tua terhadap sekolah juga memberi pengaruh yang
besar pada anak. Jika orang tua menganggap bahwa sekolah itu tidak penting dan
hanya membuang-buang waktu saja, atau juga jika mereka menanamkan perasaan
pada anak bahwa ia tidak akan berhasil, anak ini akan berkurang semangatnya
untuk masuk sekolah. Akibatnya penghargaan terhadap pendidikan hanya
dipandang sebelah mata. Bahkan mereka menuntut agar anak-anaknya untuk
bekerja saja mencari uang. Ironisnya mereka juga menuntut agar anaknya
memperoleh hasil yang lebih besar dari kemampuan anak tersebut. Orang tua

seperti ini tidak memiliki pandangan jauh ke depan, sebagai imbasnya masa depan
anaklah yang menjadi korban.
b) Membeda - bedakan anak
Ada orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan bagi anak laki-laki lebih
penting daripada anak perempuan. Anak laki - lakilah yang menjadi tumpuan dan
kebanggaan keluarga, sementara anak perempuan pada akhirnya akan kawin dan
hanya mengurusi masalah dapur, sehingga tidak memerlukan pendidikan yang
terlalu tinggi. Dalam hal ini, anak perempuan didorong untuk tidak masuk
sekolah.
c) Mengurangi uang saku
Meskipun tidak semua anak menginginkan uang saku yang banyak, namun
tidak sedikit pula anak - anak yang merasa kurang percaya diri jika uang saku
mereka sedikit dibanding dengan teman-temannya. Sehingga akibatnya pada anak
tersebut ialah ia menjadi malas untuk masuk sekolah.
Di zaman modern seperti sekarang ini uang selalu dapat berbicara, tak
terkecuali pada bidang pendidikan. Banyak sekolah-sekolah yang mengharuskan
siswa-siswanya untuk membeli LKS, buku wajib, dan segala dan kebutuhan lain
demi kepentingan proses belajar. Untuk barang-barang tersebut kadang orang tua
tidak mau mengeluarkan uang untuk membelinya. Maka siswa yang tidak
membeli akan malu pada siswa lain yang membeli. Dan siswa yang tidak membeli
akan malas untuk berangkat ke sekolah.
2. Kurangnya Kepercayaan Diri
Sering rasa kurang percaya diri menjadi penghambat segala aktifitas.
Faktor utama penghalang kesuksesan ialah kurangnya rasa percaya diri. Ia
mematikan kreatifitas siswa. Meskipun begitu banyak ide dan kecerdasan yang
dimiliki siswa, tetapi jika tidak berani atau merasa tidak mampu untuk
melakukannya sama saja percuma. Perasaan diri tidak mampu dan takut akan
selalu gagal membuat siswa tidak percaya diri dengan segala yang dilakukannya.
Ia tidak ingin malu, merasa tidak berharga, serta dicemoohsebagai akibat dari
kegagalan tersebut. Perasaan rendah diri tidak selalu muncul pada setiap mata
pelajaran. Terkadang ia merasa tidak mampu dengan mata pelajaran matematika,
7

tetapi ia mampu pada mata pelajaran biologi. Pada mata pelajaran yang ia tidak
suka, ia cenderung berusaha untuk menghindarinya, sehingga ia akan pilih-pilih
jika akan masuk sekolah. Sementara itu siswa tidak menyadari bahwa dengan
tidak masuk sekolah justru membuat dirinya ketinggalan materi pelajaran.
Melarikan diri dari masalah malah akan menambah masalah tersebut.
3. Perasaan yang Termarginalkan
Perasaan tersisihkan tentu tidak diinginkan semua orang. Tetapi kadang
rasa itu muncul tanpa kita inginkan. Seringkali anak dibuat merasa bahwa ia tidak
diinginkan atau diterima di kelasnya. Perasaan ini bisa berasal dari teman sekelas
atau mungkin gurunya sendiri dengan sindiran atau ucapan. Siswa yang ditolak
oleh teman-teman sekelasnya, akan merasa lebih aman berada di rumah. Ada
siswa yang tidak masuk sekolah karena takut oleh ancaman temannya. Ada juga
yang diacuhkan oleh teman-temannya, ia tidak diajak bermain, atau mengobrol
bersama. Penolakan siswa terhadap siswa lain dapat disebabkan oleh faktor
tertentu, misalnya faktor SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan).
4. Faktor Personal
Faktor personal misalnya terkait dengan menurunnya motivasi atau
hilangnya minat akademik siswa, kondisi ketinggalan pelajaran, atau karena
kenakalan remaja seperti konsumsi alkohol dan minuman keras.
5. Faktor yang Berasal dari Sekolah
Tanpa disadari, pihak sekolah bisa jadi menyebabkan perilaku membolos
pada remaja, karena sekolah kurang memiliki kepedulian terhadap apa yang
terjadi pada siswa. Awalnya barangkali siswa membolos karena faktor personal
atau permasalahan dalam keluarganya. Kemudian masalah muncul karena sekolah
tidak memberikan tindakan yang konsisten, kadang menghukum kadang
menghiraukannya. Ketidakkonsistenan ini akan berakibat pada kebingungan siswa
dalam berperilaku sehingga tak jarang mereka mencoba - coba membolos lagi.
Jika penyebab banyaknya perilaku membolos adalah faktor tersebut, maka
penanganan dapat dilakukan dengan melakukan penegakan disiplin sekolah.

Selanjutnya, faktor lain yang perlu diperhatikan pihak sekolah adalah


kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah. Dalam menghadapi siswa
yang sering membolos, pendekatan individual perlu dilakukan oleh pihak sekolah.
Selain terkait dengan permasalahan pribadi dan keluarga, kepada siswa perlu
ditanyakan pandangan mereka terhadap kegiatan belajar di sekolah, apakah siswa
merasa tugas - tugas yang ada sangat mudah sehingga membosankan dan kurang
menantang

atau

sebaliknya

sangat

sulit

sehingga

membuat

frustasi.

Tugas pihak sekolah dalam membantu menurunkan perilaku membolos adalah


mengusahakan kondisi sekolah hingga nyaman bagi siswa - siswanya. Kondisi ini
meliputi proses belajar mengajar di kelas, proses administratif serta informal di
luar kelas.
Jadi, dapat dikatakan bahwa faktor sekolah merupakan faktor yang
berisiko meningkatkan munculnya perilaku membolos pada remaja, yaitu antara
lain kebijakan mengenai pembolosan yang tidak konsisten, interaksi yang minim
antara orang tua siswa dengan pihak sekolah, guru-guru yang tidak suportif, atau
tugas-tugas sekolah yang kurang menantang bagi siswa.

D. Akibat yang Ditimbulkan oleh Peserta Didik yang Membolos


Anak yang dapat ke sekolah tapi sering membolos, akan mengalami
kegagalan dalam pelajaran. Meskipun dalam teori guru harus bersedia membantu
anak mengejar pelajaran yang ketinggalan, tetapi dalam prakteknya hal ini sukar
dilaksanakan. Kelas berjalan terus. Bahkan meskipun ia hadir, ia tidak mengerti
apa yang diajarkan oleh guru, karena ia tidak mempelajari dasar - dasar dari mata
pelajaran - mata pelajaran yang diperlukan untuk mengerti apa yang diajarkan.
Selain mengalami kegagalan belajar, siswa tersebut juga akan mengalami
marginalisasi atau perasaan tersisihkan oleh teman-temannya. Hal ini kadang
terjadi manakala siswa tersebut sudah begitu parah keadaannya sehingga
anggapan teman-temannya ia anak nakal dan perlu menjaga jarak dengannya.
Hal yang tidak mungkin terlewatkan ketika siswa membolos ialah hilangnya rasa
disiplin, ketaatan terhadap peraturan sekolah berkurang. Bila diteruskan, siswa
akan acuh tak acuh pada urusan sekolahnya. Dan yang lebih parah siswa dapat

dikeluarkan dari sekolah. Lalu karena tidak masuk, secara otomatis ia tidak
mengikuti pelajaran yang disampaikan guru. Akhirnya ia harus belajar sendiri
untuk mengejar ketertinggalannya. Masalah akan muncul manakala ia tidak
memahami materi bahasan. Sudah pasti ini juga akan berpengaruh pada nilai
ulangannya.

E. Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling (BK) dalam


Mengatasi Peserta Didik yang Suka Membolos
Bimbingan Konseling atau sering disebut sebagai BP dahulu sering kali
menjadi momok atau bahkan sesuatu yang dibenci oleh siswa karena lebih
berfungsi sebagai pengadilan siswa dari pada membimbing siswa. Jika ada siswa
yang bermasalah melanggar aturan sekolah maka langsung dipanggil guru BP
untuk dilakukan pembinaan yang cenderung ke arah penghakiman. Paradigma itu
semestinya perlu sedikit diubah yaitu bahwa Bimbingan Konseling tidak hanya
mengurusi anak yang bermasalah melanggar aturan sekolah namun juga harus
bisa berfungsi sebagai teman bagi siswa dan pelajar hingga bisa menjadi tempat
curhat. Bimbingan konseling semestinya bisa memberikan rasa nyaman kepada
siswa dengan dapat memberikan banyak solusi terhadap masalah-masalah yang
dihadapi siswa baik stres masalah pelajaran, keluarga,pertemanan dan lain
sebagainya. Perubahan paradigma ini diharapkan kenakalan maupun stress
dikalangan siswa bisa semakin dieliminir.
Kewajiban sekolah, selain mengajar (dalam arti hanya mengisi otak anak anak dengan berbagai ilmu pengetahuan), juga berusaha membentuk pribadi anak
menjadi manusia yang berwatak baik. Mengajar tidak sekedar transfer
pengetahuan, tetapi lebih kepada usaha untuk membentuk pribadi santun dan
mampu berdiri sendiri. Sehingga jika terjadi suatu permasalahan pada siswa,
pendidik atau pihak sekolah juga turut memikirkannya, berusaha mencarikan jalan
keluar.
Dalam menghadapi anak tersebut peran BK sangatlah penting. Sebagai
sarana untuk mencari solusi, fungsi BK cukup efisien. Melalui pendekatan
personal, harapannya siswa dapat lebih terbuka dengan pemasalahannya, sehingga

10

pembimbing dapat memahami dan mendapat gambaran secara jelas apa yang
sedang dihadapi siswa. Menghentikan sepenuhnya kebiasaan membolos memang
tidaklah mudah dan sangatlah minim kemungkinannya. Tetapi usaha untuk
meminimalisisir kebiasaan tidak baik tersebut tentu ada. Dan salah satu usaha dari
pihak sekolah ialah dengan program Bimbingan Konseling (BK). Kita mungkin
pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri bagaimana rasanya dihukum
karena membolos. Padahal menghukum bukanlah satu-satunya jalan untuk
membuat siswa jera dalam melakukan perbuatannya. Bisa jadi hal tersebut malah
menjadikan anak lebih bengal dan lebih susah ditangani. Sebab siswa remaja
merupakan masa kondisi emosi yang tidak labil, mudah tersinggung dan mudah
sekali marah. Ibaratnya tulang rusuk, jika dipaksakan untuk lurus maka ia akan
patah. Oleh karena itu, penanganannya harus hati - hati.

F. Tindakan yang Dapat Dilakukan Untuk Menangani Peserta Didik


yang Suka Membolos
Tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani peserta dididk yang suka
membolos adalah sebagai berikut:
1. Dengan Mengetahui Faktor - Faktor Penyebabnya
Dengan mengetahui faktor - faktor penyebabnya, pembimbing sedikit tahu
bagaimana kondisi permasalahan siswa. Langkah selanjutnya ialah melalui
pendekatan supaya siswa yang membolos mau menerima arahan dari
pembimbing. Adapun jika siswa masih bersikap tertutup, tidak mau menceritakan
permasalahan mengapa ia membolos, maka pembimbing menggunakan cara lain
yaitu menanyakan pada teman dekatnya. Begitu semua informasi yang diperlukan
telah diperoleh, pembimbing langsung mengambil tindakan preventif dan
pengobatan.
Seperti yang telah dikemukakan di atas, pencegahan tidak harus melalui
hukuman. Memberi nasehat dan arahan yang baik akan lebih mengena dari pada
membentak dan memarahinya. Tidak teraturnya anak masuk sekolah tidak
sepenuhnya terletak pada siswa. Ada banyak sebab yang terletak di luar kekuasaan
anak, atau yang kurang dikuasai anak. Jadi kegiatan membolos siswa tidak

11

sepenuhnya kesalahan siswa. Ada faktor dari luar yang juga turut andil dalam
pembolosan tersebut.
Oleh karena itu, tugas BK selain memberi arahan pada siswa juga
mengkondisikan lingkungan sekolahnya sebaik mungkin supaya siswa merasa
betah berada di sekolah. Selain itu pembimbing juga selalu menjalin komunikasi
dengan keluarga siswa ada kesepakatan dalam usaha mengatasi masalah anak.
2. Menerapkan Gerakan Disiplin
Gerakan disiplin ini difokuskan untuk memantau para pelajar yang
membolos atau pergi pada waktu jam-jam sekolah. Biasanya mereka barada di
tempat keramaian atau di tempat hiburan. Pelajar yang membolos selain
merugikan dirinya sendiri juga berpotensi untuk menimbulkan keresahan di
masyarakat karena biasanya pelajar yang suko membolos mempunyai tingkat
kenakalan yang tinggi dan justru sering medekati kriminal seperti pengompasan
pelajar yang lebih kecil atau dibawahnya sampai dengan tawuran dan pesta miras.
Sex bebas di kalangan pelajar juga muncul dari fenomena bolos sekolah dimana
orang tua sering kali tidak di rumah karena harus bekerja dimanfaatkan untuk
berbuat negatif. Fenomena bolos sekolah ini sebenarnya tidak bisa dianggap
remeh karena dari sinilah banyak hal tentang kerusakan moral pelajar dimulai.
Oleh karena itu perlu tindakan tegas dari para aparat Satpol PP untuk
sering melakukan operasi agar menjadi sebuah shock therapy yang mempunyai
efek jera bagi para pembolos dan juga ketegasan dari pihak sekolah untuk
mencegah siswanya bolos sekolah. Kalaupun siswa harus keluar sekolah pada jam
sekolah haruslah seijin sekolah dengan menggunakan surat ijin.
3. Sosialisasi Kepada Pengelola Hiburan
Pihak Dinas Pendidikan dibantu oleh Kesbanglinmas dan Satpol PP serta
berkoordinasi dengan Kepolisian harus terus mensosialisasikan kepada para
pengelola hiburan seperti Play Station untuk tidak menerima konsumen Pelajar
pada jam sekolah. Kebanyakan pelajar yang bolos sekolah bersembunyi di sana.
Setelah sosialisasi dirasa cukup mungkin dengan penempelan stiker atau poster
tentang larangan pelajar bermain di waktu jam sekolah maka ditingkatkan menjadi

12

taraf pemantauan. Jika dari pihak pengelola masih membiarkan para pelajar bolos
bermain di situ maka dapat diberi peringatan ,jika peringatan tidak diindahkan
maka bisa dilakukan penyegelan sementara atau bahkan penutupan paksa
disesuaikan dengan aturan yang berlaku.
Sesungguhnya yang paling dominan dalam mempengaruhi siswa
membolos adalah keberadaan guru. Guru yang ideal harus berfungsi
sebagai,Designer of Instruction. Sebagai Designer, guru harus mampu membuat
pembelajaran menarik dan tidak membosankan, tapi seperti yang telah kita
ketahui banyak guru yang tidak mampu sebagai peracik bahan - bahan pengajaran
yang kemudian dikemas dan di sajikan menarik kepada siswa, sehingga pada
gilirannya siswa merasa jenuh di kelas.

13

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Membolos

merupakan

salah

satu kenakalan

siswa yang

dalam

penanganannya perlu perhatian yang serius. Memang tidak sepenuhnya kegiatan


membolos dapat dihilangkan, tetapi usaha untuk meminimalisir tetap ada. Faktor faktor yang menjadi penyebab siswa membolos terbagi menjadi dua golongan,
yaitu faktor internal dan eksternal. Selain itu, faktor faktor lain yang menjadi
penyebab siswa membolos lainnya, meliputi : faktor keluarga, faktor kurangnya
kepercayaan diri, perasaan yang termarginalkan, faktor personal serta faktor yang
berasal dari sekolah.
Akibat yang ditimbulkan oleh siswa yang membolos adalah selain
mengalami kegagalan belajar, siswa tersebut juga akan mengalami marginalisasi
atau perasaan tersisihkan oleh teman - temannya. Adapun peran program
Bimbingan dan Konseling (BK) dalam hal mengatasi siswa yang suka membolos,
yakni dengan mengetahui faktor - faktor penyebab siswa membolos, menerapkan
gerakan disiplin serta sosialisasi kepada pengelola hiburan.

B. Saran
1.Guru

melakukan

pendekatan

persuasif

dan

edukatif

kepada

siswa,

memposisikan siswa sebagai teman bicara dan bukan sebagai terdakwa


2. Guru memberikan teladan yang baik kepada siswa, jangan sampai siswa
terlambat dihukum sedangkan guru yang sering terlambat dibiarkan saja.
3. Guru selalu berkreasi, berinovasi agar suasana kelas tercipta ceria
menyenangkan dan hidup.
4. Orang tua harus mengetahui dan memantau perkembangan belajar anak di
sekolah.
5. Jika ada anak yang bolos, orang tua harus mencari tahu penyebab anak mereka
bolos dan mengomunikasikannya dengan guru di sekolah.

14

DAFTAR PUSTAKA
Mugiarso, Heru.2012. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unnes Pres
Walgito, Bimo.1982. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karier).Yogyakarta :
Pustaka Setia.
Rivadi.2006. Siswa Suka Bolos Sekolah (Online) http//www.fajar.co.id/news.php?
newsid=22096. Diakses pada 15 Desember 2013
Purwanto, Ngalim.2006 Bimbingan bagi anak dan remaja yang bermasalah. :
Bandung : Remaja Rosdakarya.
Soejatno, Agoes.1990. Bimbingan Kearah Belajar yang Sukses. Surabaya : Aksara
Baru.
Ampuni, Sutarimah, dan Andayani, Budi.2006. Memahami Anak dan Remaja
Dengan Kasus Mogok Sekolah. Disertasi. Universitas Gajah Mada Yogyakarta

15