Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENGAUDITAN DAN PROFESI AKUNTAN PUBLIK

A. Definisi Pengauditan:
Pengauditan adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang
berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi secara
objektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang
telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
B. Jenis-jenis Audit:
Audit Laporan Keuangan

Audit Kesesuaian

Audit Oprasional

C. Jenis-jenis Auditor:
Auditor Pemerintah

Auditor Intern

Auditor Independen atau Akuntan Publik

D. Jasa-jasa Akuntan Publik


1. Jasa Atestasi
Audit atas Laporan Keuangan Historis
Review atas Laporan Keuangan Historis
Jasa Atestasi Lainnya
2. Jasa Non-Atestasi
Jasa Akuntansi
Jasa Perpajakan
Jasa Konsultasi Manajemen
E. Manfaat Pengauditan:
conflict of interset (perbedaan kepentingan)
consequence
complexity
remoteness (keterbatasan akses)
F. Keterbatasan Pengauditan
sampling audit
publikasi laporan keuangan auditan, beberapa bulan setelah tanggal neraca
laporan keuangan banyak estimasinya => auditor tidak bisa menambah kepastian tentang
laporan keuangan
G. Organisasi Profesi Akuntan Publik di Indonesia hanya ada satu yaitu Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI)
Ada 4 Kompartemen:
Kompartemen Akuntan Publik
Kompartemen Akuntan Manajemen
Kompartemen Akuntan Pendidik
1

Kompartemen Akuntan Sektor Publik

H. Pihak-pihak yang berinteraksi dengan Auditor: manajemen, dewan komisaris dan komite
audit, auditor intern, pemegang saham
I. Standar auditing Sebagai ukuran untuk menilai pekerjaan auditor. Ada 10 standar,
terbagi dalam 3 kelompok:
standar umum
standar pekerjaan lapangan
standar pelaporan
J. Laporan Auditor (Auditor's Report)
Ada 2 bentuk laporan auditor:
Laporan audit bentuk baku
Penyimpangan dari laporan auditor bentuk baku
K. Macam-macam pendapat auditor:
Wajar tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Menolak memberi pendapat (Disclaimer of Opinion)
L. Tanggungjawab Auditor dan kesenjangan ekspektasi
kekeliruan dan ketidak beresan
pelanggaran hukum oleh klien
pelaporan tentang pertimbangan auditor atas kemampuan satuan usaha dalam
mempertahankan kelangsungan hidupnya
M. Perencanaan Audit
Tujuan, Bukti, & Kertas Kerja Audit
Penerimaan Penugasan dan Perencanaan Audit
Materialitas, Risiko, dan Strategi Audit Awal
Pemahaman Struktur Pengendalian Intern
N. Kategori Asersi dan Makna Asersi
Keberadaan & Keterjadian
Aktiva atau utang satuan usaha ada pada tgl tertentu, dan Transaksi yg dicatat telah
terjadi selama periode tertentu.
Kelengkapan
Semua transaksi atau semua rekening yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan
telah dicantumkan di dalamnya
Hak dan Kewajiban
Aktiva merupakan hak perusahaan, dan Utang merupakan kewajiban perusahaan pada
tanggal tertentu.
Penilaian atau Alokasi
Komponen-komponen aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya sudah dicantumkan
dalam laporan keuangan pada jumlah yang semestinya
Penyajian dan Pengungkapan
Komponen-komponen tertentu laporan keuangan telah diklasifikasikan, diuraikan, dan
diungkapkan dengan tepat.
2

O. Kategori Asersi dan Tujuan Khusus Audit


Keberadaan atau Keterjadian
Dana kas kecil, penerimaan kas yg belum disetor ke bank, rekening giro, dan lain-lain
yang dilaporkan sebagai kas, ada pada tanggal neraca.
Kelengkapan
Kas yang dilaporkan meliputi semua kas kecil, kas yg belum disetor ke bank, dan kas lain
yang ada di tangan (cash on hand). Kas yang dilaporkan meliputi semua kas yg tidak
dibatasi penggunaannya.
Hak dan Kewajiban
Semua hal yg dilaporkan dalam kas adalah milik perusahaan pada tanggal neraca.
Penilaian dan Pengalokasian
Semua komponen kas telah dijumlah dengan benar. Jurnal penerimaan kas dan jurnal
pengeluaran kas, secara matematik benar, dan telah diposting ke buku besar dengan
benar. Kas yg ada ditangan telah dihitung dengan benar. Saldo rekening giro telah
direkonsiliasi dengan benar.
Penyajian dan Pengungkapan
Semua yang dimasukkan dalam kas tidak dibatasi penggunaannya, dan disediakan untuk
operasi perusahaan. Pengungkapan yang diperlukan telah memadai.

BAB II
AUDITOR LAPORAN KUANGAN DAN TANGUNGGJAWAB AUDITOR

Audit laporan keuangan memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian
dan dunia bisnis. Dalam bagian awal materi ini akan dibahas tentang beberapa hal yang
mendasari audit laporan keuangan, berikutnya akan dibahas tentang standar auditing yang
merupakan pedoman pelaksanaan audit. Selanjutnya akan dibahas tentang tanggung jawab
auditor. Hal-hal yang mendasari audit : Hubungan Antara Akuntansi Dengan Pengauditan, data
laporan keuangan harus bisa diverifikasi.
A. Penyebab terjadinya resiko.
Penyebab terjadinya resiko informasi besar kemungkinan karena ketidaktepatan laporan
keuangan. Beberapa faktor penyebab menyebabkan hal tersebut adalah : Informasi Diterima
dari Pihak Lain, Bias dan Motivasi Pembuat Informasi, Volume Data, Kerumitan Transaksi.
B. Cara Mengurangi Resiko Informasi
Ada tiga pilihan yang mungkin dilakukan untuk mengurangi resiko informasi yaitu : Pemakai
Laporan Melakukan Sendiri Verifikasi atas Informasi, Pemakai Membebankan Risiko
Informasi pada Manajemen, Disediakan Laporan Keuangan Yang telah Diaudit.
C. Manfaat ekonomis suatu audit
Manfaat ekonomis suatu audit laporan keuangan antara lain: Akses ke Pasar Modal, Biaya
Modal Menjadi Lebih Rendah, Pencegah Terjadinya Ketidakefisienan dan Kecurangan,
Perbaikan dalam Pengendalian dan Operational.
D. Keterbatasan pengauditan
Tidak ada audit yang dapat memberi jaminan penuh bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material yang timbul dari kesalahan pengolahan data atau kesalahan pertimbangan
dalam memilih dan menerapkan prinsip akuntansi.
E. Pihak yang berinteraksi dengan Audior
Dalam suatu audit atas laporan, auditor menjalin hubungan profesional dengan berbagai
pihak yaitu : manajemen, dewan komisaris dan komite audit, auditor intern, pemegang
saham.
F. Standar Auditing
Ikatan Akuntan Indonesia ( IAI ) sebagai organisasi profesi berkewajiban untuk menetapkan
standar auditing. Untuk melaksanakan tugas tersebut IAI membentuk Dewan Standar Audit
yang ditetapkan sebagai badan teknis senior dari IAI untuk menerbitkan pernyataanpernyataan tentang standar auditing. Dewan ini juga berkewajiban untuk membuat pedoman
penerapan pernyataan standar auditing bagi para auditor dengan menerbitkan penafsiran atau
interpretasi.
4

G. Tanggung Jawab Auditor Dan Kesenjangan Ekspektasi


Tanggung Jawab Auditor dan Kesenjangan ekspektasi sebagian besar berhubungan dengan
tiga hal : menemukan dan melaporkan kekeliruan dan ketidak beresan, mendeteksi dan
melaporkan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien, melaporkan apabila terdapat
ketidak pastian mengenai kemampuan perusahaan klien untuk melanjutkan usahannya atau
mempertahankan kelangsungan hidupnya.

BAB III
ETIKA PROFESIONAL AUDITOR
5

A. Etika Profesional
Seperti halnya profesi-profesi yang lain, Akuntan juga mempunyai kode etik yang digunakan
sebagai rambu-rambu atau batasan-batasan ketika seorang Akuntan menjalankan perannya.
Pemahaman yang cukup dari seorang Akuntan tentang kode etik, akan menciptakan pribadi
Akuntan yang profesional, kompeten, dan berdaya guna. Tanpa adanya pemahaman yang cukup
tentang kode etik, seorang Akuntan akan terkesan tidak elegan, bahkan akan menghilangkan nilai
esensial yang paling tinggi dari profesinya tersebut.
Fenomena akan keberadaan kode etik keprofesian merupakan hal yang menarik untuk
diperhatikan. Hal ini terutama jika dikaitkan dengan besarnya tuntutan publik terjadap dunia
usaha yang pada umumnya mengedepankan etika dalam menjalankan akifitas bisnisnya.
Tuntutan ini kemudian direspon dengan antara lain membuat kode etik atau kode perilaku.
Scwhartz (dalam Ludigdo, 2007) menyebutkan kode etik sebagai dokumen formal yang tertulis
dan membedakan yang terdiri dari standar moral untuk membantu mengarahkan perilaku
karyawan dan organisasi. Sementara fungsinya adalah sebagai alat untuk mencapai standar etis
yang tinggi dalam bisnis (kavali., dkk, dalam Ludigdo, 2007). Atau secara prinsip sebagai
petunjuk atau pengingat untuk berprilaku secara terhormat dalam situasi-situasi tertentu.
B. Dilema Etika dan Solusinya
Terdapat dua faktor utama yang mungkin menyebabkan orang berperilaku tidak etis, yakni:
a. Standar etika orang tersebut berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Misalnya,
seseorang menemukan dompet berisi uang di bandar udara (bandara). Dia mengambil
isinya dan membuang dompet tersebut di tempat terbuka. Pada kesempatan berikutnya,
pada saat bertemu dengan keluarga dan teman-temannya, yang bersangkutan dengan
bangga bercerita bahwa dia telah menemukan dompet dan mengambil isinya.
b. Orang tersebut secara sengaja bertindak tidak etis untuk keuntungan diri sendiri.
Misalnya, seperti contoh di atas, seseorang menemukan dompet berisi uang di bandara.
Dia mengambil isinya dan membuang dompet tersebut di tempat tersembunyi dan
merahasiakan kejadian tersebut.
C. Kode Etik Profesi Auditor
Mukadimah prinsip etika profesi akuntan antara lain menyebutkan bahwa dengan seorang
akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga disiplin diri melebihi yang disyaratkan oleh
hukum dan peraturan yang berlaku. Selain itu prinsip ini meminta komitmen untuk
6

berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi. Sementara itu


prinsip etika akuntan atau kode etik akuntan itu sendiri meliputi delapan butir. Kedelapan
butir pernyataan tersebut merupakan hal-hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang akuntan.
Delapan butir yaitu: (1) Tanggung jawab profesi, (2) Kepentingan publik, (3) Integritas, (4)
Obyektifitas, (5) Kompetensi dan kehati-hatian profesional, (6) Kerahasiaan, (7) Perilaku
profesional dan Standar teknis
D.

Independensi Profesi Auditor


Dalam menjalankan tugasnya anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental
independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam Standar
Profesional Akuantan Publik yang ditetapkan olh IAI. Sikap mental independen tersebut
harus meliputi independen dalam fakta (infacts) maupun dalam penampilan (in appearance).
Independensi dalam Audit dapat diartikan sebagai sudut pandang yang tidak bias dalam
melakukan ujian audit, mengevaluasi hasilnya dan membuat laporan audit. Auditor tidak
hanya harus independen dalam fakta, tetapi juga harus independen dalam penampilan..

E. Komite Audit
Adalah sejumlah anggota dewan direksi perusahaan yang tanggung jawabnya termasuk
membantu auditor agar tetap independen dari manajemen. Kebanyakan komite audit terdiri dari tiga
hingga lima atau terkadang paling banyak tujuh direktur yang bukan merupakan bagian dari
manajemen perusahaan. Sarbanes-Oxley Act dan SEC mewajibkan semua anggota komte audit
bersikap independen, dan perusahaan harus mengungkapkan apakah dalam komite audit paling
sedikit ada satu pakar keuangan.
F. Laporan Audit
Laporan audit merupakan alat yang digunakan oleh auditor untuk mengkomunikasikan
hasil auditnya kepada masyarakat. Oleh karena itu, makna setiap kalimat yang tercantum
dalam laporan audit baku dapat digunakan untuk mengenal secara umum profesi akuntan
publik. Laporan audit baku terdiri dari tiga paragraf, yaitu paragraf pengantar, paragraf
lingkup, dan paragraf pendapat.
G. Tipe Audit dan Auditor
Ada tiga tipe auditing, yaitu audit laporan keuangan, audit kepatuhan, dan audit
operasional. Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen
7

terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat
mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Audit kepatuhan adalah audit yang
tujuannya untuk menentukan kepatuhan entitas yang diaudit terhadap kondisi atau peraturan
tertentu. Audit operasional merupakan review secara sistematik atas kegiatan organisasi, atau
bagian daripadanya, dengan tujuan untuk; (1) mengevaluasi kinerja, (2) mengidentifikasi
kesempatan untuk peningkatan, (3) membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan
lebih lanjut. Ada tiga tipe auditor menurut lingkungan pekerjaan auditing, yaitu auditor
independen, auditor pemerintah, dan auditor intern.
H. Etika Profesional Profesi Akuntan Publik
Dalam konggresnya tahun 1973, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk pertama kalinya
menetapkan kode etik bagi profesi akuntan Indonesia, kemudian disempurnakan dalam konggres
IAI tahun 1981, 1986,1994, dan terakhir tahun 1998. Etika profesional yang dikeluarkan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia dalam kongresnya tahun 1998 diberi nama Kode Etik Ikatan Akuntan
Indonesia.
Akuntan publik adalah akuntan yang berpraktik dalam kantor akuntan publik, yang
menyediakan berbagai jenis jasa yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik, yaitu
auditing, atestasi, akuntansi dan review, dan jasa konsultansi. Auditor independen adalah akuntan
publik yang melaksanakan penugasan audit atas laporan keuangan historis yang menyediakan
jasa audit atas dasar standar auditing yang tercantum dalam Standar Profesional Akuntan Publik.
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dijabarkan ke dalam Etika Kompartemen Akuntan Publik
untuk mengatur perilaku akuntan yang menjadi anggota IAI yang berpraktik dalam profesi
akuntan publik. Kode Etik IAI dibagi menjadi empat bagian berikut ini. (1) Prinsip Etika, (2)
Aturan Etika, (3) Interpretasi Aturan Etika, dan (4) Tanya dan Jawab.

BAB IV
TUJUAN, BUKTI DAN KERTAS KERJA AUDIT

Tujuan menyeluruh audit laporan keuangan adalah menyatakan pendapat tentang apakah
laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai
dengan prinsip akuntansi berterima umum atau dikenal dengan GAAP. Untuk itu, auditor harus
memperoleh bahan bukti yang cukup dan kompeten sebagai dasar yang memadai untuk
menyatakan pendapat. Di samping itu pilihan akan bukti audit dipengaruhi oleh :
1. Pemahaman auditor atas bisnis dan industri klien.
2. Perbandingan antara harapan auditor atas laporan keuangan dengan buku dan catatan
klien.
3. Keputusan tentang asersi yang material bagi laporan keuangan.
4. Keputusan tentang risiko bawaan dan risiko pengendalian.
A. Tujuan Audit Khusus
Terdapat 5 (lima) kelompok umum asersi laporan keuangan, yaitu:
1. Keberadaannya atau keterjadiannya (existence or occurrence)
2. Kelengkapannya (completeness)
3. Hak dan kewajiban (right and obligations)
4. Penilaian atau alokasi (valuation or allocation)
5. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure).
B. Tujuan Umum
Pada dasarnya tujuan umum audit adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran , dalam
semua hal yang material , posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum. Untuk mencapai tujuan ini , auditor perlu
menghimpun bukti kompeten yang cukup. Untuk menghimpun bukti kompeten yang cukup ,
auditor perlu mengidentifikasikan dan menyusun sejumlah tujuan audit spesifik untuk setiap
akun laporan keuangan. Dengan melihat tujuan audit spesifik tersebut , auditor akan dapat
mengidentifikasikan bukti apa yang dapat dihimpun , dan bagaimana cara menghimpun bukti
tersebut.
C. Tujuan Spesifik
Tujuan audit spesifik lebih diarahkan untuk pengujian terhadap pos pos yang terdapat dalam
laporan keuangan yang merupakan asersi manajemen.
D. Bukti Audit
Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung data yang disajikan dalam laporan
keuangan , yang terdiri dari data akuntansi dan informasi pendukung lainnya , yang dapat
digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran
laporan keuangan tersebut.
Dasar pembahasan bukti audit adalah Standar Pekerjaan Lapangan khususnya standar
ketiga ,mendasari pembahasan bukti audityang berbunyi : Bukti audit kompeten yang
cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi
sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit .
E. Tipe Bukti Audit
1. Tipe Data Akuntansi
9

2. Tipe Informasi Penguat (corroborating information)


F. Kecukupan Bukti Audit
Berkaitan dengan kuantitas bukti audit. Faktor yang mempengaruhi kecukupan bukti audit,
meliputi: Materialitas, Resiko audit, Faktor faktor ekonomi, Ukuran dan karakteristik
populasi.
G. Kompetensi Bukti Audit
Untuk menentukan kompetensi bukti harus mempertimbangkan berbagai faktor, yaitu:
Sumber bukti, Relevansi bukti, Obyektivitas bukti, Saat atau waktu.
Prosedur audit yang dapat digunakan untuk memperoleh bukti yang kompeten atau dapat
dipercaya adalah :

Inspeksi

Pembuktian ( vouching )

Observasi

Kalkulasi Kembali

Konfirmasi

Analisis

Wawancara

Rekonsiliasi

Perbandingan

Penjajagan

Pengkajian ulang

Perhitungan (count)

Penilaian

Pengujian (test)

Verifikasi

Scanning

Penelusuran

H. Program Audit
Standar Auditing yang berlaku umum menyatakan bahwa dalam merencanakan audit, auditor
harus mempertimbangkan sifat, luas, dan saat pekerjaan yang harus dilaksanakan serta harus
mempersiapkan suatu program audit tertylis untuk setiap audit.
Maksud suatu program audit adalah mengatur secara sistematis prosedur audit yang akan
dilaksankan selama audit berlangsung. Program audit tersebut menyatakan bahwa prosedur
audit yang diyakini oleh auditor merupakan hal yang penting untuk mencapai tujuan audit.
Program audit juga mendokumentasikan strategi audit. Biasanya auditor berusaha
menyeimbangkan prosedur audit top-down dan bottom-up ketika mengembangkan suatu
program audit.
I. Kertas Kerja Audit (Working Paper)
Kertas kerja audit merupakan kertas-kertas yang diperoleh akuntan selama melakukan
pemeriksaan dan dikumpulkan untuk memperlihatkan pekerjaan yang telah dilaksanakan,
metode dan prosedur pemeriksaan yang diikuti serta kesimpulan-kesimpulan yang telah
dibuatnya.
J. Isi Kertas Kerja Audit

10

Kertas kerja harus cukup memperlihatkan bahwa catatan akuntansi cocok dengan laporan
keuangan atau informasi lain yang dilaporkan serta standar auditing yang dapat diterapkan
telah dilaksanakan.
K. Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit
Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pengauditan
Sebagai pendukung yang penting terhadap pendapat akuntan atas laporan keuangan yang
diauditnya
Sebagai penguat kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya.
Sebagai Pedoman dalam pengauditan berikutnya.
L. Teknik Dasar Pembuatan Kertas Kerja Audit
Ada empat tehnik dasar yang digunakan dalam pembuatan kertas kerja. Keempat tehnik
tersebut adalah :

Pembuatan heading.
Nomor indeks
Tick marks
Pencantuman tanda tangan pembuat maupun penelaah, dan tanggal pembuatan serta
penelaahan.
M. Susunan Kertas Kerja Audit.
1. Draft laporan Pemeriksaan ( audit report ).
2. Audited financial statements.
3. Ringkasan informasi bagi penelaah.
4. Program pemeriksaan.
5. Laporan keuangan atau neraca lajur yang dibuat klien.
6. Ringkasan journal adjustment.
7. Working trial balance.
8. Top schedule.
9. Supporting schedule.
N. Kepemilikan Kertas Kerja Audit.
Kertas kerja audit akuntan yang disusun selama pelaksanaan audit, baik yang disusun oleh
auditor sendiri maupun yang disusunkan oleh klien untuk auditor, adalah milik auditor
(akuntan publik) ; oleh karena itu semua kertas kerja tersebut harus disimpan oleh auditor
dengan sebaik-baiknya, dalam arti disimpan secara teratur sesuai dengan urutan yang logis.

BAB V
TAHAPAN KEGIATAN DALAM AUDIT LAPORAN KEUANGAN

11

Kegiatan yang dilakukan dalam suatu audit sangat tergantung kepada perusahaan yang diaudit.
Dalam setiap audit baik audit pada perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil, selalu
terdapat empat tahapan kegiatan yaitu:

Penerimaan penugasan audit


Perencanaan audit
Pelaksanaan pengujian audit
Pelaporan temuan

Adapun Tahapan-Tahapan Kegiatan dalam Audit Laporan Keuangan:


1. Evaluasi Atas Integritas Manejemen
2. Komunikasi Dengan Auditor Pendahulu
3. Mereview Pengalaman Masa Lalu dengan Klien
4. Mengidentifikasi Keadaan- Keadaan Khusus Dan Risiko Tak Biasa
5. Mengidentifikasi Pemakai Laporan Keuangan Auditan
6. Memperkirakan Adanya Persoalan Hukum dan Stabilitas Keuangan Klien
7. Mengevaluasi Auditabilitas Perusahaan Klien
8. Menetapkan Kompetensi Untuk Melaksanakan Audit
9. Penetapan Tim Audit
Tim audit pada umumnya terdiri dari:
Seorang partner yang bertanggungjawab penuh dan merupakan penanggungjawab
akhir dari suatu penugasan.
Seorang manajer atau lebih mengkoordinasi dan melakukan supervisi pelaksanaa
program audit.
Seorang senior atau lebih yang bertanggungjawab atas sebagian program audit dan
melakukan supervisi serta mereview pekerjaan staf asisten.
Staf asisten yang mengerjakan berbagai prosedur audit yang diperlikan.
10. Mempertimbangkan Kebutuhan Konsultasi dan Penggunaan Spesialis
Kantor akuntan publik kadang-kadang merasa perlu untuk menggunakan spesialis yang
berasal dari luar kantor akuntan publik. Auditor tidak diharapkan untuk memilik keahlian
pekerjaan spesialis (SA 336), menyatakan bahwa auditor bisa menggunakan pekerjaan
spesialis untuk mendapatkan bukti kompeten. Contoh spesialis, antara lain:
Penilai (appraiser) untuk mendapatkan bukti tentang penilaian atas barang seni.
Insinyur tambang untuk menentukan jumlah cadangan atau deposit barang tambang
yang ada di suatu pertambangan.
Aktuaris untuk menentukan jumlah rupiah program pensiun yang akan digunakan
dalam akuntansi.
12

Penasehat hukum untuk memperkirakan hasil akhir dari suatu perkara pengadilan
yang masih berjalan.
Konsultan linkungan untuk menentukan pengaruh undang- undang dan peraturan
tentang lingkungan.
11. Menilai Independensi: Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan,
independensi dalam sikap mental barus dipertabankan oleh auditor.
12. Menetukan kemampuan untuk melakukan audit dengan cermat dan seksama.
13. Pembuatan Surat Penugasan
Bentuk dan isi surat penugasan bisa berbeda-beda untuk setiap klien, namun secara
umum setiap surat penugasan hendaknya berisi hal-hal sebagai berikut:
Menyebutkan dengan jelas nama perusahaan atau satuan organisasi dan laporan
keuangan yang akan diperiksa.
Menyebutka pengertian audit.
Menyebutkan bahwa audit akan dilakukan berdasarkan standar profesional yaitu
standar auditing yang di tetapkan oleh ikatan akuntan indonesia.
Menjelaskan tentang sifat dan lingkup audit dan tanggung jawab auditor.
Menyebutkan bahwa walaupun audit telah di rancang da dilaksanakan dengan baik,
namun audit mungkin tidak akan dapat medeteksi semua ketidakberesan material.
Mengigatkan manajemen , bahwa manajemen bertanggungjawab atas penyususnan
laporan keuangan dan menerapkan suatu struktur pengendalian inter yang memadai.
Menyebutkan bahwa manajemen akan di minta untuk memberikan representasi
tertulis kepeda auditor.
Menjelaskan mengenai dasar perhitungan honorarium audit dan cara penagihan
honorarium.
Meminta lain untuk menegaskan kesepakatannya atas berbagai hal yang tercantung
dlam surat penugasan dengan menandatangani surat penegasan tersebut dan
mengirimkan kembali salinannya kepada auditor.
14. Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang akan dibuat dan kompleksitas
perusahaan klien, ketersediaan data, dan pertimbangan auditor. Jenis perhitunganperhitungan dan perbandingan-perbandingan yang umum digunakan meliputi:
Perbandingan data absolut.
Analisa vertikal (common-size financial statemens).
Analisa rasio.
Analisis trend.
15. Mengembangkan Ekspektase atau Harapan
13

16. Melakukan Perhitungan/ Perbandingan


17. Analisis Data dan Identifikasi Perbedaan Signifikasi
18. Meyelidiki Selisih Tak Diharapkan Yang Signifikan
19. Menentukan Pengaruh atas Perencanaan Audit

14