Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Menurut beberapa literatur, kira-kira abad kedua Hijriyah atau abad ke dua
puluh Masehi, pelaku bisnis dari kaum muslimin yang kebanyakan para pelaut,
sebenarnya telah melaksanakan sistem kerja sama atau tolong menolong untuk
mengatasi berbagai kejadian dalam menopang bisnis mereka, layaknya seperti
mekanisme asuransi. Kerjasama ini mereka lakukan untuk membantu mengatasi
kerugian bisnis, diakibatkan musibah yang terjadi semisal; tabrakan, tenggelam,
terbakar atau akibat serangan penyamun.
Sekitar tujuh abad kemudian, sistem ini akhirnya diadopsi para pelaut eropa
dengan melakukan investasi atau mengumpulkan uang bersama dengan sistem
membungakan uang. Dan pada abad kesembilan belas, dan cara membungakan
uang inipun menjelajahi penjuru dunia, terutama setelah dilakukan para taipan
keturunan Yahudi.
Para penghujung abad kedua puluh, atau tepatnya abad kelima belas Hijriyah,
para ekonom muslim mulai menelorkan dan merenovasi konsep ekonomi Islam.
Mereka adalah rangkaian generasi emas dari Abu Yusuf menghasilkan al-kharaj
dan Abu Ubaid menulis kitab al-amwal. Asuransi adalah salah satu lembaga
ekonomi yang menjadi fokus para perhatian pakar muslim, sehingga konsep yang
menggunakan format maisir, riba, gharar yang berjalan selama ini mesti dirubah
menjadi sistem bagi hasil, tolong menolong dengan mendorong pemanfaatan
Tabarru. Selain itu sistem asuransi syariah mestilah mempunyai komitmen untuk
kesejahteraan bersama.

Dibandingkan di sejumlah negara bahkan negara yang mayoritas


penduduknya adalah nonmuslim, keberadaan asuransi Takaful di Indonesia
terbilang terlambat. Di Luxemburg, Geneva dan Bahamas misalnya, asuransi
Takaful sudah ada sejak tahun 1983. Sementara di negara-negara yang
penduduknya mayoritas muslim, keberadaannya sudah jauh lebih lama seperti di
Sudan (1979), Saudi Arabia (1979), Bahrain (1983), Malaysia (1984) dan Brunei.1
Berdasarkan uraian dan data diatas penyusun berkeinginan untuk mengtahui
lebih dalam tentang Asuransi Syariah.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam Studi Kasus ini sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Asuransi Syariah?
2. Bagaimana Dasar Hukum Asuransi Syariah?
3. Apakah Prinsip-Prinsip Dasar Asuransi Syariah?
4. Bagaimana Perkembangan asuransi Syariah?

1 Muhamad Mujahidin, Asuransi Syariah, 2010,


http://mujahidinimeis.wordpress.com/2010 /05/03/asuransisyariah/

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Asuransi Syariah Syariah


Menurut Dahlan Siamat (1999: 367), Istilah asuransi dalam perkembangan di
Indonesia berasal dari kata Belanda, assurantie, yang dalam hukum Belanda
disebut Verzekering yang artinya pertanggungan. Dari peristilahan assurantie
kemudian timbul istilah assuradeur bagi penanggung, dan geassureerde bagi
penanggung. Kemudian dalam bahasa Inggris istilah "pertanggungan" adalah
insurance dan assurance. Kedua istilah ini sebenarnya memiliki pengertian yang
berbeda, insurance artinya "menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak
mungkin terjadi". Sedangkan assurance berarti "menanggung sesuatu yang pasti
terjadi".2
Pengertian Asuransi menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang Pasal
246: "Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana
seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan
menerima suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu
kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin
terjadi karena suatu peristiwa tak tertentu".
Definisi asuransi di Indonesia telah ditetapkan dalam Undang-undang
Republika Indonesia Nomor 2 tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian Bab 1
Pasal 1: "Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau
2 Hendro Wibowo, Asuransi Syariah, 2008,
http://hndwibowo.blogspot.com/2008/06/ asuransi-syariah.html

lebih, di mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan


menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung
karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau
tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita
tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk
memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan".3
Asuransi dalam Islam sering di sebut Tafakul. Secara bahasa, Takaful ()
berasal dari akar kata ( ) yang artinya menolong, memberi nafkah dan
mengambil alih perkara seseorang. Kata ( ) merupakan bentuk mashdar
. Dalam Kamus Al-Munawir dijelaskan
(infinitf) dari kata: -
bahwa arti kata kafala yang merupakan kata dasar dari takaful adalah :
pertanggungan yang berbalasan, hal saling menanggung.
Istilah kata ( ) ini merupakan istilah yang relatif baru, jika dilihat tidak
satupun ayat-ayat Al-Quran menggunakan istilah takaful ini. Bahkan dalam
hadits pun, juga tidak dijumpai kata yang menggunakan istilah takaful ini. Namun
secara sistem keukhuwahan, takaful sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah
SAW dan para sahabatnya melalui ukhuwah dalam kehidupan bermasyarakat di
Madinah pada waktu itu sebagaimana yang banyak digambarkan oleh hadits.4
Dalam bahasa Arab juga Asuransi disebut at-ta'min, penanggung disebut
mu'ammin, sedangkan tertanggung disebut mu'amman lahu atau musta'min.
3 Muhammad firdaus, dkk,Sistem Operasional Asuransi Syariah,(cet-II.
Jakarta: Renaisan,2005), hal:17.
4 Rikza Maulan, Definisi Takaful atau Asuransi Syariah, 2009,
http://www.koperasisyariah. com/definisi-takaful-atau-asuransi-syariah/

Atta'min ( ) diambil dari kata ( ) memiliki arti memberi perlindungan,


rasa aman, dan bebas dari rasa takut. Asuransi dinamakan at-ta'min disebabkan
pemegang polis sedikit banyak telah merasa aman begitu ia mengikatkan dirinya
sebagai anggota / nasabah sebuah asuransi. Dengan menjadi anggota asuransi,
paling tidak secara teoritis yang bersangkutan merasa terhindar atau paling sedikit
terkurangi rasa cemas akan menanggung beban berat manakala terjadi sesuatu
terhadap diri dan atau harta-bendanya.
Sejalan dengan berbagai sebutan dan substansi dari asuransi diatas, Dewan
Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (2001:131), dalam fatwanya
No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syariah, memberi
definisi tentang asuransi. Asuransi syariah (Tamin, Takaful, Tadhamun) adalah
usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang / pihak
melalui investasi dalam bentuk asset yang memberikan pola pengembalian untuk
menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.5
B. Dasar Hukum Asuransi Syariah
Hukum muamalah adalah bersifat terbuka, artinya Allah SWT dalam AlQur'an hanya memberikan aturan yang bersifat garis besarnya saja. Selebihnya
adalah terbuka bagi mujtahid untuk mengembangkannya melalui pemikirannya
selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an maupun Hadits tidak menyebutkan
secara nyata apa dan bagaimana berasuransi. Namun bukan berarti bahwa asuransi
hukumnya adalah haram karena teryata dalam hukum Islam memuat substansi
perasuransian secara Islami.

5 Loc.cit

Hakikat asuransi secara islami adalah saling bertanggung jawab, saling


bekerja sama atau Bantu-membantu dan saling melindungi satu sama lain. Oleh
karena itu berasuransi diperbolehkan secara syariat, karena prinsip-prinsip dasar
syariat mengajak kepada setiap sesuatu yang berakibat keeratan jalinan sesama
manusia dan kepada sesuatu yang meringankan bencana mereka, sebagaimana
firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah al-Hasyr ayat 18, al-Maidah ayat 2 dan
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.
Landasan dalam Al-Qur'an :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);
dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan. (QS. Al- Hasyr : 18)



".. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.."
(QS. Al- Maidah : 2)
Dari kutipan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa, Asuransi dalam Islam
dikenal dengan istilah Takaful yang berarti saling memikul resiko diantara sesama
orang, sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko
yang lainnya. Saling pikul resiko ini dilakukan atas dasar tolong menolong dalam

kebaikan dimana masing-masing mengeluarkan dana / sumbangan / derma


(tabarru') yang ditunjuk untuk menanggung resiko tersebut.
Landasan dalam Al Hadits :
"Dari Nu'man bin Basyir ra, Rasulullah SAW bersabda, 'Perumpamaan
persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang diantara mereka
adalah seumpama satu tubuh. Bilamana salah satu bagian tubuh merasakan sakit,
maka akan dirasakan oleh bagian tubuh yang lainnya, seperti ketika tidak bisa
tidur atau ketika demam." (HR. Muslim).
Hadits ini menggambarkan tentang adanya saling tolong menolong dalam
masyarakat Islami. Dimana digambarkan keadaannya seperti satu tubuh; jika ada
satu anggota masyarakat yang sakit, maka yang lain ikut merasakannya. Minimal
dengan menjenguknya, atau bahkan memberikan bantuan. Dan terkadang bantuan
yang diterima, jumlahnya melebihi 'biaya' yang dikeluarkan untuk pengobatan.
Sehingga terjadilah 'surplus', yang minimal dapat mengurangi 'beban' penderitaan
orang yang terkena musibah. Hadits ini menjadi dasar filosofi tegaknya sistem
Asuransi Syariah.
Dikalangan ulama atau cendikiawan muslim terdapat empat pendapat tentang
hukum asuransi, yaitu:
1. Mengharamkan asuransi dalam segala macam dan bentuknya seperti
sekarang ini; termasuk asuransi jiwa. Kelompok ini antara lain Sayyid
Sabiq, Muhammad Yusuf al-Qardhawi, dan Muhammad Bakhit al-MuthI
alasannya antara lain:
a. Asuransi pada hakikatnya sama dengan judi.
b. Mengandung unsur tidak jelas dan tidak pasti.

c. Mengandung eksploitasi, karena pemegang polis apabila tidak bias


melanjutkan pembayaran premi, bisa hilang atau dikurangi uang premi
yang telah dibayarkan.
2. Membolehkan semua asuransi dalam prakteknya dewasa ini. Pendapat ini
dikemukakan oleh Abdul Wahab Khalaf, Mustafa Ahmad Zarqa, dan
Muhammad Yusuf Musa alasannya yang dikemukakannya sebagai berikut:
a. Tidak ada nash al-Quran maupun al-Hadits yang melarang asuransi.
b. Asuransi tidak merugikan salah satu atau kedua belah pihak dan
bahkan asuransi menguntungkan kedua belah pihak.
c. Asuransi menjaga banyak manusia dari kecelakaan harta benda,
kekayaan, dan kepribadian.
3. Membolehkan asuransi yang bersifat sosial dan mengharamkan asuransi
yang bersifat komersial semata. Pendapat ini dikemukakan oleh
Muhammad Abu Zahrah.
4. Menganggap bahwa asuransi bersifat syubhat, karena tidak ada dalil-dalil
syari

yang

secara

jelas

mengharamkan

ataupun

secara

jelas

menghalalkan.6
C. Prinsip Dasar Asuransi Syariah
Prinsip Dasar yang ada dalam asuransi syariah tidaklah jauh berbeda dengan
prinsip dasar yang berlaku padaa konsep ekonomika Islam secara komprehensif
dan bersifat major. Hal ini disebabkan karena kajian asuransi syariah merupakan
tururnan (minor) dari konsep ekonomika Islam . Biasanya literatur ekonomika
Islam selalu melakukan penurunan nila pada tataran konsep atau institusi yang
ada dalam lingkup kajiannya, seperti lembaga perbankan dan asuransi.
Begitu juga dengan suransi, harus dibangun di atas fondasi dan prinsip dasar
yang kuat dan kokoh. Dalam hal ini, prinsip dasar asuransi syariah ada sembilan
macam yakni
6 ibid

1. Tauhid
Dalam berasuransi yang harus diperhatikan adalah bagaimana seharusnya
menciptakan suasana dan kondisi bermuamalah yang tertuntun pada nilai-nilai
ketuhanan. Paling tidak dalam setiap melakukan aktivitas berasuransi ada
semacam keyakinan dalam hati bahawa Allah SWT selalu mengawasi seluruh
gerak langkah kita dan selalu bersama kita.
2. Keadilan
Prisnip kedua adalam berasuransi adalah terpenuhinya nilai-nilai keadilan
antara pihak-pihak yang terikat dalam akad asuransi. Keadilan dalam hal ini
dipahami sebagai upaya dalam menempatkan hak dan kewajiban antara
nasabah dan perusahaan asuransi.
3. Tolong Menolong (Taawun)
Prinsip dasar yang lain dalam melaksanakan kegiatan asuransi adalah
harus didasari dengan semangat tolong-menolong antara anggota (nasabah).
Seseorang yang masuk asuransi, sejak awal harus mempunyai niat dan
motivasi untuk membantu dan meringankan beban temannya yang pada suatu
ketika mendapatkan musibah atau kerugian.
4. Kerjasama (Cooperation)
Prinsip kerjasama merupaka prinsip universal yang selalu ada dalam
literatur ekonomi Islam . Manusia sebagai mahluk yang mendapat mandat dari
sang Khalik-nya untuk mewujudkan perdamainan dan kemakmuran di muka

10

bumi mempunyai dua wajah yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama
lainnya yaitu sebagai mahluk individu dan mahluk sosial.
5. Amanah (Trustworthy)
Prinsip amanah dalam organisasi perusahaan dapat terwujud dalam nilainilai akuntabilitas (pertanggung jawaban) perusahaan melalui penyajian
laporan keuangan tiap periode. Dalam hal ini perusahaan asuransi harus
memberi kesempatan yang besar bagi nasabah untuk mengakses laporan
keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan
asuransi harus mencerminkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam
bermuamlah dan melalui auditor public.
6. Kerelaan (Al-Ridha)
Dalam berbisnis asurasnsi, kerelaan dapat diterapkan pada setiap nasabah
asuransi agar mempunyai motivasi dari awal untuk merelakan sejumlah dana
(premi) yang disetorkan ke perusahaan asuransi, yang difungsikan sebagai
dana sosial (tabarru). Dana sosial (tabarru) memang betuk-betul digunakan
untuk tujuan membantu nasabah asuransi yang lain jika mengalami bencana
kerugian.

7. Larangan Riba

11

Bahwa dalam berbisnis asuransi kita dilarang melakukan praktek riba.


Yakni bahwa kita dilarang melakukan pengambilan tambahan dari harta pokok
atau modal secara batil.
8. Larangan Maisir
Syafii Antonio mengatakan bahwa unsur maisir (judi) artinya adanya
salah satu pihak yang untung namun di lain pihak justru mengalami kerugian.
Hal ini tampak jelas apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu
membatalkan kontraknya sebelum masa reversig period, biasanya tahun yang
ketiga yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah
dibayarkan kecuali sebagian kecil saja. Juga adanya unsur keuntungan yang
dipengaruhi oleh pengalaman underwriting, dimana untung-rugi terjadi
sebagai hasil ketetapan.
9. Gharar (Ketidakpastian)
Secara konevensioanal kata Syafii Antonio kontrak/perjanjian dalam
asuransi jiwa dapat dikategorikan dalam aqd tadabuli atau akad pertukaran
yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan. Secara
syariah dalam akad pertukaran harus jelas berapa yang harus dibayarkan dan
berapa yang harus diterima. Keadaan ini akan menjadi rancu (gharar) karena
kita tahu berapa yang akan diterima (sejumlah uang pertanggungan), tetapi
tidak tahu berapa yang akan dibayarkan (jumlah uang premi) karena hanya

12

Allah yang tahu kapan seseorang akan meninggal. Disinilah gharar terjadi
pada asuransi konvensional.7
D. Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Tabel Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional8


No
Dari Segi

Konvensional

Syariah

.
1.

Konsep

Perjanjian antara dua pihak

Sekumpulan

atau lebih, pihak penanggung

yang saling membantu,

mengikatkan

kepada

saling menjamin, dan

tertanggung dengan menerima

bekerja sama, dengan

premi

cara

asuransi,

memberikan

2.

diri

untuk
pergantian

orang

masing-masing

mengeluarkan

dana

kepada tertanggung.

tabarru.

DPS (Dewan

Tidak ada, sehingga dalam

Ada, yang berfungsi

Pengawas

prakteknya

mengawasi

Syariah)

dengan kaidah-kaidah syara

bertentangan

pelaksanaan
operasional perusahaan
agar

terbebas

dari

praktek-praktek
muamalah
7 Muhaimin, Iqbal, Asuransi Umum Syariah, 2006, (Jakarta: Gema
Insani),
8 Amalia Haerunnisa, dkk, Makalah Asuransi Syariah, 2010,
http://hendrakholid.net/blog/ 2010/10/19/

yang

13

bertentangan

dengan

prinsip-prinsip syariah.
3.

Akad

Akad jual beli (akad gharar)

Akad

tabarru

akad

dan
tijarah

(mudharabah, wakalah,
wadiah, syirkah)
4.

Jaminan/Ris

Transfer

k (Resiko)

terjadi

of

risk,

dimana

transfer

dari

tertanggung

kepada

penanggung

Sharing

of

risk,

dimana terjadi proses


saling

menanggu

antara satu peserta dan


peserta

lainnya

(taawun)
5.

Pengelolaan

Tidak ada pemisahan dana,

Pada

Dana

yang

saving

berakibat

pada

produk-produk
(life)

terjadi

terjadinya dana hangus (untuk

pemisahan dana, yaitu

produk saving life)

dana tabarru, sehingga


tidak mengenal dana
hangus.

Sedangkan

untuk term insurance


(life)

dan

insurance

general
semuanya

bersifat tabarru.
6.

Kemilikan

Dana yang terkumpul dari

Dana yang terkumpul

Dana

premi

dari

menjadi

peserta

seluruhnya

milik

perusahaan.

bentuk

peserta
iuran

dalam
atau

14

Perusahaan

bebas

menggunakan

dan

menginvestasikan kemna saja.

kontribusi. Merupakan
milik

peserta

(shahibul

atau
maal),

asuransi syariah hanya


sebagai

pemegang

amanah

(mudarib)

dalam mengelola dana


tersebut.
7.

Sumber

Sumber biaya klaim adalah

Sumber

pembayaran

dari

perusahaan,

klaim diperoleh dari

Klaim

sebagai

konsekuensi

rekening

rekening

penangung

terhadap

pembayaran

tabarru

dimana peserta saling

tertanggung. Murni bisnis dan

menanggung.

tidak ada nuansa syariah.

salah

satu

mendapat

Jika
peserta
musibah

maka peserta lainnya


ikut

menanggung

bersama

resiko

tersebut.
8.

Keuntungan

Keuntungan diperoleh surplus

Profit yang diperoleh

(profit Share)

underwrinting,

dari

komisi

surplus

reasuransi, dan hasil investasi

underwrinting, komisi

seluruhnya adalah keuntungan

reasuransi, dan hasil

perusahaan.

investasi
seluruhnya

bukan
menjadi

15

milik perusahaan tetapi


dilakukan bagi hasil
(mudharabah)

BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISA

A. Jenis-Jenis Asuransi Syariah


Dilihat dari segi jenis asuransi syariah, maka suransi syariah terdiri atas dua
jenis yakni:
1. Asuransi Kerugian (General Insurance)

16

Adalah usaha yang memberikan jasa-jasa dalam penanggulangan risiko


atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak
ketiga timbul dari peristiwa yang tidak pasti. Usaha Asuransi kerugian di
Indonesia antara lain:
a. Asuransi Kebakaran
b. Asuransi Kendaraan Bermotor
c. Asuransi Kecelakaan
d. Asuransi Laut dan Udara
e. Asuransi Rekayasa
2. Asuransi Jiwa (Life Insurance)
Pada hakekatnya meupakan suatu bentuk kerjasama antara orang-orang
yang membagi resiko (share risk) yang diakibatkan oleh resiko kematian
(yang pasti terjadi tetapi tidak pasti akan terjadinya), resiko hari tua (yang
pasti terjadi dan dapat diperkirakan kapan terjadinya, tetapi tidak pasti berapa
lama) dan resiko kecelakaan(yang tidak pasti terjadi, tetapi tidak mustahil
terjadi). Kerjasama mana dikoordinir perusahaan asuransi yang bekerja atas
dasar hukum bilangan besar (the law of large number) yang menyebarkan
resiko kepada orang-orang yang mau bekerjasama. Yang termasuk dalam
program asuransi jiwa seperti ini adalah asuransi untuk pendidikan, pensiun,
investasi, tahapan, dll. Asuransi Jiwa terbagi menjadi:
1. Asuransi Jiwa Biasa

17

2. Asuransi Rakyat
3. Asuransi Kumpulan
4. Asuransi Dunia Usaha
5. Asuransi Orang Muda
6. Asuransi Keluarga
7. Asuransi Kecelakaan
8. Asuransi Pendidikan
Di dalam operasioanal Asuransi Syariah yang sebenarnya terjadi saling
bertanggung jawab, membantu dan melindungi di antara para peserta sendiri.
Perusahaan asuransi diberi kepercayaan (amanah) oleh para peserta untuk
mengelola premi, mengembangkan dengan jalan yang halal, memberikan
santunan kepada yang mengalami musibah sesuai isi akta perjanjian.9
B. Dampak dan kendala Asuransi Syariah serta Strategi yang diperlukan
untuk membangun Asuransi Syariah
Menurut sebagian pengamat ekonomi, khususnya ekonomi muslim saat ini
masyarakat dunia telah mengalami kejenuhan dengan sistem ekonomi kapitalis
dan sistem ekonomi sosialis. Selain itu, dengan mengembangkan kedua sistem itu
dunia semakin hari semakin tidak teratur yang pada gilirannya melahirkan
Negara-negara yang semakin hari semakin kaya disisi lain melahirkan Negaranegara yang semakin miskin. Dengan kata lain dengan menjalankan kedua sistem
9 Loc-cit

18

ekonomi tersebut akan melahirkan ketidak seimbangan dalam perkembangan


ekonomi.
Asuransi syariah dan lembaga-lembaga ekonomi syariah lainnya muncul
sebagai bukan hanya untuk meningkatkan ekonomi umatnya saja. Tetapi sekaligus
menjadi solusi bagi bangsa yang sedang terpuruk ini untuk bisa bangkit kembali
menjadi bangsa yang bermartabat, tidak diperhamba bangsa-bangsa lain.
Berdirinya Asuransi Syariah jelas akan meningkatkan kesadaran berasuransi,
sehingga disamping ikut membangun untuk memperkuat sumber daya keuangan
dalam negeri, juga akan memberikan dampak kontraksi moneter untuk menahan
laju inflasi. Dengan optimalnya investasi yang dilakukan sesuai dengan prinsip
syariah islam, maka akan dapat membantu pertumbuhan ekonomi secara
maksimal.
Dalam perkembangannya, asuransi syariah juga menghadapi beberapa
kendala, diantaranya :
1. Rendahnya tingkat perhatian masyarakat terhadap keberadaan asuransi
syariah yang relative baru dibandingkan dengan asuransi konvebsional
yang telah lama mereka kenal, baik nama dan operasinya.
2. Asuransi bukanlah bank yang banyak berpeluang untuk bisa berhubungan
dengan masyarakat dalam hal pendanaan atau pembiayaan. Artinya,
dengan produknya bank lebih lebih banyak berpeluang untuk bisa selalu
berhubungan dengan masyarakat.
3. Asuransi syariah, sebagaimana bank dan lembaga keuangan syariah lain,
masih dalam proses mencari bentuk. Oleh karenanya, diperlukan langkahlangkah sosialisasi, baik untuk mendapatkan perhatian masyarakat maupun
sebagai upaya mencari masukan demi perbaikan system yang ada

19

4. Rendahnya profesialisme sumber daya manusia ( SDM) menghambat laju


pertumbnuhan asuransi syariah. Penyediaan sumber daya manusia dapat
dilakukan dengan kerjasama dengan berbagai pihak terutama lembaga
lembaga pendidikan untuk membuka atau memperkenalkan pendidikan
asuransi syariah
Adapun strategi yang diperlukan untuk pengembangan asuransi syariah
diantaranya sebagai berikut :
1. Perlu strategi pemasaran yang lebih terfokus kepada upaya untuk
memenuhi pemahaman masyarakat tentang asuransi syariah. Maka
asuransi

syariah

perlu

meningkatkan

kualitas

pelayanan

kepada

pemenuhan pemahaman masyarakat ini, misalnya mengenai apa asuransi


syariah, bagaimana operasi asuransi syariah, keuntungan apa yang di dapat
dari asuransi syariah, dan sebagainya
2. Sebagai lembaga keuangan yang menggunakan system syariah tentunya
aspek syiar islam merupakan bagian dari operasi asuransi tersebut. Syiar
islam tidak hanya dalam bentuk normative kajian kitab misalnya, tetapi
juga hubungan antara perusahaan asuransi dengan masyarakat. Dalam hal
ini asuransi syariah sebagai perusahaan yang berhubungan denganm
masalah kemanusiaan (kematian, kecelakaan, kerusakan dll), setidaknya
dalam masalah yang berhubungan dengan klaim nasabah asuransi syariah
bias memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan asuransi
konvensional.
3. Dukungan dari berbagai pihak teruitama pemerinyah, ulama, akademis,
dan

masyarakat

diperlukan

untuk

memberikan

masukan

dalam

penyelenggaraan operasi asuransi syariah. Hal ini diperlukan selain

20

memberikan control bagi asuransi syariah untuk berjalan pada system


yang berlaku, juga meningkatkan kemampuan asuransi syariah dalam
menangkapa kebutuhan dan keinginan masyarakat.
C. Analisis Swot Asuransi Syariah
Agus Haryadi menyebutkan ada beberapa aspek yang dapat menjadi peluang,
ancaman(tantangan), kekuatan dan kelemahan dalam memperluas jaringan bisnis
asuransi syariah terutama di Indonesia, penjelasannya adalah sebagai berikut :
1. Peluang
Beberapa faktor yang merupakan peluang dan mendukung prospek
asuransi syariah adalah
1. Keunggulan konsep asuransi syariah dapat memenuhi peningkatan
tuntutan rasa keadilan dari masyarakat.
2. Jumlah penduduk beragama Islam di Indonesia lebih dari 180 Juta
orang
3. Meningkatnya kesadaran bermuamalah sesuai syariah, tumbuh subur
khususnya pada masyarakat golongan menengah.
4. Meningkatnya kebutuhan jasa asuransi karena perkembangan ekonomi
umat.
5. Tumbuhya lembaga keuangan syraiah (LKS) lainnya seperti perbankan
dan reksadana.
6. Kompetitor dalam bisnis asuransi syariah masih sedikit.

21

7. Berlakunya undang-undang otonomi daerah yang akan memacu


perkembangan ekonomi daerah.
8. Kebutuhan meningkatkan pendidikan (anak).
9. Meningkatnya resiko kehidupan.
10. Meningkatnya bea-bea kesehatan (harga dolar, dll)
11. Menurunnya rasa tolong menolong di masyarakat (tidak membudaya
lagi).
12. Globalisasi (teknologi internet sebagai penunjang bisnis).
13. Adanya UU Dana Pensiun.
14. Employee Benefits sebagai bagian dari paket perusahaan dalam
rekrutmen karyawan.
2. Ancaman/ Tantangan
Sedangkan faktor yang masih merupakan ancaman atau tantangan bagi
perkembangan asuransi syariah di Indonesia adalah:
1. Globalisasi, masuknya asuransi luar negeri yang memiliki : kapital
besar dan teknologi yang lebih tinggi sehingga membuat premi suransi
lebih murah.
2. Asuransi konvensional dan lembaga keuangan lainnya yang lebih
efisien.

22

3. Langkanya ketersediaan SDM yang qualified dan memiliki


semangat syariah.
4. Citra lembaga keuangan syariah masih belum mapan di mata
masyarakat, padahal ekspektasi masyarakat terhadap LKS sangat
tinggi.
5. Sarana investasi syariah yang ada sekarang belum mendukung secara
optimal untuk perkembangan asuransi syariah.
6. Belum ada UU dan PP yang secara khusus mengatur asuransi syariah.
7. Budaya suap dan kolusi dalam asuransi kumpulan (group insurance)
masih kental.
8. Alokasi pengeluaran masyarakat untuk asuransi masih sangat terbatas,
hal ini nampaknya berkaitan dengan masalah sosialisasi asuransi dan
pengalaman berasuransi.
3. Kekuatan
Dalam upaya pengembangan operator asuransi syariah baru di Indonesia,
yang dapat menjadi kekuatan positif adalah sebagai berikut :
1. Tenaga kerja profesional/ sumber daya manusia inti yang kompeten
dan memilki integritas moral dan ghirah Islam, yang berada dalam
sebuah teamwork yang solid.
2. Pemegang saham yang memiliki visi dan misi syariah yang jelas.

23

3. Kelompok pemegang saham mampu mengusahakan captive market


awal.
4. Kelompok pemegang saham diharapkan memiliki infrastruktur
teknologi dan potensi tenaga ahli (mislanya: Fund manager).
5. Dalam aspek legal, sifat perjanjian yang memenuhi syarat syariah
mampu memberi rasa aman kepaa peserta asuransi syariah, selain
unsur duniawi semata.
6. Adanya unsur dakwah.
7. Produk asuransi bersifat transparan.
4. Kelemahan
Namun demikian, system asuransi syariah dan core team asuransi
syariah baru ini memiliki kelemahan yang masih dalam tahap peningkatan
yaitu:
1. SDM pendukung (lapisan kedua,dst) belum banyak memahami bisnis
syariah.
2. Dalam hal pemasaran, alternatif distributif relatif masih terbatas
dibandingkan pola konvensional.
3. Kompleksitas dalam sistem administrasi syariah (misalnya perhitungan
bagi hasil dan tingkat hasil investasi).
4. Permodalan yang terbatas akan memprengaruhi:

24

a. Sistem/teknologi pendukung manajemen


b. Strategi bisnis
c. Ketersediaan

infrasturktur

(internal,

eksternal,

customer

support,dll)10
D. Perkembangan dan Pertumbuhan Asuransi Syariah dalam Penerapannya
di Indonesia.
Pada saat ini perkembangan ekonomi yang berbasis syariah sedang diminati
oleh masyarakat karena banyak keuntungan yang didapat, maka dari itu
didirikanlah

asuransi-asuransi

syariah

sebagai

bentuk

partisipasi

dalam

membangun perkembangan ekonomi syariah.


Sampai saat ini asuransi syariah berkembang sangat pesat. Banyak asuransi
konvensioanal yang melahirkan unit atau cabang yang berbasis syariah dan
beberapa perusahaan yan sedang dalam persiapan untuk mendirikan asuransi
islam baru. Beriringan dengan perkembangan tersebut, perusahaan syariah yang
telah ada saat ini pada tanggal 14 Agustus 2003 yang lalu kemudian membentuk
suatu wadah perkumpulan atau asosiasi yaitu Asosiasi Asuransi Islam Indonesia
(AASI). AASI dibentuk selain sebagai media komunikasi sesama anggota, juga
secara eksternal sebagai wadah resmi untuk mewakili asuransi islam baik kepada
pemerintah, legislatif, maupun keluar negeri.
Perkembangan asuransi syariah ibarat si gadis manis, diburu banyak orang dan
menenangkan. Kini, nyaris semua perusahaan asuransi membentuk unit syariah.

10 Loc.cit

25

Bahkan asuransi asing juga ikut membuka unit syariah. Mereka tentu ingin
mencicipi kue syariah di Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Syariah Indonesia
Muhaimin Iqbal menyatakan hingga Januari 2008, di Indonesia sudah ada 3
perusahaan yang full asuransi syariah, 32 cabang asuransi syariah, dan 3 cabang
reasuransi syariah. Ini pertumbuhan premi industri bisa menembus Rp 1 trilun
tahun ini. Rencana masuknya asuransi raksasa di pasar asuransi syariah
diharapkan mendukung pencapaian target itu.
Ia mengatakan perolehan premi industri asuransi syariah tanah air
diperkirakan kembali mengulang prestasi tahun lalu dengan tumbuh sebesar 60%70%. pada 2006, industri asuransi syariah membukukan pertumbuhan premi
sebesar 73% dengan nilai total Rp 475 miliar. "Hingga akhir 2007, saya rasa kami
bisa mencapai Rp 700 miliar. Kalau tahun depan tumbuh 50% saja, sampai
melebihi Rp 1 triliun," ucap Muhaimin.
Kendati asuransi syariah mengalami pertumbuhan yang pesat, jelas Muhaimin,
kontribusi terhadap total industri baru mencapai 1,11% per 2006 dan diperkirakan
meningkat ke posisi 1.33% tahun ini. Hal itu tidak terlepas dari jumlah pelaku
industri asuransi syariah yang masih terbatas dan baru menunjukkan peningkatan
dalam dua tahun terakhir.
Ia menuturkan, pada 2003, hanya ada 11 pemain dalam industri syariah.
Jumlah itu meningkat menjadi 30 pemain pada 2006. Per juli 2007, terdapat 38
pemain asuransi syariah dengan rincian 2 perusahaan asuransi syariah, 1 asuransi
umum, 12 asuransi jiwa syariah, 20 asuransi umum syariah, dan 3 asuransi
syariah.

26

Sistem Transparan

Sementara itu, Direktur Utama Insight Invesment Management ggi H Achsien


menyatakan perkembangan pesat asuransi asuransi syariah di Indonesia
memang masuk akal. Disamping pangsa pasar yang besar, sistemnya juga
transparandan membuat nyaman pemegang polis jelas Iggi.
Menurutnya sistem asuransi syariah menjanjikan sistem yang lebih adil,
transparan dan terhindar dari unsur perjudian. Oleh karena itu orang merasa
lebih aman dengan asuransi syariah, cetusnya. Calon Dewan Pengawas
Syariah (DPS) dari salah satu perusahaan asurasi syariah itu meminta para
pelaku asurasi syariah agar terus meningkatkan profesionalisme dalam
mengembangkan pasar. Ini penting agar ada pergesran orientasi parsar dari
pasar emosional menuju pasar rasionla., jelasnya.
Perkembangan asuransi syariah juga mencengangkan. PT Asuransi Takaful
Keluarga (ATK) misalnya. Disamping terus melakukan berbabagai inovasi
produk, perusahaan asuransi syariah terbesar di Indonesia itu terus
menggalang aliansi strategis dengan perusahaan sejenis. ATK juga telah
meluncurkan produk unit link Takafulink Alia yang merupakan produk
proteksi dan investasi berbasi saham. ATK menargerkan pendapatan Rp 20
miliar Rp 30 miliar di akhir 2007.
Walaupun baru berjalan sebulan, pendaptan Takafulink Alia telah
mencapai Rp 5 miliar. Oleh karena itu, target di atas dapat tercapai, ungkap
Presiden direktur PT Asuransi Takaful Keluarga disela-sela grand launching
Produk Takafulink Alia di Jakarta.

27

Karena investasi Alia berupa saham. Agus menilai produk tersebut


potensial bagi meresa yang agresif dalam berinvestasi. Divisi Syariah Asuransi
Allianz Liafe Indenesia (AALI) juga tidak ketinggalan . Allianz Syariah Life
membukukan gross written premium (GWP) sebesar Rp 31 miliar dan
mjumlah polis sebanyak 3.702. unit hingga Agustus 2007. Direktur Syarila
AALI Kiswati Soerkoyo mengatakanper Agustus 2007, GWP telah mencapai
Rp 31,012 miliar dan jumlah polis meningkat menjadi 3.702 unit.

Hasil yang hampir sama juga dibukukan Divisi Syariah PT Asuransi Jiwa
(AJ) Central Asia Raya (CAR) yang mulai dibentuk Mei 2007. Di Tahum
pertama operasionalnya (2007) mereka berhasil melai premi sebesar Rr20
miliar. Tahun ini, menurut Direktur pemasaran PT AJ CAR Hero Samudra,
Target perolehan premi naik 150% menjadi Rp50 miliar.
Sementara itu, Divisi Syariah AJB Bumi putera menargetkan pertumbuhan
pendapatan premi sebesar 137% menjadi Rp237% miliar pada 2008. Untuk
mencapai itu, divisi yang baru berusia tiga tahun itu akan menfokuskan pada
ekspansi organik perusahaan.(Media Indonesia, Selasa, 29 Januari 2008).
Belakangan ini, di Indonesia banyak sekali bermunculan perusahaan Asuransi
yang bebasis pada Asuransi Syariah. Asuransi Syariah sendiri muncul pertama
kali pada tahun 1990-an. Berawal dari metode ekonomi Islam yang dikembangkan
oleh beberapa bank di Indonesia, salah satunya adalah Bank Muamalat.
Semenjak adanya ekonomi Islam, maka Asuransi Syariah pun mulai
berkembang di Indonesia. Prinsip asuransi syariah pada intinya adalah kejelasan

28

dana, tidak mengandung judi dan riba atau bunga. Sama halnya dengan perbankan
syariah, melihat potensi umat Islam yang ada di Indonesia, prospek asuransi
syariah sangat menjanjikan. Bahkan, seorang CEO perusahaan asuransi syariah
asal Malaysia, Syed Moheeb memperkirakan, tahun 2008 mendatang asuransi
syariah bisa mencapai 10 persen market share asuransi konvensional.11

11Rubbi Widiantoro, Perkembangan Asuransi Syariah Di Indonesia,


2008, http://www.swaberita.com/2008/05/29/ekonomibisnis/perkembangan-asuransi-syariah-di-indonesia.html

29

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka
penyusun dapat menarik kesimpulan yaitu: Asuransi sebagai satu wujud usaha
dalam pertanggungan yang melibatkan antara sekelompok (kumpulan) orang
disatu pihak dan perusahaan asuransi, sebagai lembaga pengelola dana di pihak
lain, telah mengangkat isu utama saling menanggung dalam menghadapi
musibah dan bencana. Dilihat dari nilai bawan yang tertera dalam teks-teks
absolut (Al-Quran dan As-Sunnah), maka nilai dasar dari asuransi syariah
mempunyai nilai sosial oriented yaitu sebuah nilai yang didasarkan pada semangat
saling tolong-menolong antar sesama peserta asuransi dalam menghadapi
musibah.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas penyusun menyarankan:
1. Perlu adanya kajian dan diskusi yang mendalam tentang konsep asuransi
syariah oleh kalangan yang punya perhataian terhadap asuransi syariah
sehingga pada akhirnya terbentuk Masyarakat Asuransi syariah (MAS).
2. Secepatnya diperlukan payung hukum yang kuat terhadap eksistensi
asuransi syariah di Indonesia.
3. Perlunya sosialisasi yang masif terhadap masyarakat muslim sehingga
mengetahui apa pentingnya asuransi syariah dalam kehidupannya.

30

4. Maksimalisasi fungsi Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang terdapat


dalam setiap perusahaan asuransi syariah.
5. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut dan mendalam tantang
kesesuaian praktik asuransi syariah dengan ketentuan dasar ekonomika
Islam .