Anda di halaman 1dari 11

BAB II

ISI

2.1

Klasifikasi Hama
Hyphotenemus hampei

Kingdom : Animalia,
Phylum : Arthropoda
Class

: Insecta,

Order

: Coleoptera,

Family

: Curculionidae,

Genus

: Hypothenemus,

Species : H. Hampei. Penggerek Buah Kopi


(PBKo) (Hypothenemus hampei),
Famili

: Scolytidae,

Ordo

: Coleoptera

2.2

Biologi Hypothenemus hampei


Penggerek buah kopi (PBKo) sangat merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan

sering mencapai populasi yang tinggi. Umumnya, hanya serangga betina yang sudah kawin akan
menggerek buah kopi; biasanya masuk ke dalam buah dengan membuat lubang kecil pada ujung
buah. Kumbang betina menyerang buah kopi dari mulai buah sedang terbentuk (8minggu setelah
berbunga) sampai waktu panen. Buah yang sudah tua paling disukai. Kumbang dan larva PBKo
menyerang buah kopi yang sudah cukup keras dengan cara membuat liang gerekan dan hidup di
dalamnya sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Hama ini tidak hanya menyerang
buah kopi di kebun, tetapi juga menyerang buah di penyimpanan. Selain hidup dalam buah kopi,
hama ini juga menyerang tanaman Tephrosia, Crotalaria, Caesalpinia, dan Leucaena glauca yang
sering digunakan sebagai tanaman penaung/penutup tanah. Penggerek buah kopi merupakan
kumbang berukuran 0,7 1,7 mm, berbadan bulat dengan kepala berbentuk segi tiga yang
ditutupi oleh rambutrambut halus. Kumbang ini biasanya akan bertelur dalam lubang gerekan
Telurnya menetas dalam waktu sekitar 4 hari, lalu berubah menjadi larva berwarna putih dan
bermulut cokelat. Telur menetas 5-9 hari. Stadium larva 10-26 hari dan stadium pupa 4-9 hari.
Pada ketinggian 500 m dpl, serangga membutuhkan waktu 25 hari untuk perkembangannya.
Pada ketinggian 1200 m dpl, untuk perkembangan serangga diperlukan waktu 33 hari . Lama
hidup serangga betina rata-rata 156 hari, sedangkan serangga jantan maksimal 103 hari.

Kumbang betina menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 30 -50 butir. Telur menetas
menjadi larva yang menggerek biji kopi. Larva menjadi kepompong di dalam biji. Dewasa
(kumbang) keluar dari kepompong. Jantan dan betina kawin di dalam buah kopi, kemudian
sebagian betina terbang ke buah lain untuk masuk, lalu bertelur lagi(Jumar,2000)
Serangga dewasa atau imago, perbandingan antara serangga betina dengan serangga
jantan rata-rata 10:1. Namun, pada saat akhir panen kopi populasi serangga mulai turun karena
terbatasnya makanan, populasi serangga hampir semuanya betina, karena serangga betina
memiliki umur yang lebih panjang dibanding serangga jantan. Pada kondisi demikian
perbandingan serangga betina dan jantan dapat mencapai 500:1. Serangga jantan H.hampei tidak
bisa terbang, oleh karena itu mereka tetap tinggal pada liang gerekan di dalam biji. Umur
serangga jantan hanya 103 hari (Susniahati,2005)sedang serangga betina dapat mencapai 282
hari dengan rata-rata 156 hari. Serangga betina mengadakan penerbangan pada sore hari, yaitu
sekitar pukul 16.00 sampai dengan 18.00. (Kolshoven,1981)

Larva H. hampei

Pupa H. hampei

Imago H. hampei

2.3

Gejala Serangan

Pada umumnya PBKo menyerang buah dengan endosperma yang telah

mengeras,

namun buah yang belum mengeras dapat juga diserang. Buah kopi yang bijinya masih lunak
umumnya hanya digerek untuk mendapatkan makanan

dan selanjutnya ditinggalkan. Buah

demikian tidak berkembang, warnanya berubah menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur.
Serangan pada buah yang bijinya telah mengeras akan berakibat penurunan mutu kopi karena
biji berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan senyawa
kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi. Biji berlubang

merupakan salah satu

penyebab utama kerusakan mutu kimia, sedangkan citarasa kopi dipengaruhi oleh kombinasi
komponen-komponen senyawa kimia yang terkandung dalam biji.
Perkembangan dari telur menjadi imago berlangsung hanya di dalam biji keras yang
sudah matang. Kumbang penggerek ini dapat mati secara premature pada biji di dalam
endosperma jika tidak tersedia substrat yang dibutuhkan. Kopi setelah pemetikan adalah tempat
berkembang biak yang sangat baik untuk penggerek ini, dalam kopi tersebut dapat ditemukan
sampai 75 ekor serangga per biji. Kumbang ini diperkirakan dapat bertahan hidup selama kurang
lebih satu tahun pada biji kopi dalam kontainer tertutup.

PBKo mengarahkan serangan pertamanya pada bagian kebun kopi yang bernaungan,
lebih lembab atau di perbatasan kebun. Jika tidak dikendalikan, serangan dapat menyebar ke
seluruh kebun. Betina berkembang biak pada buah kopi hijau yang sudah matang sampai
merah, biasanya membuat lubang dari ujung dan meletakkan telur pada buah. Kumbang betina
terbang dari satu pohon ke pohon yang lain untuk meletakkan telur. Ketika telur menetas, larva
akan memakan isi buah sehingga menyebabkan menurunnya mutu kopi. PBKo masuk ke dalam
buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar diskus. Serangan pada buah muda
menyebabkan gugur buah. Serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan biji kopi cacat
berlubang-lubang dan bermutu rendah. PBKo diketahui makan dan berkembang biak hanya di
dalam buah kopi saja. Kumbang betina masuk ke dalam buah kopi dengan membuat lubang dari
ujung buah dan berkembang biak dalam buah. Imago H. hampei telah merusak biji kopi sejak
biji mulai membentuk endosperma. Serangga yang betina meletakkan telur pada buah kopi yang
telah memiliki endosperma yang keras. Betina membuat lubang kecil dari permukaan kulit luar
kopi (mesokarp) buah untuk meletakkan telur jika buah sudah cukup matang.

2.4

Pola Penyebaran

Penggerek buah kopi ini mula-mula berasal dari Afrika kemudian menyebar luas sampai
ke Brazil, Guatemala, Asia, termasuk India, Indonesia dan beberapa pulau di kepulauan Pasifik,
hama ini hanya menyerang buah kopi. Serangga hama ini dikenal dengan bubuk buah kopi atau
coffee berry barer, termasuk ordo Coleoptera, famili Scolytidae dan mempunyai penyebaran di
Indonesia. Kumbang H. hampei berwarna hitam berkilat atau hitam coklat. Hama bubuk buah
kopi, H. hampei serangannya meluas ke Afrika Tengah. Laporan tahunan kehilangan hasil yang
disebabkan oleh hama ini diperkirakan lebih dari $ 500 juta setiap tahun. Disebutkan bahwa
hama bubuk buah kopi ini telah ada di negara yang berbeda di mana lebih dari 20 negara,
termasuk Puerto Rico juga telah terdapat hama ini. Serangga H. hampei diketahui menyukai
tanaman kopi yang rimbun dengan naungan yang gelap. Kondisi demikian tampaknya berkaitan
dengan daerah asal dari hama PBKo, yaitu Afrika dimana serangga PBKo menyerang tanaman
kopi liar yang berada di bawah hutan tropis yang lembab. Kondisi serupa juga dijumpai di
Brazil, di mana serangan berat hama PBKo biasanya terjadi pada pertanaman kopi dengan
naungan berat dan berkabut sehingga kelembaban udara cukup tinggi. Berdasarkan fenologi pada
pembuahan tanaman kopi, pengelolaan PBKo dapat berbeda antara daerah satu dengan daerah
lainnya. Karena fenologi pembuahan tanaman kopi tersebut sangat bervariasi menurut ketinggian
tempat, curah hujan, suhu, tipe tanah, varietas atau klon kopi dan praktek agronomis. Kondisi
pertanaman kopi di daerah Sumatera yang tergolong daerah basah dan sebagian besar memiliki
tipe iklim B dan A (menurut tipe iklim Schmidt dan Ferguson) akan sulit menerapkan sistem
sanitasi untuk memutuskan siklus hidup hama karena pertanaman kopi berbuah sepanjang tahun.
Pada daerah dataran tinggi (lebih dari 1200 m dpl.) serangga H. hampei perkembangannya
terhambat, sehingga pada daerah-daerah tersebut biasanya intensitas serangan H. hampei juga
rendah
2.5

Pengendalian

Pengendalian dengan sanitasi sangat efektif untuk menurunkan intensitas serangan hama
H. hampei. Tindakan rampasan (memetik seluruh buah yang ada di pohon setelah panen) yang
dipraktekkan pada suatu perkebunan pada tahun 1922 mampu menurunkan intensitas serangan
H. hampei dari 40-90% menjadi 0,5-3%. Di Brazil, tindakan sanitasi dilaporkan juga sangat
efektif untuk mengendalikan hama PBKo. Memutus daur hidup H. hampei, meliputi tindakan

petik buah, yaitu mengawali panen dengan memetik semua buah masak yang terserang H.
hampei maupun tidak 15 - 30 hari menjelang panen besar. Lelesan, yaitu pemungutan semua
buah kopi yang jatuh di tanah baik terhadap buah terserang maupun buah tidak terserang.
Racutan atau rampasan, yaitu memetik semua buah yang ada di pohon pada akhir panen. Semua
bahan hasil petik bubuk, lelesan, dan racutan direndam dalam air panas kurang lebih 5 menit
(PPKI, 2006). Pemangkasan merupakan salah satu upaya pengendalian secara kultur teknis yang
dimaksudkan untuk memutus siklus hidup hama utama pada pertanaman kopi. Pemangkasan
dilakukan baik pada tanaman kopi maupun terhadap tanaman penaung. Tindakan pemangkasan
pada tanaman kopi ditujukan untuk menghindari kelembaban yang tinggi, memperlancar aliran
udara sehingga proses penyerbukan dapat berlangsung secara intensif, membuka kanopi agar
tanaman mendapat penyinaran merata guna merangsang pembungaan, dan membuang cabang
tua yang kurang produktif atau terserang hama atau penyakit sehingga hara dapat didistribusikan
kecabang muda yang lebih produktif.
Pengendalian hayati dengan menggunakan musuh alami memiliki prospek untuk
dikembangkan. Musuh alami terdiri dari predator, parasitoid dan patogen. Predator (pemangsa)
menangkap dan memakan serangga hama (dan binatang lain). Serangga yang berperan sebagai
predator di perkebunan kopi antara lain laba-laba, tawon kertas, cecopet, belalang sembah,
kumbang kubah, kumbang harimau, kumbang tanah, capung dan beberapa macam kepik
Parasitoid adalah serangga yang hidup di dalam atau pada tubuh serangga lain, dan
membunuhnya secara pelan-pelan dari dalam. Ada empat parasitoid dari H.hampei yaitu
Stephanoderis cephalonomia & Prorops nasuta (Bethylids), Phymastichus Coffea (Eulophid),
dan Coffeicola heterospilus braconid semua berasal dari Afrika. Kelompok bethylids secara luas
tersebar di seluruh kopi yang tumbuh di wilayah Amerika Latin dan telah memberikan hasil yang
menjanjikan sebagai agen biokontrol dari hama.
Seperti manusia dan binatang, serangga juga bisa kena penyakit. Penyakit serangga bisa
dimanfaatkan oleh manusia untuk mengendalikan banyak jenis hama. Penyakit disebabkan oleh
organisme patogen (jamur, virus, bakteri, protozoa dan nematoda). Jamur Beauveria bassiana
adalah patogen yang telah tersedia dan prospektif untuk dikembangkan. Menurut PCW (2002)
bahwa penggunaan jamur entomopatogen Beauvaria bassiana berhasil menyebabkan kematian
H. hampei sebesar 80% di Kolombia.

Berbagai upaya untuk mengendalikan hama, di daerah-daerah penghasil kopi di dunia


masih diarahkan pada pengendalian secara kimia terutama dengan menggunakan endosulfan.
Hasil penelitian di Kaledonia Baru menunjukan bahwa hama bubuk buah kopi ini telah
mengembangkan ketahanannya pada endosulfan dan lindane. Hasil penelitian dengan
menggunakan insektisida monokrotofos 150 g/l, metamidofos 200 g/l dan fosfamidon 500 g/l
pada tanaman kopi di kecamatan Modoinding, Sulawesi Utara menunjukkan bahwa jenis-jenis
insektisida ini dapat menekan populasi hama bubuk buah kopi.

DAFTAR PUSTAKA
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta, Jakarta.
Kalshoven, L. G. E. 1981. Pest of Crops In Indonesia, Revised & Translated by P. A. Van Der Laan.
PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta.
[PPKKI] Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2006. Pedoman Teknis Budi Daya Tanaman
Kopi. Indonesia Coffee and Cacao Research Institute Jember, Jawa Timur.
Susniahti, N., Sumeno, H. dan Sudrajat. 2005. Ilmu Hama Tumbuhan. Universitas Padjadjaran,
Bandung.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukuppenting bagi

perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja,sumber pendapatan dan


devisa negara. Perkebunan kopi mampu menyediakanlapangan kerja dan pendapatan kepada
lebih dari 2 juta kepala keluarga petani danmenghasilkan devisa lebih dari US$ 500 juta/tahun
pada periode 1994-1998. Predikat kopi Sidikalang yang diolah dari kopi robusta pernah
mencapai masa kejayaan, bahkan secara ekonomis mengangkat harkat masyarakat .Belakangan
ini popularitas kopi Sidikalang semakin surut seiring fluktuasi harga dan rendahnya produksi,
akibatnya petani beralih ke tanaman kopi jenis arabika.
Tanamaan kopi dikenal sebagai salah satu tanaman yang disukai oleh banyakjenis
serangga hama. Sampai saat ini tercatat lebih dari 900 jenis serangga hama padatanaman kopi
yang tersebar diseluruh dunia. Di Indonesia terdapat beberapa jenis hama utama kopi, yaitu:
hama penggerek buah kopi (PBKo) Hypothenemus hampei. Hama ini berbadan sangat kecil dan
dapat menyebabkan kerugian yang cukup parah. Karena pentingnya hama ini pada tanaman kopi,
maka dibuatlah makalah tentang Hypothenemus hampei ini.
1.2

Tujuan
a. Untuk mengertahui biologi Hypothenemus hampei
b. Dapat mengetahui siklus hidup Hypothenemus hampei
c. Mengetahui dasrah asala atau penyebaran Hypothenemus hampei
d. Dapat mengetahui cara pengendalian Hypothenemus hampei

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Penggerek buah kopi (PBKo) sangat merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan
sering mencapai populasi yang tinggi. Siklus hidupnya adalah dari telur-larva-pupa-imago.
Gejala serangan yang disebabkan oleh hypothenemus hampei menyerang buah dengan
endosperma yang telah mengeras, namun buah yang belum mengeras dapat juga diserang. Buah
kopi yang bijinya masih lunak umumnya hanya digerek untuk mendapatkan makanan dan
selanjutnya ditinggalkan. Buah demikian tidak berkembang, warnanya berubah menjadi kuning
kemerahan dan akhirnya gugur