Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN PADA PRE EKLAMSIA BERAT

1. Pengkajian
Berkaitan dengan persalinan dengan pre eklamsia berat, maka pengkajian difokuskan
pada :
a. Biodata
Pada biodata umur ibu dikaji :
Umur lebih dari 35 tahun merupakan faktor resiko terjadinya pre eklamsia. (Mochtar,
1998 : 2001 ).
b. Keluhan Utama
Nyeri kepala, gangguan penglihatan dan bengkak-bengkak pada tangan dan muka
(Williams, 1995 : 796 ). Sakit kepala, mual, gangguan visus (skotomata, pandangan
kabur dan teichopsia) dan nyeri epigastrik (Gibb, 2000 : 86 ). Ibu merasa kencengkenceng teratur. Mules di daerah perut menjalar ke pinggang dan mengeluarkan lendir
darah.
c. Riwayat kesehatan ibu
Riwayat kesehatan dahulu : adanya penyakit DM ( Mochtar, 1998 : 201 ). Penyakit
hipertensi kronis, penyakit ginjal kronis, berkaitan dengan faktor predisposisi pre
eklamsia ( Varney, 1997 : 360 ).
d. Riwayat kesehatan keluarga
1) Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya pre eklamsia eklamsia di dalam keluarga.
Riwayat penyakit hipertensi kronis dari pihak keluarga.
Riwayat penyakit ginjal kronis dari pihak keluarga.
( Varney, 1997 : 360 )
Riwayat penyakit diabetes mellitus dari pihak keluarga.
( Mochtar, 1998 : 201 )
2) Adanya riwayat kehamilan ganda dalam keluarga, karena kehamilan ganda
merupakan faktor predisposisi pre eklamsia ( Mochtar, 1998 : 201 )
e. Riwayat Obstetri
1) Riwayat haid
Kapan mendapat haid terakhir (HT). Bila hari pertama haid terakhir diketahui, maka
dapat di jabarkan tafsiran tanggal persalinan ( Mochtar, 1998 : 48 ). Yang dapat
mendukung diagnosa pre eklamsi, dimana pre eklamsi banyak terjadi setelah umur
kehamilan 2024 minggu. ( Varney, 1997 : 359 ).
2) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Faktor predisposisi pre eklamsi dan frekuensi atau insiden terutama mengenai
primigravida. ( Farrer, 1999 : 110 )
Riwayat pre eklamsi sebelumnya ( Varney, 1997 : 360 )
3) Riwayat kehamilan sekarang
Pengkajian difokuskan pada riwayat antenatal.
Pre eklamsi paling sering ditemukan sesudah usia kehamilan 28 minggu ( Farrer,
1999 : 110 )

Ditandai dengan dua dari trias pre eklamsi yaitu kenaikan berat badan, oedema,
kenaikan tekanan darah, dan terdapat proteinuria ( Manuaba, 1998 : 242 )
Dikaji tingkat kemampuan pasien berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
perawatan kehamilan, pada wanita dengan keadaan sosio-ekonomi yang lebih baik
akan lebih jarang menderita pre eklamsi ( Williams, 1995 : 777 )
Overdistensi uterus ( seperti : polihidramnion, abnormalitas janin, kehamilan
kembar ) ( Farrer, 1999 : 110 )
f. Data psikologis
Dukungan dan pendidikan untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan
pemahaman dan kerja sama dengan tetap memberikan informasi tentang status janin,
mendengar dengan penuh perhatian, mempertahankan kontak mata, dan berkomunikasi
dengan tenang dan hangat, dan empati yang tepat ( Hamilton, 1995 : 107 )
g. Data sosial budaya
Faktor ras dan genetik merupakan unsur yang penting. Pada wanita kulit hitam lenih
sering terkena penyakit hipertensi yang mendasari ( Williams, 1995 : 777 )
h. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Pola eliminasi
: oliguria urine kurang dari 400 cc / 24 jam
2) Nutrisi
: adanya keluhan mual dan muntah (Mochtar,1998:201) insiden
lebih tinggi kalu makann ibu mempunyai mutu yang buruk (Farrer,1999:110)
i. Kedaan fisik
Keadaan fisik terutama dikaji mengenai kedaan yang beraitan dengan tanda pre eklamsi
berat yang meliputi:
1) Pemeriksaan umum
a) Kesadaran
Pada penderita pre eklmsia berta disertai keluhab subjektif beruoa gangguan
kesadaran.(Manuaba,1998:242).
Tingkat kesadaran dikaji terus menerus terhadap perubahan kesadaran,
perasaan,pemahaman dan tanda tanda kejang atau koma (Hamilton,1995:107)
b) Vital sign
Pada pre eklamsia berat dtemukann aanya kenaikan tekanan darah sebesr 160/110
mmHg atau lebih(Manuaba,1998:242).
c) Berat badan
Ditemukan kenaikan berat badan sebesar 2 pon atau lebih dalam sminggu atau 5
pon dalam sebulan (Willims,1995:795).
2) Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
(1) Muka: ditemukan adanya edema pada muka (farrer,1999:110)

(2) Mata: ditemukan adanya gangguan visus seperti penglihatan yang kabur,
bintik-bintik dan kilatan cahaya dalam penglihatan,kehilangan penglihatan
(Farrer,999:110).
Ikterus: adanya peningkatan kadar enzim hati.(Manuaba,1998:242).
(3) Abdomen :adanya overdistensi uterus(seperti :polihidramnion, abnormalitas
janin,kehamilan kembar)(Farrer,1999:110).
(4) Geentalia :secara umum dapat dievaluasi keadaan vagina adany lendir
darah(Mochtar,1998:51)
(5) Ekstremitas :terdapat edema pada tungkai dan tangan (Manuaba,1998:241)
b) Palpasi
(1) Pada kehamilan kembar
Leopold 1: TFU lebih tinggi dari usia kehamiln. Bagian janin yang terdapat di
fundus uteri bida teraba 2 bagian besar,1 bagian besar atau fundus terab
kosong bila letak lintang.
Leopold II: meraba 2 bagian besar berdampingan. Meraba banyak bagian
kecil-kecil.
Leopold III: bagian bawah bisa teraba bagian besar melenting,bagian besar
lunak atau kedua duanya. Bisa bagian yang memberikan rintangan besar atau
bagian kecil (pada letak lintang).
Leopold IV : satu bagian sudah terfiksir dan ada satu bagian yang masih bisa
digoyangkan atau didorong ke atas.
(2) Pada kehamilan molahidatidosa
Leopold I: TFU lebih tinggi dari usia kehamilan,teraba lembek.
Leopold II :tidak terdapat bagian bagian janin dan ballotement.
(3) Pada kehamilan hidramnion
Leopold I: TFU lebih tinggi dari usia kehamilan.
Leopold II : bagian besar dan bagian kecil janin sulit dinilai.
Pada fase aktif, minimal terjadi 2 kali kontraksi dalam 10 menit, lama
kontraksi 40 detik atau lebih. Diantara dua kontraksi, dinding uterus melunk
kembali dan mengalami relaksasi (Depkes,2002:2-10)
c) Auskultasi
Menentukn denyut jantung janin meliputi :frekuensi, keteraturan,punctum
maximum.
(1) Pada kehmilan kembar

Terdengar bunyi jantung pada 2 tempat yang sama jelasnya, apalagi kalau ada
perbedaan frekuanssi, sekurang0kurangnya 10 menit dihitung pada saat yang
sama.
(2) Pada kehamilan hidramnion
Sulit dinilai karena volume cairan banyak.
d) Perkusi
Memeriksa

reflek

tendon

(reflek

patela

menurun

atau

bertambah),

klonus(William F,2001:40)
e) Pemeriksaan dalam
Dilakukan untuk mengetahui keadaan vulva dan uretra, keadaan portio, dilatasi
serviks, effisemen, keadaan kantong ketuban penurunan bagian terendah.
Pada kala I dilatasi serviks 1-10 cm, sedangkan pada kala II dilatasi serviks
lengkap.
f) Pemeriksaan laboratorium
a) Kadar enzim hati meningkat disertai ikterus
b) Trombosit kurang dari 100.000 per mm
c) Proteinuria lebih dari 3 gr per liter
(Manuaba, 1998 : 242)
Proteinuria 5 gr per liter atau lebih
(Mochtar, 1998 : 201)
d) Gula darah
Gula darah normal 70-110 mg per dl
2. Interpretasi data
Ibu primigravida, usia lebih dari 35 tahun, hamil lebih dari 20 minggu, janin tunggal atau
kembar, intra uteri, hidup, dalam persalinan kala I dengan pre eklamsia berat.
Data dasar:
a. HPHT / HPL : Ibu harus mengetahui tanggal hari pertama hari terakhir (HT) supaya
dapat ditafsirkan tanggal persalinan (TTP). (Mochtar, 1998 : 48) Yang dapat
mendukung diagnose pre eklamsia banyak terjadi setelah kehamilan 20-24 minggu.
(Varney, 1997 : 359)
b. Ibu mengatakan kenceng-kenceng teratur.
c. Palpasi
1) Pada Kehamilan Kembar
Leopold I
: TFU lebih tinggi dari usia kehamilan. Bagian janin yang
terdapat di fundus bisa teraba 2 bagian besar, 1 bagian besar atau fundus teraba
kosong bila letak lintang.
Leopold II
: Meraba 2 bagian besar berdampingan.
Meraba banyak bagian kecil-kecil.

Leopold III

: Bagian bawah bisa teraba bagian besar melenting, bagian besar

lunak atau kedua-duanya. Bisa bagian yang memberikan rintangan besar atau bagian
kecil (pada letak lintang).
Leopold IV
: Satu bagian sudah terfiksasi dan ada satu bagian yang masih
bisa digoyangkan atau didorong ke atas.
2) Pada Kehamilan Molahidatidosa
Leopold I
: TFU lebih tinggi dari usia kehamilan, teraba lebek.
Leopold II
: Tidak terdapat bagian-bagian janin dan balotement.
3) Pada Kehamilan Hidramnion
Leopold I
: TFU lebih tinggi dari usia kehamilan.
Leopold II
: Bagian besar dan bagian kecil janin sulit dinilai.
Pada fase aktif, minimal terjadi dua kontraksi dalam waktu 10 menit, lama kontraksi 40
detik atau lebih. Di antara dua kontraksi, dinding uterus melunak kembali dan
mengalami relaksasi. (Depkes, 2002 : 2-10)
d. Auskultasi
Menentukan denyut jantung janin meliputi : frekuensi, ketentuan punctum maximum.
1) Pada Kehamilan Kembar
Terdengar bunyi jantung pada 2 tempat yang sama jelasnya, apalagi kelau ada
perbedaan frekuensi, sekurang-kurangnya 10 menit dihitung pada saat yang sama.
2) Pada Kehamilan Hidramnion
Sulit dinilai karena volume cairan yang banyak.
e. Vaginal Toucher (VT)
Untuk mengetahui bagian terbawah janin, pembukaan serviks (1-10 cm), turunnya
bagian terbawah janin, kaput suksedaneum dan sebagainya. Secara umum dapat
dievaluasi keadaan vagina, serviks dan panggul. (Mochtar, 1998 : 55)
3. Diagnosa Potensial
Potensial terjadinya eklamsia.
4. Antisipasi Tindakan Segera, Konsultasi dan Kolaborasi
a. Kolaborasi dokter spesialis kandugan, Phenobarbital 3 X 100 mg, valium 3 X 20 mg
b. Menghindari kejang. (Manuaba, 1998 : 244)
5. Rencana tindakan
a. Pasien dirawat inap :
1) Istirahat mutlak dan tempatkan dalam kamar isolasi.
2) Berikan diit rendah garam dan tinggi protein
3) Berikan suntikan sulfas magnesikus 8 gr IM, 4 gr di bokong kanan dn 4 gr di
bokong kiri. Suntikan diulangi dengan dosis 4 gr setiap 4 jam.
4) Syarat pemberian magnesium sulfat adalah reflek patela positif, diuresis 100 cc
dalam 4 jam terakhir, respirasi 16x/menit dan harus tersedia anti dotum yaitu
kalsium glukonas 10% dalam ampul 10 cc.
5) Infus Dekstrosa 5 % dan Ringer Laktat
b. Berikan obat anti hipertensi: injeksi katapres 1 ampul IM dan selanjutnya dapat
diberikan tablet metildopa 3 x 125 mg / hari sampai 3 x 500 mg / hari atau klonidin 3x

0,1 mg / hari atau 0,30 mg / 500 ml glukosa 5 % / 6 jam (Winkjosastro, hanifa : 2005 ,
hal 293)
c. Diuretika tidak diberikan, kecuali bila terdapat edema umum, edema paru dan
kegagalan jantung kongestif, dan disuntikkan 1 ampul lasix IV.
d. Segera setelah pemberian sulfas magnesikus kedua dilakukan induksi partus dengan
atau tanpa amniotomi. Untuk induksi dipakai oksitosin (pitosin atau sintosinom) 10
tetes dalam satuan infus.
e. Kala II harus dipersingkat dengan ekstraksi vacum atau forceps, jadi ibu dilarang
f.

mengejan.
Jangan berikan methergin post partum, kecuali bila terjadi perdarahan yang

disebabkan atonia uteri.


g. Pemberian sulfas magnesikus, kalau tidak ada kontra indikasi kemudian diteruskan
dengan dosis 4 mg setiap 4 jam post partum.
h. Bila ada indikasi obstetri dilakukan seksio sesarea.
(Mochtar, 1998: 203)
6. Implementasi
Pelaksanaan perencanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa kebidanan sesuai dengan
rencana tindakan yang dibuat.
7. Evaluasi
a. Keadaan umum dan kesadaran
Adanya perubahan kesadaran, perasaan, pemahaman dan tanda-tanda kejang atau koma
(Hamilton, 1995 : 107).
Keadaan umum baik
b. Vital sign
Tidak adanya kenaikan tekanan darah sebesar 160/110 mmHg atau lebih (Manuaba,
1998 : 242)
c. Kesejahteraan janin meliputi denyut jantung janin antara lain frekuensi, keteraturan,
punctum maksimum atau bisa di gunakan kardifotografi.
d. Kemajuan persalinan
Vt: dilakukan untuk mengetahui keadaan vulva dan uretra, serviks mulai membuka
(dilatas) dan mendatar (efficement), keadaan kantong ketuban sudah pecah atau belum,
turunnya bagian terendah di ukur menurut Hodge.
Kala II
S
: Ibu mengeluh perutnya mules dan ingin mengejan.
O
: Keadaan umum ibu, vital sign terutama tekanan darah 160/90 mmHg. perineum
menonjol, vulva membuka, keluar lendir darah, pembukaan lengkap, kantung ketuban
( positif )/ ( negatif ), bagian bawah turun H III H IV. Kontraksi uterus 3 4 kali
A

dalam 10 menit.
: Ibu primigravida usia lebih dari 35 tahun, hamil lebih dari 20 minggu anin tunggal
atau kembar, intra uteri, hidup dalam persalnan kala II dengan pre eklamsi berat.

Dianosa potensial terjadinya eklamsia. Antisipasi kolaborasi dokter spesialis


kandungan : phenobarbital 330 mg untuk menurunkan tekanan darah, valium 320
P

mg, hindari kejang.


: Observasi keadaan umum dan keadaan fisik ibu saat relaksasi.
Observasi denyut jantung janin meliputi frekuensi dan keteraturannya saat relaksasi.
Suport mental untuk mengurangi kecemasan ibu.
Melahirkan bayi dengan Vakum Ekstraksi (VE) atau Forceps.
Penanganan bayi baru lahir menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi di
atas perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya bila tali
pusat terlalu pendek, meletakkkan bayi di tempat yang memungkinkan. Segera
mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat.
Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan
urutan pada tali pusat mulai dari klem ibu dan memasang klem kedua, 2 cm dari

klem pertama (kearah ibu).(Depkes, 2002 : L 20)


Kala III
S
: Ibu merasa lega karena bayinya telah lahir.
Ibu mengatakan perutnya mules.
O
: Keadaan umum ibu sedang, kesadaran compos mentis
TD : 160/90 mmHg
Kontraksi uterus, TFU setinggi pusat, plasenta belum lahir, keluarnya pancaran
A

darah, tali pusat bertambah panjang.Vesika urinaria kosong.


:Ibu primigravida usia lebih dari 35 tahun, hamil lebih dari 20 minggu janin tunggal
atau kembar, intra uterine, hidup, dalam persalinan kala III dengan pre eklampsia
berat.
Diagnosa potensial terjadi eklampsia.
Antisipasi kolaborasi dokter spesialis kandungann: phenobarbital 3 x 100 mg, valium

3 x 20 mg, menghindari kejang.


:Observasi keadaan umum dan keadaan fisik ibu.
Manajemen aktif kaka III.
Lahirkan plasenta secara PTT
Observasi perdarahan dan keadaan jalan lahir
Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk
mengetahui kemungkinan adanya bayi kedua. Memberi tahu kepada ibu bahwa ia
akan disuntik, dalam waktu 1 menit setelah kelahiran bayi, memberitahukan suntik
oksitosin 10 unit IM di 1/3 paha kanan atas bagian luar, setelah mengaspirasinya
terlebih dahulu.
Peregangan tali pusat terkendali, memindahkan klem pada tali pusaT sekitar 5- 10 cm
dari vulva. Meletakkan satutangan diatas kain yang ada di perut ibu tepat diatas tulang
pubis dan menggunakan tangan ini untuk palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus.
Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain. Menunggu uterus

berkontraksi dan kemudian melakukan peregangan ke arah bawah pada tali pusat
denag lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus
dengan cara menekan uterus kearah atas dan belakang( dorso- Kranial ) dengan hatihati untuk mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 - 40
detik, menghentikan peregangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikutnya
mulai.
Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk
melakukan rangsangan putting susu.( Depkes, 2002 : L20 )
Pada keadaan normal menurut Caldeyro- Barca plasenta akan lahir spontan dalam
waktu 6 menit setelah anak lahir lengkap.( Hanifa, 1994 : 199 )
Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang
lebih efektif sehingga dapat memperpendek waktu kala III persalinandan mengurangi
kehilangan darah dibanding dengan penatalaksanaaan fisiologis. Manajemen aktif
kala III terdiri dari tiga langkah utama yaitu pemberian suntik oksitosin, melakukan
peregangan tali pusat terkendali, pemijatan fundus uteri( massage) ( Depkes, 2002 : 54)
Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hatihati memutar selaput plasenta hingga terpilin. Dengan lembut dan perlahan
melahirkan selaput ketuban tersebut. Menilai prdarahan: memeriksa kedua sisi
plasenta baik yang menempel ke ibu atau kejanin dan selaput ketuban untuk
memastikan selaput ketuban lengkap dan utuh.
Meletakkan plasenta dalam kantung plastik atau tempat khusus, jika uterus tidak
berkontraksi setelah masase selama 15 detik mengambil tindakan yang sesuai .

Kala IV
S
: Ibu mengatakan perutnya mules
O
: Keadaan umum sedang, kesadaran composmentis, TD 160/100mmHg.
Kontraksi uterus 2 jari dibawah pusat
Perdarahan kurang dari 500cc
Keadaaan perinium: mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan periniumdan
A

segera menajahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif ( Depkes, 2002 : L21 )
:Ibu primipara usia lebih dari 35 tahun dalam persalinan kala IV dengan pre eklampsia
berat.
Diagnosa potensial terjadinya eklampsia.
Antisipasi kolaborasi dokter spesialis kandungann : phenobarbital 3 x 100 mg, valium

3 x 20 mg, menghindari kejang.


: Observasi keaaan umum dan keadaan fisik ibu.

Membersihkan dan mengganti pakaian iu.


Mobilisasi dini 2 jam post partum
Observasi perdarahan 2 jam post partum
Pindahkan keruang rawat dengan rawat gabung
Melakukan prosedur pasca persalinan
Tabel. 1.Hasil Pengawasan 2 jam Post Partum
Jam
ke
1

waktu
22.00
22.15
22.30
22.45
23.15
23.45

TD
120/70
120/70
110/70
110/70
110/70
110/70

Nadi
80
76
76
76
80
80

Suhu
37C

RR
20
20
20
16
36,7C 16
16

TFU
3 jari bawah pusat
3 jari bawah pusat
3 jari bawah pusat
2 jari bawah pusat
2 jari bawah pusat
2 jari bawah pusat

KU
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

KK
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong
kosong

Perdarahan
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

(Depkes, 2002 : 32-33)


Menilai ulang uterus dan memastikanya berkontraksi dengan baik ; mengevaluasi perdarahan
pervaginam
Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%
membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air desifensi tingkat
tinggi dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.
Menyelimuti bayi dan mnutup bagian kepalanya
Menganjurkan ibuuntuk memulai pemberian ASI (Depkes,2002 : L 22)