Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Di dalam kehidupan modern ini keberadaan bank ternyata sudah menjadi
kebutuhan yg penting bagi masyarakat luas. Mulai dari yg menabung yg meminjam
uang dan sampai kepada yg menggunakan jasanya utk mentransfer uang dari satu
kota atau negara kekota atau negara lain. Lalu bagaimanakah pandangan Islam
tentang perbankan? Ikuti dan simak kajian berikut ini! Mengenai perbankan ini
sebenaroya sudah dikenal kurang lbh 2500 sebelum masehi di Mesir Purba dan
Yunani dan kemudian oleh bangsa Romawi. Perbankan modern berkembang di Itali
pada abad pertengahan yg dikuasai oleh beberapa keluarga utk membiayai kePausan dan perdagangan wol. Selanjutnya berkembang pesat pada abad ke-18 dan
19.
Sesuai dgn fungsinya bank-bank terbagi kepada bank primer yaitu bank sirkulasi
yg menciptakan uang dan bank sekunder yaitu bank-bank yg tidak menciptakan
uang juga tidak dapat memperbesar dan memperkecil arus uang seperti bank-bank
urnum tabungan pembiayaan usaha dan pembangunan. Kalau kita perhatikan
bentuk hukumnya maka struktur bank-bank di Indonesia adalah bank-bank negara
bank-bank pemerintah daerah bank-bank swasta nasional bank-bank asing
campuran dan bank-bank milik koperasi. Dalam topik ini ada dua masalah yg akan
dibahas yaitu bank dan rente bank dan fee. Pengertian Bank dan Rente Bank
menurut Undang-undarig Pokok Perbankan tahun 1967 adl lembaga keuangan yg
usaha pokoknya memberikankredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran
serta peredaran uang. Dari batasan tersebut jelas bahwa usaha bank akan
selaludikaitkan dgn masalah uang.
Di dalam Ensikiopedi Indonesia disebutkan bahwa Bank ialah suatu lembaga
keuangan yg usaha pokoknya adl memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayaran serta peredaran uang dgn tujuan memenuhi kebutuhan kredit dgn
modal sendiri atau orang lain. Selain dari itu juga mengedarkan alat tukar baru
dalam bentuk uang bank atau giral. Jadi kegiatannya bergerak dalam bidang
keuangan serta kredit dan meliputi dua fungsi penting yaitu sebagai perantara
pemberi kredit dan menciptakan uang. Rente adl istilah yg berasal dari bahasa
Belanda yg lbh dikenal dgn istilah bunga. Oleh Fuad Muhammad Fachruddin
disebutkan bahwa rente ialah keuntungan yg diperoleh perusahaan bank krn
jasanya meminjarnkan uang utk melancarkan perusahaan orang yangmeminjam.
Berkat bantuan bank yg meminjarnkan uang kepadanya perusahaannya bertambah
maju dan keuntungan yg diperolehnya juga bertambah banyak.
Menurut Fuad Fachruddin bahwa rente yg dipungut oleh bank itu haram
hukumnya. Sebab pembayarannya lbh dari uang yg dipinjarnkannya. Sedang uang

2
yg lbh dari itu adl riba dan riba itu haram hukumnya. Kemudian dilihat dari segi lain
bahwa bank itu hanya tahu menerima untung tanpa risiko apa-apa. Bank
meminjarnkan uang kemudian rentenya dipungut sedang rente itu semata-mata
menjadi keuntungan bank yangsudah ditetapkan keuntungannya. Pihak bank tidak
mau tahu apakah orang yg meminjam uang itu rugi atau untung. Di dalam Islam
dikenal ada doktrin tentang riba dan mengharamkannya. Islam tidak mengenal
sistem perbankan modern dalam arti praktis sehingga terjadi perbedaan pendapat.
Beda pandangan dalam menilai persoalan ini akan berakibat timbul kesimpulankesimpulan hukum yg berbeda pula dalam hal boleh tidaknya serta halal haramnya.
Dunia perbankan dgn sistem bunga kelihatannya semakin mapan dalam
perekonomian modern selungga hampir tidak mungkin menghindarinya apalagi
menghilangkannya. Bank pada saat ini merupakan sesuatu kekuatan ekonomi
masyarakat modern. Dari satu segi ada tuntutan keberadaan bank itu dalam
masyarakat utk roengatur lalu lintas keuangan di lain pihak masalah ini dihadapkan
dgn keyakinan yg dianut oleh urnmat Islam yg sejak awal kehadiran agama Islam
telah didoktrinkan bahwa riba itu haram hukumnya. Pada saat dihararnkan riba itu
telah berurat berakar dalam masyarakat jahiliah yg merupakan pemerasan orang
kaya terhadap orang miskin. Orang kaya bertambahkaya dan orang miskin
bertambah melarat. Sebagian besar ulama membagi riba menjadi dua macam yaitu

Dalam kehidupan kaum Muslimin yang semakin sulit ini, memang ada
yang tidak memperdulikan lagi masalah halal dan haramnya bunga bank.
Bahkan ada pendapat yang terang-terangan menghalalkannya. Ini
dikarenakan keterlibatan kaum Muslimin dalam sistem kehidupan
Sekularisme-Kapitalisme Barat serta sistem Sosialisme-Atheisme. Bagi yang
masih berpegang teguh kepada hukum Syariat Islam, maka berusaha agar
kehidupannya berdiri di atas keadaan yang bersih dan halal. Namun karena
umat pada masa sekarang adalah umat yang lemah, bodoh, dan tidak
mampu membeda-bedakan antara satu pendapat dengan pendapat lainnya,
maka mereka saat ini menjadi golongan yang paling bingung, diombangambing oleh berbagai pendapat dan pemikiran.
Dalam tulisan yang singkat ini, ada beberapa aspek yang ingin
diketengahkan tentang seputar masalah riba : Pertama, bunga riba dalam
tinjauan sejarah. Akan dijelaskan secara singkat peran Bani Israil dan tingkah
laku mereka dalam masalah riba. Kedua, diketengahkan kelakuan orangorang Yahudi dalam mengubah syariatnya sendiri (Hukum Allah SWT). Secara
singkat akan dipaparkan peran kaum Yahudi dalam menghalalkan riba.
Ketiga, masih dalam kerangka tingkah laku kaum Yahudi, diceritakan juga
serba sedikit usaha-usaha mereka dalam membangun jaringan kehidupan
dalam bidang ekonomi dan keuangan dunia, khususnya dalam bidang
moneter dan perbankan. Keempat, mengetengahkan bagaimana bank pada

awalnya berdiri, serta keterlibatan umat Islam Indonesia dalam masalah


perbankan pada dekade awal abad XX sampai sekarang. Kelima,
mengetengahkan usaha-usaha para tokoh masyarakat Islam (intelektual dan
kaum modernis) dalam menghalalkan riba (bunga) bank.Keenam,
mengetengahkan hukum riba yang tetap haram sampai Hari Kiamat.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari permasalahan di atas maka penyusun merumuskan beberapa
masalah diantaranya:
1. Bagaimana pandangan Islam terhadap bunga bank?
2. Bagaimana pandangan Islam terhadap Riba?
BAB II
PEMBAHASAN
BUNGA BANK DAN RIBA DALAM PANDANGAN ISLAM

A. Bunga Bank
Hinga dewasa ini di dunia Islam (masyarakat Islam) masih dirasakan perlu
membicarakan masalah perbankan yang berlaku di Dunia yang mengguanakan
sistem Bunga hal ini dirasakan wajar mengingat para ulam dalam menghadapi
bunga bank ini berbeda pendapat, baik perbedaan itu kontroversial (bertentangan)
maupun penyimpangan. Pada garis besarnya para ulama terbagi menjadi tiga
bagian (tiga golongan) dalam menghadapi bunga perbankan ini, yaitu kelompok
yang mengharamkan, kelompok yang menganganggap subhat (samar) dan
kelompok menganggap halal.
1. Pendapat yang Mengharamkan Bunga Bank
Muhammad abu zahrah, abul ala al-maududi, muhammad abdul al-arobi, dan
muhammad neja tulloh siddiqi adalah kelompok yeng mengharamkan bunga
bank, baik yang mengambilnya maupun yang mengeluarkannya.
Alasan-alasan bunga diharamkan menurut muhammad Neta-Jullah Siddiqi
adalah sebagai berikut :

bunga bersifat menindas (dolim) yang menyangkut pemerasan. Dalam


pinjaman konsumtif seharusnya yang lemah (kekurangan) di tolong oleh
yang kuat (mampu) tetapi bunga bank pada awalnya orang lemah
ditolong kemudian diharuskan membayar bunga, itu tidak titolong, tetapi
memeras. Hal ini dapat dikatakan bahwa yang kuat menggunakan
kesempatan dalam kesempitan. Dalam pinjaman produktif dianggap

4
pinjaman tidak adil, mengingat bunga yang harus dibyar sudah ditentukan
dalam meminjam, sementara keuntungan dalam usaha belum pasti.

Bunga memindahkan kekayaan dari orang miskin (lemah) kepada orang


kaya (kuat) yang kemudian dapat menciptakan ketidakseimbanagan
kekayaan. Ini bertentangan dengan kepentingan sosial dan berlawanan
dengan kehendak Allah yang menghendaki pnyebaran pendapat dan
kekayaan yang adil. Islam menganjurkan kerja sama dan persaudaraan
dan bunga bertentangan dengan itu.

Bunga dapat menciptakan kondisi manusia penganggur, yaitu para


penanam modal dapat menerima setumpukan kekayaan dari bungabunga modalnya sehingga nereka tidak bekerja untuk menutupi
kebutuhannya. Cara seperti ini berbahaya bagi masyarakat juga bagi
pribadi orang tersebut.

Muhammad abu zahrah menegaskan bahwa rente (bunga) bank termasuk


Riba nasiah yang diharamkan dalam agama Islam oleh Allan dan Rasul-Nya.
Anwar Iqbal Qureshi dalam buku Islam dan teori pembungaan uang ,
menegaskan bahwa beliau sepakat dengan pendapat Muhammad al-Fakhri
yang menyatakan bahwa:

Bunga pada dasarnya bertentangan dengan prinsip liberal Islam yang


merupakan dasar pokok susunan masyarakat islam;

Sanagat salah suatu pandangan yang mengatakan bahwa Islam tidak


melarang bunga bias, tetapi hanya melarang bunga yang berlipat ganda.
Sebetulnya dalam ajaran Islam setiap jenis bunga betapapun kecilnya
dinyatakan terlarang;

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa bank menolong industri dan


transaksi-transaksi dagang sehingga pemungutan bunga diijiankan
pendapat ini ternyata keliru, yang jelas bunga bank sama dengan bunga
yangdiambil
oleh
sahukar,
yaitu
seorang
yahudi
tua
yang
pekerjaannyamemberikan pinjaman uang dan mengambil bunganya;

Untuk mencoba membenarkan bahwa bunga bank bertentangan dengan


pandangan islam, maka kewajiban umat islam untuk mengemukakan
perinsip-prinsip dasar ajaran islam yang berhubungan dengan hal itu dan
bukan
menyembunyikan
kelemahan-kelemahan
dengan
cara
membenarkan pengambilan bunga bank tersebut.

Alasan-alasan yang dikemukakan imam pachrudin razi tentang


larangan pembungaan uang yang dikemukakan dalam kitabnya
mafatih al-Ghoib atau terkenal dengan tafsir kabir, adalah sebagai
berikut:

setiap perubahan atau penambahan disebut riba nasyiah dan riba nasyiah
diharamkan oleh agama.

Bunga memungkinkan seseorangmemaksakan pemilihan harta benda


orang lain tanpa alasan-alasan yang diijinkan oleh aturan-aturan sehingga
perampas tidak memperdulikan haka-hak orang lain.

Secara nyata pengahasilan yang diterma dari bunga uang menghamabat


pemberi utang untuk berusaha memasuki suatu jaban atau pekerjaan
dimasyarakat karna dia tidak berusahapun kebutuhan hidupnya sudah
terpenuhi.

Hutang selalu menurunkan harga diri dan kehormatan seseorang


dimasyarakat. Apabila pembayaran ditambah dengan bunga, maka akan
menghasilkan perasaan akan saling menghormati sfat-sifat yang baik dan
perasaan berhutang budi.

Apabila dalam transaksi pijam-memijam diijinkan pembungaan maka akan


terjadi kesenjangan sosial, yakni yang meminjamkan akan semakin kaya
dan yang meminjam akan semakin tercekik.

Alasan terakhir bunga bank dilarang ialah karena bunga bank


bertentangan dengan frinsif-prinsip ajaran Allah yang terdapat dalam AlQuran dan Rasull-Nya.

2. Pendapat yang Mensamarkan/Mensyubhatkan Bunga Bank


Ulama Muhammadiyah dalam mutamar Tarjih di Sidoarjo Jawa Timur
pada tahun 1968 memutuskan bahwa bynga bank yang diberikan oleh
bank-bank milik negara kepada para nasabahnya dan sebaliknya
termasuk masalah musytabihat. Masalah musytabihat adalah perkara
yang belum ditemukan kejelasan hukum halal atau haramnya, sebab
mengandung unsur-unsur yang mungkin dapat disimpulkan sebagai
perkara yang haram. Namun, ditinjau dari lain, ada pula unsur-unsur
lain yang meringankan keharamannya. Di pihak lain bunga masih
termasuk riba sebab merupakan tambahan dari pinjaman pokok.
Meskipun tidak terlalu besar, tetapi disisi lain bunga yang relatif kecil
itu bukan merupakan keuntungan perorangan, melainkan keuntungan
yang digunakan untuk kepentingan umum. Pertimbangan besar
kecilnya bunga dan segi penggunaannya dirasakan agak meringankan
sifat larangn riba yang unsur utamanya adalah pemerasan dari orangorang kaya terhadap orang-orang miskin meskipun bunga bank
dianggap musytabihat tidak berarti umat Islam diberikan kebebasan
untuk mengembangkan bunga. Nabi Saw. Memerintahkan umat Islam
hati-hati terhadap perkara subhat dengan cara mejauhinya.

Menyimak pendapat Musthafa Ahmad al-zarqa dan ulama


muhammadiyah di atas, kiranya dapat dipahami bahwa umat Islam
diperbolehkan bermuamalah dengan bank negara karna bunga juga
kecil dan penggunaan keuntungan dari bank tersebut untuk
kepntingan umum. Permasalahnnya ialah bagaimana dengan bank
swasta, apakah boleh bermuamalah dengannya atau tidak. Musthafa
Ahmad al-zarqa dan ulama Muhammadiyah menekankan segi darurat
dan suku bunga yang relatif kecil. Bermuamalah dengan bank suasta
dibolehkan, karena keadaan darurat dan bank swasta bunganya relatif
sama dengan bank negara, akan tetapi, apabila yang ditekankan segi
pengunaan,umat islam tiak boleh bermuamalah dengan bank swasta
sebab keuntungan dari bunga bank negara digunakan untuk
kepentingan umum, sedangkan pengunaan keuntungan dari bank
swasta adalah hanya orang-orang tertentu, yaitu para penanam modal
(saham) dan para pekerjanya.
3. Pendapat yang Menghalalkan Bunga Bank
Pendapat yang ketiga adalah pendapat yang menghalalkan
pengambilan atau pembayaran bunga di bank yang ada dewasa ini,
baik bank negara maupun bank swasta. Pendapat ini dipelopori oleh
A.Hassan yang juga dikenal dengan Hasan Bandung, meskipun sudah
bertahun-tahun tingal di Pesantren Bngil (persis). Alasan yang
digunakan adalah firman Allah Swt.
Artinya: Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda (Aliimran: 130) Jadi, yang termasuk riba menurut A. Hassan adalah bunga
yang berlipat ganda. Bila bunga hanya dua persen dari modal
pinjaman itu, itu tidak berlipat ganda sehingga tidak termasuk riba
yang diharamkan oleh agama Islam.
Pendapat A. Hasan ini dibantah oleh fuad mohd. Fachruddin dalam
bukunya yang berjudul riba dalam bank, koperasi, perseroan dan
asuransi. Menurut fuad mohd. Fachruddin dalam surat al-imran ayat
130 dijelaskan riba yang berlipat ganda atau riba jahiliyah, sedangkan
bunga tidak berlipat ganda. Hal ini tidak berarti bahwa bunga yang
berlipat ganda itu boleh, adhafah mudhaafah adalah sebagai qayid,
mafhum mukhalafah ditolak apa biala ada qayid yang mengatakan
suatu kejadian. Jadi, adhafan mudhaafah adalah menjelaskan
kejadian yang sedemikian hebatnya riba di Zaman Jahiliyah. Hal ini

sesuai dengan kaidah: Asal pada qayid adalah mejelaskan suatu


kejadi.

B. Riba
1. Definisi Riba
Menurut Ensiklopedia Islam Indonesia yang disusun oleh Tim Penulis
IAIN Syarif Hidayatullah: Ar-Riba atau Ar-Rima makna asalnya ialah
tambah, tumbuh, dan subur. Adapun pengertian tambah dalam konteks
riba ialah tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang
tidak dibenarkan syara, apakah tambahan itu berjumlah sedikit maupun
berjumlah banyak, seperti yang diisyaratkan dalam Al-Quran. Riba sering
diterjemahkan orang dalam bahasa Inggris sebagai usury, yang artinya
dalam The American Heritage Dictionary of the English Language adalah:
1. The act of lending money at an exorbitant or illegal rate of interest.
2. Such of an excessive rate of interest.
3. Archaic (tidak dipakai lagi, kuno, kolot, lama). The act or practice of
lending money at any rate of interest.
4. Aw. obselete (usang, tidak dipakai, kuno). Interest charged or paid on
such a loan.
Menurut Dr. Perry Warjiyo, dari pelajaran sejarah masyarakat Barat,
terlihat jelas bahwa interest dan usury yang kita kenal saat ini pada
hakikatnya adalah sama. Keduanya berarti tambahan uang, umumnya
dalam persentase. Istilah usury muncul karena belum mapannya pasar
keuangan pada zaman itu sehingga penguasa harus menetapkan suatu
tingkat bunga yang dianggap wajar. Namun setelah mapannya lembaga
dan pasar keuangan, kedua istilah itu menjadi hilang karena hanya ada
satu tingkat bunga di pasar sesuai dengan hukum permintaan dan
penawaran.
Sehingga
dapat
di
simpulkan
Riba
berarti
menetapkan
bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan
persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada
peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam

pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan


membesar . Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan
tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa
pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang
merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik
dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau
bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.
b. Tinjauan larangan riba dari praktik yang dilakukan masyarakat
Arab sebelumnya.
Persoalan yang selalu dimunculkan pada setiap kali ada diskusi
tentang apakah bunga bank sama dengan riba adalah tidak
dicantumkannya secara eksplisit kata bunga di dalam Al-Quran dan
Hadist. Mereka tidak meragukan, bahwa apa yang diharamkan itu adalah
riba sebagaimana disebutkan dalam lima ayat yang berbeda dalam AlQuran. Kelima ayat itu adalah sebagai berikut:
1. QS. Ar-Rum (30): 39 di Mekkah.
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia
bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah
pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang
kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah itu, maka (yang
berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan
(pahalanya).
2. QS. An-Nisa (4): 161 di Madinah.
dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya
mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan
harta orang dengan jalan batil. Kami telah menyediakan untuk
orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.
2. QS. Ali-Imran (3): 130 di Madinah.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba
dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya
kamu mendapat keberuntungan.
3. QS. Al-Baqarah (2): 275-276 di Madinah.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri,


melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran
(tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli
itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu
(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah,
Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tak
menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu
berbuat dosa.
4. QS. Al-Baqarah (2): 278-279 di Madinah.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu ornag-orang
yang beriman.
Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),
maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.
Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu
pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa yang
ketika itu semua orang memakan riba. Yang tidak makan secara
langsung itu akan terkena debunya (HR Nasai no 4455, namun
dinilai dhaif oleh al Albani).
Meski secara sanad hadits di atas adalah hadits yang lemah namun
makna yang terkandung di dalamnya adalah benar dan zaman tersebut pun
telah tiba. Betapa riba dengan berbagai kedoknya saat ini telah menjadi
komsumsi publik bahkan suatu yang mendarah daging di tengah banyak
kalangan. Padahal ancaman dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang
riba sungguh mengerikan bagi orang yang masih memiliki iman kepada Allah
dan hari akhir.

10

Dari Auf bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Hati-hatilah dengan dengan dosa-dosa yang tidak akan diampuni. Ghulul
(baca:korupsi), barang siapa yang mengambil harta melalui jalan khianat
maka harta tersebut akan didatangkan pada hari Kiamat nanti. Demikian
pula pemakan harta riba. Barang siapa yang memakan harta riba maka dia
akan dibangkitkan pada hari Kiamat nanti dalam keadaan gila dan berjalan
sempoyongan (HR Thabrani dalam al Mujam al Kabir no 110 dan dinilai
hasan li ghairihi oleh al Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib no
1862).
Berdasarkan hadits tersebut maka pelaku riba itu telah menghalangi
dirinya sendiri dari ampunan Allah. Makna hadits di atas bukanlah
menunjukkan bahwa orang yang memakan riba meski sudah bertaubat tetap
tidak akan diampuni oleh Allah. Akan tetapi maksudnya adalah menunjukkan
tentang betapa besar dan ngerinya dosa memakan riba.
Umat Islam bersepakat berdasarkan berbagai dalil dari al Quran dan
sunnah bahwa orang yang bertaubat dari dosa maka Allah akan menerima
taubatnya baik dosa tersebut adalah dosa kecil maupun dosa besar.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Demi
Allah yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, sungguh ada sejumlah orang
dari umatku yang menghabiskan waktu malamnya dengan pesta pora
dengan penuh kesombongan, permainan yang melalaikan lalu pagi harinya
mereka telah berubah menjadi kera dan babi. Hal ini disebabkan mereka
menghalalkan berbagai yang haram, mendengarkan para penyanyi,
meminum khamr, memakan riba dan memakai sutra (HR Abdullah bin Imam
Ahmad dalam Zawaid al Musnad [Musnad Imam Ahmad no 23483], dinilai
hasan li ghairihi oleh Al Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib no
1864).
Pada saat haji wada, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Ingatlah, segala perkara jahiliah itu terletak di bawah kedua telapak kakiku.
Semua kasus pembunuhan di masa jahiliah itu sudah dihapuskan. Kasus
pembunuhan yang pertama kali kuhapus adalah pembunuhan terhadap Ibnu
Rabiah bin al Harits. Dulu dia disusui oleh salah seorang Bani Saad lalu
dibunuh oleh Hudzail. Riba jahilaih juga telah dihapus. Riba yang pertama
kali kuhapus adalah riba yang dilakukan oleh Abbas bin Abdil Muthallib.
Sungguh semuanya telah dihapus (HR Muslim 3009 dari Jabir bin Abdillah).
Dalam hadits di atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan
bahwa riba itu berada di bawah telapak kaki beliau untuk menunjukkan
betapa rendah dan hinanya pelaku riba dan riba juga dinilai oleh Nabi
shallallahu alaihi wa sallam sebagai perkara jahiliah.

11

Dari Samurah bin Jundab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Semalam aku bermimpi ada dua orang yang datang lalu keduanya
mengajakku pergi ke sebuah tanah yang suci. Kami berangkat sehingga kami
sampai di sebuah sungai berisi darah. Di tepi sungai tersebut terdapat
seorang yang berdiri. Di hadapannya terdapat batu. Di tengah sungai ada
seorang yang sedang berenang. Orang yang berada di tepi sungai
memandangi orang yang berenang di sungai. Jika orang yang berenang
tersebut ingin keluar maka orang yang berada di tepi sungai melemparkan
batu ke arah mulutnya. Akhirnya orang tersebut kembali ke posisinya
semula. Setiap kali orang tersebut ingin keluar dari sungai maka orang yang
di tepi sungai melemparkan batu ke arah mulutnya sehingga dia kembali ke
posisinya semula di tengah sungai. Kukatakan, Siapakah orang tersebut?.
Salah satu malaikat menjawab, Yang kau lihat berada di tengah sungai
adalah pemakan riba (HR Bukhari no 1979).
Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua.Yaitu riba hutang-piutang
dan riba jual-beli.Riba hutang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba
jahiliyyah. Sedangkan riba jual-beli terbagi atas riba fadhl dan riba nasiah.

Riba Qardh
o

Riba Jahiliyyah
o

Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu


membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

Riba Fadhl
o

Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan


terhadap yang berhutang (muqtaridh).

Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang


berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam
jenis barang ribawi.

Riba Nasiah
o

Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang


dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasiah
muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara
yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

12

BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Dari pembahasan penyusun menyimpulkan bahwa: Dalam hadits di atas
jelas sekali betapa kerasnya hukuman bagi pemakan riba sementara ketika
di dunia dia mengira bahwa dirinya bergelimang kenikmatan. Akhirnya
seluruh umat Islam beserta segenap ulamanya baik yang terdahulu ataupun
yang datang kemudian telah sepakat bahwa riba adalah haram. Mereka juga
menegaskan bahwa bunga bank dan yang semisal dengannya adalah haram.
Mereka juga sepakat bahwa siapa saja yang menghalalkan riba maka dia
kafir. Sedangkan siapa saja yang melakukan transaksi riba namun masih
memiliki keyakinan bahwa riba itu haram maka dia telah melakukan dosa
besar, orang yang fasik dan berani memerangi Allah dan rasulNya.
B. Saran
Dari kesimpulan di atas penyusun menyarankan bahwa hindarilah Bunga
Bank dan Riba karena jelas hukumnya bahwa bunga Bank dan Riba
diharamkan.