Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MATA KULIAH MUTU PELAYANAN KEBIDANAN

ANALISIS STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN


PELAYANAN NIFAS
Dosen Pengampu :
Tuti Sukini,S.SiT,M.Kes
J.Pratikto,SKM,M.Kes
Sri Winarsih, S.SiT, S.Pd. M.Kes.

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Afrida Nurul F
Devi Susanti
Diyan Novita Sari
Dwi Yulia M
Ervian Dwi Susanti
Hendi Setyowati

(P.174.24.209.001)
(P.174.24.209.017)
(P.174.24.209.021)
(P.174.24.209.023)
(P.174.24.209.027)
(P.174.24.209.030)

JASMINE
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI D III KEBIDANAN MAGELANG
2011

STANDAR PELAYANAN NIFAS


1

A.

STANDAR 13:PERAWATAN BAYI BARU LAHIR


Tujuan:
Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu terlaksananya pernapasan spontan
serta mencegah hipotermi.
Pelayanan standar :
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernapasan
spontan,mencegah hipoksia sekunder,menentukan kelainan dan melakukan tindakan
atau merujuk sesuai dengan kebutuhan.Bidan juga harus mencegah atau menangani
hipotermia.
a. STANDAR PERSYARATAN MINIMAL :
Standar Masukan :
a. SDM

: Bidan minimal lulusan DIII Kebidanan (Pedoman Pendidikan

Berkelanjutan Bidan,IBI) dan Bidan Lulusan DI dengan pelatihan APN


Bidan mampu melakukan :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

pemeriksaan bayi baru lahir;


perawatan tali pusat;
perawatan bayi;
resusitasi pada bayi baru lahir;
pemantauan tumbuh kembang anak;
pemberian imunisasi;
pemberian penyuluhan.

b. Sarana fisik : Ruang pemeriksaan , Ruang tunggu , Meja pemeriksaan, Bed


pemeriksaan, Sabun,air bersih,handuk lembut,thermometer,timbangan bayi,metlin,obat
tetes mata (salep mata tetrasiklin 1 %,klorampenikol 1 % atau eritromicin 0,5 %,kartu
ibu, vit.K neo, spuit 1cc, vaksin imunisasi HB0.
Standar Lingkungan :
Menurut KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 Pasal 15 ayat 3 tentang Pelayanan kebidanan
kepada anak diberikan pada masa bayi baru lahir, masa bayi, masa anak balita dan masa
pra sekolah.
Standar Proses :
1.Segera sesudah bayi lahir, menilai apakah bayi bernapas. Bila bayi tidak menangis
secara spontan, bersihkan jalan napas dengan jari telunjuk yang dibalut dengan kain
bersih dan lembut. Jika cara ini tidak menolong segera lakukan tindakan sesuai dengan
standar 25 yaitu penanganan asfiksi pada bayi baru lahir.
Analisisnya yaitu sekarang jika ditemukan kasus bayi tidak menangis segera setelah lahir
maka tindakan membersihkan jalan napas dengan jari telunjuk yang dibalut dengan kain
bersih dan lembut sudah tidak dilakukan lagi.

2. segera keringkan bayi dengan handuk kering, bersih dan hangat, kemudian pakaiakan
kain kering yang hangat. Berikan bayi kepada ibunya untuk didekap di dadanya
sertadiberi ASI, karena akan membantu pelepasan plasenta. Tidak perlu menunggu untuk
melakukan pertolongan tali pusat. Pastika bahwa terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi.
Bila hal tersebut tak dapat dilakukan maka bungkuslah bayi dengan kain yang bersih,
kering dan jaga bayi tetap hangat.
Analisisnya yaitu sekarang bayi yang baru lahir diletakkan diatas perut ibu yang
sebelumnya telah diberi kain bersih dan hangat, segera setelah kain pertama digunakan
lalu mengganti kain pertama dengan kain kedua.
3.Klem tali pusat dilakukan pada dua tempat .Pengikatan dilakaukan pada 2 tempat yang
pertama berjarak 5 cm dari umbilicus dan pengikatan yang kedua pada 10 cm dari
umbilicus.Gunakan gunting steril untuk memotong tali pusat diantara kedua ikatan tadi
periksa tali pusat yang dipotong untuk memastikan tidak ada perdarahan.
Analisisnya sekarang dalam asuhan bayi baru lahir pada pemasangan tali pusat yaitu
dengan tali pusat dijepit dengan klem DTT pada sekitar 3 cm dari dinding perut (pangkal
pusat) bayi. Dari titik jepitan tekan tali pusat dengan 2 jari kemudian dorong isi tali
pusat kearah ibu. Kemudian jepit dengan klem kedua tali pusat pada bagian yang isinya
sudah dikosongkan (sisi ibu), berjarak 2 cm dari jepitan pertama.
4. cuci tangan dengan sabun dan air bersih lalu keringkan dengan handuk bersih.
Usahakan ruangan tetap hangat.
5. sesudah 5 menit lakukan penilaian pada bayi secara umum dengan APGAR SCHORE.
6. periksa bayi dari kepala sampai ujung kaki untuk mencari kemungkinan adanya
kelainan. Periksa anus dan daerah kemaluan, lakukan pemeriksaan ini dengan cepat agar
bayi tidak kedinginan. Ibu hendaknya menyaksikan pemeriksaan tersebut.
7. timbang bayi dan ukur panjangnya, lakukan dengan cepat agar bayi tidak mengalami
hipotermi.
8. periksa tanda vital bayi. Ukur suhunya dengan menggunakan thermometer yang
diletakkan pada ketiak atau lipat paha. Bila suhu bayi kurang dari 36C/ tubuhnya teraba
dingin, maka segera lakukan penghangatan tubuh bayi seperti pada kotak dibawah ini.
Analisanya yaitu setelah tali pusat dipotong dan di ikat maka langsung dilakukan Inisiasi
Menyusui dini, ketika 5 menit kita juga melakukan penilaian apgar score. Pengukuran
antropometri, pemeriksaan fisik dilakukan pada 1 jam setelah bayi lahir, menurut APN
tahun 2008, pada 1 jam pertama
juga
dilakukanHipotermi
injeksi vit K pertama 1 mg di paha kiri
Prosedur
Penanganan
anterolateral
pemberian
mataterjadi
profilaksis.
Letakan bayidan
pada
dada ibu salep
sehingga
kontak kulit antara keduanya.
Sarankan ibu untuk sering memberikan ASI
Jaga agar ruangan teap hangat dan bebas asap
Selimuti bayi
Berikan minuman yang hangat untuk ibu
Periksa suhu tubuh bayi setiap jam

Jika ternyata suhu tubuh bayi tidak naik segera merujuknya ke tempat rujukan.
Pertahankan terus kontak kulit ibu dan bayi.

9. berikan bayi kepada ibu untuk disusui dengan ASI segera setelah lahir, paling lambat
dalam 2 jam pertama.
10. pastikan bahwa bayi tetap terbungkus atau mengenakan pakaian hangat dan tutup
kepala. Bantulah ibu untik menyusui bayinya terutama ibu yang pertama kali menyusui.
11. cuci tangan sekali lagi dengan sabun, air bersih dan keringkan tangan dengan handuk
bersih. Berikan salepmata pada mata bayi. Jika matanya melekat bersihkan dengan air
matang dingin. Dianjurkan pemakaian salep mata tetrasiklin 1 %, kloramphenikol 1%
atau eritromisin 0,5% untuk mencegah oftalmia neonatorum.
Analisanya yaitu pemberian Asi diberikan pada saat IMD selama 1 jam. Dan pemberian
salep mata dilakukan pada 1 jam pertama juga.
12. perhatikan pengeluaran urin dan mekonium bayi dalam 24 jam pertama. Mintalah ibu
memperhatikannya bila persalinan berlangsung di rumah.
13. lakukan pencatatan yang ditemukan dalam kartu ibu dan kartu bayi. Rujuk ke rumah
sakit bila ada kelainan.
b. PROGRAM MENJAGA MUTU:
(a).Prospektif:
1.Bidan memiliki kemampuan:
1.1 Memeriksa dan menilai bayi baru lahir dengan menggunakan skor APGAR.
1.2 Menolong bayi bernafas spontan dan melakukan resusitasi bayi.
1.3 Mengenal tanda - tanda hipotermi dan dapat melakukan pencegahan serta
penanganannya.
2.Adanya alat atau bahan yang diperlukan ,misalnya sabun,air bersih dan handuk untuk
mencuci tangan,handuk lembut yang bersih untuk bayi,kain bersih dan kering untuk
bayi,thermometer dan timbangan bayi.
3. obat tetes mata (salep mata tetrasiklin 1 %,klorampenikol 1 % atau eritromicin 0,5 %
4.kartu ibu.
(b).Konkuren:
1.Segera sesudah bayi lahir, menilai apakah bayi bernapas. Bila bayi tidak menangis
secara spontan, bersihkan jalan napas dengan jari telunjuk yang dibalut dengan kain

bersih dan lembut. Jika cara ini tidak menolong segera lakukan tindakan sesuai dengan
standar 25 yaitu penanganan asfiksi pada bayi baru lahir.
Analisisnya yaitu sekarang jika ditemukan kasus bayi tidak menangis segera setelah lahir
maka tindakan membersihkan jalan napas dengan jari telunjuk yang dibalut dengan kain
bersih dan lembut sudah tidak dilakukan lagi.
2. segera keringkan bayi dengan handuk kering, bersih dan hangat, kemudian pakaiakan
kain kering yang hangat. Berikan bayi kepada ibunya untuk didekap di dadanya
sertadiberi ASI, karena akan membantu pelepasan plasenta. Tidak perlu menunggu untuk
melakukan pertolongan tali pusat. Pastikan bahwa terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi.
Bila hal tersebut tak dapat dilakukan maka bungkuslah bayi dengan kain yang bersih,
kering dan jaga bayi tetap hangat.
Analisisnya yaitu sekarang bayi yang baru lahir diletakkan diatas perut ibu yang
sebelumnya telah diberi kain bersih dan hangat, segera setelah kain pertama digunakan
lalu mengganti kain pertama dengan kain kedua.
3.Klem tali pusat dilakukan pada dua tempat .Pengikatan dilakaukan pada 2 tempat yang
pertama berjarak 5 cm dari umbilicus dan pengikatan yang kedua pada 10 cm dari
umbilicus.Gunakan gunting steril untuk memotong tali pusat diantara kedua ikatan tadi
periksa tali pusat yang dipotong untuk memastikan tidak ada perdarahan.
Analisisnya sekarang dalam asuhan bayi baru lahir pada pemasangan tali pusat yaitu
dengan tali pusat dijepit dengan klem DTT pada sekitar 3 cm dari dinding perut (pangkal
pusat) bayi. Dari titik jepitan tekan tali pusat dengan 2 jari kemudian dorong isi tali
pusat kearah ibu. Kemudian jepit dengan klem kedua tali pusat pada bagian yang isinya
sudah dikosongkan (sisi ibu), berjarak 2 cm dari jepitan pertama.
4. cuci tangan dengan sabun dan air bersih lalu keringkan dengan handuk bersih.
Usahakan ruangan tetap hangat.
5. sesudah 5 menit lakukan penilaian pada bayi secara umum dengan APGAR SCHORE.
6. periksa bayi dari kepala sampai ujung kaki untuk mencari kemungkinan adanya
kelainan. Periksa anus dan daerah kemaluan, lakukan pemeriksaan ini dengan cepat agar
bayi tidak kedinginan. Ibu hendaknya menyaksikan pemeriksaan tersebut.
7. timbang bayi dan ukur panjangnya, lakukan dengan cepat agar bayi tidak mengalami
hipotermi.
8. periksa tanda vital bayi. Ukur suhunya dengan menggunakan thermometer yang
diletakkan pada ketiak atau lipat paha. Bila suhu bayi kurang dari 36C/ tubuhnya teraba
dingin, maka segera lakukan penghangatan tubuh bayi seperti pada kotak dibawah ini.
Analisanya yaitu setelah tali pusat dipotong dan di ikat maka langsung dilakukan Inisiasi
Menyusui dini, ketika 5 menit kita juga melakukan penilaian apgar score. Pengukuran
antropometri, pemeriksaan fisik dilakukan pada 1 jam setelah bayi lahir, menurut APN

tahun 2008, pada 1 jam pertama juga dilakukan injeksi vit K pertama 1 mg di paha kiri
anterolateral dan pemberian salep mata profilaksis.
Prosedur Penanganan Hipotermi
Letakan bayi pada dada ibu sehingga terjadi kontak kulit antara keduanya.
Sarankan ibu untuk sering memberikan ASI
Jaga agar ruangan teap hangat dan bebas asap
Selimuti bayi
Berikan minuman yang hangat untuk ibu
Periksa suhu tubuh bayi setiap jam
Jika ternyata suhu tubuh bayi tidak naik segera merujuknya ke tempat rujukan.
Pertahankan terus kontak kulit ibu dan bayi.
9. berikan bayi kepada ibu untuk disusui dengan ASI segera setelah lahir, paling lambat
dalam 2 jam pertama.
10. pastikan bahwa bayi tetap terbungkus atau mengenakan pakaian hangat dan tutup
kepala. Bantulah ibu untik menyusui bayinya terutama ibu yang pertama kali menyusui.
11. cuci tangan sekali lagi dengan sabun, air bersih dan keringkan tangan dengan handuk
bersih. Berikan salepmata pada mata bayi. Jika matanya melekat bersihkan dengan air
matang dingin. Dianjurkan pemakaian salep mata tetrasiklin 1 %, kloramphenikol 1%
atau eritromisin 0,5% untuk mencegah oftalmia neonatorum.
Analisanya yaitu pemberian Asi diberikan pada saat IMD selama 1 jam. Dan pemberian
salep mata dilakukan pada 1 jam pertama juga.
12. perhatikan pengeluaran urin dan mekonium bayi dalam 24 jam pertama. Mintalah ibu
memperhatikannya bila persalinan berlangsung di rumah.
13. lakukan pencatatan yang ditemukan dalam kartu ibu dan kartu bayi. Rujuk ke rumah
sakit bila ada kelainan.
INGAT !
Jaga agar bayi tetap hangat
Bersihkan jalan napas bila bayi tidak segera menagis setelah lahir. Bila tidak
ada perubahan, lakukan standar 25.
Berikan ASI secepatnya, sebelum 2 jam pertama setelah lahir
Berikan salep mata pada kedua mata bayi untuk mencegah oftalmia
neonatorum.
Rujuk segera bila dalam 24 jam pertama bayi tiudak mengeluarkan urin dan
mekonium.
rum
(c).Retrospektif :
1.Bayi baru lahir dengan kelainan atau kecacatan,dapat segera menerima perawatan yang
tepat.
6

2.Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat untuk dapat bernafas
spontan dan terhindar dari asfiksia.
3.Bayi baru lahir dalam keadaan terjaga diletakan pada tempat yang hangat sehingga
terjadi penurunan angka kejadian hipotermi.
4.Bayi baru lahir dapat terhindar dari infeksi.
c. PENAMPILAN MINIMAL
. Hasil
1.Bayi baru lahir dengan kelainan atau kecacatan,dapat segera menerima perawatan yang
tepat.
2.Bayi baru lahir mendapatkan perawatan yang tepat untukdapat bernafas dengan baik.
3.Penurunan angka kejadian hipotermi.
B. PENANGANAN PADA DUA JAM PERTAMA SETELAH PERSALINAN
Tujuan : Memulihkan kesehatan ibu dan bayi ada masa nifas serta memulai pemberian
ASI dalam dua jam pertama sesudah persalinan.
Pernyataan Standar :
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam 2 jam
setelah persalinan serta melakukan tindakan yang diperlukan.Disamping itu bidan
memberikan penjelasan tentang hal - hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu dan
membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.
a. PERSYARATAN MINIMAL
(a) Standar Masukan
SDM

: Lulusan DIII Kebidanan (Pedoman Pendidikan Berkelanjutan,IBI),

Lulusan DI dengan pelatihan APN


Bidan mampu :
-

Melakukan pemantauan TTV dan involusi uterus

Mendeteksi komplikasi yang terjadi pada 2 jam PP

Memberikan penyuluhan pada ibu nifas meliputi mobilisasi dini, ASI eksklusif , dan
sebagainya

Sarana fisik

:Ruang pemeriksaan , Ruang tunggu , Kamar mandi, Bed pemeriksaan ,

meja pemeriksaan, leaflet ASI,air bersih,sabun,handuk bersih,thermometer,oksitosin


,kartu ibu.
Standar Lingkungan :
Menurut KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 Pasal 15 ayat 2 tentang Pelayanan kepada ibu


diberikan pada masa pranikah, prahamil, masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas,
menyusui, dan masa antara (periode interval).
Standar Proses :
1. Segera setelah bayi lahir, keringkan sambil perhatikan apakah bayi bisa bernafas atau
apakah ada kelainan lainya. Jika bayi tidak dapat bernafas, ikuti Standar 25
2. Jika keadaan umum bayi baik, letakkan bayi di dada ibunya agar terjadi kontak kulit
antara ibu dan bayi, lalu selimuti ibu dan bayi dengan haduk yang hangat. Bila tidak
demikian, bungkus bayi dengan kain yang kering dan bersih dan jaga agar bayi tetap
hangat (lihat Standar 23).
3. Raba fundus uteri. Jika fundus tak teraba keras, lakukan masase pada daera fundus agar
uterus berkontraksi. Periksa fundus tiap 15meit. Periksa jumlah perdarahan dari vagina.
4. Jika terjadi perdarahan, segera lakukan tindakan sesuai dengan Standar 22. Berbahaya jika
terlambat bertindak.
5. Secepatnya batu ibu agar dapat menyusui. Atur posisi bayi agar dapat melekat dan
mengisap dengan benar. (Semua ibu membutuhkan pertolongan untuk mengatur posisi
bayi, baik untuk ibu yang baru pertama kali menyusui maupun ibu yang sudah pernah
menyusui)
6. Cuci tangan lagi dan lakukan pemeriksaan pada bayi. Berikan perawatan pada mata dan
perawatan lain yang diperlukan, sesuai dengan Standar 13.
7. Bila bayi tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan setelah dilakukan resusitasi maka
beritahu orangtua bayi apa yang terjadi. Berikan penjelasan secara sederhana dan jujur.
Biarkan mereka melihat atau memeluk bayi mereka. Berlakulah bijaksana dan penuh
perhatian. Biarkan orangtua melakukan upacara untuk bayi yang meninggal sesuai dengan
adat istiadat atau kepercayaan mereka. Setelah orangtua bayi mulai tenang, bantulah
mereka dan perlakukan bayi dengan baik dan penuh pengertian terhadap kesedihan
mereka.
8. Mintalah ibu untuk buang air kecil dalam 2 jam pertama sesudah melahirkan (retensi
urine dapat menyebabkan perdarahan). Kateter hanya boleh dipasang bila kandung
kencing penuh dan ibu tidak dapat b.a.k
9. Bantu ibu membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian. Ingatkan ibu untuk selalu
menjaga kebersihan tubuh dan mengganti kain pembalut secara teratur dan berikan
penjelasan perubahan-perubahan yang terjadi pasca persalinan.
10. Catat semua yang diperlukan.
11. Sebelum meninggalkan ibu, beritahu suami atau keluarganya bagaimana caranya dan
kapan meminta pertolongan jika tejadi gangguan.
12. JANGAN meninggalkan ibu dan bayi sampai mereka dalam keadaan baik dan semua
catatan lengkap. Jika ada hal yang mengkhawatirkan pada ibu atau janin, lakukan rujukan
ke rumah sakit.

b.
1.
2.
3.
4.

PENAMPILAN MINIMAL
Komplikasi segera dideteksi dan dirujuk
Penurunan kejadian infeksi nifas dan neonatal
Penurunan kematian akibat perdarahan postpartum primer
Pemberian ASI dimulai dalam 2 jam pertama sesudah persalinan

c. PROGRAM MENJAGA MUTU


(a) Prospektif
1. Ibu dan bayi dijaga oleh bidan selama dua jam sesudah persalinan.
8

2. Bidan terlatih dalam merawat ibu dan bayi segera setelah persalinan, temasuk pertolongan
pertama pada keadaan gawat darurat.
3. Ibu termotivasi untuk menyusui dengan ASI dan memberikan kolostrum.
4. Tersedia alat/bahan, misalnya untuk membersihkan tangan aitu air bersih, sabun dan
handuk bersih, kain bersih untuk membungkus bayi dan thermometer.
5. Tersedianya oksitosin dan obat lain yang dierlukan.
6. Adanya sarana pencatatan: Kartu Ibu/Bayi.
(b) Konkuren
1. Segera setelah bayi lahir, keringkan sambil perhatikan apakah bayi bisa bernafas atau
apakah ada kelainan lainya. Jika bayi tidak dapat bernafas, ikuti Standar 25
2. Jika keadaan umum bayi baik, letakkan bayi di dada ibunya agar terjadi kontak kulit
antara ibu dan bayi, lalu selimuti ibu dan bayi dengan haduk yang hangat. Bila tidak
demikian, bungkus bayi dengan kain yang kring dan bersih dan jaga agar bayi tetap
hangat (lihat Standar 23).
3. Raba fundus uteri. Jika fundus tak teraba keras, lakukan masase pada daera fundus agar
uterus berkontraksi. Periksa fundus tiap 15 menit. Periksa jumlah perdarahan dari vagina.
4. Jika terjadi perdarahan, segera lakukan tindakan sesuai dengan Standar 22. Berbahaya jika
terlambat bertindak.
5. Secepatnya batu ibu agar dapat menyusui. Atur posisi bayi agar dapat melekat dan
mengisap dengan benar. (Semua ibu membutuhkan pertolongan untuk mengatur posisi
bayi, baik untuk ibu yang baru pertama kali menyusui maupun ibu yang sudah pernah
menyusui)
6. Cuci tangan lagi dan lakukan pemeriksaan pada bayi. Berikan perawatan pada mata dan
perawatan lain yang diperlukan, sesuai dengan Standar 13.
7. Bila bayi tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan setelah dilakukan resusitasi maka
beritahu orangtua bayi apa yang terjadi. Berikan penjelasan secara sederhana dan jujur.
Biarkan mereka melihat atau memeluk bayi mereka. Berlakulah bijaksana dan penuh
perhatian. Biarkan orangtua melakukan upacara untuk bayi yang meninggal sesuai dengan
adat istiadat atau kepercayaan mereka. Setelah orangtua bayi mulai tenang, bantulah
mereka dan perlakukan bayi dengan baik dan penuh pengertian terhadap kesedihan
mereka.
8. Mintalah ibu untuk buang air kecil dalam 2 jam pertama sesudah melahirkan (retensi
urine dapat menyebabkan perdarahan). Kateter hanya boleh dipasang bila kandung
kencing penuh dan ibu tidak dapat b.a.k
9. Bantu ibu membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian. Ingatkan ibu untuk selalu
menjaga kebersihan tubuh dan mengganti kain pembalut secara teratur dan berikan
penjelasan perubahan-perubahan yang terjadi pasca persalinan.
10. Catat semua yang diperlukan.
11. Sebelum meninggalkan ibu, beritahu suami atau keluarganya bagaimana caranya dan
kapan meminta pertolongan jika tejadi gangguan.
12. JANGAN meninggalkan ibu dan bayi sampai mereka dalam keadaan baik dan semua
catatan lengkap. Jika ada hal yang mengkhawatirkan pada ibu atau janin, lakukan rujukan
ke rumah sakit.
(c)
1.
2.
3.

Retrospektif
Komplikasi segera dideteksi dan dirujuk
Penurunan kejadian infeksi nifas dan neonatal
Penurunan kematian akibat perdarahan postpartum primer

C.

STANDAR PELAYANAN BAGI IBU DAN BAYI PADA MASA NIFAS

` Tujuan:
Memberikan pelayanan pada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan
memberikan penyuluhan ASI eksklusif.
Pelayanan standar:
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ke3, minggu ke-2 dan minggu ke-6 setelah persalinan, untuk membantum proses
pemulihan pada ibu dan bayi melalui penanganan yaitu pusat yang benar, penemuan dini
, penanganan atau rujukan komplikasi yang myungkin terjadi pada nmasa nifas, serta
memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan,
makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imumnisasai dan KB.
a. PERSYARATAN MINIMAL
Standar Masukan :
a.SDM : Bidan lulusan DIII atau Bidan lulusan DI dengan pelatihan APN
Bidan mampu :
- melakukan penanganan tali pusat dengan benar
- deteksi dini komplikasi dan merujuk ibu maupun bayi yang mengalami komplikasi
- memberikan penyuluhan tenatang personal higiene ibu dan bayi, makanan bergizi,
perawatan bayi baru lahir , pemberian ASI , imunisasi dan KB
- memfasilitasi ibu untuk bounding attachment
b.Sarana : Ruang pemeriksaan, Ruang tunggu, Kamar mandi, bed pemeriksaan, meja
pemeriksaan , leaflet makanan bergizi, perawatan BBL, pembarian ASI, Imunisasi, dan
KB.
Standar Lingkungan :
Menurut KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002
Pasal 15 ayat 2 tentang pelayanan kebidanan pada ibu pada masa nifas , menyusui dan masa
antara (periode interval)
Pasal 15 ayat 3 tentang pelayanan kebidanan pada masa bayi, masa anak balita
Pasal 16 ayat 1(g) pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi pelayanan ibu nifas normal
Pasal 17 ayat 2 tentang
Pelayanan kebidanan kepada anak meliputi:
a. pemeriksaan bayi baru lahir;
b. perawatan tali pusat;
c. perawatan bayi;
d. resusitasi pada bayi baru lahir;
e. pemantauan tumbuh kembang anak;
f. pemberian imunisasi;
g. pemberian penyuluhan.
b. MANAJAMEN MENJAGA MUTU:
(a). Prospektif
10

Prasyarat:
1. Bidan telah memiliki ketrampilan
1.1.1. Perawatan nifas, termasuk pemeriksaan ibu dan bayi pada masa nifas dengan
1.1.2.
1.1.3.
1.1.4.
2. Bidan

cara yang benar


Membantu ibu untuk memberikan ASI
Mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada ibu dan bayi pada masa nifas
Penyuluhan dan pelayanan KB.
dapat memberikan pelayanan imunisasi atau bekerjasama dengan juru

imunisasai
3. Tersedia alat / bahan, misalnya untuk membersihkan tangan, yaitu sabun, air bersih dan
handuk bersih.
4. Tersedia kartu pencatatan: kartu ibu / bayi
(b). Konkuren:
1.
2.
3.
4.

Pada kunjungan rumah, sapalah ibu dan suami / keluarganya dengan ramah.
Tanyakan apakah ada masalah dengan ibu dan bayinya.
Cuci tangan sebelum dan sesudah meemriksa ibu dan bayi.
Lakukan pemeriksaan lengkap bagi ibu, dimulai dengan keadaan umum, pemeriksaan
dilakukan dari kepala sampai ke ujung kaki. Periksa involusi uterus ( pengecilan uterus
sekitas 2 cm / hari selama 8 hari pertama ). Periksa lochea yang pada hari ke-3
seharusnya mulai berkurang dan berwarna cokelat dan pada hari ke-8 sampai 1o
menjadi sedikit dan berwarna merah muda. Jika ada kelainan segera rujuk ( jika
dicurigai sepsis puerpuralis gunakan standar 24. Untuk penananganan perdarahan post

partum sekunder gunakan sntandar 23 ).


5. Bila ibu menderita anemia semasa hamil atau mengalami perrdarahan berat selama
proses persalinan, periksa Hb pada hari ke-3. Nasehati ibu supaya makan makanan
bergizi dan berikan tablet tambah darah.
6. Berikan penyuluhan pada ibu tentang pentingnya menjaga keberihan diri, memekai
pembalut bersih, makanan bergizi, istirahat cukup dan cara merawat bayi.
7. Cucilah tangan lalu periksalah bayi. Periksalah tali puat pada setiap kali kunjungan
( paling sedikit [pada hari ke 3, minggu ke-2 dan minggu ke-6), Tali pusat harus
tetap kering. Ibu perlu diberi tahu bahayanya membubuhkan sesuatu pada tali pusat
bayi, misalnya minyak atau bahan lain. Jika ada kemerahan pada pusat perdarahan
atau tercium bau busuk, bayi segera dirujuj.
8. Perhatikan kondisi umum bayi, tanyakan kepada ibu: pemberian ASI , misalnya bayi
tidak mau menyusui, waktu jaga, cara bayi menangis, berapa kali buang air kecil dan
fesesnya.
9. Perhatikan warna kulit bayi, apakah ada ikterus atau tidak, ikterus pada hari ke-3 post
partum adsalah ikrerus fisiologis yang tidak memerlukan pengobatan. Namun bila
ikterus terjadi sesudah hari ke-3 / kapan saja, dan bayi malas untuk menetek dan
nampak mengantuk, maka bayi harus segera dirujuk ke Rumah Sakit.
10. Bicarakan pemberian ASI dengan ibu, dan bila mungkin perhatikan apakah bayi
menetek dengan baik.
11

11. Nasehati ibu untuk hanya memberikan ASI kepada bayi selama 4 bulan, dan bahayta
memberikan makanan tambahan selain ASI pada bayi sebelum berumur 4 bulan.
Analisis: ASI eksklusif diberikan sejak umur 0 hari sampai umur 6 bulan
( Bahiyatun: 2009 ).
12. Bicarakan tentang KB dan kapan senggama dapat dimulai. Sebaiknya ini
didiskusikan dengan kehadiran suaminya.
13. Catat dengan tepat semua yang ditemukan.
14. Jika ada hal hal yang tidak normal, segeralah merujuk ibu dan / atau bayi ke
Puskesmas / Rumah Sakit.
Hasil penelitian membuktikan:
1. Memberikan makanan lain selain kolostrum atau ASI dapat membahayakan bayi.
2. Ibu yang baru bersalin menggungkan pembalut yang bersih atau kain yang bersih yang
telah di jemur. Menjemur kain di bawah sinar matahari dapat mengurangi bakteri.
3. Menggunakan minyak atau bahan bahan lain atnyukm tali pusat adalah berbahaya.
INGAT!!!!:
1. masa nifas merupakan kesempatan baik untuk memberikan penyuluhan KB, tetapi hal
ini harus disampaikan dengan hati hati, ramah dan peka terhadap adat setempat.
2. Ibu dalam masa nifas mudah terinfeksi, karena itu kebersihan diri, makanan bergizi
dan istirahat cukup sangatlah penting.
3. Kelainan yang memerlukan rujukan harus mendapat perhatian secepatnya.
4. Kesehatan generasi berikyt dimulai dengan perawatan yang baik bagi anak perempuan
sejak bayi.
5. Kelelahan pada masa nifas merupakan gejala anemia.
(c). Retrospektif
Hasil:
1. Komplikasi pada masa nifas segera dirujuk untuk penanganan yang tepat.
2. Mendorong pemberian ASI eksklusif
3. Mendorongn penggunaan cara tradisional dan berguna dan menganjyurnak untuk
menghindari kebiasaan yang merugikan.
4. Menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan bayi.
5. Masyarakat semakin menyadari pentingnya penjarangan kelahiran.
6. Meningkatkan imunisasi pada bayi.

12

13