Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gigi merupakan organ terpenting pada manusia. Gigi berfungsi
sebagai pengunyahan setiap makanan yang masuk kemulut

untuk

diteruskan kedalam tubuh manusia.proses ini berlangsung mulai dari


masa kanak-kanak sampai dewasa. Kehilangan gigi akan menyebabkan
penurunan efesiensi pengunyahan yang berhubungan erat dengan
masalah karies,penyakit periodontal,dan penyakit lainnya. ( Masagus
Hardadi dkk,2013)
Tindakan pencabutan gigi merupakan tindakan yang dapat
menimbulkan bahaya bagi penderita, dasar pembedahan harus dipahami,
walaupun sebagian besar tindakan pencabutan gigi dapat dilakukan
ditempat praktek. Beberapa kasus perlu penanganan di rumah sakit oleh
karena ada pertimbangan kondisi sistemetik penderita. Tindakan dengan
teknik yang cermat dengan didasari pengetahuan serta ketrampilan
merupakan faktor yang utama dalam melakukan tindakan pencabutan
gigi. Jaringan hidup harus ditangani dengan hati-hati, tindakan yang kasar
dalam penanganan akan

mengakibatkan kerusakan

atau bahkan

kematian jaringan ( Masagus Hardadi dkk,2013)


Pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan sebuah gigi atau
akar gigi yang utuh tanpa menimbulkan rasa sakit dengan trauma sekecil

mungkin pada jaringan penyanggah sehingga luka bekas pencabutan


akan sembuh secara normal dan tidak menimbulkan komplikasi(Drg.
Nurwiyana Abdullah,M. Kes,2012)
Pembedahan tidak boleh dilakukan secara sembarangan oleh
karena

dapat

menimbulkan

efek

samping/komplikasi

yang

tidak

diinginkan, misalkan perdarahan, edema, trismus, dry soket dan masih


banyak lagi. Dokter gigi harus mengusahakan agar setiap pencabutan gigi
yang ia lakukan merupakan suatu tindakan yang ideal, dan dalam rangka
untuk mencapai tujuan itu ia harus menyesuaikan tekniknya untuk
menghadapi kesulitan-kesulitan dan komplikasi yang mungkin timbul
akibat pencabutan dari tiap-tiap gigi (Drg. Nurwiyana Abdullah, M.
Kes,2012)
Pencabutan

gigi

pertama

kali

dilakukan

hanya

dengan

menggunakan tang.Oleh karena timbulnya berbagai macam masalah


dalam prosedur pencabutan gigi yang menyebabkan gigi tersebut sulit
untuk dicabut/dikeluarkan bila hanya menggunakan tang saja maka
kemudian dilakukan pembedahan (Joseph Uyamadu,2012 )
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan
masalah penelitian yaitu berapa besar jumlah tindakan pencabutan gigi
tetap poli gigi PUSKESMAS TAMALANREA Tahun 2015

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
sesuai dengan masalah tersebut diatas,maka penilitian ini
mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui berapa besar jumlah
pencabutan gigi tetap pada pasien poli gigi di Puskesmas Tamalanrea
Kecematan Tamalanrea Kota Makassar Tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tindakan pencabutan gigi berdasarkan
diagnosa.
2. untuk mengetahui tindakan pencabutan gigi berdasarkan jenis
kelamin
3. untuk mengetahui tindakan pencabutan gigi berdasarkan usia

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi penulis, sebagai media dalam menambah wawasan
dan pengetahuan mengenai berapa besar jumlah pencabutan gigi
tetap di poli gigi Puskesmas Tmalanrea kota Makassar Tahun 2015

2. Manfaat sosial, sebagai salah satu sumber informasi bagi


masyarakat bahwa dalam melakukan pencabutan gigi terdapat
kesulitan-kesulitan yang menyebabkan tindakan pencabutan gigi
tidak dapat berjalan dengan lancar.

3. Manfaat ilmiah, diharapkan penelitian ini dapat memperluas ilmu


pengetahuan dan merupakan bahan bacaan bagi mahasiswa
Keperawatan gigi Stikes Amanah Makassar serta pengembangan
penelitian-penelitian yang berkaitan dengan tema serupa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Pencabutan Gigi


Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari
alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan
perawatan lagi. Pencabutan gigi juga merupakan operasi bedah yang
melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut, akses
yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan selanjutnya dihubungkan/disatukan
oleh gerakan lidah dan rahang. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah
pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma
minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan
dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di
masa mendatang ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007 )
Pencabutan gigi merupakan tindakan medis yang tanpa pengaruh
negatif

atau

efek

samping,

selama

tindakan

tersebut

dilakukan

berdasarkan prosedur standar yang sesuai ( Drg. Andi Maharani,2012 )


rasa sakit pasca pencabutan adalah hal yang normal selama rasa
sakit tersebut tidak terasa begitu hebat dan dapat diatasi dengan obat
pereda nyeri. Apabila terjadi efek samping yang tidak diinginkan pada saat
pencabutan seperti perdarahan, syok,pusing, pingsan dan mual terjadi
pada kondisi tertentu saja, seperti pada pasien dengan riwayat darah

tinggi dimana saat pencabutan darahnya tidak terkontrol dan pada pasien
dengan kecemasan berlebihan ( Drg. Andi Maharani,2012 )
Selalu diingat bahwa gigi bukanlah ditarik melainkan dicabut
dengan hati-hati. Hal ini merupakan prosedur pembedahan dan etika
bedah yang harus diikuti guna mencegah komplikasi serius (fraktur
tulang/gigi, perdarahan, infeksi). Gigi geligi memang banyak namun
masing-masing gigi merupakan struktur individual yang penting, dan
masing-masing harus dipelihara sedapat mungkin. Tujuan dari ekstraksi
gigi harus diambil untuk alasan terapeutik atau kuratif. ( David B.
Kamadjaja 2010 )

Gambar 1: pencabutan gigi Sumber


www.wikipedia.dentalextractioan.com
B. Pencabutan Intra Alveolar
Pencabutan intra alveolar adalah pencabutan gigi atau akar gigi dengan
menggunakan tang atau bein atau dengan kedua alat tersebut. Metode ini
sering juga di sebut forceps extraction dan merupakan metode yang biasa
dilakukan pada sebagian besar kasus pencabutan gigi. ( Eka Priana,2013)

Dalam metode ini, blade atau instrument yaitu tang atau bein
ditekan masuk ke dalam ligamentum periodontal diantara akar gigi dengan
dinding tulang alveolar. Bila akar telah berpegang kuat oleh tang,
dilakukan gerakan kearah buko-lingual atau buko-palatal dengan maksud
menggerakkan gigi dari socketnya. Gerakan rotasi kemudian dilakukan
setelah dirasakan gigi agak goyang. Tekanan dan gerakan yang dilakukan
haruslah merata dan terkontrol sehingga fraktur gigi dapat dihindari ( Eka
Priana,2013 )

Gambar 2.1 Pencabutan gigi mengunakan tang


(Sumber: Pedlar J, Frame JW. Oral and maxillofacial surgery.
China: Churchill Living Stone Elsevier; 2007, p.27)

C. Pencabutan Trans Alveolar


Pada beberapa kasus terutama pada gigi impaksi, pencabutan
dengan metode intra alveolar sering kali mengalami kegagalan sehingga
perlu dilakukan pencabutan dengan metode trans alveolar. Metode

pencabutan ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengambil sebagian


tulang penyangga gigi. Metode ini juga sering disebut metode terbuka
atau metode surgical yang digunakan pada kasus-kasus ( Eka
Priana,2013 )
Perencanaan dalam setiap tahap dari metode trans alveolar harus
dibuat secermat mungkin untuk menghindari kemungkinan yang tidak
diinginkan. Masing-masing kasus membutuhkan perencanaan yang
berbeda yang disesuaikan dengan keadaan dari setiap kasus ( Eka
Priana,2013 )
D. Indikasi dan Kontraindikasi Pencabutan Gigi
1. Indikasi Pencabutan Gigi
Gigi mungkin perlu di cabut untuk berbagai alasan, misalnya karena
sakit gigi itu sendiri, sakit pada gigi yang mempengaruhi jaringan di
sekitarnya, atau letak gigi yang salah. Di bawah ini adalah beberapa
contoh indikasi dari pencabutan gigi ( Drg. Nurwiyana Abdullah,M. Kes,
2012 )
a. Gigi yang tidak dapat lagi dirawat secara konservasi
b. Gigi yang sangat koyang (mobility), biasanya menyebabkan
keluhan rasa sakit bila digunakan

c. Gigi yang merupakan penyebab infeksi jaringan sekitarnya


gigi yang sering menimbulkan peradangan seperti abses,sebaiknya
dicabut untuk menghindari penyakit yang lebih parah
d. Gigi yang di anggap merupakan factor infeksi
gigi yang dianggap factor infeksi adalah: gigi gangren,pupitis kronis,
penyakit periapikal dan penyakit periodontal
e. Untuk keperluan orthodontik
gigi yang berjejal dapat diperbaiki/ dirawat secara orthodontic.
Pencabutan gigi dilakukan untuk member tempat pada gigi
lain,biasanya gigi P1 yang dicabut sehingga memberi tempat gigi
yang berjejal / malposisi untuk kembali pada posisi yang normal
f. Gigi kelebihan ( supernumerary teeth)
gigi yang tumbuh berlebihan harus dicabut sedini mungkin supaya
yang lainya dapat menempati gigi yang seharusnya.
g. Gigi yang fraktur akar
pencabutan hanya dilakukan pada fraktur akar yang lebih dari 1/3
panjang akar, jika gigi masih kuat dan masih dapat dilkukan
perawatan endodontic maka tidak perlu dicabut
h. Gigi yang impaksi
gigi yang sering impaksi adalah gigi caninus rahang ata, M3 rahang
bawah. Gigi yang impaksi sering menimbulkan gangguan seprti
peredangan dan gagguan pada gigi tetangganya

i. Gigi yang menyebabkan trauma pada jaringan lunak sekitarnya


dan tidak dapat dirawat lagi untuk mencegah trauma tersebut
j. Karies yang parah
Alasan paling umum dan yang dapat diterima secara luas untuk
pencabutan gigi adalah karies yang tidak dapat dihilangkan. Sejauh
ini gigi yang karies merupakan alasan yang tepat bagi dokter gigi
dan pasien untuk dilakukan tindakan pencabutan
k. Gigi yang malposisi
Gigi yang mengalami malposisi dapat diindikasikan untuk
pencabutan dalam situasi yang parah. Jika gigi mengalami trauma
jaringan lunak dan tidak dapat ditangani oleh perawatan ortodonsi,
gigi tersebut harus diekstraksi. Contoh umum ini adalah molar
ketiga rahang atas yang keluar kearah bukal yang parah dan
menyebabkan ulserasi dan trauma jaringan lunak di pipi. Dalam
situasi gigi yang mengalami malposisi ini dapat dipertimbangkan
untuk dilakukan pencabutan.
l. Ekonomi
Indikasi terakhir untuk pencabutan gigi adalah faktor ekonomi.
Semua indikasi untuk ekstraksi yang telah disebutkan diatas dapat
menjadi kuat jika pasien tidak mau atau tidak mampu secara
finansial untuk mendukung keputusan dalam mempertahankan gigi

10

tersebut. Ketidakmampuan pasien untuk membayar prosedur


tersebut memungkinkan untuk dilakukan pencabutan gigi.
2. Kontra Indikasi Pencabutan Gigi
a. Konraindikasi sistemik

Semua kontraindikasi baik lokal maupun sistemik dapat menjadi


relatif
atau mutlak (absolut) tergantung pada kondisi umum pasien. Ketika
kontraindikasi itu mutlak, perawatan ekstra perlu dilakukan sebelum
pencabutan gigi untuk menghindari berbagai resiko yang dapat terjadi
pada
pasien. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kontraindikasi pencabutan
gigi ( Drg. Nurwiyana Abdullah, M. Kes, 2012 )
1.Diabetes
Pasien dengan penyakit diabetes tidak terkontrol cenderung
lebihrentan mengalami infeksi pada luka bekas pencabutan gigi
dan dapatmeluas ke jaringan sekitarnya.
2.Hipertensi
Pencabutan gigi dapat dilakukan pada pasien dengan hipertensi
ringan (derajat 1) dan hipertensi sedang (derajat 2), atau ketika
tekanan
sistolik kurang dari 200 mmHg dan tekanan diastolik kurang dari
110 mmHg
3 Penyakit jantung

11

Kondisi jantung yang paling sering menyulitkan pencabutan gigi


adalah infark miokard, angina pektoris, dan dekompensasi jantung.
4.Pasien terapi steroid
Pasien yang menjalani terapi steroid akan terhambat
produksi hormone adrenokortikotropinnya. Bahkan pada pasien
yang sudah satu tahun berhenti terapi menunjukkan sekresi adrenal
tersebut tidak cukup untuk
menahan stres pencabutan gigi.
5.Kehamilan
Faktor risiko tinggi yang timbul ketika merawat pasien hamil adalah
menghindari kecacatan genetik pada janin. Selain itu, perawatan
harus dilakukan selama prosedur radiografi dental dan pemberian
obat.

6.Diskrasia darah
Anemia, penyakit perdarahan seperti hemofilia dan leukemia
adalah diskrasia darah yang menimbulkan banyak masalah
selama pencabutan gigi. Komplikasi pendarahan yang
berlebihan pasca operasi harus ditangani dengan hati-hati.
7. Pasien terapi antikoagulan

12

Pasien terapi antikoagulan yang menjalani prosedur bedah


mulut dapat mengalami pendarahan yang berkepanjangan
pasca operasi dan/atau kecelakaan tromboembolik yang fatal
8. Gondok beracun
Ekstraksi dapat memicu krisis tiroid. Gejalanya adalah
setengah sadar, gelisah (yang tidak terkendali bahkan
dengan sedasi berat), sianosis dan delirium yang sangat
cepat, dll. Pada kondisi ini, tidak ada prosedur bedah yang
dapat dilakukan dan pasien harus dirujuk ke dokter
9. Penyakit kuning
Komplikasi postoperative dari keadaan ini adalah pendarahan.
Jika pencabutan gigi sangat dibutuhkan,dosis vitamin profilaksi
harus diberikan sebelum operasi.
b.Kontraindikasi lokal
1. Penyakit periapikal terlokalisir
Jika pencabutan gigi telah dilakukan dan infeksi tersebar
dan tersebar secara sistemik, maka antibiotik harus diberikan
sebelum pencabutan.
2. Keberadaan infeksi oral
Infeksi oral seperti vincents angina, herpetic gingivostomatitis,
harus
dirawat terlebih dahulu. Setelah itu, dapat dilakukan pencabutan.

13

3. Perikoronitis akut
Perikoronitis harus dirawat terlebih dahulu, kemudian dicabut gigi
yang terlibat. Jika tidak, infeksi bakteri bisa turun ke daerah kepala
bagian bawah dan leher.

4. Penyakit ganas
Misalnya gigi yang berada di area tumor. Jika dicabut bisa
menyebarkan sel.

5. Pencabutan gigi pada pasien terapi radiasi


Pencabutan gigi pada rahang yang sebelumnya diiradiasi dapat
menyebabkan osteoradionekrosis dan karena itu harus dilakukan
dengan tindakan pencegahan ekstra.

E. Pemilihan Jenis Anastesi


A. Pengertian anastesi
Anastesi berasal dari (bahasa) Yunani ANAISTHESIS : yang
artinya tidak ada rasa sakit,AN : tanpa dan AESTHESIS:rasa,sensasi,
anasthesi berarti tanpa rasa sakit,tanpa sensai sehingga tidak
menimbulkan rasa sakit. Dengan kata lain: suatu cara untuk membuat

14

syaraf menjadi lalai atau lumpuh sehingga tidak ada rasa sakit.
( drg.Nurwiyana Abdullah, M. Kes,2012 ).
1. Anasthesi local Adalah suatu cara yang dilakukan untuk
menghilangkan rasa sakit tidak disertai hilanganya kesadaran
seseorang. Dengan menggunakan segolongan obat-obatan
anathesi yang dapat menghilangkan rasa sakit ( drg. Purwanto
2011 )

Gambar 2.2 a,b Teknik anestesi lokal. a infiltrasi. b block (Sumber: Wray
D,
Stenhouse D, Lee D, Clark AJ. Textbook of general and oral surgery.
Philadelphia: Elsevier; 2003, p.203-4
2. Tabel Fungsi anestesi lokal.

15

Fungsi Anestesi Lokal


(Sumber: Wray D, Stenhouse D, Lee D, Clark AJ. Textbook of general and
oral
surgery. Philadelphia: Elsevier; 2003,.)

3.Lidokain dengan epinefrin merupakan agen anestesi lokal yang paling


umum yang digunakan dalam praktek dokter gigi. Epinefrin sebagai
vasokonstriktor ditambahkan ke lidokain dimaksudkan untuk:
a. Memperpanjang durasi anestesi lokal
b. Memperdalam anestesi lokal
c. Mengurangi resiko toksis sistemik
d. Mengontrol pendarahan pada lokasi operasi

16

F. Mengatur posisi pasien dan posisi operator


a. Posisi pasien
untuk memastikan visualisasi dan kenyamanan yang memadai
selama berbagai manipulasi yang diperlukan untuk ekstraksi gigi,
untuk ekstraksi gigi rahang atas, mulut pasien harus berada pada
ketinggian yang sama dengan bahu dokter gigi dan sudut antara
kursi gigi dan (lantai) horisontal harus sekitar 120 (ara 5.la.). juga
permukaan gigi rahang atas harus berada pada 45 sudut
dibandingkan dengan horizontal saat mulut terbuka. selama
ekstraksi mandibula, kursi diposisikan lebih rendah, sehingga sudut
antara kursi dan horisontal adalah sekitar 110 selanjutnya,
permukaan oklusal gigi rahang bawah gigi rahang bawah harus
sejajar dengan horizontal ketika pasien mulutnya terbuka.
( fragiskos D. Fragiskos,2007)
b. Posisi operator
1. Untuk Anasthesi
- untuk melakukan anasthesi rahang atas, operator berdiri dimuka
kanan pasie, tangan kanan memegang alat suntikan, sedangkan
tangan kiri memegang kaca mulut dan menarik pipi / bibir agar
terlihat dengan jelas.( drg.Nurwiyana Abdullah, M.Kes )

-waktu melakukan anasthesi rahang bawah kanan, operator berdiri


di muka kanan agak depan pasien , tangan kanan memegang alat

17

suntik, sedangkan tangan kiri memegang kaca mulut dan menarik


pipi/ bibir agar terliahat lebih jelas ( drg. Nurwiyana Abdullah,M.
Kes,2012 )
2. Untuk pencabutan
-

pada waktu melakukan pencabutan gigi rahang atas

operator berdiri di muka kanan pasien, tangan kanan memegang


tang, sedangkan tangan kiri ibu jari dan telunjuk menjepit
/memegang processus alveolaris pada bagian palatal dan
buccal/labial dari yang akan dicabut (drg.Nurwiyana Abdullah, M.
Kes,2012 )

- pada waktu melakukan pencabutan gigi rahang bawah kiri,


operator berdiri dimuka kanan pasien, tangan kanan memegang
tang sedangkan tangan kiri memegang/menyanggah dengan cara:
jari tangan dan jari telunjk memegang processus alveolaris
disebelah lingual dan buccal/labial, ibu jari memegang dagu
(drg.Nurwiyana Abdullah, M. Kes,2012 )

-pada waktu melakukan pencabutan rahang bawah kanan operator


berdiri di belakang kanan pasien,tangan kanan memegang tang
sedangkan tangan kiri melingkari kepala pasien dan memegang
processus alveolaris dengan cara : ibu jari dan jari telunjuk
memegang processus alveolaris sebelah lingual dan buccal/
labial dan jari tengah (jari lainnya) memegang dagu (drg.Nurwiyana

18

Abdullah, M. Kes,2012 )

G. Gerakan pada waktu pencabutan gigi


1. Luksasi
luksasi adalah gerakan yang dilakukan dari arah linguo labial/
linguo buccal atau palate/labial (Arirni Retno Iswari,2011)
2. Rotasi
rotasi adalah gerakan yang dilakukan dengan cara memutar
yaitu

gigi diputar dengan sumbu panjang gigi ke mesial,

kemudian ke distal, mesial lagi sampai gigi tersebut goyang


( Arini Retno Iswari )
3. Gerakan kombinasi
Gerakan kombinasi adalah gerakan yang dilakukan dengan
cara kombinasi antara luksasi dan rotasi saling bergantian
goyang (Arini Retno Iswari )
4. Ekstraksi
Ekstraksi adalah gerakan yang dilakukan dengan cara
mencabut sejajar dengan sumbu panjang gigi,bila gigi tersebut
cukup goyang untuk di cabut (Arini Retno Iswari )
H. Pencabutan Khusus Gigi Geligi
1. Insisivus

19

Jarang terjadi kesulitan dalam melakukan pencabutan gigi insisivus


kecuali kalau giginya berjejal, konfigurasi akar rumit, atau gigi sudah
dirawat endodontik. Gigi insisivus atas dicabut dengan menggunakan tang
#150, dengan pinch grasp dan tekanan lateral (fasial/lingual) serta
rotasional. Tekanan lateral lebih ditingkatkan pada arah fasial, sedangkan
tekanan rotasional lebih ditekankan kearah mesial. Tekanan tersebut
diindikasikan karena biasanya pembelokan ujung akar gigi-gigi insisivus
adalah kearah distal, bidang labialnya tipis dan arah pengungkitannya ke
facial. Insisivus bawah dicabut dari posisi kanan/kiri belakang dengan
menggunakan tang #150 dan sling grasp. Tekanan permulaan adalah
lateral dengan penekanan kearah facial. Ketika mobilitas pertama
dirasakan, tekanan rotasional dikombinasikan dengan lateral sangat
efektif. Pengungkitan insisivus bawah dilakukan kearah facial, dengan
perkecualian insisivus yang berinklinasi lingual dan berjejal-jejal. Untuk
keadaan tersebut digunakan #74 atau #74N dari kanan/kiri depan. Tang
tersebut beradaptasi dengan baik terhadap insisivus dan digunakan
dengan gerak menggoyah perlahan. Karena insisivus bawah tidak
tertanam terlalu kuat, pengungkitan yang perlahan dan tekanan yang
terkontrol akan mengurangi kemungkinan fraktur ( Fragiskos D. Fragiskos,
2007 )

2. Caninus

20

a. Pencabutan gigi caninus atas


Caninus sangat sukar dicabut. Akarnya panjang dan tulang servikal
yang menutupinya padat dan tebal. Gigi kaninus atas dicabut dengan cara
pinch grasp untuk mendeteksi awal terjadinya ekspansi atau fraktur
bidang fasial dan mengatur tekanan selama proses pencabutan. Tang
#150 dipegang dengan telapak tangan keatas merupakan perpaduan
yang sangat cocok dengan metode diatas. Ada alternative untuk gigi
kaninus atas, yaitu dengan menggunakan tang kaninus atas khusus, #1.
Pegangannya lebih panjang dan paruh tang beradaptasi lebih baik dengan
akar kaninus. Apabila tang sudah ditempatkan dengan baik pada gigi
tersebut, paruh masuk cukup dalam, dipegang pada ujung pegangan dan
control

tekanan

cukup

baik,

maka

tekanan

pengungkitan

dapat

dihantarkan. Tekanan pencabutan utama adalah ke lateral terutama fasial,


karena gigi terungkit kearah tersebut. Tekanan rotasional digunakan untuk
melengkapi tekanan lateral, biasanya dilakukan setelah terjadi sedikit
luksasi. ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007

b. Pencabutan gigi kaninus bawah


Kaninus bawah dicabut dengan tang #151, yang dipegang dengan
telapak tangan ke bawah dan sling grasp. Seperti gigi kaninus atas,
akarnya panjang, sehingga memerlukan tekanan terkontrol yang cukup
kuat untuk mengekspansi alveolusnya. Selama proses pencabutan gigi ini,

21

tekanan yang diberikan adalah tekanan lateral fasial, karena arah


pengeluaran gigi adalah fasial. Tekanan rotasional bias juga bermanfaat.
( Fragiskos D. Fragiskos, 2007 )
c. Prosedur pembedahan (open procedure)
Didasarkan

atas

pertimbangan

mengenai

pasien,

dan

kesempurnaan rencana perawatan, maka penentuan untuk memilih


atau menunda prosedur pembedahan untuk mencabut gigi-gigi
kaninus sebaiknya sudah dibicarakan sebelum pencabutan. Apabila
dirasa bahwa untuk pencabutan tersebut diperlukan tekanan tang yang
besar untuk luksasi/ekspansi alveolar, sebaiknya dilakukan prosedur
pembukaan flap. ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007
3. Premolar
a. Pencabutan gigi premolar atas
Gigi premolar atas dicabut dengan tang #150 dipegang dengan
telapak keatas dan dengan pinch grasp. Premolar pertama dicabut
dengan

tekanan

lateral,

kearah

bukal

yang

merupakan

arah

pengeluaran gigi. Karena premolar pertama atas ini sering mempunyai


dua akar, maka gerakan rotasional dihindarkan. Aplikasi tekanan yang
hati-hati pada gigi ini, dan perhatian khusus pada waktu mengeluarkan
gigi, mengurangi insidens fraktur akar. Ujung akar premolar pertama
atas yang mengarah ke palatal menyulitkan pencabutan, dan fraktur
pada gigi ini bias diperkecil dengan membatasi gerak kearah lingual.

22

Gigi premolar kedua biasanya mempunyai akar tunggal dan dicabut


dengan cara yang sama seperti dengan kaninus atas. Akarnya lebih
pendek dan akar bukalnya lebih tipis dari pada gigi kaninus. Tang #150
digunakan kembali dengan tekanan lateral, yaitu bukal serta lingual.
Pada waktu mengeluarkan gigi kearah bukal, digunakan kombinasi
tekanan rotasional dan oklusal. ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007)
b. Pencabutan gigi premolar bawah
Tekhnik pencabutan gigi premolar bawah sangat mirip dengan
pencabutan insisivus bawah. Tang #151 dipegang dengan telapak
tangan kebawah dan sling grasp. Tekanan yang terutama diperlukan
adalah lateral/bukal, tetapi akhirnya bias dikombinasikan dengan
tekanan rotasi. Pengeluaran gigi premolar bawah, adalah kearah
bukal. ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007)
c. Pencabutan untuk tujuan ortodonsi
Pencabutan gigi premolar sering merupakan persyaratan
perawatan ortodonsi. Gigi-gigi ini biasanya diambil dari orang muda,
kadang-kadang akarnya belum sempurna atau baru saja lengkap.
Pencabutan premolar dengan hanya menggunakan tang, dengan
menghindari penggunaan elevator sangat dianjurkan. Tempat tumpuan
yang minimal bagi elevator dapat mengakibatkan luksasi yang tidak
disengaja atau bahkan tercabutnya gigi didekatnya pada pasien muda.
. ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007)

23

4. Molar
Untuk mengekspansi alveolus pada gigi molar diperlukan
tekanan terkontrol yang besar. Kunci keberhasilan pencabutan gigi-gigi
molar adalah keterampilan menggunakan elevator untuk luksasi dan
ekspansi alveolus, sebelum menggunakan tang. Tekanan yang
diperlukan untuk mencabut molar biasanya lebih besar dari pada gigi
premolar. ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007)

a. Pencabutan gigi molar atas


Gigi molar atas dicabut dengan menggunakan tang #150, #53
atau #210, dipegang dengan telapak tangan ke atas dan pinch
grasp.apabila ukuran mahkotanya cocok, lebih sering dipakai #53
daripada #150, karena adaptasi akar lebih baik dengan paruh anatomi.
Tang #210 walaupun ideal untuk pencabutan molar ketiga atas,
dianggap universal dan dapat digunakan untuk mencabut molar
pertama dan kedua kanan dan kiri atas. Tekanan pencabutan utama
adalah kea rah bukal, yaitu arah pengeluaran gigi. ( Fragiskos D.
Fragiskos, 2007)

b. Pencabutan gigi molar bawah

24

Tang yang digunakan untuk pencabutan gigi molar bawah


adalah #151, #23, #222. Tang #151 mempunyai kekurangan yang
sama dengan #150 atas bila digunakan untuk pencabutan molar, yaitu
paruh tangnya sempit sehingga menghalangi adaptasi anatomi yang
baik terhadap akar. Tang #17 bawah mempunyai paruh yang lebih
lebar, yang didesain untuk memegang bifurkasi dan merupakan pilihan
yang baik bila mahkotanya cocok. Tang #23 (cowhorn) penggunaanya
berbeda dengan tang mandibula yang lain, dalam hal tekanan
mencengkram yang dilakukan sepanjang proses pencabutan. Tekanan
ini dikombinasikan dengan tekanan lateral, yaitu kearah bukal dan
lingual, akan menyebabkan terungkitnya bifurkasi molar bawah dari
alveolus, atau fraktur pada bifurkasi. Tang #222, seperti tang #210
maksila, adalah spesifik untuk molar ketiga, tetapi sering digunakan
pula untuk pencabutan gigi M1 dan M2. Tekanan lateral permulaan
untuk pencabutan gigi molar adalah kearah lingual. Tulang bukal yang
tebal menghalangi gerakan ke bukal dan pada awal pencabutan gerak
ini hanya mengimbangi tekanan lingual yang lebih efektif. Gigi molar
sering dikeluarkan kearah lingual. ( Fragiskos D. Fragiskos, 2007)
I. prosedur pencabutan gigi permanen
prosedur pecabutan gigi merupakan langkah-langkah awal sebelum
melakukan pencabutan gigi agar tidak terjadi komplikasi pasca
pencabutan gigi (drg Niken Wahyu Wulandari,2012 )

25

a. Menyapa pasien dengan ramah


b. Anamnesa
1. Menanyakan dan mencatat identitas penderita :
Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
2. Keluhan Utama :
2.1 Menanyakan lokasi gigi yang sakit
2.2 Mulai kapan dirasakan
2.3 Sifat sakit :
a. Terus menerus
b. Kadang-kadang
Timbulnya rasa sakit :
a. Terus menerus
b. Kadang-kadang

26

Rasa sakit menyebar / setempat.


Sudah diobati / belum :
a. Macam obat ( jenis, jumlah )
b. Asal obat ( resep dokter / beli sendiri )
c. Minum obat terakhir kapan ?
c. Riwayat Kesehatan Umum :
Apakah punya penyakit :
Jantung : keluar keringat dingin, berdebar, sesak nafas, nyeri
dada
Kencing manis
Keluhan 3 P ( sering kencing, sering lapar, sering haus )
Bila ada luka tidak sembuh-sembuh
Bau mulut khas ( HALITOSIS )
Radang jaringan penyangga menyebabkan gigi goyang
( tanpa sebab lokal sebagian besar gigi goyang )
Darah tinggi bila ada riwayat tekanan darah tinggi periksa
tekanan darah.

27

Cara : lihat prosedur pemeriksaan tekanan darah.


Kehamilan pada wanita
Berapa umur kehamilan.

Yang

berhubungan

dengan

pemberian

obat

dan

anaesthesi.
Alergi berhubungan dengan pemberian obat.

Asma

apakah

asma

bronchiale/cardiole

yang

berhubungan dengan pemberian obat.


TBC preventif untuk operator ( drg, perawat gigi ), dengan
masker.
Hepatitis :
o berhubungan dengan gejala hepatitis ( rasa mual, muntah,
icterus )
o preventif untuk operator ( harus pakai handscoone )
HIV / AIDS / Penyakit kelamin
Bila kesulitan mengetahui pasien + / -

28

Proteksi diri sendiri dengan memakai sarung tangan, masker


( OPERATOR )

d. Pemeriksaan
E.O : Pipi diraba : dengan empat jari dengan menekan pipi secara
lembut bila ada benjolan / pembengkakan kekenyalannya : keras / lunak - ada fluktuasi / tidak
Bibir dilihat : cara :
ditarik dengan 2 jari ( telunjuk dan jempol )
untuk bibir bawah ditarik ke bawah
untuk bibir atas ditarik ke atas
ada / tidak perubahan warna
ada / tidak benjolan / pembengkakan
diraba :
bila ada perubahan warna / benjolan
diraba dengan
cara : ditekan secara lembut dengan 2 jari
( bila ada pembengkakan )

29

: keras / lunak
ada fluktuasi / tidak
Kel.Lymphe : diraba :

ada pembengkakan

/ tidak dengan

menggunakan 2 jari telunjuk + jari tengah

I.O :

1. Pemeriksaan pada gigi yang sakit dengan :


Perkusi : cara : sama dengan prosedur perkusi
Druk / ditekan : cara : sama dengan prosedur druk pada
tumpatan
2. Pemeriksaan pada seluruh gigi di jaringan sekitar gigi.
Meliputi : warna, posisi ( malposisi ) karies dan kelainankelainan lainnya
3. Mukosa pipi / jar.periodontal

30

e. Diagnosa
Ditegakkan berdasarkan :
Anamnesa
Keluhan utama
Pemeriksaan E.O
Pemeriksaan I.O
f. Rencana perawatan
Diagnosa
Bila masih infeksius akut, maka pencabutan di tunda,dan
menjelaskan kepada pasien tentang bahaya bila pencabutan
dilakukan pada gigi yang masih dalam keadaan infeksi akut.
Memberi pengobatan dan menjadwal rencana pencabutan.
Memberitahu pasien bahwa gigi nya harus dicabut, dan memberitahu
setiap tahap yang akan dilakukan serta menanyakan apakah
Pasien sudah makan atau belum
g. Tahap yang dilakukan
Perawatan yang perlu dilakukan setelah pencabutan gigi

31

1. Perhatikan semua keadaan gigi yang sudah dicabut dan


jaringan sekitarnya
2. Lakukan massage ringan pada mucosa gigi yang dicabut
maksudnya agar sirkulasi darah menjadi lancer sehingga
mempercepat penyembuhan
3. Bial disekitar jaringan / socket terdapat peredangan / ulcus beri
obat per oral ( anti biotic dan analgetic )
4. Berikan instruksi pada pasien setelah socket diberikan tampon
h.Instruksi instruksi pada pasien sesudah pencabutan gigi
1. Sesudah pencabutan socket dipijit, kemudian ditutup dengan
tampon ( tampon diberi bethadine/yodium ) untuk menghindari
bakteri dan makanan masuk kedalam socket
2. Pasien dianjurkan menggigit tampon selama setengah jam
3. Sesudah setengah jam tampon dibuang, tidak boleh diganti
dengan tampon baru
4. Tidak boleh kumur-kumur supaya darah yang membeku tidak
keluar
5. Untuk pasien yang perokok dianjurkan tidak merokok dalam
waktu 24 jam
6. Makan pada gigi yang lain

32

7. Tidak diperkenan menghisap hisap bekas cabutan


8. Bila terasa sakit dianjurkan minum obat analgetik
9. Pasien dianjurkan control keesokan harinya, bila tejadi
misalnya rasa sakit,bengkak dan lain-lain.

J. Kerangka konsep

Tindakan pencabutan gigi


tetap di poli gigi Puskesmas
Tamalanrea Kota Makassar

Dengan distribusi pasien


pencabutan gigi tetap
dengan berdasarkan :
1. Diagnose
2. Jenis kelamin
3. Usia

Keterangan
: Variabel yang diteliti

33

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis penilitian
Jenis penilitian yang digunakan adalah Deskriptif dengan
pendekatan observasional
B. Waktu dan Tempat Penilitian
1. Tempat penilitian di poli gigi Puskesmas Tamalanrea Kota
Makassar.
2. Waktu penilitian bulan Mei Juli 2015
C. Populasi, Sampel dan sampling penilitian
1. Populasi
populasi penilitian adalah semua pasien yang melakukan
tindakan pencabutan gigi di poli gigi Puskesmas Tamalanrea
2. Sampel

34

Sampel dalam penilitian ini adalah sampel penilitian seluruh


pasien yang melakukan pencabutan gigi di Puskesmas Tamalnrea
3. Tehnik sampling
Tehnik sampling dalam penilitan ini adalah dengan
menggunakan tehnik total sampling yaitu jumlah sampel yang
diteliti sama dengan jumlah populasi
D. Jenis Data
Jenis data yang digunakan adalah Data Sekunder dimana data
yang diperoleh dari Poli gigi Puskesmas Tamalanrea yang
menyangkut jumlah kunjungan masyarakat / pasien pencabutan
gigi tetap.
E. Tehnik pengumpulan data
1. Meminta izin kepada kepala Puskesmas Tamalanrea
2. Meminta Izin kepada yang bertugas dibagian poli gigi
3. Mengambil data Sekunder dari pihak yang bertugas di poli gigi
F. Pengolahan data
Setelah data dikumpulkan kemudian diolah dalam bentuk table
distribusi dan diagram batang
G. Instrumen penilitian
1. Bahan
a. data sekunder
2. Alat

35

a. pulpen
b. buku catatan
c. kalkulator
H. Definisi Operasional
a) Gigi merupakan organ terpenting pada manusia. Gigi
berfungsi sebagai pengunyahan setiap makanan yang
masuk kemulut untuk diteruskan kedalam tubuh
manusia.proses ini berlangsung mulai dari masa kanakkanak sampai dewasa. Kehilangan gigi akan menyebabkan
penurunan efesiensi pengunyahan yang berhubungan erat
dengan masalah karies,penyakit periodontal ,dan penyakit
lainnya
b) Pencabutan gigi adalah suatu proses pengeluaran gigi dari
alveolus, Pencabutan gigi juga merupakan operasi bedah
yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari
rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan
selanjutnya dihubungkan/disatukan oleh gerakan lidah dan
rahang.
I. Analisi data
a. Jenis data

: Data Sekunder

b. Pengolahan data

: Secara manual

c. Penyajian data

:Data disajikan dalam bentuk tabel dan


diagram batang

36

KERANGKA PIKIR
Pencabutan Gigi
Pencabutan Gigi

Pencabutan Intra
Alveolar

Pencabutan Trans
Alveolar

Indikasi & Kontraindikasi

Pemilihan Jenis
Anastesi

Pencabutan Khusus
Insisivus

Caninus
BAGAN PENELITIAN
Premolar
Prosedur pencabutan gigi
Molar
Pencabutan Gigi

Pengambilan Data Periode 2015

pengumpulan Data

Pengelompokan Data
Analisa Data
Dicocokkan
Pada
TabelBatang
Diagnosa Buat Dalam
Usia
Olah
Data
Bentuk
Diagram

37

Jenis

38