Anda di halaman 1dari 2

NU Online

ISLAMISME (4)

Gerakan Syiah di Indonesia


Senin, 30/05/2011 11:11

Oleh H. Asad Said Ali

Syiah yang berkembang di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua corak, yakni Syiah politik, dan Syiah non-politik. Syiah
politik adalah mereka yang memiliki cita-cita politik untuk membentuk negara Islam, sedangkan Syiah non-politik
mencita-citakan membentuk masyarakat Syiah. Syiah politik aktivitasnya menekankan pada penyebaran ide-ide politik dan
pembentukan lapisan intelektual Syiah, sedangkah Syiah non-politik menekankan pada pengembangan ide-ide fikih Syiah.
Syiah non-politik atau Syiah fikih masuk ke Indonesia sejak awal abad 19, yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari
Gujarat, India, dan ulama-ulama dari Hadramaut. Salah satu tokohnya yang membawa masuk ke Indonesia adalah Habib Saleh
Al-Jufri, mantan panglima perang Syarif Husen, kakek dari Raja Husen Yordania, yang dikalahkan oleh Abdul Aziz, bapak
dari Raja Abdullah Arab Saudi. Syiah yang mereka bawa ke Indonesia pada gelombang ini adalah Syiah Zaidiyah. Pada
awalnya cara dakwahnya dilakukan secara individu-individu, kemudian, sejak kemerdekaan beberapa tokoh dari mereka
membentuk pesantren, salah satunya adalah Husen Al-Habsyi, mendirikan Pesantren YAPI di Bangil, Jawa Timur.
Sementara itu, Syiah politik masuk Indonesia baru kemudian, yaitu sejak pecahnya Revolusi Iran tahun 1979. Jika Syiah fikih
mengembangkan dirinya melalui dukungan swasta, sebaliknya Syiah politik mendapat dukungan resmi dari pemerintah Iran.
Namun demikian sejak revolusi Iran, Syiah fikih juga mendapatkan dukungan resmi dari pemerintah.
Strategi dakwah Syiah politik pada awalnya menggunakan pendekatan kampus. Beberapa kampus yang menjadi basisnya
adalah Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Jayabaya Jakarta, Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung, dan Institut
Teknologi Bandung (ITB). Namun karena gagal dan kalah berkembang dengan kelompok Ihwan, akhirnya pada tahun 1990-an
strateginya diubah. Kini kelompok Syiah keluar dari kampus dan mengembangkan dakwahnya langsung ke tengah masyarakat
melalui pendirian sejumlah yayasan dan membentuk ormas bernama IJABI (Iakatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia).
Yayasan-yayasan itu sebagian mengkhususkan pada kegiatan penerbitan buku, sebagian lainnya membangun
kelompok-kelompok intelektual dengan program beasiswa ke luar negeri (ke Qum, Iran) dan sebagian lagi mengembangkan
kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.
Sejauh yang dapat diketahui, generasi program beasiswa ke Qum, Iran, yang pertama adalah Umar Shahab dan Husein Shahab.
Keduanya berasal dari YAPI, Bangil, dan pulang ke Indonesia tahun 1970-an. Kedua tokoh inilah yang mengembangkan
Syiah dikalangan kampus pada awal 1980-an. Tidak banyak yang berhasil dikader dan menjadi tokoh. Dari UI misalnya,
diantaranya adalah Agus Abubakar dan Sayuti As-Syatiri. Dari Universitas Jayabaya muncul Zulfan Lindan, dan dari ITB
muncul Haidar Bagir. Namun perlu digarisbawahi, di luar jalur kedua tokoh diatas, pada pertengahan 1980-an muncul
Jalaluddin Rahmat sebagai cendekiawan Syiah.
Namun seiring berhasilnya revolusi Islam di Iran, sejak 1981 gelombang pengiriman mahasiswa ke Qum mulai semakin
intensif. Generasi alumni Qum kedua inilah yang sekarang banyak memimpin yayasan-yayasan Syiah dan menjadi pelopor
gerakan Syiah di Indonesia.
Kini, gerakan Syiah di Indonesia diorganisir olehl Islamic Cultural Center (ICC), dipimpin Syaikh Mohsen Hakimollah, yang
datang langsung dari Iran. Secara formal organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. ICC Jakarta dibawah
kendali dan pengawasan langsung Supreme Cultural Revolution Council (SCRC) Iran.
Di bidang pendidikan ICC mengorganisir lembaga-lembaga pendidikan, sosial dan penerbitan yang jumlahnya sangat banyak
dan bertebaran diberbagai daerah. Sedangkan dibidang dakwah, ICC bergerak di dua sektor, pertama, gerakan
kemasyarakatan, yang dijalankan oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI), kedua, gerakan politik, yang dijalankan oleh yayasan
OASE. Yayasan ini mengkhusukan bergerak dibidang mobilisasi opini publik. Sedangkan untuk bidang gerakan politik dan
parlemen dikomandani oleh sejumlah tokoh. Strategi politik parlementer yang mereka tempuh ini dilakukan dengan cara
menyebarkan kader ke sejumlah partai politik.
Mengenai IJABI sebagai motor gerakan kemasyarakatan, hingga sekarang strukturnya telah meluas secara nasional hingga di
Daerah Tingkat II. Tentu format yang demikian dapat menjadi kekuatan efektif untuk memobilisasi pengaruh dan kepentingan
politik. Kader-kader IJABI selain telah banyak yang aktif di dunia kampus, kelompok-kelompok pengajian, lembaga-lembaga
sosial dan media, di daerah-daerah juga telah banyak yang menjadi anggota parlemen. Di level daerah inilah IJABI memiliki
peranan penting sebagai simpul gerakan dakwah dan politik di masing-masing daerah.
Marja Al Taqlid dan Sayap Militer Syiah
Dewasa ini Syiah Indonesia sedang berupaya membuat lembaga yang disebut Marja al-Taqlid, sebuah institusi kepemimpinan
agama yang sangat terpusat, diisi oleh ulama-ulama Syiah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk pembentukan

NU Online
pemerintah dan konstitusi Islam. Di beberapa negara yang masuk dalam kaukus Persia lembaga itu telah berdiri kokoh dan
memainkan peran yang efektif dengan kepemimpinan yang sangat kuat. Di Irak misalnya, lembaga Marja Al Taqlid dipimpin
oleh Ayatollah Agung Ali al-Sistani.
Lembaga Marja Al Taqlid, selain berfungsi menyusun dan mempersiapkan pembentukan pemerintahan dan konstitusi Islam,
juga berfungsi menyusun prioritas-prioritas pemerintah, termasuk pembentukan sayap militer yang disebut amktab atau lajnah
asykariyah. Selama Marja al Taqlid ini belum terbentuk maka pembentukan maktab askariyah pun pastilah belum sistematis
dan terstruktur. (bersambung)
*Wakil ketua umum PBNU