Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah suatu neoplasma ganas yang
berasal dari sel primitif (poorly differentiated cells) di daerah metafise tulang panjang pada
anak-anak. Disebut osteogenik oleh karena perkembangannya berasal dari seri osteoblastik
sel mesenkim primitif. Osteosarkoma merupakan neoplasma primer dari tulang yang paling
sering terjadi. Meskipun tumor ini dahulu biasanya fatal, kemajuan dalam pengobatan telah
secara dramatis memperbaiki prognosis untuk neoplasma ini.1
Kasus osteosarcoma paling banyak terjad pada ianak remaja dan mereka yang baru
menginjak masa dewasa, tetapi dapat juga menyerang pasien penyakit paget yang berusia
lebih dari 50 tahun. Dalam klasifikasi sederhana, dapat dibagi menjadi bentuk primer dan
bentuk sekunder. Laki-laki lebih sering terkena daripada perempuan.
Osteosarkoma biasanya terdapat pada metafisis tulang panjang di mana lempeng
pertumbuhannya (epiphyseal growth plate) yang sangat aktif; yaitu pada distal femur,
proksimal tibia dan fibula, proksimal humerus dan pelvis. Pada orang tua umur di atas 50
tahun, osteosarkoma bisa terjadi akibat degenerasi ganas dari pagets disease, dengan
prognosis sangat jelek.1,2
Osteosarkoma adalah tumor tulang dengan angka kematian 80% setelah 5 tahun di
diagnosis. Osteosarkoma klasik didefinisikan dengan sarkoma sel spindel dengan derajat
malignansi tinggi dan sangat khas memproduksi matriks osteoid. Osteosarkoma didapatkan
kira-kira 3 orang per 10.000 di United States.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada daerah intra-seluler. Tulang berasal dari
embryonic hyaline cartilage yang mana melalui proses osteogenesis menjadi tulang. Proses
ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat
penimbunan garam kalsium.
Tulang dalam garis besarnya dibagi atas :
1. Tulang panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, fibula, ulna dan
humerus,dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis
epifisis disebut metafisis. Daerah ini merupakan daerah yang sangat sering ditemukan
adanya kelainan atau penyakit, oleh karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang
aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan
pada daerah lempeng epifisis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.
2. Tulang pendek
Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang karpal.
3. Tulang pipih
Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, tulang scapula dan tulang pelvis.

2.2

FISIOLOGI

Gambar 1. Tulang panjang (humerus)

Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi
utama, yaitu:
1. Membentuk rangka badan
2. Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot
3. Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam seperti
otak, sumsum tulang belakang, jantung, dan paru-paru.
4. Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium, dan garam.
5. Sebagai organ yang berfungsi sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel-sel
darah merah, sel-sel darah putih, dan trombosit.
Pertumbuhan tulang dibagi atas:
1. Pertumbuhan memanjang tulang
Pertumbuhan interstisial tidak dapat terjadi di dalam tulang, Oleh karena itu
pertumbuhan interstisial terjadi melalui proses osifikasi endokondral pada tulang rawan.
Ada dua lokasi pertumbuhan tulang rawan pada tulang panjang, yaitu:
a. Tulang rawan artikuler
Pertumbuhan tulang panjang terjadi pada daerah tulang rawan artikuler dan
merupakan tempat satu-satunya bagi tulang untuk bertumbuh pada daerah
epifisis.Pada tulang pendek, pertumbuhan tulang dapat terjadi pada seluruh daerah
b.

tulang.
Tulang rawan lempeng epifisis
Tulang rawan lempeng epifisis memberikan kemungkinan metafisis dan
diafisis untuk bertumbuh memanjang.Lempeng epifisis adalah tulang rawan yang
berbentuk diskus (piringan) yang terletak antara epifisis dan metafisis.Lempeng
epifisis merupakan bagian tulang yang bertanggung jawab dalam perkembangan dan
pertumbuhan memanjang pada tulang matur. Terdapat beberapa tempat osifikasi
dalam tubuh yaitu pusat osifikasi primer,yang bertanggung jawab untuk
pertumbuhan tulang-tulang kecil seperti tulang lunatum, navikular, talus; pada tulang
panjang dikenal adanya osifikasi sekunder atau epifisis tekanan,misalnya caput
femur dan sendi lutut; dikenal pula adanya epifisis traksi atau apofisis pada daerah
trokanter

mayor,

trokanter

minor,

tuberkulum

mayus

humeri,

sehingga

perkembangan dan pertumbuhan tulang pada tempat-tempat tersebut dapat terjadi


melalui tekanan atau tarikan yang sesuai dengan hokum Wolff. Proses pertumbuhan
ini terus-menerus pada manusia selama hidupnya.
Perkembangan dan pertumbuhan sistem muskuloskeletal merupakan suatu
proses yang berkelanjutan dimana terjadi pembentukan, maturasi serta perombakan

dari jaringan mesenkim, pembentukan tulang rawan kemudian terjadi perombakan


kembali menjadi tulang.
Vaskularisasi lempeng epifisis berasal dari arteri metafisis dan arteri
epifisis.Epifisis

dan

lempeng

epifisis

mempunyai

vaskularisasi

yang

unik.Permukaan epifisis ditutupi oleh tulang rawan artikuler. Pembuluh darah


epifisis juga bertanggung jawab terhadap vaskularisasi sel-sel lempeng epifisis
sehingga bila terjadi iskemi pada epifisis maka akan terjadi kerusakan lempeng
epifisis yang menimbulkan gangguan dalam pertumbuhan memanjang tulang.
Pertumbuhan memanjang tulang berasal dari lempeng epifisis dimana epifisis
berkembang dalam tiga dimensi dari zona tulang rawan sendi yang dalam.
Lempeng epifisis tersusun atas tiga lapisan, yaitu :
1)

2)

3)

Zona pertumbuhan
Germinal
Proliferasi
Palisade
Zona transformasi tulang rawan
Hipertrofi
Kalsifikasi
Degenerasi
Zona osifikasi
Vascular entry
Osteogenesis

Gambar 3.Photomicrograph dari lempeng epifisis


Dikutip dari kepustakaan 10

2. Pertumbuhan melebar tulang


4

Pertumbuhan melebar terjadi akibat pertumbuhan aposisi osteoblas pada lapisan dalam
periosteum dan merupakan suatu jenis osifikasi intramembran.
3. Remodelling tulang
Selama pertumbuhan memanjang tulang maka daerah metafisis mengalami remodelling
(pembentukan) dan pada saat yang bersamaan epifisis menjauhi batang tulang secara
progresif.3

2.3 Osteosarcoma
Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah suatu neoplasma ganas yang
berasal dari sel primitif (poorly differentiated cells) di daerah metafise tulang panjang pada
anak-anak. Disebut osteogenik oleh karena perkembangannya berasal dari seri osteoblastik
sel mesensim primitif. Osteosarkoma merupakan neoplasma primer dari tulang yang tersering
nomer setelah myeloma multipel.3,4
2.3.1 Etiologi
Penyebab pasti dari osteosarkoma tidak diketahui, namun terdapat berbagai faktor
resiko untuk terjadinya osteosarkoma yaitu:
a.

Pertumbuhan tulang yang cepat : pertumbuhan tulang yang cepat terlihat sebagai
predisposisi osteosarkoma, seperti yang terlihat bahwa insidennya meningkat pada
saat pertumbuhan remaja. Lokasi osteosarkoma paling sering pada metafisis, dimana

b.

c.

area ini merupakan area pertumbuhan dari tulang panjang.


Faktor lingkungan: satu satunya faktor lingkungan yang diketahui adalah paparan
terhadap radiasi.
Predisposisi genetik: displasia tulang, termasuk penyakit paget, fibrous dysplasia,
enchondromatosis, dan hereditary multiple exostoses and retinoblastoma (germ-line
form). Kombinasi dari mutasiRBgene (germline retinoblastoma) dan terapi radiasi
berhubungan dengan resiko tinggi untuk osteosarkoma, Li-Fraumeni syndrome
(germline p53 mutation), dan Rothmund-Thomson syndrome (autosomal resesif yang
berhubungan dengan defek tulang kongenital, displasia rambut dan tulang,
hypogonadism, dan katarak). 4

2.3.2

Epidemiologi
Di Amerika Serikat insiden pada usia kurang dari 20 tahun adalah 4.8 kasus per satu

juta populasi. Insiden dari osteosarkoma konvensional paling tinggi pada usia 10-20 tahun,
Setidaknya 75% dari kasus osteosarkoma adalah osteosarkoma konvensional. Observasi ini
berhubungan dengan periode maksimal dari pertumbuhan skeletal. Namun terdapat juga
insiden osteosarkoma sekunder yang rendah pada usia 60 tahun, yang biasanya berhubungan
dengan penyakit paget.3,4,5
Kebanyakan osteosarkoma varian juga menunjukkan distribusi usia yang sama
dengan osteosarkoma konvensional, terkecuali osteosarkoma intraosseous low-grade,
gnathic,

dan parosteal yang

menunjukkan

insiden

tinggi

pada

usia

dekade

ketiga.Osteosarkoma konvensional muncul pada semua ras dan etnis, tetapi lebih sering pada
afrika amerika daripada kaukasian.Osteosarkoma konvensional lebih sering terjadi pada pria,
6

dengan rasio 3:2 terhadap wanita. Perbedaaan ini dikarenakan periode pertumbuhan skeletal
yang lebih lama pada pria. 5
2.3.3

Klasifikasi
Klasifikasi dari osteosarkoma merupakan hal yang kompleks, namun 75% dari

osteosarkoma masuk kedalam kategori klasik atau konvensional, yang termasuk


osteosarkoma osteoblastic, chondroblastic, dan fibroblastic. Sedangkan sisanya sebesar 25%
diklasifikasikan sebagai varian berdasarkan: 3,4,5
(1) karakteristik klinik seperti pada kasus osteosarkoma rahang, osteosarkoma postradiasi,
atau osteosarkoma paget;
(2) karakteristik morfologi, seperti pada osteosarkoma telangiectatic, osteosarkoma smallcell, atau osteosarkoma epithelioid; dan
(3) lokasi, seperti pada osteosarkoma parosteal dan periosteal.
Osteosarkoma konvensional muncul paling sering pada metafisis tulang panjang,
terutama pada distal femur (52%), proximal tibia (20%) dimana pertumbuhan tulang tinggi.
Tempat lainnya yang juga sering adalah pada metafisis humerus proximal (9%). Penyakit ini
biasanya menyebar dari metafisis ke diafisis atau epifisis. 1 Kebanyakan dari osteosarkoma
varian juga menunjukkan predileksi yang sama, terkecuali lesi gnathic pada mandibula dan
maksila, lesi intrakortikal, lesi periosteal dan osteosarkoma sekunder karena penyakit paget
yang biasanya muncul pada pelvis dan femur proximal.2,5,7,8
Stadium konvensional yang biasa digunakan untuk tumor keras lainnya tidak tepat
untuk digunakan pada tumor skeletal, karena tumor ini sangat jarang untuk bermetastase ke
kelenjar limfa. Pada tahun 1980 Enneking memperkenalkan sistem stadium berdasarkan
derajat, penyebaran ekstrakompartemen, dan ada tidaknya metastase. Sistem ini dapat
digunakan pada semua tumor muskuloskeletal (tumor tulang dan jaringan lunak). Komponen
utama dari sistem stadium berdasarkan derajat histologi (derajat tinggi atau rendah), lokasi
anatomi dari tumor (intrakompartemen dan ekstrakompartemen), dan adanya metastase.1,8

Untuk menjadi intra kompartemen, osteosarkoma harus berada diantara periosteum.


Lesi tersebut mempunyai derajat IIA pada sistem Enneking. Jika osteosarkoma telah
menyebar keluar dari periosteum maka derajatnya menjadi IIB. Untuk kepentingan secara
praktis maka pasien digolongkan menjadi dua yaitu pasien tanpa metastase (localized
osteosarkoma) dan pasien dengan metastase (metastatic osteosarkoma).

2.3.4

Patofisiologi
Proses perjalanan penyakit pada osteosarkoma belum dapat diketahui dengan jelas

dan pasti, dari beberapa penelitian mengungkapkan adanya pembelahan sel-sel tumor
disebabkan karena tubuh kehilangan gen suppressor tumor, sehingga sel-sel tulang dapat
membelah tanpa terkendali.
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor.
Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau
penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi
destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi
penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi
pertumbuhan tulang yang abortif. 3

Adanya tumor tulang


Jaringan lunak di invasi oleh tumor
8

Reaksi tulang normal


Osteolitik (destruksi tulang)
Osteoblastik (pembentukan tulang)
Destruksi tulang local
Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi
Pertumbuhan tulang yang abortif
2.3.5

Manifestasi Klinis
Gejala biasanya telah ada selama beberapa minggu atau bulan sebelum pasien

didiagnosa. Gejala yang paling sering terdapat adalah nyeri, terutama nyeri pada saat aktifitas
dan massa atau pembengkakan. Tidak jarang terdapat riwayat trauma, meskipun peran trauma
pada osteosarkoma tidaklah jelas. Fraktur patologis sangat jarang terjadi, terkecuali pada
osteosarkoma telangiectatic yang lebih sering terjadi fraktur patologis.
Nyeri pada ekstrimitas dapat menyebabkan kekakuan. Riwayat pembengkakan dapat
ada atau tidak, tergantung dari lokasi dan besar dari lesi. Gejala sistemik, seperti demam atau
keringat malam sangat jarang. Penyebaran tumor pada paru-paru sangat jarang menyebabkan
gejala respiratorik dan biasanya menandakan keterlibatan paru yang luas.4,5,6

Gambar 4: Pasien dengan osteosarkoma di femur distal

Penemuan pada pemeriksaan fisik biasanya terbatas pada tempat utama tumor. Massa
yang dapat dipalpasi dapat ada atau tidak, dapat nyeri tekan dan hangat pada palpasi,
meskipun gejala ini sukar dibedakan dengan osteomielitis. Pada inspeksi dapat terlihat
peningkatan vaskularitas pada kulit. Penurunan range of motion pada sendi yang sakit dapat

diperhatikan pada pemeriksaan fisik.Lymphadenopathy merupakan hal yang sangat jarang


terjadi.1
2.3.6

Pemeriksaan Laboratorium
Kebanyakan pemeriksaan laboratorium yang digunakan berhubungan dengan

penggunaan kemoterapi. Sangat penting untuk mengetahui fungsi organ sebelum pemberian
kemoterapi dan untuk memonitor fungsi organ setelah kemoterapi. Pemeriksaan darah untuk
kepentingan prognosa adalah lactic dehydrogenase (LDH) dan alkaline phosphatase (ALP).
Pasien dengan peningkatan nilai ALP pada saat diagnosis mempunyai kemungkinan lebih
besar untuk mempunyai metastase pada paru. Pada pasien tanpa metastase, yang mempunyai
peningkatan nilai LDH kurang dapat menyembuh bila dibandingkan dengan pasien yang
mempunyai nilai LDH normal.
Beberapa pemeriksaan laboratorium yang penting termasuk:

LDH
ALP (kepentingan prognostik)
Hitung darah lengkap
Tes fungsi hati: Aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT),
bilirubin, dan albumin.
Elektrolit : Sodium, potassium, chloride, bicarbonate, calcium, magnesium, phosphorus.
Tes fungsi ginjal: blood urea nitrogen (BUN), creatinine.6,7

2.3.7

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan X-ray merupakan modalitas utama yang digunakan untuk investigasi.

Ketika dicurigai adanya osteosarkoma, MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor
pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. CT kurang sensitf bila
dibandingkan dengan MRI untuk evaluasi lokal dari tumor namun dapat digunakan untuk
menentukan metastase pada paru-paru. Isotopic bone scanning secara umum digunakan untuk
mendeteksi metastase pada tulang atau tumor synchronous, tetapi MRI seluruh tubuh dapat
menggantikan bone scan.
1.

X-ray
Foto polos merupakan hal yang esensial dalam evaluasi pertama dari lesi tulang karena

hasilnya dapat memprediksi diagnosis dan penentuan pemeriksaan lebih jauh yang tepat.
Gambaran foto polos dapat bervariasi, tetapi kebanyakan menunjukkan campuran antara area
litik dan sklerotik.

10

Gambar 5: Foto polos dari osteosarkoma dengan gambaran Codman triangle (arrow) dan difus,
mineralisasi osteoid diantara jaringan lunak. Perubahan periosteal berupa Codman triangles
(white arrow) dan masa jaringan lunak yang luas (black arrow).

Lesi terlihat agresif, dapat berupa moth eaten dengan tepi tidak jelas atau kadangkala
terdapat lubang kortikal multipel yang kecil. Setelah kemoterapi, tulang disekelilingnya dapat
membentuk tepi dengan batas jelas disekitar tumor. Penyebaran pada jaringan lunak sering
terlihat sebagai massa jaringan lunak. Dekat dengan persendian, penyebaran ini biasanya sulit
dibedakan dengan efusi. Area seperti awan karena sclerosis dikarenakan produksi osteoid
yang maligna dan kalsifikasi dapat terlihat pada massa. Reaksi periosteal seringkali terdapat
ketika tumor telah menembus kortek. Berbagai spektrum perubahan dapat muncul, termasuk
Codman triangles dan multilaminated, spiculated, dan reaksi sunburst, yang semuanya
mengindikasikan proses yang agresif.

11

Gambar 6: Sunburst appearance pada osteosarkoma di femur distal

Gambar 7: gambaran sklerotik dan litik pada proximal


humerus kanan

2. CT Scan
CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama
pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula dan
maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan osteosarkoma
sekunder). Gambaran cross-sectional memberikan gambaran yang lebih jelas dari destruksi
tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya daripada foto polos. CT dapat
memperlihatkan matriks mineralisasi dalam jumlah kecil yang tidak terlihat pada gambaran
foto polos. CT terutama sangat membantu ketika perubahan periosteal pada tulang pipih sulit
untuk diinterpretasikan. CT jarang digunakan untuk evaluasi tumor pada tulang panjang,
namun merupakan modalitas yang sangat berguna untuk menentukan metastasis pada paru.6
CT sangat berguna dalam evaluasi berbagai osteosarkoma varian. Pada osteosarkoma
telangiectatic dapat memperlihatkan fluid level, dan jika digunakan bersama kontras dapat
membedakan dengan lesi pada aneurysmal bone cyst dimana setelah kontras diberikan maka
akan terlihat peningkatan gambaran nodular disekitar ruang kistik.7
3. MRI
MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena
kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. MRI merupakan
tehnik pencitraan yang paling akurat untuk menentuan stadium dari osteosarkoma dan
membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat. Untuk tujuan stadium dari
12

tumor, penilaian hubungan antara tumor dan kompartemen pada tempat asalnya merupakan
hal yang penting. Tulang, sendi dan jaringan lunak yang tertutupi fascia merupakan bagian
dari kompartemen.6,7

Gambar 8: Gambaran MRI menunjukkan kortikal destruksi dan adanya massa jaringan lunak.

4.

Bone Scintigraphy
Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada

bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP). Bone scan
sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit multifokal. skip lesion dan metastase paruparu dapat juga dideteksi, namun skip lesion paling konsisten jika menggunakan MRI.
Karena osteosarkoma menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop maka bone scan
bersifat sensitif namun tidak spesifik. 6,7,8

2.3.8

Diagnosis Banding
Beberapa kelainan yang menimbulkan bentukan massa pada tulang sering sulit

dibedakan dengan osteosarkoma, baik secara klinis maupun dengan pemeriksaan pencitraan.
Adapun kelainan-kelainan tersebut antara lain:3
1. Ewings sarcoma
2. Osteomyelitis
3. Osteoblastoma
4. Giant cell tumor

2.3.9

PENATALAKSANAAN
Preoperatif kemoterapi diikuti dengan pembedahan limb-sparing (dapat dilakukan

pada 80% pasien) dan diikuti dengan postoperatif kemoterapi merupakan standar manajemen.
13

Osteosarkoma merupakan tumor yang radioresisten, sehingga radioterapi tidak mempunyai


peranan dalam manajemen rutin.6,7
a) Kemoterapi
Sebelum penggunaan kemoterapi (dimulai tahun 1970), osteosarkoma ditangani secara
primer hanya dengan pembedahan (biasanya amputasi). Meskipun dapat mengontrol tumor
secara lokal dengan baik, lebih dari 80% pasien menderita rekurensi tumor yang biasanya
berada pada paru-paru. Tingginya tingkat rekurensi mengindikasikan bahwa pada saat
diagnosis pasien mempunyai mikrometastase. Oleh karena hal tersebut maka penggunaan
adjuvant kemoterapi sangat penting pada penanganan pasien dengan osteosarkoma.
Kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat vital pada osteosarkoma, terbukti
dalam 30 tahun belakangan ini dengan kemoterapi dapat mempermudah melakuan prosedur
operasi penyelamatan ekstremitas (limb salvage procedure) dan meningkatkan survival rate
dari penderita. Kemoterapi juga mengurangi metastase ke paru-paru dan sekalipun ada,
mempermudah melakukan eksisi pada metastase tersebut.
Regimen standar kemoterapi yang dipergunakan dalam pengobatan osteosarkoma
adalah kemoterapi preoperatif (preoperative chemotherapy) yang disebut juga dengan
induction chemotherapy atau neoadjuvant chemotherapy dan kemoterapi postoperatif
(postoperative chemotherapy) yang disebut juga dengan adjuvant chemotherapy.
Kemoterapi preoperatif merangsang terjadinya nekrosis pada tumor primernya,
sehingga tumor akan mengecil. Selain itu akan memberikan pengobatan secara dini terhadap
terjadinya mikro-metastase. Keadaan ini akan membantu mempermudah melakukan operasi
reseksi secara luas dari tumor dan sekaligus masih dapat mempertahankan ekstremitasnya.
Pemberian kemoterapi postoperatif paling baik dilakukan secepat mungkin sebelum 3 minggu
setelah operasi.
b) Pembedahan
Tujuan utama dari reseksi adalah keselamatan pasien. Reseksi harus sampai batas bebas
tumor. Semua pasien dengan osteosarkoma harus menjalani pembedahan jika memungkinkan
reseksi dari tumor primer. Tipe dari pembedahan yang diperlukan tergantung dari beberapa
faktor yang harus dievaluasi dari pasien secara individual. Batas radikal, didefinisikan
sebagai pengangkatan seluruh kompartemen yang terlibat (tulang, sendi, otot) biasanya tidak
diperlukan. Hasil dari kombinasi kemoterapi dengan reseksi terlihat lebih baik jika

14

dibandingkan dengan amputasi radikal tanpa terapi adjuvant, dengan tingkat 5-year survival
rates sebesar 50-70% dan sebesar 20% pada penanganan dengan hanya radikal amputasi.
Fraktur patologis, dengan kontaminasi semua kompartemen dapat mengeksklusikan
penggunaan terapi pembedahan limb salvage, namun jika dapat dilakukan pembedahan
dengan reseksi batas bebas tumor maka pembedahan limb salvage dapat dilakukan. Pada
beberapa keadaan amputasi mungkin merupakan pilihan terapi, namun lebih dari 80% pasien
dengan osteosarkoma pada eksrimitas dapat ditangani dengan pembedahan limb salvage dan
tidak membutuhkan amputasi.

2.3.10 PROGNOSIS
Faktor yang mempengaruhi prognosis termasuk lokasi dan besar dari tumor, adanya
metastase, reseksi yang adekuat, dan derajat nekrosis yang dinilai setelah kemoterapi.
a) Lokasi tumor
Lokasi tumor mempunyai faktor prognostik yang signifikan pada tumor yang
terlokalisasi. Diantara tumor yang berada pada ekstrimitas, lokasi yang lebih distal
mempunyai nilai prognosa yang lebih baik daripada tumor yang berlokasi lebih proksimal.
Tumor yang berada pada tulang belakang mempunyai resiko yang paling besar untuk
progresifitas dan kematian. Osteosarkoma yang berada pada pelvis sekitar 7-9% dari semua
osteosarkoma, dengan tingkat survival sebesar 20% 47%.8

b) Ukuran tumor
Tumor yang berukuran besar menunjukkan prognosa yang lebih buruk dibandingkan
tumor yang lebih kecil. Ukuran tumor dihitung berdasarkan ukuran paling panjang yang
dapat terukur berdasarkan dari dimensi area cross-sectional.1,8
c) Metastase
Pasien dengan tumor yang terlokalisasi mempunyai prognosa yang lebih baik
daripada yang mempunyai metastase. Sekitar 20% pasien akan mempunyai metastase pada
saat didiagnosa, dengan paru-paru merupakan tempat tersering lokasi metastase. Prognosa
pasien dengan metastase bergantung pada lokasi metastase, jumlah metastase, dan
resectability dari metasstase. Pasien yang menjalani pengangkatan lengkap dari tumor primer
dan metastase setelah kemoterapi mungkin dapat bertahan dalam jangka panjang, meskipun
15

secara keseluruhan prediksi bebas tumor hanya sebesar 20% sampai 30% untuk pasien
dengan metastase saat diagnosis.
Prognosis juga terlihat lebih baik pada pasien dengan nodul pulmoner yang sedikit
dan unilateral, bila dibandingkan dengan nodul yang bilateral, namun bagaimanapun juga
adanya nodul yang terdeteksi bukan berarti metastase. Derajat nekrosis dari tumor setelah
kemoterapi tetap merupakan faktor prognostik. Pasien dengan skip metastase dan
osteosarkoma multifokal terlihat mempunyai prognosa yang lebih buruk.
d) Reseksi tumor
Kemampuan untuk direseksi dari tumor mempunyai faktor prognosa karena
osteosarkoma relatif resisten terhadap radioterapi. Reseksi yang lengkap dari tumor sampai
batas bebas tumor penting untuk kesembuhan.
e) Nekrosis tumor setelah induksi kemoterapi
Kebanyakan protokol untuk osteosarkoma merupakan penggunaan dari kemoterapi
sebelum dilakukan reseksi tumor primer, atau reseksi metastase pada pasien dengan
metastase. Derajat nekrosis yang lebih besar atau sama dengan 90% dari tumor primer setelah
induksi dari kemoterapi mempunyai prognosa yang lebih baik daripada derajat nekrosis yang
kurang dari 90%, dimana pasien ini mempunyai derajat rekurensi 2 tahun yang lebih tinggi.
Tingkat kesembuhan pasien dengan nekrosis yang sedikit atau sama sekali tidak ada, lebih
tinggi bila dibandingkan dengan tingkat kesembuhan pasien tanpa kemoterapi.1,8
BAB III
PENUTUP
Sarkoma osteogenik atau osteosarkoma merupakan neoplasma tulang primer yang
sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering
terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. Kasus sarkoma
osteogenik paling banyak menyerang anak remaja dan mereka yang baru menginjak masa
dewasa, tetapi dapat juga menyerang penderita penyakit Paget yang berusia lebih dari 50
tahun.
Penyebab utama masih misteri, tetapi faktor genetik, virus onkologi, dan terpapar
radiasi disinyalir sebagai asal muasal timbul sarkoma osteogenik ini. Nyeri yang menyertai
destruksi tulang dan erosi adalah gejala umum dari penyakit ini.
16

Beberapa jenis tumor primer seperti sarkoma osteogenik dapat dirawat paling baik
dengan jalan amputasi atau melakukan pembedahan ablative secara menyeluruh. Meskipun
kemoterapi dan imunoterapi agaknya juga mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan,
tetapi sering kali perlu dilakukan pembedahan untuk membuang tumor dan semua jaringan di
sekitarnya. Selain itu, juga dikembangkan terapi x-ray sinar tingkat tinggi.

17

DAFTAR PUSTAKA
1.

Bechler JR, Robertson WW, Meadows AT, Womer RB. Osteosarcoma as asecond
malignant neoplasmin children. J Bone Joint Surg Am1992. 74:1079-83.

2.

Gebhardt, Mark C, Hornicek, Francis J. Osteosarcoma. Orthopaedic knowledgeupdate


musculoskeletal tumors. American Academy of Orthopaedic Surgeons.2002.p.175-82.
1st ed. McGraw-Hill: New York

3.

Rasjad Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. 2009. Jakarta,Yarsif Watampone.

4.

Mehlman

T.

Charles.

2010.

Osteosarcoma.

http://emedicine.medscape.com/article/1256857-overview
5.

Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan kuliah ilmu bedah. 2008. Edisi 2. Hal.522533.Binarupa Aksara : Tangerang.

6.

Salter, Robert B. Textbook of disorders and injuries of the musculoskeletal system. 3rd
ed.; 1999.p.400-3. Lippincott Williams & Wilkins : Philadeiphia.

7.

Skinner, Harry B. Current diagnosis & treatment in orthopaedics. Lange Medical


Book. 3rd ed. 2003.p.312-8. McGraw-Hill : NewYork

8.

Tsuji Y, Kusuzaki K, Kanemitsu K, et al. Calcaneal osteosarcoma associated with


werner syndrome. The Journal of Bone and Joint Surgery 2000;82:9-12.

18