Anda di halaman 1dari 29

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
.1 Bayi Baru Lahir Normal
2.1.1 Pengertian Bayi Baru Lahir Normal
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan
37 sampai 42 minggu dan berat badanya 2.500-4.000 gram (Dewi,
2010).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan presentasi
belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia
kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat
badan 2500-4.000 gram, nilai APGAR>7 dan tanpa cacat bawaan
(Rukiyah, dkk, 2010).
2.1.2 Ciri Ciri Bayi Baru Lahir Normal
Menurut Marmi, Rahardjo (2012) menyebutkan ciri-ciri bayi baru
lahir normal yaitu sebagai berikut:
a. Berat badan 2.500-4.000 gram.
b. Panjang badan 48-52 cm.
c. Lingkar dada 30-33 cm.
d. Lingkar kepala 33-35 cm.
e. Frekuensi denyut jantung 100-160 x/menit.
f. Pernafasan 40-60 x/menit.
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan yang
cukup.
h. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah
sempurna.
i. Kuku agak panjang dan lemas.
j. Genetalia
Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora.
Laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada.
k. Reflek hisap dan menelan sudah berbentuk dengan baik.
l. Refleks morro atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik.
m. Refleks graps atau menggenggam sudah baik.
n. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama,
mekonium berwarna hitam kecoklatan.

2.1.3 Tahapan Bayi Baru Lahir


Menurut Dewi (2010) ada beberapa tahapan bayi barulahir yaitu:
a. Tahap I terjadi segera setelah lahir, selama menit-menit pertama
kelahiran. Pada tahap ini digunakan sistem scoring apgar untuk fisik
dan scoring gray untuk interaksi bayi dan ibu.
b. Tahap II disebut tahap transisional reaktivitas. Pada tahap ini
dilakukan pengkajian selama 24 jam pertama terhadap adanya
perubahan perilaku.
c. Tahap III disebut tahap periodik, pengkajian dilakukan setelah 24
jam pertama yang meliputi pemeriksaan seluruh tubuh.
2.1.4 Faktor Risiko dan Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada bayi baru lahir aterm yaitu;
Faktor Resiko Intrapartum
a) Tidak dilakukannya IMD
b) Lingkungan yang bersuhu dingin/ber-AC

Komplikasi
Hipotermi yaitu keadaan BBL di mana
suhu tubuh di bawah 36,5 0C, yang terbagi
atas hipotermia ringan (36-36,5oC),
hipotermia sedang (32-36oC), hipotermia

a) Partus presipitatus
b) Ketuban pecah lama > 18 jam sebelum
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
a)

persalinan
Partus lama > 24 jam
Kala 2 lama
Makrosomia
Prolaps tali pusat
Solusio plasenta
Plasenta previa
Perdarahan intrapartum
Korioamnionitis
Presentasi abnormal
Tidak diberikan obat tetes mata

berat (< 320C)


Asfiksia adalah kegagalan napas secara
spontan dan teratur pada saat bayi lahir
atau beberapa saat setelah bayi lahir yang
ditandai dengan hipoksemia, hiperkarpnia,
dan asidosis.

Infeksi Mata
Pada proses persalinan alami, bayi berisiko
terpapar aneka kuman penyakit yang ada di
jalan lahir. Bila kebetulan ibu mengalami
infeksi pada vaginanya, maka kuman
penyakit, misalnya virus atau bakteri, di
daerah tersebut bisa menyebabkan infeksi

pada mata bayinya.


Gejala-gejalanya infeksi mata bayi:

Mata bayi terlihat membengkak dan

kemerahan akibat meradang.


Umumnya disertai adanya cairan/sekret
berupa

lengkap/tidak sesuai program


persalinan

yang

tidak

yang tidak steril


d) Setelah tali pusat dipotong dibubuhi abu,
minyak,

daun-daunan

dari

mata

tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi

memenuhi syarat kebersihan dan sterilitas


c) Pemotongan tali pusat dengan alat-alat

tanah,

berbau

sehingga dikenal istilah mata belekan


Kelopak mata merah
Tetanus Neonatorum adalah penyakit

a) imunisaasi TT ibu yang tidak


b) Pertolongan

nanah

berusia kurang dari 1 bulan) yang


disebabkan oleh Clostridium tetani, yaitu
kuman yang mengeluarkan toksin (racun)
dan menyerang sistem saraf pusat.

dan

sebagainya

2.1.5

Penatalaksanaan
Asuhan segera pada bayi baru lahir normal adalah asuhan yang diberikan pada bayi

selama jam pertama setelah kelahiran. Aspek penting dari asuhan segera setelah lahir adalah:
Menjaga agar bayi tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu
a) Pastikan bayi tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dnega kuit ibu
b) Ganti handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan selimut dan
memastikan bahwa kepala telah terlindungi dengan baik untuk mencegah keluarnya
panas tubuh
c) Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapa bayi setiap 15 menit
d) Apabila telapak bayi terasa dingin, periksan suhu aksila bayi
e) Apabila suhu bayi kurang dari 36,5 C, segera hangatkan bayi
Mengusahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan ikut ibunya segera mungkin
a) Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin. Kontak dini antara ibu dan bayi penting
untuk kehangatan mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir dan ikatan
batin dan pemberian asi
b) Doronglah ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi tetap sia dengan menunjukkan
refleks rooting. Jangan paksakan bayi untuk menyusu
c) Jangan pisahkan bayi sedikitnya satu jam setelah persalinan

Menjaga pernapasan
a) Memeriksa pernapasan dan warna kulit setiap 5 menit
b) Jika tidak bernapas, lakukan hal-hal sebagai berikut:
Keringkan bayi dengan selimut/handuk hangat
Gosoklah punggung bayi dengan selimut
c) Jika belum bernapas setelah satu menit mulai resusitasi
d) Bila bayi sianosis atau kulit biru, atau sukar bernapas atau sukar bernapas, berikan
oksigen dengan kateter nasal
Merawat mata
a) Berikan eritromicin 0,5% atau tetrasiklin 1%, untuk pencegahan penyakit mata
b) Berikan tetes mata perak nitrat atau Neosporin segera setelah lahir
2.2

Kelainan Kongenital

2.2.1 Pengertian Kelainan Kongenital


Kelainan kongenital adalah kelainan dalam pertumbuhan struktur
bayi yang timbul semenjak kehidupan hasil konsepsi sel telur.Kelainan
kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir
mati, atau kematian segera setelah lahir (Rukiyah, dkk, 2010).
2.2.2 Etiologi
Menurut Prawirohardjo, 2007 beberapa faktor etiologi yang diduga
dapat mempengaruhi terjadinya kelainan kongenital antara lain:
a. Kelainan genetik dan kromosom
Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinanbesar akan
berpengaruh

atas

kejadian

kelainan

kongenitalpada

anaknya.

Diantara kelainan-kelainan ini ada yangmengikuti hukum Mendel


biasa, tetapi dapat pula diwarisioleh bayi yang bersangkutan
sebagai unsur dominan ataukadang-kadang sebagai unsur resesif.
b. Faktor mekanik
Tekanan mekanik pada janin selama kehidupan intrauterin dapat
menyebabkan kelainan bentuk organ tubuh hingga menimbulkan
deformitas organ tersebut. Faktor predisposisi dalam pertumbuhan
organ itu sendiri akan mempermudah terjadinya deformitas suatu
organ.
c. Faktor infeksi

Infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenital adalah infeksi


yang tejadi pada periode organogenesis yaitu dalam trimester
petama

kehamilan.

organogenesis

Adanya

inidapat

infeksi

tertentu

menimbulkan

dalam

periode

gangguan

dalam

pertumbuhan suatu organ tubuh. Selain dapat menyebabkan


terjadinya kelainan kongenital juga dapat menyebabkan terjadinya
abortus.
d. Faktor obat
Beberapa jenis obat dan jamu tertentu yang diminum oleh wanita
hamil pada trimester pertama kehamilan diduga sangat erat
hubungannya dengan terjadinya kelainan

kongenital pada

bayinya.Salah satuobat yang telah diketahui dapat menimbulkan


kelainan kongenital adalah thalidomide yang dapat mengakibatkan
terjadinya fokomelia atau mikromelia.
e. Faktor umur ibu
Telah diketahui bahwa mongolisme lebih sering ditemukan pada
bayi-bayi

yang

dilahirkan

oleh

ibu

yang

mendekati

masa

menopause. Angka kejadian yang ditemukan ialah 1:5500 untuk


kelompok ibu berumur < 35 tahun, 1:600 untuk kelompok ibu umur
35-39 tahun, 1:75 untuk kelompok ibu berumur 40-44 tahun dan
1:15 untuk kelompok ibu berumur 45 tahun atau lebih.
f. Faktor hormonal
Faktor hormonal diduga mempunyai hubungan pula
kejadian

kelainan

kongenital.

Bayi

yang

dilahirkan

dengan
oleh

ibu

hipoteroidisme atau penderita DM kemungkinan untuk mengalami


gangguan pertumbuhan lebih besar bila dibandingkan dengan bayi
yang normal.
g. Faktor radiasi
Radiasi pada permulaan kehamilan mungkin sekali akan dapat
menimbulkan kelainan kongenital pada janin. Adanya riwayat
radiasi yang cukup besar pada orang tua dikhawatirkan akan dapat
mengakibatkan mutasi pada gen yang mungkin sekali dapat
menyebabkan kelainan kongenital pada bayi yang dilahirkan.

h. Faktor gizi
Pada penyelidikan-penyelidikan

menunjukkan

bahwa

frekuensi

kelainan kongenital pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang


kekurangan makanan lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayibayi yang lahir dari ibu yang baik gizinya.
i. Faktor-faktor lain
Banyak
kelainan
kongenital
yang

tidak

diketahui

penyebabnya.Faktor janinnya sendiri dan faktor lingkungan hidup


janin diduga dapat menjadi faktor penyebabnya.Masalah sosial,
hipoksia, hipotermia, atau hipertermi diduga dapat menjadi faktor
penyebabnya.
2.2.3 Patofisiologi
Menurut

Effendy,

2008

menyebutkan

kelainan

kongenital

diklasifikasikan sebagai berikut:


a. Malforasi
Malforasi adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh kegagalan
atau ketidaksempurnaan dari satu atau lebih proses embriogenesis.
Perkembangan awal dari suatu jaringan atau organ tersebut
berhenti, melambat atau menyimpang sehingga menyebabkan
terjadinya suatu kelainan struktur yang menetap.Malforasi akibat
infeksi rubela, cytomegalovirrus atau toksoplasmosis biasanya
disertai ikterus, purpura dan hepatosplenomegali, dan berbagai
penyakit ibu dapat meningkatkan resiko terjadinya malforasi,
diantaranya

insulin

dependen

diabetes

melitus,

epilepsi,

pengkonsumsi alkohol, dan phenylketonuria. Malforasi digolongkan


menjadi dua yaitu:
1) Malforasi mayor
Malforasi mayor adalah suatu kelainan yang apabila tidak
dikoreksi akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh serta
mengurangi angka harapan hidup.
2) Malforasi minor

Malforasi

minor

adalah

tidak

akan

menyebabkanproblem

kesehatan yang serius dan mungkin hanyaberpengaruh pada


segi kosmetik.
b. Deformasi
Deformasi terbentuk akibat adanya tekanan mekanik yang
abnormal sehingga merubah bentuk, ukuran atau posisi sebagian
dari tubuh yang semula berkembang normal.

Tekanan ini dapat

disebabkan oleh keterbatasan ruang dalam uterus ataupun faktor


ibu yang lain seperti primigravida, panggul sempit, abnormalitas
uterus seperti uterus bikornus, kehamilan kembar.
Deformasi juga dapat timbul akibat faktor
presentasi

abnormal

atau

deformasi

mengenai

sistim

sendi.Deformasi

yang

janin

seperti

oligohidramnion.Sebagian

besar

tulang

disebabkan

rawan,

oleh

setiap

tulang

dan

faktor

yang

membatasi gerakan janin akan menyebabkan kompresi dalam


jangka panjang dan mengakibatkan postur yang tidak normal.
c. Disrupsi
Defek struktur juga dapat disebabkan oleh destruksi pada
jaringan

yang

semula

berkembang

normal.Berbeda

dengan

deformasi yang hanya disebabkan oleh tekanan mekanik, pada


disrupsi

dapat

disebabkan

oleh

iskemia,

perdarahan

atau

perlekatan.Kelainan akibat disrupsi biasanya mengenai beberapa


jaringan yang berbada.Angka kejadian ulang jarang, kecuali bila
terdapat malformasi pada uterus. Penyebab tersering adalah
robeknya selaput amnion pada kehamilan muda sehingga tali
amnion dapat mengikat erat janin.
d. Displasia
Patogenesis lain yang penting

dalam

terjadinya

kelainan

konganital adalah displasia. Istilah displasia dimaksudkan dengan


kerusakan (kelainan stuktur) akibat fungsi organisasi sel abnormal,
mengenai satu macam jaringan diseluruh tubuh. Sebagian besar
disebabkan oleh mutasi gen. Displasia dapat terus menerus
menimbulkan perubahan kelainan seumur hidup.

2.2.4 Diagnosis
Menurut Prawirohardjo, 2005 diagnosis kelainan kongenital dapat
dilakukan beberapa tahap yaitu, tahap prenatal dan tahap post natal.
Indikasi melakukan diagnosis prenatal umumnya dilakukan bila ibu
hamil mempunyai faktor resiko untuk melahirkan bayi dengan kelainan
kongenital.Faktor-faktor ini biasanya dihubungkan dengan adanya
riwayat

adanya

kelainan

kongenital

dalam

keluarga,

kelainan

kongenital anak yang dilahirkan sebelumnya, faktor umur ibu yang


mendekati

masa

menopouse.Pencarian

kelainan

kongenital

ini

dilakukuan pada kehamilan muda, umumnya pada kehamilan 16


minggu.Dengan bantuan alat Ultrasonografi dapat dilakukan tindakan
Amniosentesis

untuk

mengambil

contoh

cairan

amnion

yang

selanjutnya dilakukan penelitian lebih lanjut.


2.3

Atresia ani

2.3.1 Pengertian Atresia Ani


Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus
imperforata meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya
(Betz, 2002).Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital),
tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna, 2003).Atresia ani
adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus
atau tertutupnya anus secara abnormal (Suradi, 2001).Atresia ani atau
anus imperforata adalah tidak terjadinya perforasi membran yang
memisahkan bagian endoterm mengakibatkan pembentukan lubang
anus yang tidak sempurna.Anus tampak rata atau sedikit cekung ke
dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan
langsung dengan rektum (Purwanto, 2001).
Atresia berasal dari bahasa Yunani, artinya tidak ada, trepis artinya
nutrisi atau makanan.Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri
adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal
atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan

kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang


atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena
bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang
mengenai saluran itu.
Atresia ani atau anus imperforata atau malformasi anorektal adalah
suatu kelainan kongenital tanpa anus atau anus tidak sempurna,
termasuk didalamnya agenesis ani, agenesis rekti dan atresia rekti.
Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia
ani.Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki
nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir
selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti
keadaan normalnya

2.3.2 Etiologi
Atresia ani memiliki etiologi yang multifaktorial.Salah satunya
adalah komponen genetik. Pada tahun 1950an, didapatkan bahwa
risiko malformasi meningkat pada bayi yang memiliki saudara dengan
kelainan atresia ani yakni 1 dalam 100 kelahiran, dibandingkan dengan
populasi umum sekitar 1 dalam 5000 kelahiran. Penelitian juga
menunjukkan adanya hubungan antara atresia ani dengan pasien
dengan

trisomi

21

(Down's

syndrome).

Kedua

hal

tersebut

menunjukkan bahwa mutasi dari bermacam-macam gen yang berbeda


dapat menyebabkan atresia ani atau dengan kata lain etiologi atresia
ani bersifat multigenik (Levitt M, 2007).
Ada beberapa factor penyebab terjadinya atresia ani adalah:
a. Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit
karena gangguan pertumbuhan, fusi, atau pembentukan anus dari
tonjolan embrionik.

b. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur


sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur
c. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu/3 bulan
d. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik
didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang
terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
e. Kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan rektum,
sfingter, dan otot dasar panggul. Namum demikian pada agenesis
anus, sfingter internal mungkin tidak memadai. Menurut penelitian
beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif
yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua tidak diketahui
apakah mempunyai gen carier penyakit ini. Janin yang diturunkan
dari

kedua

orang

tua

yang

menjadi

carier

saat

kehamilan

mempunyai peluang sekitar 25 % - 30 % dari bayi yang mempunyai


sindrom genetik, abnormalitas kromosom, atau kelainan kongenital
lain juga beresiko untuk menderita atresia ani
f. Berkaitan dengan sindrom down.
g. Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan
kongenital saat lahir seperti:
1) Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada
vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar
limfe)
2) Kelainan sistem pencernaan.
3) Kelainan sistem pekemihan.
4) Kelainan tulang belakang
(Purwanto, 2001)
2.3.3 Patofisiologi
Atresia ani terjadi karena adanya kelainan kongenital dimana saat
proses

perkembangan

embrionik

tidak

sempurna

pada

proses

perkembangan anus dan rektum. Dalam perkembangan selanjutnya,


ujung ekor belakang berkembang menjadi kloaka yang juga akan
berkembang menjadi genitourinaria dan struktur anorektal. Atresia ani

disebabkan karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan


struktur kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan fetal,
kegagalan migrasi tersebut juga terjadi karena gagalnya agenesis
sakral dan abnormalitas pada daerah uretra dan vagina atau juga pada
proses obstruksi pada anus imperforata yang dapat terjadi karena
tidak adanya pembukaan usus besar yang keluar anus, sehingga
menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan (Hidayat, 2008).
2.3.4 Manifestasi Klinis
Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani terjadi dalam waktu
24 48 jam.Gejala itu dapat berupa :
a. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama
b. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak
ada fistula)
c. Perut kembung.
d. Muntah- muntah pada usia 24 48 jam
e. Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik
dapat dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan (FK UII, 2009).
Atresia ani sangat bervariasi, mulai dari atresia ani letak rendah
dimana rectum berada pada lokasi yang normal tapi terlalu sempit
sehingga feses bayi tidak dapat melaluinya, malformasi anorektal
intermedia dimana ujung dari rektum dekat ke uretra dan malformasi
anorektal

letak

tinggi

dimana

anus

sama

sekali

tidak

ada

(Departement of Surgery University of Michigan, 2009).


Sebagian besar bayi dengan atresia ani memiliki satu atau lebih
abnormalitas yang mengenai sistem lain. Insidennya berkisar antara
50% - 60%.Makin tinggi letak abnormalitas berhubungan dengan
malformasi yang lebih sering. Kebanyakan dari kelainan itu ditemukan
secara

kebetulan,

akan

tetapi

beberapa

diantaranya

dapat

mengancam nyawa seperti kelainan kardiovaskuler (Grosfeld J, 2006).


Beberapa jenis kelainan yang sering ditemukan bersamaan dengan
malformasi anorektal adalah
a. Kelainan kardiovaskuler.

Ditemukan pada sepertiga pasien dengan atresia ani.Jenis kelainan


yang paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan paten
ductus arteriosus, diikuti oleh tetralogi of fallot dan vebtrikular
septal defect.
b. Kelainan gastrointestinal.
Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%),
obstruksi duodenum (1%-2%).
c. Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis.
Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan
lumbosakral seperti hemivertebrae, skoliosis, butterfly vertebrae,
dan hemisacrum. Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan
adalah myelomeningocele, meningocele, dan teratoma intraspinal.
d. Kelainan traktus genitourinarius.
Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan
pada atresia ani. Beberapa penelitian menunjukkan insiden kelainan
urogeital dengan atresia ani letak tinggi antara 50 % sampai 60%,
dengan atresia ani letak rendah 15% sampai 20%. Kelainan tersebut
dapat berdiri sendiri ataupun muncul bersamaan sebagai VATER
(Vertebrae, Anorectal, Tracheoesophageal and Renal abnormality)
dan

VACTERL

(Vertebrae,

Anorectal,

Cardiovascular,

Tracheoesophageal, Renal and Limb abnormality) ( Oldham K,


2005).
2.3.5 Klasifikasi
Menurut klasifikasi Wingspread (1984) yang dikutip Hamami,
atresia ani dibagi 2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis
kelamin. Pada laki laki golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu
kelainan fistel urin, atresia rektum, perineum datar, fistel tidak ada dan
pada invertogram: udara > 1 cm dari kulit.

Golongan II pada laki

laki dibagi 5 kelainan yaitu kelainan fistel perineum, membran anal,


stenosis anus, fistel tidak ada dan pada invertogram: udara < 1 cm
dari kulit.
Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 6 kelainan
yaitu kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia

rektum, fistel tidak ada dan pada invertogram: udara > 1 cm dari kulit.
Golongan II pada perempuan dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel
perineum, stenosis anus, fistel tidak ada dan pada invertogram: udara
< 1 cm dari kulit (Hamami A.H, 2004).
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok
besar, yaitu :
a. Tanpa

anus

tetapi

dengan

dekompensasi

adekuat

traktus

gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna.


Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula
rectogina atau rectofourchette yang relative besar, dimana fistula
ini

dibantu

dengan

bantuan

dilatasi,

maka

bisa

didapatkan

dekompresi usus yang adekuat sementara waktu.


b. Tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adekuat untuk jalan
keluar tinja.
Pada kelompok

ini

tidak

ada

mekanisme

apapun

untuk

menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa


bentuk intervensi bedah segera. Pasien bisadiklasifikasikan lebih
lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi, yaitu :
1) Anomali rendah / infralevator
Rektum

mempunyai

jalur

desenden

normal

melalui

otot

puborektalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang


berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat
hubungan dengan saluran genitourinarius.
2) Anomali intermediet
Rektum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis,
lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang
normal.
3) Anomali tinggi / supralevator
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak
ada.Hal ini biasanya berhubungan dengan fistula genitourinarius
retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan).Jarak antara
ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.

2.3.6 Faktor Risiko Atresia Ani


Atresia ani merupakan suatu kelainan kongenital. Secara umum
faktor resiko yang dapat meningkatkan terjadinya kelainan kongenital
antara lain :
a. Pemakaian alkohol oleh ibu hamil
Pemakaian alkohol oleh ibu hamil bisa menyebabkan sindroma
alkohol pada janin dan obat-obat tertentu yang diminum oleh ibu
hamil juga bisa menyebakan kelainan bawaan.
b. Penyakit Rh, terjadi jika ibu dan bayi memiliki faktor Rh yang
berbeda.
c. Teratogenik
Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan
atau meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan.
Radiasi, obat tertentu dan racun merupakan teratogen.
Secara umum, seorang wanita hamil sebaiknya:

mengkonsultasikan dengan dokternya setiap obat yang dia


minum

berhenti merokok

tidak mengkonsumsi alcohol

tidak

menjalani

pemeriksaan

rontgen

kecuali

jika

sangat

mendesak.
d. Infeksi pada ibu hamil juga bisa merupakan teratogen. Beberapa
infeksi selama kehamilan yang dapat menyebabkan sejumlah
kelainan bawaan:

Sindroma

rubella

penglihatan

kongenital

atau

ditandai

pendengaran,

dengan

gangguan

kelainan

jantung,

keterbelakangan mental dan cerebral palsy

Infeksi toksoplasmosis pada ibu hamil bisa menyebabkan infeksi


mata

yang

bisa

berakibat

fatal,

gangguan

pendengaran,

ketidakmampuan

belajar,

pembesaran

hati

atau

limpa,

keterbelakangan mental dan cerebral palsy

Infeksi virus herpes genitalis pada ibu hamil, jika ditularkan


kepada

bayinya

sebelum

atau

selama

proses

persalinan

berlangsung, bisa menyebabkan kerusakan otak, cerebral palsy,


gangguan penglihatan atau pendengaran serta kematian bayi

Penyakit

ke-5

bisa

menyebabkan

sejenis

anemia

yang

berbahaya, gagal jantung dan kematian janin

Sindroma varicella kongenital disebabkan oleh cacar air dan bisa


menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otot dan tulang,
kelainan bentuk dan kelumpuhan pada anggota gerak, kepala
yang berukuran lebih kecil dari normal, kebutaan, kejang dan
keterbelakangan mental.

e. Gizi
Menjaga

kesehatan

janin

tidak

hanya

dilakukan

dengan

menghindari teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang


baik.Salah satu zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah
asam

folat.Kekurangan

asam

folat

bisa

meningkatkan

resiko

terjadinya spina bifida atau kelainan tabung saraf lainnya. Karena


spina bifida bisa terjadi sebelum seorang wanita menyadari bahwa
dia hamil, maka setiap wanita usia subur sebaiknya mengkonsumsi
asam folat minimal sebanyak 400 mikrogram/hari.
f. Faktor fisik pada Rahim
Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga
merupakan pelindung terhadap cedera.Jumlah cairan ketuban yang
abnormal bisa menyebabkan atau menunjukkan adanya kelainan
bawaan.Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi
pertumbuhan

paru-paru

dan

anggota

gerak

tubuh

atau

bisa

menunjukkan adanya kelainan ginjal yang memperlambat proses


pembentukan air kemih.Penimbunan cairan ketuban terjadi jika janin

mengalami gangguan menelan, yang bisa disebabkan oleh kelainan


otak yang berat (misalnya anensefalus atau atresia esofagus).
g. Faktor genetik dan kromosom
Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan.
Beberapa kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang
diwariskan melalui gen yang abnormal dari salah satu atau kedua
orang tua.Gen adalah pembawa sifat individu yang terdapat di dalam
kromosom setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau
cacat, bisa terjadi kelainan bawaan.
h. Semakin tua usia seorang wanita ketika hamil (terutama diatas 35
tahun)

maka

semakin

besar

kemungkinan

terjadinya

kelainan

kromosom pada janin yang dikandungnya.


2.3.7 Pemeriksaan Diagnosis
Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru
lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer
yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus.Atau dapat
juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan.Jika terdapat
kelainan, maka termometer atau jari tidak dapat masuk.Bila anus
terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum.
Gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah lahir berupa perut
kembung, muntah berwarna hijau.
Pemeriksaan penunjang :
a. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan
1) Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi
di daerah tersebut.
2) Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian
baru lahir dan gambaran ini harus dipikirkan kemungkinan
atresia

reftil/anus

impoefartus,

pada

bayi

dengan

anus

impoefartus.

Udara

berhenti

tiba-tiba

di

daerah

sigmoid,

kolon/rectum.
3) Dibuat foto anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan
kepala dibawah dan kaki diatas pada anus benda bang radioopak, sehingga pada foto daerah antara benda radio-opak
dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur.
b. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan
untuk

mengetahui

jarak

pemanjangan

kantung

rectum

dari

sfingternya.
c. Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam
system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti
obstruksi oleh karena massa tumor.
d. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
e. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
f. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan

rektal

dapat

dilakukan

colok

dubur

dengan

menggunakan selang atau jari.


g. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang
berhubungan dengan traktus urinarius.
h. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya selsel epitel meconium.Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong
rectal dengan menusukkan jarum tersebut sampai melakukan
aspirasi, jika meconium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk
1,5 cm. Derek tersebut dianggap defek tingkat tinggi.
2.3.8 Komplikasi

Menurut Yongky, dkk, 2012 bila atresia ani tidak segera mendapatkan
penanganan akan terjadi tersumbatnya saluran pencernaan dan
konstipasi
2.3.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya.Pada atresia
ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu.Pada
beberapa waktu lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur
abdominoperineal pullthrough, tapi metode ini banyak menimbulkan
inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena dan
Defries pada tahun 1982 yang dikutip oleh Faradillah memperkenalkan
metode operasi dengan pendekatan postero sagital anorektoplasti,
yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan
muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rektum
dan pemotongan fistel (Faradilla, 2009).
Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari fungsinya
secara jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya,
bentuk kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Untuk menangani
secara tepat, harus ditentukankan ketinggian akhiran rektum yang
dapat

ditentukan

dengan

berbagai

cara

antara

lain

dengan

pemeriksaan fisik, radiologis dan USG. Komplikasi yang terjadi pasca


operasi banyak disebabkan oleh karena kegagalan menentukan letak
kolostomi,

persiapan

operasi

yang

tidak

adekuat,

keterbatasan

pengetahuan anatomi, serta ketrampilan operator yang kurang serta


perawatan

post

operasi

penatalaksanaannya

yang

berbeda

buruk.Dari

tergantung

berbagai

pada

letak

klasifikasi
ketinggian

akhiran rektum dan ada tidaknya fistula (Faradilla, 2009).


Menurut Leape (1987) yang dikutip oleh Faradilla menganjurkan
pada:

a. Atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid kolostomi


atau TCD dahulu, setelah 6 12 bulan baru dikerjakan tindakan
definitif (PSARP).
b. Atresia ani letak rendah dilakukan perineal anoplasti, dimana
sebelumnya dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot untuk
identifikasi batas otot sfingter ani ekternus.
c. Bila terdapat fistula dilakukan cut back incicion.
d. Pada stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin, berbeda dengan
Pena dimana dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi. (Faradilla,
2009).
Pena secara tegas menjelaskan bahwa pada atresia ani letak tinggi
dan intermediet dilakukan kolostomi terlebih dahulu untuk dekompresi
dan diversi.Operasi definitif setelah 4 8 minggu. Saat ini teknik yang
paling

banyak

dipakai

adalah

posterosagital

anorektoplasti,

baikminimal, limited atau full postero sagital anorektoplasti (Faradilla,


2009).
Neonatus perempuan perlu pemeriksaan khusus, karena seringnya
ditemukan vital ke vetibulum atau vagina (80-90%).Golongan I Pada
fistel vagina, mekonium tampak keluar dari vagina.Evakuasi feces
menjadi tidak lancar sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi.Pada
fistel vestibulum, muara fistel terdapat divulva. Umumnya evakuasi
feses lancar selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai
etrhambat saat penderita mulai makan makanan padat.Kolostomi
dapat

direncanakan

bila

penderita

dalam

keadaan

optimal.Bila

terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius,


traktus genetalis dan jalan cerna.Evakuasi feses umumnya tidak
sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.Pada atresia
rektum, anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur,
jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium
sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.Bila tidak ada fistel, dibuat
invertogram.Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan

kolostomi. Golongan II. Lubang fistel perineum biasanya terdapat


diantara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah anus
yang buntu ada di posteriornya.Kelainan ini umumnya menimbulkan
obstipasi.Pada stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang
seharusnya, tetapi sangat sempit.Evakuasi feses tidal lancar sehingga
biasanya harus segera dilakukan terapi definitif.Bila tidak ada fistel dan
pada invertogram udara < 1 cm dari kulit.Dapat segera dilakukan
pembedahan definitif.Dalam hal ini evakuasi tidak ada, sehingga perlu
segera dilakukan kolostomi (Hamami A.H, 2004).
Yang harus diperhatikan ialah adanya fitel atau kenormalan bentuk
perineum dan tidak adanya butir mekonium di urine.Dari kedua hal
tadi pada anak laki dapat dibuat kelompok dengan atau tanpa fistel
urin dan fistel perineum.Golongan I. Jika ada fistel urin, tampak
mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat
fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria.Cara praktis menentukan
letak

fistel adalah dengan memasang kateter urin.Bila

kateter

terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra karena fistel
tertutup kateter.Bila dengan kateter urin mengandung mekonuim
maka fistel ke vesikaurinaria.Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita
memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rektum tindakannya sama
pada perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan
udara > 1 cm dari kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakukan
kolostomi. Golongan II. Fistel perineum sama dengan pada wanita ;
lubangnya terdapat anterior dari letak anusnormal. Pada membran
anal biasanya tampak bayangan mekonium di bawah selaput.Bila
evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definit secepat
mungkin. Pada stenosis anus, sama dengan wanita, tindakan definitive
harus dilakukan. Bila tidak ada fistel dan udara < 1cm dari kulit pada
invertogram, perlu juga segera dilakukan pertolongan bedah (Hamami
A.H, 2004).

2.4

Pathway

BAB III
KONSEP ASUHAN KEBIDANAN
3.1

Pengkajian Data
Dituliskan tempat, no. Register, tanggal pengkajian dan jam
1) Data Subjektif
a) Biodata
i) Identitas pasien
(1)Nama bayi: untuk mengetahui bahwa bayi tersebut merupakan
anak dari penanggung jawab
(2)Tanggal lahir: Dikaji untuk mengetahui apakah pasien dalam usia neonatal yaitu
bayi baru lahir berusia 0-7 hari
(3)Jenis kelamin: untuk mengetahui jenis kelamin klien,

berhubungan dengan gejala, diagnosis dan penatalaksanaan


kasus
ii) Identitas penanggung jawab
(1)Nama
: Untuk lebih mengenal sebagai penanggung jawab pasien.
(2)Umur
: Dikaji untuk mengetahui usia dicatat dalam tahun untuk mengetahui
adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun maka alat reproduksinya belum matang,
mental dan psikisnya belum siap.
(3)Agama
: Dikaji untuk megetahui keyakinan dan kepercayaan
keluarga untuk memepermudah memberikan dukungan psikologi pada keluarga
sesuai dengan keyakinan keluarga.
(4)Suku/bangsa
: Dikaji untuk mengetahui adat-istiadat yang mungkin
mempengaruhi status kesehatan bayi dan perawatan pada bayi baru lahir
(5)Pendidikan : Dikaji untuk mengetahui tingkat pendidikan ibu bayi sehingga bidan
dapat memberikan konseling bayi baru lahir dengan atresia ani sesuai dengan tingkat
pengetahuan ibu pasien
(6)Pekerjaan : Dikaji untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi keluarga, karena
hal ini berpengaruh dalam status gizi bayi.
b) Alamat
: Dikaji untuk mengetahui jarak rumah pasien ke tempat pelayanan
kesehatan terdekat dan untuk mempermudah kunjungan rumah, bila diperlukan.
c) Keluhan utama bayi
Dikaji untuk mengetahui keluhan yang dialami oleh pasien pada saat datang ke tempat
pelayanan kesehatan. Pada bayi dengan atresia ani biasanya pada 24-48 jam pertama
ditandai dengan bayi tidak mengeluarkan mekonium dan perut kembung.

d) Riwayat kehamilan
i) Riwayat Antenatal
(1)Riwayat obstetric (ibu) : G....P....Ab...
(2) Keluhan yang dialami ibu
(a) TM I
: Dikaji untuk mengetahui pada kehamilan TM 1 ibu ada keluhan apa
tidak dan biasanya pada trimester awal ibu merasakan mual.
(b) TM II
: Dikaji untuk mengetahui pada kehamilan TM II ibu ada keluhan apa
tidak
(c) TM III

: Dikaji untuk mengetahui pada kehamilan TM III ibu ada keluhan

apa tidak
(3) Kejadian waktu hamil

: Dikaji untuk mengetahui apakah pada kehamilannya ibu

mengalami kejadian yang mengganggu kehamilannya apa tidak


(4) Riwayat Penyakit
: Dikaji untuk mengetahui apakah ibu mempunyai riwayat
penyakit menular atau penyakit keturunan apa tidak.
(5)Kebiasaan waktu hamil
(a) Makan : Dikaji untuk mengetahui pola makan ibu supaya kita mendapatkan
gambaran bagaimana pasien dalam mencukupi asupan gizinya secara kualitas dan
kuantitas.
(b) Obat/ Jamu : Dikaji untuk mengetahui apakah selama kehamilan ibu
mengkonsumsi obat-obatan selain yang dianjurkan atau tidak dan jika ibu
mengkonsumsi obat-obatan maka akan berdampak pada bayinya yaitu dapat
menyebabkan perkembangan janin dalam rahim terhambat dan terjadi kelainan
kongenital.
(c) Merokok : Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selama kehamilnnya ibu
mengkonsumsi rokok atau tidak dan jika ibu mengkonsumsi rokok maka akan
berdampak pada bayinya yaitu dapat menyebabkan kelainan kongenital pada
bayi.
e) Riwayat persalinan
(1) Ketuban
Dikaji untuk mengetahui apakah selama proses persalinan ketuban sudah pecah
sebelum pembukaan lengkap, dikaji ketuban pecah jam berapa, warna jernih atau
dengan mekonium, jumlah berapa, bagaiman proses kelahiran normal atau dengan
tindakan medis dan ditolong oleh tenaga kesehatan atau ditolong oleh dukun
f) Riwayat psotnatal
(1) Nilai APGAR
Dikaji untuk mengetahui apakah pada bayi baru lahir,kondisi bayi pada waktu lahir
denyut jantungnya normal atau tidak, pernafasannya normal atau tidak, menangis keras,
bergerak aktif, dan warna kemerahan.

(2) Kelainan bawaan


Dikaji untuk mengetahui apakah bayi baru lahir mengalami kelainan bawaan atau
tidak.
(3) Pola pemenuhan sehari-hari
(a)
Pola Nutrisi : Dikaji untuk mengetahui pola nutrisi bayi apakah bayi minum
ASI atau susu formula, dan biasanya bayi dengan atresia ani jika diberikan ASI
bayi akan muntah.
(b)
Pola Eliminasi : Dikaji untuk mengetahui pola elimainasi biasanya melipuri
frekuensi, warna, dan jumlah, apakah bayi sudah BAB atau belum karena pada
kasus bayi dengan atresia ani bayi tidak mengeluarkan mekonium pada 24 jam
pertama.
2) Data obyektif
a) Pemeriksaan umum
i) Keadaan umum
Dikaji untuk mengetahui keadaan umum bayi apakah keadaan umum bayi baik atau
tidak, dan biasanya pada atresia ani bayi tampak lemas.
ii) Vital Sign
S : Dikaji untuk mengetahui suhu bayi apakah normal atau tidak, biasanya pada kasus
atresia ani suhu bayi akan naik karena kekurangan cairan akibat bayi muntah terus.
HR : Dikaji untuk mengetahui denyut jantung bayi apakah normal atau tidak
R : Dikaji untuk mengetahui pernafasan bayi normal atau tidak.
iii) Antropometri
Dikaji untuk mengetahui berat badan bayi (2500-4000 gram), panjang badan (48-52 cm),
LILA (11 cm), lingkar dada (30-33 cm), lingkar kepala (33-35 cm).
b) Pemeriksaan fisik
i) Kepala
Dikaji untuk mengetahui bentuk kepala mesosepal, kulit kepala bersih dan ubun-ubun
tidak tampak UUK dan UUB.
ii) Muka
Dikaji untuk mengetahui apakah oedem apa tidak, pucat dan tampak kemerahan.
iii) Mata
Dikaji untuk mengetahui apakah konjungtiva anemis atau tidak, dan sklera ikterik atau
tidak
iv) Hidung
Dikaji untuk menetukan simetris atau tidak, bersih dan tidak ada sekret.
v) Telinga
Dikaji untuk menentukan ada penumpukan serumen atau tidak
vi) Mulut
Dikaji untuk mengetahui sianosis atau tidak, terdapat labio

palatokizis atau tidak

vii) Leher
Dikaji untuk mengetahui ada pembesaran kelenjar limfe atau tidak.
viii) Dada
Dikaji utuk mengetahui simetris atau tidak, ada pengeluaran atau tidak, dan bentuk
normal atau tidak.
ix) Ketiak
Dikaji untuk mengetahui ada pembesaran kelenjaran getah bening atau tidak.
x) Abdomen
Dikaji untuk mengetahui simetris atau tidak, pemeriksaan palpasi terdengar perut
kembung, dan biasanya pada kasus atresia ani perut bayi kembung.
xi) Genetalia
Dikaji untuk mengetahui labia mayora sudah menutupi labia minora, testis sudah turun
atau belum.
xii) Ekstremitas
Dikaji untuk mengetahui simetris atau tidak, akral dingin atau tidak.
xiii) Anus
Dikaji untuk mengetahui terbuka dan melihat pengeluaran feses biasanya pada bayi
dengan atresia ani tidak ada lubang pada anus dan tidak mengeluarkan mekonium pada
waktu 24-48 jam pertama. Dengan cara memasukkan termometer rektal kedalam anus,
biasanya pada kasus atresia ani sewaktu dimasukan termometer rektal ada hambatan
seperti ada sekat.
c) Reflek
Rooting : dikaji untuk mengetahui cara mencari puting dan biasanya pada kasus atresia ani
reflek rooting baik.
Sucking : dikaji untuk mengetahui cara menghisap putting dan biasanya pada atresia ani
reflek sucking baik.
Morro :dikaji untuk mengetahui reflek memeluk dan biasanyapada atresia ani refleks morro
baik.
Tonicneck : dikaji untuk mengetahui reflek menoleh kekanan dan kekiri dan biasanya pada
atresia ani refleks tonicneck baik.
Walking : dikaji untuk mengetahui reflek berjalan atau menggerakan kaki dan biasanya pada
atresia ani reflek walking baik.
Graping : dikaji untuk mengetahui reflek menggenggam dan bisanya pada atresia ani reflek
graping baik.
3) Pemeriksaan penunjang
Pemerikasaan penunjang yang dapat dilakukan pada bayi baru lahir dengan atresia ani yaitu :
a) Pemeriksaan radiologic
Untuk mengetahui letak tinggi rendahnya atresia ani, untuk keperluan dilakukan tindakan
kolostomi
b) Pemeriksaan elektrolit

Untuk mengetahui cairan yang ada dalam tubuh bayi apakah bayi mengalami dehidrasi atau
tidak, dengan melakukan pemeriksaan kalium, kalsium, natrium, dan klorida.

3.2

Interpretasi Data Dasar


a. Diagnosa: By Ny. Umur jam, jenis kelamin.. dengan atresia
ani
DS:
Bayi lahir tanggal. Jam.
Bayi belum BAB dalam 24 -48 jam, perut kembung dan buncit,
selalu muntah saat disusui, tidak terdapat lubang pada anus
DO:

Pemeriksaan fisik
Perut
: buncit dan kembung
Anus
: tidak ada lubang
Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan radiologic menunjukkan atresia ani letak

tinggi atau rendah


b. Masalah
Kekurangan asupan nutrisi
c. Kebutuhan segera
Tetap memenuhi kebutuhan nutrisi dengan memberikan cairan
infus, tidak dianjurkan memberikan cairan apapun lewat mulut, dan
mencegah hipotermi
3.3

Identifikasi Diagnose Dan Masalah Potensial


Diagnose potensial: fistula

3.4

Identifikasi Kebutuhan Segera


Kebutuhan segera: kolaborasi dengan dokter spesialis anak untuk
penanganan atresia ani dan petugas radiologic untuk melakukan
babygram

3.5

Perencanaan
Tanggal: .

Pukul:

Diagnose: Bayi Ny umur jam dengan atresia ani


Tujuan: setelah dilakukan asuhan kebidanan selama. Jam setelah
lahir, keadaan bayi tetap baik

Kriteria hasil:
RR: 30-60x/menit
Suhu: 36,50 37,50C
Nadi: 120-160x/menit
Perut tympani
Intervensi
Bina hubungan saling percaya dengan keluarga klien
R/ keluarga klien kooperatif dalam setiap tindakan
Jelaskan kepada keluarga tentang kondisi anaknya
R/ memberikan informasi yang tepat dapat menghindari salah
persepsi
Berikan dukungan emosional dan keyakinan pada keluarga
R/ agar keluarga tidak cemas dan bersabar
Jelaskan tindakan yang akan dilakukan kepada keluarga klien
R/ keluarga mengetahui tindakan yang dilakukan untuk menangani
bayinya
Minta persetujuan tindakan medis pada penanggung jawab
R/persetujuan tindakan meis selanjutnya
Tetap lakukan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dan kaji ulang
keadaan bayi
R/ menilai kondisi dan perkembangan bayi, mendapat penanganan
yang sesuai
Tidak memberikan asupan makanan apapun melalui mulut
R/ mencegah inkontinensia bowel
Jaga bayi tetap hangat
R/ mencegah hipotermi
Kolaborasi dengan dokter spesialis anak
R/ mendapat advise penanganan BBL dengan atresia ani
3.6

Implementasi
Tanggal:

Pukul:

Diagnose: Bayi Ny. Umur. Jam dengan atresia ani

Menjalin hubungan baik dengan keluarga klien


Menjelaskan kepada keluarga tentang kondisi anaknya
Memberikan dukungan emosional dan keyakinan pada keluarga
Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan kepada keluarga klien
Meminta persetujuan tindakan medis pada penanggung jawab klien

Melakukan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dan kaji ulang
keadaan bayi
Tidak memberikan asupan makanan apapun melalui mulut
Menjaga bayi tetap hangat
Berkolaborasi dengan dokter spesialis anak untuk penanganan
selanjutnya
3.7

Evaluasi
Tanggal: .

Pukul:

S: keluhan atau keterangan yang diberikan oleh petugas atau keluarga


O: didapatkan dari hasil pemeriksaan
A: Bayi Ny usia .. jam dengan atresia ani
P:
Keluarga memahami keadaan bayi, menyetujui tindakan medis yang
akan dilakukan pada bayi
Berkolaborasi dengan dokter spesialis anak untuk terapi dan
penanganan atresia ani lebih lanjut

BAB IV
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. D USIA 1 HARI DENGAN
ATRESIA ANI