Anda di halaman 1dari 33

Sasaran Belajar

LI.1. Memahami dan Mernjelaskan Defisiensi Imun


LO 1.1 Definisi Defisiensi Imun
LO 1.2 Etiologi Defisiensi Imun
LO 1.5 Contoh penyakit Defisiensi imun
LI.2. Memahami dan Menjelaskan infeksi akibat virus HIV
LO 2.1 Definisi virus HIV
LO 2.2 Struktur virus HIV
LO 2.5 Epidemiologi Infeksi virus HIV
LO 2.6 Gejala Infeksi virus HIV
LO 2.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding Infeksi virus HIV
LO 2.8 Komplikasi Infeksi virus HIV
LO 2.9 Penatalaksanaan Infeksi virus HIV
LO 2.10 Tindakan Promotif dan Preventif
LO 2.11 Screening dan Konfirmasi
LI.3. Memahami dan Menjelaskan Dilema Etik dalam menangani pasien HIV
LI.4. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam dalam Menangani Kasus HIV

LI.1. Memahami dan Mernjelaskan Defisiensi Imun


LO 1.1 Definisi Defisiensi Imun
Gangguan defisiensi imun adalah gangguan yang dapat disebabkan oleh kerusakan herediter
yang mempengaruhi perkembangan sistem imun atau dapat terjadi akibat efek sekunder dan
penyakit lain (misalnya infeksi malnutrisi, penuaan, imunosupresi, autoimunitas atau
kemoterapi). Dan penyakit imunodefisiensi adalah defisiensi respon imun akibt hipoaktivitas
atau penurunan jumlah sel limfoid. Defisiensi imun tersebut merupakn salah satu jenis defisiensi
jaringan limfoid yang dapat timbul pada pria maupun wanita dari berbagai usia dan ditentukan
oleh faktor genetik atau timbul sekunder oleh karena faktor lain.
LO 1.2 Etiologi Defisiensi Imun
Dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Defisiensi imun primer
a. Kongenital/genetik
Terkadang bermanifestasi, tetapi keadaan klinis terjadi pada usia lebih lanjut.
2. Defisiensi imun sekunder
a. Malnutrisi
b. Kanker generalisata
c. Pengobatan imunosupresan
d. Infeksi penyakit (HIV/AIDS)
e. Immatur limfosit
Selain itu dapat diakbiatkan oleh :
a. Defek genetic
Defek gen-tunggal yang diekspresikan di banyak jaringan (misal ataksia-teleangiektasia,
defsiensi deaminase adenosin) Defek gen tunggal khusus pada sistem imun (misal defek
tirosin kinase pada X-linked agammaglobulinemia; abnormalitas rantai epsilon pada
reseptor sel T). Kelainan multifaktorial dengan kerentanan genetik (misal common
variable immunodeficiency).
b. Obat atau toksin
Imunosupresan (kortikosteroid, siklosporin), Antikonvulsan (fenitoin).
c. Penyakit nutrisi dan metabolic
Malnutrisi ( misal kwashiorkor), Protein losing enteropathy (misal limfangiektasia
intestinal), Defisiensi vitamin (misal biotin, atau transkobalamin II).
d. Defisiensi mineral
Seng pada Enteropati Akrodermatitis
e. Kelainan kromosom
Anomali DiGeorge (delesi 22q11)Defisiensi IgA selektif (trisomi 18).
1

f. Infeksi
Imunodefisiensi transien (pada campak dan varicella )Imunodefisiensi permanen (infeksi HIV,
infeksi rubella kongenital).
LO 1.5 Klasifikasi dan contoh penyakit Defisiensi imun
1. Defisiensi Imun Non-Spesifik
a. Komplemen
Dapat berakibat meningkatnya insiden infeksi dan penyakit autoimun (SLE), defisiensi
ini secara genetik.
i. Kongenital
Menimbulkan infeksi berulang /penyakit kompleks imun (SLE dan
glomerulonefritis).
ii. Fisiologik
Ditemukan pada neonatus disebabkan kadar C3, C5, dan faktor B yang masih
rendah.
iii. Didapat
Disebabkan oleh depresi sintesis (sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori).

b. Interferon dan lisozim


i. Interferon kongenital
Menimbulkan infeksi mononukleosis fatal
ii. Interferon dan lisozim didapat
Pada malnutrisi protein/kalori

c. Sel NK
i. Kongenital
Pada penderita osteopetrosis (defek osteoklas dan monosit), kadar IgG, IgA, dan
kekerapan autoantibodi meningkat.
ii. Didapat
Akibat imunosupresi atau radiasi.

d. Sistem fagosit
Menyebabkan infeksi berulang, kerentanan terhadap infeksi piogenik berhubungan
langsung dengan jumlah neutrofil yang menurun, resiko meningkat apabila jumlah
fagosit turun < 500/mm3. Defek ini juga mengenai sel PMN.

i. Kuantitatif
Terjadi neutropenia/granulositopenia yang disebabkan oleh menurunnya produksi
atau meningkatnya destruksi. Penurunan produksi diakibatkan pemberian depresan
(kemoterapi pada kanker, leukimia) dan kondisi genetik (defek perkembangan sel
hematopioetik). Peningkatan destruksi merupakan fenomena autoimun akibat
pemberian obat tertentu (kuinidin, oksasilin).
ii. Kualitatif
Mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis, fagositosis, dan membunuh mikroba
intrasel.
1. Chronic Granulomatous Disease (infeksi rekuren mikroba gram dan +)
2. Defisiensi G6PD (menyebabkan anemia hemolitik)
3. Defisiensi Mieloperoksidase (menganggu kemampuan membunuh benda asing)
4. Chediak-Higashi Syndrome (abnormalitas lisosom sehingga tidak mampu
melepas isinya, penderita meninggal pada usai anak)
5. Job Syndrome (pilek berulang, abses staphylococcus, eksim kronis, dan otitis
media. Kadar IgE serum sangat tinggi dan ditemukan eosinofilia).
6. Lazy Leucocyte Syndrome (merupakan kerentanan infeksi mikroba berat.
Jumlah neutrofil menurun, respon kemotaksis dan inflamasi terganggu)
7. Adhesi Leukosit (defek adhesi endotel, kemotaksis dan fagositsosis buruk, efeks
sitotoksik neutrofil, sel NK, sel T terganggu. Ditandai infeksi bakteri dan jamur
rekuren dan gangguan penyembuhan luka)
2. Defisiensi Imun Spesifik
a. Kongential/primer
Sangat jarang terjadi.
i. Sel B
Defisiensi sel B ditandai dengan penyakit rekuren (bakteri)
1. X-linked hypogamaglobulinemia
2. Hipogamaglobulinemia sementara
3. Common variable hypogammaglobulinemia
4. Disgamaglobulinemia
ii. Sel T
Defisensi sel T ditandai dengan infeksi virus, jamur, dan protozoa yang rekuren
1. Sindrom DiGeorge (aplasi timus kongenital)
2. Kandidiasis mukokutan kronik
iii. Kombinasi sel T dan sel B
3

1.
2.
3.
4.
5.

Severe combined immunodeficiency disease


Sindrom nezelof
Sindrom wiskott-aldrich
Ataksia telangiektasi
Defisiensi adenosin deaminase

b. Fisiologik
i. Kehamilan
Defisiensi imun seluler dapat diteemukan pada kehamilan. Hal ini karena
pningkatan aktivitas sel Ts atau efek supresif faktor humoral yang dibentuk
trofoblast. Wanita hamil memproduksi Ig yang meningkat atas pengaruh estrogen
ii. Usia tahun pertama
Sistem imun pada anak usia satu tahun pertama sampai usia 5 tahun masih belum
matang.
iii. Usia lanjut
Golongan usia lanjut sering mendapat infeksi karena terjadi atrofi timus dengan
fungsi yang menurun.

c. Defisiensi imun didapat/sekunder


i. Malnutrisi
ii. Infeksi
iii. Obat, trauma, tindakan, kateterisasi, dan bedah
Obat sitotoksik, gentamisin, amikain, tobramisin dapat mengganggu kemotaksis
neutrofil. Kloramfenikol, tetrasiklin dapat menekan antibodi sedangkan rifampisin
dapat menekan baik imunitas humoral ataupun selular.
iv. Penyinaran
Dosis tinggi menekan seluruh jaringan limfoid, dosis rendah menekan aktivitas sel
Ts secara selektif
v. Penyakit berat
Penyakit yang menyerang jaringan limfoid seperti Hodgkin, mieloma multipel,
leukemia dan limfosarkoma. Uremia dapat menekan sistem imun dan
menimbulkan defisiensi imun. Gagal ginjal dan diabetes menimbulkan defek
fagosit sekunder yang mekanismenya belum jelas. Imunoglobulin juga dapat
menghilang melalui usus pada diare
vi. Kehilangan Ig/leukosit
Sindrom nefrotik penurunan IgG dan IgA, IgM norml. Diare (linfangiektasi
intestinal, protein losing enteropaty) dan luka bakar akibat kehilangan protein.
vii. Stres
4

viii. Agammaglobulinmia dengan timoma


Dengan timoma disertai dengan menghilangnya sel B total dari sirkulasi.
Eosinopenia atau aplasia sel darah merah juga dapat menyertai
d. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)
LI.2. Memahami dan Menjelaskan infeksi akibat virus HIV
LO 2.1 Definisi virus HIV
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau
penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV
yang termasuk family retroviridae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.
LO 2.2 Struktur HIV
Struktur HIV terdiri atas :
HIV memiliki diameter 100-150 nm dan berbentuk sferis (spherical) hingga oval karena
bentuk selubung yang menyelimuti partikel virus (virion). Selubung virus berasal dari
membran sel inang yang sebagian besar tersusun dari lipida. Di dalam selubung terdapat
bagian yang disebut protein matriks.
Bagian internal dari HIV terdiri dari dua komponen utama, yaitu genom dan kapsid. Genom
adalah materi genetik pada bagian inti virus yang berupa dua kopi utas tunggal
RNA. Sedangkan, kapsid adalah protein yang membungkus dan melindungi genom.

LO 2.5 Epidemiologi Infeksi virus HIV


UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa
sejak pertama kali diakui tahun 1981, membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling
5

menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan antiretrovirus bertambah
baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara
2,4 dan 3,3 juta) hidup di tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anakanak. Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV.[5] Pada tahun
2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS
meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981.
Afrika Sub-Sahara tetap merupakan wilayah terburuk yang terinfeksi, dengan perkiraan 21,6
sampai 27,4 juta jiwa kini hidup dengan HIV. Dua juta [1,5&-3,0 juta] dari mereka adalah
anak-anak yang usianya lebih rendah dari 15 tahun. Lebih dari 64% dari semua orang yang
hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat (76%) dari semua
wanita hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12.0 juta [10.6-13.6 juta] anak
yatim/piatu AIDS hidup di Afrika Sub Sahara. Asia Selatan dan Asia Tenggara adalah
terburuk kedua yang terinfeksi dengan besar 15%. 500.000 anak-anak mati di region ini
karena AIDS. Dua-tiga infeksi HIV/AIDS di Asia muncul di India, dengawn perkiraan 5.7
juta infeksi (perkiraan 3.4 - 9.4 juta) (0.9% dari populasi), melewati perkiraan di Afrika
Selatan yang sebesar 5.5 juta (4.9-6.1 juta) (11.9% dari populasi) infeksi, membuat negara ini
dengan jumlah terbesar infeksi HIV di dunia.[97] Di 35 negara di Afrika dengan perataan
terbesar, harapan hidup normal sebesar 48.3 tahun - 6.5 tahun sedikit daripada akan menjadi
tanpa penyakit.

Meratanya HIV diantara orang dewasa per negara pada akhir tahun 2005.

LO 2.4 Patogenesis Infeksi Virus HIV


HIV menginfeksi terutama dengan tiga cara utama yaitu :
1. Hubungan seksual diluar nikah
2. Transfusi darah
3. Penggunaan narkotika suntik
Perlekatan virus
6

Virion virus mempunyai tonjolan terdiri dari gp120 (pada selubung permukaan/eksternal) dan
gp41 (pada bagian transmembran), (gp : glikoprotein, angka mengacu pada massa protein
dalam ribuan dalton). Limfosit CD4+ merupakan target utama pada infeksi HIV karena virus
mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4+ (berfungsi dalam imunologis yang
penting). HIV menginfeksi sel dengan berikatan dengan reseptor sel T CD4+. gp120 berikatan
kuat dengan reseptor sel T CD4+, agar gp41 dapat memerantarai fusi membran virus ke
membran sel, selain itu diperlukan koreseptor pada permukaan sel T yaitu CCR5/CXCR4.
Individu yang mewarisi defisiensi (homozigot) gen koreseptor CCR5/CXCR4 resisten
terhadap timbulnya AIDS, walaupun berulang kali terpajan HIV (1% orang Amerika
keturunan Caucasian), dan yang heterozigot tidak terlindung dari AIDS, akan tetapi awitan
penyakit melambat, hal ini belum pernah ditemukan pada homozigot populasi Asia dan
Afrika. Sel-sel lain yang rentan terinfeksi adalah makrofag, monosit (berfungsi sebagai
resevoar/APC untuk HIV tetapi tidak dihancurkan oleh virus), sel NK, sel B, sel endotel, sel
epitel, sel Langerhans, sel dendritik, sek mikroglia, dan berbagai jaringan tubuh dikarenakan
sifat HIV yang politrofik. APC yang terinfeksi HIV akan menuju ke limfonodus regional,
virus dapat dideteksi 5 hari setelah inokulasi. Dalam limfonodus APC baru dapat dideteksi
dengan teknik hibridisasi in situ 7-14 hari setelah inokulasi.
Replikasi virus
1.
2.
3.

4.

Perlekatan virus dengan sel T CD4+


Fusi dan masuknya virus kedalam sel T CD4+
Pelepasan nukleokapsid dan bekerjanya enzim reverse transcriptase yang membuat satu
untai RNA menjadi DNA salinan untai ganda virus.
cDNA bermigrasi ke dalam inti sel dengan bantuan enzim integrase
7

5.

6.
7.
8.

9.

Integrasi ke dalam inti sel pejamu menghasilkan DNA provirus dan memicu transkripsi
membentuk mRNA
mRNA virus ditranslasikan menjadi enzim-enzim dan protein struktural oleh ribosom sel
RNA genom virus dari inti sel dibebaskan ke sitoplasma
RNA virus bergabung dengan protein-protein virus, yang sebelumnya enzim protease
memotong dan menata protein virus menjadi segmen-segmen kecil mengelilingi RNA
virus yang menonjol keluar sel pejamu
Virion HIV baru siap dibebaskan dari sel T CD4+ yang terbungkus oleh sebagian sitoplasma
dari membran sel T CD4+
LO 2.5 Patofisiologis Infeksi virus HIV
Respon imun
Setelah terpajan HIV, individu akan melakukan respon imun terhadap infeksi yaitu
peningkatan sel T CD8+ yang menyebabkan menghilangnya viremia, walaupun demikian hal
ini tidak dapat mengontrol secara optimal terhadap replikasi HIV yang akan berada pada
masa steady-state beberapa bulan setelah infeksi dan untuk seberapa lamanya bervariasi
tergantung tingkat kekebalan tubuh pejamu. Sel NK dan sel T CD8+ mengeluarkan perforin
yang menyebabkan kematian sel terinfeksi. Aktivitas sitotoksik sel T CD8+ sangat hebat
hingga bisa menekan replikasi HIV dalam sel T CD4+. Aktivitas sel T CD8+ menurun seiring
dengan berkembangnya penyakit.
Selain itu sel B yang dirangsang oleh IL-4 yang dikeluarkan oleh sel T CD4+ akibat
rangsangan IL- 2 dari APC akan memacu sel B untuk berproliferasi menghasilkan sel
plasma yang menghasilkan antibodi spesifik untuk gp120 dan gp41 virus. Antibodi ini akan
muncul dalam 1-6 bulan pasca infeksi dan dapat dideteksi pertama kali setelah replikasi
virus menurun hingga level steady state, walaupun antibodi memiliki aktifitas netralisasi
yang kuat tetapi tidak dapat mematikan virus. Virus dapat menghindar dengan mengubah
bagian amplopnya yaitu situs glikosilasinya, sehingga konfigurasi 3 dimensinya berubah dan
antibodi yang spesifik terhadap glikoprotein terdahulu tidak akan mengenal dengan
glikoprotein yang baru.
Patofisiologi

Dengan adanya sel T mempermudah produksi IL-2 untuk mengaktivasi sel Th lain untuk
berespon terhadap infeksi HIV, sel T CD4+ juga memproduksi IFN- untuk mengaktifkan
makrofag. Sel T CD4+ memproduksi IL-4 yang akan mengaktivasi sel B untuk menghasilkan
antibodi. Sel T CD4+ memproduksi IL-5 untuk perlawanan terhadap helminth, sehingga
apabila sel T CD4+ dirusak oleh infeksi HIV akan mengakibatkan infeksi oportunistik berat
yang berakibat fatal.
Selain itu defisiensi sel T CD4+ juga disebabkan oleh :
1.
ADCC/sel NK yang terinduksi oleh antibodi gp120 dan gp41, akan membantu
menyingkirkan sel T CD4+ yang terinfeksi
2.
Apoptosis sel T CD4+
9

3.
4.

Ketidakmampuan pembelahan sel T CD4+ (anergi)


Teori sinsitium, sel T CD4+ yang tidak terinfeksi berfusi dengan sel-sel terinfeksi

LO 2.6 Gejala Infeksi virus HIV


Klasifikasi HIV pada orang dewasa menurut CDC (Center for Disease Control) berdasarkan
gejala klinis dan diagnosis laboratoriumnya dibagi menjadi empat grup:
1. Infeksi akut HIV
Keadaan ini disebut sebagai infeksi primer HIV atau sindrom serokonversi akut. Waktu
dari paparan virus sampai timbulnya keluhan antara 2-4 minggu. Infeksi akut biasanya
asimtomatis, tapi beberapa akan menunjukkan keluhan seperti demam pada influenza.
Pada masa ini, diagnosa jarang dapat ditegakkan, salah satunya karena tes serologi
standar untuk antibodi terhadap HIV masih memberikan hasil negatif (window periode).
10

2. Infeksi seropositif HIV asimtomatis


Pada orang dewasa terdapat periode laten infeksi HIV yang bervariasi dan lama untuk
timbulnya penyakit yang terkait HIV/AIDS. Periode asimtomatisnya bisa panjang mulai
dari beberapa bulan hingga 10 tahun atau lebih. Pada masa ini, biarpun penderita tidak
nampak keluhan apa-apa, tetapi bila diperiksa darahnya akan menunjukkan seropositif
antibodi p24 dan gp41. Hal ini akan sangat berbahaya dan berpotensi tinggi menularkan
infeksi HIV pada orang lain.
3. Persisten generalised lymphadenopaty/ PGL
Pada masa ini ditemukan pembesaran nodus limfe yang meliputi sedikitnya dua tempat
selain inguinal, dan tidak ada penyakit lain atau pengobatan yang menyebabkan
pembesaran nodus limfe minimal selama tiga bulan. Antibodi yaitu p24 dan g41 biasanya
terdeteksi. Beberapa penderita mengalami diare kronis dengan penurunan berat badan,
sering diketahui sebagai slim disease.
4. Gejala yang berkaitan dengan HIV/AIDs
Hampir semua orang yang terinfeksi HIV, jika tidak diterapi, akan berkembang
menimbulkan gejala-gejala yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Progresivitas infeksi
tergantung pada karakteristik virus dan hospes. Karakter virus meliputi HIV-1 dan HIV-2,
sedangkan karakter hospes meliputi usia (<5 tahun atau >40 tahun), infeksi yang
menyertai-nya, dan faktor genetik.Yang utama dari grup ini adalah turunnya jumlah
limfosit CD4+, biasanya dibawah 100/mm3. Stadium ini kadang dikenal sebagai full
blown AIDS .
Adapun kriteria gejala pada dewasa menurut WHO :
Gejala mayor:
Penurunan berat badan >10% berat badan
Diare kronis lebih dari 1 bulan
Demam lebih dari 1 bulan
Gejala minor:

Batuk-batuk selama lebih dari 1 bulan


Pruritus dermatitis menyeluruh
Infeksi umum yang rekuren (misalnya herpes zoster)
Kandidiasis orofaringeal
Infeksi herpes simplek kronis progresif atau yang meluas
Limfadenopati generalisata

Klasifikasi infeksi HIV pada anak berbeda dengan orang dewasa, klasifikasi tersebut
berdasarkan gejala dan beratnya imunosupresi yang terjadi pada anak. Klasifikasi ini sendiri
penting untuk mengetahui derajat beratnya penyakit HIV anak. Adapun kriteria gejala
menurut WHO untuk anak:
11

Gejala mayor:
Berat badan turun atau pertumbuhan lambat yang abnormal
Diare kronis >1 bulan
Demam >1 bulan
Gejala minor:
Limfadenopati generalisata
Kandidiasis orofaringeal
Infeksi umum yang rekuren
Batuk-batuk selama lebih dari 1 bulan
Ruam kulit yang menyeluruh
Konfirmasi Infeksi HIV pada ibunya dihitung sebagai kriteria minor.

Gejala-gejala Utama AIDS


Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem
kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus,
fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang
dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS.HIV mempengaruhi
hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker
seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut
limfoma. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam,
berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah,
serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga
tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat
hidup pasien.
A. Penyakit Paru-Paru Utama
<< Foto sinar-X pneumonia pada paru-paru,
disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii.
Pneumonia pneumocystis (PCP) jarang dijumpai
pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh
yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang
yang terinfeksi HIV.
Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis
jirovecii. Sebelum adanya diagnosis, perawatan,
dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di
negara-negara Barat, penyakit ini umumnya segera
menyebabkan kematian. Di negara-negara
berkembang, penyakit ini masih merupakan
indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang
12

belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah
CD4 kurang dari 200 per L.
Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang
terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui
rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi,
dapat muncul pada stadium awal HIV, serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan.
Namun demikian, resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial
pada penyakit ini.
Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena
digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya, namun
tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak
ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per L), TBC muncul
sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai
penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner).
Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi
pada satu tempat.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang,
tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa
regional), dan sistem syaraf pusat.[12] Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin
lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.
B. Penyakit saluran pencernaan
Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari
mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi
jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun
dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka.
Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai
penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella,
Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang
tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium
avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis).
Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang
digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari
HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik
yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile).
Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya
perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan
komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV.
C. Penyakit Syaraf dan Kejiwaan.
Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada
syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem
syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.
13

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut
Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang
otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan
penyakit pada mata dan paru-paru. Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges
(membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus
neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah.
Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani
dapat mematikan.
Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit
yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf
(akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC,
yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan
menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang
terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar
(multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah
diagnosis.
Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia)
yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang
disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh
makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga
mengeluarkan neurotoksin.Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk
ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah
infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+
dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di
negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%,namun di India hanya terjadi pada 1-2%
pengidap infeksi HIV.Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe
HIV di India.
D. Kanker dan Tumor Ganas (Maligant)
Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya
memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap
terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena
infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi
genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr
(EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi
(KSHV), dan virus papiloma manusia
(HPV).
Sarkoma Kaposi adalah tumor yang
paling umum menyerang pasien yang
terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini
pada sejumlah pemuda homoseksual
14

tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan
oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga
disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit
dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut,
saluran pencernaan, dan paru-paru.
Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel
darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma
Burkitt (Burkitt's lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt's-like lymphoma), diffuse large Bcell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul
pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi
(prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS.
Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes
Sarkoma Kaposi.
Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker
ini disebabkan oleh virus papiloma manusia.
Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin,
kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus. Namun demikian, banyak tumortumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon), yang tidak
meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempat-tempat dilakukannya
terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS, kemunculan
berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun, namun pada saat yang sama
kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang
terinfeksi HIV
E. Infeksi Oportunistik Lainnya

Pasien AIDS biasanya menderita infeksi


oportunistik dengan gejala tidak spesifik,
terutama demam ringan dan kehilangan berat
badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi
Mycobacterium avium-intracellulare dan virus
sitomegalo.
Virus
sitomegalo
dapat
menyebabkan gangguan radang pada usus besar
(kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan
gangguan radang pada retina mata (retinitis
sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan
kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh jamur
Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis,
kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang
paling umum (setelah tuberkulosis dan
kriptokokosis) pada orang yangpositif HIV di
daerah endemik Asia Tenggara.
15

LO 2.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding Infeksi virus HIV


Banyak orang yang terinfeksi HIV tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi
karena mereka tidak mengalami gejala setelah mereka pertama kali terinfeksi HIV.
Sebagian dari mereka memiliki gejala mirip flu dalam beberapa hari sampai beberapa
minggu setelah terpapar virus. Mereka mengeluh demam, sakit kepala, kelelahan, dan
terjadi pembesaran kelenjar getah bening di leher. Gejala-gejala ini biasanya hilang dengan
sendirinya dalam beberapa minggu. Setelah itu, orang tersebut merasa normal dan tidak
memiliki gejala. Fase ini sering berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun.
Pemeriksaan darah adalah cara paling umum untuk mendiagnosis HIV. Tes ini bertujuan
untuk mencari antibodi terhadap virus HIV. Orang yang terkena virus harus segera
dilakukan pemeriksaan laboratorium. Tindak lanjut tes mungkin diperlukan, tergantung
pada waktu awal paparan.
Sebelum dilakukan tes, pemeriksaan anamnesis juga perlu dilakukan untuk
mengetahui gaya hidup pasien apakah termasuk gaya hidup berisiko tinggi.
Pemeriksaan primer untuk mendiagnosis HIV dan AIDS meliputi:
ELISA
ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) digunakan untuk mendeteksi infeksi
HIV. Jika tes ELISA positif, tes Western blot biasanya dilakukan untuk
mengkonfirmasikan diagnosis. Jika tes ELISA negatif, tetapi ada kemungkinan pasien
tersebut memiliki HIV, pemeriksaan harus diulang lagi dalam satu sampai tiga bulan.
ELISA sensitivitasnya tinggi yaitu sebesar 98,1-100%, cukup sensitif pada infeksi HIV
kronis, tetapi karena antibodi tidak diproduksi segera setelah infeksi, hasil tes mungkin
negatif selama beberapa minggu untuk beberapa bulan setelah terinfeksi. Meskipun
hasil tes mungkin negatif selama periode ini, pasien mungkin memiliki tingkat
penularan tinggi. Biasanya tes ini memberikan hasil positif setelah 2-3 bulan
terinfeksi.
Pemeriksaan Air Liur
Pad kapas digunakan untuk memperoleh air liur dari bagian dalam pipi. Pad
ditempatkan dalam botol dan diserahkan ke laboratorium untuk pengujian. Hasil dapat
diperoleh dalam tiga hari. Hasil positif harus dikonfirmasi dengan tes darah.
Viral Load Test
Tes ini bertujuan untuk mengukur jumlah virus HIV dalam darah. Umumnya, tes ini
digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan atau mendeteksi dini infeksi HIV.
Tiga teknologi yang digunakan untuk mengukur viral load HIV dalam darah: Reverse
Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Branched DNA (bDNA) and
Nucleic Acid Sequence-Based Amplification Assay (NASBA). Prinsip-prinsip dasar
dari tes ini sama. HIV dideteksi menggunakan urutan DNA yang terikat secara khusus
pada virus. Penting untuk dicatat bahwa hasil dapat bervariasi antara tes.

Western Blot
16

Ini adalah pemeriksaan darah yang sangat sensitif sebesar 99,6-100%, yang digunakan
untuk mengkonfirmasi hasil tes ELISA positif. Tetapi pemeriksaan ini cukup sulit,
mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Western Blot merupakan
elektroporesis gel poliakrilamid yang digunakan untuk mendeteksi rantai protein yang
spesifik terhadap DNA. Jika tidak ada rantai protein yang ditemukan berarti tes
negatif. Sedangkan bila hampir atau semua rantai protein ditemukan berarti western
blot positif. Tes ini harus diulangi lagi setelah 2 minggu dengan sampel yang sama.
Jika western blot tetap tidak bisa disimpulkan maka tes western blot harus diulangi
lagi setelah 6 bulan. Jika tes tetap negatif maka pasien dianggap HIV negatif
Langkah Pemeriksaan
Strategi I
Hanya dilakukan satu kali pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan reaktif, maka
dianggap sebagai kasus terinfeksi HIV dan bila hasil pemeriksaan nonreaktif dianggap
tidak terinfeksi HIV. Reagensia yang dipakai untuk pemeriksaan pada strategi ini harus
memiliki sensitivitas yang tinggi (>99%).
Strategi II
Menggunakan dua kali pemeriksaan jika serum pada pemeriksaan pertama
memberikan hasil reaktif. Jika pada pemeriksaan pertama hasilnya nonreaktif, maka
dilaporkan hasilnya negatif. Pemeriksaan pertama menggunakan reagensia dengan
sensitivitas tertinggi dan pada pemeriksaan kedua dipakai reagensia yang lebih spesifik
serta berbeda jenis antigen atau tekniknya dari yang dipakai pada pemeriksaan pertama.
Bila hasil pemeriksaan kedua juga reaktif, maka disimpulkan sebagai terinfeksi HIV.
Namun jika hasil pemeriksaan yang kedua adalah nonreaktif, maka pemeriksaan harus
diulang dengan kedua metode. Bila hasil tetap tidak sama, maka dilaporkan sebagai
indeterminate.
Strategi III
Menggunakan tiga kali pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan pertama, kedua, dan
ketiga reaktif, maka dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut memang terinfeksi HIV.
Bila hasil pemeriksaan tidak sama, misalnya hasil tes pertama reaktif, tes kedua reaktif,
dan tes ketiga nonreaktif, atau tes pertama reaktif, sementara tes kedua dan ketiga
nonreaktif, maka keadaan ini disebut sebagai equivokal atau indeterminate bila pasien
yang diperiksa memiliki riwayat pemaparan terhadap HIV atau berisiko tinggi tertular
HIV. Sedangkan bila hasil seperti yang disebut sebelumnya terjadi pada orang tanpa
riwayat pemaparan terhadap HIV atau tidak berisiko tertular HIV, maka hasil
pemeriksaan dilaporkan sebagai nonreaktif. Perlu diperhatikan juga bahwa pada
pemeriksaan ketiga dipakai reagensia yang berbeda asal antigen atau tekniknya, serta
memiliki spesifisitas yang lebih tinggi.
Jika pemeriksaan penyaring menyatakan hasil yang reaktif, pemeriksaan dapat
dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi untuk memastikan adanya infeksi oleh HIV,
yang paling sering dipakai saat ini adalah teknik Western Blot (WB).
Seseorang yang ingin menjalani tes HIV untuk keperluan diagnosis harus
mendapatkan konseling pra tes. Hal ini dilakukan agar ia bisa mendapat informasi yang
sejelas-jelasnya mengenai infeksi HIV/AIDS sehingga dapat mengambil keputusan
yang terbaik untuk dirinya serta lebih siap menerima apapun hasil tesnya nanti. Untuk
17

keperluan survei tidak diperlukan konseling pra tes karena orang yang dites tidak akan
diberi tahu hasil tesnya.
Untuk memberi tahu hasil tes juga diperlukan konseling pasca tes, baik hasil tes
positif maupun negatif. Jika hasilnya positif akan diberikan informasi mengenai
pengobatan untuk memperpanjang masa tanpa gejala serta cara pencegahan penularan.
Jika hasilnya negatif, konseling tetap perlu dilakukan untuk memberikan informasi
bagaimana mempertahankan perilaku yang tidak berisiko. Seseorang dinyatakan
terinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan laboratorium terbukti terinfeksi HIV, baik
dengan metode pemeriksaan antibodi atau pemeriksaan untuk mendeteksi adanya virus
dalam tubuh.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding pasien ini difikirkan sebagai multipel abses pada HIV yang
disebabkan oleh Tubesculosis, karena abses pada tuberculoma juga terdapat multipel
abses, dengan gambaran abses yang lebih kecil dengan ukuran 1-2 mm, serta efek massa
yang minimal. Namun pada pasien ini didapatkan adanya gejala infeksi tuberkulosis pada
paru, yaitu tidak adanya batuk-batuk yang lama dan pada pemeriksaan fisik paru tidak
didapatkan kelaianan serta pada hasil MRI didapatkan ukuran yang lebih besar dan efek
massa (+)

Malaria
Tuberkulosis
Penyakit Autoimun

LO 2.8 Komplikasi Infeksi virus HIV


Kebanyakan komplikasi HIV terjadi akibat dari surpresi sel T. Karena sel T yang diserang,
kekebalan tubuh menuruh hingga dapat terjadi infeksi oportunistik. Komplikasi-komplikasi
pada pasien yang terjangkit HIV menyebabkan AIDS. Obat anti-retroviral, yang dikenal
sebagai Highly Active Anti-Retroviral Therapy (ART), sekarang tersedia untuk menghambat
replikasi dari virus HIV. Obat-obat
ini membantu untuk memperpanjang hidup,
mengembalikan sistem kekebalan pasien hingga mendekati aktivitas normal dan mengurangi
kemungkinan infeksi oportunistik. Kombinasi dari tiga atau lebih obat-obatan diberikan
untuk mengurangi kemungkinan resistensi.

Komplikasi-komplikasi umum pada pasien HIV/AIDS akibat infeksi oportunistik:


Tuberkulosis (TB)
Di negara-negara miskin, TB merupakan infeksi oportunistik yang paling umum yang
terkait dengan HIV dan menjadi penyebab utama kematian di antara orang yang hidup
18

dengan AIDS. Jutaan orang saat ini terinfeksi HIV dan TBC dan banyak ahli menganggap
bahwa ini merupakan wabah dua penyakit kembar.
Salmonelosis
Kontak dengan infeksi bakteri ini terjadi dari makanan atau air yang telah terkontaminasi.
Gejalanya termasuk diare berat, demam, menggigil, sakit perut dan, kadang-kadang,
muntah. Meskipun orang terkena bakteri salmonella dapat menjadi sakit, salmonellosis
jauh lebih umum ditemukan pada orang yang HIV-positif.
Cytomegalovirus (CMV)
Virus ini adalah virus herpes yang umum ditularkan melalui cairan tubuh seperti air liur,
darah, urine, semen, dan air susu ibu. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat
menonaktifkan virus sehingga virus tetap berada dalam fase dorman (tertidur) di dalam
tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh melemah, virus menjadi aktif kembali dan dapat
menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru atau organ tubuh
lainnya.
Kandidiasis
Kandidiasis adalah infeksi umum yang terkait HIV. Hal
ini menyebabkan peradangan dan timbulnya lapisan
putih tebal pada selaput lendir, lidah, mulut,
kerongkongan atau vagina. Anak-anak mungkin
memiliki gejala parah terutama di mulut atau
kerongkongan sehingga pasien merasa sakit saat makan.

Cryptococcal Meningitis
Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan
sumsum tulang belakang (meninges). Cryptococcal meningitis infeksi sistem saraf pusat
yang umum terkait dengan HIV. Disebabkan oleh jamur yang ada dalam tanah dan
mungkin berkaitan dengan kotoran burung atau kelelawar.
Toxoplasmolisis
Infeksi yang berpotensi mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Penularan
parasit ini disebabkan terutama oleh kucing. Parasit berada dalam tinja kucing yang
terinfeksi kemudian parasit dapat menyebar ke hewan lain.
Kriptosporidiosis
Infeksi ini disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan. Penularan
kriptosporidiosis terjadi ketika menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Parasit
tumbuh dalam usus dan saluran empedu yang menyebabkan diare kronis pada orang
dengan AIDS.
Kanker yang biasa terjadi pada pasien HIV/AIDS:
19

Sarkoma Kaposi
Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor pada dinding pembuluh darah. Meskipun jarang
terjadi pada orang yang tidak terinfeksi HIV, hal ini menjadi biasa pada orang dengan
HIV-positif. Sarkoma Kaposi biasanya muncul sebagai lesi merah muda, merah atau ungu
pada kulit dan mulut. Pada orang dengan kulit lebih gelap, lesi mungkin terlihat hitam
atau coklat gelap. Sarkoma Kaposi juga dapat mempengaruhi organ-organ internal,
termasuk saluran pencernaan dan paru-paru.
Limfoma
Kanker jenis ini berasal dari sel-sel darah putih. Limfoma biasanya berasal dari kelenjar
getah bening. Tanda awal yang paling umum adalah rasa sakit dan pembengkakan
kelenjar getah bening ketiak, leher atau selangkangan.
Komplikasi lainnya:
Wasting Syndrome
Pengobatan agresif telah mengurangi jumlah kasus wasting syndrome, namun masih tetap
mempengaruhi banyak orang dengan AIDS. Hal ini didefinisikan sebagai penurunan
paling sedikit 10 persen dari berat badan dan sering disertai dengan diare, kelemahan
kronis dan demam.
Komlikasi Neurologis
Walaupun AIDS tidak muncul untuk menginfeksi sel-sel saraf, tetapi AIDS bisa
menyebabkan gejala neurologis seperti kebingungan, lupa, depresi, kecemasan dan
kesulitan berjalan. Salah satu komplikasi neurologis yang paling umum adalah demensia
AIDS yang kompleks, yang menyebabkan perubahan perilaku dan fungsi mental
berkurang.
LO 2.9 Penatalaksanaan Infeksi virus HIV
HIV/AIDS sampai saat ini memang belum dapat disembuhkan secara total. Namun, data
selama 8 tahun terakhir menunjukan bukti yang amat menyakinkan bahwa pengobatan
dengan kombinasi beberapa obat anti HIV (obat anti retroviral , disingkat obat ARV)
bermanfaat menurunkan morbiditas dan mortalitas dini akibat infeksi HIV, orang
dengan HIV/AIDS menjadi lebih sehat, dapat bekerja normal dan produktif. Manfaat
ARV di capai melalui pulihnya sistem kekebalan akibat HIV dan pulihnya kerentanan
odha terhadap infeksi oportunistik.
Secara umum, penatalaksanaan odha terdiri atas beberapa jenis, yaitu:
a). Pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretrovira (ARV),
b).Pengobatan untuk mengatasi beberapa penyakit infeksi dan kangker yang
menyertai infeksi HIV/AIDS, seperti jamur, tuberkolosis ,hepatitis, toksoplasma,
sarkoma, kaposi, limfoma, kanker serviks,
20

c). Pengobatan suportif, yaitu: makanan yang mempunyai nilai gizi yang lebih baik
dan pengobatan pendukung lain seperti dukungan lain seperti dukungan
psikososial dan dukungan agama seperti juga tidur yang cukup dan perlu menjaga
kebersihan. Dengan pengobatan yanglengkap tersebut, angka kematian dapat di
tekan, harapan hidup lebih baik dan kejadian infeksi oportunistik amat berkurang.
TERAPI ANTIRETROVIRAL(ARV)
Pemberian ARV telah menyebabkan kondisi kesehatan odha menjadi jauh lebih
baik.infeksi kriptosporidiasis yang sebelumnya sukar di obati, menjadi lebih mudah di
tangani. Infeksi penyakit oportunistik lain yang berat seperti infeksi firus sitomegola
dan infeksi mikobakterium atipikal, dapat di sembuhkan. pneumonia pneumocystis
carinii pada odha yang hilang timbul, biasanya mengharuskan odha minum obat infeksi
agar tidak kambuh. Namun sekarang dengan minum obat ARV teratur, banyak ODHA
yang tidak memerlukan minum obat profilaksis terhadap pneumonia.
Terhadap penemuan kasus kanker yang terkait dengan HIV seperti sarkoma koposi dan
limfoma dikarnakan pemberian obat-obat antiretroviral tersebut. Sarkoma koposi dapat
sepontan membaik tanpa pengobatan khusus.penekanan terhadap replikasi virus
menyebabkanpenurunan produksi sitokin dan protein virus yang dapat menstimulasi
pertumbuhan sarkoma koposi. Selain itu pulihnya kekebalan tubuh menyebabkan tubuh
dapat membentuk responsi imun yang efektif terhadap human herpesvirus 8 (HHP-8)
yang di hubungkan dengan kejadian sarkoma koposi.
Obat ARV terdiri dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse transcriptase
inhibitor, nucleotide reverse transcriptase inhibitor, non-nucleoside reverse
transcriptase inhibitor, dan inhibitor protease. tidak semua ARV yang ada telah tersedia
di indonesia (tabel 3). Waktu memulai terapi ARV harus di pertimbangkan dengan
seksama karena obat ARV akan diberikan dalam jangka panjang. Obat ARV di
rekomendasikan pada semua pasien yang telah menunjukan gejala yang termasuk dalam
kriteria diagnosis AIDS, atau menunjukan gejala yang sangat berat, tanpa melihat
jumlah limfosit CD4+. Obat ini juga di rekomendasikan pada pasien asimptomatik
dengan llimfosit CD4+ kurang dari 200 sel /mm3. Pasien asimptomatik dengan limfosit
CD4+200-350 sel/mm3 dapat di tawarkan untuk memulai terapi. Pada pasien
asimptomatik dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load lebih dari
100.000 kopi/ml terapi ARV dapat di mulai, namun dapat pula ditunda.Terapi ARV tidak
di anjurkan di mulai pada pasien dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral
load kurang dari 100.000 kopi/ml.
Saat ini regimen pengobatanm ARV yang dianjurkan WHO adalah kombinasi dari 3
obat ARV. Terdapat beberapa regimen yang dapat dipergunakan (tabei 4), dengan

21

keungulan dan kerugiannya masing-masing.kombinasi obat antiretroviral lini pertama


yang umumnya digunakan di indonesia adalah kombinasi zidovudin (ZDV)/lamivudin
(3TC),dengan nevirapin (NVP).
Obat ARV juga di berikan pada beberapa kondisi khusus seperti pengobatan profilaksis
pada orang yang terpapar dengan cairan tubuh yang mengandung virus HIV (postexposure prophylaxis ) dan pencegahan penularan ibu ke bayi.
Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV
penting untuk mendapat perhatian lebih besar meningkat sudah ada beberapa bayi di
indonesia yang tertular HIV dari ibunya. Evektifitas penularan HIV dari ibu ke bayi
adalah sebesar 10-30%. Artinya dari 100 ibu hamil yang terinfeksi HIF, ada 10sampai30
bayi yang akan tertular. Sebagian besar penularan terjadi sewaktu proses melahirkan,
dan serbagian kecil melalui plasenta selama kehamilan dan sebagian lagi melalui air
susu ibu.
Kendala yang di khawatirkan adalah biyaya untuk membeli obat ARV.obatARV yang di
anjurkan untuk PTMCT adalah zidovudin (AZT) atau nevirapin.pemberian nevirpin
dosis tunggal untuk ibu dan anak dinilai sangat mudah untuk di terapan dan
ekonomis.sebelumnya pilihan yang terbaik adalah pemberian ARV yang di
kombinasikan denganoprasi caesar, karena dapat menekan penularan sampai 1% namun
sayangnya di negara berkembang seperti indonesia tidak mudah untuk melakukaan
operasi sectio caesaria yang murah dan aman.
Interaksi dengan obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Masalah koinfeksi tuberkulosis dengan HIV merupakan masalah yang sering di hadapi
di indonesia. Pada prinsipnya, pemberian OAT pada odha tidak berbeda dengan passien
HIF negatif. Interaksi antara OAT dan ARV, termasuk efek hepatotoksisitasnya, harus
sangat di perhatikan. Pada odha yang telah mendapat obat ARV sewaktu diagnosis TB
22

ditegakkan, maka obat ARV tetap diteruskan dengan efaluasi yang lebih ketat. Pada
odha yang belum mendapat terapi ARV, waktu pemberian obat di sesuaikan dengan
kondisinya (Tabel 5)
Tidak ada interaksi bermakna antara OAT dengan ARV golongan nukleosida, kecuali
ddl yang harus di berikan selang 1 jam dengan OAT karena bersifat sebagai buffer
antasida.
Interaksi dengan OAT terutama terjadi pada ARV golongan non-nukleosida dan
inhibitor protease. Obat ARV yang di anjurkan digunakan pada odha dengan TB pada
kolom B (tabel 4) adalah evafirenz. Rifampisin dapat menurunkan kadar nelvinafir
sampai 82% dan dapat menurunkan kadar nevirapin sampai 37%. Namun, jika
evafirenza tidak memungkinkan diberikan, Pada pemberian Bersama rifamisin dan
nevirapin, dosis nevirapin tidak perlu dinaikan.

EVALUASI PENGOBATAN
Pemantauan jumlah sel CD4 di dalam darah merupakan indikator yang dapat di percaya
untuk membantu beratnya kerusakan kekebalan tubuh akibat HIV, dan memudahkan
kita untuk mengambil keputusan memberikan pengobatan ARV. Jika kita mendapat
sarana pemeriksaan CD4, maka jumlah CD4 dapat di perkirakan dari jumlah limfosit
total yang sudah dapat dikerjakan dari banyak laboratorium pada umumnya.
Sebelum tahun 1996, para klinisi mengobati, menentukan prognosisdan menduga
staging pasien, berdasarkan gambaran klinik pasien dan jumlah limfosit CD4. Sekarang
ini sudah ada tambahan parameter baru yaitu hitungan virus HIV dalam darah(viral
load) sehingga upaya tersebut menjadilebih tepat.
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa dengan pemeriksaan viral load, kita
dapat memperkirakan resiko kecepatan perjalanan penyakit dan kematian akibat HIV.
Pemeriksaan vira load memudahkan untuk memantau efektifitas obat ARV.
Sejak awal pengobatan ARV, masalah kegagalan terapi ARV lini pertama menjadi hal
yang banyak diteliti. Definisi kegagalan terapi dapat dilihat pada tabel 6.
Obat-obat golongan protease inhibitor (PIs) seperti lopinavir/ritonavir, atazanavir,
saquinavir, fosamprenavir, dan darunavir memiliki barier genetik yang tinggi terhadap
resistensi. Obat golongan lain memiliki barier rendah. Walu demikian, kebanyakan
23

pasien yang mendapatkan Pis-terkait HAART (highly active anti-retroviral therapy)


yang mengalami kegagalan virologis biasanya memiliki strain virus HIV yang masih
sensitif, kecuali bila digunakan jangka panjang. Obat golongan lain biasanya menjadi
resisten dalam waktu yang lebih singkat ketika terdapat kegagalan virologist.
Indikasi terapi untuk merubah terapi pada kasus gagal terapi adalah progresi penyakit
secara klinis dimulai setelah >6 bulan memakai ARV.
Pada WHO stadium 3: penurunan berat badan BB > 10%, diare atau demam >1 bulan
yang tidak dapat dijelaskan sebabnya, oral hairly leukoplakia terdapat infeksi bakterial
yang berat atau bedridden lebih dari 50% dari satu bulan terakhir.
Tes resistensi seharusnya dilakukan selama terapi atau dalam 4 minggu penghentian
regimen obat yang gagal. Interpretasi hasil tes resistensi merupakan hal yang kompleks,
bahkan terkadang lebih baik dikerjakan oleh ahlinya.

LO 2.10 Pencagahan Infeksi virus HIV


Ada beberapa jenis program yang terbukti sukses diterapkan di beberapa negara dan amat
dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO, untuk dilaksanakan secara sekaligus
yaitu :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)

Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda


Program penyuluhan sebaya untuk berbagai kelompok sasaran
Program kerja sama dengan media cetak dan elektronik
Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkotika, termasuk program
pengadaan jarum suntik steril
Program pendidikan agama
Program layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS)
Program promosi kondom di lokalisata pelacuran dan panti pijat
Pelatihan keterampilan hidup
Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling
Dukungan untuk anak jalanan dan pengentasan prostitusi anak
Integrasi program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan dan
dukungan untuk ODHA
Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat
ARV

L.O 2.11 Skrining dan konfirmasi HIV


Mempunyai makna melakukan pemeriksaan HIV pada suatu populasi tertentu,
sementara uji diagnostik HIV berarti melakukan pemeriksaan HIV pada orang-orang
dengan gejala dan tanda yang konsisten dengan infeksi HIV. CDC menyatakan bahwa
24

infeksi HIV memenuhi seluruh kriteria untuk dilakukan skrining, karena:


a. Infeksi HIV merupakan penyakit serius yang dapat didiagnosis sebelum timbulnya
gejala.
b. HIV dapat dideteksi dengan uji skrining yang mudah, murah, dan noninvasif.
c. Pasien yang terinfeksi HIV memiliki harapan untuk lebih lama hidup bila pengobatan
dilakukan sedini mungkin, sebelum timbulnya gejala.
d. Biaya yang dikeluarkan untuk skrining sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh
serta dampak negatif yang dapat diantisipasi. Di antara wanita hamil, skrining secara
substansial telah terbukti lebih efektif dibandingkan pemeriksaan berdasarkan risiko
untuk mendeteksi infeksi HIV dan mencegah penularan perinatal.
CDC merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan HIV secara rutin untuk
setiap orang berusia 13-64 tahun yang datang ke sarana pelayanan kesehatan meskipun
tanpa gejala. Selain itu, CDC juga merekomendasikan agar pemeriksaan HIV
dimasukkan dalam pemeriksaan rutin antenatal bagi wanita hamil.11 Sementara
pemeriksaan wajib HIV lebih ditekankan untuk dilakukan pada donor darah dan organ.
Pemeriksaan wajib HIV juga dapat dilakukan pada bidang perekrutan tentara atau
tenaga kerja imigran.
Panduan WHO mengenai PITC tahun 2007 menyebutkan bahwa metode ini
dapat diterapkan pada wilayah dengan tingkat epidemiologi HIV yang berbeda- beda,
yaitu daerah dengan epidemi HIV yang rendah, daerah dengan tingkat epidemi HIV
yang terkonsentrasi, dan daerah dengan tingkat epidemi yang meluas. Yang dimaksud
dengan epidemi yang rendah adalah infeksi HIV hanya ditemukan pada beberapa
individu dengan perilaku berisiko (WPS, pengguna narkoba suntik, laki-laki
berhubungan seks dengan laki-laki); angka prevalensinya tidak melebih 5% pada
subpopulasi tertentu. Sementara itu, yang dimaksud dengan tingkat epidemi yang
terkonsentrasi adalah infeksi HIV telah menyebar di subpopulasi tertentu, namun tidak
ditemukan di populasi umum. Hal ini menunjukkan aktifnya hubungan antara risiko
dengan subpopulasi; angka prevalensi pada subpopulasi melebihi 5%, namun tidak
sampai 1% pada wanita hamil. Kemudian, yang dimaksud tingkat epidemi yang meluas
adalah infeksi HIV telah ditemukan pada populasi umum, dengan prevalensi pada
wanita hamil melebihi 1%.
Pada semua tingkat epidemi, PITC direkomendasikan untuk dilakukan kepada
orang dewasa, remaja, atau anak dengan gejala dan tanda klinis yang sesuai dengan
infeksi HIV; anak yang terpapar HIV atau anak yang lahir dari ibu yang HIV positif;
anak dengan pertumbuhan suboptimal atau malnutrisi, di daerah dengan epidemi yang
meluas, yang tidak membaik dengan terapi yang optimal; serta pria yang menginginkan
untuk dilakukan sirkumsisi sebagai pencegahan penularan HIV.

Uji Konfirmasi HIV


Pemeriksaan Anti-HIV konfirmasi merupakan pemeriksaan tahap kedua setelah uji
saring. Pemeriksaan ini diperlukan ketika hasil uji saring positif atau positif palsu (hasil
uji saring menyatakan positif, namun sebenarnya tidak terinfeksi HIV). Bila pada
25

pemeriksaan ini menunjukkan hasil positif, maka hampir dapat dipastikan bahwa seorang
individu terinfeksi HIV.
LI.3. Memahami dan Menjelaskan Dilema Etik dalam menangani pasien HIV
Stigma dan diskriminasi, dibawah slogan "Live and Let Live" (Hidup dan Tetap Tegar),
telah ditetapkan menjadi tema Kampanye AIDS Dunia di tahun 2002-2003. Stigma sering
kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan akan mendorong munculnya pelanggaran
HAM bagi orang dengan HIV/AIDS dan keluarganya. Ini karena mengingat HIV/AIDS
sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang yang
tidak peduli, tidak menerima, dan takut terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan
masyarakat. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi HIV/AIDS (Kesrepro, 2007).
Stigma dan diskriminasi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Dimana ia terjadi
ketika pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan
seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan status HIV
seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf rumah sakit atau penjara yang
menolak memberikan pelayanan kesehatan kepada ODHA; pegawai atasan yang
memberhentikan karyawannya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV mereka;
atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan
HIV/AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak asasi
manusia (Kesrepro, 2007).
UUD yang Berhubungan :
Pasal 30
Pemberantasan penyakit menular dilaksanakan dengan upaya penyuluhan, penyelidikan,
pengebalan, menghilangkan sumber dan perantara penyakit, tindakan karantina, dan upaya
lain yang diperlukan.
Pasal 31
Pemberantasan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah dan penyakit karantina
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Kewajiban etik yang
utama dari professional MIK maupun tenaga kesehatan adalah melindungi privasi dan
kerahasiaan pasien dan melindungi hak-hak pasien dengan menjaga kerahasiaan rekam
medis pasien HIV AIDS. Kaidah turunan moral bagi tenaga kesehatan adalah
privacy,confidentiality, fidelity dan veracity. Privacy berarti menghormati hak privacy
pasien,confidentialty berarti kewajiban menyimpan informasi kesehatan sebagai rahasia,
fidelity berarti kesetiaan, dan veracity berarti menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran.
Pengelolaan informasi pasien HIV AIDS di tempat kerja juga diatur Menurut Kepmenaker
No.KEP. 68/MEN/IV/2004 tentang pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS :
Pasal 6
Informasi yang diperoleh dari kegiatan konseling, tes HIV, pengobatan, perawatan dan
kegiatan lainnya harus dijaga kerahasiaannya seperti yang berlaku bagi data rekam medis.
26

Dalam kaitannya aspek hukum kerahasiaan pasien HIV AIDS , kode etik administrator
perekammedis dan informasi kesehatan ( PORMIKI, 2006) adalah :
Selalu menyimpan dan menjaga data rekam medis serta informasi yang terkandung di
dalamnya sesuai dengan ketentuan prosedur manajemen, ketetapan pimpinan institusi dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selalu menjunjung tinggi doktrin kerahasiaan
dan hak atas informasi pasien yang terkait dengan identittas individu atau sosial.
Administrator informasi kesehtan wajib mencegah terjadinya tindakan yang menyimpang
dari kode etik profesi. Perbuatan / tindakan yang bertentangan dengan kode etik adalah
menyebarluaskan informasiyang terkandung dalam laporan rekam medis HIV AIDS yang
dapat merusak citra profesi rekam administrator informasi kesehatan. Disisi lain rumah
sakit sebagai institusi tempatdilaksanakannya pelayanan medis, memiliki Kode Etik Rumah
Sakit ( Kodersi ) dalam kaitannya manajemen informasi kesehatan :
Pasal 4
Rumah sakit harus memelihara semua catatan / arsip, baik medik maupun non medik secara
baik.
Pasal 9
Rumah sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien
Pasal 10
Rumah sakit harus memberikan penjelasan apa yang diderita pasien dan tindakan apa yang
hendak dilakukan.
Pasal 11
Rumah sakit harus meminta persetujuan pasien ( informed consent ) sebelum melakukan
tindakan medik. Selain itu, kerahasiaan rekam medis diatur di dalam UU Praktik
Kedokteran No. 29 Tahun 2004 pasal 47 ayat (2) sebagaimana disebutkan di atas. UU
tersebut memang hanya menyebut dokter,dokter gigi dan pimpinan sarana yang wajib
menyimpannya sebagai rahasia, namun PP No 10tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia
kedokteran tetap mewajibkan seluruh tenaga kesehatan dan mereka yang sedang dalam
pendidikan di sarana kesehatan untuk menjaga rahasia kedokteran.
Tujuan dari rahasia kedokteran dalam kasus HIV AIDS, selain untuk kepentingan
jabatan adalahuntuk menghindarkan pasien dari hal-hal yang merugikan karena
terbongkarnya statuskesehatan. Menurut Declaration on the Rights of the Patients yang
dikeluarkan oleh WMA memuat hak pasien terhadap kerahasiaan sebagai berikut:

Semua informasi yang teridentifikasi mengenai status kesehatan pasien, kondisi


medis,diagnosis, prognosis, dan tindakan medis serta semua informasi lain yang sifatnya
pribadi, harus dijaga kerahasiaannya, bahkan setelah kematian. Perkecualian untuk kerabat
pasien mungkin mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang dapat
memberitahukan mengenai resiko kesehatan mereka.
LI.4. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam dalam Menangani Kasus HIV
27

Transmisi utama (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS adalah seks
bebas.Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas
tersebut.Hal ini meliputi media-media yang merangsang (pornografi-pornoaksi), tempattempat prostitusi, club-club malam, tempat maksiat dan pelaku maksiat.
1.
Islam telah mengharamkan laki-laki dan perempuan yang bukanmuhrim
berkholwat (berduaan/pacaran). Sabda Rasulullah Saw:Laa yakhluwanna rojulun bi
imroatin Fa inna tsalisuha syaithanartinya: Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan
perempuan menyepi (bukan muhrim) karena sesungguhnya syaithan ada sebagai pihak
ketiga. (HR. Baihaqy)
2.
Islam mengharamkan perzinahan dan segala yang terkait dengannya.
Allah Swt berfirman:Janganlah kalian mendekati zina karenasesungguhnya zina itu
perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan(QS al Isra[17]:32)
3.
Islam mengharamkan perilaku seks menyimpang, antara lain homoseks
(laki-laki dengan laki-laki) dan lesbian (perempuan dengan perempuan ). Firman
Allah Swt dalam surat al Araf ayat 80-81 : Dan (kami juga telah mengutus) Luth
( kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka : Mengapa kamu
mengerjakan perbuatan kotor itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun
manusia (didunia ini) sebelummu? Sesungghnya kamu mendatangi lelaki untuk
melepaskan nafsumu ( kepada mereka ), bukan kepada wanita, Bahkan kamu ini adalah
kaum yang melampaui batas.( TQS. Al Araf : 80-81)
4.
Islam melarang pria-wanita melakukan perbuatan-perbuatan yang
membahayakan akhlak dan merusak masyarakat, termasuk pornografi dan
pornoaksi. Islam melarang seorang pria dan wanita melakukan kegiatan dan pekerjaan
yang menonjolkan sensualitasnya. Rafi ibnu Rifaa pernah bertutur demikian: Nahaana
Shallallaahu alaihi wassaliman kasbi; ammato illa maa amilat biyadaiha. Wa qaala:
Haa kadza biashobiihi nakhwal khabzi wal ghazli wan naqsyi.artinya: Nabi Saw telah
melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan oleh kedua
tangannya. Beliau bersabda Seperti inilah jari-jemarinya yang kasar sebagaimana halnya
tukang roti, pemintal, atau pengukir.
5.
Islam mengharamkan khamr dan seluruh benda yang memabukkan serta
mengharamkan narkoba. Sabda Rasulullah Saw :Kullu muskirinharaamun artinya :
Setiap yang menghilangkan akal itu adalah haram(HR. Bukhori Muslim)Laa dharaara
wa la dhiraara artinya : Tidak boleh menimpakanbahaya pada diri sendiri dan kepada
orang lain. (HR. Ibnu Majah).Narkoba termasuk sesuatu yang dapat menghilangkan akal
dan menjadi pintu gerbang dari segala kemaksiatan termasuk seks bebas. Sementara seks
bebas inilah media utama penyebab virus HIV/AIDS .
6.

Amar maruf nahi munkar yang wajib dilakukan oleh individu danmasyarakat.

28

7.
Tugas Negara memberi sangsi tegas bagi pelaku mendekati zina. Pelaku zina
muhshan (sudah menikah) dirajam, sedangkan pezina ghoiru muhshan dicambuk 100
kali. Adapun pelaku homoseksual dihukum mati; dan penyalahgunaan narkoba dihukum
cambuk. Para pegedar dan pabrik narkoba diberi sangsi tegas sampai dengan mati. Semua
fasilitator seks bebas yaitu pemilik media porno, pelaku porno, distributor, pemilik
tempat-tempat maksiat, germo, mucikari, backing baik oknum aparat atau bukan,
semuanya diberi sangsi yang tegas dan dibubarkan.
Solusi Kuratif
Orang yang terkena virus HIV/AIDS, maka tugas negara untuk melakukanbeberapa hal
sebagai berikut:
1. Orang yang tertular HIV/AIDS karena berzina maka jika dia sudahmenikah
dihukumrajam. Sedangkan yang belum menikah dicambuk100 kali dan selanjutnya
dikarantina.
2. Orang yang tertular HIV/AIDS karena Homoseks maka dihukum mati.
3. Orang yang tertular HIV/AIDS karena memakai Narkoba makadicambuk selanjutnya
dikarantina.
4. Orang yang tertular HIV/AIDS karena efek spiral (tertular secara tidak langsung)
misalnya karena transfusi darah, tertular dari suaminya dan sebagainya, maka orang
tersebut dikarantina.
Penderita HIV/AIDS yang tidak karena melakukan maksiat dengan sangsi hukuman mati,
maka tugas negara adalah mengkarantina mereka. Karantina dalam arti memastikan tidak
terbuka peluang untuk terjadinya penularan harus dilakukan, terutama kepada pasien
terinfeksi fase AIDS. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang artinya: Sekalikali janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada yang sehat (HR Bukhori ).
Apabila kamu mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kamu
memasukinya dan apabila wabah itu berjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu ,
janganlah kamu keluar melarikan diri (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim dan Nasai dari
Abdurrahman bin Auf).
Mengkarantina agar penyakit tersebut tidak menyebar luas, perlu memperhatikan halhal berikut:
a. Selama karantina seluruh hak dan kebutuhan manusiawinya tidak diabaikan.
b. Diberi pengobatan gratis.
c. Berinteraksi dengan orang orang tertentu di bawah pengawasan dan jauh
dari media serta aktifitas yang mampu menularkan.
d. dilakukan upaya pendidikan yang benar tentang HIV-AIDS kepada semua kalangan
disertai sosialisasi sikap yang diharapkan dari masing-masing pihak/kalangan
(komunitas ODHA/OHIDA, komunitas resiko tinggi, komunitas rentan)
29

e. dilakukan pendidikan disertai aktivitas penegakan hukum kepada ODHA yang


melakukan tindakan yang membahayakan (beresiko menularkan pada) orang lain
f. Pembinaan rohani, merehabilitasi mental (keyakinan, ketawakalan,kesabaran) sehingga
mempecepat kesembuhan dan memperkuat ketaqwaan. Telah diakui bahwa
kesehatanm mental mengantarkan pada 50% kesembuhan.
g. Dilakukan pemberdayaan sesuai kapasitas
Di sisi lain, jika selama ini penyakit seperti HIV/AIDS belum ditemukan obatnya maka
negara wajib menggerakkan dan memberikan fasilitas kepada para ilmuwan dan ahli
kesehatan agar secepatnya bisa menemukan obatnya.
Jalan Menuju Terwujudnya Strategi Penanggulangan HIV-AIDS
Perspektif Islam
a.

Upaya Jangka Pendek

Melakukan telaah kritis, membongkar bahaya dan konspirasi strategi


penanggulangan HIV-AIDS perspektif sekuler-liberal produk Barat (versi UNAIDS) di
satu sisi, dan mulai memperkenalkan solusi Islam sebagai strategi alternatif
penanggulangan HIV-AIDS yang seharusnya mulai diambil pada sisi yang lain

Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada individu stakesholderyang


muslim (KPA, MPA, Medis, paramedis, dll) level daerah/lokal

Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada tokoh-tokoh muslimyang


menjadi simpul-simpul umat

Penguatan aqidah, keimanan dan konsekuensi untuk berhukum dengansistem


Islam

Pembinaan ummat secara ideologis (aqidah, syariah dan dakwah)untuk


memperjuangkan tegaknya Islam kaffah
b.

Upaya Jangka Menengah

Mulai memblow-up hasil telaah kritis, membongkar bahaya dan konspirasi


strategi penanggulangan HIV AIDS perspektif sekuler-liberal produk Barat (versi
UNAIDS) ke masyarakat dan media

Mulai memblow-up solusi Islam sebagai strategi alternatif penanggulangan HIVAIDS yang seharusnya diambil ke masyarakat dan media

Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada instansi stakesholder(KPA,


MPA, Medis, paramedis, dll) level daerah/lokal hingga pusat

Memulai aktivitas mengoreksi penguasa tentang kebijakan dekstruktif

Memulai aktivitas mengoreksi pihak legislatif akan perundang-undangan yang


menjadi bagian kebijakan dekstruktif
30


Mengingatkan masyarakat luas dan pemerintah akan bahaya NGO-NGO
komprador

Mengingatkan NGO-NGO Komprador


c.

Upaya Jangka Panjang

Secara terus menerus mengungkap kebobrokan yang ditimbulkan oleh sistem


kapitalisme-sekulerisme dalam semua bidang dan konspirasi global di belakangnya

Secara terus menerus mengupayakan lahirnya pemahaman dan kesadaran umat


(masyarakat) akan Islam sebagai solusi problematika kehidupan mereka dalam seluruh
aspek kehidupan menggantikan sistem kapitalisme-sekulerisme yang nyata-nyata telah
membawa kerusakan kehidupan
Mengupayakan terwujudnya sebuah kekuatan politik pada saatnyananti- yang bisa
menghadapi konspirasi global negara-negara neoimperialisme dan multi national corp di
negeri-negeri Islam yaitu kekuatan Daulah khilafah Islamiyyah (negara yang akan
menyatukan seluruh potensi umat dan menerapkan sistem Islam sebagai sistem
kehidupan secara kaaffah) dengan dukungan umat.

31

DAFTAR PUSTAKA
Baratawidjaja KG, Rengganis I. (2010). Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Dewi, Alexandra I. 2008. Etika dan Hukum Kesehatan. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher
Djoerban Z, Djauzi S. (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV, vol III Jakarta : Departemen
Penyakit Dalam FKUI.
Karnen, Baratawidjaja & Iris Rengganis. 2012. Imunologi Dasar. Jakarta : Badan Penerbit
FKUI
Kresno, Siti Boedina. 2010. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : FKUI
Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis (PPI-TB) di Puskesmas. 2010.
Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar Kementrian Kesehatan RI
Price, Sylvia Anderson. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi VI,
vol. 1. Huriawati Hartanto. Jakarta : EGC.
Rosyidah, F. (2011). Kritik Islam Terhadap Strategi Penangulangan HIV-AIDS Berbasis
Paradigma Sekuler-Liberal dan Solusi Islam dalam Menangani Kompleksitas Problematika
HIV-AIDS.
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis, edisi 2. Jakarta. Erlangga

32