Anda di halaman 1dari 9

Fluid Catalytic Cracking Unit (FCCU)

Di PERTAMINA UP-III Plaju

Mata Kuliah : Energi Baru Terbaharukan

Disusun oleh :
Rahma Paradis

03111403004

Ristian Januari

03111403015

Pipit Aditia Listiyani

03111403020

Nyimas Ulfatry Utami

03111403021

Joshua E Langitan

03111403022

Vega Fresamitia I

03111403041

Teguh Raspati

03111403046

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TEKNIK KIMIA 2011

Fluid Catalytic Cracking Unit (FCCU)


Di PERTAMINA UP-III Plaju
Kilang minyak (oil refinery) adalah pabrik/fasilitas industri yang
mengolah minyak mentah menjadi produk petroleum yang bisa
langsung digunakan maupun produk-produk lain yang menjadi bahan
baku bagi industri petrokimia. Produk-produk utama yang dihasilkan
dari kilang minyak antara lain: minyak bensin (gasoline), minyak disel,
minyak tanah (kerosene). Kilang minyak merupakan fasilitas industri
yang sangat kompleks dengan berbagai jenis peralatan proses dan
fasilitas

pendukungnya.

Selain

itu,

pembangunannya

juga

membutuhkan biaya yang sangat besar.


PERTAMINA UP-III terbagi ke dalam dua buah unit produksi, yaitu Unit Produksi I
dan Unit Produksi II. Unit Produksi I merupakan unit yang menghasilkan bahan penunjang
pabrik dan produk-produk BBM sedangkan Unit Produksi II menghasilkan produk-produk
non BBM, dalam hal ini yaitu produk petrokimia. Unit-unit yang tergabung ke dalam Unit
Produksi I adalah unit utilitas (UTL), kilang Crude Distilling and Gas Plant (CD&GP), dan
kilang Crude Distiller and Light Ends (CD&L) sedangkan unit-unit yang tergabung ke dalam
Unit Produksi II adalah kilang Terephthalic Acid / Purified Terephthalic Acid (TA/PTA) dan
kilang Polypropylene (PP).
Unit FCCU merupakan unit yang berfungsi untuk merengkah long residue pengolahan
minyak mentah menjadi fraksi-fraksi ringan yang diinginkan dengan bantuan katalis panas.
Perengkahan yang terjadi dalam unit ini dilakukan secara katalitik dengan menggunakan
katalis silika alumina (zeolit). Katalis tersebut berupa butiran halus (20 140 mikron) yang
bergerak seperti fluida cair dan bersirkulasi timbal balik antara reaktor dan regenerator
secara kontinu. Peralatan utama yang ada di unit ini adalah sepasang reaktor-regenerator
yang digunakan untuk reaksi perengkahan yang juga didukung dengan seperangkat peralatan
tambahan dan kolom fraksionasi.
1. Mekanisme Fraksi Catalytic Cracking
Reaksi kimia Catalytic Cracking ditunjukan oleh adanya pemutusan rangkaianrangkaian kimia dalam molekul dalam hidrokarbon dengan bantuan panas dan katalis.

( Pertamina RU III. Reaksi Catalytic Cracking secara sederhana menjadi dua bagian,
yaitu :
1.1.

Primary Cracking Reaction


Merupakan reaksi perengkahan beberapa grup hidrokarbon yaitu parafin,nafthene dan

aromatik.
a. Parafin

Olefin + Parafin

Contoh :
C20H42

C11H22 + C9H20

Minyak berat

Gasoline

b. Naftene

Olefin

Contoh :

c.

Aromatic

Aromatic + Olefin

Contoh :

2. Progres Reaction
Progres Reaction merupakan reaksi lanjutan dari senyawa yang dihasilkan pada
Primary Cracking Reaction, antara lain : (Subowo, 1995)
a. Secondary Cracking
Senyawa dari parafin akan menghasilkan parafin dan olefin dengan berat molekul lebih
kecil.
Contoh : C9H20
Parafin

C6H14
+
Parafin (Gasoline)

C3H6
Olefin (LPG)

b. Convertion
Senyawa Olefin yang reaktif menjadi senyawa olefin yang mempunyai berat molekul
yang kecil.
Contoh : C9H18
Olefin (Gasoline)

C3H6

Olefin (LPG)

C6H12
Olefin (Gasoline)

c. Dehidrogenation
Terjadi pemutusan ikatan carbon hidrogen pada senyawa Olefin.
Contoh : C9H18
Olefin(Gasoline)

C9H16
Olefin(Gasoline)

H2
Hidrogen

2. Seksi Fraksinasi
Kolom Fraksinasi berfungsi untuk memisahkan minyak mentah menjadi fraksifraksi, berdasarkan jarak titik didih masing-masing fraksi tersebut. Didalam kolom akan
terjadi kontak antara uap dan cairan sehingga masingmasing fraksi akan dapat di
pisahkan sesuai jarak titik didihnya
Pada bagian ini terjadi fraksionasi hidrokarbon ringan hasil perengkahan. Bagian ini
terdiri dari dua buah kolom fraksionasi. Umpan yang datang akan dimasukkan ke bagian
bawah kolom fraksionasi pertama (FC-T-1). Produk atas kolom ini dijadikan sebagai
umpan kolom kedua sedangkan produk bawahnya adalah slurry oil yang sebagian
dikembalikan ke kolom 1 dan sisanya dipakai untuk memanaskan feed reaktoruntuk
kemudian ditampung dan digunakan sebagai LSWR. Produk side stream yang dihasilkan
adalah HCO yang akan diinjeksikan ke reaktor.
Pada kolom fraksionasi kedua (FC-T-20), produk bawah yang dihasilkan sebagian
dikembalikan ke kolom 1 sedangkan sisanya ditampung dalam sebuah stripper. Pada
stripper, produk atasnya dikembalikan ke tray ke 8 dari kolom 2 sedangkan produk
bawahnya didinginkan dan dikeluarkan sebagai light cycle oil (LCO, komponen IDO dan
digunakan sebagai thinner dan untuk blending LSWR) dan torch oil untuk regenerator.
Dari tray ke 15 kolom 2, dihasilkan produk side stream berupa lean oil yang sebagian
dikembalikan ke kolom 2 sedangkan sisanya dimasukkan ke bagian light end. Produk atas
kolom 2 berupa gas dan gasoline didinginkan di overhead partial condenser (FC-E-4) dan
overhead trim condenser (FC-E-20) untuk kemudian ditampung dalam tangki distilat (FCD-7). Pada tangki ini terjadi pemisahan air dari produk dan dihasilkan dua fasa dimana
fasa cairnya (nafta) sebagian dikembalikan ke kolom 2 dan sisanya diambil sebagai nafta

dan gasoline yang diumpankan ke bagian light end, sedangkan fasa gasnya (wet gas)
diumpankan juga ke bagian light end.
Seksi fraksionasi mempunyaidua menara pemisah yaitu FC-T-1 (Primary
Fractionator) dan FC-T-20 (Secondary fractionator). Cracked vapour dari reaktor dengan
suhu 510-520 oC, dialirkan ke bottom menara primary fraksionator FC-T-1, selanjutnya
dipisahkan di menara fraksionasi sebagai berikut:
a.

Hasil puncak berupa vapor dengan cutting temperature 230 oC, kemudian dialirkan
ke menara FC-T-20.

b.

Dari tengah menara pada tray ke 6, ditarik fraksi MPA (Middle Pump Around),
dimanfaatkan sebagai madia pemanas pada Reboiler-reboiler di Light End Unit serta
memanasi Cold Feed di FC-E-1

c.

Hasil bottom berupa produk slurry, sebagai media pemanas pada feed preheater
FC-E-2, dan merupakan produk yang dialirkan ke tanki LSWR (Low Sulfur Waxes
Residue) bercampur dengan produk HCGO (High Componen Gas Oil).
Untuk mempertajam pemisahan dan mendapatkan cutting temperature sesuai design,

pada menara fraktionator FC-T-1 digunakan refluks. Refluks adalah sebagian produk yang
ditarik dari bottom, dikembalikan lagi ke kolom tersebut, antara lain: top refluks, middle
refluks dan bottom refluks.
Slurry oil pump around sebagai bottom refluks dikontrol dengan FC-FC-007 dan
sebagian panasnya dimanfaatkan memanasi feed di FC-E-2 ABCD, kemudian
dikembalikan ke bottomprimary fractionator untuk mendinginkan cracked vapor dari
reaktor. Slurry quench dikontrol dengan FC-FC-2020 setelah sebagian didinginkan di trim
cooler juga dikembalikan ke bottomPrimary fractionator untuk mencegah terjadinya
reaksi lanjutan, agar tidak terbentuk coke pada bottom fractionator.
Middle Pump Around (MPA) setelah panasnya dimanfaatkan di reboiler light ends,
dikembalikan di bagian tengah menara sebagai middle refluks yang berfungsi untuk
mendapatkan temperatur cutting pada MPA draw-off 298 oC.
Uap dari puncak kolom FC-T-1 dialirkan ke kolom FC-T-20, dan dipisahkan menjadi
fraksi-fraksi: hasil puncak berupa fraksi naptha dan yang lebih ringan, fraksi berupa TPA
(Top Pump Around) dan fraksi bottom berupa produk LCGO (Light Cycle Gas Oil)
dialirkan ke FC-T-2 (LCGO stripper), selanjutnya produk ditarik pompa FC-P-6 AB,
discharge P-6 AB dibagi menjadi 4 yaitu:
a. Sebagai LCGO produk setelah didinginkan di cooler FC-E-3 AB.

b. Sebagai fuel oil ke furnace FC-F-2 dan FC-F-1.


c. dan sebagai hot dan cold flushing.
Fraksi bottom FC-T-20 sebagiannya dikontrol oleh FC-LC-2005, dan dikembalikan
sebagai top refluks ke puncak menara FC-T-1, sehingga suhu top FC-T-1 dapat
dipertahankan sekitar 260 oC.

Dari bagian tengah menara ditarik fraksi TPA yang

digunakan sebagai internal refluks dan sebagai media pemanas di FL-E-406 dan reboiler
FL-E-407 di light end. Vapor hasil puncak FC-T-20 didinginkan di overhead partial
condensor FC-E-4 ABCDEF. Cairan dan gas dari E-4 ditampung di drum FC-D-20.Dari
FC-D-20 cairan dipompakan dengan pompa FC-P-23 AB, lalu cairan bercampur dengan
gas dari D-20 dikondensasikan kembali di kondensor FC-E-20 ABCD dan outlet E-20
ditampung di FC-D-7.
Vapor yang tidak terkondensasi dari FC-D-7 akan ditarik oleh Wet Gas Compresor
untuk dikompresi yang bertujuan merubah fase uap ke cair. Selanjutnya discharge dari
WGC akan diproses di Light ends unit. Sedangkan cairan dari FC-D-7 ditarik pompa FCP-7 AB, sebagian digunakan sebagai top refluks di menara FC-T-20 dan sebagian lagi
dimasukkan ke menara FL-T-401 (Primary Absorber Tower) yang berfungsi sebagai
absorbent.
1.3. Light End and Gas Compression Section
Pada bagian ini, umpan gas yang masuk dari kolom 2 akan dipisahkan menjadi
komponen-komponen ringan penyusunnya. Peralatan utama yang terdapat dalam unit ini
adalah kompresor gas (dalam gas compression section), serta absorber, stripper, debutanizer,
dan stabilizer (yang tergabung dalam gas and gasoline separation section). Proses yang
terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut.

Wet gas yang berasal dari FC-D-7 dikompresi oleh wet gas compressor dua tahap
(FLRS-C-101) dan kemudian ditampung dalam vessel compression suction drum (FLRS-D401). Pada drum ini, terjadi pemisahan air dan dihasilkan dua fasa. Gas keluaran drum ini
(15 K 110C) diumpankan ke kolom primary absorber (FLRS-T-401) sedangkan fasa
cairnya diumpankan ke kolom stripper (FLRS-T-403).
Pada kolom primary absorber, gas keluaran FLRS-D-401 diabsorbsi dengan
menggunakan nafta yang disuplai dari overhead kolom FC-T-20. Produk atas kolom ini
dimasukkan ke kolom sponge stripper (FLRS-T-402) sedangkan produk bawahnya
digabungkan dengan aliran overhead kolom stripper menuju FLRS-D-401.

Pada kolom FLRS-T-402, umpan yang masuk dari bagian bawah dilucuti dengan
menggunakan lean oil yang berasal dari kolom FC-T-20 (yang masuk dari bagian atas).
Setelah proses pelucutan dilakukan, dihasilkan produk atas yang dikeluarkan sebagai fuel gas
dan dihasilkan juga produk bawah yang dikeluarkan sebagai rich oil yang kemudian
dikembalikan ke kolom FC-T-20.
Fasa cair dari FLRS-D-401 diolah lebih lanjut dalam stripper (FLRS-T-403). Produk
atas kolom ini dikembalikan ke FLRS-D-401 bersama-sama dengan bottom product kolom
absorber sedangkan produk bawahnya sebagian dipanaskan ulang dan dikembalikan ke
kolom stripper dan sisanya diumpankan ke kolom debutanizer (FLRS-T-102) dengan
temperatur 122C dan tekanan 12 K.
Aliran umpan yang akan masuk ke kolom debutanizer (FLRS-T-102) terlebih dahulu
dipanaskan dalam sebuah preheater, yang memanfaatkan produk bawah kolom ini, sampai
suhunya mencapai 126C. Setelah melalui preheater, umpan tersebut dimasukkan ke kolom

debutanizer dan dipisahkan menjadi produk atas dan produk bawah. Produk atas yang
dihasilkan dikondensasikan dalam partial condenser dan ditampung dalam sebuah
akumulator. Gas yang terkondensasi sebagian dikembalikan ke kolom debutanizer sedangkan
sisanya diumpankan ke kolom stabilizer. Produk bawah dari kolom debutanizer sebagian
dikembalikan ke kolom tersebut dan sebagian lagi dimanfaatkan untuk memanaskan feed
dan kemudian dikeluarkan sebagai nafta (HOMC/gasoline).
Umpan yang masuk ke stabilizer (lebih dikenal dengan stabilizer III) terlebih dahulu
dipanaskan dalam sebuah preheater, yang memanfaatkan produk bawah kolom ini. Pada
kolom ini dihasilkan produk atas yang dikondensasikan dalam partial condenser dan
ditampung dalam sebuah akumulator. Gas yang terkondensasi sebagian dikembalikan ke

stabilizer sedangkan sisanya dikeluarkan sebagai C3 cut (campuran propana dan propilen)
yang akan dijadikan umpan kilang PP ( raw PP). Produk bawah dari stabilizer sebagian
dikembalikan ke kolom tersebut dan sebagian lagi dimanfaatkan untuk memanaskan feed
dan kemudian dikeluarkan sebagai C4 cut (campuran butana dan butilen) yang akan
digunakan sebagai LPG dan juga sebagai umpan unit alkilasi kilang CD&GP. Gas yang
tidak terkondensasi dalam drum akumulator dari kolom debutanizer dan stabilizer
dikeluarkan sebagai fuel gas.
Tabel. Produk dan Yield unit FCCU

Produk
H2S
H2
C1
C2
C2=
dry gas
C3
C3=
iC4
nC4
iC4=
1C4=
2C4=
LPG
iC5
nC5
C5=
C6 C206
gasoline
LCO (205 370)
slurry
Coke
TOTAL

%-wt
0.04
0.04
0.86
0.78
0.71
2.45
1.3
5.17
3.61
0.94
1.52
1.34
3.52
17.4
4.25
0.86
7.05
37.34
49.5
18.4
7.96
4.29
100

DAFTAR PUSTAKA
Lubiantara,Benny.2007.Ekonomi Minyak dan Gas.(Online),
http://ekonomi-migas.blogspot .com/2007/06/refineryeconomics.html. Diakses pada 27 April 2014
Nusantara,Refinary.2011.Procces

Unit

(Online),http://refinerynusantara.com/

in

Refinary.
process-unit-in-

refinery.Diakses pada 27 April 2014.


Yunage.2012.Pengolahan

Minyak

Bumi.(Online),

http://yunage.blogspot.com/2012/12/pe-

ngolahan-minyak-

bumi.html.Diakses pada 27 April 2014.