Anda di halaman 1dari 14

Kemajuan di bidang industri dimasa ini mengakibatkan banyaknya aktivitas manusia yang

menyebabkan

dampak

pencemaran

lingkungan

di

sekitarnya

meningkat.

Industri

elektroplating merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah berupa logam berat.
Pencemaran lingkungan oleh logam berat menjadi masalah yang cukup serius seiring dengan
penggunaan logam berat dalam bidang industri yang semakin meningkat. Logam berat
banyak digunakan karena sifatnya yang dapat menghantarkan listrik dan panas serta dapat
membentuk logam paduan dengan logam lain (Darmayanti, 2012).
Pada industri elektroplating, salah satu limbah logam beratnya adalah Khrom (Cr) dan
Tembaga (Cu). Menururt Das 2008 dalam Kurniasari 2012, beberapa proses pengambilan
logam berat yang telah ada adalah pengendapansecara kimia, ion exchange, pemisahan
dengan membran, elektrolisa dan ekstraksi dengan solvent. Tetapi, proses-proses tersebut
memeiliki beberapa kekurangan seperti sulitnya proses pembuangannya, memerlukan biaya
yang tinggi dan kurang efektifnya bila diaplikasikan pada konsentrasi limbah yang rendah.
Salah satu alternatif lain dalam pengolahan limbah yang mengandung logam berat adalah
penggunaan bahan-bahan biologis sebagai adsorben. Proses ini kemudian disebut sebagai
biosorption. Biosorption menunjukkan kemampuan biomass untuk mengikat logam berat dari
dalam larutan melalui langkah-langkah metabolisme atau kimia-fisika. Keuntungan
penggunaan proses biosorption diantaranya adalah biaya yang relatif murah, efisiensi tinggi
pada larutan encer, minimalisasi pembentukan lumpur, serta kemudahan proses regenerasinya
(Ashraf, 2010; Kurniasari 2014)
Limbah produk pertanian merupakan limbah organik yang tentunya akan sangat mudah
ditemukan dalam jumlah besar. Pemanfaatan dan penggunaan limbah pertanian sebagai bahan
baku biosorben selain dapat membantu mengurangi volume limbah juga dapat
memberdayakan limbah menjadi suatu produk yang mempunyai nilai jual. Oleh karena itu,
potensi limbah pertanian sangat besar untuk digunakan sebagai bahan baku biosorben logam
berat (Kurniasari, 2010). Dalam penelitian ini, adsorben yang akan digunakan adalah
adsorben dengan metode karbon aktif yang terbuat dari limbah kulit pisang.
Komponen yang berperan dalam proses adsorpsi logam berat dengan adsorben bahan-bahan
biologis adalah keberadaan gugus aktif yang ada di bahan tersebut. Gugus-gugus itu
diantaranya adalah gugus acetamido pada kitin, gugus amino dan posphat pada asam nukleat,
gugus amido, amino, sulphydryl dan karboksil pada protein dan gugus hidroksil pada
polisakarida. Gugus-gugus inilah yang akan menarik dan mengikat logam pada biomass

(Ahalya dkk., 2003; Kurniasari 2014). Menurut Wong dkk., 2008 dalam Kurniasari 2014,
pektin merupakan salah satu struktur komponen yang mengandung gugus aktif, maka pektin
juga dapat digunakan sebagai salah satu sumber biosorben. (Wong dkk., 2008; Kurniasari
2014).
Kulit buah pisang mengandung pektin dalam jumlah yang cukup banyak, sekitar 10-21%
(Mohapatra dkk, 2010). Selain itu, pisang merupakan salah satu komoditas buah unggulan di
Indonesia dimana luas panen dan produksinya selalu menempati posisi pertama. Dalam
Nilaning 2008, Indonesia merupakan salah satu sentra primer keragaman pisang. Tingginya
keragaman ini, memberikan peluang pada Indonesia untuk dapat memanfaatkan dan memilih
jenis pisang komersial yang dibutuhkan oleh konsumen pisang. Luas panen dan produksi
pisang selalu menempati posisi pertama. Dari rata-rata produksi nasional pisang, sekitar 63%
berasal dari pulau Jawa,Sumatera 18%, Kalimantan 6%, Sulawesi 6%, Bali dan Nusa
Tenggara8%.
Menurut penelitian Ina dkk., 2013, kemampuan jeruk siam dalam menyerap logam tembaga
(Cu) memiliki kemampuan hingga 26,61 %. Dan dalam Ghifari, 2011, aktivitas biosorpsi
sekam padi terhadap beberapa kation logam berat seperti seng Zn 2+ dan ion Kadmium Cd2+
menghasilkan nilai presentase adsorpsi maksimum 85% untuk larutan Zn 2+ 200 mg/l dan
98.92% untuk larutan Cd2+ 20 mg/l.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, maka pada penelitian ini akan
dilakukan penurunan konsentrasi logam berat Timbal (Pb) dan Krom (Cr) pada limbah cair
elektroplating menggunakan limbah dari kulit pisang. Dengan pengaplikasian variasi yang
berbeda dapat memberikan nilai efisiensi yang berbeda pula pada nilai efisiensi dalam
penurunan kadar logam berat.

ELEKTROPLATING
Salah satu industri yang dapat menimbulkan pencemaran adalah industri pelapisan logam
(electroplating) yang menghasilkan limbah B3. Logam berat yang terkandung dalam limbah
industri electroplating diantaranya adalah Cu, Zn, Cr, Cd, Ni, Pb Sifat dari limbah B3 antara
lain adalah mudah terbakar, mudah meledak, dan bersifat karsinogenik (penyebab kanker).
(Hakim, 2008)
Proses elektroplating pada saat ini berkembang semakin pesat seiring dengan kebutuhan
masyarakat. Elektroplating diaplikasikan antara lain dalam industri elektronika, konstruksi
pabrik, peralatan rumah tangga, otomotif dan lain-lain. Proses elektroplating bertujuan untuk
memberikan perlindungan dari karat dan memberikan efek mengkilap pada besi dan baja.
Meningkatnya kebutuhan akan produk yang menggunakan proses elektroplating mendorong
berkembangnya industri elektroplating yang berada di Indonesia. Perkembangan industri
yang semakin pesat selain memberikan manfaat, juga menimbulkan dampak negatif dari
limbah yang dihasilkan. Limbah dari proses elektroplating merupakan limbah logam berat
yang termasuk dalam limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) (Purwanto,2005; Nurhasni
2013).
Beberapa unsur logam yang terdapat dalam limbah cair elektroplating antara lain besi, krom,
seng, nikel, mangan, dan tembaga. Kuantitas limbah yang dihasilkan dalam proses
elektroplating tidak terlampau besar, tetapi tingkat toksisitasnya sangat berbahaya, terutama
krom, nikel dan seng (Roekmijati, 2002; Nurhasni, 2013). Karakteristik dan tingkat toksisitas
dari air limbah elektroplating bervariasi tergantung dari kondisi operasi dan proses pelapisan
serta cara pembilasan yang dilakukan (Palar,1994; Nurhasni 2013).
Pembuangan langsung limbah dari proses elektroplating tanpa pengolahan terlebih dahulu ke
lingkungan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Cemaran tersebut dapat mencemari
mikroorganisme dan lingkungannya baik dalam bentuk larutan, koloid, maupun bentuk
partikel lainnya. Apalagi dalam limbah tersebut terdapat kandungan krom (VI) yang bersifat
lebih toksik karena sifatnya yang lebih stabil dibandingkan krom (III). Krom (VI) terlebih
dahulu direduksi menjadi krom (III) untuk menurunkan toksisitasnya dalam limbah.
(Nurhasni, 2013)

LOGAM BERAT
Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan
logam-logam lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini
berikatandan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup. Berbeda dengan logam biasa,
logam berat biasanya menimbulkan efek-efek khusus pada makhluk hidup. Dapat dikatakan
bahwa semua logam berat dapat menjadi bahan racun yang akan meracuni tubuh makhluk
hidup. Sebagai contoh adalah logam air raksa (Hg), Kadmium (Cd), Timbal (Pb) dan Khrom
(Cr). Namun demikian, meski semua logam berat dapat mengakibatkan keracunan atas
makhluk hidup, sebagian dari logam-logam berat tersebut tetap dibutuhkan oleh makhluk
hidup. Kebutuhan tersebut berada dalam jumlah yang sangat sedikit (Palar, 2004).
Umumnya logam-logam yang terdapat dalam tanah dan perairan dalam bentuk
persenyawaan, seperti senyawa hidroksida, senyawa oksida, senyawa karbonat dan senyawa
sulfida. Senyawa-senyawa itu sangat mudah larut dalam air. Namun demikian pada bahan
perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH) mendekati normal atau pada daerah kisaran
pH 7-8, kelarutan dari senyawa-senyawa ini cenderung untuk stabil. Kenaikan pH pada badan
perairan biasanya akan diikuti dengan semakin kecilnya kelarutan dari senyawa-senyawa
logam tersebut. Perubahan tingkat stabil dari kelarutan tersebut biasanya terlihat dalam
bentuk pergeseran persenyawaan (Palar, 2004).
Umumnya pada pH yang semakin tinggi, maka kestabilan akan bergeser dari karbonat ke
hidroksida. Hidroksida-hidroksida ini mudah sekali membentuk ikatan permukaan dengan
partikel-partikel yang terdapat pada badan perairan. Lama-kelamaan persenyawaan yang
terjadi antara hidroksida dengan partikel-partikel yang ada dibadan perairan akan mengendap
dan membentuk lumpur. Logam-logam berat yang terlarut dalam badan perairan pada
konsentrasi tertentu dan berubah fungsi menjadi sumber racun bagi kehidupan perairan.
Meskipun daya racun yang ditimbulkan oleh satu jenis logam berat terhadap semua biota
perairan tidak sama, namun kehancuran dari satu kelompok dapat menimbulkan terputusnya
satu mata lantai kehidupan (Palar, 2004).
TEMBAGA (Cu)
Unsur tembaga di alam, dapat ditemukan dalam bentuk logam bebas, akan tetapi lebih
banyak ditemukan dalam bentuk persenyawaan atau sebagi senyawa padat dalam bentuk
mineral. Secara alamiah, Cu dapat masuk ke dalam suatu tatanan lingkungan sebagai akibat

dari berbagai peristiwa alam.unsur ini dapat bersumber dari peristiwa pengikisan (erosi) dari
batuan mineral, partikulat-partikulat Cu yang ada dalam lapisan udara. Melalui jalur nonalamiah, Cu masuk ke dalam suatu tatanan lingkungan sebagai akibat dari aktivitas manusia
(Palar, 2004).
Senyawa-senyawa dibentuk oleh logam Cu mempunyai bilangan valensi +1 dan +2.
Berdasarkan pada bilangan valensi yang dibawanya, logam Cu dinamakan juga Cuppro untuk
yang bervalensi +1 dan cuppry untuk yang bervalensi +2. Logam Cu dan beberapa bentuk
persenyawaannya seperti CuCO3, Cu(OH)2 dan Cu(CN)2 tidak dapat larut dalam air dingin
ataupun panas, tetapi mereka dapat dilarutkan dalam asam. Logam Cu itu sendiri dapat
dilarutkan dalam senyawa asam sulfat (H 2SO4) panas dan dalam larutan basa NH 4OH.
Senyawa CuO dapat larut dalam NH4Cl dan KCN (Palar, 2004).
Secara fisika, logam Cu(Tembaga) digolongkan ke dalam kelompok logam-logam penghantar
listrik yang baik. Sesuai dengan sifat kelogamannya, Cu dapat membentuk alloy dengan
bermaam-macam logam. Alloy-alloy yang dibentuk dengan logam-logam lain itu digunkan
secara luas sesuai dengan sifat alloy yang membentuknya. Alloy lain adalah bentuk logam
yang dikenal dengan kuningan (Palar, 2004).
Dalam bidang industri lainnya, senyawa Cu banyak digunakan. Sebagai contoh adalah
industri cat sebagai antifoling, industri insektisida, dll. CuO banyak digunakan sebagai
katalis, baterai, elektroda, penarik sulfur atau belerang dan sebagai pigmen serta pencegah
pertumbuhan lumut (Palar, 2004).
Cu termasuk ke dalam logam-logam esensial bagi manusia. Kebutuhan manusia terhadap
tembaga cukup tinggi. Konsumsi tembaga yang baik bagi manusia adalah 2,5 mg/kg berat
tubuh/hari bagi orang dewasa dan 0.05 mg/kg berat tubuh/hari untuk anak-anak dan bayi.
Selain manusia, organisme hidup lainnya juga membutuhkan Cu untuk kehidupannya seperti
tumbuh-tumbuhan, hewan darat ataupun biota perairan (Palar, 2004).
Secara alamiah, Cu masuk ke dalam badan perairan sebagai akibat dari peristiwa erosi atau
pengikisan batuan mineral dan melalui persenyawaan Cu di atmosfer yang dibawa turun oleh
air hujan. Aktifitas manusia seperti buangan industri, pertambangan Cu, industri galangan
kapal dan bermacam-macam aktivitas pelabuhan lainnya merupakan salah satu jalur yang
mempercepat terjadinya peningkatan kelarutan Cu dalam badan perairan. Dalam kondisi
normal, keberadaan Cu dalam perairan ditemukan dalam bentuk senyawa ion CuCO 3+,

CuOH+, dll. Biasanya jumlah Cu yang terlarut dalam badan perairan laut adalah 0,002 ppm
sampai 0,005 ppm. Bila terjadi peningkatan kelarutan Cu, sehingga melebihi ambang yang
seharusnya, maka akan terjadi biomagnifikasi terhadap biota-biota perairan (Palar, 2004).
KHROMIUM (Cr)
Logam Cr murni tidak pernah ditemukan di alam. Logam ini di alam ditemukan dalam
bentuk persenyawaan padat atau mineral dengan unsur-unsur lain. Sebagai bahan mineral, Cr
paling banyak ditemukan dalam bentuk Chromite (FeOCr2O3). Berdasarkan pada sifat-sifat
kimianya, logam Cr dalam persenyawaannya mempunyai bilangan oksidasi 2+, 3+ dan 6+. Cr
tidak dapat teroksidasi oleh udara yang lembab, bahkan pada proses pemanasan cairan logam
Cr. Tetapi dalam udara yang mengandung CO2 dalam konsentrasi tinggi, logam Cr dapat
mengalami peristiwa oksidasi dan membentuk Cr2O3. Sedangkan pada larutan HCl akan
membentuk CrCl2. Khromium merupakan logam yang sangat mudah bereaksi. Logam ini
secara langsung dapat bereaksi dengan nitrogen, karbon, silika dan boron (Palar, 2004).
Sesuai dengan tingkat valensi yang dimiliki, logam khromium yang telah membentuk
senyawa mempunyai sifat yang berbeda-beda sesuai dengan ionitasnya. Senyawa yang
terbentuk dari ion logam Cr2+ akan bersifat basa, dari ion logam Cr3+ bersifat ampoter, dari
ion logam Cr6+ bersifat asam (Palar, 2004).
Khromium telah dimanfaatkan secara luas dalam kehidupan manusia. Logam ini banyak
digunakan sebagai bahan pelapis pada bermacam-macam peralatan mulai dari peralatan
rumah tangga sampai ke mobil. Persenyawaan yang dapat dibentuk dengan menggunakan
logam Cr seperti senyawa-senyawa khromat dan dikhromat, sangat banyaj digunakan oleh
perindustrian. Kegunaan yang umum dikenal dari senyawa tersebut adalah dalam bidang
litigrafi, tekstil,penyamakan, pencelupan, fotografi,zat pewarna, bahan peledak, dll (Palar,
2004).
Khromium yang masuk ke dalam strata lingkungan dapat datang dari bermacam-macam
sumber. Sumber-sumber masukan logam Cr kedalam strata lingkungan yang umum dan
diduga paling banyak adalah dari kegiatana-kegiatan perindustrian, rumah tangga dan dari
pembakaran serta mobilisasi bahan-bahan bakar. Dalam badan perairan Cr dapat masuk
melalui dua cara, yaitu secara alamiah dan nonalamiah. Secara alamiah dapat disebabkan dari
erosi pada batuan mineral, debu dan partikel Cr diudara yang terbawa turun oleh air hujan.
Secara nonalamiah lebih merupakan dampak atau efek dari aktivitas yang dilakukan manusia.

Proses kimia yang terjadi di perairan pada logam khromium seperi pengompleksan dan
sistem reaksi redoks dapat mengakibatkan terjadinya pengendapan dan atau sedimentasi
logam Cr didasar perairan. Preoses kimiawi juga dapat mengakibatkan terjadinya peristiwa
reduksi dari senyawa-senyawa Cr6+ yang sangat beracun menjadi Cr3+ yang kurang beracun
jika lingkungannya bersifat asam. Untuk perairan yang berlingkungan basa, ion-ion Cr3+
dapat diendapkan didasr perairan. Sebagai logam berat, Cr termasuk logam yang mempunyai
daya racun yang tinggi yang ditentukan oleh valensi ion-nya. Sifat racun yang dibawa oleh
logam ini juga dapat mengakibatkan terjadinya keracunan akut dan keracunan kronis (Palar,
2004).
KULIT PISANG
Indonesia merupakan salah satu sentra primer keragaman pisang baik pisang segar, olahan
dan pisang liar. Lebih dari 200 jenis pisang terdapat di Indonesia. Tingginya keragaman ini,
memberikan peluang pada Indonesia untuk dapat memanfaatkan dan memilih jenis pisang
komersial yang dibutuhkan oleh konsumen pisang. Luas panen dan produksi pisang selalu
menempati posisi pertama. Dari rata-rata produksi nasional pisang, sekitar 63% berasal dari
pulau Jawa,Sumatera 18%, Kalimantan 6%, Sulawesi 6%, Bali dan Nusa Tenggara8%
(Anonim, 2003; Tyas 2008)
Menurut Hanifah dalam Tyas 2008, pisang (Musa paradisiaca L) merupakan tanaman buahbuahan yang tumbuh dan tersebar di seluruh Indonesia. Negara Indonesia merupakan
penghasil pisang terbesar di Asia. Pisang dapat dikonsumsi secara langsung dan ada yang
diolah dulu, jika diolah menghasilkan limbah padat berupa kulit pisang. Sisa pengolahan ini
masih dapat diekstrak dan dimanfaatkan untuk menghasilkan produk-produk yang berguna.
Kulit pisang selain digunakan sebagai pakan ternak, dapat diekstrak kandungan pektin di
dalamnya. Pektin merupakan senyawa hidrokoloid karbohidrat yang terdapat pada jaringan
tanaman muda dan buah. Selain itu pektin dapat menyerap air 40-100 kali volumenya.
Berikut adalah kandungan senyawa dalam kulit pisang pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Kandungan Senyawa dalam Kulit Pisang


No
Senyawa
Kandungan (g/100g berat kering)
1
Protein
8,6
2
Lemak
13,1
3
Pati
12,1
4
Abu
15,3
5
Serat Total
50,3
(Sumber: Yosephine, dkk,2012; Rofikah 2013)

-ADSORPSI
Salah satu metode yang ampuh digunakan untuk menghilangkan zat pencemar dari air limbah
adalah adsorpsi. Adsorpsi merupakan terjerapnya suatu zat (molekul atau ion) pada
permukaan adsorben. Mekanisme penjerapan tersebut dapat dibedakan menjadi dua yaitu,
jerapan secara fisika (fisisorpsi) dan jerapan secara kimia (kemisorpsi). Pada proses fisisorpsi
gaya yang mengikat adsorbat oleh adsorben adalah gaya gaya van der Waals. Sedangkan pada
proses adsorpsi kimia, interaksi adsorbat dengan adsorben melalui pembentukan ikatan kimia.
Kemisorpsi terjadi diawali dengan adsorpsi fisik, yaitu partikel-partikel adsorbat mendekat ke
permukaan adsorben melalui gaya van der Waals atau melalui ikatan hidrogen. Kemudian
diikuti oleh adsorpsi kimia yang terjadi setelah adsorpsi fisika. Dalam adsorpsi kimia partikel
melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen), dan
cenderung mencari tempat yang memaksimumkan bilangan koordinasi dengan substrat
(Atkins 1999; Sukarta, 2008).
Dalam adsorpsi fisik kekuatan ikatan antara molekul yang diadsorpsi dan permukaan sangat
lemah, atau tipe Van der Waals. Energi yang berasosiasi dengan ikatan tersebut relatif lemah.
Sebaliknya dalam adsorpsi kimia ikatan sangat berperan dan merupakan resultan dari suatu
transfer atau suatu penempatan elektron dalam reaksi antara adsorbat dan adsorben .
Kekuatan ikatan dalam khemisorpsi menjadi lebih penting dibandingkan pada phisisorpsi.
Keadaan molekul dari adsorbat akan berbeda dari keadaan awalnya. Atom permukaan
mempunyai suatu karakter elektronik tidak jenuh dengan kehadiran beberapa kekosongan
(valensi bebas). Pembentukan lapisan sempurna dari molekul yang diadsorpsi secara kimia
memungkinkan menjenuhkan secara sempurna pada daerah kekosongan. Adsorpsi antara gas
oksigen dan permukaan logam merupakan contoh dari peristiwa khemisorpsi, pada contoh ini
ikatan yang terbentuk adalah ikatan kovalen (Laksono,2002).

Jika fenomena adsorpsi disebabkan terutama oleh gaya Van der Waals dan gaya hidrostatik
antara molekul adsorbant, maka atom yang membentuk permukaan adsorben tanpa adanya
ikatan kimia disebut adsorpsi fisika. Dan jika terjadi interaksi secara kimia antara adsorbat
dan adsorben, maka fenomenanya disebut adsorpsi kimia. Pada dasarnya adsorben dibagi
menjadi tiga, yaitu (Ginting, 2008):
1. Adsorben yang mengadsorpsi secara fisik (karbon aktif, silika gel dan zeolit)
2. Adsorben yang mengadsorpsi secara kimia (calsium cholide, metal hydride dan
complex salts)
3. Composite adsorbent adsorben yang mengadsorpsi secara kimia dan fisik.
FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI ADSORPSI
Daya adsorpsi dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu (Ginting, 2008):
1. Tekanan (P), tekanan yang dimaksud adalah tekanan adsorbat. Kenaikan tekanan
adsorbat dapat menaikan jumlah yang diadsorpsi.
2. Temperatur absolut (T), temperatur yang dimaksud adalah temperatur adsorbat. Pada
saat molekul-molekul gas atau adsorbat melekat pada permukaan adsorben akan
terjadi pembebasan sejumlah energi yang dinamakan peristiwa eksotermis.
Berkurangnya temperatur akan menambah jumlah adsorbat yang teradsorpsi,
demikian juga untuk peristiwa sebaliknya.
3. Interaksi potensial (E), interaksi potensial antara adsorbat dengan dinding adsorben
sangat bervariasi, tergantung dari sifat adsorbat-adsorben.
4. Jenis adsorbat
a. Ukuran molekul adsorbat
Ukuran molekul yang sesuai merupakan hal penting agar proses adsorpsi dapat
terjadi, karena molekul-molekul yang dapat diadsorpsi adalah molekul-molekul
yang diameternya lebih kecil atau sama dengan diameter pori adsorben.
b. Kepolaran zat
Apabila diameter sama, molekul-molekul polar lebih kuat diadsorpsi daripada
molekul-molekul tidak polar. Molekul-molekul yang lebih polar dapat
menggantikan molekul-molekul yang kurang polar yang terlebih dahulu
teradsorpsi.
5. Karakteristik adsorben
a. Kemurnian adsorben
Sebagai zat untuk mengadsorpsi, maka adsorben yang lebih murni diinginkan
karena kemampuan adsorpsi lebih baik.
b. Luas permukaan dan volume pori adsorben

Jumlah molekul adsorbat yang teradsorpsi meningkat dengan bertambahnya luas


permukaan dan volume pori adsorben.
ISOTERM ADSORPSI
Proses adsorpsi dinyatakan sebagai isoterm adsorpsi . Dan dikenal beberapa teori adsorpsi
yaitu tipe isoterm Langmuir, isoterm BET, isoterm Freundlich, isoterm Temkin dan isoterm
Fowler. Masing- masing isoterm adsorpsi tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan,
setiap konsep mengemukakan persamaannya sendiri yang dirangkum dalam tabel di bawah
ini (Laksono, 2002):
Tabel 2.4
Persamaan dan Aplikasi Beberapa Teori Isoterm
Teori Isoterm
Langmuir

Persamaan
V
bP
==
Vm
1+bP
1

Freundlich

V =KP n (n>1)
V
==a log bP
Vm

Temkin
Fowler
Bet

bP=

2
exp (
)
1
kT

( C1 ) P
P
1
=
+
V (PoP) VmC VmCPo

Keterangan:
= derajat penutupan permukaan oleh adsorbat

V= Volume gas yang diadsorpsi


Vm= Volume gas maksimum yang mungkin teradsorpsi
Po= Tekanan uap jenuh gas
a,b,c,K,n = konstanta
= term interaksi antara partikel adsorpsi lebih lanjut
k= tetapan gas Boltzman

Aplikasi
Adsorpsi Fisik Dan Kimia
Adsorpsi Fisik Dan Kimia
Adsorpsi Kimia
Adsorpsi Fisik Dan Kimia
Adsorpsi Fisik

Teori adsorpsi dari Langmuir yang berdasarkan teori kinetik gas, lebih membahas adsorpsi
gas pada zat padat dan dalam penggunaannya harus berasumsi pada (Laksono, 2002) :
1. Partikel yang diadsorpsi terletak pada substrat yang terlokalisir ( pada ketebalan
tertentu) dan homogen
2. Setiap site hanya mungkin ditempati oleh 1 partikel adsorbat
3. Gas yang teradsorpsi bersifat ideal, artinya tidak ada interaksi diantara molekulmolekul adsorbat
4. Tidak terjadi antaraksi antara molekul substrat dan partikel adsorbat, atau tidak terjadi
pertukaran energi, jika terjadi tumbukan maka tumbukannya elastis sempurna.
5. Laju adsorpsi sama dengan laju desorpsi
Dengan berpedoman pada asumsi tersebut, maka persamaan Langmuir dapat
diturunkan sebagai berikut (Laksono, 2002):

Gambar 2.1 Struktur pada Permukaan Adsorbant


Laju adsorpsi = k2 P. SO
Laju desorpsi = k1 S1
Dengan: S1 = fraksi permukaan yang ditempati adsorbat
SO = fraksi permukaan yang terbuka / kosong
P= tekanan
K1, K2 = tetapan laju
S= So+S1
-ADSORBEN
Menurut Ginting 2008, untuk proses adsorpsi ada 3 jenis adsorben yang biasa dipakai, yaitu
silika gel, aktif karbon dan zeolit.
KARBON AKTIF
Karbon aktif merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan
dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Karbon

aktif selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben
(penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat
menjadi lebih tinggi jika terhadap karbon aktif tersebut dilakukan aktivasi dengan aktif faktor
bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi (Jayaswabowo, 2008).
Karbon aktif merupakan senyawa amorph, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang
mengandung karbon atau dari arang yang dapat diperlakukan dengan cara khusus untuk
mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan arang aktif berkisar antara 3003500 m2/gram dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan karbon
aktif mempunyai sifat sebagai adsorben. Karbon aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawasenyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume
pori-pori dan luas permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25-100% terhadap
berat arang aktif (Jayaswabowo, 2008).
Aktif karbon dapat dibuat dari batu bara, kayu dan tempurung kelapa melalui proses
pyrolizing dan carburizing pada temperatur 700-800oC. Hampir semua adsorbant dapat
diserap oleh karbon aktif kecuali air. Aktif karbon dapat ditemukan dalam bentuk bubuk dan
granular. Pada umumnya karbon aktif dapat mengadsorpsi metanol atau amonia sampai
dengan 30%, bahkan karbon aktif super dapat mengadsorpsi sampai dua kalinya (Ginting,
2008)
PROSES PEMBUATAN KARBON AKTIF
Proses aktivasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping bahan baku yang
digunakan. Yang dimaksud dengan aktivasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang
bertujuan untuk memperbesar pori, yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau
mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat, baik
fisik maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap
gaya adsorpsi. Mode aktivasi yang umum digunakan dalam pembuatan karbon aktif adalah
(Jayaswabowo, 2008):
1. Aktivasi Kimia: Proses pemutusan rantau karbon dari senyawa organik dengan
pemakian bahan-bahan kimia. Untuk aktivasi kimia, aktivator yang digunakan adalah
bahan-bahan kimia seperti: hidroksida logam alkali, garam-garam karbonat, klorida,
sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khusunya ZnCl 2, asam-asam anorganik
seperti H2SO4 dan H4PO4.

2. Aktivasi Fsikia: proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan
bantuan panas, uap dan CO2. Untuk aktivasi fisika, biasanya arang dipanaskan
didalam furnace pada temperatur 800-900oC. Oksidasi dengan udara pada temperatur
rendah, merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan
pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm,
sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan. Beberapa bahan baku
lebih mudah untuk diaktivasi jika diklorinasi terlebih dahulu. Selanjutnya
dikarbonisasi untuk menghilangkan hidrokarbon yang terklorinasi dan akhirnya
diaktivasi dengan uap.
FAKTOR ADSORPSI KARBON AKTIF
Sifat karbon aktif yang paling penting adalah daya serap. Dalam hal ini, ada beberapa faktor
yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu (Jayaswabowo, 2008):
1. Sifat Adsorben
Karbon aktif yang merupaka adsorben adalah suatu padatan berpori, yang sebagian
besar terdiri dari untur karbon bebas dan masing-masing berikatan secara kovalen.
Dengan demikian, permukaan karbon aktif bersifat nonpolar. Struktur pori karbon
aktif berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori karbon aktif,
mengakibatkan luas permukaan semakin besar. Dengan demikian kecepatan adsorpsi
akan bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorpsi, dianjurkan agar
menggunakan karbon aktif yang telah dihaluskan. Jumlah atau dosis arang aktif yang
digunakan juga diperhatikan.
2. Sifat Serapan
Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh karbon aktif, tetapi kemampuannya
untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing-masing senyawa. Adsorpsi akan
bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari struktur
yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorpsi juga dipengaruhi oleh gugus
fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.
3. Temperatur
Dalam pemakaian karbon aktif dianjurkan untuk menyelidiki temperatur pada saat
berlangsungnya proses. Karena tidak ada peraturan umum yang bisa diberikan
mengenai temperatur yang digunakan dalam adsorpsi. Faktor yang mempengaruhi
temperatur proses adsorpsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa serapan.
Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi

perubahan warna maupun dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik


didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada temperatur kamar.
4. Derajat Keasaman (pH)
Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meninhkat bila pH diturumkan, yaitu
dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam
mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam
organik dinaikkan yaitu dengan menambah alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai
akibat terbentuknya garam.
5. Waktu Singgung
Nila karbon aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai
kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah karbon
yang digunakan. Selain ditentukam oleh dosisi karbon aktif, pengadukan juga
mempengaruhi

waktu

singgung.

Pengadukan

dimaksudkan

untuk

memberi

kesempatan pada partikela karbon aktif untuk bersinggungan dengan senyawa


serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu
singgung yang lebih lama.