Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelum minggu ke 37, dihitung dari mulai hari
pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek. (Nelson. 1998
dan Sacharin, 1996). Sebagian besar bayi lahir prematur tumbuh dengan kesehatan yang baik
dan fungsi reproduksi yang normal. Namun, para peneliti menemukan terjadinya peningkatan
risiko dibandingkan dengan bayi prematur yang lahir mulai 1967-1988. Ditemukan juga
bahwa kondisi terbanyak yang dialami bayi prematur adalah masalah lambung, cacat,
gangguan mental, dan terlambatnya usia sekolah. Angka rata-rata kelahiran prematur di
Amerika Serikat meningkat sepanjang dua puluh tahun terakhir. Puncaknya, pemerintah
menduga 12,8 persen dari angka kelahiran pada 2006. Lebih dari 540.000 bayi dilahirkan
secara prematur pada 2006. Sebagai perbandingan, angka kelahiran premature di Noorwegia
pada tahun yang sama hanya sekitar 7 persen.
1.2 Tujuan
1.2.1
1.2.2

Tujuan Umum
1. Untuk Mengetahui Konsep Dan Asuhan Keperawataan premature
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengertian premature
2. Untuk mengetahui etiologi premature
3. Untuk mengetahui patofisiologi premature
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis premature
5. Untuk mengetahui klasifikasi premature
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan premature

BAB II
PEMBAHASAN
1

2.1 Defenisi Prematur


Americana academy pedriatric mendefenisikan prematuritas adalah kelahiran hidup bayi
dengan berat <2500 g . kriteria ini dipakai terus secara luas, sampai tampak bahwa ada
perbedaan antara usia kehamilan dan berat lahir yang disebabkann adanya hambataan
pertumbuhan janin. Menurut ACOG (1995), Bayi Prematur adalah bayi yang lahir kurang
dari usia kehamilan yang normal (37 minggu). WHO (1961) menambahkan bahwa usia hamil
sebagai kriteria untuk bayi prematur adalah yang lahir sebelum 37 minggu dengan berat
lahirdi bawah 2500 g.
Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelum minggu ke 37, dihitung dari mulai
hari pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek. (Nelson.
1998 dan Sacharin, 1996). Prematur Persalinan merupakan suatu diagnosis klinis yang terdiri
dari dua unsur, yaitu kontraksi uterus yang frekuensi dan intensitasnya semakin meningkat,
serta dilatasi dan pembukaan serviks secara bertahap (Norwitz & Schorge, 2008).
Persalinan prematur adalah suatu persalinan dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi
belum aterm (cukup bulan). Berat janin antara 1000-2500 gram atau tua kehamilan antara 28
minggu sampai 36 minggu (Wiknjosastro, 2007).
Pengelompokan bayi-bayi yang lahir perterm antara lain adalah sebagai berikut:
1. Low brith weight (LWB) bila berat badan < 2500 g.
2. Very low brith weight (VLBW) bila berat lahit < 1500 g
3. Extremely low brith weight (ELBW ) bila berat badan < 1000 g
2.2 Etiologi Prematur
Penyebab dari kelahiran prematur menurut Surasmi, Handayani, & Kusuma (2003) faktorfaktor yang berpengaruh meliputi:
1. komplikasi media mampun obstertik: Kurang lebih dari kejadian persalinan preterm
disebabkan hal-hal yang berkaitan degan komplikasi medias ataupun obstertik tertentu
misalya pada kasus perdarahan anterpartum ataupun hipertensi kehamilan yang
sebagian besar memerlukan tindakan terminasi saat kehamilan preterm.
2. Factor gaya hidup : Kebiasaan merokok, penyalahgunaan obat (kokain) dan alcohol
merupakan factor yang berkaitan dengan gaya hidup seseorang yang bisa dihubungkan
2

dengan persalinan preterm. Menurut helzman, alcohol tidak hanya meningkatkan


kejadian persalinan preterm saja , tetapi juga meningkatkan resiko terjadinya kerusakan
otak pada bayi yang lahir preterm.
3. Umur: Usia yang dipandang memiliki risiko saat melahirkan adalah dibawah 20 tahun
dan di atas 35 tahun. Sedangkan antara 20-35 tahun dari segi usia risiko melahirkannya
nol. Untuk yang usia di bawah 20 tahun, risiko kehamilannya karena alat-alat atau
organ reproduksinya belum siap untuk menerima kehamilan dan melahirkan.Alat-alat
reproduksi yang belum siap itu antara lain organ luar seperti liang vagina, bibir
kemaluan, muara saluran kencing dan perinium (batas antara liang vagina dan anus)
tidak siap untuk bekerja mendukung persalinan. Begitu pula halnya dengan organ
dalam seperti rahim, saluran rahim dan indung telur. Wanita muda yang umurnya di
bawah 20 tahun terhitung masih dalam proses pertumbuhan. Memang mereka sudah
mendapatkan haid (menstruasi), namun sebenarnya bukan berarti organ reproduksinya
sudah matang seratus persen. Sedangkan untuk wanita dewasa berusia lebih dari 35
tahun ke atas, kondisi organ-organ reproduksinya berbanding terbalik dengan yang di
bawah 20 tahun. Pada usia itu wanita mulai mengalami proses penuaan. Dengan
kondisi seperti itu maka terjadi regresi atau kemunduran dimana alat reproduksi tidak
sebagus layaknya normal, sehingga sangat berpengaruh pada penerimaan kehamilan
dan proses melahirkan (Emon, 2007). Selain berpengaruh pada penerimaan kehamilan
dan proses melahirkan, kehamilan pada usia kurang dari 20 tahun dan di atas 35 tahun
juga berisiko untuk melahirkan bayi prematur (Manuaba, 1998).
4. Faktor ibu merupakan kelainan atau penyakit yang diderita ibu pada sebelum
kehamilan maupun saat hamil, seperti: toksemia gravidarum yaitu preeklamsi dan
eklamsi; kelainan bentuk uterus; tumor; penyakit akut dengan gejala panas tinggi mis.
tifus abdominalis, malaria dan kronis; serta trauma pada masa kehamilan baik trauma
fisik (misal jantung) maupun psikologis (misal stress).
5. Faktor janin seperti kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini, cacat bawaan,
infeksi, (misal rubeolla, sifilis, toksoplasmosis), insufisiesi plasenta, inkompatibilitas
darah ibu dan janin (faktor Rhesus, golongan darah ABO).
6. Solusio plasenta

Terlepasnya plasenta akan merangsang untuk terjadi persalinan preterm, meskipun


sebagian besar (65%) terjadi aterm. Pada pasien dengan riwayat solusio plasenta maka
kemungkinan terulang akan menjadi lebih besar yaitu 11%.
7. Plasenta previa
Plasenta previa sering kali berhubungan dengan persalinan preterm akibat harus
dilakukan tindakan pada perdarahan yang banyak. Bila telah terjadi perdarahan banyak
maka kemungkinan kondisi janin kurang baik karena hipoksia.
2.3 Klasifikasi Prematur
Menurut usia kehamilannya maka prematur dibedakan menjadi beberapa, yaitu:
1. Usia kehamilan 32 36 minggu disebut persalinan prematur (preterm)
2. Usia kehamilan 28 32 minggu disebut persalinan sangat prematur (very preterm)
3. Usia kehamilan 20 27 minggu disebut persalinan ekstrim prematur (extremely preterm)
Menurut berat badan lahir, bayi prematur dibagi dalam kelompok :
1. Berat badan bayi 1500 - 2500 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR)
2. Berat badan bayi 1000 1500 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir Sangat
Rendah (BBLSR)
3. Berat badan bayi < 1000 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir Ekstrim Rendah
(BBLER).(Krisnadi, 2009)

2.5 Manifestasi Klinis Premature


Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, bergantung pada usia
kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin prematur atau makin kecil umur kehamilan saat
dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir cukup bulan. Berdasarkan
Asrining dkk (2002), tanda dan gejala bayi prematur adalah sebagai berikut:
1. Umur kehamilan sama dengan kurang dari 37 minggu
2. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram
3. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm
4. Kuku panjangnya belum melewati ujung jari
5. Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas
6. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm
7. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm
4

8. Rambut lanugo masih banyak


9. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang
10. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-olah tidak
teraba tulang rawan daun telinga.
11. Tumit mengilap, telapak kaki halus
12. Alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skortum kurang. Testis belum
turun ke dalam skrotum. Untuk bayi perempuan klirotis menonjol, labia minora belum
tertutup oleh labia mayora.
13. Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah
14. Fungsi saraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan refleks isap, menelan dan
batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah.
15. Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak
masih kurang
16. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit
2.6 Patofisiologi Premature
Neonatus dengan imaturitas pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat menghasilkan
kalori melalui peningkatan metabolisme. Hal itu disebabkan karena respons menggigil bayi
tidak ada atau kurang, sehingga tidak dapat menambah aktivitas. Sumber utama kalori bila
ada stres dingin atau suhu lingkungan rendah adalah thermogenesis nonshiver. Sebagai
respon terhadap rangsangan dingin, tubuh bayi akan mengeluarkan norepinefrin yang
menstimulus metabolisme lemak dari cadangan lemak cokelat untuk menghasilkan kalori
yang kemudian dibawa oleh darah ke jaringan.
Stress dingin dapat menyebabkan hipoksia, metabolisme asidosis dan hipoglikemia.
Peningkatan metabolisme sebagai respons terhadap stress dingin akan meningkatkan
kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan,
tekanan oksigen berkurang (hipoksia) dan keadaan ini menjadi lebih buruk karena volume
paru (paru yang imature). Keadan ini dapat sedikit tertolong oleh hemoglobin fetal (HbF)
yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi dapat bertahan lebih lama pada
kondisi tekanan oksigen yang kurang. Stres dingin akan direspon oleh bayi dengan melepas
norepinefrin

yang

menyebabkan

vasokonstriksi

paru-paru. Akibatnya

menurunkan

keefektifan ventilasi paru-paru sehingga kadar oksigen berkurang. Keadaan ini menghambat
metabolisme glukosa dan menimbulkan glikolisis anaerob yang menyebabkan peningkatan
asam laktat, kondisi ini bersamaan dengan metabolime lemak cokelat yang menghasilkan
asam sehingga meningkatkan kontribusi terjadi asidosis. Kegiatan metabolisme anaerob
menghilangkan glikogen lebih banyak daripada metabolisme aerob sehingga mempercepat
5

terjadinya hipoglikemia. Kondisi ini terjadi terutama bila cadangan glikogen saat lahir
sedikit, sesudah kelahiran pemasukan kalori rendah atau tidak adekuat.
Termoregulasi. Bayi prematur umumnya relatif kurang mampu untuk bertahan hidup
karena struktur anatomi atau fisiologi yang imatur dan fungsi biokimanya belum bekerja
seperti bayi yang lebih tua. Kekurangan tersebut berpengaruh terhadap kesanggupan bayi
untuk mengatur dan mempertahankan suhu badannya dalam batas normal. Bayi prematur dan
imatur tidak dapat mempertahankan suhu tubuh dalam bats normal, karena pusat pengatur
suhu pada otak yang belum matur, kurangnya cadangan glikogen dan lemak cokelat sebagai
sumber kalori. Tidak ada atau kurangnya lemak subkutan dan permukaan tubuh yang relatif
lebih luas akan menyebabkan kehilangan panas tubuh yang lebih banyak. Respons menggigil
pada bayi kurang atau tidak ada, sehingga bayi tidak dapat meningkatkan panas tubuh
melalui aktivitas. Selain itu kontrol refleks kapiler kulit juga masih kurang (Asrining dkk
2002).
2.7 Permasalahan yang terjadi pada bayi prematur
menurut Hull, & Johnston (2008), masalah yang terjadi pada bayi prematur adalah sebagai
berikut :
1. Kesulitan pernapasan : Akibat imaturitas, banyak bayi prematur mengalami kesulitan
dalam mengembangkan paru dan kerja pernapasan sangat meningkat karena sindrom
gawat napas idiopatik. Gerakan pernapasan juga bervariasi. Hal ini tampak pada pola
pernapasan periodik yang dapat menjadi masalah jika menjurus pada serangan apneu
yang lama.
2. Perdarahan intraventricular haemorrhage (IVH)

: Perdarahan kecil dalam lapisan

germinal ventrikel leteral otak sering dijumpai pada pemeriksaan ultrasonografi bayi
prematur, terutama yang mengalami asfiksia atau masalah pernapasan yang berat.
Perdarahan ini meluas ke dalam sistem ventricular dan sebagian bayi akan menderita
hidrosefalus. Tetapi, sebagian besar bayi hanya mengalami perdarahan kecil dan akan
pulih tanpa pengaruh jangka panjang yang serius.
3. Imaturitas hati : Ikterus fisiologi sering menjadi lebih nyata dan lebih lama pada bayi
prematur. Namun, dengan perawatan yang cermat, pemberian minum sejak dini serta
penggunaan fototerapi, transfuse tukar jarang diperlukan. Diduga bahwa otak bayi

prematur mempunyai risiko kerusakan yang lebih besar akibat kadar bilirubin yang
tinggi.
4. Infeksi : Akibat kulit yang tipis dan daya imunitas yang terbatas, bayi prematur lebih
rentan terhadap infeksi. Karena daya tahan yang lemah, mereka tidak memperhatikan
gejala dan tanda seperti yang terjadi pada bayi yang lebih tua. Keadaan klinis mereka
berubah dengan cepat dari bakteremia menjadi septikemia dan akhirnya kematian.
Meningitis yang menyertai dapat mudah terlewatkan. Oleh karena itu, pada bayi yang
dicurigai mengalam infeksi perlu dilakukan skrining sepsis meliputi biakan darah, urin,
cairan serebrospinal serta memulai terapi antibiotik spektrum luas sebelum hasil skrining
tiba.
5. Leukomalasia periventrikular (LPV) : Iskemia parenkim otak dapat menjurus pada
perubahan yang pada mulanya dikenal sebagai flare pada pemeriksaan ultrasonografi
kranial. Kadang-kadang kelainan ini menghilang, tetapi pada bayi lain kerusakan otak ini
berubah bentuk menjadi kista. Leukomalasia perivertrikular kistik mempunyai prognosis
jauh lebih buruk dibanding perdarahan yang hanya terbatas pada ventrikel, yaitu sekitas 9
dari 10 bayi akan menderita palsi serebral spastik..
6. Enterokolitis nekrotikans merupakan keadaan serius yang mempengaruhi usus dalam 3
minggu pertama. Hal ini lebih sering terjadi pada bayi prematur yang paling kecil.
Penyebabnya belum diketahui, tapi cedera hipoksia pada dinding usus mungkin
berhubungan dengan keteterisasi vena umbilikalis, serangan apneu, septokemia, dan
kolonisasi usus oleh organisme tertentu mungkin merupakan faktor presipitasi.
7. Retinopathy of prematurity (ROP) : Bayi prematur yang menghirup gas campuran dengan
konsentrasi oksigen yang tinggi, mempunyai risiko terjadinya vaskularisasi abnormal
dibelakang mata. Walaupun telah dilakukan pengendalian kadar oksigen secara ketat,
beberapa bayi yang sangat imatur mengalami retinopathy of prematurity dan sebagian
akan menjadi buta parsial ataupun buta komplet.
8. Defisiensi nutrisi : Segera setelah bayi prematur beradaptasi dengan kehidupan
ekstrauteri dan makanan telah diberikan, bayi prematur dapat tumbuh dengan laju yang
serupa dengan pertumbuhan yang akan dicapai in utero. Laju pertumbuhan yang tinggi
ini dapat menimbulkan defisiensi vitamin, sehingga perlu diberikan suplemen vitamin.
2.8 Penatalaksanaan Bayi Prematur
7

Penatalaksanaan bayi prematur bertujuan untuk memberikan lingkungan, nutrisi dan


dukungan yang memungkinkan bayi tersebut mengatasi semua cacat/kekurangannya akibat
kelahiran prematur beserta segala komplikasinya. Menurut Priyono (2010), bayi yang lahir
prematur akan diletakan dalam alat khusus, yaitu inkubator. Inkubator merupakan alat yang
dilengkapi dengan pengatur suhu dan kelembaban udara agar bayi selalu hangat. Bayi yang
berat badannya dibawah 2000 gram, suhu dalam inkubator berkisar antara 32C. Bila berat
badan <2500 gram, suhu inkubator 30C. Menurut Surasmi, Handayani, & Kusuma (2003),
bayi prematur atau berat lahir rendah, fungsi sistem organnya belum matur sehingga dapat
mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Berikut ini merupakan
penatalaksanaan pada bayi prematur:
1. Mengupayakan suhu lingkungan netral : Untuk mencegah akibat buruk dari hipotermi
karena suhu lingkungan yang rendah atau dingin harus dilakukan upaya untuk merawat
bayi dalam suhu lingkungan yang netral, yaitu suhu yang diperlukan agar konsumsi
oksigen dan pengeluaran kalori minimal. Keadaan suhu inti bayi dapat dipertahankan
36,6 C- 37,5 C.
2.

Bantuan pernapasan : Segera setelah lahir jalan napas orofaring dan nasofaring
dibersihkan dengan isapan yang lembut. Pemberian terapi oksigen harus hati-hati dan
diikuti dengan pemantauan terus menerus tekanan oksigen darah arteri antara 80-100
mmHg. Untuk memantau kadar oksigen secara rutin dan efektif dapat digunakan
elektroda oksigen melalui kulit.

3. Pencegahan infeksi : Tindakan pencegahan infeksi sangat penting karena akan


memperburuk keadaan bayi yang sudah bermasalah. Bayi prematur dan berat badan lahir
rendah mudah menderita sakit. Yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi,
yaitu: mengunjungi bayi harus mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi,
baik perawat maupun pengunjung menggunakan masker, pakaian penutup khusus yang
disediakan, sarung tangan.
4. Makanan bayi prematur : Menurut Wiknjosastro (dalam penelitian Nani & Utami, 2012)
alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan
belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg berat badan dan kalori 110 Kal/kg
berat badan, sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minuman kepada
bayi dilakukan sekitar 3 jam setelah kelahiran dan didahului dengan menghisap cairan
8

lambung. Refleks menghisap masih lemah, sehingga pemberian minuman sebaiknya


sedikit demi sedikit, tetapi frekuensi yang lebih sering. Air Susu Ibu (ASI) merupakan
makanan yang paling utama, sehingga ASI yang paling dahulu diberikan. Bila kurang,
maka ASI dapat diperas dan diminumkan perlahan-lahan atau memasang sonde menuju
lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 5060 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan
sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari.

2.8 Asuhan Keperawatan Pada Bayi Prematur


1. PENGKAJIAN DASAR DATA NEONATUS
1) Sirkulasi
Nadi apikal mungkin cepat dam atau tidak teratur dalam batas normal(120 -160dpm)
murmur jantung yang dapat didengar dapat menanadakan duktus arterious paten
(pda).
2) Makanan/cairan
Berat badan < 2500 g (5 1b 8oz)
3) Neorosensori
Tubuh panjang, kurus , lemas dengan perut agak gendut. Ukuran kepala besar dalam
hubungarnya dengan tubuh, sutura mungkin mudah di gerakkan ,fontenetal mungkin
atau tidak terbuka lebar.dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar . edema
kelopak mata umum terjadi, mata mungkin merapat( tergantung pada usia gestasi).
Refleks tergantung pada usia gestasi: roting terjadi dengan baik pada gestasi minggu
32; koordinasi refleks untuk menghisap ,menelan ,bernapas, biasanya terbentuk pada
gestasi minggu ke-32; komponen pertama dari refleks moro ( ekstasi lateral dari
ektremitas atas dengan mebuka tangan ) tampak pada gestasi minggu ke 28;
komponen kedua ( refleksi anterior dan menangis yang dapat di dengar) tampak pada
gestasi minggu ke 32.pemeriksaan dubowits menandakan usia gestasi antra minggu
24 dan 37.
4) Pernapasan
Pernapasan mungkin dakal, tidak terutur; retraksi diafragmatik intermirten atau
periodik (40-60x/mnit)
9

Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi superasternal atau substernal, atau


berbagai derajat sianosis mungkin ada. Adanya bunyi ampelas pada auskultasi ,
menandakan sindro distres pernafasan(rds).
5) Keamanan
Suhu berfluktuasi dengan mudah .Menangis mungkin lemah.
Wajah mungkin memar; mungkin ada suksedaneum.
Kulit kemerahan atau tembus pandang; warna mungkin merah muda/ kebiruan,
akrosianosis, atau sianosis/pucat.
Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh.
Ekstremitas mungkin tamapak edema.
Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebagian tepak.
Kukumungkin pendek.
6) Seksualitas
Persalinan atau kelahiran mungkin tergesa-gesa.
Genetalia;labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayor dengan klitoris
menonjol;Testispria mungkin btidak turun, rugea mungkin banyak atau tidak ada pda
skrotum
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan,
keterbatasan perkembangan otot, penurunan energi/kelelahan, ketidakseimbangan
metabolik
Tujuan : Menunjukkan pola nafas yang efektif.
INTERVENSI KEPERAWTAN
MANDIRI
1. Kaji frekuensi pernafasan

RASIONAL
1. Membantu dalam membedakan periode
dan

pola

pernapasan. Perhatikan adanya apnea dan


perubahan frekuensi jantung, tonus otot
dan

warna

prosedur

kulit

atau

berkenaan
perawatan,

dengan
lakukan

pemantauan jantung dan pernafasan yang


kontiniu. .
2. Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan.
3. Pertahankan suhu tubuh optimal.
4. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi
terlentang
dibawah

dengan
bahu

gulungan

untuk

popok

menghasilkan
10

perputaran pernafasan yang normal dari


serangan

apnea

yaitu

sering

terjadi

sebelum gestasi minggu ke 30.


2. Menghilangkan mucus yang menyumbat
jalan nafas
3. Hanya sedikit peningkatan atau penurunan
suhu

lingkungan

dapat

menimbulkan

apnea.
4. Posisi ini dapat memudahkan pernafasan
dan

menurunkan

Khususnya

adanya

episode

apnoe.

hipoksia,

asidosi

hiperekstensi.

metabolic atau hiperkapnea.

KOLABORASI
1. Pantau pemeriksaan

1. Hipoksia,asidosis metabolik,

laboratorium (GDA, glukosa

hiperkapnea, hipoglikemia,

serum, elektrolit)

hipopkalsemia, dan sepsis

2. Berikan oksigen sesuai

dapat memperberat serangan

indikasi

apnoe.
2. Perbaikan kadar oksigen dan
karbon dioksida dapat
meningkatkan fungsi
pernafasan.

2. Resiko

tinggi

tidak

efektifnya

thermoregulasi

berhubungan

dengan

perkembangan SSP, imatur (pusat regulasi suhu), penurunan rasio masa tubuh
terhadap area permukaan, penurunan lemak sub kutan.
Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal ( 36,4 37,4)
Intervensi
Rasional
Mandiri
Rasional
1. Kaji suhu dengan sering, periksa sushu rectal 1. Hipotermia membuat bayi cenderung
pada awalnya, selanjutnya periksa suhu aksila

pada

atau gunakan alat termotat dengan dasar

simpanan lemak yang tidak dapat

terbuka dan penyebab hangat. Ulangi setiap

diperbahrui bila ada dan penurunan

menit selama penghangatan ulang.


2. Tempatkan bayi pada isolette, penghangat,
inkubator,

tempat

tidur

terbuka

dengan

stress

sensitivitas
kadar

CO2

dingin

untuk

penggunaan

meningkatkan

(hiperkapnea)

atau

penyebar hangat, atau tempat tidur terbuka

peurunan kadar O2 (hipoksia).


2. Mempertahankan lingkungan termo

dengan pakaian tepat untuk bayi yang lebih

netral membantu mencegah stress

besar atau lebih tua gunakan bantalan

dingin.
3. Mencegah kehilngan cairan melalui

pemanas di bawah bayi bila perlu dalam


hubungannya dengan tempat tidur isolette
atau terbuka.
3. Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila
11

evaporasi.

basah, pertahankan kepala bayi tetap tertutup.


Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian D-10 W dan ekspander

1. Pemberian dextrose mungkin perlu


untuk memperbaiki hipoglikemia,

volume secara intra vena bila diperlukan obat-

hipotensi karena vasolidatasi perifer

obat sesuai indikasi.


2. Berikan barbital natrium bikarbonat

mungkin memerlukan tindakan pada


bayi yang mengalami stress panas,
hipertermia

dapat

menyebabkan

peningkatan dehidrasi 3-4 kali lipat.


2. Membantu
mencegah
kejang
berkenaan dengan perubahan SSP
yang disebabkan oleh hipertermia,
memperbaiki asidosis yang dapat
terjadi

pada

hipotermia

dan

hipertermia.
3. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan immaturitas organ tubuh.
TUJUAN :
a. Peningkatan berat badan 20-30 gr/hr
b. Mempertahankan berat badan
Intervensi
Mandiri
1. Timbang berat badan bayi saat menerima di
ruang perawatan dan setelah itu setiap hari.
2. Auskultasi bising usus, perhatikan adanya
distensi abdomen, adanya tangisan lemah
yang diam bila dirangsang oral diberikan
dan perilaku menghisap.
3. Lakukan pemberian makanan oral awal
dengan 5-15 ml air steril. Kemudian
dextrose dan air sesuai protocol rumah
sakit, berlanjut pad formula untu bayi yang
12

Rasional
1. Menetapkan kebutuhan kalori dan cairan
sesuai dengan BB dasar yang sesuai/ normal
turun sebanyak 5 % - 10 % dalam 3-4 hari
dari kehidupan karena keterbatasan masukan
oral.
2. Indicator yang menunjukkan neonatus lapar.
3. Pemberian makanan awal membantu
memenuhi kebutuhan kalori dan cairan
khususnya pada bayi yang laju metabolisme
menggunakan 100-120 kal/kg BB setiap 24
jam.

makan melalui botol.


Kolaborasi
1. Berikan glukosa segera

1. Bayi
peroral

atau

mungkin

memerlukan

suplemen

glukosa untuk meningkatkan kadar serum.

intravna bila kadar dextrostik kurang dari


45 mg/dl
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan respon imun imatur.
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria: Leukosit normal, tali pusat tidak ada tanda-tanda infeksi.
Intervensi

Rasional

Mandiri

1. Mencuci tangan adalah praktik yang

1. Tingkatkan cara mencuci tangan pada staff,


orang tua dan pekerja lain.

penting untuk mencegah kontaminasi.


2. Penularan penyakit pada neonatus dari
pengunjung dapat terjadi secara

2. Pantau pengunjung akan adanya lesi kulit.

langsung.

3. Kaji bayi terhadap tanda-tanda infeksi


misalnya : suhu, letargi, atau perubahan

3. Bermanfaat dalam mendiagnosa pasien

perilaku

4. Penggunaan local triple dye dapat


membantu mencegah kolonisasi

4. Lakukan perawatan tali pusat


5. Berikan ASI untuk pemberian makan bila
tersedia.
Kolaborasi
1. Berikan antibiotika sesuai indikasi

1. Mengatasi infeksi pernafasan atau


sepsis.

13

BAB III
PENUTUP
3.1 Penutup
Prematuritas adalah kelahiran hidup bayi dengan berat <2500 g . Kriteria ini dipakai terus
secara luas, sampai tampak bahwa ada perbedaan antara usia kehamilan dan berat lahir yang
disebabkann adanya hambataan pertumbuhan janin. Bayi premature adalah bayi yang lahir
kurang dari usia kehamilan yang normal bayi yang lahir sebelum minggu ke 37, dihitung dari
mulai hari pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek dan
menambahkan bahwa usia hamil sebagai kriteria untuk bayi prematur adalah yang lahir
sebelum 37 minggu dengan berat lahirdi bawah 2500 g.
14

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Fadlun. & Feryanto.2011.Asuhan Kebidanan Patologis.Jakarta:Salemba Medika.
Manuaba, I.B.G, dkk.2007.Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC
Soepardan, Suryani.2008. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC

15