Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH BAKTERIOLOGI

PHATOGENESIS MIKROORGANISME
OLEH
KELOMPOK 4
1. Fadlun H. Polone
2. Roniadi Sagulani

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


STIKES BINA MANDIRI GORONTALO
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sembari
mengangkat tangan, bermohon kiranya memberikan rahmat dan kasih karuniaNya serta kelapangan berpikir dan waktu, sehingga penulis dapat menyusun
dan menyelesaikan makalah ini. Dengan judul Patogenesis Mikroorganisme.
Makalah ini disusun sebagai tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata
kuliah "Bakteriologi.
Diharapkan pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi para
pembaca dan dapat dijadikan salah satu ilmu yang bermanfaat. Penulis menyadari masih
banyaknya kekurangan dari penulisan hasil makalah ini, kritik dan saran yang
membangun sangat membantu penulis untuk mengurangi segala kekurangan tersebut
kedepannya. Dengan kerendahan hati, penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi
penulis sendiri maupun bagi pembaca. Amin.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak
disekitar kita. Bakteri pun berada di mana-mana. Di tempat yang paling dekat
dengan kita pun juga terdapat bakteri contohnya saja tas, buku, pakaian, dan
banyak hal lainnya. Maka dari itu bakteri merupakan penyebab penyakit yang
cukup sering terjadi. Karena banyaknya manusia yang mengabaikan penyakit
tersebut karena terkadang gejala awal yang diberikan ada gelaja awal yang biasa
saja. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita masyarakat dapat mengetahui
bagaimana cara bakteri itu menginfeksi dan gejala-gejala apa yang akan
dberikannya.
Banyaknya manusia yang mulai tidak begitu peduli dengan gejala awal
terjangkitnya bakteri salah satunya adalah pada saluran pencernaan. Saluran
pencernaan adalah saluran yang sangat berperan dalam tubuh. Jika saluran
pencernaan terganggu akan cukup mengganggu aktivitas tubuh saat itu. Tapi
banyak masyarakat yang tidak peduli dengan penyakit yang ditimbulkan.
Misalnya saja penyakit yang dapat ditimbulkan oleh bakteri ada diare, gejala
awalnya ada kondisi perut yang tidak enak gejala awalnya cukup biasa tetapi jika
terlalu didiamkan akan membuat kondisi itu menjadi akut dan fatal. Maka dari itu,
bakteri merupakan penyebab penyakit yang cukup banyak pada saat ini.
Pada dasarnya dari seluruh mikroorganisme yang ada di alam, hanya sebagian
kecil

saja

yang

merupakan

patogen.

Patogen

adalah

organism

atau

mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada organism lain. Kemampuan


pathogen untuk menyebabkan penyakit disebut dengan patogenisitas. Dan
patogenesis disini adalah mekanisme infeksi dan mekanisme perkembangan
penyakit. Infeksi adalah invasi inang oleh mikroba yang memperbanyak dan
berasosiasi dengan jaringan inang. Infeksi berbeda dengan penyakit. Sebagaimana
kita ketahui sebelumnya mikroorganisme adalah organisme hidup yang berukuran
mikroskopis sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mikroorganisme
dapat ditemukan disemua tempat yang memungkinkan terjadinya kehidupan,
disegala lingkungan hidup manusia. Mereka ada di dalam tanah, di lingkungan

akuatik, dan atmosfer ( udara ) serta makanan, dan karena beberapa hal
mikroorganisme tersebut dapat masuk secara alami ke dalam tubuh manusia,
tinggal menetap dalam tubuh manusia atau hanya bertempat tinggal sementara.
Mikroorganisme ini dapat menguntungkan inangnya tetapi dalam kondisi tertentu
dapat juga menimbulkan penyakit.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Patogenesis?
2. Apa yang dimaksud dengan Flora Normal Pada Tubuh Manusia?
3. Apa saja Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kehadiran Flora Normal
Pada Tubuh Manusia?
4. Bagaimana Proses Bakteri Dalam Menimbulkan Penyakit?
5. Apa yang dimaksud Virulensi Mikroorganisme?
6. Bagaimana Interaksi Antara Manusia Dan Flora Normal?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Definisi Patogenesis Mikroorganisme
2. Flora Normal Pada Tubuh Manusia
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kehadiran Flora Normal Pada Tubuh
Manusia
4. Proses Bakteri Dalam Menimbulkan Penyakit
5. Virulensi Mikroorganisme
6. Interaksi Antara Manusia Dan Flora Normal

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Patogenesis
Patogen adalah materi atau organisme yang dapat menyebabkan penyakit
pada inang misalnya bakteri. Bakteri dapat merusak sistem pertahanan inang
dimulai dari permukaan kulit, saluran pencernaan, saluran respirasi, saluran
urogenitalia. Sedangkan Patogenesis sendiri adalah mekanisme infeksi dan
mekanisme perkembangan penyakit. Infeksi merupakan invasi inang oleh mikroba
yang memperbanyak dan berasosiasi dengan jaringan inang. Infeksi berbeda
dengan penyakit.
Kapasitas bakteri menyebabkan penyakit tergantung pada patogenitasnya.
Dengan kriteria ini, bakteri dikelompokan menjadi 3, yaitu agen penyebab
penyakit, patogen oportunistik, nonpatogen. Agen penyebab penyakit adalah
bakteri patogen yang menyebabkan suatu penyakit (Salmonella spp.). Patogen
oportunistik adalah bakteri yang berkemampuan sebagai patogen ketika
mekanisme pertahanan inang diperlemah (contoh E. coli menginfeksi saluran urin
ketika sistem pertahanan inang dikompromikan (diperlemah). Nonpatogen adalah
bakteri yang tidak pernah menjadi patogen. Namun bakteri nonpatogen dapat
menjadi patogen karena kemampuan adaptasi terhadap efek mematikan terapi
modern seperti kemoterapi, imunoterapi, dan mekanisme resistensi. Bakteri tanah
Serratia marcescens yang semula nonpatogen, berubah menjadi patogen yang
menyebabkan pneumonia, infeksi saluran urin, dan bakteremia pada inang
terkompromi.
Virulensi adalah ukuran patogenitas organisme. Tingkat virulensi
berbanding lurus dengan kemampuan organisme menyebabkan penyakit. Tingkat
virulensi dipengaruhi oleh jumlah bakteri, jalur masuk ke tubuh inang, mekanisme
pertahanan inang, dan faktor virulensi bakteri. Secara eksperimental virulensi
diukur dengan menentukan jumlah bakteri yang menyebabkan kematian, sakit,
atau lesi dalam waktu yang ditentukan setelah introduksi.
Mikroba patogen diketahui memasuki inang melalui organ-organ tubuh antara
lain :

1. Saluran pernapasan, melalui hidung dan mulut yang dapat menyebabkan


penyakit saluran pernapasan seperti salesma, pneumonia, tuberculosis.
2. Saluran pencernaan melalui mulut yang dapat menyebabkan penyakit
tifus, para tifus, disesntri, dll.
3. Kulit dan selaput lendir. Adanya

luka mesekipun kecil dapat

memungkinkan mikroba seperti staphylicoccus yang menyebabkan bisul.


4. Saluran urogenital
5. Darah
B. Flora Normal Pada Tubuh Manusia
1. Pengertian flora normal
Manusia secara konstan berhubungan dengan beribu-ribu
mikroorganisme. Mikrobe tidak hanya terdapat dilingkungan, tetapi juga
menghuni tubuh manusia. Mikrobe yang secara alamiah menhuni tubuh
manusia disebut flora normal, atau mikrobiota.
Selain itu juga disebutkan bahwa flora normal adalah kumpulan
mikroorganismeyang secara alami terdapat pada tubuh manusia normal dan
sehat. Kebanyakan floranormal yang terdapat pada t ubuh manusia adalah
dari jenis bakteri. Namun beberapa virus, jamur, dan protozoa juga dapat
ditemukan pada orang sehat.
Untuk dapat menyebabkan penyakit, mikroorganisme patogen harus dapat
masuk ke tubuh inang, namun tidak semua pertumbuhan mikroorganisme dalam
tubuh inang dapat memyebabkan penyakit. Banyak mikroorganisme tumbuh pada
permukaan tubuh inang tanpa menyerang jaringan tubuh dan merusak fungsi
normal tubuh. Flora normal dalam tubuh umumnya tidak patogen, namun pada
kondisi tertentu dapat menjadi patogen oportunistik. Penyakit timbul bila infeksi
menghasilkan perubahan pada fisiologi normal tubuh.
Mikroorganisme tidak saja terdapat dan hidup di lingkungan, akan tetapi
juga di tubuh manusia. Tubuh manusia tidaklah steril atau bebas dari
mikroorganisme, begitu manusia dilahirkan ia langsung berhubungan dengan
mikroorganisme. Mikroorganisme yang secara alamiah terdapat di tubuh manusia
disebut flora normal atau mikrobiota.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kehadiran Flora Normal Pada Tubuh
Manusia
1. Nutrisi
2. Kebersihan seseorang (berapa seringnya dibersihkan)

3. Kondisi hidup
4. Penerapan prinsip-prinsip kesehatan
Mikroflora pada tubuh berdasarkan bentuk dan sifat kehadirannya dapat
digolongkan menjadi 2 yaitu :
1. Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous)
yaitu mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh
tertentu

dan pada

usia

tertentu dan

pada usia tertentu.

Keberadaan

mikroorganismenya akan selalu tetap, baik jenis ataupun jumlahnya, jika ada
perubahan akan kembali seperti semula. Flora normal/tetap yang terdapat pada
tubuh merupakan organisme komensal. Flora normal yang lainnya bersifat
mutualisme. Flora normal ini akan mendapatkan makanan dari sekresi dan
produk-produk buangan tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau zat
hasil sintesis dari flora normal. Mikroorganisme ini umumnya dapat lebih
bertahan pada kondisi buruk dari lingkungannya. Contohnya : Streptococcus
viridans, S. faecalis,Pityrosporum ovale,Candida albicans.
2. Mikroorganisme sementara (transient flora)
yaitu mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen yang berada di kulit dan
selaput lendir/mukosa selama kurun waktu beberapa jam, hari, atau minggu.
Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap) dapat
disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit dan tidak
menetap. Flora sementara biasanya sedikit asalkan flora tetap masih utuh, jika
flora tetap berubah, maka flora normal akan melakukan kolonisasi, berbiak dan
menimbulkan penyakit.Flora normal pada manusia tidak tetap, selalu mengalami
fluktuasi yang disebabkan oleh Nutrisi, Usia, Hormon, dan Kesehatan umum.
D. Proses Bakteri Dalam Menimbulkan Penyakit
Mikroorganisme patogen dapat memasuki tubuh inang melalui berbagai
macam jalan, misalnya melalui membran mukosa, kulit ataupun rute parental.
Banyak bakteri dan virus memiliki akses memasuki tubuh inang melalui membran
mukosa saluran pernapasan, gastrointestinal, saluran genitourinari, konjungtiva,
serta membran penting yang menutupi bola mata dan kelopak mata.
a. Saluran pernapasan

Saluran pernapasan merupakan jalan termudah bagi mikroorganisme infeksius.


Mikroorganisme terhirup melalui hidung atau mulut dalam bentuk partikel debu.
Penyakit yang muncul umumnya adalah pneumonia, campak, tuberculosis, dan
cacar air.
b. Saluran pencernaan
Mikroorganisme dapat memasuki saluran pencernaan melalui bahan makanan atau
minuman dan melalui jari jari tangan yang terkontaminasi mikroorganisme
pathogen. Mayoritas mikroorganisme tersebut akan dihancurkan oleh asam
klorida( HCL ) dan enzim enzim di lambung, atau oleh empedu dan enzim di
usus halus. Mikroorganisme yang bertahan dapat menimbulkan penyakit.
Misalnya, demam tifoid, disentri amoeba, hepatitis A, dan kolera. Patogen ini
selanjutnya dikeluarkan malalui feses dan dapat ditransmisikan ke inang lainnya
melalui air, makanan, atau jari jari tangan yang terkontaminasi.
1) Kulit
Kulit sangat penting sebagai pertahanan terhadap penyakit. Kulit yang tidak
mengalami perlukaan tidak dapat dipenetrasi oleh mayoritas mikroorganisme.
Beberapa mikroorganisme memasuki tubuh melalui daerah terbuka pada kulit,
folikel rambut, maupun kantung kelenjar keringat. Mikroorganisme lain
memasuki tubuh inang pada saat berada di jaringan bawah kulit atau melalui
penetrasi atau perlukaan membran mukosa. Rute ini disebut rute parenteral.
Suntikan, gigitan, potongan, luka, atau pembedahan dapat membuka rute infeksi
parenteral.
2) Rongga mulut
Pada permukaan rongga mulut terdapat banyak koloni mikroorganisme. Salah satu
penyakit yang umum pada rongga mulut akibat kolonisasi mikroorganisme adalah
karies gigi. Karies gigi diawali akibat pertumbuhan Streptococcus mutans dan
spesies

Streptococcus

lainnya

pada

permukaan

gigi.

Hasil

fermentasi

metabolisme, menghidrolisis sukrosa menjadi komponen monosakarida, fruktosa,


dan glukosa. Enzim glukosiltransferasi selanjutnya merakit glukosa menjadi
dekstran. Residu fruktosa adalah gula utama yang difermentasi menjadi asam
laktat. Akumulasi bakteri dan dekstran menempel pada permukaan gigi dan

membentuk plak gigi. Populasi bakteri plak didominasi oleh Streptococcus dan
anggota Actinomyces. Karena plak sangat tidak permeable terhadap saliva, maka
asam laktat yang diproduksi oleh bakteri tidak dilarutkan atau dinetralisasi dan
secara perlahan akan melunakkan enamel gigi tepat plak tersebut melekat.
3) Hidung dan Nasofaring (nasopharynx)
Flora utama hidung terdiri dari korinebakteria, staphylococcus dan
strepthococcus. Dalam hulu kerongkongan hidung, dapat juga dijumpai bakteri
Branhamella catarrhalis (suatu kokus gram negatif) dan Haemophilus influenzae
(suatu batang gram negatif). Pemusnahan flora normal faring dengan penisilin
dosis tinggi dapat menyebabkan over growth bakteria negatif Gram seperti
Escherichia coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas atau jamur.
4) Orofaring (oropharinx)
Orofaring (bagian belakang mulut juga dihuni sejumlah besar bakteri
Staphylococcus aureus dan S. epidermidis dan juga difteroid, tetapi kelompok
bakteri terpenting yang merupakan penghuni asli orofaring ialah Streptococcus
hemolitik,

yang

juga

dinamakan

Streptococcus

viridans.

Biakan

yang

ditumbuhkan dari orofaring juga akan memperlihatkan adanya Branchamella


catarrhalis, spesies Haemophilus, serta gular-galur Pneumokokus avirulen
(Streptococcus pneumonia).
5) Perut
Isi perut yang sehat dan steril karena adanya asam hidroklorat di dalam
sekresi lambung. Setelah ditelannya makanan, jumlah bakteri bertambah tetapi
segera menurun kembali dengan disekresikannya getah lambung dan pH zat alir
perut pun menurun.
6) Usus Kecil
Usus kecil bagian atas (usus dua belas jari) mengandung beberapa bakteri. Di
antara yang ada, sebagian besar adalah kokus dan basilus gram positif. Didalam
jejunum atau usus halus kos ong (bagian kedua usus kecil, di antara usus dua
belas jari dan ileum atau usus halus gelung) kadang kala dijumpai spesies-spesies

Enterokokus, Laktobasilus, dan Difteroid. Khamir Candida albicans dapat juga


dijumpai pada bagian usus kecil ini. Pada bagian usus kecil yang jatuh (ileum),
mikrobiota mulai menyerupai yang dijumpai pada usus besar. Bakteri anaerobik
dan enterobakteri mulai nampak dalam jumlah besar.
7) Usus Besar
Di dalam tubuh manusia, kolon atau usus besar, mengandung populasi
mikroba yang terbanyak. Telah diperkirakan bahwa jumlah mikroorganisme di
dalam spesimen tinja adalah kurang lebih 1012 organisme per gram. Basilus gram
negatif anaerobik yang ada meliputi spesies Bacteroides (B. fragilis, B.
melaninogenicus, B. oralis) dan Fusobacterium. Basilus gram positif diwakili oleh
spesies-spesies Clostridium serta spesies-spesies Lactobacillus. Flora saluran
pencernaan berperan dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen empedu dan asam
empedu, absorpsi zat makanan serta antagonis mikroba patogen.
8) Saluran Kemih
Pada orang sehat, ginjal, ureter (saluran dari ginjal ke kandung kemih), dan
kandung kemih bebas dari mikroorganisme, namun bakteri pada umumnya
dijumpai pada uretra (saluran dari kandung kemih ke luar) bagian bawah baik
pada pria maupun wanita. Tetapi jumlahnya berkurang di dekat kandung kemih,
agaknya disebabkan efek antibakterial yang dilancarkan oleh selaput lendir uretra
dan seringnya epitelium terbilas oleh air seni. Ciri populasi ini berubah menurut
variasi daur haid. Penghuni utama vagina dewasa adalah laktobasilus yang toleran
terhadap asam. Bakteri ini mengubah glikogen yang dihasilkan epitelium vagina,
dan didalam proses tesebut menghasilkan asam. Penumpukan glikogen pada
dinding vagina disebabkan oleh kegiatan indung telur. Hal ini tidak dijumpai
sebelum masa akil balig ataupun setelah menopause (mati haid). Sebagai akibat
perombakan glikogen, maka pH di dalam vagina terpelihara pada sekitar 4,4
sampai 4,6.
Mikrooganisme yang mampu berkembang baik pada pH rendah ini dijumpai
di dalam vagina dan mencakup enterokokus, Candida albicans , dan sejumlah
besar bakteri anaerobik. Sistem urinari dan genital secara anatomis terletak

berdekatan, suatu penyakit yang menginfeksi satu sistem akan mempengaruhi


sistem yang lain khususnya pada laki-laki. Saluran urin bagian atas dan kantong
urine steril dalam keadaan normal. Saluran uretra mengandung mikroorganisme
seperti Streptococcus, Bacteriodes, Mycobacterium, Neisseria dan enterik.
Sebagian besar mikroorganisme yang ditemukan pada urin merupakan
kontaminasi dari flora normal yang terdapat pada kulit. Keberadaan bakteri dalam
urine belum dapat disimpulkan sebagai penyakit saluran urine kecuali jumlah
mikroorganisme di dalam urine melebihi 105 sel/ml.
9) Mata (Konjungtiva) dan Telinga
Mikroorganisme konjungtiva terutama adalah difteroid (Coynebacterium
xerosis), S. epidermidis dan Streptokukus non hemolitik. Neiseria dan basil gram
negatif yang menyerupai spesies Haemophilus (Moraxella) seringkali juga ada.
Flora konjungtiva dalam keadaan normal dikendalikan oleh aliran air mata, yang
mengandung lisozim. Flora liang telinga luar biasanya merupakan gambaran flora
kulit. Dapat dijumpai Streptococcus pneumonia, batang gram negatif termasuk
Pseudomonas

aeruginosa,

Staphylococcus

aureus

dan

kadang-kadang

Mycobacterias aprofit. Telinga bagian tengah dan dalam biasanya steril.


10) Bakteri di Darah dan Jaringan
Pada keadaan normal darah dan jaringan adalah steril. Kadang-kadang karena
manipulasi sederhana seperti mengunyah, menyikat gigi, ekstraksi gigi, flora
komensal dari mulut dapat masuk ke jaringan atau darah. Dalam keadaan normal
mikroorganisme tersebut segera dimusnahkan oleh sistem kekebalan tubuh. Hal
seperti itu dapat terjadi pula dengan flora faring, saluran cerna dan saluran kemih.
Pada keadaan abnormal seperti adanya katup jantung abnormal, atau protesa lain,
bakteremia di atas dapat mengarah pada pembentukan koloni dan infeksi.
D. Virulensi Mikroorganisme
Mikroorganisme

patogen

memiliki

faktor

virulensi

yang

dapat

meningkatkan patogenisitasnya dan memungkinkannya berkolonisasi atau

menginvasi jaringan inang dan merusak fungsi normal tubuh. Virulensi


menggambarkan kemampuan untuk menimbulkan penyakit.
Virulensi mikroorganisme atau potensi toksin mikroorganisme sering
diekspresikan sebagai LD50 (lethal dose50), yaitu dosis letal untuk 50% inang,
dimana jumlah mikroorganisme pada suatu dosis dapat membunuh 50% hewan uji
disebut ID50 (infectious dose 50), yaitu dosis infeksius bagi 50% inang.
Keberadaan mikroorganisme patogen dalam tubuh adalah akibat dari berfungsinya
faktor virulensi mikroorganisme, dosis (jumlah) mikroorganisme, dan faktor
resistensi tubuh inang. Mikroorganisme patogen memperoleh akses memasuki
tubuh inang melalui perlekatan pada permukaan mukosa inang. Perlekatan ini
terjadi antara molekul permukaan patogen yang disebut adhesion atau ligan yang
terikat secara spesifik pada permukaan reseptor komplementer pada sel inang.
Adhesin berlokasi pada glikokaliks mikroorganisme atau pada struktur permukaan
mikroorganisme yang lain seperti pada fimbria.
Bahan glikogaliks yang membentuk kapsul mengelilingi dinding sel
bakteri merupakan properti yang meningkatkan virulensi bakteri. Kandungan
kimiawi pada kapsul mencegah proses fagositosis oleh sel inang. Virulensi
mikroorganisme juga disebabkan oleh produksi enzim ekstraseluler (eksoenzim).
E. Mekanisme Patogenisitas
Mikroorganisme yang secara tetap terdapat pada permukaan tubuh
bersifat komensal. Pertumbuhan pada bagian tubuh tertentu bergantung pada
faktor -faktor biologis seperti suhu, kelembapan dan tidak adanya nutrisi
tertentu serta zat -zat penghambat. Keberadaan flora tersebut tidak mutlak
dibutuhkan untuk kehidupan karena hewan yang dibebaskan (steril) dari
flora tersebut, tetap bisa hidup. Flora yang hidup di bagian tubuh tertentu
pada manusi a mempunyai peran penting dalam mempertahankan kesehatan
dan hidup secara normal. Beberapa anggota flora tetap di saluran pencernaan
mensintesis vitamin K dan penyerapan berbagai zat makanan.
Flora yang menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit dapat men
cegah kolonialisasi oleh bakteri patogen dan mencegah penyakit akibat

gangguan bakteri. Mekanisme gangguan ini tidak jelas. Mungkin melalui


kompetisi pada reseptor atau tempat pengikatan pada sel penjamu, kompetisi
untuk zat makanan, pe nghambatan oleh produk metabolik atau racun,
penghambatan oleh zat antibiotik atau bakteriosin (bacteriocins). Supresi
flora normal akan menimbulkan tempat kosong yang cenderung akan
ditempati oleh mikroorganisme dari lingkungan atau tempat lain pada tubuh.
Beberapa bakteri bersifat oportunis dan bisa menjadi patogen. (Jawetz,
Melnick, dan Adelbergs, Mikrobiologi Kedokteran(Medical Microbiology),
2005: 277-279) Selain itu, diperkirakan bahwa stimulasi antigenik dilepaskan
oleh flora adalah penting untuk perkembangan sistem kekebalan tubuh
normal (pemburumikroba.blogspot.com/2010/09/ flora-normal).
Sebaliknya, flora normal juga dapat menimbulkan penyakit pada
kondisi tertentu. Berbagai organisme ini tidak bisa tembus ( non-invasive)
karena hambatan-hambatan yang diperankan oleh lingkungan. Jika hambatan
dari lingkungan dihilangkan dan masuk le dalam aliran darah atau jaringan,
organisme ini mungkin menjadi patogen.
Streptococcus viridians, bakteri yang tersering ditemukan di saluran nafas
atas, bila masuk ke aliran darah setelah ekstraksi gigi atau tonsilektomi
dapat sampai ke katup jantung yang abnormal dan mengakibatkansubacute
bacterial endocarditis. Bacteroides yang normal terdapat di kolon dapat
menyebabkan peritonitis mengikuti suatu trauma. Spesies Bacteroides
merupakan flora t etap yang paling sering dijumpai di usus besar dan tidak
membahayakan pada tempat tersebut. Tetapi jika masuk ke rongga
peritoneum atau jaringan panggul bersama dengan bakteri lain akibat
trauma, mereka menyebabkan supurasi dan bakterimia. Terdapat banyak
contoh tetapi yang penting adalah flora normal tidak berbahaya dan dapat
bermanfaat bagi tubuh inang pada tempat yang seharusnya atau tidak ada
kelainan yang menyertainya. Mereka dapat menimbulkan penyakit jika
berada pada lokasi yang asing dalam jumlah banyak dan jika terdapat faktorfaktor predisposisi.
F. Interaksi Antara Manusia Dan Flora Normal

E. coli adalah bakteri yang paling terkenal secara teratur diasosiasikan


dengan manusia, sebagai sebuah komponen invariabel saluran pencernaan
manusia. Meskipun E. coli adalah yang paling dipelajari dari semua bakteri dan
kita tahu lokasi yang tepat dan urutan dari 4.288 gen pada kromosom, kita tidak
sepenuhnya memahami hubungan ekologi dengan manusia.
Pada kenyataannya, tidak banyak yang diketahui tentang sifat hubungan
antara manusia dan flora normal mereka, tetapi mereka dianggap sebagai interaksi
dinamis daripada saling asosiasi ketidakpedulian. Baik host dan bakteri berpikir
untuk memperoleh manfaat dari satu sama lain, dan asosiasi, untuk sebagian
besar, mutualistic. flora normal berasal dari host mereka pasokan nutrisi,
lingkungan yang stabil, dan perlindungan dan transportasi. Host memperoleh dari
flora normal tertentu manfaat nutrisi dan pencernaan, stimulasi dari kegiatan
pembangunan dan sistem imun, dan perlindungan melawan kolonisasi dan infeksi
oleh mikroba patogen.
Sementara sebagian besar kegiatan manfaat flora normal tuan rumah
mereka, sebagian dari flora normal adalah parasit (hidup di atas biaya tuan rumah
mereka), dan beberapa bersifat patogen (mampu menghasilkan penyakit).
Penyakit yang dihasilkan oleh flora normal di tuan rumah mereka dapat disebut
penyakit endogen. Kebanyakan endogen bakteri penyakit infeksi oportunistik,
yang berarti bahwa organisme harus diberi kesempatan khusus kelemahan atau
membiarkan-down dalam pertahanan host untuk menginfeksi . Contoh dari infeksi
oportunistik bronkitis kronis pada perokok dimana bakteri flora normal dapat
menyerang paru-paru melemah.
Kadang-kadang hubungan antara anggota flora normal yang inangnya tidak
dapat diuraikan. Seperti hubungan di mana tidak ada jelas manfaat atau
membahayakan organisme baik selama hubungan mereka disebut sebagai
hubungan teman semakan. Banyak flora normal yang tidak dominan dalam habitat
mereka, walaupun selalu hadir dalam jumlah yang rendah, dianggap sebagai
teman semakan bakteri. Namun, jika dugaan hubungan teman semakan
mempelajari secara mendetail, parasit atau karakteristik mutualistic sering
muncul. Jaringan kekhususan Sebagian besar anggota flora bakteri normal lebih
memilih untuk menjajah jaringan tertentu dan bukan yang lain. Ini "kekhususan

jaringan" biasanya disebabkan oleh sifat-sifat baik dari tuan rumah dan bakteri.
Biasanya, bakteri spesifik menjajah jaringan tertentu oleh satu atau lain
mekanisme ini.
1. Tissue tropism
Tissue tropism adalah bakteri preferensi atau kesukaan untuk jaringan
tertentu untuk pertumbuhan. Salah satu penjelasan untuk jaringan tropism adalah
bahwa tuan rumah menyediakan nutrisi penting dan faktor pertumbuhan bakteri,
selain cocok oksigen, pH, dan suhu untuk pertumbuhan. Lactobacillus
acidophilus, informal dikenal sebagai "Doderlein's bacillus" colonizes vagina
karena dihasilkan glikogen yang menyediakan bakteri dengan sumber gula yang
mereka memfermentasi untuk asam laktat.
2. Spesifik kepatuhan
Spesifik kepatuhan Kebanyakan bakteri dapat menjajah suatu jaringan atau
situs tertentu karena mereka dapat mematuhi bahwa situs dalam jaringan atau cara
tertentu yang melibatkan interaksi kimia yang saling melengkapi antara dua
permukaan. Khusus biokimia kepatuhan melibatkan interaksi antara komponen
permukaan bakteri (ligan atau adhesins) dan molekul reseptor sel inang.
Komponen bakteri yang menyediakan molekul adhesins adalah bagian dari kapsul
mereka, fimbriae, atau dinding sel. Reseptor pada sel manusia atau jaringan
molekul glikoprotein biasanya terletak pada host permukaan sel atau jaringan.
Khusus

kepatuhan

melibatkan

interaksi

kimia

yang

saling

melengkapi antara sel inang atau jaringan permukaan dan permukaan


bakteri. Dalam bahasa medis mikrobiologi, bakteri "adhesin" melekat kovalen
ke host "reseptor" sehingga bakteri "dermaga" itu sendiri pada host
permukaan. Adhesins dari sel-sel bakteri adalah komponen kimia kapsul,
dinding sel, pilus atau fimbriae. Host reseptor glikoprotein biasanya terletak
pada membran sel atau jaringan permukaan. Beberapa contoh situs adhesins dan
lampiran khusus digunakan untuk ketaatan pada jaringan manusia dijelaskan
dalam tabel di bawah ini.
3. Biofilm

Biofilm pembentukan. Beberapa bakteri asli mampu membangun biofilm


pada permukaan jaringan, atau mereka mampu menjajah sebuah biofilm dibangun
oleh spesies bakteri lain. Banyak biofilm adalah campuran mikroba, walaupun
salah satu anggota bertanggung jawab untuk menjaga dan biofilm dapat
mendominasi. Biofilm biasanya terjadi ketika salah satu spesies bakteri atase
khusus atau non spesifik ke permukaan, dan kemudian mengeluarkan lendir
karbohidrat (exopolymer) yang imbeds menarik bakteri dan mikroba lain ke
biofilm untuk perlindungan atau keuntungan nutrisi.
Biofilm klasik yang melibatkan komponen flora normal rongga mulut
adalah pembentukan plak gigi pada gigi. Plak adalah biofilm dibangun secara
alami, di mana konsorsium bakteri dapat mencapai ketebalan 300-500 sel pada
permukaan gigi. Ini subjek akumulasi gigi dan jaringan gingiva konsentrasi tinggi
metabolit bakteri, yang mengakibatkan penyakit gigi .
Permukaan kulit itu sendiri terdiri dari beberapa lingkungan yang berbeda.
Bidang seperti aksila (ketiak), perineum (pangkal paha) dan ujung jaring biasanya
menyediakan daerah lembab untuk pertumbuhan bakteri. Ini "hutan tropis" sering
lingkungan pelabuhan terbesar di antara keanekaragaman flora kulit. Khas
organisme meliputi Staphylococcus aureus, Corynebacterium dan beberapa
bakteri Gram-negatif. Sebagian besar permukaan kulit manusia, bagaimanapun,
adalah jauh lebih kering dan ini sebagian besar dihuni oleh Staphylococcus
epidermidis dan Propionobacterium.
Streptococcus mendominasi dalam rongga mulut dan nasofaringeal daerah
tetapi juga dapat menemukan Anaerob lain dan spesiesNeisseria. Banyak potensi
patogen juga dapat ditemukan di nasofaring individu yang sehat, menyediakan
reservoir untuk infeksi lain. Patogen ini termasuk Streptococcus pneumoniae,
Neisseria meningitidisdan Haemophilus influenzae.
Saluran pencernaan adalah lingkungan yang agak memusuhi bagi
mikroorganisme namun sebagian besar flora normal kita mendiami wilayah ini
dari tubuh. Bahkan, usus mungkin mengandung 109 untuk 1011 bakteri per gram
bahan. Sebagian besar (95 - 99,9%) di antaranya Anaerob, diwakili oleh
Bacteroides, Bifidobacterium, streptokokus anaerob dan Clostridium. Organisme
ini menghambat pertumbuhan patogen lain, tetapi beberapa dapat oportunistik

(misalnya C. difficile dapat menghasilkan pseudomembranosa kolitis). Urogenital.


Saluran urogenital biasanya steril dengan pengecualian vagina dan distal 1 cm dari
uretra. Berbagai anggota dari genusLactobaci ll us menonjol dalam vagina.
Organisme ini umumnya lebih rendah pH sekitar 4-5, yang optimal untuk
lactobacilli tetapi penghambatan untuk pertumbuhan bakteri lainnya. Hilangnya
efek perlindungan ini oleh terapi antibiotik dapat menyebabkan infeksi
olehCandida ( "ragi infeksi"). Uretra sebagian besar kulit dapat mengandung
mikroorganisme termasuk staphylococci, streptokokus dan diphtheroid.
Mikroorganisme tidak saja terdapat dan hidup di lingkungan, akan tetapi
juga di tubuh manusia. Tubuh manusia tidaklah steril atau bebas dari
mikroorganisme, begitu manusia dilahirkan ia langsung berhubungan dengan
mikroorganisme. Mikroorganisme yang secara alamiah terdapat di tubuh manusia
disebut flora normal atau mikrobiota.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Patogenesis adalah mekanisme infeksi dan mekanisme perkembangan
penyakit.

Infeksi

merupakan

invasi

inang

oleh

mikroba

yang

memperbanyak dan berasosiasi dengan jaringan inang


2. Bakteri dapat merusak sistem pertahanan inang dimulai dari permukaan
kulit, saluran pencernaan, saluran respirasi, saluran urogenitalia.
Mikroorganisme patogen dapat memasuki tubuh inang melalui berbagai
macam jalan, misalnya melalui membran mukosa, kulit ataupun rute
parental. Banyak bakteri dan virus memiliki akses memasuki tubuh inang
melalui membran mukosa saluran pernapasan, gastrointestinal, saluran
genitourinari, konjungtiva, serta membran penting yang menutupi bola
mata dan kelopak mata.
B. Saran
Bakteri makhluk kecil yang jarang kita sadari keberadaanya. Maka jika
terjangkit salah satu penyakit dari bakteri kita jangan meremehkan gejala awal
yang dialami karena umumnya gejala awalnya sangat biasa. Karena jika
diremehkan bisa saja menjadi akut. Harus mengikuti tahap-tahap pencegahan
yaitu dengan menjaga kebersihan diri.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Jenis dan patogenesis Mikroorganisme penyebab diare.
Anonim2. 2010. Mikroorganisme patogen. Tersedia : http://www.scribd.com.
(diakses tanggal 16 Maret 2015)
Pelczar Jr, Michael J. 1988. Dasar-dasar mikrobiologi jilid 2 terjemahan. Jakarta :
Universitas Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai