Anda di halaman 1dari 2

Metode analisis yang digunakan untuk penentuan kuantitatif kadar obat dalam suatu

sampel biologis merupakan hal yang sangat penting dalamevaluasi dan interpretasi dalam
farmakokinetika. Berbagai sampel biologis dapat di ambil untuk penentuan kadar dalam tubuh
untuk pengertian farmakokinetika sebagai contoh darah, urine, feses, saliva, jaringan tubuh,
cairan blister, cairan spinal, dan cairan sinovial. Penetuan kadar suatu obat dalam sampel biologis
adalah hal yang kompleks disebabkan sampel biologis pada umumnya merupakan suatu matriks
yang kompleks. Darah merupakan sampel biologis yang paling umum di gunakan dengan
mengandung berbagai komponen selular seperti sel darah merah, sel darah putih, platelet, dan
berbagai protein seperti albumin dan globulin. Pada umumnya bukan darah utuh tapi plasma
ataupun serum yang digunakan untuk penetuan kadar obat. Serum diperoleh dengan membiarkan
darah untuk menggumpal dan supernatan yang dikumpulkan setelah sentrifugasi adalah serum
sedangkan plasma diperoleh dengan penambahan anti koagulan pada darah yang diambil dan
supernatan yang diperoleh setelah sentrifugasi merupakan plasma. Jadi plasma dan serum
dibedakan dari protein yang dikandungnya. Berbagai prosedur untuk mendenaturasi protein
dapat digunakan sebagai perlakuan awal sampel biologis yang diperoleh dari suatu penelitian
farmakokinetika, meliputi penggunaan senyawa yang disebut sebagai zat pengendap protein
seperti asam tungstat, ammonium sulfat, asam triokoroasetat (tricloro acticacid, TCA ), asam
perklorat, menthanol, dan asetonitril (Siswandono, 1998).
Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan tubuh), metode yang digunakan harus
tepat, dan dalam pengerjaannya diperlukan suatu ketelitian yang cukup tinggi agar diperoleh
hasil yang akurat. Sehingga nantinya dapat menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis ini,
kesalahan hasil tidak boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang digunakan dalam
analisis) (Ritschel, 1976). Cepat, simpel, dan sensitive telah membuat spektrofotometer UV-VIS
menjadi suatu metode analisis farmasetika yang sangat popular untuk pengukuran secara
kuantitatif obat dan metabolit dalam sampel biologi. Salah satu alasan penting atas
kepopulerannya g/ml. Identifikasi kualitatif karena sensitivitas dari metode ini 1-10 dari obat
atau metabolit menggunakan spektrofotometri UV-VIS berdasarkan max). Perhitungan pada
panjang gelombang maksimum yang diabsorpsi ( max. Padakonsentrasi obat atau metabolit
menggunakan hukum Beer pada absorpsi yang maksimum, sensitivitas optimum akan didapat.

Karena perubahan absorbansi minimal untuk sedikit perubahan panjang gelombang, error
diminimalkan. Hasilnya akurasi dan presisi yang baik didapatkan (Smith,1981).