Anda di halaman 1dari 11

5.

1 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan


Pada praktikum uji kandungan formalin sampel yang digunakan adalah tahu, lontong,
ikan asin, cilok, mie basah dan bakso. Pertama sampel tersebut disiapkan sebanyak 10 gram.
Kemudian diberikan dua perlakuan yang berbeda pada sampel tersebut yaitu dilakukan
perendaman dan tanpa perendaman. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
perendaman terhadap kandungan formalin dalam sampel. Kemudian sampel dicincang dan
dihaluskan supaya pelarutan zat-zat yang terdapat dalam sampel menjadi lebih mudah.
Selanjutnya ditambahkan 20 ml air mendidih. Hal ini bertujuan untuk mempermudah
pelarutan zat-zat yang terdapat di dalam sampel karena pengaruh suhu tinggi yang dapat
mepercepat laju reaksi.
Setelah itu ditunggu sampai campuran tersebut dingin supaya kandungan dalam sampel
benar-benar bereaksi dengan air. Selanjutnya diambil filtratnya kemudian ditetesi dengan 4
tetes reagen A dan reagen B. Reagen ini berfungsi sebagai peraksi agar dapat terjadi
perubahan warna pada larutan sampel untuk menunjukkan ada atau tidaknya kandungan
formalin pada sampel. Selanjutnya, dilakukan pengocokan menggunakan vortex untuk
menghomogenkan larutan. kemudian ditunggu 5 sampai 10 menit agar reaksi yang terjadi
dalam larutan lebih optimal. Terakhir adalah dilakukan pengamatan terhadap perubahan
warna pada larutan tersebut. Apabila larutan berubah menjadi ungu maka dapat disimpulkan
bahwa sampel tersebut positif mengandung formalin.
5.2 Analisis Data
Berdasarkan data pengamatan, dapat diketahui bahwa pada perlakuan tanpa perendaman,
sampel yang hasil ujinya terbukti positif mengandung formalin adalah ikan asin, mie basah
dan bakso. Setelah dilakukan pengujian dan pengamatan warna, sampel ikan asin memiliki
warna yang paling ungu, kemudian bakso agak ungu dan mie basah sedikit ungu. Hal ini
menunjukkan bahwa pada sampel ikan asin memiliki kandungan formalin yang paling
banyak, karena semakin berwarna ungu maka kandungan formalin pada sampel tersebut
semakin banyak.
Sedangkan pada perlakuan perendaman dengan air panas menunjukkan bahwa sampel
yang positif mengandung formalin adalah ikan asin dan bakso. Setelah dilakukan pengujian
sampel ikan asin memiliki warna yang paling ungu dan pada sampel bakso agak ungu. Hal ini
menunjukkan bahwa sampel ikan asin memiliki kandungan formalin yang paling banyak,
karena semakin berwarna ungu maka kandungan formalin dalam sampel tersebut semakin
banyak. Pada perlakuan perendaman dengan air panas, sampel mie basah tidak terdeteksi

kandungan formalinnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses perendaman menggunakan air
panas dapat mempengaruhi kandungan formalin, yaitu dapat menurunkan kandungan
formalinnya.

5.1 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan


Pada pengujian kandungan formalin, yang pertama dilakukan adalah menyiapkan
sampel sebanyak 10 gram. Sampel yang digunakan

dalam praktikum ini adalah tahu,

lontong, ikan asin, cilok, mie basah dan bakso. Sampel tersebut kemudian dilakukan dua
perlakuan yang berbeda yaitu dilakukan perendaman dan tanpa perendaman. Perbedaan
perlakuan ini untuk mengetahui pengaruh perendaman terhadap kandungan formalin dalam
sampel. Kemudian sampel dicincang dan dihaluskan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah
pelarutan zat-zat yang terdapat dalam sampel. Selanjutnya ditambahkan 20 ml air mendidih
yang bertujuan untuk mempermudah pelarutan zat-zat yang terdapat di dalam sampel karena
pengaruh suhu tinggi yang dapat mepercepat laju reaksi. Kemudian tunggu sampai campuran
tersebut dingin agar kandungan dalam sampel benar-benar bereaksi dengan air tersebut.
Setelah itu, diambil filtratnya dan ditetesi dengan 4 tetes reagen A dan reagen B sebagai
peraksi agar dapat terjadi perubahan warna pada larutan sampel untuk menunjukkan ada atau
tidaknya formalin dalam bahan pangan tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengocokan
menggunakan vortex untuk menghomogenkan larutan. Setelah itu ditunggu antara 5 sampai
10 menit agar reaksi dalam larutan optimal. Tahap terakhir adalah dilakukan pengamatan
terhadap perubahan warna pada larutan tersebut. Apabila larutan berubah menjadi ungu maka
larutan positif mengandung formalin. Kemudian dilakukan pencatatan terhadap hasilnya.
5.2 Analisis Data
Penggunaan formalin pada bahan pangan berbahaya karena. Oleh sebab itu, sangat
dilarang menggunakan formalin sebagai bahan campuran dan pengawet makanan. Dapat kita
ketahui bahwa formalin merupakan senyawa kimia yang biasanya digunakan sebagai
antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai keperluan jenis industri, pengawet produk
kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa dan masih banyak lainnya. Namun,
penggunaan formalin oleh sebagian orang disalah gunakan dengan menggunakannya pada
bahan pangan untuk mengawetkan makanan.
Pengujian kandungan formalin dilakukan terhadap beberapa sampel yaitu tahu, lontong,
cilok, bakso, mie basah, dan ikan asin dengan dua perlakuan yang berbeda yaitu direndam
dan tanpa perendaman. Analisis yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui adanya formalin

dalam makanan dan untuk mengetahui pengaruh tanpa perendaman dan perendaman dengan
air mendidih.
Pada perlakuan tanpa perendaman dengan air mendidih, didapatkan sampel ikan asin,
mie basah dan bakso mengandung formalin karena hasil uji menunjukkan positif (+). Pada
sampel ikan asin menunjukkan warna yang paling ungu. Kedua yaitu bakso dan yang terkecil
yaitu mie basah. Perbedaan ini mungkin dikarenakan konsentrasi formalin yang terdapat pada
sampel tersebut berbeda. Semakin pekat warna ungu pada sampel maka menunjukkan bahwa
semakin banyak pula konsentrasi formalin yang terapat pada sampel. Menurut Yuliarti
(2007), pada ikan asin dalam industri perikanan, formalin digunakan menghilangkan bakteri
yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam
pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun
demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah
sehingga terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat
penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan sampel ikan untuk keperluan
penelitian dan identifikasi. Namun para produsen mengunakannya secara sembarangan.
Sedangkan sampel tahu, lontong, dan cilok yang dianalisis ternyata tidak menunjukkan hasil
uji yang positif (+) dan tidak berwarna ungu. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahwa sampel
tahu, lontong, dan cilok tersebut tidak mengandung formalin. Namun, kemungkinan sampel
tahu, lontong, dan cilok yang dianalisis mengandung formalin, akan tetapi dalam konsentrasi
yang sangat sedikit, sehingga saat dianalisis kualitatif tidak menunjukkan hasil positif.
Pada perlakuan dengan perendaman pada air mendidih, menunjukan bahwa sampel ikan
asin dan bakso masih mengandung formalin karena hasil uji menunjukkan positif (+). Pada
sampel ikan asin menunjukkan warna ungu yang lebih pekat dari pada sampel bakso.
Perbedaan ini mungkin dikarenakan konsentrasi formalin yang terdapat pada sampel tersebut
berbeda. Semakin pekat warna ungu pada sampel maka menunjukkan bahwa semakin banyak
pula konsentrasi formalin yang terapat pada sampel. Sedangkan sampel tahu, lontong, cilok,
dan mie basah tidak mengandung formalin. Hal ini didukung dengan hasil uji yang
menyatakan negatif (-) dan tidak berwarna ungu. Hal ini, mungkin dikarenakan adanya
perlakuan dengan perendaman pada air mendidih. Perendaman dengan air mendidih dapat
menurunkan kadar formalin yang terdapat pada sampel. Hal ini juga dapat diketahui bahwa
kandungan formalin yang sebelumnya ada pada sampel mie basah dan sekarang tidak ada
menunjukkan bahwa kadarnya sedikit.

Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna dengan bau menusuk,
uapnya merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan dan rasa membakar.
Bobot tiap mililiter adalah 1,08 gram. Dapat bercampur dengan air dan alkohol,
tetapi tidak bercampur dengan kloroform dan eter (Norman and Waddington,
1983). Didalam formalin mengandung sekitar 37% formaldehid dalam air,
biasanya ditambah methanol hingga 15% sebagai pengawet. Formalin dikenal
sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam
industri. Nama lain dari formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin,
Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform,
Superlysoform, Formaldehyde, dan Formalith (Astawan, Made, 2006).

A. Uji Formalin pada Bakso dan Siomay


Hasil dari praktikum uji formalin pada bakso dan siomay dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil uji formalin pada bakso dan siomay
No.
Sampel
Perlakuan Uji
Reaksi
1.
Bakso
Ditambahkan
Terjadi
larutan formaldehid perubahan
warna dari
larutan
formaldehi
d, yang
sebelmunya
berwarna
ungu
setelah
beberapa
saat
berubah
menjadi
bening.
2.
Siomay
Ditambahkan
Terjadi
larutan formaldehid perubahan
warna dari
larutan
formaldehi
d, yang
sebelmunya
berwarna
ungu
setelah
beberapa
saat
berubah
menjadi
bening.
Keterangan : + = positif mengandung formalin

Hasil
+

Pada uji formalin sampel Bakso dan Somay dinyatakan positif atau mengandung
formalin karena melalui identifikasi formalin dengan cara memberi larutan formalin pada
sampel bakso atau siomay, yang sebelumnya larutan formalin berwarna ungu setelah
beberapa saat dilakukan tindakan tersebut larutan tersebut berubah menjadi bening hal
tersebut menunjukkan bahwa bakso dan siomay tersebut mengandung formalin.
Satyasembiring (2007) mengemukakan bahwa Adanya formalin atau tidak dalam makanan
bisa dengan tes kalium permanganate (KMnO4, kadang disebut PK, singkatan Permanganas
Kalikus, warna serbuk ungu metalik kehitaman dapat dibeli diapotik). Uji ini cukup
sederhana. Dengan melarutkan di air serbuk kalium permanganat hingga berwarna pink
keunguan. Jika kita taruh potongan bahan makanan (mis: tahu atau makanan lainnya)
kedalamnya, jika warna pink keunguan hilang (berkurang), ada kemungkinan ada komponen
formalin.
Formalin memiliki efek yang berbahaya bagi tubuh bila sampai terkonsumsi oleh
tubuh. Lee, et all (1978) mengemukakan bahwa efek jangka pendek dari mengkonsumsi
formalin antara lain terjadinya iritas pada saluran pernafasan, muntah-muntah, pusing, dan
rasa terbakar pada tenggorokan. Efek jangka panjangnya adalah terjadinya kerusakan
organ penting seperti hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan
ginjal.
B. Uji Boraks pada Bakso dan Siomay
Hasil dari praktikum uji borak pada bakso dan siomay dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil uji boraks pada bakso dan siomay
No
Sampel
Perlakuan Uji
Reaksi
.
Ditambahkan
larutan etanol
Sampel yang
kemudian sampel
dibakar
1.
Bakso
dibakar
menimbulka
menggunakan korek
n nyala api
api
Ditambahkan
larutan etanol
Sampel yang
kemudian sampel
dibakar
2.
Siomay
dibakar
menimbulka
menggunakan korek
n nyala api
api
Keterangan : + = positif mengandung boraks

Hasil

Pada uji boraks, sampel bakso dan somay juga dinyatakan positif atau mengandung
boraks karena melalui indentifikasi boraks dengan cara memberikan larutan etanol pada
bakso/somay kemudian dibakar dengan menggunakan korek api, bakso/somay tersebut
menimbulkan nyala api yang berwarna kehijaun, hal tersebut membuktikan bahwa
bakso/somay tersebut mengandung boraks. Yellashakti (2008) mengemukakan bahwa uji
nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan
terdapat boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar
uapnya, kemudian warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Tentu
sebelumnya telah diketahui bahwa serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api
berwarna hijau. Jika sampel yang dibakan menghsilkan warna nyala hijau maka sampel
dinyatakan positif mengandung boraks.
Penggunaan boraks pada produk pangan sebenarnya sangat tidak dianjurkan karena
dapat berakibat fatal pada kesehatan tubuh yang mengonsumsinya. Meskipun boraks
dilarang penggunaannya tetapi di kalangan industri kecil maupun besar tidak mempedulikan
hal tersebut. Vepriati (2007) mengemukakan bahwa meskipun bukan pengawet makanan,
boraks sering pula digunakan sebagai pengawet makanan. Boraks sering disalahgunakan
untuk mengawetkan berbagai makanan seperti bakso, mie basah, pisang molen, siomay,
lontong, ketupat dan pangsit. Selain bertujuan untuk mengawetkan, boraks juga dapat
membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan memperbaiki penampilan makanan.
A. Uji Boraks dan Formalin Pada Bakso
1. Hasil
No
.
1.
2.

Sampel

Perlakuan

Reaksi

Hasil

Bakso Kemaraya

Ditambahkan Etanol

Bakso Kemaraya

Ditambahkan KMNO4

Di
bakar
dan
menimbulkan nyala
api
Terjadi
perubahan
warna
dari
ungu
menjadi bening

2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, sampel bakso menunjukkan hasil yang
positive mengandung boraks dan formalin. Hal ini disebabkan karena terjadinya reaksi saat
sampel ditetesi Etanol dan KMNO4. Terjadinya perubahan warna yang terjadi pada sampel
yang membuktikan bahwa sampel tersebut mengandung bahan pengawet walaupun dengan
kadar yang rendah.

Penggunaan boraks dalam dosis yang rendah tidak akan menyebabkan kerusakan
namun akan terakumulasi di otak, hati, lemak dan ginjal. Jika terakumulasi terus akan
menyebabkan mal fungsi dari organ-organ tersebut sehingga membahayakan tubuh.
Penggunaan boraks dalam dosis yang banyak mengakibatkan penurunan nafsu makan,
gangguan pencernaan, demam, anuria. Dan dalam jangka panjang akan menyebabkan radang
kulit merangsang SPP, apatis, depresi, slanosis, pingsan, kebodohan dan karsinogen. Bahkan
bisa menimbulkan kematian. Oleh sebab itu berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No.
722/Menkes/Per/IX/88 dilarang menggunakan boraks sebagai bahan campuran dan pengawet
makanan.
Boraks merupakan bahan beracun dan bahan berbahaya bagi manusia, karena bisa
menimbulkan efek racun, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Yang
membahayakan, boraks bisa diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati,
otak, usus atau testis sehingga dosisnya dalam tubuh menjadi tinggi. Bila dikonsumsi
menahun bisa menyebabkan kanker. Boraks juga sering disalahgunakan dalam pangan.
Biasanya ditambahkan pada kerupuk, bakso, lontong dan lain-lain. Masyarakat awam
mengenal boraks dengan nama Bleng atau Cetitet
Boraks (Na2B4O7) dengan nama kimia natrium tetra bonat, natrium biborat, natrium
piroborat merupakan senyawa kimia yang berbentuk kristal dan berwarna putih dan jika
dilarutkan dalam air menjadi natrium hidroksida serta asam boraks. Natrium hidroksida dan
asam boraks masing-masing bersifat antiseptik, sehingga banyak digunakan oleh industri
farmasi sebagai ramuan obat misalnya : salep, bedak, larutan kompres, dan obat pencuci
mata. Penggunaan boraks di industri farmasi ini sudah sangat dikenal. Hal ini dikarenakan
banyaknya boraks yang dijual di pasaran dan harganya yang sangat murah. Selain itu boraks
bagi industri farmasi memberikan untung yang besar. Boraks pada dasarnya merupakan
bahan untuk pembuat solder, bahan pembersih, pengawet kayu, pengontrol kecoa, dan bahan
pembuatan kaca. Dengan sifat fisik dan sifat kimia yang dimiliki, boraks digunakan sebagai
bahan campuran untuk pembuatan benda-benda tersebut. Boraks sedikit larut dalam air,
namun bisa bermanfaat jika sudah dilarutkan dalam air.
Beberapa survei menunjukkan, alasan para produsen menggunakan bahan pengawet
seperti formalin dan boraks karena daya awet dan mutu bakso yang dihasilkan menjadi lebih
bagus, serta murah harganya tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan. Tuntutan itu
melahirkan konsekuensi yang bisa saja membahayakan, karena bahan kimia semakin lazim
digunakan untuk mengawetkan makanan termasuk juga formalin yang dikenal menjadi bahan
pengawet mayat. Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen yang cenderung untuk

membeli makanan yang harganya lebih murah, tanpa memperhatikan kualitas makanan.
Dengan demikian, penggunaan boraks dan formalin pada makanan seperti mie, bakso,
kerupuk dan makanan lainnya dianggap suatu hal yang biasa. Sulitnya membedakan makanan
seperti bakso biasa dan bakso yang dibuat dengan penambahan formalin dan boraks juga
menjadi salah satu faktor pendorong perilaku konsumen itu sendiri.
Bakso menjadi salah satu jajanan yang menjadi favorit bagi banyak orang Indonesia.
Sehingga tidak susah untuk mencari jajanan ini. Mulai dari warung di sekolahan hingga
perkantoran, bakso menjadi salah satu menu favorit. Namun sayangnya, masih banyak
produsen bakso yang tidak memperhatikan sisi kesehatan konsumen. Sebagai konsumen kita
perlu waspada dengan memperhatikan ciri-ciri bakso yang memakai zat berbahaya berikut
ini:
1. Bakso mengandung Boraks memiliki struktur yang kenyal dan lebih keras
2. Bakso mengandung boraks pasti memiliki daya tahan lebih lama
3. Mampu bertahan sampai lima hari.
4. Teksturnya sangat kental, warna tidak kecokelatan seperti penggunaan daging namun lebih
cenderung keputihan.
5. Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul.
6. Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul.
7. Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola.
Pedagang makanan banyak yang memanfaatkan boraks pada makanan yang dijualnya
agar makanan tahan lama dan tidak mudah busuk apabila pada hari pertama penjualan tidak
habis terjual, maka dapat dijual lagi di hari berikutnya. Mereka ingin memperoleh
keuntungan dari makanan yang dijual tanpa mendapatkan kerugian yang besar. Selain faktor
pedagangnya, konsumen yang membeli makanan pun lebih cenderung memilih makanan
yang murah dan banyak tanpa memperhatikan kandungan gizi yang terdapat pada makanan
tersebut. Sehingga walaupun makanan tersebut mengandung boraks, jika harganya lebih
murah dan rasanya lebih enak tentu saja masyarakat lebih memilihnya dibandingkan dengan
makanan-makanan yang sehat dan bebas dari boraks namun harganya mahal dan tidak awet.
Selain itu tingkat pengetahuan masyarakat mengenai bahan pengawet dan zat aditif
pada makanan sangat rendah sehingga mereka tidak memperhatikan makanan yang
dikonsumsinya dan bahaya apa yang bisa ditimbulkannya. Terkadang nilai gizi yang
terkandung pada makanan yang dikonsumsi merekapun tidak dipedulikan. Mereka kurang
menyadari pentingnya menjaga kesehatan yang salah satu caranya adalah dengan

memperhatikan dan menghindari konsumsi terhadap makanan-makanan yang mengandung


zat pengawet berbahaya dan mengandung zat-zat aditif yang beracun dan berlebih.
B.
1.

Uji Boraks dan Formalin Pada Somai


Hasil
No
.

2.

Sampel

Perlakuan

Reaksi

Hasil

1.

Siomay Kampus

Ditambahkan Etanol

2.

Siomay Kampus

Ditambahkan KMNO4

Di
bakar
dan
menimbulkan nyala
api
Terjadi
perubahan
warna dari ungu
menjadi bening

Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, sampel siomay menunjukkan hasil yang
positive memgandung boraks dan formalin. Dikarenakan setelah ditetesi Etanol maupun
KMNO4 terjadi reaksi yang menandakan sampel tersebut mengandung zat pengawet yang
apabila dikonsumsi seraca terus - menerus akan mengakibatkan kerusakan hati dan organ
organ lainnya bahkan bisa mengakibatkan kematian.
Pembuktian kandungan boraks pada siomay dilakukan dengan uji nyala. Uji nyala
adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat
boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar uapnya, kemudian
warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Tentu sebelumnya telah diketahui
bahwa serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. Jika sampel
yang dibakan menghsilkan warna nyala hijau maka sampel dinyatakan positif mengandung
boraks.
Hasil survei dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan, sejumlah produk pangan
menggunakan formalin sebagai pengawet. Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan
pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh
manusia akan menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan
kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ tubuh lainnya, serta gejala lainnya
Departemen Kesehatan RI tahun 2006 telah memaparkan tertang bahaya utama
formalin yang sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit, dan tertelan. Akibat yang
ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi,
dan bahaya kanker pada manusia.

Penggunaan formalin untuk bahan pangan dilarang karena tidak sesuai dengan
Undang Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 dan PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang
keamanan, mutu dan Gizi pangan. Sedangkan tatacara perniagaannya diatur dengan
keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MMP/Kep/7/2000.
Formalin dalam bahan pangan tidak dapat dihilangkan dengan mencuci dan
merendam produk makanan tersebut dengan air panas bersuhu 800 C selama lima hingga
sepuluh menit. Meski terjadi penurunan kadar, namun masih terdapat kandungan formalin.
Kandungan boraks atau formalin pada makanan memang sulit untuk dideteksi. Secara
akurat, ia hanya bisa terdeteksi di laboratorium melalui uji boraks dan uji formalin dengan
menggunakan bahan kimia lainnya. Namun makanan yang proses pembuatannya dengan zatzat kimia berbahaya, kini sudah beredar luas di pasaran dan sangat mudah didapat.
Mengonsumsi bahan pangan berformalin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Jika kandung formali dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua
zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang
menyebabkan keracunan pada tubuh.
Pada prinsipnya, senyawa formalin yang biasanya digunakan sebagai bahan pengawet
mayat dapat bereaksi dengan asam amino yang menyebabkan protein terdenaturasi sehingga
formalin akan bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pernafasan dan saluran
pencernaan. Dari segi fisiknya, uap formalin yang terkontak secara langsung akan
mengakibatkan iritasi mata, hidung, esophagus dan saluran pernafasan. Dalam konsentrasi
yang tinggi akan mengakibatkan krjang kejang di sekitar pangkal tenggorokkan. Yang
menjadi masalah adalah kandungan pengawet formalin akan bereaksi dengan cepat dalam
saluran dan organ pencernaan apabila kondisi perut dalam keadaan kosong. Selain itu,
pemakaian formalin dalam makanan dapat menyebabkan keracunan pada organ fungsional
tubuh manusia. Hal tersebut ditandai dengan gejala sukar menela, nafsu makan berkurang,
mual sebagai reaksi penolakan dari lambung, sakit perut yang akut sebagai reaksi penolakan
dari hati, lambung dan usus besar, diare dan pada akhirnya disertai dengan muntah muntah.
Pada tingkat yang parah akan mengakibatkan depresi pada susunan syaraf atau gangguan
peredaran darah.
Berdasarkan sifatnya yang karsinogenik, jika konsentrasi formalin tinggi dalam tubuh,
maka akan bereaksi secara kimia dengan hampir seluruh sel penyusun tubuh sehingga
menyebabkan kerusakna sel dan bahkan mutasi sel yang memicu berkembangnya kanker,
setelah terakumulasi dalam waktu yang relative lama dalam tubuh. Selain itu, kandungan
formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat

karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi


sel/jaringan).