Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Potensi sumberdaya perikanan disuatu perairan selalu dikaitkan dengan
produksi, hasil tangkapan per unit usaha dalam kegiatan perikanan tangkap.
Menurut Dirjen Perikanan Tangkap (2003) perikanan tangkap adalah kegiatan
ekonomi dalam bidang penangkapan atau pengumpulan hewan atau tanaman air
yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas. Indonesia sebagai Negara
kepulauan memiliki zona maritim yang luas, yaitu 5,8 juta km2 yang tediri atas
perairan kepulauan 2,3 juta km2, laut territorial 0,8 juta km2 dan perairan Zona
Ekonomi Ekslusif 2,7 juta km2. Indonesia memiliki potensi perikanan tangkap
sebesar 6,4 juta ton per tahun. Baru termanfaatkan sebesar 63,5% atau sebesar 4,1
juta ton pertahun. Tingkat pemanfaatan (exploitation rate) terlihat masih jauh dari
potensi lestarinya (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2009). Salah satu bagian
dari pemanfaatan sumberdaya perikanan yaitu melalui kegiatan penangkapan. Gafa
dan subeni (1982) menyataan bahwa perikanan tangkap pada dasarnya adalah
memanfaatkan stok hewan liar yang menghuni suatu perairan yang sifatnya
berburu. Berdasarkan data laporan tahunan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat
menunjukan adanya penurunan total seluruh jenis ikan hasi tangkapan mencapai
312.664 ton. Sedangkan pada tahun 2010 hasil tangkapan mencapai 39.223,2 ton
(Dinas Perikanan Jawa Barat, 2010).
Sumberdaya perikanan tersedia melimpah dan mempunyai kemampuan
untuk pulih kembali (renewable resources), namun tanpa adanya pengawasan
terhadap usaha penangkapan yang berlangsung secara terus menerus, dapat
memperbesar kemungkinan terjadinya over fishing dan penurunan hasil tangkapan
ikan di suatu perairan atau bahkan di beberapa daerah penangkapan ikan (Naamin
dan Hardjamulia, 1990). Sumberdaya ikan merupakan sumberdaya milik bersama
(common resources) dan bersifat akses terbuka (open acces), sehingga dalam
pengelolaannya tidak dapat dimiliki secara perseorangan dan semua lapisan
masyarakat berhak memanfaatkannya. Hal ini dapat menimbulkan berbagai macam
persaingan juga akan memicu terjadinya eksploitasi sumberdaya ikan secara besar-

besarab tidak terkontrol sehingga akan menimbulkan kondisi tangkap lebih secara
ekonomi (economic overfishing) (fauzi, 2004).
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui jenis alat tangkap ikan
yang bisa dipergunakan dengan baik serta mendapatkan hasil tangkapan yang
maksimal namun tidak merusak ekosistem perairan tersebut. Dalam praktikum ini
jenis alat tangkap yang digunakan yaitu bagan tancap.
1.3 Waktu dan tempat
Praktikum Metode Penangkapan ikan dilaksanakan sebanyak dua sesi dalam
satu hari. Yaitu sesi pertama pada hari jumat tanggal 22 Mei 2015 pukul 09.00-11.00
sedangkan sesi kedua dilakukan pada pukul 19.00-20.00. Praktikum ini
dilaksanakan di Laboratorium Alat dan Teknik Penangkapan Ikan Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bagan Tancap
2.1.1 Definisi Bagan Tancap
Menurut Subani (1972) dalam Manggabarani (2011), bagan
tancap adalah alat penangkap ikan terdiri dari susunan bambu
berbentuk persegi empat yang ditancapkan dengan konstruksi tetap
sehingga berdiri kokoh di atas perairan dan pada bagian tengah
bangunan dipasang jaring yang berfungsi sebagai alat untuk
menangkap ikan, dioperasikan dengan cara diangkat. Alat tangkap ini
pertama kali diperkenalkan olah nelayan Bugis Makasar pada tahun
1950_an.

Berdasarkan

cara

pengoprasiannya,

bagan

tancap

dikelompokkan kedalam jaring angkat (Lift net).


Bagan tancap merupakan rangkaian atau susunan bambu
berbentuk persegi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh
diatas perairan, dimana pada tengah dari bangunan tersebut
dipasang jaring. Bagan tancap ditancapkan ke dasar perairan, yang
berarti kedalaman laut tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat
terbatas yaitu pada perairan dangkal (Sudirman dan Mallawa, 2004).
Menurut Sudirman dan Natsir (2011) dalam Susaniati, et al
(2013), bagan tancap merupakan alat tangkap pasif yang banyak
dioperasikan nelayan di sepanjang pesisir pantai di Indonesia,
dimana dalam pengoperasiannya bagan tancap menggunakan alat
bantu berupa cahaya lampu. Bagan tancap banyak digunakan
nelayan pesisir Karena biaya operasional yang relatif rendah dan
pengoperasiannya yang cukup mudah.
2.1.2 Metode Pengoperasian

Proses penangkapan pada bagan tancap sangat sederhana.


Ketika malam mulai gelap, jaring mulai diturunkan. Seiring dengan
penurunan jaring, lampu penarik perhatian ikan mulai dinyalakan.
Selang waktu 2-3 jam, jaring ditarik dengan menggunakan roller.
Waktu yang dibutuhkan untuk penarikan hanya 10 menit. Setelah itu
ikan diangkat ke atas bagan. Selanjutnya jaring kembali diturunkan
untuk menunggu operasi selanjutnya. Dalam semalam pengangkatan
jaring dilakukan 4-5 kali (Sudirman dan Natsir, 2011).
Bagan dioperasikan pada saat bulan gelap. Saat nelayan
sampai dibagan pada hari mulai gelap, yang pertama dilakukan
adalah menurunkan jarring dan memasang lampu. Setelah beberapa
jam kemudian atau pada saat ikan yang terkumpul dianggap cukup,
barulah dimulai pengangkatan jarring. Pengangkatan jarring dilakukan
dengan alat bantu bernama roller yang diputar untuk menggulung
jarring

keatas.

Setelah

jarring

terangkat

barulah

dilakukan

pengambilan hasil yang telah didapat dengan menggunakan skoop


net. Dalam satu malam, operasi penangkapan bisa dilakukan sampai
3 kali, tergantung umur bulan ( Sudirman dan Mallawa, 2004).
2.1.3 Konstruksi Bagan Tancap
Dalam Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (2013), bagan
tancap merupakan salah satu alat penangkapan ikan yang banyak
digunakan oleh nelayan di perairan Sungsang, Sumsel.

Gambar 1. Konstruksi Bagan Tancap


Sumber : ledhyane.lecture.ub.ac.id/files. 2013
Bagan tancap memiliki kedudukan yang tidak dapat dipindah -pindah
dan sekali dipasang (ditanam) berlaku untuk selama musim penangkapan.
Rumah

bagan

tancap

ini

berupa

anjang-anjang

berbentuk

piramid

terpancung, berukuran 10 x 10 m pada bagian bawah dan 9,5 x 9,5 m pada


bagian atas. Bagian atas berupa plataran (flat form), dimana terdapat
gulungan (roller) dan tempat nelayan melakukan kegiatan penangkapan. Ciri
khas penangkapan dengan bagan ialah menggunakan lampu (light fishing).
Lampu yang digunakan adalah petromaks (kerosene pressure lamp)
berkekuatan antara 200 300 lilin. ( Journal of Fisheries Resources
Utilization Management and Technology. 2014)
Bagan tancap merupakan bangunan yang ditancapkan di peraian
yang terdiri dari rumah bagan, pelataran bagan, dan tiang pancang. Biasanya
bangunan bagan berukuran 9 x 9 meter hingga 12 x 12 meter dan tinggi rata
rata 12 meter dari permukaan air laut (Fauziyah et al., 2012)

Gambar 2 Konstruksi Bagan Tancap


5

Sumber : Bagan Tancap Ikan di perairan Kepulauan Seribu. 2014


Merdeka.com
Atau merupakan rangkaian/susunan bambu berbentuk persegi empat
yang ditancapkan di dasar perairan sehingga berdiri kokoh di atas perairan,
dimana pada tengah dari bangunan tersebut dipasang jaring. Bagan tancap
bersifat pasif dan pengoperasiannya menggunakan cahaya lampu untuk
mengumpulkan ikan serta dilengkapi dengan pemberat dan roller pengangkat
jaring (Silitonga, dkk. 2014)
2.1.4 Hasil Tangkap Bagan Tancap
Dalam Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia (2013), target
tangkapan utama bagan tancap adalah ikan teri (Stolephorus sp)
sedangkan cumi cumi, petek, dan ikan pelagis kecil lainnya
merupakan hasil tangkapan sampingan (by catch).

Gambar 3 Ikan Teri. Sumber : google image.2015

Gambar 4 cumi cumi


Sumber : google image. 2015
Berdasarkan

Gambar 5 ikan petek.


penelitian

Gustaman

et.al

(2012),

hasil

tangkapan bagan tancap diperairan Sunsang pada bulan Agustus


2010 didominasi 6 spesies yakni ikan teri 56,6% , petek 1,9% , cumi
cumi 12,5% , udang pepe 18,4% , japuh 2,1%, permato 8,08%, dan
sisanya adalah ikan lainnya. Ditunjang hasil penelitian Fauziyah et. al
(2012) bahwa hasil tangkapan bagan tancap pada bulan Mei 2012
didominasi 3 spesies dengan komposisi yaitu ikan teri 72%, cumi
cumi 7%, dan petek 21%. Sehingga penelitian ini dalam Jurnal
Penelitian Perikanan Indonesia (2013) analisis hasil tangkapan ikan
adalah teri (spesies target), cumi, petek dan hasil tangkapan total.
Hasil tangkapan dari bagan tancap adalah sasaran utamanya
adalah ikan pelagis kecil dan ikan-ikan yang mempunyai sifat
fototaksis positif yaitu ikan teri (Stolephorus spp), dan avertebrata

yaitu cumi-cumi (Loligo spp). Namun tidak jarang bagan tancap juga
sering menangkap hasil sampingan seperti layur (Trichulus savala),
tambang (Sardinella fimriata), pepetek (Leiognathus sp), kembung
(Rastrelliger spp), layang (Decapterus spp), dan lain-lain (Jurnal
Pelitian Perikanan Indonesia.2013)
2.2 Light Fishing
Menurut Takayama

(1959) , menjelaskan

bahwa

ketertarikan

terhadap cahaya bukan saja tergantung pada sifat fototaksis positif dari
ikan tersebut, tetapi faktor ekologis juga berpengaruh terhadap makhlukmakhluk

hidup

lainnya.

Mula-mula

yang

tertarik

untuk

mendekati

sumber cahaya adalah jenis zooplankton, kemudian diikuti oleh jenis ikanikan kecil dan ikan-ikan besar.
Menurut Yami (1976) bahwa adanya cahaya bulan dalam light
fishing memberikan pengaruh negatif, cahaya bulan membuat ikan menjadi
enggan, bahkan

tidak

lagi

tertarik pada

cahaya lampu.

Hal

ini

disebabkan karena penerangan cahaya lampu berkurang oleh adanya


cahaya bulan. Selanjutnya dikatakan pula bahwa terang bulan yang cerah
dapat menyebabkan

ikan-ikan menyebarluaskan daerahnya sehingga

kepadatannya berkurang. Dengan demikian operasi penangkapan yang


dilakukan pada waktu-waktu tersebut kurang efektif.
Ikan tertarik oleh cahaya oleh cahaya melalui penglihatan (mata) dan
rangsangan melalui otak (pineal regional pada otak). Peristiwa tertariknya
ikan pada cahaya disebut fototaksis, dengan demikian, ikan yang tertarik
oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis yang umumnya adalah ikan-ikan
pelagis. Ada beberapa alas an mengapa ikan tertarik oleh cahaya, antara lain
adalah penyesuaian intensitas cahay dengan kemampuan mata ikan untuk
menerima cahaya. Dengan demikian, kemampuan ikan untuk tertarik pada
suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. Ada ikan yang sangat senang
pada intensitas cahaya yang tinggi.

2.3 Lampu Celup Dalam Air


Menurut Gunarso (1986), lacuda adalah jenis lampu bawah air yang ,
didesain dan dikemas secara khusus dalam satu sistem dan telah teruji tahan
hingga kedalaman 12 meter. Lacuda dipasang pada Perahu, Bagan Tancap
maupun Bagan Apung dan dicelupkan kedalam air dengan penambahan
beberapa peralatan untuk menambatkan kabel pada Perahu, maupun bagan.
Lampu jenis ini dilengkapi pula dengan sistem elektronik, kabel penghubung,
Dimer dan dioperasikan dengan sumber arus Searah (AC) dari Genset untuk
menghasilkan cahaya 600 Wat dengan intensitas yang terang.
Menurut Effendi (2011), berbagai alat bantu penangkapan ikan yang
dapat menghasilkan cahaya telah dikembangkan dalam berbagai bentuk dan
jenis dari yang sederhana sampai yang agak kompleks. Salah satu alat bantu
penangkapan ikan penghasilkan cahaya yang telah dikembangkan adalah
Lampu Celup Dalam

Air

(Lacuda).

Lacuda

(Lampu

Celup Dalam

Air)

merupakan lampu yang dipakai dalam air untuk menarik perhatian ikan. Ikan
tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak
(pineal region pada otak).
Lacuda adalah alat bantu untuk menangkap ikan dengan menggunakan
lampu yang dimasukkan ke dalam toples dan dirangkai agar saat digunakan
toples tidak kemasukan air laut. Lacuda hanya digunakan sebagai tempat
singgah ikan saja.
2.4 Sifat Ikan terhadap Cahaya
Perbedaan tingkah laku pada masing-masing jenis ikan, yang pertama
ada jenis-jenis ikan yang tertarik secara langsung terhadap sinar atau sering
disebut ikan fototaksis positif, jika ada di sekitar area penangkapan yang terang

dan yang kedua adalah jenis-jenis ikan yang sebenarnya tidak suka kepada
cahaya lampu tetapi kehadirannya pada areal penangkapan lebih ini disebabkan
oleh kehadiran mangsanya pada daerah penangkapan(Usman dan Brown,2006)
Ikan yang efektif pada malam hari selalu mengutamakan organ
penglihatan dalam mencari makanan dan memiliki kemampuan adabtasi
terhadap gelap, indera utama penerima rangsangan cahaya ikan adalah mata
(Arthrur,2013)
Menurut Ali (1976), di dalam retina mata ikan terhadap fotoreseptor
(penerima rangsangan cahaya) yang terdiri dari dua tipe yaitu pigmen cone yang
berfungsi untuk dalam kondisi terang/intensitas tinggi dan pigmen rod yang
berfungsi untuk dalam kondisi gelap.
Menurut Fellix dkk (2004), kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu
sumber cahaya sangat berbeda-beda; ada ikan yang tertarik dengan intensitas
yang rendah, adapula yang tertarik oleh cahaya dengan intensitas tinggi.
Namuna adapula ikan yang tertarik oleh cahaya mulai dari intensitas yang
rendah sampai yang tinggi.
2.5 Lux Meter
Iluminasi cahaya diukur dengan Lux meter, ke arah samping (sudut 900)
mulai dari titik sumber cahaya kemudian bergeser ke samping kanan atau ke kiri
dengan interval jarak 1 meter sampai pada jarak dimana nilai iluminasi cahaya
yang diukur adalah nol (Patty,2010)
Pengukuran intensitas penerangan memakai alat Luxmeter yang hasilnya
dapat langsung dibaca. Alat ini mengubah energi cahaya menjadi energi listrik,
kemudia energi listrik dalam bentuk arus digunakan untuk menggerakkan jarum
skala. Untuk alat digital, energi listrik diubah menjadi angka yang dapat dibaca
pada layar monitor (Christian,1991).

10

11

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan.
3.1.1 Alat dan Fungsi

3.1.2

Obeng

: Untuk membuka dan menutup baut

Gunting

: Untuk memotong kabel

Cutter

: Untuk memotong kabel

Lux meter

: Untuk mengukur intensitas cahaya

Bahan dan Fungsi


Lampu Model Jari 11 watt

: Untuk sumber cahaya

Kabel

: Untuk penghantar listrik

Staker

: Untuk menghubungkan terminal dengan kabel

Fitting

: Untuk rumah lampu

Housing

: Untuk melindungi lampu dari air

Lem Silicon

: Untuk merekatkan housing agar air tidak


masuk ke dalam housing

12

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Proses Perangkaian Lampu Celup Dalam Air (LACUDA)
Menurut Setiawan, dkk. (2015) Pada lacuba yang akan dibuat memiliki
rangkaian yang menghubungkan antara LED agar dapat menyala dengan efektif
dan efesien terhadapat daya yang digunakan. Perangkaian lacuda memerlukan
ketelitian dan kesabaran, apabila kurang teliti maka bisa terjadi sambungan arus
pendek antara serabur-serabut kabel yang bersentuhan antara arus positif (+)
dan negatif (-). Proses pengeleman/penutupan celah lubang housing juga perlu
diperhatikan, apabila kurang rapet maka air dapat merembes masuk hingga
mengenai vitting yang mana hal ini dapat mengakibatkan konsleting atau lampu
tidak bisa hidup. Oleh karena itu proses perangkaian lacuda harus sangat hatihati dan teliti.
Proses perangkaian lampu celup dalam air terdiri dari beberapa langkah
sebagai berikut :
1. Siapkan alat dan bahan,
2. Lubangi tutup toples (housing) pada bagian tengan sebagai lubang saluran
kabel dengan menggunakan cutter,
3. Potong pada tiap-tiap ujung kabel hingga serabutnya tampak dengan
menggunakan gunting,
4. Sambungkan ujung kabel (serabut) dengan stalker, sementara ujung yang
satunya lagi dihubungkan pada vitting,
5. Lem bagian sela-sela lubang housing dan kabel supaya air tidak masuk
kehousing dan tidak merembes kevitting (dalam hal ini disarankan
menggunakan lem tembak).
6. Setelah lem mengering baru kita pasang lampu pada vitting,
7. Pasang/satukan housing bagian badan dan penutup dengan rapat supaya air
tidak masuk.
8. Lampu siap digunakan.
4.2 Proses Pengukuran Intensitas Cahaya

13

Proses pengukuran intensitas cahaya dalam praktikum Teknologi


Penangkapan Ikan adalah sebagai berikut :
1. Mematian sumber cahaya dalam ruangan
2. Menghubungkan staker rangkaian lampu celup dalam air pada stop
kontak
3. Menggeser saklar power on pada MCB
4. Memutar pengaturan intensitas cahaya pada dimmer hingga maksimal
5. Menyalakan lux meter sambil sensornya dihadapkan ke sumber cahaya
mulai dari jarak 100 cm hingga 600 cm dengan interval 100 cm, pada tiap
ulangan lux meter harus di matikan dan dinyalakan kembali dengan
tujuan kalibrasi alat.
6. Mencatat hasil yang ditampilkan pada monitor lux meter pada masingmasing jarak dengan satuan lux.
Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Hartati dan Suprijadi
(2010), bahwa dalam pengukuran intensitas cahaya dilakukan dengan cara
memvariasikan jarak antara sumber cahaya dengan sensor cahaya untuk
masing-masing lampu.
4.3 Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya
4.3.1 Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya Kelompok 9
Pengukuran intensitas cahaya

lampu celup dalam

air

(LACUDA) menggunakan luxmeter, kelompok 9 memperoleh data


sebagai berikut :

No
1
2
3
4
5
6
4.3.2

Jenis
Lampu
dan Merk
Jari / Hinoki
Jari / Hinoki
Jari / Hinoki
Jari / Hinoki
Jari / Hinoki
Jari / Hinoki

Daya
Lampu
11 watt
11 watt
11 watt
11 watt
11 watt
11 watt

Bahan dan
Tinggi
Housing
Kaca / 24 cm
Kaca / 24 cm
Kaca / 24 cm
Kaca / 24 cm
Kaca / 24 cm
Kaca / 24 cm

Hasil Pengamatan
Jarak
Intensitas
(cm)
Cahaya (lux)
100
19
200
8
300
6
400
4
500
3
600
2

Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya Semua Kelompok


Pengukuran intensitas cahaya lampu celup dalam air
(LACUDA) menggunakan luxmeter, diperoleh data seluruh kelompok
sebagai berikut :
14

Kelom
pok

Jenis
Lampu
dan
Merk

Daya
Lam
pu

Bahan
dan
Tinggi
Housing

Ulir / Hory

5 watt

Kaca / 13 cm

Ulir /
Panasoni
c

11
watt

Kaca / 19 cm

Ulir /
Panasoni
c

15
watt

Kaca / 16 cm

Ulir /
Panasoni
c

15
watt

Mika / 14.5
cm

Jari / Troy

30
watt

Kaca / 24 cm

Ulir /
Centralite

11
watt

Plastik
tebal / 16.5
cm

Jari / NAC

15
watt

Kaca / 24 cm

Hasil
Pengamatan
Jara Intensita
k
s Cahaya
(cm)
(lux)
100
29
200
12
300
7
400
4
500
3
600
1
100
25
200
12
300
10
400
7
500
5
600
2
100
85
200
27
300
18
400
11
500
8
600
5
100
82
200
26
300
17
400
10
500
7
600
4
100
45
200
17
300
9
400
6
500
4
600
3
100
29
200
10
300
6
400
5
500
4
600
3
100
32
200
12
300
7
400
4
15

Kelom
pok

Jenis
Lampu
dan
Merk

Daya
Lam
pu

Bahan
dan
Tinggi
Housing

Jari /
Schein
Lamp

13
watt

Kaca / 24 cm

Jari /
Hinoki

11
watt

Kaca / 24 cm

10

Ulir /
Panasoni
c

5 watt

Kaca / 16.5
cm

11

Jari /
Zentama

15
watt

Kaca / 24 cm

12

Jari /
Golden
star

22
watt

Kaca / 24 cm

Hasil
Pengamatan
Jara Intensita
k
s Cahaya
(cm)
(lux)
500
3
600
2
100
27
200
12
300
7
400
4
500
3
600
3
100
19
200
8
300
6
400
4
500
3
600
2
100
31
200
12
300
7
400
4
500
3
600
2
100
47
200
18
300
9
400
6
500
4
600
3
100
70
200
26
300
14
400
8
500
6
600
4

Dari data yang diperoleh dalam pengukuran intensitas cahaya,


bahwa pada lampu dengan daya yang lebih kecil cenderung memiliki
intensitas cahaya yang relatif kecil namun faktor merk juga memiliki
andil dalam menentukan tinggi rendahnya intensitas cahaya yang
dipancarkan. Faktor lainnya adalah warna dari lampu itu sendiri dan

16

jenis lampu yang digunakan. Seperti yang dikemukakan Hartati dan


Suprijadi (2010), bahwa untuk lampu dengan watt lebih kecil memiliki
intensitas cahaya yang lebih kecil daripada lampu yang wattnya lebih
besar, ini sesuai dengan daya listrik yang dikonsumsi, semakin besar
daya listrik yang dikonsumsi maka semakin besar pula intensitas
cahaya yang dipancarkan.

4.3.3

Pengaruh Jarak terhadap Intensitas Cahaya

Pengaruh Jarak
terhadap Intensitas
Cahaya

Grafi
k Hasil Pengukuran Intensitas Cahaya Kelompok 9

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa jarak penyinaran


merupakan faktor yang mepengaruhi tingginya intensitas cahaya
pada lampu tersebut dengan membentuk grafik linier negatif dimana
semakin jauh jarak penyinaran maka akan semakin rendah tingkat
intensitas cahaya.
Intensitas cahaya suatu jenis lampu dipengaruhi oleh jenis
lampu, daya, warna dan jarak penyinaran, warna putih merupakan
17

warna lampu yang memiliki intensitas yang paling tinggi, serta


semakin jauh jarak antara sumber cahaya ke sensor maka akan
semakin kecil nilai intensitas cahayanya (Huda, dkk. 2012).

18