Anda di halaman 1dari 17

TUGAS INDIVIDU

EKONOMI POLITIK

MAKALAH

PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH (PMN)


PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN)

HARI SUTRISNO
P0204214313

KONSENTRASI STUDI MANAJEMEN PERENCANAAN


PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
DAFTAR TABEL........................................................................................................ii
DAFTAR GRAFIK.......................................................................................................ii
PENDAHULUAN........................................................................................................1
A. Dasar Hukum.................................................................................................1
B. Implementasi PMN......................................................................................1
C. Urgensi PMN..................................................................................................4
PROSES KEBIJAKAN TERBENTUK.......................................................................6
A. Program Nawa Cita.....................................................................................6
B. Input PMN dalam RAPBN-P 2015...........................................................7
C. Pembahasan dan Pengesahan di DPR.................................................7
PEMBAHASAN...........................................................................................................9
A. Penetapan PMN pada Kementerian BUMN.......................................10
B. Pertimbangan-Pertimbangan DPR.......................................................11
C. Catatan BPK.................................................................................................12
REKOMENDASI........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................14

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Usulan PMN pada BUMN. 7
Tabel 2. PMN pada BUMN yang Disetujui DPR. 8
Tabel 3. Hasil Usulan, Pembahasan dan Penetapan PMN BUMN. 10

DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. Perkembangan Anggaran Infrastruktur (dalam triliun rupiah) 9
Grafik 2. PMN pada BUMN.................................................................................10

ii

PENDAHULUAN

Dasar Hukum

Dalam Penyertaan Modal Negara (PMN) dasar aturan yang digunakan


sebagai pedoman pelaksanaannya adalah Undang-Undang Nomor 27 Tahun
2014 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) Tahun
Anggaran 2015.
Pengertian PMN menurut UU Nomor 27 Tahun 2014 tentang APBN Tahun
Anggaran 2015 adalah dana APBN yang dialokasikan menjadi kekayaan
negara yang dipisahkan atau penetapan cadangan perusahaan atau sumber
lain untuk dijadikan sebagai modal BUMN dan/atau perseroan terbatas lainnya
dan

dikelola

secara

korporasi,

termasuk

penyertaan

modal

kepada

organisasi/lembaga keuangan internasional dan penyertaan modal negara


lainnya.
Penyertaan Modal Negara (PMN) masuk dalam pembiayaan dalam negeri
yang berasal dari perbankan dan non perbankan dalam negeri, yang juga
terdiri atas penerimaan cicilan pengembalian penerusan pinjaman, saldo
anggaran lebih, hasil pengelolaan aset, penerbitan surat berharga negara
neto,

pinjaman

dalam

negeri

neto,

dikurangi

dengan

pengeluaran

pembiayaan, yang meliputi alokasi untuk, dana bergulir, kewajiban yang


timbul akibat penjaminan Pemerintah, cadangan pembiayaan untuk dana
pengembangan pendidikan nasional dan penyertaan modal negara itu sendiri.
PMN merupakan dana investasi pemerintah seperti alokasi dana investasi
pemerintah untuk pusat investasi pemerintah, dan/atau dana bantuan
perkuatan permodalan usaha yang sifat penyalurannya bergulir, yang
dilakukan untuk menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan/atau manfaat
lainnya.
-

Implementasi PMN
Untuk pembiayaan non utang, Pemerintah bersama Dewan Perwakilan

Rakyat (DPR) juga menetapkan beberapa kebijakan, antara lain:


1.

Pemberian Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam rangka mendukung


pembangunan infrastruktur;

2. Pemberian PMN dan dana bergulir dalam rangka mengembangkan sektor


Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KUMKM);
3. Memberikan pinjaman kepada PLN untuk keperluan investasi;
4. Mengalokasikan

anggaran

pendidikan

melalui

Dana

Pengembangan

Pendidikan Nasional (DPPN);


5. Mengakumulasikan dana kewajiban penjaminan dalam rekening cadangan.
Dalam kurun waktu 2010 sampai 2014, PMN tidak hanya dialokasikan
untuk BUMN dalam rangka mendukung kebijakan Pemerintah di bidang
tertentu. Arah kebijakan utama terkait dengan pengelolaan BUMN tahun 20102014 adalah rightsizing, restrukturisasi, revitalisasi dan profitisasi BUMN
secara bertahap dan berkesinambungan. Rightsizing adalah kebijakan untuk
melakukan restrukturisasi BUMN menuju jumlah yang ideal.
Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi, revitalisasi dan profitisasi
BUMN, diperlukan dukungan dari Pemerintah selaku pemegang saham
mayoritas,

antara

lain

berupa

restrukturisasi

permodalan

BUMN

yang

bersumber dari debt to equity swap pada beberapa BUMN. BUMN yang
memperoleh penugasan khusus dari Pemerintah, antara lain PMN untuk
penjaminan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada PT Askrindo (Persero)
dan Perum Jamkrindo merupakan salah satu bentuk dukungan Pemerintah
dalam melaksanakan kebijakan tersebut.
Beberapa hasil yang telah dicapai dari pengalokasian PMN kepada BUMN
sebagai berikut :
1. PT SMI telah menerima dana PMN dengan total sebesar Rp. 4,0 triliun
sampai dengan tahun 2012. Peran PT SMI mendukung program Pemerintah
dalam pembangunan infrastruktur dapat direfleksikan dari nilai komitmen
pembiayaan sebesar Rp. 4.477,0 triliun dengan total nilai proyek sebesar
Rp. 32.227,0 triliun. Dengan demikian, rasio katalis yang dihasilkan adalah
sebesar 7,2 kali.
2. PT Industri Kapal Indonesia (IKI) pada tahun 2012 sebesar Rp. 200,0 miliar
untuk restrukturisasi dan revitalisasi BUMN strategis. PT IKI dari semula
mengalami permasalahan keuangan dan operasional, per 31 Desember
2013

perusahaan

mulai

mencatatkan

laba

bersih

Rp.

8,6

miliar,

peningkatan pendapatan sebesar 32,0 persen dan ekuitas perusahaan


menjadi positif.

3. PT Askrindo dan Perum Jamkrindo mendukung program KUR dengan


melakukan program penjaminan kredit, dengan dana PMN sebesar Rp.
9.750 miliar, KUR yang berhasil diberikan mencapai Rp. 138,5 triliun
dengan debitur mencapai 10.032.178 serta tingkat nonperforming loan
(NPL) sebesar 3,2 %.
Dari total 146 BUMN, terdapat 20 BUMN yang sudah masuk ke pasar
modal (go public) dengan kapitalisasi pasar per 27 Juni 2014 sebesar 23,01
persen atau sekitar Rp. 1.106,59 triliun. Kontribusi tersebut sangatlah
signifikan untuk perkembangan pasar modal di Indonesia.
-

Urgensi PMN
Banyak persepsi mengenai pentingnya pencairan PMN sehingga untuk

mengupas terlalu jauh, hal yang perlu dikedepankan dalam kaitannya dengan
BUMN ialah kesamaan persepsi dalam menilai penyertaan modal negara pada
BUMN. Ada dua alasan utama pentingnya PMN diberikan kepada BUMN yaitu :
1. Selama ini kita menyadari bahwa negeri ini belum cukup memiliki
kehandalan dalam infrastruktur. Tidak mengherankan jika kondisi tersebut
berpengaruh terhadap iklim investasi di Indonesia. Kita membutuhkan lebih
banyak pabrik-pabrik untuk mengelola sumber daya alam, membangun
industri penghiliran sumber daya alam, seperti energi dan mineral,
pertanian, serta perikanan.
2. Bahwa BUMN belum bisa unggul dari segi aset, omzet, dan pasar, serta
kapasitas keuangan. BUMN kita belum seperti BUMN milik Singapura dan
Malaysia, mungkin juga dengan Thailand. Padahal, negara kita memiliki
kekayaan alam berlimpah, pasar yang sangat besar, dan ditunjang oleh
manusia cerdas yang sangat banyak.
Semua itu dapat segera diwujudkan apabila ketersediaan dan kesiapan
daya saing terhadap infrastruktur, sumber daya manusia, energi, dan pangan
ditingkatkan. Pelaksanaan atas hal itu dapat diserahkan kepada BUMN dengan
tetap melibatkan perusahaan-perusahaan swasta nasional. Untuk membangun
BUMN yang unggul dapat dilakukan melalui dua hal utama, yaitu menambah
kapasitas organisasi dan kapasitas keuangan. Kedua faktor tersebut harus
dilakukan

secara

bersamaan

tidak

boleh

hanya

satu

faktor.

Dengan

menambah organisasi berarti memperbesar kapasitas organisasi untuk


memproduksi barang dan jasa. Melihat fokus pemerintah saat ini pada
3

pembangunan kemaritiman dan kawasan timur Indonesia yang memerlukan


pembangunan infrastruktur baru secara cepat dan dalam jumlah yang lebih
banyak dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya sehingga PMN
kepada BUMN saat ini dirasa sangat penting untuk mewujudkan target-target
pemerintah yang telah ditetapkan dalam program Nawa Cita.

PROSES KEBIJAKAN TERBENTUK


Dalam masa transisi pemerintahan maka akan ada banyak kebijakan baru
dibuat untuk mewujudkan program-programnya. Proses terbentuknya kebijakan
Penyertaan Modal Negara (PMN) pada BUMN adalah sebagai berikut :
A. Program Nawa Cita
Salah satu kebijakan pemerintah adalah pemberian suntikan modal pada
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berupa Penyertaan Modal Negara (PMN)
dengan

tujuan

agar

BUMN

dapat

berperan

aktif

dalam

mendukung

terwujudnya sembilan program prioritas nasional (Nawa Cita).


Dalam rangka mencapai Nawa Cita, dalam RAPBNP 2015 pemerintah
memutuskan untuk memperkuat 40 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui
pembangunan

infrastruktur

dan

kemaritiman,

peningkatan

kedaulatan

pangan, pembangunan industri pertahanan nasional, dan mendukung industri


kedirgantaraan. BUMN sebagai agent of development diharapkan dapat
berperan aktif dalam mendukung terwujudnya program agenda prioritas
nasional (Nawacita). dukungan alokasi anggaran terutama digunakan
Untuk tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang digunakan untuk mendukung agenda program
prioritas antara lain:
1. Mewujudkan kedaulatan pangan dalam mendukung program swasembada
pangan, pengadaan benih, serta peningkatan produksi ikan nasional.
2. Membangun infrastruktur dan maritim ditujukan untuk pengembangan
bandara dan pelabuhan, pengadaan kapal, dan penyelesaian pembangunan
jalan tol Trans Sumatera.
3. Mendukung industri kedirgantaraan yang bertujuan sebagai modal kerja,
investasi dukungan maritim guna mengembangkan pesawat, dan investasi
fasilitas produksi;
4. Membangun

industri

pertahanan

nasional

yang

bertujuan

untuk

pembangunan dan perbaikan lini produksi, pengembangan bisnis produk


industrial, peningkatan fasilitas dan learning center, serta pengembangan
soft competence SDM.

B. Input PMN dalam RAPBN-P 2015


5

Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk BUMN yang dimasukkan kedalam


RAPBN-P 2015 sebesar Rp. 72.970.400.260.000 yang berasal dari pengalihan
subsidi dan diberikan kepada 40 BUMN yang terdiri atas 5 BUMN di bawah
Kementerian

Keuangan

dan

35

BUMN

di

Bawah

Kementerian

BUMN.

Kementerian BUMN mengajukan Usulan secara terperinci kepada DPR agar


menjadi pertimbangan DPR dalam mengesahkan anggaran PMN. Adapun
rincian usulan dari Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan yang
tertuang dalam RAPBN-P 2015 sebagai berikut :
N
NAMA BUMN
o
Kemen BUMN
1
PT Hutama Karya
2
PT Waskita Karya
3
PT PN III (Persero)
4
PT Aneka Tambang
5
Perum Bulog
6
PT KAI
7
PT Angkasa Pura II
8
Perum Perumnas
9
PT PPA
10 PT Pelindo IV
11 PT Adhi Karya
12 PT ASDP
13 PT PNM
14 PT Dok Kodja Bahari
15 PT Pindad
16 PT Pelni
17 PT Pertani
18 PT Sang Hyang Seri
19 PT DI
20 PT Garam
21 Perum PI
22 PT PPI

USULAN (Rp)
3.600.000.000.000
3.500.000.000.000
3.150.000.000.000
7.000.000.000.000
3.000.000.000.000
2.750.000.000.000
3.000.000.000.000
2.000.000.000.000
2.000.000.000.000
2.000.000.000.000
1.400.000.000.000
1.000.000.000.000
1.000.000.000.000
900.000.000.000
700.000.000.000
500.000.000.000
470.000.000.000
400.000.000.000
400.000.000.000
300.000.000.000
300.000.000.000
250.000.000.000

No
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35

NAMA BUMN
PT Bahana PUI
PT Perikanan Nusantara
PT DPS
PT IKI
PT Djakarta Lloyd
PT PN VII
PT PN IX
PT PN X
PT PN XI
PT PN XII
PT RNI
PT Bank Mandiri
PT Krakatau Steel
Jumlah 1-35

Kemenkeu
36
PT GDE
37
PT MSI
38
PT PAL
39
PT SMF
40
PT PPI
Jumlah 36-40

Total PMN BUMN

USULAN (Rp)
250.000.000.000
200.000.000.000
200.000.000.000
200.000.000.000
350.000.000.000
17.500.000.000
100.000.000.000
97.500.000.000
65.000.000.000
70.000.000.000
280.000.000.000
5.600.000.000.000
956.493.260.000
48.006.493.260.000
607.307.000.000
20.356.600.000.000
1.500.000.000.000
1.000.000.000.000
1.500.000.000.000
24.963.907.000.000
72.970.400.260.000
Hasil Olah Data 2015

Tabel 1. Usulan PMN BUMN pada RAPBN-P 2015.


C. Pembahasan dan Pengesahan di DPR
Proses pembahasan memakan waktu panjang melalui Komisi VI untuk
kemudian di usulkan ke Bagian Anggaran (Banggar) DPR untuk di sahkan.
Pembahasan dilakukan pada instansi-instansi terkait terutama kementerian
yang akan menerima atau menyalurkan dana PMN tersebut kepada BUMN
yang berada di bawah naungannya. Hasil Pembahasan yang dilakukan oleh
Komisi VI hanya bersifat usulan, keputusan final di bawah Banggar DPR
memiliki kewenangan menetapkan hasil pembahasan.
N
NAMA BUMN
o
Kemen BUMN

USULAN (Rp)

N
o

NAMA BUMN

USULAN (Rp)

1
2

PT Hutama
Karya
PT Waskita
Karya

PT PN III

PT Antam

Perum Bulog

PT KAI

PT AP II

Perum
Perumnas

PT PPA

10 PT Pelindo IV
11 PT Adhi Karya
12 PT ASDP
13 PT PNM
14 PT Dok KB
15 PT Pindad
16 PT Pelni
17 PT Pertani
18 PT Sang Hyang
19 PT DI
20 PT Garam
21 Perum PI
22 PT PPI
23 PT Bahana PUI
24

PT Perikanan
N.

25 PT DPS
26 PT IKI
27

PT Djakarta
Lloyd

3.600.000.000.
28 PT PN VII
000
3.500.000.000.
29 PT PN IX
000
3.150.000.000.
30 PT PN X
000
3.500.000.000.
31 PT PN XI
000
3.000.000.000.
32 PT PN XII
000
2.000.000.000.
PT RNI
000
2.000.000.000.
PT Bank Mandiri
000
1.000.000.000.
PT Krakatau
000
Steel
1.000.000.000.
000
2.000.000.000.
Usulan Tambahan
000
1.400.000.000.
000 33 PT PLN
Perum
1.000.000.000.
000 34 Jamkrindo
1.000.000.000.
000 35 PT Askrindo
900.000.000.00
Jumlah 1-35
0
700.000.000.00
0
500.000.000.00
Kemenkeu
0
470.000.000.00
36 PT GDE
0
400.000.000.00
37 PT MSI
0
400.000.000.00
38 PT PAL
0
300.000.000.00
39 PT SMF
0
300.000.000.00
40 PT PPI
0
250.000.000.00
Jumlah 36-40
0
250.000.000.00
0
200.000.000.00
0
200.000.000.00
0
200.000.000.00
0
350.000.000.00
0

17.500.000.000
100.000.000.000
97.500.000.000
65.000.000.000
70.000.000.000
0
0
0

5.000.000.000.00
0
500.000.000.000
500.000.000.000
39.920.000.000.
000

607.307.000.000
20.356.600.000.0
00
1.500.000.000.00
0
1.000.000.000.00
0
1.500.000.000.00
0
24.963.907.000.
000

Total PMN BUMN

64.883.907.000.000
Hasil Olah Data 2015

Tabel 2. PMN pada BUMN yang Disetujui DPR.


Banggar DPR pada tanggal 13 Pebruari 2015 telah menetapkan besaran
PMN melalui penetapan APBN-P 2015. Dari 40 BUMN yang memperoleh PMN,
sebanyak 35 perusahaan di bawah Kementerian BUMN dengan perolehan
dana Rp. 39,92 triliun dan 5 BUMN di Bawah Kementerian Keuangan sebanyak
Rp. 24,964 triliun. Sehingga total PMN yang diberikan pada BUMN pada tahun
2015 sebesar Rp.64.883.907.000.000. Alokasi PMN pada BUMN dalam APBNP
tahun 2015 meningkat Rp. 59.776.600.000.000 atau 11,7 kali lipat jika
dibandingkan dengan alokasinya dalam APBN tahun 2015 sebesar Rp.
5.107.307.000.000.

PEMBAHASAN
DPR RI telah menyetujui anggaran 2015 untuk infrastruktur Rp. 290,3
triliun. Tentunya ini menambah dukungan program percepatan infrastruktur
yang dicanangkan Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla, setelah sebelumnya DPR RI
juga menyetujui kenaikan penanaman modal negara (PMN) menjadi Rp.
64,884 triliun. Walaupun dibawah target yang sebelumnya diajukan untuk
RAPBN-2015, namun pencapaian ini sesuai dengan yang diprediksi Wakil
Presiden Jusuf Kalla. Sebelumnya terdapat kekhawatiran partai oposisi
pemerintah akan menjegal langkah Presiden Jokowi ketika akan mengajukan
anggaran.
Tapi buktinya saat ini, justru menjadi catatan sejarah bahwa pertama
kalinya pemerintah memberikan anggaran yang besar ke sektor infrastruktur.
Menteri Keuangan mengatakan anggaran infrastruktur jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Anggaran ini meningkat
sekitar 153 persen jika dibandingkan dengan APBN 2015 yang sebelumnya
dibuat Susilo Bambang Yudhoyono di akhir masa jabatannya yakni senilai
Rp189,7 triliun.

Grafik 1. Perkembangan Anggaran Infrastruktur (dalam triliun rupiah)


Berdasar pada APBN tahun ini juga pertama kalinya anggaran untuk
infrastruktur melebihi subsidi energi. Angka subsidi dipangkas lebih dalam lagi
menjadi hanya Rp158 triliun. Padahal dari tahun 2012, subsidi energi selalu
dianggarkan lebih dari Rp300 triliun
9

A. Penetapan PMN pada Kementerian BUMN


Setelah melewati rapat pembahasan yang panjang dengan Komisi VI DPR
akhirnya besaran angka PMN disepakati untuk diusulkan pada Banggar DPR
untuk disahkan. Hasil penetapan/pengesahan PMN pada 35 BUMN dapat
dilihat pada Tabel 3 di bawah.
N
o
1
2

URAIAN
Kementerian
BUMN Usulan 32
BUMN
Tambahan 3
BUMN
- PT PLN
- Perum
Jamkrindo
- PT Askrindo
TOTAL PMN

USULAN

KOMISI VI

BANGGAR

48.006.493.260.00
0

37.276.000.000.00
0

33.920.000.000.00
0

0
0
0

5.000.000.000.000
500.000.000.000
500.000.000.000

5.000.000.000.000
500.000.000.000
500.000.000.000

48.006.493.260.
000

43.276.000.000.
000

39.920.000.000.
000
Hasil Olah Data 2015

Tabel 3.

Hasil Usulan, Pembahasan dan Penetapan PMN BUMN.

Penyertan Modal Negara (PMN) tahun ini yang naik hingga lebih dari 7,5
kali lipat juga menembus rekor. Perbandingan besaran PMN dari tahun 2008
sampai 2015 dapat dilihat pada Grafik 2.

Grafik 2. PMN pada BUMN


Peningkatan PMN pada BUMN digunakan untuk mendukung agenda
prioritas nasional melalui beberapa program prioritas antara lain :
1. Meningkatkan kedaulatan pangan dialokasikan Rp. 9,17 trilyun kepada
Perum Bulog, PT Pertani, PT Sang Hyang Seri, PT Perikanan Nusantara,
Perum Perikanan Indonesia, PT Garam, PTPN III, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X,
PTPN XI, PTPN XII dan PT PNM.
10

2. Pembangunan infrastruktur dan maritim dialokasikan Rp. 43,5066 trilyun


kepada PT Angkasa Pura II, PT ASDP, PT Pelni, PT Djakarta Lloyd, PT Hutama
Karya, Perum Perumnas, PT Waskita Karya Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT Dok
dan Perkapalan Surabaya, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Industri
Kapal Indonesia, PT Pelindo IV, PT KAI, PT

Penjaminan Infrastruktur

Indonesia, PT Sarana Multi Infrastruktur, dan PT Pengembangan Pariwisata


Indonesia.
3. Mendukung industri kedirgantaraan dialokasikan Rp. 400 milyar kepada PT
Dirgantara Indonesia.
4.

Membangun industri pertahanan nasional dialokasikan Rp. 700 milyar


kepada PT Pindad.

5. Program Pemerintah lainnya Rp. 9,25 trilyun kepada PT Bahana Pembinaan


Usaha Indonesia, PT Aneka Tambang, dan PT Perusahaan Pengelola Aset.
Dari 35 BUMN tersebut, terdapat 9 perusahaan yang tujuan penggunaan
dananya digunakan untuk pembangunan infrastruktur perumahan, jalan,
bandara, pelabuhan, kereta api, kelistrikan dan tambang. Dana yang diberikan
mencapai Rp. 24 triliun atau 60 persen dari dana yang diberikan ke BUMN.
Dana terbesar diberikan kepada PT PLN untuk pembangunan pembangkit
listrik yakni senilai Rp. 5 triliun, agar bisa sejalan dengan program pemerintah
membangun pembangkit listrik 35 ribu MegaWatt (MW). Lalu kepada PT
Hutama Karya Rp. 3,6 triliun untuk membantu pembangunan ruas jalan tol
trans Sumatera dan kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) Rp. 3,5 trilyun
untuk membangun pabrik pengolahan tambang (smelter).
Suntikan modal besar-besaran ini diharapkan dapat memberi efek yang
lebih besar, suntikan modal langsung ke BUMN bisa melipat gandakan jumlah
infrastruktur yang bisa dibangun. Suntikan modal pemerintah akan menambah
ekuitas BUMN, sehingga rasio utang (debt to equity ratio/DER) perusahaan
menurun sehingga memiliki kekuatan untuk membiayai proyek-proyek terbaru
melalui skema pinjaman.
Dari

rencana

proyek

infrastruktur

pemerintah

tahun

2015-2019

dibutuhkan dana hingga Rp. 5.519 triliun yang 19,32 persen atau sekitar Rp
1.066 triliun akan berasal dari BUMN. Untuk itu BUMN membutuhkan modal
yang besar agar memiliki kemampuan dalam pembangunan proyek-proyek
infrastruktur.

11

Pertimbangan-Pertimbangan DPR
Untuk mendapatkan PMN, BUMN harus memenuhi syarat yang diajukan

Komisi VI DPR diantaranya manajemen yang baik, reorganisasi direksi, detil


rencana bisnis, assessment asset, pembinaan dan monitoring. Pemerintah
juga sebaiknya bersikap lebih hati-hati dalam menganalisis BUMN. Tidak hanya
melihat

dari

sisi

neraca

keuangan,

melainkan

juga

aspek

riil

dan

operasionalnya. Beberapa BUMN memang memiliki kinerja keuangan yang


bagus, namun justru ketergantungan mereka akan impor semakin besar
seperti PT Garam. Secara riil barangnya mungkin tidak ada. Laba bersih
beberapa BUMN seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Perikanan,
Perum Perikanan, dan Perum Perumnas, memang naik sangat moderat, namun
produksi riil mereka tidak signifikan dan ini patut menjadi bahan pertimbangan
bagi Komisi VI DPR. Penyertaan modal PMN ke BUMN juga sangat berisiko,
karena dibiayai oleh utang. Bila produktivitas BUMN tetap rendah, risikonya
negara dan masyarakat yang harus menanggung kerugian tersebut.
Terdapat tiga BUMN yang diusulkan kementerian BUMN yang tidak
mendapat alokasi dan PMN oleh Komisi VI DPR, beberapa alasan pembatalan
PMN tersebut antara lain :
1. Terdapat penggunaan yang tidak jelas dan dalam pembahasan usulannya
tidak sesuai untuk lokasi anggaran.
2. Tidak adanya perbaikan manajemen dari BUMN. DPR merekomendasikan
kepada Kementerian BUMN untuk meningkatkan fungsi pembinaan kepada
BUMN penerima PMN untuk memenuhi pengaturan dan tata kelola
keuangan yang baik sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangundangan.
3. BUMN

yang sudah mencatatkan saham bursa efek atau BUMN yang go

public tidak perlu mendapat suntikan modal. Sebagai entitas bisnis, BUMN
tidak layak diberikan dana karena bisa memperoleh dana dari berbagai
sumber portofolio. BUMN yang harus menyetor ke kas negara, bukan
negara yang harus mengucurkan uang rakyat sebagai modal. Kalau
demikian apa gunanya membayar para direksi dan top manajemen BUMN
dengan gaji tinggi. Karena itu DPR mendesak pemerintah untuk mengganti
seluruh direksi dan top manajemen BUMN yang menerima PMN, karena
terbukti gagal melakukan terobosan dalam mencari dana.

12

4. Catatan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Informasi dari Badan


Pemeriksa Keuangan (BPK)

sangat urgen dalam pengambilan keputusan

PMN pada BUMN karena audit yang dilakukan pada BUMN dilaksanakan
oleh BPK sehingga data-data hasil audit baik kinerja maupun keuangan
sangat membantu dalam menentukan keputusan bagi anggota dewan.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan data kepada Menteri BUMN
terkait 14 BUMN yang masih bermasalah memiliki catatan dan temuan
signifikan yang belum diselesaikan namun akan mendapatkan Penyertaan
Modal Negara (PMN). Ke-14 dari 35 BUMN yang bermasalah itu adalah PT
Antam, PT Angkasa Pura, Bulog, PT Garam, PTPN, PT Pelni, PT Pindad, PT
Kereta Api, PT Sang Hyang Seri, Perum Perumnas, Perum Perikanan, PT
Industri Kapal, PT Djakarta Lloyd dan PT Pelindo IV. Namun demikian,14
BUMN tersebut bukan tidak layak menerima PMN jika temuan-temuan
tersebut segera diselesaikan dengan BPK, maka catatan tersebut bisa
terselesaikan. Selain itu BPK juga memberikan sejumlah BUMN yang
memiliki catatan khusus kepada Menteri BUMN dan DPR RI guna dijadikan
pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Detik terakhir terjadi perubahan usulan PMN hasil pembahasan Komisi VI
sebesar Rp. 43,276 trilyun, oleh Banggar ditetapkan 39,92 trilyun menolak
keputusan Komisi VI DPR RI dapat dilihat di Tabel 3. Banggar DPR beralasan
berdasarkan ketentuan yang ada dalam UU MD3 bahwa sifat keputusan
tingkat Komisi adalah usulan kepada Banggar dan acuan keputusan final
berada di Banggar. Menanggapi hal itu, Menteri BUMN mengatakan dapat
menerima keputusan Banggar, jika mengacu kesepakatan rapat kerja antara
Kementerian BUMN dengan Banggar, maka terdapat perubahan untuk
perusahaan BUMN yang menerima PMN.
Semua itu menunjukkan bahwa persoalan yang ada tidak hanya sebatas
neraca keuangan bersifat kuantitatif saja, melainkan juga beberapa aspek
kualitatif seperti efektivitas manajemen, produksi, dan operasional serta
pertimbangan politik. Artinya, masih ada jalan lain yang dapat ditempuh
pemerintah dan mungkin lebih urgen dibanding PMN, yaitu optimalisasi aspek
kualitatif yang memungkinkan terciptanya berbagai inovasi operasional,
pemasaran, penjualan, distribusi, dan teknologi yang pada ujungnya dapat
memperkuat BUMN.

13

REKOMENDASI
Beberapa rekomendasi berkaitan dengan persetujuan Komisi VI DPR
terkait usulan Penyertaan Modal Negara (PMN) pada beberapa BUMN dalam
RAPBN-P TA 2015 di Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan yaitu :
1. PMN tidak digunakan untuk membayar hutang perusahaan penerima PMN.
2. Pelaksanaan right issue tidak mengurangi komposisi kepemilikan saham
pemerintah saat ini pada BUMN terkait.
3. Penggunaan PMN dilakukan dan dicatat dalam rekening terpisah.
4. BUMN penerima PMN harus menerapkan Good Corporate Govermance
(GCG).
5. Perlu pengawasan secara ketat atas penggunaan PMN agar sesuai dengan
rencana bisnis yang diajukan pada Komisi VI.
6. Komisi VI DPR RI akan melakukan pengawasan penggunaan PMN BUMN.
7. Dalam hal pengadaan barang dan jasa dalam menggunakan dana PMN
meminta kepada Kementerian BUMN untuk mengutamakan produk dalam
negeri dan sinergi BUMN.
8. Dalam melaksanakan PMN Kementerian BUMN RI sebagai pembina BUMN
memperhatikan catatan-catatan yang telah disampaikan dalam Rapat Kerja
Komisi VI DPR RI yang membahas persetujuan PMN.

14

DAFTAR PUSTAKA

Fahmi, I., 2013, Ekonomi Politik Teori dan Realita, Alfabeta, Bandung.
Putong, I., 2013, Economics Pengantar Mikro dan Makro, Mitra Wacana Media,
Jakarta.
Marsuki, 2010 Potret Ekonomi Politik Indonesia. Mitra Wacana Media
-------------, 2014. Jalan Perubahan Untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan
Berkepribadian, Jakarta.
-------------, 2014. Budget In Brief Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015,
Jakarta.
-------------, 2015. Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Perubahan Tahun Anggaran 2015, Jakarta.
http://www.aktual.co/ekonomibisnis/bpk-ada-14-bumn-bermasalah-dengan-pmn.
diakses tanggal 1 Maret 2015.
http://economy.okezone.com/read/2015/02/11/320/1104235/10-poin-hasil-rapatsuntikan-modal-bumn. diakses tanggal 1 Maret 2015.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/02/11/njlxfo-sisa-anggaran
-rp-10-triliun-rini-masih-akan-lobi-dpr, diakses tanggal 1 Maret 2015.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/02/11/njlwni-dpr-minta-pmntak-digunakan-untuk-bayar-utang-bumn, diakses tanggal 1 Maret 2015.
http://palingaktual.com/1426921/anggaran-pmn-bumn-turun-menjadi-rp-39-9triliun/read/, diakses tanggal 1 Maret 2015.
http://www.antaranews.com/berita/477717/komisi-vi-dalami-14-bumnbermasalah, diakses tanggal 1 Maret 2015.

15