Anda di halaman 1dari 6

KALIBRASI PESAWAT RONTGEN

MATERI
Kalibrasi adalah suatu upaya untuk membandingkan antara
parameter parameter, yaitu parameter yang sudah di setting pada
display pada pesawat rontgen sesuai dengan parameter yang dihasilkan
oleh pesawat rontgen.
Pelaksanaan kalibrasi dilakukan pada saat :
1. Pesawat di produksi yaitu kalibrasi yang dilaksanakan di pabrik
pada saat pesawat di buat.
2. Kalibrasi pada saat pesawat rontgen selesai di pasang.
3. Kalibrasi pada saat pesawat rontgen selesai di perbaiki.
4. Kalibrasi pada saat pesawat rontgen sudah lama tidak di pakai.
5. Dan dilakukan pada saat parameter parameter pesawat rontgen
sudah tidak menunjukkan nilai yang sebenarnya.
JENIS JENIS PELAKSANAAN KALIBRASI

1. Kalibrasi no loud ( tanpa beban )


Kalibrasi no loud dilakukan pada saat tidak di pasang pada beban
yaitu dengan melepas tabung x-ray. Pada kalbrasi no loud ini dilakukan
pengkalibrasian pada beberapa faktor yaitu :
a) Faktor efektifitas autotransformator atau power supply.
b) Faktor efektifitas High Tension Transformator ( HTT ).
c) Faktor perbandingan antara transformator primer HTT
dengan transformator sekunder HTT.
d) Faktor
perubahan tegangan dari tegangan efektif ke
tegangan yang di ukur ( peak ).
Faktor faktor di atas terjadi pada transformator, pada
transformator selalu ada kerugian kerugian yang menyebabkan
beberapa faktor diatas. Kerugian kerugian yang disebabkan oleh
transformator yaitu :
a) Hysterisislooses yaitu kerugian yang terjadi pada lempengan
besi.
b) Edicurrent yaitu kerugian yang terjadi pada kumparan.
c) Kerugian arus focoult.
Kerugian kerugian ini menyebabkan impedansi pada transformator
yaitu jika kerugian pada transformator sebesar 90% maka keluarannya
sebesar 10%. Dan begitu juga dengan kerugian pada transformator
sebesar 10% maka keluarannya sebesar 90%.

2. Kalibrasi loud on ( dengan beban )


Kalibrasi ini dilakukan dengan menggunakan atau dipasang pada
sparegap, dimana sparegap ini terdiri dari 2 bola ( S1 dan S2 ) yang
terbuat dari besi yang di topang oleh penyangga yang dilengkapi dengan
skala yang berguna untuk mengetahui jarak antara kedua bola tersebut.
Pada bola besi S1 dipasangkan kutub anoda dari tabung x-ray, bola besi
S1 ini bekerja sebagai stasioner yaitu hanya diam atau tidak dapat diatur
posisinya dan pada bola besi S2 dipasangkan kutub katoda dari tabung xray, bola besi ini bekerja sebagai variabel yaitu bisa atau dapat diatur
posisinya.
Gambar kalibrator sparegap

CARA KERJA :
Pertama, pesawat rontgen di hidupkan kemudian tegangan
dimasukkan. Dan kemudian jarak antara kedua bola besi diatur sehingga
menimbulkan loncatan api.
Setelah menimbulkan loncatan bunga api maka pengaturan di
hentikan, kemudian kita lihat di skala. Untuk bola besi yang berdiameter 5
cm pada jarak 1,7 cm maka tegangan yang di hasilkan adalah 50 KV.
Setelah loncatan bunga api pertama maka pemberian tegangan
masukan di atur pada kondisi lebih tinggi dari semula. Kemudian kita atur
jarak kedua bola hingga menimbulkan loncatan bunga api. Kemudian kita
lihat di skala dimana pada jarak 2,7 cm tegangan yang di hasilkan sebesar
70 KV.
Kemudian di atur kembali seperti di atas, dan lihat skala sampai
menunjukkan jarak 3,9 cm tegangan yang dihasilkan 90 KV. Setiap 3 kali
pengukuran perubahan KV antara 2 bola besi ( S1 dan S2 ) tersebut di atur
ke posisi awal setiap pengukurannya.

3. Kalibrasi non invasive


3.1. Kalibrasi dengan KVP mentor ( terbuat dari Siemens ).

I/
V

R
o
m

DIV

I/
V

R/
D

R
o
m

Kalibrasi dengan KVP mentor dilaksanakan agar mendapatkan nilai


KVP yang sesuai dengan yang diatur. Kalibrasi ini biasanya untuk pesawat
rontgen multipurpose atau komputerize. Saat sinar X menembus materi
akan terjadi penyerapan radiasi. Daya tembus radiasi tersebut ditentukan
oleh besarnya perbedaan potensial antara anoda dan katoda. Besarnya
beda potensial tersebut ditentukan oleh pemilihan tegangan tinggi atau
KVP. Besarnya KVP tersebut selain menentukan bentuk besarnya daya
tembus juga akan menentukan bentuk spektrum dari radiasi yang
dihasilkan. Misalkan untuk 70 KV akan berbeda dengan spektrum yang
dibentuk pada 100 KV.
KVP mentor ini terdiri dari 2 buah filter alumunium yang tebalnya
masing masing 1,5 mmAL dan 0,75 mmAL. Dan KVP mentor ini juga
dilengkapi dengan peralatan elektronik seperti ionitation chamber, current
to voltage, rangkaian penguat diferensial, ratio formation (DIV ),
Ionitation chamber ini disebut bilik ionisasi yang berfungsi sebagai
pengubah sinar X menjadi arus sinyal listrik lalu arus sinyal listrik.
Keluaran dari ionisasi chamber akan dibandingkan keluar 1,25 dan 0,75,
sehingga terjadi ratio diantaranya alat ini juga dilengkapi dengan system
komputerisasi yang dirancang sedemikian rupa sehingga dihasilkan
perbandingan dari keluaran kedua sinyal tersebut diistilahkan dengan Q =
Quitation Ration Formation, ionisasi chamber pada pengukuran ini
diletakkan persis dibawah kolimator. Arus sinyal listrik ini dirubah oleh
current to voltage menjadi tegangan yang akan dikuatkan oleh rangkaian

penguat diferensial dan dirubah menjadi penunjukkan pada komputer


pada DIV, lalu diproses menuju ke ROM ( Read Only Memory ) sebagai
penyimpanan data dan juga sebagai pengubah untuk di tampilkan pada
display.

3.2. SOP ( Standar Operasional Prosedur ) kalibrasi dengan kalibrator


Piranha ( terbuat dari perancis ).

Sambungkan pesawat rontgen pada catu daya PLN


Nyalakan Laptop / komputer
Sambungkan PORT USB dari komputer ke alat kalibrasi
( piranha ), piranha ini terdiri dari metal tebal dan tipis. Metal di
sini berfungsi sebagai untuk memfilter sinar x
Klik software ortigo
Meletakkan alat ( piranha ) di bawah kolimator dengan jarak 1
meter dari tabung x-ray dan tegak lurus 90 derajat
Setelah persiapan selesai nyalakan pesawat rontgen
Atur centering kolimator agar lebar atau luasnya penyinaran
sesuai dengan tanda di alat ( piranha ) tersebut
Lalu klik centering pada ortigo yang berada pada laptop /
komputer
Setelah itu atur KV dan MAS pada pesawat rontgen
Dan tekan handswitch setengah setelah beberapa detik tekan full
sampai expose selesai. Dan lepas handswitch jika ada bunyi
( BEP ) keluar dari pesawat rontgen
Lalu lihat pada laptop / komputer centering kolimator jika muncul
angka 1 maka jatuhnya sinar x tepat dengan jarak 1 meter dari
tabung x-ray dan tegak lurus 90 derajat pada alat kalibrator
piranha ( proses ini dilakukan hanya sekali pada setiap kalibrasi )
Lalu kita atur KV dan MAS jika ingin mengkalibrasi KV maka MAS
selalu tetap, dan jika ingin mengkalibrasi MAS maka KV selalu
tetap.
Setelah persiapan selesai maka lakukan proses expose seperti
diatas. Dan catat hasil pembacaan pada software ortigo ( lakukan
sebanyak 3 kali )
Setiap kali pengukuran atau setiap kali expose diberi jeda waktu
1 sampai 3 menit agar filament tidak panas sehingga mesin tidak
cepat rusak
Jika hasil dari data pengukuran tersebut kurang lebih dari 10 %
maka pesawat rontgen yang telah di kalibrasi masih laik di pakai.

4. Kalibrasi invasive dengan menggunakan oscilloscop dan HTT probe

CARA KERJA :
Pada saat setelah KV, mA dan timer di atur, SWE ditekan maka arus
akan mengalir ke HTT kemudian masuk ke penyearah diode bridge.
Misalnya kita ingin melakukan kalibrasi pada TUBE I maka TUBE tersebut
diganti dan dilepas dan dipasang dengan oscilloscope dan TUBE II tetap
dipasang , dan jika ingin mengkalibrasi TUBE II maka TUBE tersebut
diganti dan dilepas dan dipasang dengan oscilloscope dan TUBE I tetap
dipasang.
Kemudian pilih change over switch untuk memilih TUBE I atau TUBE
II yang akan di kalibrasi. Over switch TUBE I dan TUBE II di jumper. Maka
arus mengalir ke Ry 1 energize atau bekerja sehingga menyebabkan
menutupnya contactor yang tadi normally open menjadi close ( Pb1 dan
Pb2 ), karena over switch TUBE I dan TUBE II di jumper maka Ry 2 juga
energize atau bekerja sehingga menyebabkan menutupnya contactor

yang tadi normally open menjadi close ( Pb3 dan Pb4 ) sehingga arus
mengalir secara bersamaan.
Arus yang keluar dari HTT mengalir ke penyearah diode brige yang
akan disearahkan menjadi DC full wave. Sehingga arus DC positif ( + )
tersebut mengalir memberikan polaritas positif ke anoda melalui Pb 1, dan
juga mengalir memberikan polaritas positif ke voltage deveider ( VD )
melalui Pb 3. Dan arus DC negatif ( - ) tersebut mengalir memberikan
polaritas negatif ke katoda melalui Pb 2, dan juga mengalir memberikan
polaritas negatif ke voltage deveider ( VD ) melalui Pb 4. Perbandingan
Voltage deveider ( VD ) yaitu 1 : 10.000. Jadi jika mensetting KV sebesar
10 KV maka tegangan output pada voltage deveider harus menunjukkan
+ 1 volt ( untuk oscilloscop + ) dan 1 volt ( untuk oscilloscop - ). Karena
oscilloscop tidak dapat menerima tegangan tinggi maka tegangan yang
keluar harus di bandingankan oleh voltage deveider ( VD ).