Anda di halaman 1dari 2

Kelompok 3

Anggota : 1. Einhard Naibaho


2. Britty Datin H. A
3. Putri Auliya Almadhana

(E24130037 )
(E24130052)
(E24130053)

PERAN EKSTRAKTIF PADA JENIS KAYU AWET


Kayu ekstraktif adalah komponen non-struktural kayu. Mereka biasanya
berkonsentrasi di kayu teras dan sering dihasilkan oleh pohon hidup sebagai
senyawa defensif untuk lingkungan tekanan (Taylor etal., 2002). Kandungan
ekstraktif itu sangat bervariasi tidak hanya dari pohon ke pohon, tetapi juga dalam
bagian pohon (Scheffer dan Cowling, 1966). Penelitian ini menguji peran
ekstraktif untuk keawetan 9 jenis kayu dengan menghilangkan sebanyak ekstraktif
yang ada sebagai hasil dari pengujian dan pengukuran makanan rayap serta
tingkat banding kerusakan untuk pengujian tanpa diekstrak.
Bahan yang digunakan merupakan spesies yang awet berdasarkan uji coba
lapangan sebelumnya adalah pinus selatan [SYP] yang terpilih sebagai kontrol
non-awet. Selain itu, terdapat empat spesies konifer yaitu (Alaskan yellow cedar
Callitropsis nootkanensis [AYC], cedar merah timur Juniperus virginiana [ERC],
western juniper Juniperus occidentalis [WCJ], dan cedar merah barat Thuja
plicata [WRC]) dan empat jenis hardwood (Robinia pseudoacacia [BL], Prosopis
glandulosa [HM], paulownia Paulownia tomentosa [PAW], and catalpa Catalpa
spp. [CAT]). Metode yang digunakan adalah penentuan kayu bebas ektraktif
dengan menjadikan sepuluh potongan kubus kayu dengan ukuran milimeter
dipotong dari masing-masing 9 jenis kayu yang diuji. Blok diberi nomor dan
dikondisikan selama 1 minggu di 27C dan kelembaban relatif (RH) 30%
kemudian diekstraksi ASTM D1105-96. Potongan kayu yang dibilas dengan air
suling panas dan dibiarkan kering dalam semalam. Kemudian diekstraksi dan
dikondisikan selama 1 minggu serta ditimbang untuk menentukan ekstraktif yang
hilang. Jenis rayap yang digunakan rayap bawah tanah, Reticulitermes flavipes.
Berdasarkan bacaan tersebut, diperoleh SYP, BL dan AYC memiliki
penurunan berat sekitar 4%. PAW, HMand WRC memiliki persen tertinggi
penurunan berat sekitar dua kali lebih banyak dari SYP, BL dan AYC karena
ekstraktif yang dikandung lebih rendah. Rayap tanah lebih suka kayu yang
diekstraksi sebagai sumber makanan dibandingkan dengan kayu tidak terekstraksi
untuk setiap jenis kayu kecuali HM, dimana terlihat tingkat kematian rayap
setelah beberapa hari. Perbedaan penurunan berat secara signifikan (pada gambar
2) dan sampel yang tidak terekstraksi tidak menunjukkan penurunan berat. Baik
diekstraksi atau tidak terekstraksi kayu HM dikonsumsi oleh rayap dan hampir
semua rayap mati. Pengekstraksian WRC, PAW, AYC, dan SYP masing-masing
memiliki kerugian bobot tertinggi di 51, 44, 36, dan 31%.

Pada 24 bulan paparan di tanah, yang paling tahan lama untuk berada
ERC> WCJ> BL> HM> WRC> AYC sementara yang paling awet yang PAW
<SYP <CAT. PAW tidak tahan lama dalam penelitian ini bila terkena rayap. PAW
kurang awet dibandingkan SYP setelah ekstraksi dan paparan pembusukan. Rayap
mudah mengkonsumsi PAW yang diekstrak dengan tingkat sedikit lebih tinggi
dibanding SYP, meskipun tidak signifikan.
Kesimpulan yang dapat diambil dari bacaan ini adalah indeks keawetan
dengan literatur pada semua spesies secara alami awet. Studi menemukan HM dan
WRC juga sangat tahan lama selain BL, yang merupakan satu-satunya spesies
yang terdaftar sebagai sangat tahan di Wood Handbook (Clausen, 2010).
Komponen ekstraktif memberikan keawetan pada masing-masing jenis kayu