Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan
serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada
sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia berpikir untuk menemukan pemahaman atau
pengertian, pembentukan pendapat, dan kesimpulan atau keputusan dari sesuatu yagn dikehendaki.
Menurut J.S Suriasumantri, manusia-homo sapiens, makhluk yang berpikir. Setiap saat dari
hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang lahat, dia tak pernah berhenti berpikir. Hampir tak ada
masalah yang menyangkut dengan perikehidupan yang terlepas dari jangkauan pikirannya, dari soal
paling remeh sampai soal paling asasi.
Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, meemutuskan,
mengembangkan dan sebagainya. Secara ilmu pengtahuan (berdasarkan prinsip prinsip ilmu
pengetahuan. Atau menggunakan prinsip prinsip logis terhadap penemuan, pegnesahan dan
penjelasan kebenaran).
Untuk memperoleh pengetahuan ilmuiah dapat digunakan dua jenis pendekatan, yaitu
Pendekatan Deduktif dan Pendekatan Induktif. Pendekatan Deduktif merupakan prosedur yang
berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan
berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini
diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrument dan operasionalisassi.
Dengan kata lain untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori
tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks
pendekatan deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Berdasarkan uraian diatas nampak bahwa berpikir ilmiah, merupakan kebutuhan dasar
manusia untuk mempertahankan hidupnnya di muka bumi. Manusia diberi akal untuk berpikir,
bahkan untuk memikirkan dirinya sendiri. Namun demikian, berpikir yang benar adalah berpikir
melalui metode ilmiah, sehingga hasil akan benar pula. Oleh karena itu penting untuk dikaji sejauh
mana berpikir ilmiah melalui pendekatan alternatif ditinjau dari pendekatan ontology, epistemology
dan aksiologi sebagai bahan dari telaahan filsafat ilmu.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis memberikan perumusan masalah khususnya
yang berkenaan dengan kajian berpikir ilmiah. Untuk itu penulis merumuskan masalah, sebagai
berikut :

1. Bagaimna pengertian metode berpikir ilmiah ?


2. Bagaimana konsep pendekatan alternatif.
3. Bagaimana pendekatan alternatif dari sudut pandang ontologi, epistemologi dan aksiologi ?
C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk mendapatkan gambaran tentang sudut pandang
ontology, Epistemologi dan Aksiologi terhadap Pendekata Alternatif sebagai metode Berpikir
Ilmiah yang merupakan salah satu kajian mata kuliah Filsafat Ilmu. Sedangkan kegunaan dari
penulisan makalah ini adalah (I) untuk dapat lebih menetahui dan memahami pendekatan atlternatif
sebagai metode berpikir ilmiah khususnya tentang sejauh mana sudut pandang ontologi, epistemologi
dan aksiologi terhadap berpikir ilmiah dalam pendekatan alternative, (2) sebagai bahan kajian lebih
lanjut tentang berpikir ilmiah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Berpikir ILmiah
Berpikir merupakan proses bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal.
Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapi kebenrann disamping rasa dan
kehendak untuk mencapai kebaikan . Dengan demikian, ciri utama dari berpikir adalah adanya
abstraksi.
Maka dalam arti yang luas kita dapat mengatakan berpikir adalah bergaul dengan abstraksiabstraksi. Sedangkan dalam arti yang sempit berpikir adalah meletakkan atau mencarai hubungan
atau pertalian antara abstraksi abstaksi. secara garis besar berpikir dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu : bepikir alamiah dan berpikir ilmiah.
Berpikir ilmiah adalah landasan atau kerangka bepikir penelitian ilmiah. Untuk melakukan
kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat.
Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang
ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
1. Sarana Berpikir Ilmiah
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membentuk kegiatan dalam berbagai langkah
yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya juga diperlukan saranan tertentu pula.

Tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir
ilmiah tidak akan dapat melaksanakan kegitaan berpikir ilmiah yang baik. Untuk dapat
melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir ilmiah berupa : (1)
Bahasa Ilmiah, (2) Logika matematika, (3) Logika Statistika. Bahasa Ilmiah merupakan alat
komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa merupakan alat
berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah
kepada orang lain. Logika matematika mempunyai peran penting dalam berpikir Deduktif
sehingga mudah di ikuti dan dilacak kembali kebenarnnya. Sedangkan logika Statistika
mempunyai peran penting dalam berpikir Induktif untuk mencari konsep konsep yang berlaku
umum.
2. Metode Berpikir Ilmiah
Pada hakikatnya, berpikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran secara
deduktif dan induktif. Masing masing penalaran ini berkaitan erat dengan rasionalisme atau
empirisme. Memang terdapat beberapa kelemahan berpikir secara rasionalisme dan empirisme,
karena kebenaran dengan cara bepikir ini bersifat relative atau tidak mutlak. Oleh karena itu,
seorang sarjanaa atau ilmuwan haruslah bersifat rendah hati dan mengakui adanya kebenaran
mutlak tidak bisa dijangkau oleh cara berpikir mutlak yang bisa dijangkau oleh cara berpikir
ilmiah.
Untuk sampai kepada kebenaran yang dituju diperlukan adanya jalan atu cara. Jalan atau
cara itulah yang disebut metode. Dalam kamus Paedagogik disebutkan bahwa Metode ialah cara
bekerja yang tetap dipikirkan dengan seksama guna mencapai suatu tujuan.
Afanasyev, seorang filosof Rusia , dalam bukunya The Maxist Pholosphyy, menulis
bahwa Method in the road for a goal, the sun of definities priciples and ways of theoretical study
and practical activity. Metode atau cara yang dilalui oleh proses ilmu sehingga mencapai
kebenaran (ilmiah) bermacam-macam, tergantung kepada obyek atau sifat dan jenis ilmu itu
sendiri. Tetapi secara garis besar metode ilmiah biasanya terbagi kepada dua macam, yaitu :
Metode Induksi dan Metode Deduksi.
a. Metode Induksi
Metode Induksi adalah suatu cara penganalisaan ilmiah yang bergerak dari hal hal
yang bersifat khusus (individu) menuju kepada hal yang besifat umum(universal).
Jadi cara induksi dimulai dari penelitian tehadap kenyataan khusus satu demi satu
kemudian diadakan generalisasi dan abstraksi lalu diakhiri dengan kesimpulan umu.
Metode induksi ini memang paling banyak digunakan oleh ilmu pengetahaun,
utamanya
ilmu
pengetahuan
alam,
yang
dijalankan
dengan
cara observasidan eksperimentasi. Jadi metode ini berdasarkan kepada fakta fakta yagn
dapat diuji kebenarannya.

b. Metode Deduksi
Metode deduksi adalah dkebalikan dari induksi. Kalau induksi bergerak dari hal hal
yang bersifat khusus ke umum, maka metode deduksi sebaliknya, yaitu : bergerak dari hal
hal yang bersifat umum (universal) kemudian atas dasar itu ditetapkan hal hal yang bersifat
khusus.
Cara deduksi ini banyak dipakai dalam logika klasik Aristoteles, yaitu dalam
membentuk Syllogismeyang
menarik
kesimpulan
berdasarkan
atas dua premis
mayor dan minor sebelumnya. Contohnya yang paling klasik :
- Semua manusia bisa mati
- Socrates adalah manusia
- Jadi, Socrates bisa mati
Dari apa yang diuraikan diatas terlihat bahwa antara Induksi dan Deduksi ( meskipun
kelihataanya bertentangan) mempunyai kaitan yang erat. Kaitan itu dapat dilihat pada
kenyataan bahwa kesimpulan umum yang diperoleh dengan jalan Induksi (misalnya semua
logam dapat memulai bila dipanasi) dapat dijadikan sebagai titik tolak bagi analisa deduktif.
Seperti yang dikatakan oleh John Stuart Mill, dalam bukunya A system of logic , bahwa
setiap tangga besar didalam deduksi memerlukan deduksi bagi penyususn pikiran mengenai
hasil hasil eksperimen dan penyelidikan. Jadi kedua duanya bukan merupakan baigan
yang saling tepisah sebetulnya saling menyokong seperti aur dengan tebing.
Memang terdapat kritikan terhadap metode ilmiah ini, khususnya pada apa yang
disebut general truth, yaitu kesimpulan umum yang terdapat dari hasil penyelidikan atu
metode berpikir induktif. David Home, seorang filosof skotlandia, menekankan bahwa dari
sejumlah fakta betapun banyaknya dan betapun besarnya secara logis tidak pernah diperoleh
atau disimpulkan suatu kebenaran umu ( general truth). Alasannya, karena tidak pernah ada
keharusan logis bahwa fakta-fakta yang sampai sekarang selalu berlangsugn dengan cara yagn
sama, besok juga akan terjadi dengan sama pula. Misalnya, tidak ada kepastian logis bahwa
besok pagi matahari akan terbit dari timur. Sehingga dari kejadian kejadian masa lampau
tidak pernah dapat disimpulkan sesuatu pun tentang masa depan.
Kritikan ini pernah dijawab oleh Karl R. Popper, seorang filosof inggris abad XX ini,
dengan mengatakan bahwa sesuatu ucapan atau teori tidak bersifat ilmiah karena sudah
dibuktikan, melainkan karena dapat diuji (testable). Ucapan semua logam akan memuai
kalau dipanasi dapat dianggap ilmiah kalau dpat diuji dengan percobaan percobaan
sistematis untuk menyangkalnya. Dan kalau suatu toeri tetap tahan setelah diuji, maka berarti
bahwa kebenarannya diperkokoh (corroborasion). Makin besar kemungkinan untuk menguji
dan menyangkal suatu etori, makin koloh pula kebenarannya jika toeri itu bertahan terus.
Contoh yang sederhan, dengan observasi terhadap angsa angsa putih. Betapun besar

jumlahnya orang tidak samapi kepada toeri umum bahwa semua angsa berwarna putih.
Tetapi cukuplah satu observasi tehadap seekor angsa hitam untuk menyangkal toeri tadi.
Salaam hitam belum ditemuakan maka pernyataan semua angsa berwarna putih tetap
dianggap benar secara ilmiah.
B. Pendekatan Alternatif dalam metode berpikir ilmiah
Pendekatan penelitian dalam metode berpikir iliah pada hakikatnya dibagi dua kelompok
besar, yaiut pendekatan Deduktif dan pendekatan Induktif. Namun dala perkembanganya ada
pendekatan lain yang merupakan pendekatan gabungan dari dua pendekatan tersebut yang
dinamakan dengan pendekatan alternative ( pendekatan deduktif induktif )
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yagn mengguankan logika
untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat presmis yang
diberaikan. Dalam system deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dai satu kesimpulan.
Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu aygn umu ke
sesuatu yang khusus ( going from the general to the specific ).
Deduksi merupakan suatu cara penalaran dengan menggunakan kriteia atau suatu keyakinan
tertentu untuk mendapatkan suatu kesimpulan kasus khusus atu spesifik. Sebuah pernyataan yang
dianggap mewakili sebuah kebenaran atau setidaknya sesuatu yang dianggap benar yang
memiliki implikasi tertentu yang dapat diturunkan menjadi sebuah atau beberapa buah pernyataan
yang lebih spesifik dan khusus, merupakan pertimbangan nilai (value judgement) yang berisi satu
atau lebih premis menjelaskan cara yang seharusnya ditempuh. Sebagi contoh, premis yang
menyatakan bahwa laporan akuntasi (acconting report ) seharusnya didasarkan kapda pengukuran
nilai asset bersih yang bisa direaslisasikan ( net realizable value measurements of assets ) merupakan
premis dari toeri normative. Sebaliknya, teori deskriptif (descriptive theory) berupaya untuk
menemukan hubungan yang sebenarnya terjadi. Meskipun terdapat pengecualian, sistem deduktif
umumnya bersifat normatif dan pendekatan induktif umumnya berupaya untuk bersifat deskriptif.
Hal ini karena metode deduktif pada dasarnya merupakan system yagn tertutup dan non empiris yang
kesimpulannya secara ketat diddasarkan kepada premis. Sebaliknya, karena berupaya untuk
menemukan hubungan empiris, pendekatan induktif bersifat deskriptif.
Salah satu pertanyaan yang menarik adakah apakah temuan riset dapat bebas nilai ( value
free) atau neteral karena pertimbangan nilai sesunggunnya mendasari bentuk dan isi riset tersebut.
Meskipun riset empiris berupaya untuk deskriptif, penelitiannya tidak mungkin sepenuhnya bersikap
netral dengan dipilihnya suatu permasalahan yang akan diteliti dan dirumuskannya definisi konsep
yang terkait dengan permasalahan tersebut.
Perbedaan yang lebih mencolok antara system deduktif dan induktif adalah : kanduangan
atau isi (contents) teori deduktif kadang bersifat global (makro) sedangakn teori induktif umumnya
bersifat particularistik (mikro). Oleh karena premis sistem deduktif bersifat global. Sistem deduktif,
karena didasarkan kepada fenomena empiris umumnya relevan dengan permasalahan yang
diamatinya.

Meskipun perbedaan antara system deduktif dan induktif bermanfaat untuk maksud
pengajaran, dalam praktek riset pembedaan ini seringkali tidak berlaku. Dengan kata lain, keduanya
bukanlah pendekatan yagn saling bersaing tetapi saling melengkapi (complementary) dan sering kali
digunakan secara bersama. Metode induktif bisa digunakan untuk menilai ketapan
(appropriateness ) peremis yang pada mulanya digunakan dalam suatu system deduktif.
Proses riset sendiri tidak selalu emngikuti suatu pola yang pasti. Para peneliti sering kali
bekerja secara terbalik dari kesimpulan penelitain lainnya dengan mengembangkan hipoetsis baru
yang tampaknya cocok dengan data yang tersedia. Dalam konteks akutansi, riset Induktif bisa
membantu memperjelas hubungan dan fenomena yang ada dalam lingkuangn bisnis yang mendasari
prakatek akuntasi. Riset Iduktif tersebut pada gilirannya akan bermanfaat dalam proses pembuatan
kebijakan yang biasanya mengandalkan penalaran deduktif dalam menentukan aturan yang akan
diberlakukan.
C. Pendekatan Alternatif dari Sudut Pandang Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
1. Pendekatan Alternatif dari Sudut Pandang Ontologi
Ontologi adalah cabang filasafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan
dengan ilmu, landasan ontology mempertanyakan tentang objek yagn ditelaah olehilmu,
bagaimana wujud hakikinya, serta bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusia yang
berupa berpikir, merasa, dan mengindera yang membuahkan pengetahaun.
Objek telaah ontology tersebut adalah yang tidak telihat pada satu perwujudan tertentu,
yang membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat
setiap kenyataan yagn meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanya segala sesuatu
merupakan suatu segi dari kenayataan yang mengatasi semua perbedaaan antara bendabenda
dan makhluk hidup, antara jenis jenis dan indidvidu individu.
Pendekatan alternatif dari sudut pandang ontology, hal ini berarti pendekatan alterantif
dari sudut pandang filsafat yang membahas tentang hakikat pendekatan alterantif sebagai
pendekatan berpikir ilmiah. Dengan kata lain, dari sudut pandang ontology, pendekatan alterantif
dalam kajianany akan mempersoalkan eksistensi pendekatan lain dala prosses berpikir ilmiah
sesuai dengan cara - cara yagn digunakan oleh metode ilmih. Mempersoalkan hakikat alternatif
sebagai metode ilmiah dalam mencari kebenaran ilmih.
2. Pendekatan Alternatif dari Sudut Pnadang Epistemologi
Objek telaah episteologi adalah mempertanyakan bagaiman sesuatu itu data dan
bagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakan dengan yang lain. Jadi berkenaan dengan
situasi dan kondisi ruang serta waktu tentang sesuatu hal. Landasan epistemology adalah proses
apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logkia, etika, estetika, bagaimana cara dan
prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, serta apa defininya.
Epistmologi moral menelaah evaluasi epistemic tentang keputusan moral dan teori teori moral.

Pembicaraannya tentang pendekatan alternatif dari sudut pandang epistemologi, hal ini
berarti cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah pendekatan alteranatif yang sesuai
dengan kaidah kaidah ilmu pengetahuan sehinggga diperolehnya metode ilmiah. Dengan kata
lain, pendekatan alternative hendak dipahami secara rasional melalui metode ilmiah.
3. Pendekatan alternative dari Sudut Pnadang Aksionologi
Aksiologi adalah filsafat nilai. Aspek nilai din ada kaitannya dengan kategori : (1) baik dan
buruk; serta (2) indah dan jelek. Kategori nilai yang pertama diawah kajian filsafat tingkah laku
atau disebut etika, sedang kategori kedua merupakan objek kajian filsafat keindahan atu estetika.
Landasan aksiologis, dengan pertanyaan mendasar : untuk apa ilmu digunakan ?
bagimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah kaidah moral ? bagaiman
kaitan antara tekhnik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma
norma moral atau professional ?
Landasan aksiologi tentang pendekatan alternatif adalah berhubungan dengan eksistensi
pendekatan alternatif yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuannya.
Dengan perkataan lain, apa yang dapat dikaji oleh pendekatan alternatif adalah segi
pengembangan pendekatan alternatif itu terhadap peningkatan kualitas hidup manusia terhadap
kemanfaatan berpikir ilmiah yang dapat mengarahkan manusia terhadap nilai baik maupun
buruk.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Berpikir ilmiah dalam, sebagai proses untuk mencapai kebenaran ilmiah dikenal dua jenis cara
penarikan kesimpulan yaitu metode Induktif dan metode Deduktif. Pandangan pandangan
mengenai berpikir ilmiah, setiap waktu mengalami perubahan, sejalan dengan perjalanan konsep
berpikir manusia dalam tiap zaman. Tidak ada pengertian mutlak benar dan mutlak salah dalam
suatu ilmu pengetahuan ataupun filsafat yang senantiasa berkembang, yang akan
menyempurnakan suatu pengertian maupun gagasan.
2. Pendekatan alterantif adalah pendekatan yang menggabungkan pendekatan deduktif (deductive
approach) dan pendekatan induksi (inductive approach). Penelitian yang menggunakan
pendekatan alterantif pada hakikatnya bertujuan untuk menguji hipotesis merupakan penelittian
yang menggunakan paradigma kuantitatif kualitatif.

3. Dalam sudut pandang landasan filsafat, pendekatan alternative dapat dikelompokkan ke dalam tiga
bagian besar, yaitu onologi (metafisika), epistemology, dan aksiologi.
B. Rekomendasi Ilmiah
Kajian pendekatan alterantif dalam metode penelitian ilmiah, merupakan kajian yang
berkaitan dengan pendekatan deduktif deduktif. Dengan adanya perkembangan filsafat ilmu dalam
berpikir ilmiah dapatlah diambl sutau pelajaran bahwa itu semua berkat usaha gigih tokoh tokoh
filsafat dalam mencsari sumber dan kebenaran melalui kajian kajian ontology, epistomologi dan
aksiologi. Untuk itu diharapkan kepada penulis lain agar dikaji lebih lanjut kajian tentang pendekatan
alternatif dalam kajian filsafat ilmu.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, asmori, 2001 , Filsafat umum, Jakarta : Rajawali Pers
Achmad sanusi (1998), Filsasfat Ilmu, Toeri keilmuan dan Metode Penelitian, Bandung : Program Pasca
Sarjana IKIP Bandung
Branner, Julia. (2002) Memadu Metode Penelitain Kualitatif dan Kuantitiatif, Samarinda : pustaka
Pelajar
Capra, Fritjop, (1998), Titik Balik Peradaan : Sains Mayarakat dan Kebangkitan, Kebudayaan,
Terjemahan M. Thoyibi.Yogyakarta : Yayasan Bentang budaya
Endang Saefuddin Anshari, (1988), Dimensi Kreatif dalam Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina ilmu
Hanafi, Ahmad, 1990. Pengantar Filsafat Islam, Jakarta : Bulan Bintang
Hardiman, Budi F. 2004, Filsafat Modern, Jakarta : Gramedia
Hadiwijono, Harun, 1980, Sari Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta : Kanisius
Hassan, faud, Pengantar Filsafatt Barat, Jakarta : Pustaka Jaya
Himsworth, Harold (1997), Pengetahuan Keilmuan dan pemikiran filosofi, (terjemahan Achamda
Bimadja, PH.D ) , Bandung : ITB Bandung
.

Jammer, Max (1999), Einstern and Religion : Physics and Theology,New jersey : Princeton University,
Press
Kattsoff, L.O, 1992, Pengantar Filsafat, Yogyakarta : Tiara Wacana
Kuh, Thoma S, (200), The Structur of Scientific Revolution : Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains,
Terjemahan Tjun Surjaman,Bandung : Rosda).
Liang, Gie The, 1982, Dari Administrasi Ke Filsafat, Yogyakrata : Supersukses
M. Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarat : Tinta Mas
Magnis suseno, Franz, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis,Yogyakarta : Kanisius
Milton H, 2004. Peta filsafat : Pendekatan Kronolig dan Tematik,Jakarta : teraju
Noeng Muhadjir, (1996), Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi III,Yogyakarta, Rake Sarasin
___________, (1998), Filsafat Ilmu : Telaah Sistematis, Fungisonal Komparatif, Yogyakarata : Rake
sarasin
Peursen, Van, 2003, Menjadi Filsuf, Yogyakarta : Qalam
Redja Mudyahardjo, (2001), Filsafat ILmu Pendidikan : Suatu Pengantar, Bandung : Rosda
Ricahrd, Popkin H, 1986, Philosophy, London : Heinemman
Sidi Gazalba, (1973), Sistemaika Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang
Sudarto (1997) Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta : Raja Frafindo Persada. Tibawi, AL (1972),
Islamic Education, LONDON : LUzak & Company Ltd.
Sugiharto, Bambang, 1996, Posmodernisme : Tantangan Bagi Filsasfat, Jakarat : Gramedia
Titus, Harold. H (1959), Living Issues in Philosophy : An Introductory Book Of Reading, New York : The
Mac Millian Company
Zuhairini dkk. (1995), Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara

Definisi Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam
Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung
melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri
seseorang yang berupa pengertian-pengertian. Berpikir mencakup banyak aktivitas mental. Kita
berpikir saat memutuskan barang apa yang akan kita beli di toko. Kita berpikir saat melamun sambil
menunggu kuliah pengantar psikologi dimulai. Kita berpikir saat mencoba memecahkan ujian yang
diberikan di kelas. Kita berpikir saat menulis artikel, menulis makalah, menulis surat, membaca buku,
membaca koran, merencanakan liburan, atau mengkhawatirkan suatu persahabatan yang terganggu.
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Walaupun tidak bisa dipisahkan
dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak.
Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan
kehendak manusia. Memikirkan sesuatu berarti mengarahkan diri pada obyek tertentu, menyadari
secara aktif dan menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai wawasan tentang obyek
tersebut.
Berpikir juga berarti berjerih-payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau
mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Dalam berpikir juga termuat kegiatan
meragukan dan memastikan, merancang, menghitung, mengukur, mengevaluasi, membandingkan,
menggolongkan, memilah-milah atau membedakan, menghubungkan, menafsirkan, melihat
kemungkinan-kemungkinan yang ada, membuat analisis dan sintesis menalar atau menarik
kesimpulan dari premis-premis yang ada, menimbang, dan memutuskan.

Definisi berpikir ilmiah


1. Berfikir ilmiah adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis: masuk akal, empiris:
Dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung
jawabkan. (Hillway,1956).
2. Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan,
memutuskan, mengembangkan dsb. secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsipprinsip ilmu pengethuan. Atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap
penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. uripsantoso.wordpress.com
3. (Menurut Salam (1997:139)Pengertian berpikir ilmiah)

1.
2.

Proses atau aktivitas manusia untuk menemukan/ mendapatkan ilmu.


Proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan.
3.
Sarana berpikir ilmiah.
4.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah
dalam berbagai langkah yang harus ditempuh.
5.
Tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan
kegiatan berpikir ilmiah yang baik.
6.
Merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya dengan baik.
7.
Mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam
mendapatkan pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah
membantu proses metode ilmiah.
4. Berpikir merupakan kegiatan [akal] untuk memperoleh pengetahuan yang benar.
Berpikir ilmiah adalah kegiatan [akal] yang menggabungkan induksi dan deduksi.
(Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer(Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan,)
5. Berpikir ilmiah, yaitu berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang
lebih komplek disertai pembuktian-pembuktian. ( Menurut Kartono (1996, dalam
Khodijah, 2006:118)
6. Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/ pengembangan pikiran yang tersusun
secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah,yang sudah
ada (Eman Sulaeman)
7. Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus
sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan
yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.(wikipedia
bahasa indonesia, ensiklopedia bebas)
8. Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan,
memutuskan, mengembangkan dsb. secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsipprinsip ilmu pengethuan. Atau menggunakan prinsip-prinsip logisterhadap
penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran
9. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sasaran tertentu secara teratur
dan cermat (Jujun S. Suria Sumantri, 1984)
10. Berpikir ilmiah adalah metode berpikir yang di dasarkan pada logika deduktif dan
induktif (Mumuh mulyana Mubarak, SE)

PEMBAHASANA.
Pengertian Sarana Berpikir Ilmiah
Surisumantri (2009
:165), Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yangmembantu kegiatan ilmiah dalam
berbagai langkah yang harus ditempuh. Sarana ilmiah
merupakan suatu alat, dengan alat ini manusia melaksanakan kegiatan ilmiah. Pada saatmanusia
melakukan tahapan kegiatan ilmiah diperlukan alat berpikir yang sesuai dengantahapan tersebut.
Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya karena manusia berpikirmengikuti kerangka
berpikir ilmiah dan menggunakan alat-alat berpikir yang benar.Untuk mendapatkan ilmu
diperlukan sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir diperlukanuntuk melakukan kegiatan ilmiah
secara baik dan teratur. Sarana berpikir ilmiah ada empat,yaitu: bahasa, logika, matematika dan
statistika (Suriasumantri, 2009:167). Sarana berpikirilmiah berupa bahasa sebagai alat
komunikasi verbal untuk menyampaikan jalan pikirankepada orang lain, logika sebagai alat
berpikir agar sesuai dengan aturan berpikir sehinggadapat diterima kebenarannya oleh orang lain,
matematika berperan dalam pola berpikirdeduktif sehingga orang lain dapat mengikuti dan
melacak kembali proses berpikir untukmenemukan kebenarannya, dan statistika berperan dalam
pola berpikir induktif untukmencari kebenaran secara umum.
B.Tujuan Sarana Berpikir Ilmiah
Suriasumantri (2009:167), Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untukmemungkinkan kita
melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajariilmu dimaksudkan
untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisamemecahkan masalah kita
sehari-hari.Harus dibedakan antara tujuan mempelajari sarana ilmiah dan tujuan mempelajari

ilmu.Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah agar dapat melakukan kegiatan penelaahan
ilmiah.Untuk memaksimalkan kemampuan manusia dalam berpikir menurut kerangka berpikir
yang benar maka diperlukan pengetahuan tentang sarana berpikir ilmiah dengan baik pula.Manus
ia mempelajari ilmu agar dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yangterjadi dalam
kehidupannya. Manusia dapat meningkatkan kemakmuran hidupnya denganilmu yang telah
dipelajarinya.
C.Fungsi Sarana Berpikir Ilmiah
Suriasumantri (2009 :167), ... fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metodeilmiah, dan
bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kegiatan ilmiah secaramenyeluruh
dalam mencapai suatu tujuan tertentu (Suriasumantri, 2009:165). Keseluruhantahapan kegiatan
ilmiah membutuhkan alat bantu berupa sarana berpikir ilmiah.
Sarana berpikir ilmiah hanyalah alat bantu bagi manusia untuk berpikir ilmiah agar memperolehi
lmu. Sarana berpikir ilmiah bukanlah suatu ilmu yang diperoleh melalui proses kegiatanilmiah.
D. Bahasa Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lainnya adalah kemampuan
manusia berbahasa. Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,ter
masuk di dalamnya adalah kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah sangat berkaitan erat
dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir membantu untukmengkomunikas
ikan jalan pikiran kepada orang lain. Berpikir sebagai hasil kegiatan otakmanusia tidak akan ada
artinya apabila tidak diketahui oleh orang lain. Cara untukmengkomunikasikannya kepada orang
lain adalah menggunakan sarana bahasa.Bahasa merupakan lambang serangkaian bunyi yang
membentuk suatu arti tertentu(Suriasumantri, 2006:175). Bahasa merupakan pernyataan pikiran
atau perasaan sebagai alatkomunikasi manusia yang terdiri dari kata-kata atau istilah-istilah dan
sintaksis. Kata atauistilah merupakan simbol dari arti sesuatu, sedangkan sintaksis merupakan
cara menyusunkata-kata menjadi kalimat yang bermakna (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM,
2010:98).Suatu obyek dapat dilambangkan dengan bunyi tertentu. Misalnya, suatu alat
berbentukruncing yang diisi tinta dan digunakan untuk me
nulis dilambangkan dengan bunyi pena.Untuk melambangkan warna yang sama dengan darah
digunakan bunyi merah. Dari keduakata tersebut (pena dan merah) dapat dibuat sebuah
kalimat bermakna menjadi Andimembeli sebuah pena merah.
Bahasa mengandung unsur simbol, sesuatu yang diucapkan oleh manusia merupakankegiatan
memberi simbol terhadap suatu obyek nyata dalam dunia praktis. Agar simboltersebut dapat
memenuhi tujuan pembicara maka simbol tersebut harus diucapkan dengan bunyi tertentu yang
dapat didengar oleh orang yang dituju sehingga memudahkan pendengaruntuk
mengetahui dengan jelas obyek yang dimaksud oleh pembicara. Bunyi simbol suatuobyek tidak
harus sama antara ucapan dan makna yang dikandungnya, artinya makna suatuobyek dapat
diucapkan dengan kata yang berbeda untuk daerah atau komunitas yang berbeda.
Para anggota komunitas kelompok sosial menggunakan bahasa untuk dapat berinteraksi
satusama lainnya.
Bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dan sikap.
(Suriasumantri, 2009:175) Manusia dapat menyampaikan sesuatu yang dipikirkannya
kepadaorang lain dengan menggunakan bahasa. Orang lain dapat mengetahui dan
mempelajarisesuatu yang sedang dipikirkan dengan bahasa. Selain itu, manusia juga
dapatmengekspresikan sesuatu yang dirasakannya kepada orang lain. Orang lain dapat
mengetahuiseseorang sedang sedih atau senang melalui bahasa yang disimbolkan.Karya ilmiah

pada dasarnya merupakan kumpulan pernyataan yang mengemukakaninformasi tentang


pengetahuan maupun jalan pemikiran dalam mendapatkan pengetahuantersebut. Untuk mampu
mengkomunikasikan suatu pernyataan dengan jelas maka seseorangharus menguasai bahasa
yang baik. (Suriasumantri, 2009:182)Ketika manusia telah memperoleh suatu pengetahuan
melalui kegiatan ilmiah yangdilakukan, maka harus mengkomunikasikan hasil yang telah
diperoleh tersebut agar pengetahuannya dapat bermanfaat bagi kemakmuran umat manusia. Halhal yang harusdikomunikasikan tersebut meliputi jalan pemikiran untuk memperoleh
pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri. Pengkomunikasian tersebut dituangkan
dalam sebuah karya ilmiah.Penyusunan sebuah karya ilmiah menuntut kemampuan untuk
menguasai bahasa yang baikdan benar. Tanpa menguasai bahasa yang baik, tidak mungkin dapat
menyusun sebuah karyailmiah.
Sumarna (2008:134), Melalui bahasa manusia dengan sesama manusia lainnya dapatsaling
menambah dan berbagi pengetahuan yang dimilikinya. Bahasa menjadi sarana untuk
berbagi dengan sesama manusia. Seseorang dapat memberitahukan sesuatu yangdiketahuinya
kepada orang lain dengan menggunakan bahasa. Dalam proses berbagi tersebutmanusia
mengalami penambahan pengetahuan, menjadi mengetahui sesuatu yang semula belum
diketahui.Suriasumantri (2009:175), dalam komunikasi ilmiah menonjolkan fungsi
simbolik bahasa. Dalam komunikasi ilmiah proses komunikasi harus terbebas dari unsur emotif a
gar pesan yang disampaikan dapat diterima secara reproduktif, artinya sama dengan
pesan yangdikirimkan.Bahasa merupakan sarana komunikasi maka segala sesuatu yang berkaitan
dengankomunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti halnya berpikir sistematis dalam
memperolehilmu. Tanpa kemampuan berbahasa, seseorang tidak akan dapat melakukan kegiatan
ilmiahsecara sistematis dan benar
Dalam komunikasi ilmiah harus memperhatikan fungsi simbolik bahasa, karenakomunikasi
ilmiah dilakukan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuankepada orang lain.
Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik maka harus
menggunakan bahasa yang terbebas dari unsur emotif. Unsur emotif dalam bahasa hanya akanme
ngacaukan komunikasi ilmiah sehingga pesan yang disampaikan tidak dapat diterimadengan baik
oleh penerima. Komunikasi simbolik yang bebas dari unsur emotif dapatmencegah salah
informasi.Bahasa sebagai sarana ilmiah mempunyai kelemahan. Kelemahan tersebut
menurutSuriasumantri (2009:182-187) antara lain:a.
bahasa bersifat multifungsi, b.
bahasa memiliki arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yangmembangun
bahasa,c.
bahasa mempunyai beberapa kata yang memberikan arti yang sama, dand.
konotasi bahasa yang bersifat emosional.Keberadaan bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah
ternyata memiliki kelemahan-kelemahan yang melekat pada bahasa tersebut. Bahasa sulit
dilepaskan dari emosi dan sikapseseorang, sedangkan bahasa sebagai sarana ilmiah dituntut
untuk obyektif agar informasiyang dikomunikasikan dapat diterima dengan baik oleh orang lain.
Kelemahan berikutnyaadalah sulit untuk mendefinisikan suatu obyek dengan sejelas-jelasnya,
terkadang karenakeinginan untuk memberikan penjelasan yang detil tentang suatu obyek, yang
terjadi justrukomunikasi yang dilakukan terkesan bertele-tele dan menjadi tidak jelas.Kelemahan

bahasa juga dapat dilihat dari keberadaan beberapa kata yang yangmemiliki arti sama atau
sebaliknya beberapa arti cukup menggunakan satu kata saja. Selainitu, ada kelemahan bahasa
lain yaitu bahasa sulit dilepaskan dari emosional seseorang. Adamakna-makna tertentu yang
dapat ditambahkan pada makna sebenarnya sebagai akibatemosional seseorang.
E.Logika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Menurut Bakhtiar (2009:212), Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis, valid
dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai denganaturaaturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu.
Logika merupakan kumpulan kaidah-kaidah yang memberi jalan (
sistem)
berpikir tertibdan teratur sehingga kebenarannya dapat diterima oleh orang lain. Logika akan
memberi suatu ukuran (
norma
) yakni suatu anggapan tentang benar dan salah terhadap suatukebenaran. Ukuran kebenarannya
adalah logis (Sumarna, 2008:141).Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari tentang
asas, aturan, dan
prosedur penalaran yang benar. Dengan istilah lain logika sebagai jalan atau cara untuk mempero
leh pengetahuan yang benar (Susanto, 2011:143)Sebagai sarana berpikir ilmiah, logika
mengarahkan manusia untuk berpikir dengan benar sesuai dengan kaidahkaidah berpikir yang benar. Manusia dapat berpikir dengansistematis dan
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan menggunakan logika. Jikaingin melakukan
kegiatan berpikir dengan benar maka harus menggunakan kaidah-kaidah berpikir yang
logis. Logika juga dapat digunakan untuk membedakan antara proses berpikiryang benar dan
proses berpikir yang salah.Menurut Susanto (2011:146), ada tiga aspek penting dalam
memahami logika, agarmempunyai pengertian tentang penalaran yang merupakan suatu bentuk
pemikiran,
yaitu pengertian, proposisi, dan penalaran. Pengertian merupakan tanggapan atau gambaran yang
dibentuk oleh akal budi tentang kenyataan yang dipahami, atau merupakan hasil
pengetahuanmanusia mengenai realitas. Proposisi atau pernyataan adalah rangkaian dari
pengertian- pengertian yang dibentuk oleh akal budi atau merupakan pernyataan mengenai hubu
nganyang terdapat di antara dua buah term. Penalaran adalah suatu proses berpikir
yangmenghasilkan pengetahuan.Keberadaan ketiga aspek tersebut sangat penting dalam
memahami logika. Dimulai darimembentuk gambaran tentang obyek yang dipahami, kemudian
merangkainya menjadisebuah hubungan antar obyek, dan terakhir melakukan proses berpikir
yang benar untukmenghasilkan pengetahuan. Tiga aspek dalam logika tersebut harus dipahami
secara bersama-sama bagi siapapun yang hendak memahami dan melakukan kegiatan ilmiah.
Tanpamelalui ketiga proses aspek logika tersebut, manusia akan sulit memperoleh
danmenghasilkan kegiatan ilmiah yang benar.Terdapat dua cara penarikan kesimpulan melalui
cara kerja logika. Dua cara itu adalahinduktif dan deduktif. Logika induktif adalah cara
penarikan kesimpulan dari kasus-kasusindividual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum
dan rasional. Logika deduktifadalah cara penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum
rasional menjadi kasus-kasus yang bersifat khusus sesuai fakta di lapangan (Sumarna,
2008:150)Kedua jenis logika berpikir tersebut bukanlah dua kutub yang saling berlawanan
dansaling menjatuhkan. Kedua jenis logika berpikir tersebut merupakan dua buah sarana
yangsaling melengkapi, maksudnya suatu ketika logika induktif sangat dibutuhkan dan harus

digunakan untuk memecahkan suatu masalah, dan pada saat lain yang tidak dapatmenggunakan
logika induktif untuk memecahkan masalah maka dapat digunakan logikadeduktif. Seseorang
yang sedang berpikir tidak harus menggunakan kedua jenis
logika berpikir tersebut, tetapi dapat menggunakan satu logika berpikir sesuai dengan kebutuhan
obyek dan kemampuan individunya.
F.
Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal mempunyai banyak kelemahan, karena tidaksemua
pernyataan dapat dilambangkan dengan bahasa. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan bahasa
tersebut maka digunakanlah sarana matematika.Suriasumantri (2009
:191), Matematika
adalah bahasa yang berusaha untukmenghilangkan sifat kubur (
pen: kabur)
, majemuk dan emosional dari bahasa verbal.
Matematika sebagai sarana berpikir deduktif menggunakan bahasa artifisial, yaknimurni bahasa
buatan manusia. Keistimewaan bahasa ini adalah terbebas dari aspek emotifdan efektif serta jelas
terlihat bentuk hubungannya. Matematika lebih mementingkankelogisan pernyataanpernyataannya yang mempunyai sifat yang jelas (Tim Dosen FilsafatIlmu UGM,
2010:107).Dengan matematika, sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa
dapatdihilangkan. Lambang yang digunakan dalam matematika lebih eksak dan jelas, lambanglambang tersebut tidak bisa dicampuri oleh emosional seseorang, suatu lambang
dalammatematika jelas hanya mengandung satu arti sehingga orang lain tidak dapat
memberikan penafsiran selain dari maksud pemberi informasi. Misalnya, seseorang yang mengat
akan:
Saya punya satu orang adik perempuan, orang lain dapat menerima bahwa orang itu
mempunyai satu adik, tidak mungkin orang lain akan mempunyai penafsiran bahwa orang
itumempunyai dua atau tiga orang adik.
Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk
melakukan pengukuran secara k
uantitatif (Suriasumantri, 2009
:193). Matematika biasanyamenggunakan bahasa numeric yang menafikan unsur emosi, kabur
dan majemuk seperti yangterdapat dalam bahasa biasa. Melalui unsur ini, manusia dapat
melakukan pengukuran secarakuantitatif yang tidak diperoleh dalam bahasa yang selalu memberi
kemungkinanmenggunakan perasaan yang bersifat kualitatif (Sumarna, 2008:143).Matematika
memungkinkan untuk melakukan pengukuran yang jelas. Untukmembandingkan tinggi dua buah
obyek yang berbeda, misal pohon jagung dan pohonmangga. Dengan bahasa hanya dapat
dikatakan bahwa pohon mangga lebih tinggi dari pohon
jagung, tetapi tidak tahu dengan jelas berapa perbedaan tinggi kedua pohon tersebut.
Denganmatematika maka perbedaan tinggi kedua pohon tersebut dapat diketahui dengan jelas
dantepat. Misal, setelah diukur ternyata tinggi pohon jagung 100 cm dan tinggi pohon
mangga250 meter, maka dapat dikatakan bahwa pohon mangga lebih tinggi 150 cm dari
pohon jagung. Matematika memberikan jawaban yang lebih eksak dan menjadikan manusia dapa
tmenyelesaikan masalah sehari-harinya dengan lebih tepat dan teliti.Matematika sebagai sarana
berpikir deduktif, memungkinkan manusia untukmengembangkan pengetahuannya berdasarkan
teori-teori yang telah ada, misal, jumlah sudutsebuah lingkaran adalah 360

0
. Dari pengetahuan ini dapat dikembangkan, seperti besar sudutkeliling lingkaran sama dengan
setengah besar sudut pusat jika menghadap busur yang sama.
G.
Statistika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Suriasumantri (2009
:225), Statistika harus mendapat tempat yang sejajar dengan
matematika agar keseimbangan berpikir deduktif dan induktif yang merupakan ciri dari
berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan baik. Orang yang ingin mampu melaksanakan
kegiatan ilmiah dengan baik tidak boleh memandang sebelah mata terhadap
statistika.Penguasaan statistika sangat diperlukan bagi orang-orang yang akan menarik
kesimpulandengan sah. Statistika harus dipandang sejajar dengan matematika. Kalau
matematikamerupakan sarana berpikir deduktif maka orang dapat menggunakan statistika untuk
berpikirinduktif. Matematika dan statistika sama-sama diperlukan untuk menunjang kegiatan
ilmiahyang benar sehingga akan menghasilkan suatu pengetahuan yang benar pula.Suriasumantri
(2009:225),

Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untukmemproses pengetahuan secara


ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah makastatistika membantu kita untuk
melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatukejadian secara lebih pasti dan
bukan terjadai secara kebetulan.

Statistika sebagai sarana berpikir ilmiah tidak memberikan kepastian namun memberitingkat
peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan, dankesimpulannya
mungkin benar mungkin juga salah. Langkah yang ditempuh dalam logikainduktif menggunakan
statistika menurut Sumarna (2008:146) adalah: Observasi daneksperimen, memunculkan
hipotesis ilmiah,
verifikasi
dan pengukuran, serta sebuah teori danhukum ilmiah.Untuk mengetahui keadaan suatu obyek,
seseorang tidak harus melakukan pengukuransatu persatu terhadap semua obyek yang sama,
tetapi cukup dengan melakukan pengukuran
terhadap sebagian obyek yang dijadikan sampel. Walaupun pengukuran
terhadap sampeltidak akan seteliti jika pengukuran dilakukan terhadap
populasinya, namun hasil dari pengukuran sampel dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.Setelah melakukan observasi dan
eksperimen kemudian merumuskan suatu hipotesisuntuk dilakukan verifikasi
dan uji coba terhadap data dan keadaan yang sebenarnya dilapangan.
Berdasarkan pengkajian-pengkajian terhadap data dan keadaan di lapangan
tersebutdapat dirumuskan suatu kesimpulan yang nantinya menjadi
sebuah teori atau hukum ilmiah.Artinya, kesimpulan yang ditarik bukanlah
sesuatu yang kebetulan terjadi, tetapi telahmelalui tahap-tahap berpikir
tertentu dengan melibatkan data dan fakta yang terjadi dilapangan.