Anda di halaman 1dari 36

PROPOSAL LAPORAN AKHIR

Pengolahan Limbah Minyak Kelapa Sawit PT. Smart Tbk


Menggunakan Elektrokoagulasi secara Kontinyu

Disusun oleh:
1. Maulinda Eka Ayu Faradiba
2. Sinta Swastika Suwardi

(1231410057)
(1231410105)

DOSEN PEMBIMBING
Zakijah Irfin, S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2015
LEMBAR PERSETUJUAN

Judul Penelitian: Pengolahan Limbah Minyak Kelapa Sawit PT. Smart Tbk
menggunakan Elektrokoagulasi secara kontinyu
Nama

:Maulinda Eka Ayu Faradiba(NIM. 1231410057)


Sinta Swastika Suwardi

(NIM. 1231410105)

Tempat

: Laboratorium Riset Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Jurusan

: Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang

Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan pada ujian proposal Laporan Akhir.

Malang, 16 Maret 2014


Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Zakijah Irfin, S.T., M.T.


NIP. 19710227199802 2 001

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


PT.Smart Tbk adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan
minyak goreng dan margarin.Pada proses pengolahan minyak kelapa sawit PT.
Smart Tbk dilakukan beberapa tahap yaitu refinery, fraksinasi, dan filling. Dalam
unit refinerydi hasilkan limbah cair maupun limbah padat. Pada unit refinery
terdapat limbah padatdan limbah cair. Oleh pihak industry, limbah ini dikirim ke
bagian pengolahan limbah diluar PT. Smart Tbk.
Limbahcair adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik
industri maupun domestik. Dalam limbah industri, berupa cairan akan
mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut
atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan
peralatan, blowdown beberapa peralatan seperti kettle boiler dan sistem air
pendingin, serta sanitary wastes (.).Limbah cair yang dihasilkan dari proses
produksi PT. Smart Tbk, menurut pihak pabrik masih memungkinkan untuk
didaur ulang sebagai proses melalui pengolahan yang tepat.
Data hasil uji laboratorium limbah cair PT.Smart Tbk padatahun 2014
dinyatakan pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Hasil uji air limbah PT.Smart Tbk


Limbah
Cair

pH
5,86

TSS
1076 mg/L

TDS
Turbidity
1456 mg/L
213NTU
(Aditya dan Teddy, 2014)

Data tersebut ternyata masih jauh dari standar baku mutu limbah cair
peraturan perundangan keputusan Gubernur Jatim no.45 Tahun 2002. Hal ini
dapat dilihat pada tabel 1.2.

Tabel 1.2 Baku Mutu Limbah Cair Peraturan Perundangan Keputusan


Gubernur Jatim no.45 Tahun 2002
Limbah
Cair

pH
7,00

TSS
< 50 mg/L

TDS
< 250 mg/L

Turbidity
< 5 NTU

Untuk mencapai standar baku mutu tersebut,Aditya dan Teddy (2014), telah
melakukan percobaan pengolahan limbah cair pada unit refinerymenggunakan
metode elektrokoagulasi sistem batch menggunakan variabel berubah yaitu rapat
arus listrik (9 mA/cm2; 13.5 mA/cm2; 18 mA/cm2) ; jenis elektroda (Al,Fe,Zn dan
Cu); waktu proses (30menit,45menit,60menit) dan jarak antar elektroda
(1cm,2cm,3cm).
Pada percobaan tersebut diperolehhasil terbaikberdasarkan nilai pH TSS, TDS,
dan Turbidity menggunakan

elektrode aluminium,pH 7 (netral), jarak antar

elektroda sebesar 1 cm, .Hasil ujiterbaik air limbah PT. Smart Tbk menggunakan
metode elektrokoagulasi secara batchdapat dilihat pada tabel 1.3.
Tabel 1.3Hasil ujiterbaik air limbah PT. Smart Tbk menggunakan metode
elektrokoagulasi secara batch.
Limbah
Cair

pH
7,09

TSS
41 mg/L

TDS
Turbidity
281 mg/L
19 NTU
(Aditya dan Teddy, 2014)

Pada percobaan tersebutdiketahui hasil uji Aditya dan Teddy (2014) masih
belum memenuhi Baku Mutu Limbah Cair Peraturan Perundangan Keputusan
Gubernur Jatim no.45 Tahun 2002. Pada hasil uji tersebut, TDS dan Turbidity
masih terlalu tinggi, sehingga perlu dilakukan percobaan dengan variabel yang
berbeda. Variabel yang akan digunakan untuk percobaan kali ini yaitu perubahan
rapat arus listrik, perubahan luas plat dan penambahan jumlah plat. Mengacu pada
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dalam penelitian ini akan dilakukan
percobaan pengolahan limbah menggunakan metode elektrokoagulasi secara
kontinyu. Fungsi variabel berubahnya,

1.2 Ruang Lingkup Masalah

Pengolahan limbah minyak kelapa sawit PT. SMART Tbk. dengan metode
elektrokoagulasi skala laboratorium berguna untuk mengolah air limbah yang
mempunyai standart baku mutu. Pengolahan air limbah secara elektrokoagulasi
adalah menurunkan indikator pencemaran air limbah yaitu : COD, BOD, TSS,
TDS, kekeruhan, minyak mineral, pH, amonia bebas, nitrat, sulfida, fenol, sianida.
Sedangkan pada proses pengolahan secara elektrokoagulasi dipengaruhi oleh
beberapa hal yaitu : rapat arus, tegangan, jenis elektroda, jarak elektroda, luas plat,
dan waktu.
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini berdasarkan data-data yang diperoleh dari kondisi pabrik
maupun spesifikasi alat-alat yang akan digunakan. Untuk mempersempit ruang
lingkup penelitian, dilakukan pembatasan masalah. Pembatasan masalah tersebut
meliputi beberapa kondisi, yaitu :
a. Variabel tetap
Air limbah PT.Smart Tbk
Limbah perbandingan 1: 2
Waktu tinggal 60 menit
Jarak antar elektroda (1 cm)
Jenis elektroda (Al)
b. Variabel berubah
Rapat arus listrik (18 mA/cm2, ,)
Perubahan luas plat ( , , ,)
Penambahan plat (4 , 8, 12 )
1.4 Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah :
a. Bagaimana hasil parameter limbah (TSS, TDS, Turbidity) PT. Smart Tbk
menggunakan proses elektrokoagulasi secara kontinyu ?
b. Bagaimana pengaruh variabel laju alir, arus dan waktu terhadap masingmasing parameter (TSS, TDS, Turbidity) ?
c. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan 2 tujuan, meliputi tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum dari penelitian ini adalah menerapkan metode
elektrokoagulasi dalam proses pengolahan limbah cair dengan sistem kontinyu.
Penerapan metode ini diharapkan memberikan masukan terhadap pendidikan
pengolahan Limbah pada mahasiswa DIII.

Tujuan khusus dari penelitian ini meliputi : 1) mengetahui hasil parameter


limbah

(TSS,

TDS,

Turbidity)

PT. Smart

Tbk

menggunakan

proses

elektrokoagulasi secara kontinyu. 2) mengetahui pengaruh variabel laju alir, arus


dan waktu terhadap masing-masing parameter (TSS, TDS, Turbidity).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Limbah

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi


baikindustri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim,
disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus
(black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey
water).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999, limbah
didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan
manusia. Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif
terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.
Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak
dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis.Bila ditinjau
secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia senyawa organik dan senyawa
anorganik.Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat
berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia,
sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.Tingkat bahaya keracunan
yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
Karakteristik limbah antara lain :
1. Berukuran mikro
2. Dinamis
3. Berdampak luas (penyebarannya)
4. Berdampak jangka panjang (antar generasi)
2.2.

Limbah Cair

2.2.1. Definisi Limbah Cair


Air limbah juga dikenal sebagai sewage, mula-mula dari limbah
rumahtangga, manusia, dan binatang, tapi kemudian berkembang selain dari
sumber sumbertersebut, air limbah berasal dari kegiatan industri, run
off,infiltrasi air bawah tanah. Air limbah pada dasarnya 99,94 % berasal dari
sisakegiatan sedang 0,06 % berasal dari material terlarut oleh proses alam.
(Lin,S.2001)
2.2.2. Karakteristik Air Limbah
Karakteristik air limbah umumnya terbagi ke dalam fisika, kimia, danbiologi.
Sifat fisika, kimia, dan biologi air limbah adalah sangat penting untukkeperluan
desain, operasi, dan manajemen pengumpulan, pengelolaan, danpenimbunan air
limbah. Sifat fisika, kimia, dan biologi air limbah sangattergantung pada sumber
kegiatan penghasil air limbah tersebut, apakah itumasyarakat, industri, atau
komoditi lain.
2.2.3. Sifat Fisika Air Limbah
Temperatur dan zat padat pada air limbah adalah faktorpenting untuk proses
pengolahan air limbah. Temperaturmempengaruhi reaksi kimia dan aktivitas
biologi. Zat padat seperti Total Suspended Solid (TSS), Volatile Suspended Solid
(VSS), settleablesolid, mempengaruhi teknik pengoperasian dan ukuran
unitpengolahan. Zat padat terdiri dari material tersuspensi dan terlarutdalam air
dan air limbah. Zat padat terbagi kedalam beberapa fraksidengan konsentrasi
tertentu yang dapat berguna bagi prosespengolahan. Total Solid (TS) adalah
jumlah Total Suspended Solid(TSS) dan Total Dissolved Solid (TDS). Masingmasing dari TSS dan TDS dapat dibagi lebih lanjut menjadi fraksi volatil dan
campuran.Total solid adalah material tertinggal pada proses evaporasi setelah
pengeringan selama 1 jam. Total Suspended Solid adalah material yangtidak
tersaring. Total suspended solid adalah parameter penting untukpengolahan dan
sebagai standar acuan keberhasilan sistem pengolahan.
2.2.4. Sifat Kimia Air Limbah

Zat padat terlarut dan tersuspensi pada air limbah mengandung material
organik dan anorganik. Material organik terdiridari karbonat, lemak, minyak
surfaktan. grease, protein, pestisida,senyawa kimia pertanian lain, senyawa
organik volatile, dan senyawa kimia racun lain. Material anorganik terdiri dari
logam berat, nitrogen,phosphor, pH, alkanity, chloride, sulfur, dan polutan
anorganik lain. Material gas masing-masing CO2, N2, O2, H2S, CH4 juga
terdapat padaair limbah.
2.2.5. Sifat Biologi Air Limbah
Mikroorganisme yang terdapat pada air limbah adalah bakteri, jamur,
protozoa,

tumbuh-tumbuhan

mikroskopik,

binatang,dan

virus.

Banyak

mikroorganisme (bakteri, protozoa) berhubungan langsung dan menguntungkan


untuk proses pengolahan biologi air limbah (Lin, S. 2001).
2.3.

Pengolahan Limbah Cair


Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian
lingkungan.Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun
industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat
setempat.Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan
teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan
polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan
air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3
metode pengolahan:

pengolahan secara fisika

pengolahan secara kimia


pengolahan secara biologi

Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat
diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.

2.3.1.Teknologi Pengolahan Limbah Cair


Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah
tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan
apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Sebagai contoh,
Jakarta merupakan sebuah ibukota yang amat padat sehingga letak septic tank,
cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber air
tanah.Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa 285 sampel dari
636 titik sampel sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri coli. Secara kimiawi,
75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air minum yang
parameternya dinilai dari unsur nitrat, nitrit, besi, dan mangan.
Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan
yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk
terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, blowdown beberapa
peralatan seperti kettle boiler dan sistem air pendingin, serta sanitary wastes. Agar
dapat memenuhi baku mutu, industri harus menerapkan prinsip pengendalin
limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses produksi (in-pipe pollution
prevention) dan setelah proses produksi (end-pipe pollution prevention).
Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume
limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya.
Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk
menurunkan kadar bahan pencemar sehingga pada akhirnya air tersebut
memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan.
Tabel 2.1 Batasan Air Limbah Untuk Industri

Namun walaupun begitu, masalah air limbah tidak sesederhana yang


dibayangkan karena pengolahan air limbah memerlukan biaya investasi yang
besar dan biaya operasi yang tidak sedikit. Untuk itu, pengolahan air limbah harus
dilakukan dengan cermat, dimulai dari perencanaan yang teliti, pelaksanaan
pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau unit
pengolahan limbah (UPL) yang benar, serta pengoperasian yang cermat.
Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter
kualitas yang digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik.
Parameter organik merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam
limbah. Parameter ini terdiri dari total organic carbon (TOC), chemical oxygen
demand (COD), biochemical oxygen demand (BOD), minyak dan lemak (O&G),
dan total petrolum hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah

dapat dilihat dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna,
bau, dan potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah
dapat berupa senyawa organik atau inorganik.
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan
pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba
patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme
yang terdapat di alam.
Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik
kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang
sudah ditampilkan di tabel di atas. Setelah kontaminan dikarakterisasikan,
diadakan pertimbangan secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis,
keamanan, kehandalan, dan kemudahan peoperasian.
Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi yang tepat guna
sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah pertimbanganpertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau bahkan percobaan
skala laboratorium yang bertujuan untuk:
1. Memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses
yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah.
2. Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk
menentukan efisiensi pengolahan yang diharapkan.
3. Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk
penerapan skala sebenarnya.

2.3.2. Pengolahan Secara Fisika


Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air
buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang
mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu.
Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk
menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang
mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan.

Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan
mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.

Gambar 2.1 Skema Diagram Pengolahan Fisik


Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang
mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan
berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan
tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening)
dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).
Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk
mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan
untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar
tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan
dalam proses osmosa. Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan
untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik
terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air
buangan tersebut. Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan
untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk

menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat
mahal.
2.4.

Air Limbah Pabrik Kelapa Sawit


Pengelolaan air limbah pabrik kelapa sawit pada saat ini didominasi oleh
pengelolaan dengan menggunakan teknologi kolam limbah terbuka. Pengelolaan
ini menggunakan kolam anaerobik, kolam fakultatif dan kolam aerobik.Teknologi
ini diketahui mengeluarkan biaya yang besar untuk perawatan dan juga dalam
prosesnya menghasilkan gas metan sebagai gas rumah kaca yang dilepaskan bebas
ke atmosfir.Teknologi lain yang dikembangkan seperti kombinasi kolam limbah
dengan aplikasi air limbah pabrik kelapa sawit pada kebun kelapa sawit (land
application).Teknologi yang juga sudah berkembang adalah aplikasi air limbah
pabrik kelapa sawit sebagai penyiram tandan kosong pada proses pengomposan
tandan kosong kelapa sawit.
mengatakan bahwa kandungan air limbah minyak kelapa sawit pada kondisi
yang sama tanpa ada proses pencampuran dari luar memiliki karakteristik yang
hampir sama. Air limbah pabrik kelapa sawit adalah air limbah yang dikeluarkan
oleh pabrik kelapa sawit (PKS) yang umumnya terdiri dari kondensat rebusan,
buangan hydrocyclone dansepara- tor sludge. Sekitar 2.9-3.5 m3 air limbah kelapa
sawit dihasilkan setiap ton CPO yang dihasilkan. Air limbah pabrik kelapa sawit
kaya akan senyawa karbon organik dengan kandungan chemical oxygen demand
(COD) lebih dari 9 g/L dan kandungan nitrogen sekitar 0.2 and 0.5 g/L sebagai
ammonia nitrogen dan total nitrogen. Selain itu, Air limbah pabrik kelapa sawit
adalah senyawa koloid dengan kandungan air sebesar 95-96%, minyak sebesar
0.6-0.7% dan total solid 4-5% termasuk 2-4% suspended solids.Tabel 2.2.
menunjukkan karakteristik air limbah pabrik kelapa sawit.(Ngan ,2000)
Tabel 2.2. Karakteristik Air Limbah Pabrik Kelapa Sawit

2.5.

Emulsi Air-Minyak
Emulsi adalah gabungan dua atau lebih komponen yang tidak saling
melarutkan dengan salah satu cairan terdispersi di dalam cairan lainnya. Sebagai
contoh emulsi minyak dengan air. Jika minyak merupakan fase terdispersi dalam
larutan maka air merupakan fase pembawa. Sistem ini disebut emulsi minyak
dalam air.
Emulsi bisa berbentuk O/W ( oil in water ) W/O ( water in oil ) tergantung
dari rasio minyak terhadap air, kosentrasi elektrolit, jenis surfaktan, temperature
dan sebagainya. Surfaktan yang mudah larut dalam air cenderung membentuk
O/W sedangkan yang mudah larut ke minyak cenderung membentuk W/O.
Surfaktan ionok dengan HLB rendah diperkirakan membentuk W/O.

2.6.

Elektrolisis
Elektrolisis merupakan proses kimia yang mengubah energi listrik menjadi
energi kimia. Komponen yang terpenting dari proses elektrolisis ini adalah
elektroda dan elektrolit.
Elektroda yang digunakan dalam proses elektolisis dapat digolongkan menjadi
dua, yaitu:

Elektroda inert, seperti kalsium (Ca), potasium, grafit (C), Platina (Pt), dan
emas (Au).

Elektroda aktif, seperti seng (Zn), tembaga (Cu), dan perak


(Ag).

Elektrolitnya dapat berupa larutan berupa asam, basa, atau garam, dapat pula
leburan garam halida atau leburan oksida.
Kombinasi antara elektrolit dan elektroda menghasilkan tiga kategori penting
elektrolisis, yaitu:
1. Elektrolisis larutan dengan elektroda inert
2. Elektrolisis larutan dengan elektroda aktif
3. Elektrolisis leburan dengan elektroda inert
Pada elektrolisis, katoda merupakan kutub negatif dan anoda merupakan
kutub positif. Pada katoda akan terjadi reaksi reduksi dan pada anoda terjadi
reaksi oksidasi.
Sel Elektrolisis adalah sel yang menggunakan arus listrik untuk menghasilkan
reaksi redoks yang diinginkan dan digunakan secara luas di dalam masyarakat
kita. Baterai aki yang dapat diisi ulang merupakan salah satu contoh aplikasi sel
elektrolisis dalam kehidupan sehari-hari. Baterai aki yang sedang diisi kembali
(recharge) mengubah energi listrik yang diberikan menjadi produk berupa bahan
kimia yang diinginkan. Air, H2O, dapat diuraikan dengan menggunakan listrik
dalam sel elektrolisis. Proses ini akan mengurai air menjadi unsur-unsur
pembentuknya. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

2 H2O(l) > 2

H2(g) + O2(g)
Rangkaian sel elektrolisis hampir menyerupai sel volta. Yang membedakan
sel elektrolisis dari sel volta adalah, pada sel elektrolisis, komponen voltmeter
diganti dengan sumber arus (umumnya baterai). Larutan atau lelehan yang ingin
dielektrolisis, ditempatkan dalam suatu wadah. Selanjutnya, elektroda dicelupkan
ke dalam larutan maupun lelehan elektrolit yang ingin dielektrolisis. Elektroda
yang digunakan umumnya merupakan elektroda inert, seperti Grafit (C), Platina
(Pt), dan Emas (Au). Elektroda berperan sebagai tempat berlangsungnya reaksi.
Reaksi reduksi berlangsung di katoda, sedangkan reaksi oksidasi berlangsung di
anoda. Kutub negatif sumber arus mengarah pada katoda (sebab memerlukan
elektron) dan kutub positif sumber arus tentunya mengarah pada anoda.
Akibatnya, katoda bermuatan negatif dan menarik kation-kation yang akan
tereduksi menjadi endapan logam. Sebaliknya, anoda bermuatan positif dan

menarik anion-anion yang akan teroksidasimenjadi gas. Terlihat jelas bahwa


tujuan elektrolisis adalah untuk mendapatkan endapan di katoda dan gas di anoda.
Ada dua tipe elektrolisis, yaitu elektrolisis lelehan (leburan) dan elektrolisis
larutan. Pada proses elektrolisis lelehan, kation pasti tereduksi di katoda dan
anion pasti teroksidasi di anoda.
Tabel 2.3.Bagan reaksi-reaksi elektrolisis

Ketentuan reaksi pada sel elektrolisis :

Sel dengan elektrolit berupa cairan/lelehan/leburan


Katode : Kation langsung direduksi
Anode : Anion langsung dioksidasi

Sel dengan elektrolit berupa larutan

Katode :
Bila kation adalah logam yang berada di sebelah kiri H 2O pada
deret volta, maka yang direduksi adalah H2O.
Bila kation adalah logam yang berada di sebelah kanan H2O pada
deret volta, maka yang direduksi adalah kation tersebut.
Bila kation adalah asam (ion H+), maka yang direduksi adalah ion
(H+).

Anode :
Bila anion adalah sisa oksidasi asam (SO 4, NO3, CO3, PO4), maka
yang dioksidasi adalah H2O (elektrode inert).
Bila anion adalah ion-ion yang tidak mengandung oksigen, maka
yang dioksidasi adalah ion tersebut (elektrode inert).
Bila anion adalah basa (ion OH-), maka yang dioksidasi adalah ion
(OH-) (elektrode inert).
Bila menggunakan elektrode non-inert, maka yang dioksidasi
adalah elektrode tersebut.
Sel elektrolisis mempunyai dua elektrode yaitu katoda dan anoda.
Katoda,
1. Untuk ion-ion Na+, K+, Mg+, Ca2+, Al3+, Mn2+ tidak tereduksi, yang
tereduksi adalah pelarutnya yaitu H2O. Reakinya : 2H2O + 2e-
2OH- + H2(g). Hal ini tidak berlaku kalau ion-ion tersebut berasal
dari lelehan atau leburan garamnya, maka ion itu akan tereduksi.
2. Ion H+ akan tereduksi. Reaksinya : 2H+ + 2e- H2(g)
3. Ion lain selain 1 dan 2 dapat tereduksi. Misalnya Ag dan Cu.
Reaksinya : Ag+ + e- Ag(s) , dan Cu2+ + 2e- Cu(s)
Anoda,
1. Kalau anodanya inert atau tidak aktif (Pt, Au, C), maka yang akan
teroksidasi adalah :
a. Ion OH- akan teroksidasi.
Reaksinya : 4OH- 2H2O + O2 + 4eb. Io Cl-, Br-, I-, akan teroksidasi. Reaksi :
2Cl-Cl2 + 2e- ,
2Br- Br2 + 2e-,
2I- I2 + 2ec. Ion sisa asam oksi seperti SO42-, NO3-, tidak teroksidasi, yang
teroksidasi adalah pelarutnya yaitu H2O. Reaksinya : 2H2O 4H+
+ O2 + 4e-

d. Jika anodanya aktif seperti Cu dan Fe, dan lain-lain, maka


anodanya akan teroksidasi. Reaksinya : Cu Cu 2+ + 2e- dan Fe
Fe2+ + 2e2.7.

Hukum Faraday
Hukum Faraday mengenai elektrolisis adalah sebagai berikut: Berat (w)
logam yang terelektrolisis di permukaan katoda sebanding dengan jumlah muatan
yang dilewatkan (q, Coulomb) yang sebanding dengan kuat arus (I, Amper) di kali
waktu (t, detik), untuk jumlah muatan (It) berat logam yang terelektrolisis
sebanding dengan ekivalen massa Molar logam tersebut (M/nF)
Hukum Faraday mengenai elektrolisis di atas dapat dirumuskan dengan
persamaan sebagai berikut:

2.8.

Efesiensi Arus
Efisiensi arus didefinisikan sebagai perbandingan antara berat logam yang
terelektrolisis pada permukaan anoda dengan berat logam yang terelektrolisis
secara teoritik menurut hukum Faraday

2.9.

Rapat Arus
Rapat arus adalah arus yang diberikan pada elektroda (Anoda) di bagiarea
aktif elektroda tersebut. Besarnya dinyatakan dalam A/cm2. Rapatarus
menentukan laju pelepasan kation logam dari anoda dan produktifitasgelembung
udara (Hidrogen/Oksigen). Menurut Peter Holt,dkk,2006 menyatakan bahwa
kuantitasrapat arus yang digunakan padaproses elektrokoagulasi bervariatif dari
10A/m2 hingga 2000 A/m2 . Umumnya rapat arusyang digunakan pada interval 10
150 A/m2Perbedaan kuantitas rapat arus yangdigunakan tergantung pada
perbedaan kondisiaplikasi. Rapat arus tinggi dipilih bila aplikasimelibatkan proses
flotasi dengan dimensiproses yang besar. Sebuah analisis sitematikdibutuhkan
untuk mendifinisikandanmemperjelas hubungan antara rapat arusdengan faktorfaktor pemisahan yangdiinginkan.(Koparal and Ogutveren, 2002)
Monopolar dan bipolar
Pada konfigurasi monopolar semua elektroda dihubungkan dengang arus listrik
yang berasal dari sumber DC,yaitu dua elektroda dihubungkan dengan kutub
positif dan dua elektrode degan kutub negatif. Sedangkan pada konfigurasi bipolar
hanya satu elektrode yang dihubungkan dengan kutub postif dan satu elektrode
dihubungkan dengan kutub negatif.(Lee,2012)

Gambar 2.6. (a) Rangkaian Elektrode Monopolar dan (b) Rangkaian


Eleketrode Bipolar
Tabel 2.4. Perbedaan Monopolar dan Bipolar
Monopolar

Bipolar

Pada

power

substansial

supply

memiliki

secara Sedangkan bipolar tegangan antar


tegangan sel

berbeda

yang sama dari depan sampai merata,hal


belakang sel.

tidak
ini

terdistribusi
menyebabkan

bipolar membuthkan daya yang

Dilihat dari konsumsi energi yang lebih besar.


digunakan,dengan konsumsi energi Dengan konsumsi energi yang
yang

relatif

sama

monopolar relatif sama bipolar kurang baik

memberikan hasil yang lebih baik.

dan

efisien

dalam

penurunan

tingkat pencemaran.
Efek pH
Keasaman larutan mempunyai pengaruh terhadap kemudahanpembebasan
Hidrogen dan Oksigen, dengan berkurangnya keasamanpembebasan Hidrogen
maupun pembebasan Oksigen menjadi lebih mudah. Untuk mereduksi H+ menjadi
H2
pH = 0

2H+ + 2e

H2E = 0,00 volt

pH= 7

2H2O + 2e

2OH- + H2 E= -0,414 volt

pH= 14

2H2O + 2e

2OH- + H2 E= -0,828 volt

Untuk mengoksidasi O menjadi O2

2.10.

pH = 0

2H2O

O2 + 4H+ + 4e E = 1,225 volt

pH= 7

2H2O

O2 + 4H+ + 4eE= 0,815 volt

pH= 14

4OH-

O2 + 2H2O + 4e

E= 0,91 volt

Elektrokoagulasi
Koagulasidanflokulasiadalahmetodetradisionalpadapengolahan

limbah.Pada

proses

air

inibahankoagulanseperti

alum

atauferikloridadanbahanaditiflainsepertipolielektrolitditambahkandengandosisterte
ntuuntukmenghasilkanpersenyawaan

yang

berpartikelbesarsehinggamudahdipisahkansecarafisika.

Inimerupakan

dengantahap

area

yang

banyaksehinggamemerlukan

lahan

proses
yang

luasdanketersediaanbahankimiasecaraterusmenerus (continous). Sebuahmetode

yang lebihefisiendanmurahuntukmengolah air limbahdenganjenispolutan yang


bervariatifsertameminimisasibahanaditifadalahdiperlukandalammanagemenkeberl
anjutan

air.Elektrokoagulasiadalahmetodepengolahan

yang

mampumenjawabpermasalahantersebut.
Proses

elektrokoagulasiterbentukmelaluipelarutanlogamdarianoda

yang

kemudianberinteraksisecarasimultandengan ion hidroksidan gas hydrogen yang


dihasilkandarikatoda.

Elektrokoagulasitelahadasejaktahun

1889

yang

dikenalkanolehViketal
denganmembuatsuatuinstalasipengolahanuntuklimbahrumahtangga(sewage).Tahu
n 1909 di United Stated, J.T. Harries telahmematenkanpengolahan air
limbahdengansystemelektrolisismenggunakananodaalumuniumdanbesi. Matteson
(1995)

memperkenalkan

Electronic

Coagulatordimanaaruslistrik

diberikankeanodaakanmelarutkanAlumuniumkedalamlarutan
kemudianbereaksidengan

ion

yang
yang

hidroksi

(darikatoda)

membentukaluminiumhidroksi.
Hidroksimengflokulasidanmengkoagulasipartikeltersuspensisehinggaterjadi
proses pemisahanzatpadatdari air limbah. Proses yang miripjugatelahdilakukan di
Brittaintahun

1956

(Matteson

et

al.,

1995)

hanyaanoda

yang

digunakanadalahbesidandigunakanuntukmengolah air sungai.

Gambar 2.2. Rangkaian Proses Elektrokoagulasi


Sekaranginielektrokoagulasitelahdipasarkanolehbeberapaperusahaan
beberapanegara.Bermacam-macamdesaintelahdibuatnamuntakada
dominan.Seringnya
elektrokoagulasidigunakanuntukmenggantikanbahankimiadanjarang

di
yang
unit
yang

memanfaatkan

gas

hydrogenuntuk

proses

flotasi.

Sebuaharus

dilewatkankeelektrodalogammakaakanmengoksidasilogam
(M+),

tersebutmenjadilogamkation

yang
(M)

sedangkan

air

akanmengalamireduksimenghasilkan gas hidrogen (H2) dan ion hidroksi (OH-).


Kationmenghidrolisis

di

dalam

air

membentuksebuahhidroksidenganspesiesdominan yang tergantungpadakondisi pH


larutan.Kationbermuatantinggimendestabilisasibeberapapartikelkoloiddenganmem
bentukpolivalenpolihidroksikomplek.Senyawakomplekinimempunyaisisi

yang

mudahdiadsorbsi, membentukgumpalan (aggregates) denganpolutan. Pelepasan


gas

hydrogenakanmembantupencampurandanpembentukanflok.

Flok

yang

dihasilkanoleh gas hydrogenakandiflotasikankepermukaanreaktor.


Ada beberapamacaminteraksispesiesdalamlarutanpada proses elektrokoagulasi,
yaitu:
1.Migrasikeelektroda

yang

bermuatanberlawanan

(electrophoresis)

danpenggabungan (aggregation) untukmembentuksenyawanetral.


2.Kationatau ion hidroksi (OH-) membentukendapandenganpolutan.
3.Logamkationberinteraksidengan
OHmembentukhidroksi,

yang

mempunyaisisi yang mengadsorbsipolutan (bridge coagulation)


4.Hidroksimembentukstrukturbesardanmembersihkanpolutan

(sweep

coagulation)
5.Oksidasipolutansehinggamengurangitoxicitinya
6.Penghilanganmelaluielektroflotasidanadhesigelembungudara.
Proses
inidapatmengambillebihdari

99%

kationbeberapalogamberatdandapatjugamembunuhmikroorganismedalam
Proses

inijugadapatmengendapkankoloid-koloid

bermuatandanmenghilangkan

ion-ion

lain,

yang

koloid-koloid,

danemulsi-

emulsidalamjumlah yang signifikan. (Renk, 1989)


Koagulasiadalahsalahsatuoperasifisiokimiaterpenting
digunakandalampengolahan

air.

yang

air.Iniadalahsebuah

proses

yang

digunakanuntukdestabilisasidanpenggumpalanpartikelpartikelkecilmenjadipartikel yang lebihbesar. Kontaminan-kontaminan air seperti


ion-ion

(logamberat)

dankoloid

(organicdananorganik)

terdapatdalamlarutanutamanyadisebabkanolehmuatanlistrik.Molekulkoloiddapatdi
destabilisasidengancaramenambahkan

ion-ion

muatannyaberlawanandenganmuatankoloidtersebut

(Benefield,

yang
et

al.,1982).

Destabilisasikoloidtersebutakanmenghasilkanflokdankemudiandipisahkandenganf
lotasi, sedimentasidan/ataufiltrasi.

Gambar 2.4. Rangkaian Alat Elektrokoagulasi


Koagulasidapatdiperolehdengancarakimiamaupunlistrik.
Koagulasikimiawisekaranginimenjadikurangdiminatikarenabiayapengolahan yang
tinggi,

menghasilkan

volume

lumpur

yang

besar,

pengelompokanlogamhidroksidasebagailimbahberbahaya,
danbiayauntukbahankimia

yang

membantukoagulasi.Koagulasikimiawitelahdigunakanselamapuluhantahununtukm
endestabilisasisuspensedanuntukmembantupengendapanspesieslogamyangterlarut.
Alum, lime, dan/ataupolimer-polimer lain adalahkoagulan-koagulankimia yang
seringdigunakan.

Proses

ini,

bagaimanapun,

cenderungmenghasilkansejumlahbesarlumpurdengankandunganikatan
tinggi

yang

dapatmemperlambat

proses

air

filtrasidanmempersulit

yang
proses

penghilangan air (dewater). Proses inijugacenderungmeningkatkankandungan


TDS

dalameffluent,

sehinggamenyebabkan

proses

initidakdapatdigunakandalamaplikasiindustri.(Benefield, 1982)
Elektrokoagulasi seringkali dapat menetralisir muatan-muatan partikel dan ion,
sehingga bisa mengendapkan kontaminan-kontaminan, menurunkan konsentrasi
lebih rendah dari yang bisa dicapai dengan pengendapan kimiawi, dan dapat
menggantikan dan/atau mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia yang mahal
(garam logam, polimer). Meskipun mekanisme elektro-koagulasi mirip dengan
koagulasi kimiawi dalam hal spesies kation yang berperan dalam netralisasi
muatan-muatan permukaan, tetapi karakteristik flok yang dihasilkan oleh elektrokoagulasi berbeda secara dramatis dengan flok yang dihasilkan oleh koagulasi
kimiawi.

Flokdarielektrokoagulasicenderungmengandungsedikitikatan

lebihstabildanlebihmudahdisaring

air,

(Woytowich,

1993).Setelahpengolahandengancaraelektrokoagulasiinidapatdilanjutkandenganpe
ngolahanfisiksecaraflotasi.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses elektrokoagulasi ini antara
lain :
a) Kuat Arus
Pengolahan limbah nikel dengan rapat arus 40, 50, 60, dan 70
mA/cm2 menghasilkan penurunan kontaminan nikel sebesar 95% dan
Cu sebesar 98% pada rapat arus 70 mA/cm 2. Ini dikarenakan rapat arus
merupakan elektron yang berpindah setiap satuan luas. Sehingga
semakin besar rapat arus maka elektron yang berpindah maka semakin
besar, hal ini akan menyebabkan pembentukan koagulan yang terbentuk
akan semakin banyak. Menurut Koparal and Ogutveren, 2002
umumnya rapat arusyang digunakan pada interval 10 150
A/m2Perbedaan kuantitas rapat arus yangdigunakan tergantung pada
perbedaan kondisiaplikasi.(Rachmanita,2010)
b) Jenis Elektrode
Pada penelitian yang dilakukan ada 3 elektrode yang digunakan
yaitu Fe, Zn, serta Al. Setiap jenis elektrode ini memberikan pengaruh
yang berbeda-beda. Hasil terbaik pada penelitian ini di dapat pada
logam Al dengan penurunan TSS sebesar 95,3%, sedangkan untu Fe
terjadi penurunan sebesar 94,39% dan Zn sebesar 91,96%. Penggunaan
jenis elektrode ini dipengaruhi kereaktifan logam serta pembentukan
koagulan untuk mengikat kotoran yang ada.(Husni,2010)
c) Waktu
Percobaan elektrokoagulasi dengan variasi waktu 10, 15, 20, 25.
dan 30 menit. Dalam elektrokoagulasi semakin lama waktu proses
maka penurunan parameter pencemaran akan semakin baik. Ini juga
sesuai hukum faraday yang menyatakan semakin lama waktu proses
maka akan semakin banyak koagulan yang terbentuk. Semakin banyak
koagulan yang terbentuk maka semakin baik penurunan parameter
pencemaran.(Mining,2010)
d) Jarak
Pada penelitiannya menggunakan variasi jarak 0,5 ,1,5 dan 2,5 cm.
Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa jaraak 0,5 cm
memberikan hasil terbaik untuk penuruan parameter TSS sebesar 81,73

%. Jarak memepengaruhi hambatan listrik yang terbentuk,semakin


besar jarak maka semakin besar hambatan listrik yang terbentuk.
(Evy,2011)

2.12.

Mekanisme dan Reaksi pada Elektrokoagulasi

Gambar

2.5.

Mekanisme proses Elektrokagulasi


Mechanism 1 :
Anode : Fe (s) Fe2+ (aq) + 2eFe2+(aq) + 2 OH-(aq) Fe(OH)2 (s)
Cathode : 2 H2O (l) + 2e- H2(g) + 2 OH-(aq)
Overall : Fe (s) + 2 H2O (l) Fe(OH)2 (s) + H2 (g)
Mechanism 2 :
Anode : 4 Fe (s) 4 Fe2+(aq) + 8 e
4 Fe2+(aq) + 10 H2O (l) + O2 (g) 4 Fe(OH)3 (s) + 8 H+(aq)
Cathode : 8 H+(aq)+ 8 e 4 H2 (g)
Overall : 4 Fe (s) + 10 H2O (l) + O2 (g) 4 Fe(OH)3 (s) + 4 H2 (g)
Dalam reaktor elektrokoagulasi yang merupakan sel elektrokima,
dimana dalam reaktor tersebut disusun elektroda-elektroda yang akan
kontak dengan air yang akan diolah. Elektroda dalam proses
elektrokoagulasi merupakan salah satu alat untuk menghantarkan atau
menyampaikan arus listrik ke dalam larutan agar larutan tersebut terjadi
suatu reaksi (perubahan kimia). Elektroda tempat terjadinya reaksi reduksi

disebut katoda, sedangkan tempat terjadinya reaksi oksidasi disebut anoda


(Prabowo, 2011).
Menurut Susetyaningsih (2008), pada katoda, ion H+ dari suatu asam akan
direduksi menjadi gas hidrogen yang akan bebas sebagai gelembung-gelembung
gas.
2H+ +2e
H2 .. (1)
Larutan yang mengalami reduksi adalah pelarut (air) dan terbentuk gas
hidrogen (H2) pada katoda
2H2O+2e2OH-+.... (2)
Pada Anoda yang biasanya terbuat dari logam alumunium akan mengalami
oksidasi
Alo+3H2O
Al(OH)3+3... (3)
Ion OH dari basa akan mengalami oksidasi membentuk gas oksigen (O2)
4OH2H2O+ O2+4e . (4)
Jika dalam larutan limbah mengandung ion-ion logam lain maka ion-ion logam
akan direduksi menjadi logamnya dan terdapat pada batang katoda.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Dalam penelitian kali ini kami melakukan eksperimen terhadap
limbah cair minyak kelapa sawit air dimana dalam eksperimen tersebut
bertujuan untuk memisahakan asam lemak dengan air. Pemisahan ini
menggunakan metode elektrokoagulasi. Teknik pengumpulan data pada
penelitian ini yaitu dengan melakukan uji terhadap limbah dengan
berbagai variable seperti kuat arus, jenis elektrode dan jarak elektrode.
Dari teknik pengumpulan data tersebut akan didapatkan sejumlah data
yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana hubungan dari masing
masing variable terhadap kandungan air yang dihasilkan. Untuk proses
penyimpulan hasil penelitian bisa didapatkan melalui analisis data berupa
grafik atau table.
3.2 Alat dan Bahan
Perlatan yang digunakan antara lain :

Gambar 3.1 Elektrokoagulator Monopolar

Corong
Selang
Beaker 500ml,1000ml dan 2000ml
Erlenmeyer 300ml
Turbiditymeter
Pipet ukur 10ml,25ml,100ml
Botol aquadest
penjepit
Oven

Desikisator
Neraca analitik
Cawan
Tanur
Oven
Kulkas
Kuvet
Spektrofotometri

Bahan yang digunakan :

Limbah cair PT.Smart Tbk


Aquadest
Kertas Saring Whatman ukuran ..
Plat aluminiumukuran .

3.3 Prosedur
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut :
Langkah kerja penggunaan alat elektrokoagulasi :
1. Siapkan elektrode yang akan digunakan pada proses elektrokoagulasi
2. Pasang elektrode yang akan digunakan ke penjepit elektrode pada bak
elektrokoagulasi
3. Atur jarak elektrode sebesaar 1 cm
4. Isi bak dengan air limbah dan air sebesar 15 liter dengan perbandingan
1:2 campuran air limbah.
5. Tancapkan kabel daya pada stop kontak
6. Pada power supply tekan tombol on yang ada dibelakang
7. Atur rapat arus dan volt sebesar 18A
8. Catat waktu pengambilan sampel selama 30 menit
9. Ulangi point 1 8 dengan variabel berbeda (rapat arus yang
digunakan, jarak elektrode dan luas plat )
10. Hasil dan analisa data

Tahapan Persiapan

Pengambilan sampel dilakukan untuk tahap awal persiapan,sampel limbah cair


yang diambil sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya itu plat logam-logam yang
akan digunakan dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel dengan

menggunakan kertas gosok. Setelah plat logam bersih dari kotoran,plat logam
dicuci dengan air serta sabun. Kemudian logam dipanaskan untuk menghilangkan
kandungan minyak yang terdapat dalam logam. Langkah terakhir dalam tahap
persiapan ini adalah membilas plat dengan aquadest serta diusap dengan tisu
bersih.

Tahap Pengolahan

Sampel dimasukan ke dalam alat elektrokoagulasi sesuai kebutuhan. Plat


logam yang telah dibersihkan disambungkan ke retifier sesuai dengan anoda dan
katoda. Setelah terpasang,plat dicelupkan bagian ke dalam alat yang telah terisi
sampel. Kemudian mengatur variabel-variabel yang telah ditentukan untuk
didapatkan data serta hasil dari pengolahan.

Analisa Hasil

A. Penentuan TSS (Total Suspended Solid)


1. Penimbangan kertas saring kosong
Menyiapkan kertas saring yang akan digunakan kemudian dibilas dengan
air aquadest untuk membersihkan dari partikel-partikel halus pada kertas
saring. Selanjutnya kertas saring ditempatkan pada tempat khusus kertas
saring untuk menghindarkan kontak antara kertas saring dengan tangan.
Kertas saring kemudian dikeringkan dalam oven dengan temperature 105 0C
selama 60 menit. Kemdian kertas saring yang telah dipanaskan didinginkan
dalam desikator selama 10 menit. Setelah 10 menit kertas saring ditimbang
dengan neraca analitik.
Air hasil pengolahan selanjutnya disaring dengan kertas saring
yang telah ditimbang. Residu yang tertahan pada saringan dikeringkan sampai
mencapai berat konstan pada suhu 103C sampai dengan 105C. Kenaikan berat
saringan mewakili padatan tersuspensi total (TSS). Jika padatan tersuspensi
menghambat saringan dan memperlama penyaringan, diameter pori-pori saringan
perlu diperbesar atau mengurangi volume contoh uji. Untuk memperoleh estimasi
TSS, dihitung perbedaan antara padatan terlarut total dan padatan total.
TSS (mg/L) = (A-B) X 1000 / V
Dengan pengertian
A = berat kertas saring + residu kering (mg)

B = berat kertas saring (mg)


V = volume contoh (mL)
B. Penentuan TDS (Total Dissolve Solid)
1.

Pengambilan dan pengawetan sampel


Sampel

harus

representatifdengan

cara

pengambilannya

yang

benar.Botol sampel yang digunakan sebelumnya harus dicuci hingga


bersih dari sisa-sisa sampel kemudian dibilas dengan air suling. Sampel
dapat diawetkan beberapa hari tanpa mempengaruhi hasil analisa, dan
sebaiknya sampel tersebut disimpan dalam kulkaspada suhu sekitar 2-4 oC.
Perlu diperhatikan bahwa setelah beberapa hari zat padat organis dapat
terlarut sedangkan zat padat koloidal dapat membentuk partikel-partikel
yang lebih besar.Oleh karena itu sampel air yang telah disimpan harus
dianalisis sebelum 7 hari setelah pengambilan sampel dilakukan. Sebelum
dianalisa, sampel dikocokterlebih dahulusehingga zat-zat yang terkandung
di dalamnya tersebar merata dan homogen.
2.

Persiapan Cawan
Cawan penguapan dibersihkan kemudian dipanaskan dalam tanur pada suhu

550oC selama 1 jam. Kemudian dipindahkan ke dalam oven dengan suhu 105 oC
menggunakan penjepit cawan. Selanjutnya didinginkan di dalam desikator dan
timbang segera pada saat akan digunakan.
3.

Penentuan Zat Padat Terlarut


Sampel dikocokhingga homogen dan dipipet sebanyak 100 mL dan dilakukan

penyaringan menggunakan corong gelas. Sampel yang lolos dari kertas saring
dituangkan ke dalam gelas kimia. Selanjutnya, cawan yang berisi sampel tersebut
diuapkan dan dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC sampai semua air
menguap. Setelah itu cawan dikeluarkan dari oven menggunakan penjepit cawan
untuk didinginkan dalam desikator dan ditimbang segera dengan neraca analitik
hingga diperolehberat konstan.
TDS (mg/L) = (A-B) X 1000 / V

Dengan pengertian
A = berat kertas saring + residu kering (mg)
B = berat kertas saring (mg)
V = volume contoh (mL)
C. Penentuan Turbidity
1. Persiapan
Pertama nyalakan tombol power kemudian biarkan alat menyala selama 5
menit. Selanjutnya tuangkan 5ml sample ke dalam kuvet dan tutup rapat.
Setelah itu miringkan kuvet untuk membersihkan bagian dalam kuvet. Buang
cairan sample yang ada di dalamnya. Ulangi 1x lagi untuk pencucian kuvet.
Setelah dicuci isi kuvet dengan sample. Kemudia tutup kuvet dengan rapat
sebelum

membersihkan

bagian

luarnya.

Terakhir

bersihkan

bagian

luar/dinding kuvet dengan kain halus dan alkohol. Hindari memegang bagian
dinding kuvet karena akan mempengaruhi pembacaan.

3.4 Skema Kerja


Pengenceran air limbah

Elektrokoagulasi
Arus listrik (18mA/cm2, , )
Perubahan luas plat ( , , )
Penambahan plat ( , , )
Elektroda Alumunium
Jarakantar elektroda 1cm
Waktu proses 60menit

Hasil samping (Air)

Hasil bawah
(sludge)

Hasil Atas (Flok / Cake)

Analisis berdasarkan variabel berubahTSS, TDS,


Turbidity

Gambar 3.1 Skema Kerja


3.5 Variabel Percobaan
Variable yang digunakan pada penelitian pengolahan air hasil sirkulasi
kondensasi vacuum PT.Smart Tbk. adalah :
d. Variabel tetap
Air limbah PT.Smart Tbk
Limbah perbandingan 1: 2
Waktu tinggal 60 menit
Jarak antar elektroda (1 cm)
Jenis elektroda (Al)
e. Variabel berubah
Rapat arus listrik (18 mA/cm2, ,)
Perubahan luas plat ( , , ,)
Penambahan plat ( ,, )

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Pada penelitian pemisahan asam lemak dari air dengan metode
elektrokoagulasi ini, data yang di ambil adalah analisa dari penggunaan
kuat arus,jenis elektrode dan jarak antar elektrode beserta hubungan dari
ketiganya.Pengumpulan data ini akan disediakan dalam bentuk tabel dan
grafik untuk mengetahui pengaruh variabel dengan penurunan TSS,TDS,
Turbidity pada air limbah.

BAB IV
TEMPAT DAN WAKTU PELAAKSANAAN
4.1 Tempat Pelaksanaan Laporan Akhir
Tempat pelaksanaan laporan akhir : Laboratorium jurusan TEKNIK KIMIA
Politeknik Negeri Malang
4.2 Waktu Pelaksanaan Laporan Akhir
Bulan Maret Juni
4.3 Jadwal Pelaksanaan
Bulan
April

Mei

Juni

Minggu ke1
2
3
4
1
2
3
4
1

Kegiatan

2
3
4
1
2
3

Juli

DAFTAR PUSTAKA
Benefield, L. D., Judkins J. F. and Weand, B. L. 1982. Process Chemistry for
Water and Wastewater Treatment. Prentice Hall Inc.
Hasan,

Z.,

2012,

Produksi

CPO

Idonesia

Juta

Ton

http://bangka.tribunnews.com/2012/04/12/produksi-cpoindonesia-9-juta-ton-per-tahun,.

Pertahun,

Hendriarianti, Evy. 2011.PENGARUH JENIS ELEKTRODA DAN JARAK ANTAR


ELEKTRODA DALAM PENURUNAN COD DAN TSS LIMBAH CAIR
LAUNDRYMENGGUNAKAN ELEKTROKOAGULASI KONFIGURASI
MONOPOLAR ALIRAN KONTINYU. Institut Teknologi Nasional, Malang.
Koparal, A. S. dan Ogutveren, U. B. (2002)Removal of nitrate from water
byelectroreduction and electrocoagulation.Journal of Hazardous
Materials, B89,83-94
Lee, J.K., Kim, .F., Kim, J., Chung, S., Ji, D., Lee, J.,(2012), Comparable mono
and bipolar connection of capasitive deionization stack in NaCl treatment,
Journal of Industrial and Engineering Chemistry, 18, 763-766.
Lin, Shundar. 2001, Water and Wastewater Calculation Manual, McGraw-Hill,
USA.
Ma Ah,Ngan (18 June 2006) Recovery and conversion of palm oleinderived used frying oil to methyl esters for biodiesel . Journal of

Palm Oil Research. (Report). Retrieved on 25 February 2013.

Metteson, Michael J, 1995. Electrocoagulation and Separation of Aqueous


Suspensions of Ultrafine Particles, Colloids and Surface A
Physicochemical and Engineering Aspects. The University of Sydney.New
South Wales.
Peter, H. Geoffrey, B and Mitchell, C. 2006. Electrocoagulation As a Wastewater
Treatment, Departement of Chemical Engeneering. The University
ofSydney. New South Wales.
Prayogo, Aditya dan Putra, Teddy Adythia Bhaskara. 2014. Studi Awal
Pengolahan Limbah Minyak Kelapa Sawit PT. Smart Tbk Menggunakan
Elektrokoagulasi. Malang: Politeknik Negeri Malang.
Rachmanita, 2012, STUDI PENURUNAN KONSENTRASI NIKEL DAN
TEMBAGA PADA LIMBAH CAIR ELEKTROPLATING DENGAN
METODE ELEKTROKOAGULASI,Program Studi Teknik Lingkungan
UNDIP, Semarang.
Rahayuningwulan, Diana. 2010. Daur Ulang Air Limbah Industri Pelapisan
Logam dengan Metoda Kimia-Fisika. Pusat penelitian kimia. Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Renk, R. R. 1989. Treatment of hazardous wastewater by electrocoagulation. In:
3rd Annual Conference Proceedings (1989). Colorado Hazardous Waste
Management Society.
Woytowich D.L.; Dalrymple C. W.; Britton M. G.; 1993. Electrocoagulation
(CURE) Treatment of Ship Bilgewater for the U. S. Cost Guard in Alaska.
Marine Tech0ogy Society Journal, Vol. 27. 1p. 62, Spring 1993.