Anda di halaman 1dari 9

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI

TERHADAP KEMAMPUAN MEMPERSEPSIKAN STIMULUS PADA


KLIEN DENGAN HALUSINASI
I Gede Widjanegara
Audi Sadrak Constantin Tumiwa
Jurusan Keperawatan Poltekkes Denpasa
E-mail : Wijanegara igede@yahoo com.
Abstract: Therapy Group Activity Effect Stimulation Perception On The Ability Perceive
Stimulation On Stimulus With Client Hallucination. This research aims to determine
the effect of stimulation of group activity therapy is the perception of the ability to perceive
a stimulus in the client with hallucinations in Room Durupadi Bali Provincial Mental
Hospital in Bangli.Responden 33, that simple random sampling. Research design that is
used in this research is the design of Experiment One-Group Pre-test-Post-test Design.
Analysis of data using non-parametric tests: Wilcoxon Signed Rank test.The results showed
the influence of pre-test to post test with a significance value of 0,002 means the value
obtained is smaller than the value of significance (a <0.05), then H1 accepted.

Abstrak: Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan


Mempersepsikan Stimulus Pada Klien Dengan Halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan
untuk mempersepsikan stimulus pada klien dengan halusinasi di Ruang Durupadi Rumah
Sakit Jiwa Provinsi Bali di Bangli. Jumlah sampel dalam penelitian ini 30 responden. Teknik
pengambilan sampel dengan Simple Random Sampling.Desain penelitian yang di gunakan
dalam penelitian ini yaitu desain Pra Eksperimen One-Group Pra-test-Post-Test Design.
Analisa data menggunakan Uji Non Parametrik : Wilcoxon Signed rank test. Hasil penelitian
menunjukkan adanya pengaruh dari pre test ke post test dengan nilai Signifikansi sebesar
0.002 ini berarti nilai yang didapat lebih kecil daripada nilai signifikansi (a<0,05 ),maka H1
di terima.
Kata kunci: Terapi Aktifitas Kelompok, Stimulus, Halusinasi
Berdasarkan

survey

Jejaring

Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia


tahun 2006
penduduk
gangguan

menyatakan, bahwa 26 juta


Indonesia

mengalami

di Indonesia

telah

menjadi

pasien di

Rumah Sakit Jiwa,(Depkes 1998).


Di
berdasarkan

Provinsi
survey

Bali
yang

sendiri
dilakukan

jiwa dan Departemen

oleh Suryani Institute pada bulan Mei

Kesehatan RI mengakui 2,5 juta orang

2011 menunjukkan, sedikitnya 9.000 orang

di Provinsi
gangguan

Bali

mengalami

halusinasi mengalami gangguan dalam

jiwa. Di RS Jiwa Provinsi

menilai dan menilik sehingga perilaku

Bali di Bangli

menunjukkan

gangguan jiwa
bulan

yang dirawat

pasien

pasien sulit dimengerti. Isi halusinasi dapat

pada

mengancam, menakutkan dan menguasai

Oktober 2011 ada 280 orang.

Berdasarkan data

pasien

sehingga

pasien

tidak

dapat

dari buku register di

mengontrol prilakunya dan mempunyai

Ruang Durupadi RS Jiwa Provinsi Bali di

risiko untuk mencederai diri sendiri, orang

Bangli pasien

lain dan lingkungan.

yang sementara dirawat

saat ini berjumlah 40 orang dan sebagian

Terapi

aktivitas

kelompok

besar diantaranya didiagnosis menderita

merupakan salah satu terapi modalitas

Skizofrenia dan mengalami halusinasi.

yang

Gangguan persepsi yang utama

dilakukan

sekelompok

klien

perawat
yang

kepada

mempunyai

pada pasien Skizofrenia adalah halusinasi,

masalah keperawatan yang sama. Aktivitas

sehingga halusinasi menjadi bagian hidup

digunakan sebagai terapi, dan kelompok

klien.

oleh

digunakan sebagai target asuhan. Di dalam

menghasilkan

kelompok terjadi dinamika interaksi yang

tingkah laku tertentu, gangguan harga diri,

saling bergantung, saling membutuhkan,

kritis diri atau mengingkari rangsangan

dan menjadi laboratorium tempat klien

terhadap kenyataan,(Stuard and Michelet,

berlatih perilaku baru yang adaptif untuk

1997).

memperbaiki

Biasanya

kecemasan,

dirangsang

halusinasi

Halusinasi

pendengaran

dan

perilaku

lama

yang

penglihatan adalah paling utama pada

maladaptive,(Stuard,1998). Program terapi

Skizofrenia.Halusinasi

persepsi

aktivitas kelompok merupakan salah satu

pasien terhadap lingkungan tanpa ada

intervensi Asuhan Keperawatan pasien

stimulus

dengan

gangguan

halusinasi.

aktivitas

kelompok

stimulasi

atau

adalah

rangsangan

dari

luar,

(Rawlins,1991). Pasien yang mengalami

Terapi
persepsi

bertujuan agar klien dapat mengenal

Tujuan

dari

adalah

terjadinya halusinasi dan perasaannya pada

Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi

saat

terhadap

halusinasi

(Keliat

dan

Akemat,2004).
dari

beberapa

uraian

diatas,penulis berasumsi bahwa terdapat


Pemberian

Persepsi

TAK

pada

mempersepsikan
dengan

mempersepsikan

kemampuan

stimulus

halusinasi.Selain

pada
itu

terdapat

dilakukan oleh Melissa(2005)dengan judul


Pengaruh TAK Stimulasi Persepsi terhadap
kemampuan mengenal orientasi realita
pada pasien halusinasi di Ruang Perkutut
dan Ruang Seruni di RSJ Dr.Radjiman
Widyodiningrat Lawang.Hasil penelitian
diketahui adanya pengaruh pemberian
Persepsi

terhadap

kemampuan mengenal orientasi realita


pada pasien halusinasi dengan p value
sebesar 0,002<p 0,05.

Rumah

Sakit

Jiwa

Provinsi Bali di Bangli tahun 2012.

METODE

klien

mendukung judul penelitian ini.Penelitian

Stimulasi

Ruang Durupadi

Stimulasi

penelitian sebelumnya yang mirip dan

TAK

Terapi

stimulus pada klien dengan halusinasi di

Melihat

pengaruh

kemampuan

pengaruh

ini

halusinasi, mengenal waktu dan situasi

terjadi

mengetahui

penelitian

Desain penelitian

yang

di

gunakan dalam penelitian ini yaitu desain


Pra Eksperimen One-Group Pra-test-PostTest Design,(Arikunto,2006). Populasi dari
penelitian ini adalah semua klien yang
mengalami halusinasi yang sementara
dirawat di ruang Durupadi Rumah Sakit
Jiwa

Provinsi

Bali

di

Bangli

yang

berjumlah 33 orang.Namun karena sudah


dieliminasi

sesuai

dengan

kriteria

inklusi,maka sampel yang didapatkan 30


orang, (Nursalam,2008)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Mengenal Halusinasi pada


pemberian TAK.

Adapun hasil penelitian ini dapat


Kategori

di sajikan sebagai berikut.

Pre test

Post test

(f)

(f)

Baik

20

21

70

Cukup

16

53

30

responden kemudian data terkumpul lalu

Kurang

27

di periksa

Jumlah

30

100

30

Setelah dilakukan pengumpulan


data

melalui

lembar

observasi

pada

kembali kemudian diolah.

100

Selanjutnya dibuat kesimpulan tentang

Menurut Tabel 1 menunjukkan

kemampuan orientasi berdasarkan cara

pada pre test bahwa yang paling besar

tersebut

atas,selengkapnya

berada pada tingkat cukup yaitu sebanyak

didistribusikan ke dalam gambar distribusi

16 responden (53%). Dan pada post test

responden sebagai berikut.

menunjukkan bahwa yang paling besar

di

Untuk mengetahui

apakah ada

pengaruh pemberian terapi


kelompok

stimulasi

mempersepsikan
dengan halusinasi
Rumah

Sakit

aktifitas

persepsi

stimulus

pada

untuk

berada pada tingkat baik yaitu sebanyak 21


responden (70%).
Tabel 2.

klien

di ruang Durupadi
Jiwa Provinsi Bali di

Kategori

Bangli, maka data di olah dan di uji

Distribusi
Responden
Menurut
Kemampuan
mengontrol
halusinasi
menghardik pada pemberian
TAK.
Pre test

Post test

(f)

(f)

hipotesisnya dengan menggunakan uji

Baik

27

16

53

statistik

Cukup

15

50

14

47

Kurang

23

Jumlah

30

100

30

Wilcoxon

Signed

rank,

selengkapnya di sajikan dalam tabel


sebagai berikut:
Tabel 1.

Distribusi
Menurut

Responden
Kemampuan

100

Menurut Tabel 2 menunjukkan


pada pre test bahwa yang paling besar

berada pada tingkat cukup yaitu sebanyak


15 responden (50%). Dan pada post test

Kategori

tingkat

baik

yaitu

sebanyak 16 responden (53%).


Tabel 3.

Distribusi
Responden
Menurut
Kemampuan
mengontrol
halusinasi
dengan
melakukan
kegiatan
pada
pemberian TAK.

Kategori

Pre test

Post test

(f
)

(f)

Baik

27

20

67

Cukup

14

46

10

33

Kurang

27

Jumlah

30

100

30

menunjukkan bahwa yang paling besar


berada pada

Pre test

100

Menurut Tabel 4 menunjukkan


pada pre test bahwa yang paling besar

Post test

berada pada tingkat cukup yaitu sebanyak

(f)

(f)

14 responden (46%). Dan pada post test

Baik

23

18

60

menunjukkan bahwa yang paling besar

Cukup

13

43

12

40

berada pada tingkat baik yaitu sebanyak 20

Kurang

10

34

Jumlah

30

100

30

responden (67%).

100
Tabel 5.

Distribusi
Responden
Menurut
Kemampuan
mengontrol
halusinasi
dengan
patuh
minum
obat
pada
pemberian
TAK.

Menurut Tabel 3 menunjukkan


pada pre test bahwa yang paling besar
berada pada tingkat cukup yaitu sebanyak
13 responden (43%). Dan pada post test

Kategori

Pre test

Post test

(f)

(f)

menunjukkan bahwa yang paling besar

Baik

20

13

45

berada pada tingkat baik yaitu sebanyak 18

Cukup

11

37

16

54

responden (60%).

Kurang

13

43

Jumlah

30

100

30

100

Tabel 4.

Distribusi
Responden
Menurut
Kemampuan
mencegah
halusinasi dengan
bercakap-cakap
pada
pemberian TAK.

Menurut Tabel 5 menunjukkan


pada pre test bahwa yang paling besar

berada pada tingkat kurang yaitu sebanyak

pelaksanaan 5 sesi dalam Terapi Aktifitas

13 responden (43%). Dan pada post test

Kelompok Stimulasi Persepsi di dapatkan

menunjukkan bahwa yang paling besar

P value dengan nilai signifikansi sebesar

berada pada tingkat cukup yaitu sebanyak

0,002.

16 responden (54%).
Tabel 6.

Berdasarkan

Hasil Uji Hipotesis dengan


menggunakan uji statistik
Wilcoxon Signed rank test

Hipotesis
I. Pengaruh TAK pada
kemampuan klien
mengenal halusinasi
II. Pengaruh TAK pada
kemampuan klien
mengontrol
halusinasi dengan
menghardik
III. Pengaruh TAK pada
kemampuan klien
mengontrol
halusinasi dengan
melakukan
kegiatan.
IV. Pengaruh TAK pada
kemampuan klien
mencegah halusinasi
dengan bercakapcakap
V. Pengaruh TAK pada
kemampuan klien
mengontrol
halusinasi dengan
patuh minum obat
Jumlah:

P value
0,000

tabel

pada

hasil

analisa data diatas dan hasil pengolahan


data untuk Kemampuan klien mengenal
halusinasi
mempunyai

di temukan

20 responden

kemampuan

mengenal

halusinasi sesudah diberikan TAK >


0,002

sebelum diberikan TAK, 1 responden


mengalami

penurunan

kemampuan

mengenal halusinasi atau sebelum TAK >


0,000

pengetahuan sesudah TAK dan terdapat 9


responden dengan kemampuan mengenal
halusinasi sesudah TAK = sebelum TAK.

0,000

Signifikansi sebesar 0,000 berarti nilai


yang didapat lebih kecil daripada nilai

0,000

signifikansi (a< 0,05 ). Sesuai teori bahwa


klien yang mengalami halusinasi dapat

0,002

Dari tabel 6 diatas menunjukkan

mengancam, menakutkan dan menguasai


klien sehingga ia tidak dapat mengontrol

dengan

perilakunya dan mempunyai resiko untuk

menggunakan uji statistik

Wilcoxon

mencederai diri sendiri, orang lain dan

Signed

pengaruh

sekitarnya.Namun pada pemberian TAK

bahwa

hasil

uji

rank test

hipotesis

yaitu

ini klien dapat memiliki kemampuan

mengenal tempat perawatan dimana pasien

mengenal

dirawat 24 jam perhari.

halusinasi

sehingga

secara

proses keperawatan adalah merupakan

Pada

Kemampuan

klien

pendekatan menyelesaikan masalah yang

mengontrol halusinasi dengan melakukan

diterapkan dalam interaksi antara perawat

kegiatan

dengan klien.

mempunyai

Untuk

Kemampuan

klien

17

responden

kemampuan

mengontrol

halusinasi dengan melakukan kegiatan

mengontrol halusinasi dengan menghardik

sesudah

didapatkan

15

didapatkan

diberikan

TAK

>

sebelum

responden

mempunyai

diberikan TAK, tidak ada responden yang

mengontrol

halusinasi

mengalami penurunan nilai dan terdapat

sebelum

13 responden dengan kemampuan sesudah

diberikan TAK, terdapat 2 responden yang

TAK = sebelum TAK. Signifikansi sebesar

mengalami penurunan nilai sesudah TAK,

0,000 berarti nilai yang didapat lebih kecil

dan

dengan

daripada nilai signifikansi (a<0,05 ).Sesuai

kemampuan sesudah TAK = kemampuan

dengan teori bahwa Terapi Aktivitas

sebelum TAK. Signifikansi sebesar 0,002

Kelompok

berarti nilai yang didapat lebih kecil

mempersepsikan stimulus yang disediakan

daripada nilai signifikansi (a<0,05 ).Nilai

atau

signifikansi yang didapat ini diketahui

Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan

paling besar diantara 4 tujuan lainnya. Hal

ditingkat pada tiap sesi. Dengan proses ini

ini

diharapkan

kemampuan
sesudah

diberikan

terdapat

terjadi

13

karena

TAK

>

responden

responden

sudah

dapat

stimulus

melatih

yang

respons

klien

terhadap

berbagai

Menurut peneliti hal ini menunjukkan

menjadi adaptif ( Purwaningsih,2009).

individu dari pemberi asuhan dan telah

Pada

dalam

dialami.

mengenal tempat perawatan dengan baik.

responden yang telah mendapatkan terapi

stimulus

pernah

klien

kehidupan

Kemampuan

klien

mencegah halusinasi dengan bercakap-

cakap,

didapatkan

17

responden

sesudah TAK = kemampuan sebelum

kemampuan

mencegah

TAK. Signifikansi sebesar 0,000 berarti

halusinasi dengan bercakap-cakap sesudah

nilai yang didapat lebih kecil daripada nilai

diberikan TAK > sebelum diberikan TAK,

signifikansi (a<0,05 ). pemberian TAK

terdapat 1 responden yang mengalami

pada sesi ini dapat terjadi kepatuhan

penurunan setelah TAK dan terdapat 12

berobat pada penderita sehingga asumsi

responden dengan kemampuan sesudah

peneliti, secara langsung Terapi Aktivitas

TAK

= kemampuan sebelum TAK.

Kelompok Stimulasi Persepsi ini juga

Signifikansi sebesar 0,000 berarti nilai

merupakan salah satu faktor yang dapat

yang didapat lebih kecil daripada nilai

mempengaruhi

signifikansi (p<0,05 ).Untuk mencapai

pasien( Yusuf,2009).

mempunyai

suatu

keberhasilan

terapi

aktifitas

kepatuhan

berobat

SIMPULAN

kelompok hal yang paling penting adalah


hubungan saling percaya, saling perhatian,
saling menerima dengan pasien karena di
sinilah kunci keberhasilan suatu terapi
aktifitas kelompok,(Townsend,1998).
Untuk Kemampuan mengontrol
halusinasi dengan patuh minum obat
didapatkan 17 responden dapat mengontrol
halusinasi dengan patuh minum obat
sesudah

diberikan

TAK

>

sebelum

diberikan TAK, terdapat 2 responden yang

Setelah dilakukan pengumpulan


data,analisis data dan uji hipotesis,maka
pada pemberian terapi aktifitas kelompok
terdapat nilai Signifikansi sebesar 0.002
ini berarti nilai yang didapat lebih kecil
daripada nilai signifikansi (a<0,05 ),itu
artinya ada pengaruh pemberian TAK
stimulasi persepsi untuk mempersepsikan
stimulus pada klien dengan halusinasi.
DAFTAR RUJUKAN

mengalami penurunan sesudah TAK dan


terdapat 11 responden dengan kemampuan

Arikunto, S.2006. Prosedur


Penelitian
Suatu Pendekatan
Praktek.
Rineka Cipta, Jakarta.

Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat


Pelayanan Medik Depkes RI.1998.
Petunjuk Teknis Terapi Pasien
Mental di RSJ Jakarta, Dep.kes
RI ; Jakarta.
Keliat,B.A.
dan
Akemat.
2004.
Keperawatan
Jiwa:
Terapi
Aktivitas Kelompok, EGC;Jakarta
Melissa,S.2005.Pengaruh Terapi Aktifitas
Kelompok
Stimulasi
Persepsi
Mengontrol Halusinasi, (online),
available:
E-mail
infopus@umm.ac.id
(4 Februari
2011).
Nursalam.2008,Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan, Salemba Medika ;
Jakarta.
Purwaningsih,W. dan Karlina,I.2009.
Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha
Medika; Jogjakarta.
Rawlins, Williams dan Beck.1991Mental
Health Psychiatnic Nursing,
Mosby Year Book..
Stuard and Laraia MP.1998.Principle and
Practice of Psychiatric Nursing (6
th ed) Louis, Mosby Year Book.
Stuard and Michelet.1997. Prinsiples and
Practice of Psychiatric Nursing
(Sixth Edition) Mosby.
Townsend B.A.1998, Buku Saku Diagnosa
Keperawatan Pada Keperawatan
Psikiatri,Edisi 3, EGC; Jakarta.
Yusuf,Ah.2009. Pelatihan TAK pada
Perawat sebagai
strategi
pengendalian Halusinasi pasien
jiwa. ,(online),available: E-mail
library@lib.unair.ac.id. (6 Februari
2011).